MyMemory, a maior memória de tradução do mundo
Click to expand

Par de idiomas: Click to swap content  Assunto   
Pergunte ao Google

Você procurou por: ciri ciri rusa    [ Desativar cores ]

Contribuições humanas

A partir de tradutores profissionais, empresas, páginas da web e repositórios de traduções disponíveis gratuitamente

Adicionar uma tradução

Indonésio

Inglês

Informações

Rusa

Deer

Última atualização: 2014-06-14
Frequência de uso: 6
Qualidade:
Referência: Wikipedia

Ciri Ciri Idung

traits artist claudia cintia bella

Última atualização: 2014-09-29
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo

ciri-ciri semut

ant traits

Última atualização: 2014-10-13
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo

CIRI CIRI Buaya

Crocodylidae

Última atualização: 2014-09-16
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Wikipedia

Buah dadamu laksana dua anak rusa, kijang kembar dua
Song of Solomon 7.3

Thy two breasts are like two young roes that are twins.
Song of Solomon 7.3

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

rusa, domba hutan, kambing hutan, kijan
Deuteronomy 14.5

The hart, and the roebuck, and the fallow deer, and the wild goat, and the pygarg, and the wild ox, and the chamois.
Deuteronomy 14.5

Última atualização: 2013-11-25
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Ia menguatkan kakiku seperti kaki rusa, dan menjaga keselamatanku di pegunungan
Psalms 18.33

He maketh my feet like hinds' feet, and setteth me upon my high places.
Psalms 18.33

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Rumput tidak ada lagi, sebab itu induk rusa pergi. Anaknya yang baru lahir ditinggalkannya di padang belantara
Jeremiah 14.5

Yea, the hind also calved in the field, and forsook it, because there was no grass.
Jeremiah 14.5

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Tahukah engkau kapan kambing gunung dilahirkan induknya? Pernahkah kauamati rusa liar melahirkan anaknya
Job 39.1

Knowest thou the time when the wild goats of the rock bring forth? or canst thou mark when the hinds do calve?
Job 39.1

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Rusa is a food is good for your healty! trust me, it works! :D

Free SMS to IndonesiaDeer

Última atualização: 2013-09-13
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Wikipedia

Buah dadamu laksana dua anak rusa, anak kembar kijang yang tengah merumput di antara bunga-bunga bakung
Song of Solomon 4.5

Thy two breasts are like two young roes that are twins, which feed among the lilies.
Song of Solomon 4.5

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Engkau memberi aku kekuatan seperti kaki rusa, kakiku Kaukokohkan. Engkau membimbing aku supaya aman waktu berjalan di pegunungan
Habakkuk 3.19

The LORD God is my strength, and he will make my feet like hinds' feet, and he will make me to walk upon mine high places. To the chief singer on my stringed instruments.
Habakkuk 3.19

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Kejayaan kota Yerusalem hanyalah kisah masa silam. Para pemimpinnya telah menjadi lemah seperti rusa yang sangat lapar. Mereka tak berdaya terhadap musuh yang mengejar
Lamentations 1.6

And from the daughter of Zion all her beauty is departed: her princes are become like harts that find no pasture, and they are gone without strength before the pursuer.
Lamentations 1.6

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Setiap orang, baik yang bersih maupun yang najis, boleh memakannya di rumah, seperti makan daging rusa atau daging kijang
Deuteronomy 15.22

Thou shalt eat it within thy gates: the unclean and the clean person shall eat it alike, as the roebuck, and as the hart.
Deuteronomy 15.22

Última atualização: 2012-05-06
Assunto: Religião
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: MyMemoryLoader

