MyMemory, la memoria di traduzione più grande del mondo
Click to expand

Coppia linguistica: Click to swap content  Argomento   
Chiedi a Google

Hai cercato: geogle translite ( Inglese - Indonesiano )

    [ Disattiva i colori ]

Contributi umani

Da traduttori professionisti, imprese, pagine web e archivi di traduzione disponibili gratuitamente al pubblico.

Aggiungi una traduzione

Inglese

Indonesiano

Informazioni

geogle translite

Did you watch the movie last night ?

Ultimo aggiornamento 2014-11-19
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

ada

Ultimo aggiornamento 2015-01-21
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

Hola Guapa gracias por acetarme tu amistad un saludo desde Alemania..

Ultimo aggiornamento 2015-01-16
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

saya pergi sekolah

Ultimo aggiornamento 2015-01-16
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

google translitepesawat , Jakarta - Sejumlah puing pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura dan beberapa jasad penumpang telah ditemukan di Selat Karimata, pada Selasa 30 Desember 2014 sore. Pencarian terus dilanjutkan hari ini. Pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 itu sebelumnya hilang kontak pada Minggu 28 Desember 2014 pagi, sekitar pukul 06.17 WIB. Kapal terbang jenis Airbus A320-200 itu berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, pukul 05.20 WIB, dan seharusnya tiba di Bandara Changi, Singapura, pukul 08.30 waktu setempat. Ikuti terus perkembangan berita terkini terkait ditemukannya AirAsia berpenumpang 155 orang dan 7 awak kabin itu di tautan ini dan ini.

Ultimo aggiornamento 2015-01-15
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

JENIS-JENIS RELASI Relasi Invers Relasi invers dari R= (A,B,P(x,y)) adalah R^(-1)= (B,A,P(y,x)) atau (b,a)(a,b)R^(-1)=  R Contoh: (1,6) (2,6)(3,6)(4,6)R = (6,1)(6,2)(6,3)(6,4)R^(-1)= Relasi Refleksif AxAR= (A,A,P(x,y)) merupakan relasi dalam himpunan A dan R R, A maka ada (a,a) R disebut relasi refleksif jika untuk setiap a Adan R tidak refleksif jika ada sekurang-kurangnya ada satu elemen a Rtetapi (a,a) Contoh: 1,2,3A = (1,1)(2,2)(3,3)R_1= (2,1)(1,2)(2,1)(2,2)(3,1)(3,2)(3,3)R_2 = (2,1)(2,2)(3,1)(3,2)(3,3)R_3 = Jawab: (1,1)(1,2)(1,3)(2,1)(2,2)(2,3)(3,1)(3,2)(3,3)AxA = R_1 A terdapat (a,a)  AxA dan untuk setiap aR_1 R_1adalah relasi refleksif R_2 A terdapat (a,a)  AxA dan untuk setiap aR_2 R_2 adalah relasi refleksif R_3 A tetapi (1,1) AxA terdapat 1R_3 R_3 bukan relasi refleksif Relasi Simetris AxAR= (A,A,P(x,y)) dan R R disebut relasi simetris R R maka terdapat (b,a)jika (a,b) Contoh: (1,2)(2,3)(2,1)(3,2)(1,3)(3,1) dan R = 1,2,3A = (1,3)(4,2)(2,4)(2,3)(3,1) dan R = 1,2,3,4A = Misalkan R adalah suatu relasi dalam bilalangan-bilangan asli N yang didefinisikan oleh “y habis dibagi x” Jawab: AxAR R R maka terdapat (b,a)R adalah relasi simetris karena (a,b) AxAR R R tetapi (3,2)R bukan relasi simetris karena (2,3) R R tetapi (4,2)R bukan relasi simetris karena (2,4) Relasi Anti Simetris AxAR= (A,A,P(x,y)) dan R R disebut relasi anti simetris jika (a,b) R (b,a) R maka a=b R tetapi a≠ bR tidak anti simetris jika terdapat (a,b) Contoh: (1,2)(1,3)(2,3)(3,2) R = 1,2,3A = (a,b)(c,a)(c,c) R = a,b,cA = (1,2)(1,3)(2,1)(2,3)(4,3) R = 1,2,3,4A = Jawab: R bukan relasi anti simetris R bukan relasi anti simetris R tetapi 1≠2R bukan relasi anti simetris karena (1,2) Relasi Transitif AxAR= (A,A,P(x,y)) dan R R disebut relasi transitif jika (a,b) R (b,c) R.R maka (a,c) Contoh: a,b,cW= (a,b)(c,b)(b,a)(a,c)R= 1,2,3A= (1,3)(1,5)(3,5)(5,5)R= Jawab: R bukan relasi transitif karena (a,b) R (b,c) RR tetapi (a,a) R adalah relasi transitif Relasi Ekivalen AxAR= (A,A,P(x,y)) dan R R disebut Relasi Ekivalen, jika: R Refleksif R Simetris R Transitif Contoh: (1,2)(2,3)(1,3)(2,1)(1,1)(2,2)(3,3)(3,1)(3,2) dan R= 1,2,3A= Jawab: R  A maka ada (a,a) Refleksif karena untuk setiap a R R R dan (b,a)R Simetris karena (a,b) R Transitif karena (a,b) R (b,c) R.R maka (a,c) R adalah Relasi Ekivalen

