MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: contoh argumentasi basa jawa ( Javanese - Indonesian )

    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Javanese

Indonesian

Info

Javanese

puisi basa Jawa

Indonesian

alam alam.. sungguh indah pemandanganmu penyejuk didalam hatiku indah dipandang ini semua karunia tuhan gemercik air suara orang berjalan dan kencangnya angin malam membuat hatiku tenang padi yang menguning tanah yang subur hewan hewan yang melintas menambah keindahan alam ciptaan tuhan

Last Update: 2016-03-25
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference: Anonymous

Javanese

Puisi basa Jawa

Indonesian

di lorong jalan yang ku telusuri

Last Update: 2015-09-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

pacelathon basa Jawa

Indonesian

pulang

Last Update: 2014-04-25
Subject: Medical
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa muter 8

Indonesian

naskah drama bahasa jawa 8 orang

Last Update: 2016-03-27
Subject: General
Usage Frequency: 6
Quality:

Reference:

Javanese

contoh gambar memek

Indonesian

pencarian gambar contoh

Last Update: 2016-01-06
Subject: General
Usage Frequency: 4
Quality:

Reference:

Javanese

banyuwangi asal ing basa Jawa

Indonesian

asal usul banyuwangi dalam bahasa jawa

Last Update: 2016-01-19
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

persuasion Essay basa Jawa

Indonesian

karangan persuasi bahasa jawa

Last Update: 2015-01-26
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa nganti Indonesia

Indonesian

Prabu Rama akhirnya memerintahkan kepada Anoman untuk melakukan perjalanan kenegeri Alengka.  Hal ini dilakukan oleh Prabu Rama mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.Pertimbangan itu diambil karena Anoman  memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga apabila menghadapi musuh yang ditemuinya nanti dalam perjalanan, akan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih-lebih pula Anoman dapat terbang keangkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan,  perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya. yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini akan melewati samudera, dan merupakan tugas pertama  menuju Alengka Anoman berpamitan kepada Prabu Rama,untuk segera melaksanakan tugas. Namun kemudian datanglah Anggada menghadap Prabu Rama. Anggada minta Prabu Rama untuk membatalkan niatnya untuk mengutus Anoman  ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas  ke Alangka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi. Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, disamping itu ada kemungkinan  dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Dasamuka, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya. Sedangkan Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman  menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Kemudian Prabu Rama menunjuk Anoman untuk berangkat ke Alengka. Perjalanannya menuju Alengka  disertai Para Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.. Untuk memudahkan perjalanan, para punakawan dimasukkan dalam kancing gelung Anoman. Dari penulis menginginkan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, mengikuti Anoman yang sedang terbang dalam perjalanannya ke Alengka, namun karena tidak lazim, ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, maka mereka saya masukkan saja dalam kancing gelung Anoman. Mereka sebenarnya bisa terbang, karena Semar adalah jelmaan Dewa, Gareng dan Petruk adalah gandarwa sedangkan Bagong adalah bayangan Semar. Pada hari pertama perjalanannya, Anoman pergi ke kahyangan, menemui  Batara Surya . Dimintanya Batara Surya mau mengikat matahari supaya  tidak bergeser ke Barat. Batara Surya keberatan,dan tidak bisa menyanggupi kemauan Anoman. Anoman memaksa Batara Surya untuk memenuhi permintaannya.Maka terjadilah perkelahian antara keduanya.  Semar segera melerai perkelahian mereka. Akhirnya Semar sendiri yang minta agar  Batara Surya mau menuruti kehendak Anomann. Akhirnya.Batara Surya memenuhi keinginan Anoman, mengingat Semar adalah Sanghyang Ismaya adalah ayahanda Batara Surya sendiri,.Anoman meminta Batara Surya tidak melepaskan matahari sampai Anoman kembali ke Pancawati.. Batara Surya menuruti permintaan Anoman.  Batara Surya mengikat matahari yang posisinya masih diatas kepala, sehingga negeri Pancawati akan mengalami siang yang berke panjang an selama Anoman dalam perjalanan. Ditengah perjalanan di angkasa menuju Alengka, Anoman kehilangan arah. Anoman sudah berada diatas lautan Hindia. Laut luas membiru. Anoman terkejut merasa ada kekuatan besar yang menyedot tubuhnya, Tiba-tiba saja  tubuh Anoman tertarik kebawah dan masuk dalam perut raksasa.Raksasa itu Wil Kataksini, yang bertugas menjaga lautan Alengka. Tubuh Anoman tidak berdaya dan berusaha keluar dari mulut raksasa Wil Kataksini. Anoman dengan sekuat tenaga menendang-nendang dan mencakar-cakar dalam perut Wil Kataksini. Kataksini merasa dalam perutnya perih dan geli. Anoman yang ada dalam perut itu di muntahkan kembali keluar mulutnya. Setelah itu tubuh Wil Kataksini menjadi limbung, dan roboh, Wil Kataksini  tewas. Sementara itu tubuh Anoman bagaikan dibanting, Anoman jatuh terpelanting di daerah  pegunungan. Anoman memperkira kan daerah Suwelagiri, sangat cocok untuk menghimpun pasukan dan menyusun pertahanan Prabu Rama dalam penyerangan ke istana Alengka atau tempat unntuk memata-matai Prajurit Alengka. Anoman sudah tidak bisa terbang lagi. Ia melanjutkan perjalanan lewat daratan dengan tertatih-tatih.  Setelah berjalan begitu lama, Anoman  tidak kuat lagi. Ia jatuh pingsan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, segera keluar dari kancing gelung Anoman. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong membawa Anoman ketempat  berlindung. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah goa, yaitu Goa Windu tempat bersemayamnya seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba adalah mantan istri Prabu Dasamuka. Ia seorang bidadari. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang memapah Anoman sudah sampai dihadapan Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba   segera menyambut kedatangan para tamunya.  Setelah beberapa hari dirawat di dalam goa, Anoman sadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika  mengetahui dirinya berada di dalam istana yang megah, Anoman kagum ternyata di  dalam goa terdapat istana yang megah dan indah. Ia pun melihat ada seorang dewi  cantik berada dihadapannya. Anoman tertarik kecantikan Dewi Sayempraba. Selama dalam perawatan Dewi Sayempraba Anoman tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya. Kelihatannya Anoman terpedaya dengan kecantikan dewi Sayempraba. Anoman dan para punakawan dijamu dengan makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Anoman dan para punakawan makan dengan lahapnya.Anoman memang lapar. Sudah lama ia pingsan jadi sudah beberapa hari tidak makan. Selesai makan minum, Anoman berpamitan mau melanjutkan perjalanan menuju Alengka. Dewi Sayempraba menghalangi Anoman, agar tidak meninggalkan Goa Windu. Sayempraba menghendaki agar Anoman bersedia memperistrinya. Anoman menolak ajakan dewi Sayempraba. Kemudian  Anoman segera mengajak para punakawan meninggalkan istana Sayempraba. Sepeninggal Anoman, Dewi Sayempraba gundah gulana. Ia kecewa Anoman tidak menanggapi cintanya. Padahal Dewi Sayempraba sangat mencintainya. Namun Dewi Sayempraba percaya, kalau Anoman akan kembali ke Goa Windu pada suatu saat. Setelah beberapa lama berjalan meninggalkn goa. Tiba-tiba  kedua mata Anoman seakan akan melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Kemudian pandangan  menjadi gelap, Anoman menjadi buta Anoman menjadi sedih, Ia merasa gagal melak sanakan tugas dari Prabu Rama. Para panakawan memapah Anoman dan mencarikan orang yang dapat mengobati sakitnya. Anoman kelihatannya masih beruntung, agaknya tangisannya didengar oleh seekor burung garuda, yang bernama Sempati. Sempati mencoba mengobati Anoman. Sebelumnya Burung Sempati  memohon dewa agar dapat menyembuhkan mata Anoman. Sempati mengobati kedua mata Anoman dengan meneteskan air liur dari paruhnya. Permohonan burung Sempati kepada dewa, agaknya dikabulkan Dewa, Anoman sembuh. Anoman sudah tidak buta lagi. Burung Sempati menceriterakan saudaranya, Burung Jatayu, yang tewas ketika melawan Prabu Dasamuka. Burung Jatayu sebenarnya mau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka. Namun Jatayu gagal membawa Dewi Sinta ke Ayodya,  karena Prabu Dasamuka, membabat kedua sayapnya dan lehernya dari belakang, sehinga burung Jatayu  jatuh ke bumi.Sedangkan Dewi Sinta dapat direbut kembali oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke negerinya, Alengka. Beberapa saat kemudian, Jatayu pun tewas. Anoman mendengar cerita Burung Sempati menjadi semakin yakin, bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah Prabu Dasamuka. Anoman dan para Punakawan mengucapkan terima kasih pada burung Sempati karena telah menyembuhkan Anoman dari kebutaannya. Anoman dan para Punakawan berpamitan kepada burung Sempati, untuk meneruskan perjalanannya ke negeri Alengka  Oleh Anoman para Punakawan dimasukkan kembali dalam kancing gelungnya. Kemudian Anoman  melesat jauh keangkasa menuju Istana Alengka. Perjalanan Anoman ke istana Alengka dirasa tidak terlalu lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian sampailah Anoman ke Istana Alengka. Indrajid anak Prabu Dasamuka yang sedang berjaga di luar Istana melihat sekelebatan makhluk asing yang berlalu dihadapannya. Indrajid penasaran, ia segera mencari keseluruh penjuru Istana.  Anoman sekarang sudah berada di taman Asoka. Ia bersembunyi diatas pohon Nagasari yang rimbun daunnya. Sementara itu di Kaputren  taman Asoka, Prabu Dasamuka merasa kecewa, karena dewi Sinta belum mau diboyong ke dalam Istana. Prabu Dasamuka berniat memaksa dewi Sinta untuk melayani dirinya. Namun niat Prabu Dasamuka dapat diurungkan oleh Dewi Trijatha anak Wibisana, adik Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka meninggalkan taman Asoka dengan kecewa. Untuk menghilangkan gundah hati Dewi Sinta, Dewi Trijatha mengajak Dewi Sinta ke taman bunga yang letaknya dekat pohon Nagasari, dimana tempat  Anoman bersembunyi. Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing didepannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya.  Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ketempat Prabu Rama. Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima pemberian cincin dari Prabu Rama, dan dipakai dijari manisnya. Namun sayang cincin itu menjadi  kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama. Dewi Sinta tidak bersedia dibawa Anoman pulang ke tempat Prabu Rama. Dewi Sinta menginginkan Prabu Rama sendiri yang menjemput pulang. Belum selesai mereka saling bicara, Indrajid dan pasukannya telah mengepung taman Asoka. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajid segera membawa Anoman ke tempat Prabu Dasamuka yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Dasamuka, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Dasamuka serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka.  Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajid menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka  Prabu Dasamuka menjadi merah padam.Prabu Dasamuka marah bukan kepalang. Oleh Prabu Dasamuka, Indrajid disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup.Indrajid berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan di ikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajid dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman . Sewaktu Indrajid dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali.Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali. Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning diatap rumahnya. Tiada lama kemudian Indrajid bersama ayahandanya, Prabu Dasamuka beserta para adik dan putera-putera yang lainnya  mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Dasamuka meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Dasamuka melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke Negara asalnya. Prabu Dasamuka tidak memperdulikan permintaan adiknya.  Prabu Dasamuka segera menyuruh Indrajid segera membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu disekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin  membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana. Setelah ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala ditubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu keseluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar.  Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar. Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Dasamuka dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi kerumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.  Anoman  sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas. Anoman  kemudian menceriterakan  semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya. Prabu Rama bersedih hati mendengar laporan Anoman, ia terharu mengetahui Dewi Sinta istrinya selalu setya padanya. Prabu Rama  berjanji akan segera menyusul Dewi Sinta ke Alengka, untuk memboyongnya pulang kenegeri Ayodya. Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Prabu Dasamuka.Prabu Dasamuka nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Prabu Dasamuka mengembalikan  Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang. Untuk  membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merenca nakan  membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati   pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.***