Sebuah perkawinan yang pada akhirnya diharapkan oleh semua orang adalah menciptakan mahligai rumah tangga yang bahagia dan sejahtera serta terbangun rumah tangga mawaddah wa rahmah. Untuk mencapai maksud tersebut tentu banyak usaha yang dipersipkan dan dilakukan oleh orang tua ketika harus menikahkan putra putrinya dalam suatu proses, yaitu proses yang dibenarkan oleh adat danbudaya. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat Madura. Upacara adat yang kerap menjadi tuntutan dan tuntunan sejak kelahiran anak, perkawinan sampai kematianpun dilakukan dengan proses panjang. Hal ini tentu banyak sisi yang dijalani sebagai tolok ukur sejauh mana penghargaan diri manusia terhadap dirinya, lingkungan sosial, dan terutama terhadap Sang Pencitanya. Upacara Pelet Kandhung. Secara harfiah Pelet Kandhung atau Peret Kandung atau Pelet Betteng atau Salameddhan Kandhungan punya arti pijat kandungan. Secara tradisional masyarakat Madura cenderung tahap demi tahap melakukan pijak kandungan sebagai bentuk pencegahanh dan penghindaran agar bayi yang dikandunfnya tidak mengalami masalah sehingga ketika bayi dilahirkan berjalan lancar dan aman. Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Dan tentu berbicara tentang budaya dan upacara adat Madura, akan terbagai beberapa perwilayahan yang berbeda, yang masing-masing daerah memikili ciri tersendiri dalam melakukan upacara adat. Wilayah Madura timur akan berbada dengan Madura wilayah tengah dan barat. Bahkan dalam satu wilayahpun kerap berbeda antara satu kecamatan/desa/kampung dengan lainnya. Meski demikian, nama dan pemaknaan dari peristiwa budaya itu mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Demikian pula yang terjadi pada upacara adat Pelet Kandhung, atau upacara adat lainnya. Dalam tulisan ini akan kami ambil secara umum yaitu mengurai upacara Pelet Kandung yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Madura. Upacara Pelet Kandhung ini dilakukan hanya pada saat hamil pertama, kalaupun terjadi kehamilan berikutnya, biasa tidak dilaksanakan semeriah pada pada kehamilan pertama, namun tetap dilaknakan dengan sangat sederhana, yaitu yang umumnya berupa.salameddhan (arasol) (selamatan) atau cuma arebbha (hantaran nasi kepada kiyai, atau kerabat terdekat). Upacara ini dilakukan pada saat kandungan berusia tujuh bulan. Pada masa itu merupakan masa pembentukan janin yang wajib dirawat dan diruwat. Upacara adat ini biasanya dilakukan dari pihak keluarga perempuan atau orang tua dari anak yang hamil. Dan ada pula dilaksanakan oleh pihak mertua, orang tua suami. Hal ini tergantung kesepakatan, dan umumnya untuk wilayah Madura timur, pihak keluarga laki-laki meminta agar dilaksanakan di rumah si suami mengingat berbagai pertimbangan. Telah menjadi kesepakatan adat, setelah pelaknaan pernikahan, sang anak laki-laki (suami) langsung hijrah ke rumah sang istri sebagai tempat tinggalnya. Dalam kondisi ini orang tua si perempuan secara tradisional rumah-rumah yang nantinya menjadi bagian/warisan yang kemudian dikenal dengan Taneyan Lanjheng. Jauh sebelum upacara Pelet Kandhung dilaksanakan, pada bulan pertama kandhungan telah dikalakukan upacara nandai, yaitu memberi tanda bahkan sang anak telah mengandung. Nandai ini ditaruh sebiji bigilan atau manjilen (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh bigilan atau manjilen yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan. Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: • tahap pelet kandhung (pijat perut) • tahap penyepakan ayam • tahap penginjakan kelapa muda dan telur • tahap pemandian • tahap orasol (kenduri). Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dan apa pula dilaksanakan sekitar jam 2 siang, atau bha’da dhuhur . Hal ini bergantung situasi dan kondisi wilayah yang bersangkutan. Mengambil pada saat bulan purnama, lantaran pada saat itu memungkinkan suasana kampung akan jadi terang, selian sebagai simbul kecerahan. Dilaksanakan pada siang atau menjelang sore, karena diharapkan memberikan kesempatan kepada para terundang bisa hadir setelah turun dari ladang. Yang hadir dan menyaksikan upacara adat ini hanya terdiri kaum perempuan atau para ibu. Sedang tata laksana upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin. Sedang Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pelet betteng atau pelet kandhung adalah: • kain putih sepanjang 1½ meter yang nantinya akan digunakan sebagai penutup badan perempuan yang akan diupacarai pada saat dimandikan • air satu penay (belanga) • berbagai jenis bunga (biasanya 40 jenis bunga) untuk campuran air mandi. Air dalam penay dan berbagai jenis bunga (komkoman) mengandung makna kesucian dan keharuman • gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya • sebutir telur ayam yang masih mentah dan sebutir lagi yang sudah direbus • satu leper ketan kuning yang sudah masak • seekor ayam muda • minyak kelapa • kemenyan Arab • setanggi • uang logam • sepasang cengker kelapa gading yang digambari Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa; serta • berbagai macam hidangan untuk arasol (kenduri) yang berupa: kuwe procut, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut, jubada (juadah), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen). Prosesi Upacara Adat Pelet Kandhung Dalam proses ini dukon baji’ (dukun bayi) berperan penting, yang nantinya akan memimpin proses upacara adat. Dalam kegiatan yang lain, selain dukun bayi, dihadirkan pula seorang kiyai atau bindhara yang nantinya akan memimpin pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa. Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Sementara mereka membaca ayat-ayat Al Quran, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan. Saat si perempuan hamil sedang dipelet, para kerabatnya yang perempuan, mulai dari embha/ nyae (nenek), mattowa bine (mertua perempuan dari suami istri), majedhi’ bine’ (adik perempuan ayah dan ibunya), epar bine’ (saudara ipar perempuan), secara bergantian mendatangi dan mengusap perutnya. Sambil mengusap perut, mereka memanjatkan doa dan harapan agar si perempuan beserta bayi yang dikandungnya selalu dalam lindungan Tuhan. Usai dipelet, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh sang dukon baji’ ke tempat seekor ayam yang sebelumnya telah diikat pada salah satu kaki tempat tidur. Saat berada di dekat ayam, si perempuan hamil diharuskan untuk menyepak hingga sang ayam kesakitan dan berbunyi “keok”. Selanjutnya ayam yang masih terikat itu dilepaskan dan dikurung di belakang rumah. Apabila upacara telah selesai, ayam itu akan diserahkan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih. Selesai menyepak ayam, perempuan hamil itu kemudian diselimuti dengan kain putih dan diminta untuk menginjak sebutir kelapa muda dengan kaki kanan. Selanjutnya, ia diminta lagi untuk menginjak telur mentah dengan kaki kiri. Apabila telur berhasil dipecahkan, maka bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki. Namun, apabila telur tidak berhasil dipecahkan, sang dukun akan mengambil dan menggelindingkannya dari perut perempuan hamil itu. Saat telur pecah, orang-orang yang hadir di ruangan itu seretak berucap “jebbhing, jebbhing”, yang mengandung makna bahwa kelak bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin perempuan atau “kacong, kacong”, menandakan jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Selanjutnya, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh dukun baji ke belakang rumah untuk menjalani prosesi pemandian. Ia kemudian didudukkan di sebuah kursi kayu yang rendah dan di dekatnya disediakan air komkoman pada sebuah periuk tanah. Setelah itu, sang dukun baji sambil memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan ranting beringin, memasukkan uang logam ke dalam komkoman dan mulai memandikan perempuan hamil itu. Sesudah dukun selesai mengguyur, maka satu-persatu perempuan kaum kerabatnya mulai bergiliran mengguyur hingga air di dalam komkoman habis. Selesai dimandikan, ia dibawa masuk lagi ke kamarnya untuk dirias dan dipakaikan busana yang paling bagus. Kemudian, ia dibawa menuju ke ruang tamu untuk diperlihatkan kepada para hadirin. Saat itu, para hadirin akan mengucapkan kata-kata “radin, radin”, yang artinya “cantik”. Ucapan itu dimaksudkan sebagai persetujuan hadirin bahwa pakaian yang dikenakannya sudah serasi dan sesuai. Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah kelapa gading yang masih cengker (muda) yang telah digambari pewayangan biasanya tokoh Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir, Kyae lalu menyerakan kedua cengker tersebut kepada mattowa bine’ untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu. Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari. Selanjutnya, perempuan hamil itu dibawa masuk lagi ke dalam kamarnya dan diberi minum jamu dek cacing towa yang ditempatkan dalam sebuah cengkelongan (tempurung gading). Setelah jamu dek cacing towa diminum, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke taneyan (halaman rumah). Apabila cengkelongan jatuhnya tertelentang, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, apabila tertelungkup, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin perempuan. Setelah itu, si perempuan hamil disuapi dengan sedikit nasi ponar (nasi kuning), ketan yang diberi warna kuning dan telur rebus. Makanan itu tidak dimakan sampai habis. Dengan berakhirnya tahap pemberian nasi ponar ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pelet kandhung. Sebagai catatan, sejak saat diadakan upacara nandai, pelet kandhung, hingga melahirkan, perempuan yang sedang hamil itu harus mematuhi berbagai macam pantangan, baik pantangan memakan makanan tertentu maupun pantangan melakukan perbuatan tertentu. Pantangan yang berupa makanan diantaranya adalah: pantang memakan juko’ lake’ (sejenis binatang yang bersengat), kepiting,janggireng, seyongan, ennos (sejenis cumi-cumi), daging kambing, ce cek (kerupuk rambak), petis, nenas muda, durian, mangga kweni lembayung, dan plotan lembur. Apabila pantangan ini dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: keguguran, bayi yang dikandung terkena sabhan (sawan), proses melahirkan tidak lancar, dan banyak darah yang keluar pada saat melahirkan. Sedangkan pantangan yang berupa tindakan atau perbuatan diantaranya adalah: tidak boleh kerja berat berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik-turun tangga, menyiksa binatang, tidur melingkar, duduk di ambang pintu, etampa (makan sambil menyangga piring), asanrasan (bergunjing, mencela, menyumpah, dan bertengkar dengan orang lain), dan bersenggama pada hari-hari tertentu (Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu). Apabila pantangan-pantangan ini dilanggar, sebagian masyarakat Madura percaya bahwa kandungan yang nantinya akan dilahirkan akan mengalami cacat. Nilai yang Terkandung. Dalam pelaksanaan Pelet Kandhung ini merupakan refleksi dari aktifitas budaya yang secara turun temurun berlangsung. Banyak hal yang didapat dari proses upacara adat ini, antara lain memiliki nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian. Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya. Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pelet kandhung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia. Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara arasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Catatan Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa setiap acara upcara adat baik Pelet Kandhung maupun lainnya di Madura, memang terjadi perbedaan dalam pelaksanaan maupun bentuk kegiatannya. Dalam tulisan ini cenderung dilakukan oleh masyarakat Madura wilayah Barat, atau sekitar dari Sampang dan Bangkalan. Untuk wilayah Madura timur, seperti Pamekasan, Sumenep serta wilayah kepulauan akan berbeda pula, meski pada intinya punyai tujuan dan maksud yang sama. Namun disayangkan upacara adat macam ini sekarang mulai sudah tidak lagi dilakukan secara utuh bahkan mengalami perubahan dan pelaksanaannya jauh lebih simpel dan praktis. Dalam kondisi perubahan kondisi masyarakat, Pelet Kandhung jauh dilaksanakan lebih sederhana, bahkan untuk wilayah perkotaan yaitu cukup pemandian anak yang hamil saja, kemudian diteruskan selamatan (arasol). Dalam arasol biasanya dibacakan sholawat Nabi atau dibak kemudian disugihi makanan hidangan dan ditandai dengan minuman poka’ atau minuman rojak yaitu minuman yang terbuat dari buah-buahan dengan rasa manis pedas seperti rujak. (Syaf Anton Wr / Lontar Madura) Tulisan diatas menyalin dari : Pelet Kandung, Upacara Adat Kehamilan Masyarakat Madura http://www.lontarmadura.com/pelet-kandung-upacara-adat-kehamilan-masyarakat-madura/#ixzz3EtkT4gEr