Ultimo aggiornamento 2015-01-07
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translite goegle

bisnis online

Ultimo aggiornamento 2014-12-28
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

gogle translite

sayang aku

Ultimo aggiornamento 2014-12-08
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

batas akhir

Ultimo aggiornamento 2014-11-10
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

google translite

saya

Ultimo aggiornamento 2014-11-04
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

gogle translite

aku

Ultimo aggiornamento 2014-12-08
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translite Indonesian to English

translite bahasa indonesia ke inggris

Ultimo aggiornamento 2015-02-20
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translite Indonesian to English

Dapatkah aku membahagiakan mereka

Ultimo aggiornamento 2014-12-07
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translite Indonesian to English

kemudian kamu beri lem pada triplek yang berbentuk persegi panjang dan trapesium hingga melekat.

Ultimo aggiornamento 2014-11-10
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

Indonesia google translite english

bolehkah saya mencicipi kue yang baru kamu beli,bu

Ultimo aggiornamento 2015-01-20
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

Indonesia google translite english

kamu sedang apa?

Ultimo aggiornamento 2015-01-17
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

geogle terjemahan Indonesia-Inggris

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap kandungan nutrien kulit buah kopi

Ultimo aggiornamento 2015-01-26
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translite-English language to Indonesian

Budidaya Sapi Potong A. PENDAHULUAN Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil. B. PENGGEMUKAN Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan). Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah : 1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah : a. Sapi Bali. Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru. b. Sapi Ongole. Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah. c. Sapi Brahman. Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia. d. Sapi Madura. Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah. e. Sapi Limousin. Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik 2. Pemilihan Bakalan. Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah : • Berumur di atas 2,5 tahun. • Jenis kelamin jantan. • Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm. • Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit). • Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus. • Kotoran normal C. TATA LAKSANA PEMELIHARAAN 1. Perkandangan. Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan. 2. Pakan. Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen. Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi. Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA juga mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK. Produk ini, khususnya produk VITERNA Plus menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu : • Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K, Ca, Mg, Cl dan lain-lain. • Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh. • Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit. • Asam – asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat. Sementara pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan bobot harian sapi, meningkatkan ketahanan tubuh ternak, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Sedangkan HORMONIK lebih berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh bagi ternak. Di mana formula ini akan sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ternak secara keseluruhan. Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau komboran pakan konsentrat. Caranya sebagai berikut : 1. Campurkan 1 botol VITERNA Plus (500 cc) dan 1 botol POC NASA (500 cc) ke dalam sebuah wadah khusus. Tambahkan ke dalam larutan campuran tersebut dengan 20 cc HORMONIK. Aduk atau kocok hingga tercampur secara merata. 2. Selanjutnya berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc per ekor. Interval 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. D. PENGENDALIAN PENYAKIT Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.c. Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain. E. PRODUKSI DAGING Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah 1. Pakan.Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat. 2. Faktor Genetik.Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi. 3. Jenis Kelamin.Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar. 4. Manajemen.Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.

Ultimo aggiornamento 2014-12-06
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