Last Update: 2015-01-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa crita ir Soekarno

Indonesian

cerita bahasa jawa ir soekarno

Last Update: 2016-02-13
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa muter Anoman Obong

Indonesian

naskah drama bahasa jawa anoman obong

Last Update: 2016-04-20
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:

Reference:

Javanese

terjemahan google basa Jawa Indonesia

Indonesian

Sayembara Putri Pancala Kerajaan Pancala terletak disebelah timur Kurusetra. Keduanya dipisahkan oleh hutan Naimisha. Sebuah hutan lebat yang tak terjamah oleh manusia, selain ditumbuhi kayu-kayu besar dan rapat hutan itu juga dihuni oleh binatang buas dan perampok-perampok ganas sakti mandraguna. Selain itu didalam hutan juga terdapat sungai deras berbatu yang dihuni puluhan buaya. Dari keadaan alam saja sudah bisa diterka dua kerajaan bertetangga itu akan sulit berhubungan. Kerajaan Pancala dipimpin seorang raja bijaksana bernama Prabu Drupada. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Drupadi. Kecantikan Putri Drupadi terkenal sampai ke negeri-negeri tetangga. Banyak Pangeran yang datang melamar Putri Drupadi, namun baik Prabu Drupada maupun Putri Drupadi belum juga memutuskan untuk menerima lamaran dari salah satu Pangeran-pangeran yang datang. Hal ini tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi kerajaan. Jika Prabu Dropada ataupun Putri Drupadi menolak lamaran, salah salah bisa menimbulkan peperangan. Oleh karenanya Raja harus membuat sebuah kebijakan. Sore itu Putri Drupadi tengah menikmati aura kuning emas matahari. Pantulan sinar keemasannya membuat hamparan hutan dan istana menguning. Sungai ditengah hutan yang meliuk keemasan. Melihat dan menikmati pemandangan dan suasana seperti itu sungguh menenangkan jiwa. Sejenak semua beban dan masalah akan sirna oleh keindahan Panorama alam perbatasan itu. Putri Drupadi duduk didepan jendela kamarnya yang dihias kain sutra dan bunga-bunga beraneka ragam tepat di sotoh Istana kamarnya. Ia mengenakan gaun putih ringkas yang memperlihatkan kemulusan kulit sang putri. Diterpa sinar keemasan matahari, menambah kecantikannya. Rambutnya yang panjang digulung keatas yang ditahan dengan tusuk konde emas. Sedang kaki jenjangnya yang bagus saling tumpang tindih diatas sebuah bantal yang disulam benang emas. Mata Putri terpejam, napasnya teratur membuat dadanya yang membusung bagus bergerak naik turun perlahan. Sebuah senyum tipis menghias bibir tipisnya. Kecantikannya sungguh pantas disejajarkan dengan para Dewi atau bidadari. Pantaslah jika kecantikannya mengundang para pangeran datang. “Drupadi….”. Suara besar dan penuh wibawa datang dari pintu kamar. “Ayah…”. Sahut Drupadi segera merapikan pakaian dan cepat cepat berlutut didepan Ayahnya. “Berdirilah, anakku”. Kembali suara yang penuh wibawa itu mengiang ditelinga Drupadi. Putri itupun berdiri, menundukkan kepala. Tak sanggup ia menatap wajah Ayah dan rajanya. “Apakah ada yang penting, Ayah. Sehingga Ayah sampai datang ke kamar hamba.” Tutur Drupadi penuh hormat. “Ini soal pangeran pangeran yang datang melamarmu. Sampai sekarang mereka belum kita berikan jawaban.” Sejenak Raja menarik nafas. Sang Putri terdiam menunggu kata-kata Raja selanjutnya. “Jika kita tidak segera menjawab lamaran mereka, Ayah khawatir mereka akan marah dan memerangi kita.” Raja Dropada kembali menarik nafas berat. “Ayah mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widhi, untuk mengatasi masalah ini.” Putri Drupadi mengangkat kepalanya, memandang wajah Ayahnya sejenak. Memastikan kesungguhan Ayahnya. “Kita akan membuat Sayembara kekuatan dan ketangkasan. Para pangeran yang ingin mempersuntingmu harus mengikuti sayembara ini. Siapa yang keluar sebagai pemenang, ia yang berhak menjadi suamimu.” “Sayembara semacam apa yang Ayah ingin rencanakan?” Tanya Drupadi. “Sayembara memanah patung ikan berjalan memutar ditengah kolam dengan menggunakan busur pusaka Kerajaan.” Jawab Prabu Drupada seolah bergumam. “Namun Ayah, kita tahu Pangeran-pangeran itu memiliki Ilmu yang tinggi. Belum lagi jika mereka mengandalkan Panglima perang atau orang andalannya. Bagaimana jika banyak Pangeran mampu mengangkat busur pusaka Kerajaan?” Kata Putri Drupadi. Mimik wajahnya memperlihatkan kekuatiran yang mendalam. Ini bukan saja menyangkut masa depannya. Ini menyangkut keselamatan kerajaan dan rakyatnya. Jika dalam sayembara inipun ada hal yang dirasakan tidak adil bagi salah satu Peserta, tentu ia akan menuntut. Salah-salah akan pecah peperangan. Dan tentu akan mengorbankan rakyatnya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Prabu Drupada terdiam sejenak. Keningnya berkerut dan matanya terpejam. Ia menghela nafas sejenak. Kemudian melangkah ke pagar sotoh Istana kamar Putrinya. Matanya menyapu pemandangan indah nan eksotik jauh di hadapannya. “Anakku, jika begitu peserta sayembara itu harus adu tanding terlebih dahulu. Barang siapa yang tidak sanggup melanjutkan adu tanding, ia kalah. Namun barang siapa yang masih kuat ia berhak untuk menggunakan busur pusaka kerajaan. Itupun jika ia masih memiliki simpanan tenaga. Bagaimana, Putriku?” Raja balik bertanya. Sang putri tampak terdiam. Kemudian tampak senyum tipis dibibirnya yang kemerahan. Ia mengangguk pelan tanda setuju. Sang Rajapun tersenyum melihat Putrinya setuju dengan idenya. Ia melangkah mendekati Putrinya membelai rambutnya. “Kamu cantik sekali Putriku, pantas saja para pangeran negeri-negeri tetangga itu tergila-gila padamu.” Kata Drupada memuji kecantikan Putrinya. “Ayah bisa saja.” Sahut Drupadi pelan dan menundukkan kepala. Mendadak pipinya berwarna kemerahan. Jarang sekali Ayah memuji. Pikirnya dalam hati. Putri Drupadi mendekatkan dirinya ke tubuh Ayahnya. Prabu Drupada pun memeluk erat putrinya. “Satu hal yang perlu kamu ingat Nak. Siapapun nanti yang keluar menjadi pemenang sayembara ini, betapapun digdayanya kemampuannya, ia belum tentu orang yang baik untuk menjadi suami dan pemimpin keluargamu. Berhati-hatilah. Bersemedi, tanyalah pada Sang Hyang Widhi.” Bisik Prabu Drupada di telinga kiri putrinya. Sang Putri hanya mengangguk pelan dan mempererat pelukannya pada tubuh Ayah sekaligus Rajanya. Hari mulai gelap. Sinar keemasan yang tadi merajai rimba belantara dan sungai-sungai dibawah sana mulai sirna. Kegelapan dimana-mana mulai datang dan merajai alam. Seolah tidak ada yang sanggup mencegah pemandangan yang serba gelap itu. Terlihat hanya sungai berwarna putih meliuk-liuk dan hilang dikegelapan hutan. Segera berita tentang Sayembara Kerajaan Pancala tersebar luas ke seluruh negeri. Para Duta-duta kerajaan segera diutus ke Negara-negara tetangga untuk mengantarkan surat resmi dari Prabu Drupada tentang Sayembara itu. Di tempat-tempat keramaian diseluruh