dilarang

Última atualização: 2014-10-11
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo

Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb

Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb TEKS drama asal mula gunung Tangkuban Perahu Last Update:2014-09-25 Subject: all Quality: Excellent Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb TEKS drama asal mula gunung Tangkuban Perahu Last Update:2014-09-25 Subject: all Quality: Excellent Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) D

Última atualização: 2014-09-25
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo
Aviso: contém formatação HTML invisível

Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb

TEKS drama asal mula gunung Tangkuban Perahu

Última atualização: 2014-09-25
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo
Aviso: contém formatação HTML invisível

Buttu Kabobong adalah nama sebuah gunung unik yang terletak di Kabupaten Enrekang. Tepatnya di poros jalan dari arah Rappang, Kabupaten Sidrap. Dikatakan unik karena bentuk gunung ini menyerupai alat reproduksi wanita dan dipastikan hanya satu-satunya di dunia. Selain unik dan penuh daya tarik, gunung ini juga ternyata punya legenda yang secara turun temurun menyisakan berbagai versi, namun pada prinsipnya mengandung makna yang sama, yakni pesan moral dari para leluhur setempat tentang pantangan keras untuk melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Kisah di bawah ini adalah salah satu versi yang dihimpun dari berbagai sumber sebagaimana berikut : Pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Bambapuang terdapat suatu kerajaan tua yang bernama Kerajaan Tindalaun. Sementara di dalam kerajaan itu sendiri terdapat sebuah perkampungan kecil yang juga dinamai Tindalun. Konon pada suatu ketika, datanglah seorang yang disebut To Mellaorilangi’ (orang yang turun dair langit) atau yang dalam istilah lainnya disebut To Manurung di Kampung Tindalun yang terletak di sebelah selatan Gunung Bambapuang tersebut. To Manurung ini juga menurut riwayatnya konon datang dari Tangsa, yaitu sebuah daerah di Kabupaten Tana Toraja. Mulanya, di Tangsa ada seorang ibu muda cantik bernama Masoang yang mempunai lima orang anak. Entah karena apa, kelima anak Masoang itu terbagi-bagi. Yakni dua orang ke Tana Toraja Barat, dua lainnya tinggal di Tangsa, kemudian yang satu orang lagi dianggap menghilang karena kepergiaannya tidak diketahui. Beberapa hari kemudian tak jauh dari sebuah perkampungan, pada suatu malam, masyarakat Tindalun melihat ada seonggok api yang menyala seolah tak ada padamnya. Karena didorong rasa keingitahuan, masyarakat lalu mencoba mendekati sumber nyala api tersebut. Dan ternyata, tak jauh dari situ ada anak laki-laki yang rupawan, ganteng serta kulitnya putih bersih. Bahkan menurut penilaian masyarakat Tindalun ketika itu, selain ganteng , anak itu juga memiliki ciri sebagia anak To Malabbi’. Karenanya, si anak yang tidak diketahui asal usulnya itu lalu diambil dan dibawa ke Kampung Tindalun. Boleh jadi anak inilah yang disebut sebagai To Manurung. Ringkas cerita, ketika si anak lelaki tersebut menginjak dewasa, ia lalu dikawinkan dengan salah seorang putri raja Kerajaan Tindalun yang sangat cantik. Di mana setelah pesta perkawinan yang semarak dan yang dilaksanakn secara adat istiadat setempat itu, masyarakat pun secara spontan lalu membuatkan sebuah istana baru bagi pasangan ini. Karena menganggap perkawinan itu adalah penyatuan dari anak seorang raja dengan To Mellaorilangi’ atau To Manurung. Selanjutnya dari perkawinan itu, lahirlah putra mereka yang diberi nama Kalando Palapana, kemudian dinobatkan sebagai Raja Tindalun. Dia memerintah beberapa perkampuangan di situ. Seperti diketahui, Tindalun ini merupakan wilayah yang ketika itu amat kaya dengan sumber daya alamnya. Setiap musim panen, masyarakat sangat bersuka ria karena hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah. Itu sebabnya kehidupan masyarakat Tindalun rata-rata makmur dan sejahtera. Cuma sayangnya, kondisi inilah yang membuat mereka lantas lupa diri. Suasana hura-hura nyaris tak terlewatkan setiap saat. Bukan hanya itu, konon karena kekayaan yang dimiliki, perangai masyarakatpun banyak yang mulai berubah. Tatanan perilaku yang selama ini sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat leluhur, mulai bergeser. Kehidupan pergaulan bebas pun kabarnya sempat mewarnai hari-hari mereka. Dengan kata lain, perubahan strata ekonomi yang begitu pesat ketika itu, menjadikan masyarakat Tindalun seolah lupa dengan jati dirinya. Lalu bagaimana dengan Raja Kalando Palapana atas kejadian itu?, tentu saja sangat gusar. Raja muda ini kemudian memanggil para tetua adat untuk dimintai pertanggung jawabannya, sekaligus memerintahkan agar segera mengatasinya. Raja sangat kuatir jika perbuatan menyimpang yang dilakukan masyarakatnya itu dibiarkan, maka akan mendapat azab dari Tuhan Sang Pencipta Alam. Memang menurut kisahnya, para tetua adat tersebut telah melaksanakan titah sang raja untuk menghentikan perilaku menyimpang masyarakat itu. Namun jangankan berhenti, malah sebaliknya perbuatan masyarakat itu semakin menjadi-jadi. Hubungan intim di luar nikah seakan menjadi hal yang rutin tanpa bisa dicegah. Larangan berdasarkan agama dan adat istiadat, bagai tak digubris, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sebelah timur ibukota kerajaan. Karena sulit dicegah, maka suatu hari Raja Tindalun mengundang para pejabat kerajaan dan tetua adat untuk melakukan pembahasan secara khusus. Di mana kesimpulan dari hasil pembahasan yang digelar di atas bukti sekitar. Tindalun itu, antara lain menyebutkan akan memberi sanksi dan hukuman seberat-beratnya bagi siapa saja tanpa kecuali yang kedapatan melakukan hubungan suami istri diluar nikah. Namun apa lacur?, lagi-lagi masyarakat tidak peduli. Hubungan bebaspun bukan hanya pada malam hari dilakukan, tapi disiang bolong pun perbuatan itu dilakukan. Ibaratnya, masyarakat seperti sudah kehilangan akhlak dan moralnya. Celakanya lagi, penyakit masyarakat ini bahkan sempat mewabah di kalangan kerabat kerajaan menyusul terlibatnya salah seorang anak raja Tindalun. Kabarnya, pasangan selingkuh anak raja Tindalun dimaksud adalah anak gadis dari salah seorang tetua adat setempat. Yang akhirnya, pada malam kejadian itu, ketika kedua anak manusia ini sedang hanyut dalam kenikmatan hubungan intim di luar nikah, sekonyong-konyong datang bencana yang memporakporandakan wilayah kerajaan Tindalun. Rupanya Tuhan telah menunjukkan murkanya. Mereka yang selama ini tak mau lagi mendengar titah rajanya, dan gemar melakukan hubungan intim di luar nikah, semua dilaknat menjadi bukit-bukit. Di antaranya ada yang menyerupai kelamin wanita. Gunung yang menghadap ke barat dan terletak di sebelah timur Gunung Bambapuang inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Buttu Kabobong. Sedangkan pada sebelah barat Buttu Kabobong, terdapat pula gunung yang menjorok ke seberang menghampiri pusat Buttu Kabobong. Gunung ini bentuknya menyerupai “maaf” alat kelamin laki-laki. Antara kedua gunung ini dibatasi oleh sebuah anak sungai. Demikian sekelumit legenda tentang Buttu Kabobong, yang jika ditelaah, sesungguhnya mempunyai pesan moral agar umat manusia di mana pun, tidak melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Karena hal itu merupakan perbuatan zinah yang sangat dilarang oleh agama. Hukumnya adalah dosa besar.