translit google language to indonesi

1.1. Latar Belakang Masalah Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukur an panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di P rovinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di In donesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan dom estik maupun mancanegara (Amnte, 2012). Danau Toba yang mempunya i luas permukaan lebih 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukur an panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di P rovinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di In donesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan dom estik maupun mancanegara (Amnte, 2012). Danau Toba yang mempunya i luas permukaan lebih kurang 1.100 km 2 , dengan total volume air sekitar 1.258 km 3 . Kondisi oligotrofik Danau Toba menyebabkan daya dukung danau untuk perkembangan dan pertumbuhan organisme air seperti plankton dan bentos sangat terbatas. Pada aspek hidrologis , Danau Toba merup akan sebuah kawasan Daerah Tangkapan Air-DTA (Catchment Area) raksasa dan sang at vital bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Siklus pergantian air 110 -280 tahun merupakan salah satu keunikan Danau Toba karena siklus perputaran a ir danau-danau sedunia rata- rata hanya 17 tahun. Danau Toba merupakan sumber daya air yang mempunyai nilai yang sangat penting ditinjau dari fungsi ekologi, hidrol ogi, serta fungsi ekonomi. Hal ini berkaitan dengan fungsi Danau Toba sebagai habi tat berbagai jenis organisme air, sebagai sumber air minum bagi masyarakat sekit arnya, sebagai sumber air untuk kegiatan pertanian dan budidaya perikanan ser ta untuk menunjang berbagai jenis industri, seperti kebutuhan air untuk industr i pembangkit listrik Sigura-gura dan Asahan. Selain itu, fungsi Danau Toba sebagai k awasan wisata yang sudah terkenal ke mancanegara dan sangat potensial untuk pengembangan kepariwisataan di Provinsi Sumatera Utara Danau Toba juga merupakan suatu perairan yang banya k dimanfaatkan oleh beberapa sector seperti pertanian, perikanan, pariwisata, perhubungan dan 2 juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat di kawasan Danau Toba. Adanya berbagai aktivitas di sekitar Danau Toba aka n memberikan dampak negatif terhadap ekosistem danau tersebut, sehingga danau Toba akan mengalami perubahan-perubahan ekologis dimana kondisinya suda h berbeda dengan kondisi alami yang semula (Barus, 2007). Ekosistem Kawasan Danau Toba terletak di Pegunungan Bukit Barisan Provinsi Sumatera Utara. Menurut wilayah administra si pemerintahan Ekosistem Kawasan Danau Toba meliputi tujuh kabupaten yaitu : Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabup aten Tapanuli Utara Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi dan K abupaten Karo (Simanjuntak, 2008). Berbagai penelitian di Danau T oba memberikan indikasi bahwa telah terjadi penurunan kualitas air dan peru bahan ekologis, khususnya pada lokasi-lokasi yang banyak terkena dampak dari kegiatan masyarakat (Siagian, 2009). Pada perairan Danau Toba ini tempo dulu masih dijum pai ikan asli yaitu ikan batak dan pora-pora. Tetapi saat ini sudah jar ang bahkan mungkin sudah hilang dan tidak jelas apa penyebabnya. Pada tahun 1996 usaha perikanan di perairan Danau Toba mulai berkembang dalam bentuk K eramba Jaring Apung (KJA) dan hingga saat ini mencapai luas ± 440 ha. W alaupun luas perairan yang digarap baru mencapai 0,4% dari ambang luas dan yan g diizinkan sebesar 1% dari luas perairan Danau Toba. 2 juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat di kawasan Danau Toba. Adanya berbagai aktivitas di sekitar Danau Toba aka n memberikan dampak negatif terhadap ekosistem danau tersebut, sehingga danau Toba akan mengalami perubahan-perubahan ekologis dimana kondisinya suda h berbeda dengan kondisi alami yang semula (Barus, 2007). Ekosistem Kawasan Danau Toba terletak di Pegunungan Bukit Barisan Provinsi Sumatera Utara. Menurut wilayah administra si pemerintahan Ekosistem Kawasan Danau Toba meliputi tujuh kabupaten yaitu : Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabup aten Tapanuli Utara Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi dan K abupaten Karo (Simanjuntak, 2008). Berbagai penelitian di Danau T oba memberikan indikasi bahwa telah terjadi penurunan kualitas air dan peru bahan ekologis, khususnya pada lokasi-lokasi yang banyak terkena dampak dari kegiatan masyarakat (Siagian, 2009). Pada perairan Danau Toba ini tempo dulu masih dijum pai ikan asli yaitu ikan batak dan pora-pora. Tetapi saat ini sudah jar ang bahkan mungkin sudah hilang dan tidak jelas apa penyebabnya. Pada