negeri, pasar, sekolah, istana kerajaan terpasang pengumuman tentang Sayembara itu. “Sayembara. Karena begitu banyaknya pangeran yang datang hendak mempersunting Putri Kerajaan Pancala Raya, maka Prabu Drupada, Raja Agung Pancala Raya pada hari ke sepuluh bulan kesepuluh tahun ini mengadakan Sayembara. Barang siapa mampu bertarung sampai tidak ada lawan lagi ia boleh mengangkat busur panah pusaka Kerajaan Pancala Raya, lalu tanpa melihat ia harus mampu memanak patung ikan ditengah kolam halaman Istana yang berjalan berputar. Bagi siapa yang mampu melakukannya, ia berhak mempersunting Putri Drupadi. Setiap Pangeran boleh menyertakan wakilnya atau dirinya sendiri namun wakil tersebut haruslah dari golongan Satria” Demikianlah bunyi tulisan-tulisan yang tulis diatas kulit kayu yang sudah diolah sedemikian rupa menyerupai kain dan ditempel ditempat-tempat umum. Setiap orang yang melihat pengumuman itu tampak menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Sebentar lagi di Pancala akan berkumpul orang-orang sakti mandraguna yang akan memperebutkan perempuan tercantik diseluruh negeri. Bagi orang biasa tentulah hal ini tidak terlalu menarik hati mereka. Namun bagi golongan Satria tentu ini merupakan hal istimewa, selain memperebutkan seorang Putri yang cantik merekapun mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuannya. Hal ini pun membuat tantangan tersendiri bagi pangeran-pangeran yang sudah menyampaikan lamarannya pada Prabu Drupada. Sayembara ini merupakan jawaban atas lamaran mereka. Dan merekapun sadar, bahwa mereka harus bersaing untuk mendapatkan wanita itu. Segala cara mereka tempuh. Segala hal mereka lakukan demi untuk memenangkan sayembara. Pagi itu dipinggiran hutan Naimisha tampak seekor kuda hitam besar berlari cepat seperti anak panah yang meluncur dari busurnya. Diatas kuda itu tampak seorang laki-laki gagah yang masih muda. Ia mengenakan ikat kepala berukir keemasan berlambang bintang dibagian depannya. Sementara dadanya yang bidang dan kemerahan dibiarkan terbuka. Seperti logam kulit orang itu saat sinar matahari menerpa keringat-keringat yang keluar dari pori-pori nya. Sementara bagian pinggang kebawah ia mengenakan celana khas orang-orang kerajaan. Dilapisi kain yang terlilit sedemikian rupa menambah kegagahannya. Orang itu terus memacu kudanya tanpa henti. Menjelang tengah hari orang muda itu menghentikan lari kudanya tepat di antara dua pohon besar yang tumbuhnya agak berjauhan. Kedua pohon ini hampir menyerupai pintu gerbang hutan itu. Perlahan orang muda itu mulai memacu kudanya masuk ke dalam hutan. Tak seberapa lama kembali ia menggebrak laju tunggangannya itu. Kuda besar itu kembali melesat ditengah tengah hutan diantara pohon-pohon rindang dan rapat. Namun tampaknya kerapatan pohon dan seluk beluk hutan ini sudah tidak asing bagi orang ini. Terbukti ia terus memacu kudanya tanpa mengurangi kecepatan meskipun melalui tikungan, tanjakan atau turunan. Matahari sudah tepat diatas kepala. Namun didalam hutan lebat seperti ini, hal itu tidak berarti apa-apa. Di dalam hutan masih terasa sejuk dan tidak terlalu terang. Tak terbayang bagaimana jika ini malam. Tentu kegelapannya bisa masuk sampai ke sumsum tulang. Penunggang kuda itu menghentikan lari kudanya tepat sepuluh meter di depan sebuah pohon besar. Pohon itu sepertinya satu-satunya pohon yang paling besar dengan akar-akar gantung sebesar lengan tangan dan bahkan ada yang sebesar paha orang dewasa. Besar pohon itupun luar biasa, butuh kira-kira sepuluh orang yang merentangkan tangan untuk mengelilingi pohon itu. Menjulang tinggi tertutup oleh dedaunan yang rimbun membuat pandangan kita tak bisa mengetahui sampai dimana batas ujung Pohon raksasa ini. Orang muda itu cekatan turun dari punggung kudanya. Kebesaran pohon itu sama sekali tidak membuatnya heran. Perlahan ia mendekat sambil melihat lekat-lekat pada bagian atas pohon yang tertutup rimbunnya dedaunan. Matanya tajam mengawasi keadaan. Perlana kakinya memasang sebuah kuda-kuda. Sepertinya Orang muda itu tahu kedatangannya sudah sejak tadi diketahui penghuni hutan Naimisha. Entah apa yang membuat hati orang muda itu sedemikian berani dan santainya, sejenak tersungging senyum di bibirnya. Sraakk!!! Terdengar suara dedaunan yang diterpa sesuatu. Orang muda itu segera menengadahkan wajahnya melihat apa yang jatuh dari atas. Serangkum angin padat menghempas tepat dikepalanya. Tinggal bebrapa centi lagi akan mengenai kepala, dengan cekatan Orang muda itu melesat mundur kearah pohon besar dibelakangnya tanpa melihat, dan ia berjongkok miring searah dengan tegaknya pohon. Bumm!!! Angin padat itu hanya menimpa tanah kosong dan menimbulkan lubang berdiameter satu meter dan menerbangkan dedaunan dan tanah basah. Orang muda itu tersenyum. Namun belum habis senyumnya tiba-tiba dari antara daun-daun diatas melesat cepat ribuan anak panah berwarna hitam. Tepat menderu ke tubuhnya yang sedang berjongkok dibatang pohon. Melihat serangan yang cepat dan brutal ini sepertinya tidak mungkin baginya untuk menghindar. Maka ia memejamkan mata, bibirnya bergerak-gerak cepat. Dan sedetik lagi ribuan anak panah itu sampai dikulitnya yang polos, ia membuka matanya dan dengan tiba-tiba ribuan anak panah itu berhenti tepat beberapa centi di depan hidungnya. Tidak berhenti disitu saja, perlahan anak-anak panah itu berputar berbalik arah. Dan hanya dengan sebuah kedipan anak panah itu kembali melesat ketempat asalnya secepat kilat. Sraakkk!!! Bum…! Bum…! Terdengar bunyi berdebuman ditanah menandai jatuhnya orang-orang dari atas pohon. Semuanya jatuh tanpa nyawa dengan anak panah yang menancap di dada, di kepala dan dileher. Orang muda itu kembali berkelebat ke arah atas pohon yang tertutup dedaunan lebat. Namun belum sampai Orang muda itu menembus rimbunnya daun, tiba-tiba ia tercekat. Ia merasa tubuhnya terdorong oleh angin yang berhawa panas memapas diwajahnya. Dan benar saja, sebuah anak panah sebesar lengan menghunjam wajahnya. Namun anak panah itu juga tertahan beberapa centi di depan wajahnya. Sambil terus melayang Orang muda itu mencoba melawan arus datangnya anak panah raksasa. Namun sepertinya anak panah itu berhasil menekan Orang muda. Sialan. Maki Orang itu dalam hati. Tubuhnya perlahan-lahan bergerak turun tidak mampu melawan arus tekanan anak panah raksasa. Sementara anak panah itu mengeluarkan getaran hebat yang menimbulkan bunyi mengaung lirih namun memekakkan telinga. Orang muda it uterus terdesak kebawah hingga kakinya menjejakkan tanah. Barangkali jika kakinya menjejakkan tanah, ia akan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada saat ia melayang. Namun dugaannya salah. Kakinya terus amblas ditanah basah! Keringat dingin mulai mengucur dari lehernya. Ia mencoba menggerakkan tangannya meraih anak panah raksasa itu, namun