translation from Indonesian to Toraja

Última atualização: 2014-09-23
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo

Seekor anak rusa bertanya kepada ayahnya: "Ayah lebih besar, lebih kuat, dan lebih lincah daripada seekor anjing, dan ayah memiliki tanduk yang tajam. Tetapi mengapa Ayah selalu lari menghindar saat mendengar gonggongan anjing?" "Anakku," kata sang Rusa, "Sifat amarahku tidak menentu, dan bisa saja saat saya berdekatan dengan anjing yang ribut menggonggong itu, saya akan kehilangan kesabaran dan mungkin saja saya akan melukai anjing tersebut."terjemahhan

right here waiting

Última atualização: 2014-03-12
Assunto: Geral
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: anonymous
Aviso: contém formatação HTML invisível

Harimau adalah hewan yang tergolong dalam filum kordata (mempunyai saraf tulang belakang), sub-filum vertebrata (bertulang belakang), kelas mamalia (berdarah panas, berbulu dengan kelenjar susu), pemakan daging (karnivora), keluarga felidae (kucing), genus panthera, dan tergolong dalam spesies tigris. Harimau adalah jenis kucing terbesar dari spesiesnya, lebih besar dari sang raja hutan singa. Harimau juga adalah kucing tercepat kedua dalam hal berlari, setelah cheetah. Dalam keseluruhan karnivora, harimau adalah kucing karnivora terbesar dan karnivora terbesar ketiga keseluruhan, hanya setelah beruang kutub dan beruang coklat. Harimau biasanya memburu mangsa yang agak besar seperti rusa sambar, kijang, babi, kancil, tetapi akan memburu hewan kecil seperti landak apabila mangsa yang agak besar itu tidak ada. Meskipun berasal dari keluarga yang sama, harimau berbeda dengan kucing biasa yang kecil, harimau sangat suka berenang, dan pada dasarnya kucing takut dengan air.

Jaguar

Última atualização: 2013-09-17
Frequência de uso: 1
Qualidade:
Referência: Anônimo

Adicionar uma tradução