MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: gambar memek jembut tebal    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

English

Info

Bahan Tempe Goreng Kremes •300 gr Tempe •2 sdm Tepung Tapioka •100 gr Tepung Beras •175 ml Air/Santan •Minyak untuk menggireng Bumbu yang di Haluskan •1 sdm bawang putih iris •1 sdt Ketumbar •1 1/2 sdt Garam Cara Membuat Tempe Goreng Kremes 1.Iris tempe dengan ketebalan yang sama. 2.Campur bumbu halus, tepung beras, tepung tapioka, dan air atau santan, aduk hingga rata. 3.panaskan minyak di dalam wajan. Goreng tempe hingga kering dan kecoklatan, angkat dan tiriskan. 4.Panaskan kembali minyak yang baru. Goreng sisa adonan tepung bumbu dalam minyak panas dengan cara menuang adonan menggunkan saringan yang berlubang agak besar agar gorengan berbentuk serpihan-serpihan tepung. 5.hidangkan tempe goreng di taburi dengan kremes.

google english translation indonesi

Last Update: 2014-10-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Menggambar

Drawing

Last Update: 2014-10-14
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Sebuah perkawinan yang pada akhirnya diharapkan oleh semua orang adalah menciptakan mahligai rumah tangga yang bahagia dan sejahtera serta terbangun rumah tangga mawaddah wa rahmah. Untuk mencapai maksud tersebut tentu banyak usaha yang dipersipkan dan dilakukan oleh orang tua ketika harus menikahkan putra putrinya dalam suatu proses, yaitu proses yang dibenarkan oleh adat danbudaya. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat Madura. Upacara adat yang kerap menjadi tuntutan dan tuntunan sejak kelahiran anak, perkawinan sampai kematianpun dilakukan dengan proses panjang. Hal ini tentu banyak sisi yang dijalani sebagai tolok ukur sejauh mana penghargaan diri manusia terhadap dirinya, lingkungan sosial, dan terutama terhadap Sang Pencitanya. Upacara Pelet Kandhung. Secara harfiah Pelet Kandhung atau Peret Kandung atau Pelet Betteng atau Salameddhan Kandhungan punya arti pijat kandungan. Secara tradisional masyarakat Madura cenderung tahap demi tahap melakukan pijak kandungan sebagai bentuk pencegahanh dan penghindaran agar bayi yang dikandunfnya tidak mengalami masalah sehingga ketika bayi dilahirkan berjalan lancar dan aman. Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Dan tentu berbicara tentang budaya dan upacara adat Madura, akan terbagai beberapa perwilayahan yang berbeda, yang masing-masing daerah memikili ciri tersendiri dalam melakukan upacara adat. Wilayah Madura timur akan berbada dengan Madura wilayah tengah dan barat. Bahkan dalam satu wilayahpun kerap berbeda antara satu kecamatan/desa/kampung dengan lainnya. Meski demikian, nama dan pemaknaan dari peristiwa budaya itu mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Demikian pula yang terjadi pada upacara adat Pelet Kandhung, atau upacara adat lainnya. Dalam tulisan ini akan kami ambil secara umum yaitu mengurai upacara Pelet Kandung yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Madura. Upacara Pelet Kandhung ini dilakukan hanya pada saat hamil pertama, kalaupun terjadi kehamilan berikutnya, biasa tidak dilaksanakan semeriah pada pada kehamilan pertama, namun tetap dilaknakan dengan sangat sederhana, yaitu yang umumnya berupa.salameddhan (arasol) (selamatan) atau cuma arebbha (hantaran nasi kepada kiyai, atau kerabat terdekat). Upacara ini dilakukan pada saat kandungan berusia tujuh bulan. Pada masa itu merupakan masa pembentukan janin yang wajib dirawat dan diruwat. Upacara adat ini biasanya dilakukan dari pihak keluarga perempuan atau orang tua dari anak yang hamil. Dan ada pula dilaksanakan oleh pihak mertua, orang tua suami. Hal ini tergantung kesepakatan, dan umumnya untuk wilayah Madura timur, pihak keluarga laki-laki meminta agar dilaksanakan di rumah si suami mengingat berbagai pertimbangan. Telah menjadi kesepakatan adat, setelah pelaknaan pernikahan, sang anak laki-laki (suami) langsung hijrah ke rumah sang istri sebagai tempat tinggalnya. Dalam kondisi ini orang tua si perempuan secara tradisional rumah-rumah yang nantinya menjadi bagian/warisan yang kemudian dikenal dengan Taneyan Lanjheng. Jauh sebelum upacara Pelet Kandhung dilaksanakan, pada bulan pertama kandhungan telah dikalakukan upacara nandai, yaitu memberi tanda bahkan sang anak telah mengandung. Nandai ini ditaruh sebiji bigilan atau manjilen (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh bigilan atau manjilen yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan. Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: • tahap pelet kandhung (pijat perut) • tahap penyepakan ayam • tahap penginjakan kelapa muda dan telur • tahap pemandian • tahap orasol (kenduri). Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dan apa pula dilaksanakan sekitar jam 2 siang, atau bha’da dhuhur . Hal ini bergantung situasi dan kondisi wilayah yang bersangkutan. Mengambil pada saat bulan purnama, lantaran pada saat itu memungkinkan suasana kampung akan jadi terang, selian sebagai simbul kecerahan. Dilaksanakan pada siang atau menjelang sore, karena diharapkan memberikan kesempatan kepada para terundang bisa hadir setelah turun dari ladang. Yang hadir dan menyaksikan upacara adat ini hanya terdiri kaum perempuan atau para ibu. Sedang tata laksana upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin. Sedang Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pelet betteng atau pelet kandhung adalah: • kain putih sepanjang 1½ meter yang nantinya akan digunakan sebagai penutup badan perempuan yang akan diupacarai pada saat dimandikan • air satu penay (belanga) • berbagai jenis bunga (biasanya 40 jenis bunga) untuk campuran air mandi. Air dalam penay dan berbagai jenis bunga (komkoman) mengandung makna kesucian dan keharuman • gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya • sebutir telur ayam yang masih mentah dan sebutir lagi yang sudah direbus • satu leper ketan kuning yang sudah masak • seekor ayam muda • minyak kelapa • kemenyan Arab • setanggi • uang logam • sepasang cengker kelapa gading yang digambari Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa; serta • berbagai macam hidangan untuk arasol (kenduri) yang berupa: kuwe procut, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut, jubada (juadah), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen). Prosesi Upacara Adat Pelet Kandhung Dalam proses ini dukon baji’ (dukun bayi) berperan penting, yang nantinya akan memimpin proses upacara adat. Dalam kegiatan yang lain, selain dukun bayi, dihadirkan pula seorang kiyai atau bindhara yang nantinya akan memimpin pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa. Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Sementara mereka membaca ayat-ayat Al Quran, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan. Saat si perempuan hamil sedang dipelet, para kerabatnya yang perempuan, mulai dari embha/ nyae (nenek), mattowa bine (mertua perempuan dari suami istri), majedhi’ bine’ (adik perempuan ayah dan ibunya), epar bine’ (saudara ipar perempuan), secara bergantian mendatangi dan mengusap perutnya. Sambil mengusap perut, mereka memanjatkan doa dan harapan agar si perempuan beserta bayi yang dikandungnya selalu dalam lindungan Tuhan. Usai dipelet, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh sang dukon baji’ ke tempat seekor ayam yang sebelumnya telah diikat pada salah satu kaki tempat tidur. Saat berada di dekat ayam, si perempuan hamil diharuskan untuk menyepak hingga sang ayam kesakitan dan berbunyi “keok”. Selanjutnya ayam yang masih terikat itu dilepaskan dan dikurung di belakang rumah. Apabila upacara telah selesai, ayam itu akan diserahkan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih. Selesai menyepak ayam, perempuan hamil itu kemudian diselimuti dengan kain putih dan diminta untuk menginjak sebutir kelapa muda dengan kaki kanan. Selanjutnya, ia diminta lagi untuk menginjak telur mentah dengan kaki kiri. Apabila telur berhasil dipecahkan, maka bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki. Namun, apabila telur tidak berhasil dipecahkan, sang dukun akan mengambil dan menggelindingkannya dari perut perempuan hamil itu. Saat telur pecah, orang-orang yang hadir di ruangan itu seretak berucap “jebbhing, jebbhing”, yang mengandung makna bahwa kelak bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin perempuan atau “kacong, kacong”, menandakan jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Selanjutnya, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh dukun baji ke belakang rumah untuk menjalani prosesi pemandian. Ia kemudian didudukkan di sebuah kursi kayu yang rendah dan di dekatnya disediakan air komkoman pada sebuah periuk tanah. Setelah itu, sang dukun baji sambil memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan ranting beringin, memasukkan uang logam ke dalam komkoman dan mulai memandikan perempuan hamil itu. Sesudah dukun selesai mengguyur, maka satu-persatu perempuan kaum kerabatnya mulai bergiliran mengguyur hingga air di dalam komkoman habis. Selesai dimandikan, ia dibawa masuk lagi ke kamarnya untuk dirias dan dipakaikan busana yang paling bagus. Kemudian, ia dibawa menuju ke ruang tamu untuk diperlihatkan kepada para hadirin. Saat itu, para hadirin akan mengucapkan kata-kata “radin, radin”, yang artinya “cantik”. Ucapan itu dimaksudkan sebagai persetujuan hadirin bahwa pakaian yang dikenakannya sudah serasi dan sesuai. Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah kelapa gading yang masih cengker (muda) yang telah digambari pewayangan biasanya tokoh Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir, Kyae lalu menyerakan kedua cengker tersebut kepada mattowa bine’ untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu. Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari. Selanjutnya, perempuan hamil itu dibawa masuk lagi ke dalam kamarnya dan diberi minum jamu dek cacing towa yang ditempatkan dalam sebuah cengkelongan (tempurung gading). Setelah jamu dek cacing towa diminum, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke taneyan (halaman rumah). Apabila cengkelongan jatuhnya tertelentang, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, apabila tertelungkup, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin perempuan. Setelah itu, si perempuan hamil disuapi dengan sedikit nasi ponar (nasi kuning), ketan yang diberi warna kuning dan telur rebus. Makanan itu tidak dimakan sampai habis. Dengan berakhirnya tahap pemberian nasi ponar ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pelet kandhung. Sebagai catatan, sejak saat diadakan upacara nandai, pelet kandhung, hingga melahirkan, perempuan yang sedang hamil itu harus mematuhi berbagai macam pantangan, baik pantangan memakan makanan tertentu maupun pantangan melakukan perbuatan tertentu. Pantangan yang berupa makanan diantaranya adalah: pantang memakan juko’ lake’ (sejenis binatang yang bersengat), kepiting,janggireng, seyongan, ennos (sejenis cumi-cumi), daging kambing, ce cek (kerupuk rambak), petis, nenas muda, durian, mangga kweni lembayung, dan plotan lembur. Apabila pantangan ini dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: keguguran, bayi yang dikandung terkena sabhan (sawan), proses melahirkan tidak lancar, dan banyak darah yang keluar pada saat melahirkan. Sedangkan pantangan yang berupa tindakan atau perbuatan diantaranya adalah: tidak boleh kerja berat berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik-turun tangga, menyiksa binatang, tidur melingkar, duduk di ambang pintu, etampa (makan sambil menyangga piring), asanrasan (bergunjing, mencela, menyumpah, dan bertengkar dengan orang lain), dan bersenggama pada hari-hari tertentu (Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu). Apabila pantangan-pantangan ini dilanggar, sebagian masyarakat Madura percaya bahwa kandungan yang nantinya akan dilahirkan akan mengalami cacat. Nilai yang Terkandung. Dalam pelaksanaan Pelet Kandhung ini merupakan refleksi dari aktifitas budaya yang secara turun temurun berlangsung. Banyak hal yang didapat dari proses upacara adat ini, antara lain memiliki nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian. Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya. Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pelet kandhung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia. Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara arasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Catatan Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa setiap acara upcara adat baik Pelet Kandhung maupun lainnya di Madura, memang terjadi perbedaan dalam pelaksanaan maupun bentuk kegiatannya. Dalam tulisan ini cenderung dilakukan oleh masyarakat Madura wilayah Barat, atau sekitar dari Sampang dan Bangkalan. Untuk wilayah Madura timur, seperti Pamekasan, Sumenep serta wilayah kepulauan akan berbeda pula, meski pada intinya punyai tujuan dan maksud yang sama. Namun disayangkan upacara adat macam ini sekarang mulai sudah tidak lagi dilakukan secara utuh bahkan mengalami perubahan dan pelaksanaannya jauh lebih simpel dan praktis. Dalam kondisi perubahan kondisi masyarakat, Pelet Kandhung jauh dilaksanakan lebih sederhana, bahkan untuk wilayah perkotaan yaitu cukup pemandian anak yang hamil saja, kemudian diteruskan selamatan (arasol). Dalam arasol biasanya dibacakan sholawat Nabi atau dibak kemudian disugihi makanan hidangan dan ditandai dengan minuman poka’ atau minuman rojak yaitu minuman yang terbuat dari buah-buahan dengan rasa manis pedas seperti rujak. (Syaf Anton Wr / Lontar Madura) Tulisan diatas menyalin dari : Pelet Kandung, Upacara Adat Kehamilan Masyarakat Madura http://www.lontarmadura.com/pelet-kandung-upacara-adat-kehamilan-masyarakat-madura/#ixzz3EtkT4gEr