itupun tak sanggup ia lakukan. Ada sejenis dinding kokoh tak kasat mata yang mengitari anak panah raksasa. Mati aku! Bisiknya dalam hati. Sementara kakinya sudah amblas ke dalam tanah basah sebatas lutut. Tentu ia tidak bisa bergerak leluasa sekarang. Ia tidak punya pilihan. Kedua tangannya dibentangkan kesamping, bibirnya bergerak cepat sementara matanya masih terus melotot menahan laju gerak anak panah raksasa. Sepasang mata Orang muda itu mulai semerah darah! Dari sepasang tangan yang dibentangkan keluar sinar putih yang tipis. Dari sinar tipis itupun keluar asap tipis juga berwarna putih. Tiba-tiba udara sedingin es! Dan membuat dedaunan dan semak belukar disekitar Orang muda itu berubah bersalju! Haaaaaaaaaa…..!!! Dengan berteriak lantang anak muda itu mendorongkan tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebawah. Dua energy bergesekan diudara. Antara energy tangan Orang muda itu dan energy anak panah raksasa. Gesekan itu menimbulkan percikan-percikan kilat yang menyambar-yambar ke sekeliling. Ranting, daun atau pohon yang tersambar percikan kilat itu langsung terlihat gosong dan membeku. Orang muda itu berhasil melepaskan kakinya dari dalam tanah. Dengan kuda-kuda yang kokoh iapun mendorongkan tangan kirinya keatas. Percikan kilat bertambah besar. Haaaaaaaaa….!!!! Dengan teriakan yang keras ia melepaskan energy dalam dirinya melalui kedua tangannya. Dan … BUMMM..!!!! Ledakan dahyat terdengar. Lepasan energy menimbulkan ledakan yang luar biasa diudara. Dekat dengan lengan Orang muda itu. Daun-daun banyak berguguran, radius lima meter tempat itu menjadi berantakan dengan berseraknya daun dan tanah yang tergusur dari tempatnya. Kulit pohon besar itupun tampak menghitam dan beku. Dibawah pohon yang tidak terlalu besar Orang muda itu bersandar. Dari mulut dan hidungnya keluar darah segar membuat dada dan perutnya berwarna merah. Tak jauh dari tempatnya bersandar, tampak anak panah raksasa patah jadi dua! Tak lama kemudian terdengar suara daun-daun tersibak. Dan dalam sekejap, lima orang bertelanjang dada, bercelana hitam dan berikat kepala hitam sudah tegak berdiri mengepung Orang muda. Orang muda itupun menghela nafas dan memejamkan mata. “Sambutan kalian keterlaluan…!” bergumam si Orang muda. Kelima orang itu hanya tersenyum. “Tenaga dalammu bertambah pesar, Rekha!” Sahut salah seorang yang ditengah. “Mana Kakang Rakhsa?” Jawab Orang muda yang dipanggil Rekha itu. “Aku disini, Rekha.” Suara besar berwibawa terdengar dari samping kanan Rekha. Terkejut, cepat-cepat ia membuka mata dan memalingkan mukanya ke arah datangnya suara. Entah kapan hadirnya orang itu. Tiba-tiba seorang yang bertubuh tinggi penuh otot dan tegap dengan raut wajah yang tampan berjongkok disamping Rekha. Kelima orang yang dari tadi berdiri mendadak berlutut didepan orang yang baru datang. “Pimpinan Naimisha. Salam hormat kami!” Serentak kelima orang itu menyembah. Yang disembah hanya menganggukan kepala dan memberi isyarat agar kelima orang itu berdiri. Mereka berdiri dan melangkah mundur, tak berani mendekat. “Kakang, sambutan yang kau bikin keterlaluan!” Kata Rekha sambil mengernyitkan kening tanda tak suka. Yang dipanggil kakang hanya tersenyum manis. “Aku tadi melihat kepesatan ilmu mu. Tenagamu luar biasa. Kamu tahu sendiri, Lima panglimaku itu berilmu tinggi. Tapi kami mampu mengimbangi tenaga mereka. Walau…. Harus terluka parah seperti ini. Hahahaha…!” “Sialan” Rekha memaki. Ia mencoba berdiri dan bersandar pada pohon dibelakangnya. Ia memandang kelima orang yang ternyata merekalah yang menggerakkan anak panah raksasa tadi. Dipandang seperti itu mereka hanya tersenyum cengengesan. “Tapi tetap saja kamu memetik kemenangan adikku, dari pihakku gugur 10 anggotaku.” Kata Rakhsa lagi. “Itu salah mereka menyerangku secara sembunyi-sembunyi.” Jawab Rekha. “Mereka itu orang baru, mereka tidak mengenalmu. Mereka hanya menjalankan tugas.” “Ya sudah kalo begitu beri saja mereka penghargaan karena gugur di medan tugas.” “Ha..ha..ha.. Rekha, rekha. Mereka tanggung jawabmu. Sebagai penghargaan atas gugurnya ke-sepuluh anggotaku, kamu harus menyerahkan sebuah jarimu.” Kata Rakhsa pelan namun tegas. Rekha tidak terkejut. Rupanya ia tahu resiko yang harus ia tanggung. Namun tentu ia tidak akan memberikan jarinya dengan begitu saja. “Boleh.” Jawab Rekha disambut senyuman tipis Rakhsa yang adalah Kakaknya sendiri. “Namun kalau salah satu dari panglimamu itu mampu mengalahkan aku.” Tantang Rekha. Rakhsa hanya mengernyitkan keningnya. Ia tahu saudaranya sendang terluka. Menolak tantangannya juga merupakan perbuatan pengecut. Bagaimanapun posisinya sekarang berada dipihak yang dirugikan. Jika salah satu panglimanya menang, tetap saja itu memalukan. Apalagi sampai kalah. Namun Rakhsa tidak dapat berbuat apa-apa. Ia memandang ke salah satu panglimanya dan menganggukkan kepala. Orang itupun bergerak maju dan bersiap, sementara yang lain mundur sampai ke Pohon raksasa di belakang mereka. “Rekha, aku terima tantangan keras kepalamu. Ingat kamu masih terluka dalam yang cukup parah. Jangan paksakan menggunakan tenaga dalammu. Jika ‘Panglima Tiga’ ini mampu merobek kulitmu sedikit saja, terima kekalahanmu. Bagaimana?” Rakhsa memberikan tantangan yang menurutnya lebih adil. Yang diberi tantangan hanya mengangguk dan menyeringai. Ia segera memasang kuda-kuda. Matanya tajam menatap kearah orang yang disebut Panglima Tiga. Yang ditatap hanya senyum-senyum dan memasang kuda-kuda. Tangannya mengembang, menandakan siap untuk diserang. Maka sedetik kemudian kaki kanan Rekha menjejak ke pohon besar dibelakangnya menimbulkan gemuruh karena getaran pohon. Sekejap kemudian tubuh Rekha melesat bak anak panah kearah Panglima Tiga. Tapak tangannya terbuka kearah muka Panglima Tiga, melihat telapan tangan yang datang sedemikian cepatnya Panglima Tiga segera mengirimkan pukulan untuk menangkis datangnya serangan, namun belum lagi pukulannya dan tapak tangan Rekha bertumbukan, entah bagaimana tahu-tahu Rekha merubah serangannya, kaki kirinya sebentar lagi akan menghantam dadanya, sontak Panglima Tiga menggerakkan siku kanannya untuk menangkis tapak kaki lawan, namun kembali serangan Rekha berubah, kini tinju kirinya yang sebentar lagi akan menghantam pelipisnya. Tak sempat menangkis, Panglima Tiga memiringkan kepalanya ke kanan hingga pukulan Rekha hanya lewat diatas kepalanya. Pukulan dan tendangan Rekha yang tidak tentu dan serangan yang selalu berubah-ubah membuat Panglima Tiga kewalahan. Tak lama ia mulai terdesak. Rupanya anak ini punya jurus yang diandalkannya. Pantas saja ia merani menantang. Berkata dalam hati Panglima Tiga. Pertempuran itu terus berlangsung lama. Tubuh mereka hanya terlihat seperti bayang-bayang saja. Bayangan tubuh Rekha tak beraturan sedangkan tubuh Panglima Tiga melesat kian