tahun 1996 usaha perikanan di perairan Danau Toba mulai berkembang dalam bentuk K eramba Jaring Apung (KJA) dan hingga saat ini mencapai luas ± 440 ha. W alaupun luas perairan yang digarap baru mencapai 0,4% dari ambang luas dan yan g diizinkan sebesar 1% dari luas perairan Danau Toba. Dalam Hidayati (2010), mengatakan bahwa dari bebera pa hasil penelitian di Danau Toba, dijumpai 14 spesies ikan. Informasi yang diperoleh dari nelayan setempat bahwa ikan yang akhir-akhir ini sering ada lah ikan mujahir ( Tilapia mossambica ), ikan kepala timah ( Aplocheilus panchax ), ikan seribu ( Lebistes reticulates ),ikan gurami,( Osphronemus goramy ), ika sepat ( Trichogaster trichopterus ),ikan gabus ( Channa striata ), ikan lele ( Clarias batrachus ), ikan ( Cyprinus carpio ), dan ikan nila.selain itu terdapat satu jenis ika n endemik yaitu yaitu ikan yang hanya terdapat di Danau Toba yang d isebut sebagai ikan batak atau “ihan” ( Neolisssochillus thienemannni ). Ikan ini berdasarkan kriteria IUCN ( International Union for the Conservation of Nature ) sudah diklasifikasikan sebagai terancam punah ( endangered ). Jenis ikan ini dahulu sering dihidangkan 3 sebagai sajian istimewa untuk berbagai acara pesta adat bagi masyarakat setempat, tetapi kini masyarakat yang tinggal di sekitar Dana u Toba sudah sangat sulit untuk menemukan ikan tersebut. Ikan pora pora atau ikan bilih ( Mystacoleucus padangensis ) merupakan ikan endemik dari Danau Singkarak diintroduksi di D anau Toba pada tahun 2003. Dimana tujuan dari introduksi tersebut adalah untuk meningkatkan produksi dan menyelamatkan populasi ikan bilih ( Mystacoleucus padangensis ) di habitatnya yang baru yaitu di Danau Toba (Kartamihardja dan Ku nto purnomo , 2006). Ikan pora pora ( Mystacoleucus padangensis ) merupakan ikan khas Danau Singkarak. Ikan pemakan plankton sepanjang 6-12 sen timeter ini hasil dari evolusi selama berjuta-juta tahun di lingkungan dan au itu. Ikatan antara ikan ini dengan danaunya sangat erat bahkan sampai belum bis a dibudi dayakan di kolam buatan. Suatu kali pernah ada serombongan peneliti dari Amerika Serikat yang terpikat akan kelezatannya dan mencoba membudidayak an ikan tersebut menggunakan kolam buatan. Kondisi lingkungan kolam tersebut dibuat semirip mungkin dengan Danau Singkarak. Tetapi hasilnya nol besar. Untuk itulah Badan Riset Kelautan dan Perikanan Jakarta membawa ikan b ilih ini untuk dibudidayakan di Danau Toba (Sumatera Selatan) seja k enam tahun lalu. Habitat baru ini ternyata cocok bagi ikan bilih untuk berke mbang biak dengan baik. Bahkan ukurannya menjadi lebih besar dari pada yang hidup di Danau Singkarak, orang Sumatera Selatan lebih mengenalnya dengan seb utan ikan pora-pora. Dan ikan bilih Danau Toba inilah yang saat ini menjadi komoditi perdagangan. Bukan hanya di ekspor ke luar negeri, atau dijual di Jaka rta, bahkan yang dijajakan di pinggiran Danau Singkarak sekarang ini tak lain dan tak bukan adalah ikan bilih budidaya Danau Toba (Tiara, 2009). Menurut Kartamihardja dan Kunto purnomo, (2006), ik an pora pora ( Mystacoleucus padangensis ) yang diintroduksikan ke Danau Toba dapat tunbuh lebih cepat dan berkembangbiak serta mempunyai feku nditas yang lebih tinggi dari ikan bilih ( Mystacoleucus padangensis ) yang ada di Danau Singkarak. Makanan utama ikan pora pora di Danau Toba hampir s ama dengan makanan ikan bilih di Danau Singkarak, yaitu detritus dan fitopl ankton sebagai makanan utamanya. 4 Sehubungan dengan pentingnya peranan dari ikan pora pora ( Mystacoleucus padangensis ) bagi ekoistem di sekitar perairan Danau Toba khususnya di Kecamatan Silahi Sabungan Kabupaten Da iri Danau Toba, yang telah diuraikan diatas maka penulis ingin melakukan penelitan dengan judul Studi Kelimpahan Ikan Pora Pora ( Mystacoleucus padangensis ) di Kecamatan Silahi Sabungan Kabupaten Dairi Danau Toba. 1.2. Batasan Masalah Dalam penelitian ini ruang lingkup permasalahan di batasi pada pengamatan ikan pora pora yang dilihat dari kelimpa hannya pada perairan Danau Toba di kecamatan Silahi Sabungan Kabupaten Dairi D anau Toba dengan beberapa sifat fisika-kimia yang berpengaruh terhad ap ekologi ikan pora pora ( Mystacoleucus padangensis ). Faktor-faktor yang terkait dalam analisis tidak mempertimbangkan cuaca, angin, curah hujan, dan kon disi alamiah lainnya karena dianggap konstan.

Ultimo aggiornamento 2015-02-20
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

gogle translit

gogle translitSETELAH DI BRAS

Ultimo aggiornamento 2015-02-10
Argomento: Generale
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:
Riferimento: Anonimo

Aggiungi una traduzione