Last Update: 2016-01-28
Subject: History
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

terjemahan google basa Jawa Indonesia

Indonesian

Putri kontes Pancala Panchala located Kurusetra wétan. Loro-lorone sing kapisahaké déning alas Naimisha. A alas untouched dening manungsa, saliyane kayu sidik alas gedhe lan kandhel uga dipanggoni déning kéwan-kéwan galak lan perampok tenung mandraguna mbebayakake. Uga ing alas ana uga kali raging didunungi Welasan karang baya. Saka negara alam piyambak bisa guess rong karajan tetanggan iku bakal angel kanggo hubungané. Panchala dipimpin dening raja wicaksana dijenengi Prabu Drupada. Brawijaya duwe putra putri ayu sing jejuluk Drupadi. Kaendahan Princess Drupadi uga dikenal kanggo negara-negara tanggané. Akeh Pangeran sing teka kanggo aplikasi kanggo Putri Drupadi, nanging loro Prabu Drupada lan Putri Drupadi wis durung mutusaké kanggo nampa proposal siji para panggedhe sing teka. Iki mesthi ngundakake masalah kanggo kerajaan. Yen King Dropada utawa Putri Drupadi nampik aplikasi, siji salah bisa mimpin kanggo perang. Mulane King kudu nggawe privasi a. Sing sore Putri Drupadi nglaras aura srengenge kuning emas. Bayangan cahya Golden ndadekake hamparan alas lan kedaton yellowing. Kali tumpukan di kupeng alas emas. Waca lan seneng sesawangan lan atmosfer minangka iku pancene soothes nyawa. Kanggo wayahe kabeh bobot lan masalah bakal lunga dening kaendahan sesawangan alam wewatesan. Putri Drupadi lungguh ing ngarepe kang jendhela decorated sutra lan kembang variegated tengen ing gendheng saka Palace saka kamar. Panjenenganipun ngagem sugih putih ringkes nuduhake lancar kulit putri. Kapapar cahyo Golden saka Srengéngé, nambah kaendahan. Rambute kang dawa mbalek munggah ing ditahan karo hairpin emas. Sikil dawa becik kang overlapped ing bantal bordir Utas emas. Mata putri ditutup, dodo AMBEGAN swelled ajeg nggawe gerakane becik munggah lan mudhun alon-alon. A eseman lancip hiasan lambé tipis kang. Kaendahan jumbuh didadekake siji karo dewi utawa nymph. Worth yen kaendahan diundang pangeran teka. "Drupadi ....". Gedhe swara lan kamulyan teka saka lawang kamar turu. "Bapak ...". Drupadi mangsuli sandhangan langsung lan cepet smoothed cepet knelt ing ngarepe kang rama. "Tangia, anakku". Swara bali kebak panguwasa iki Venezuela kuping Drupadi. Putri malah banjur ngadeg, sirah sujud. Dheweke ora bisa ing pasuryan bapakku lan raja. "Apa penting, bapak. Supaya Rama teka menyang abdi kamar. "Said Drupadi hormat. "Iku bab pangeran pangeran rawuh propose. Nganti saiki padha ora diwenehi kita jawaban. "Kanggo wayahe King sighed. Putri ana bisu nunggu tembung King sabanjuré dadi. "Yen kita padha ora langsung njawab aplikasi sing, rama kuwatir yen wong bakal njaluk duka lan perang nglawan kita." Sang Prabu Dropada bali sighed akeh banget. "Aku tak Petunjuk Sang Hyang Widhi, kanggo ngatasi masalah iki." Putri Drupadi wungu iku kepala, kapandeng ing pasuryan kang rama kanggo wayahe. Mesthekake rama Garwane. "Kita bakal nggawe kontes kekuatan lan prigel. Pangeran wanted mempersuntingmu kudu ngetik Sayemboro iki. Sing medal minangka juara, kang nduweni hak dadi bojomu. " "Kompetisi Urut saka aku arep?" Pitakone Drupadi. "Kompetisi panahan patung iwak banjur ngubengi tengah blumbang warisan gandhewo saka Inggris." Wangsulane Prabu Drupada minangka ckck. "Nanging Bapak, kita ngerti para panggedhe sing duwe ilmu dhuwur. Ora kanggo sebutno yen padha gumantung ing jawara utawa kapal penggedhe. Apa yen akèh saka Pangeran bisa kanggo Angkat Kratoning warisan gandhewo? "Said Princess Drupadi. Katon ing pasuryan kang nuduhake badhan jero. Iki ora mung bab masa depan. Iki melu safety saka Kratoning lan wong. Yen Ing kontes malah iki ana wikan adil siji peserta, mesthi bakal sue. Siji-siji bakal break perang. Lan iku bakal kurban sawijining wong. Lan iya ora pengin kelakon. Prabu Drupada ngaso. Brow furrowed lan mripate ditutup. Panjenenganipun sighed kanggo wayahe. Banjur jumangkah menyang kamar istana gendheng mangetan putri. Mata tampilan nyapu ayu endah adoh ing ngarepe wong. "Anakku, yèn mangkono peserta kudu saingan sparring kontes page. Wong-wong sing padha ora bisa terus onomatopia tandhing, kang ilang. Nanging sing sapa isih kuwat iku hak migunakaké busur pusaka kraton. Malah banjur, yen isih nduweni energi tabungan. Carane, putri? "Takon King. Putri ketoke sepi. Banjur iku ketoke eseman Mesem ing lambé padha rosy. Panjenenganipun nodded ing persetujuan. Ing Rajapun mesem ing putriné sarujuk karo idea dheweke. Jumangkah nyedhaki putriné stroked dheweke rambute. "Sampeyan katon putri ayu, pantes mung para panggedhe negara tanggané edan bab sampeyan." Tembung Drupada ngalembana kaendahan putrine. "Aku wis." Wangsulane Drupadi quietly lan banjur nungkulaké mustaka. Pipi reddish dadakan. Bapak arang ngalembana. Kang panginten kanggo awake dhewe. Putri Drupadi leaned menyang awak kang rama. Prabu Drupada iki clutching putrinipun. "Siji bab sing perlu kanggo elinga cah lanang. Sapa sing teka metu mengko dadi pemenang kontes iki, Nanging kemampuan digdayanya, iku ora kudu wong apik dadi bojomu lan pimpinan kulawarga. Ati-ati. Semedi, takon Sang Hyang Widhi. "Whispered Prabu Drupada ing kuping kiwa. Putri mung manthuk lan tightened kiyat ing awak ing rama padha King. Iki njupuk peteng. Golden cemlorot sing wis mrentah jungles lan kali mudhun ana diwiwiti kanggo fade. Pepeteng nang endi wae diwiwiti teka ing alam dominasi. Kaya apa-apa bisa nyegah tampilan kabeh-babak peteng. Katon mung meandering kali putih lan ilang alas dikegelapan. Rauh kabar saka kontes Panchala nyebar ing saindhenging negara. Ambassadors kraton langsung dikirim menyang negara-negara tanggané kanggo ngirim lan huruf resmi saka Prabu Drupada bab sayembara. Ing panggonan crowded ing saindhenging negara, pasar, sekolah, ing kraton ditempelake woro-woro bab sayembara. "Contest. Amarga supaya akeh pangeran sing teka babagan omah-omah Princess Panchala Raya, Raja Drupada, King Supreme Pancala Raya ing dina kaping sepuluh, sasi kaping sepuluh taun iki dianakaké kontes. Sapa bisa kanggo perang nganti ora ana maneh mungsuh kang bisa angkat warisan gandhewo Panchala Raya, lan tanpa looking dhewek kudu bisa reca iwak memanak di kupeng jogan Kolam Palace sing dadi babak. Kanggo sapa waé sing bisa nglakoni, iku anduweni hak nglakoni ningkah Putri Drupadi. Saben pangeran kudu kalebu wakil utawa piyambak nanging wakil bakal dadi kelas Satria " Mangkono swara saka tulisan padha ditulis ing babakan sing wis diproses ing kuwi minangka cara kanggo meh podo gombal lan Pasted ing panggonan umum. Saben uwong sing weruh woro-woro ketoke gedheg-gedheg ing gumunake. Rauh ing Pancala bakal klumpukne mandraguna Piandel sing bakal saingan kanggo wanita paling ayu ing saindhenging negara. Kanggo wong biasa iki mesthi ora atraktif banget kanggo wong-wong mau. Nanging kelas iki Satria mesthi khusus, saliyane kanggo onomatopia putri ayu uga entuk kasempatan kanggo nyoba kemampuan. Iku uga ndadekake tantangan kanggo panggedhe sing wis diajukake aplikasi sing kanggo Prabu Drupada. Ing kontes iki jawaban kanggo aplikasi. Lan padha mangerti, yèn padha saingan kanggo wong wadon. Kabeh cara lagi lelungan. Kabeh padha nindakake supaya menang kontes. Sing alas Naimisha esuk dipinggiran katon jaran ireng amba mbukak cepet kaya panah saka gliding gandhewo. Ndhuwur jaran katon wong Dashing enom. Panjenenganipun ngagem headbands prewangan bagean ngarep star Golden ing ngukir. Nalika dodo sing godhongé amba lan redness mbukak ngiwa. Kayata kulit logam nalika suryo srengenge cocog iku sweats teka metu saka pori kang. Nalika pinggul mudhun dheweke ngagem wong kraton khas. Rasukan ditutupi sing bengkong ing kuwi cara kanggo nambah kegagahannya. Wong terus Gallop endlessly. Miturut midday wong enom sing nolak jaran mlayu tengen antarane loro wit gedhe sing tuwuh rodo adoh loro. Loro wit iki meh kaya gapura alas. Alon-alon wong enom wiwit Gallop menyang alas. Ora suwene bali wong kicked jangkah jaran. Jaran amba bali darted antarane alas di kupeng wit mgayomi lan rapat-rapat. Nanging misale jek sing Kapadhetan saka wit lan in lan rusak alas iki ora manca kanggo wong iki. Mbuktekaken terus Gallop tanpa ngurangi kacepetan sanadyan liwat twists, climbs utawa asale. Srengenge ana ndhuwur mung sirah. Nanging ing alas-alas kaya iki, iku ora ateges apa-apa. Ing alas isih kelangan lan ora banget padhang. Aku ora bisa mbayangno apa yen wengi iki. Alamiah pepeteng bisa pindhah menyang balung. Rider mandegake jaran mlayu persis sepuluh meter ing ngarepe wit gedhe. Wit iku mung wit ketoke paling karo werna hanging penyelundupan, lan malah sawetara minangka amba minangka thigh diwasa. Wit gedhe banget malah banjur, iku njupuk kira-kira sepuluh wong mulung tangan kanggo ngubengi wit. Inggil dijamin dening godhong-godhongan enom kandhel ndadekake tampilan kita ora bisa ngerti nganti pungkasan wates wit buta. Wong enom iki deft mudhun saka jaran dheweke. Agung saka wit durung nggawe wong wonder. Alon-alon dheweke nyedhaki, looking fixedly ing ndhuwur godhong-godhongan enom wit-dijamin. Cetha mata overseeing negara. Sikil Perlana sijine easel. Iku misale jek wong enom sumurup wis teka wis dikenal penghuni alas Naimisha. Aku wonder apa digawe jantung wong enom supaya wani lan anteng, eseman tugging ing lambé kanggo wayahe. Sraakk !!! Swara saka godhong kapapar soko. Wong enom langsung nguripake pasuryan dheweke kanggo ndeleng apa tumiba saka ndhuwur. Angin ngalangi Serangkum mbanting tengen ing sirahe. Bebrapa centi bakal tetep maneh ing sirah, deftly wong enom darted bali menyang wit amba konco wong tanpa looking, lan crouched mudhun miring arah wit mujur. Bumm !!! Angin ngalangi mung mengaruhi tanah kosong lan nimbulaké diameteripun bolongan siji meter lan godhong mabur lan lemah teles. Wong enom mesem. Nanging durung kesel eseman dumadakan saka ing antarane godhong ing trek ewu cepet panah ireng. Roaring tengen menyang wong squatting wit dibatang. Ningali serangan kanthi cepet lan kasar misale jek mokal wong kanggo uwal. Banjur ditutup mripate, lambé obah kanthi cepet. Lan liya kanggo sebutno ewu panah nganti kulit sing Gamelan, mbukak mripat lan dumadakan ewu panah mandegake mung sawetara cm ing ngarepe irung. Aja mandheg ana, alon-alon panah sing siji muter. Lan mung karo panah nglirik sped bali menyang panggonan asal minangka cepet kaya kilat. Sraakkk !!! Ngisor ...! Ngisor ...! Muni lemah berdebuman menehi tiba saka wong ing ndhuwur wit. Kabeh ambruk lifeless karo panah tancep ing dodo, sirah lan gulu. Wong enom flashed bali menyang ndhuwur wit dijamin godhong-godhongan enom kandhel. Nanging ora nganti wong enom wis penetrated godhong nglukis, iku dumadakan patine. Panjenenganipun felt piyambak dipeksa dening pasuryan sultry angin memapas. Lan manawa ana cukup, panah ing lengen plunged pasuryan. Nanging panah padha uga nahan sawetara cm ing ngarepe pasuryan. Nalika terus mabur wong enom wis nyoba kanggo nolak aliran kang rawuh saka panah buta. Nanging misale jek panah kasil dipencet wong enom. Peduli. Maki wong ana ing jantung. Kang awak iki alon obah mudhun ora bisa nolak meksa saka aliran panah buta. Nalika panah ditanggepi sabab swara geter gedhe mengaung alus nanging deafening. Wong enom terus, setelan mlaku dipencet mudhun kanggo lemah. Mbok yen sikilé setelan lemah, kang bakal duwe daya ngungkuli nalika iku floated. Nanging guessed salah. Tansah sikilé ing lemah ngilang udan! Kringet kadhemen pouring saka gulu. Panjenenganipun ngupados pindhah tangané sautan a Dart buta, nanging malah banjur ora bisa nindakake. Ana jenis tembok ngalangi lingkungan panah buta siro. Aku mati! Panjenenganipun DICAKUP. Nalika sikile wis lemah teles ambruk menyang nyuda. Mesthi ora bisa mindhah bebas saiki. Dheweke wis ora dipilih. Loro tangan dowo miring, obah cepet lambé minangka mata terus ngempet tingkat saka gerakan bulging panah buta. Mata wong enom wiwit abang getih! A Pasangan saka tangan dowo metu cahya putih lancip. Beam lancip saka kumelun lancip wungu saking uga putih. Dumadakan online es! Lan nggawe godhong lan bushes watara wong enom wis diuripake salju! Haaaaaaaaaa ... .. !!! Miturut matur wong enom diusir tangan tengen munggah lan mudhun lengen kiwane. Two energi rubbing marang udhara. Energi antarane tangan saka wong enom lan panah buta energi. Gesekan nyebabake eseman kilat-yambar watara. Twigs, godhong utawa wit disabetake dening bledhek narik langsung katon charred lan beku. Wong enom ngatur kanggo nerbitaké mlaku saka lemah. Karo jaran kuat uga diusir tangan kiwa munggah. Lightning narik tambah. Haaaaaaaaa .... !!!! Karo surak sora pers energi ing wong liwat tangané. Lan ... BUMMM .. !!!! Bledosan Dahyat nyuworo. Energi dipindhah nyebabake bledosan sanget ing udhara. Cedhak lengen wong enom kang. Akeh godhong tiba, radius limang meter saka panggonan menyang kekacoan karo godhong lan lemah littered terlantar saka sawijining panggonan. Babakan wit amba lan malah banjur kapandeng blackened lan beku. Sangisore wit iku ora kegedhen wong enom leaning. Saka tutuk lan irung metu getih seger kanggo nggawe dodo abang lan weteng. Ora adoh saka kono leaned bali, kapandeng panah buta ngagetake ing loro! Rauh swara saka godhong parted. Lan ing lampu kilat, limang shirtless, celonone ireng lan ireng endhas belted wis ngadeg diubengi wong enom. Wong enom malah banjur sighed lan ditutup mripate. "Welcome sing kakehan ...!" Grundelan wong enom. Wong lima mau padha mung esem. "Daya kowé sing nambah amba, Rekha!" Wangsulane salah siji saka tengah. "Where Kakang Rakhsa?" Wangsulane wong enom sing disebut Rekha iku. "Aku kene, Rekha." Swara teka saka kuoso tengen gedhe kajawi Rekha. Kaget, kang cepet ngelèkaké mripaté wong wuta lan nguripake marang pasuryan kanggo arah swara. Salah siji nalika ngarsane wong. Dumadakan dhuwur, otot lan uga-dibangun karo pasuryan kebak nggantheng crouched jejere Rekha. Wong lima mau sing wis dumadakan ngadeg ing dhengkul ing ngarepe wong anyar teka. "Pemimpin Naimisha. Salam kita! "Unison limang wong nyembah. Sing dhek mung manthuk lan sasmita kanggo limang wong ngadeg. Padha jumeneng lan jumangkah bali, durung wani kanggo pendekatan. "Kakang, welcome sampeyan nggawe ngagetake!" Said Rekha nalika frowning pratandha ora kaya. Disebut Kakang mung mesem sweetly. "Aku wus ndeleng rapidity saka kawruh. Kekuatan luar biasa. Sampeyan ngerti, limang panglimaku Highly pinter. Nanging kita padha bisa kanggo njaga daya. Senajan .... Kudu tatu nemen kaya iki. Hahahaha ...! " "Peduli" Rekha ipat-ipat. Panjenenganipun upaya kanggo ngadeg munggah lan condong ing wit konco wong. Panjenenganipun kapandeng ing wong lima sing diaktifake metu padha obah Dart buta sadurungé. Katon lagi mung mesem cengengesan. "Nanging isih menang kakangku, saka sisih tiba 10 anggota sandi." Said Rakhsa maneh. "Iku salah siji saka wong-wong mau nyerang kula ing rahasia." Jawaban Rekha. "Padha wong anyar, padha ora ngerti sing. Lagi mung mlaku errands. " "Inggih yèn mangkono mung menehi wong kredit kanggo tiba ing lapangan tugas." "Ha..ha..ha .. Rekha, Rekha. Lagi tanggung jawab. Pengakon marang matine kabeh sepuluh anggota sandi, sampeyan kudu miturut driji. "Rakhsa ngandika alon nanging kuwat. Rekha ora kaget. Ketoke wong sumurup resiko kang kudu. Nanging mesthi ora bakal menehi dheweke kanggo diwenehake. "Mbok," wangsulane Rekha disambut Rakhsa eseman lancip sing sadulure. "Nanging yen salah siji saka panglimamu bisa kanggo ngalahake kula." Challenge Rekha. Rakhsa mung sora. Dheweke sumurup sadulure iki tatu spring. Nolak tantangan uga tumindak kang cowardice. Nanging posisi kang saiki ing bagéan saka aggrieved. Yen salah siji panglima menang, pancet iku wadhi. Aken piyambak kanggo kelangan. Nanging Rakhsa ora bisa nindakake apa-apa. Panjenenganipun kapandeng siji Panglima lan nodded sirahe. Lan panjenengané pindhah maju lan nyiapake, nalika wong mundur wit buta konco wong. "Rekha, aku nampa tantangan saka sirah hard. Elinga yen sampeyan padha tatu ing nyedhaki abot. Aja meksa nggunakake daya ing sampeyan. Yen 'Panglima Tiga' iku bisa kanggo nyuwek kulit sethitik, matur mundhut. Piye? "Tantangan Rakhsa kang ngandika luwih imbang. Diwenehi tantangan mung manthuk lan grinned. Panjenenganipun langsung sijine jaran. Cetha mata dibintangi menyang supaya disebut-Panglima Tiga. Sing stared mung mesem lan braced. Tangané swell, nuduhake siap kanggo nyerang. Banjur liyane mengko Rekha sikil tengen langkah kanggo wit gedhe konco wit nuduhke Rame amarga geter. Cepet mengko Rekha awak dijupuk kaya panah menyang Panglima Tiga. Palms dheweke mbukak menyang pasuryan saka Panglima Tiga, ndeleng tangan telapan teka supaya cepet Panglima Tiga langsung dikirim jotosan kanggo ngusir serangan impending, nanging durung maneh dijupuk lan Palms Rekha tabrakan piye wae sumurup Rekha ngowahi anggempur kang, wentis kiwa ana bab kanggo mencet dodo, abruptly obah kang sikut tengen Panglima Tiga footprints kanggo ngusir mungsuh, nanging Rekha diuripake maneh anggempur, ajiné kiwa saiki bakal rauh kenek omahé. Ora ana wektu kanggo Parry, Panglima Tiga diiringake para kepala nengen kanggo jotosan Rekha mung maringaken liwat kang sirahe. Rekha punches lan trobosan ora kudu lan serangan sing tansah ganti nggawe Panglima Tiga kepunjulen. Rauh wiwit dipencet. Ketoke iki cah lanang wis wayahe wus migunaaké. Ora wonder kang Merani tantangan. Telung Panglima marang awake. Gelut terus kanggo dawa. Badan mung katon kaya dipengini mung. Rekha Shadow duwe aturan baku saka awak nalika Panglima Tiga darting lan fro ngindari lan serangan memapas Rekha. Ningali iki, Rakhsa esem. Ketoke kerajaan lor dadi pejabat gagah ngajari adhi kaya iki. Banjur ana dadi badhan bab safety saka iku sadulur. Énggal mawon muncul ing Panglima Tiga miwiti saka urgency. Nganti wektu kuwi minangka badan sing ora dikarepke Rekha kang musna saka ing pandelenge, obah minangka cepet kaya kilat! Ngisor! Krak! A wit gedhe gedhe konco Panglima Telung pecah lan tabrakan jugrugan, ora kanggo sebutno wit ambruk ... Thump! Akh ..! Telung muffled Panglima bengok. Awak Terjajar maju lan ambruk marang dhengkul ing ngarepe Rekha. Panglima Tiga ditutup sedhela, saluran kabeh pikiran sehat lima kanggo nliti kahanan awake. Nanging misale jek ana ora ciloko wujud minangka asil saka ngunekke ing kang bali Rekha sadurungé. Katon cetha Rekha durung arep kanggo babras wong. Dheweke mesem lan wungu. "Apa?" Tanya Rekha ing Panglima Tiga "Sampeyan menang Rekha." Said Panglima Tiga grimacing lan langsung minger banjur mlaku alon menyang kanca-kanca wadon liyane. Rakhsa mesem lan nyedhaki adhine padha ngadeg esem kamenangan. "Good, Rekha. Apik. Kamampuanmu akeh kanthi cepet. Pungkasan taun sing ora bisa ngalahake Panglima Tiga. Saiki gampang sing ngapusi komandan. "Pinujia Rakhsa. "Ah, cak bisa wis. Aku ngerti Pakdhe Panglima Tiga ora serius. Iya ora Mbales serangan tho. "Said Rekha "Ya ing Pakdhe?!" Ngandika Rekha minangka kang nguripake pasuryan marang Komandan Tiga. Telung Panglima mung mesem. "Banjur apa waé kene? Kudu bantuan? "Back Rakhsa takon Rekha. Wektu iki pasuryan Rakhsa nuduhake Garwane ing. Padha takon langsung ngganti expression kang dadi serius. Rekha dumadakan ngilingake tugas teka kono. "Oh, ya Kakang. Aku meh kelalen. Aku njupuk ing tugas Pangeran King Danutirta Kakang. " "Apa?" Rekha njupuk metu barang cilik shaped nggulung lan diwenehi kanggo Rakhsa. Dadi metu iku layang cilik mbalek munggah lan dipasang ing pipa cilik ireng. Rakhsa maca huruf cilik. Lan mesem. "Ketoke pangeran kala wau semangat uga omah-omah Dewi Drupadi. Uga, asal saka wilayah alas ing sisih wétan ing Kratoning Danutirta nggedhekake daya sandi. "Said Rakhsa dibintangi menyang mripate Rekha cetha. Rekha sing stared ing kuwi cara ora bakal outdone. Glowering menyang Rakhsa, kang nyedhaki kakang. "Anggere sampeyan menang kontes, Kakang" Rakhsa nodded lan patted Pundhak seduluré.

Last Update: 2016-01-28
Subject: History
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:
Warning: Contains invisible HTML formatting

Javanese

Basa Jawa drama maling kundang

Indonesian

drama bahasa jawa maling kundang

Last Update: 2015-12-14
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Drama Jawa-basa 5 wong

Indonesian

drama bahasa jawa-untuk 5 orang

Last Update: 2016-01-11
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:

Reference:

Javanese

pacelathon basa Jawa 6

Indonesian

pacelathon basa jawa 6 orang

Last Update: 2015-11-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa main sekolah

Indonesian

bapak mangkat kantor numpak

Last Update: 2014-10-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa muter legenda

Indonesian

naskah drama bahasa jawa legenda

Last Update: 2016-02-28
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:

Reference:

Javanese

muter basa snails Jawa

Indonesian

naskah drama keong mas bahasa jawa

Last Update: 2016-02-13
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Reference:

Javanese

Basa Jawa muter 8 wong

Indonesian

Basa Jawa muter 8

Last Update: 2016-02-12
Subject: General
Usage Frequency: 5
Quality:

Reference:

Javanese

muter basa Jawa snails

Indonesian

naskah drama keong mas bahasa jawa

Last Update: 2016-01-25
Subject: General
Usage Frequency: 4
Quality:

Reference:

Add a translation

Search human translated sentences



Users are now asking for help: marknadsinstrumenten (Swedish>Finnish) | kuwo (Xhosa>English) | maikling tula para sa guro (English>Tagalog) | doll sees life forms (English>Wolof) | grant (Danish>English) | bom dia monanu (Portuguese>French) | waking up (English>Tagalog) | chi sogna (Italian>English) | luokkahuone (Finnish>English) | three times a day (Latin>English) | ano sa tagalog ang liquid (English>Tagalog) | bf film englishbf picture (Hindi>English) | enlever la pompe (French>Dutch) | se trouve (French>English) | pedicabo ut faciam illud (Latin>English)


Report Abuse  | About MyMemory   | Contact Us


MyMemory in your language: English  | ItalianoEspañolFrançaisDeutschPortuguêsNederlandsSvenskaРусский日本語汉语한국어Türkçe

We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies. Learn more. OK