dilarang

Last Update: 2014-10-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Hujan es melanda sejumlah kawasan di Surabaya dan Sidoarjo, Kamis (20/2/2014) sekitar pukul 17.00 WIB. Informasi yang dihimpun Kompas.com, hujan es sepanjang 4 sentimeter itu turun di Sidoarjo dan Surabaya selatan. Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Teguh Tri Susanto, dikonfirmasi membenarkan turunnya hujan es tersebut. Berdasarkan pantauan radarnya, intensitas hujan di Surabaya dan sekitarnya memang sangat lebat. "Tapi hujan es ini tidak merata, di kawasan tertentu saja," katanya. Saat ini, kata Teguh, adalah waktu puncak musim penghujan. Baru pada Maret-April nanti, intensitas hujan akan berkurang. "Warga diminta tidak panik karena hujan es hanya bersifat sementara," tambahnya. Secara teoritis, hujan es ini diawali dengan terbentuknya awan cumulus nimbus. Ini merupakan awan tebal yang terbentuk menjelang hujan. Dalam awan ini biasanya terbentuk turbulen yang menimbulkan embusan udara dari atas ke bawah. Awan cumulus nimbus ini bisa menjulang hingga ketinggian 12 km. Pada ketinggian tersebut, suhu di puncak awan mencapai -40 derajat celsius hingga -60 derajat. Saat terjadi embusan udara, maka turunlah kristal-kristal es. Jika ketinggian awan ini hanya 5 km, maka suhunya mencapai 0 derajat celsius

xxl translate

Last Update: 2014-10-03
Subject: Accounting
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Bullying Bullying adalah pengalaman yang biasa dialami oleh banyak anak-anak dan remaja di sekolah. Perilakubullying dapat berupa ancaman fisik atau verbal. Bullying terdiri dari perilaku langsung seperti mengejek, mengancam, mencela, memukul, dan merampas yang dilakukan oleh satu atau lebih siswa kepada korban atau anak yang lain. Selain itu bullying juga dapat berupa perilaku tidak langsung, misalnya dengan mengisolasi atau dengan sengaja menjauhkan seseorang yang dianggap berbeda. Baik bullying langsung maupun tidak langsung pada dasarnya bullying adalah bentuk intimidasi fisik ataupun psikologis yang terjadi berkali-kali dan secara terus-menerus membentuk pola kekerasan. Bentuk-bentuk bullying, antara lain; 1. Bullying secara fisik: menarik rambut, meninju, memukul, mendorong, menusuk. 2. Bullying secara emosional: menolak, meneror, mengisolasi atau menjauhkan, menekan, memeras, memfitnah, menghina, dan adanya diskriminasi berdasarkan ras, ketidakmampuan, dan etnik. 3. Bullying secara verbal: memberikan nama panggilan, mengejek, dan menggosip. 4. Bullying secara seksual: ekshibisionisme, berbuat cabul, dan adanya pelecehan seksual. Mengapa Beberapa Anak dan Remaja bisa Menjadi Pelaku Bullying? Bully atau pelaku bullying adalah seseorang yang secara langsung melakukan agresi baik fisik, verbal atau psikologis kepada orang lain dengan tujuan untuk menunjukkan kekuatan atau mendemonstrasikan pada orang lain. Kebanyakan perilaku bullying berkembang dari berbagai faktor lingkungan yang kompleks. Tidak ada faktor tunggal menjadi penyebab munculnya bullying. Faktor-faktor penyebabnya antara lain: Faktor keluarga: Anak yang melihat orang tuanya atau saudaranya melakukan bullying sering akan mengembangkan perilaku bullying juga. Ketika anak menerima pesan negatif berupa hukuman fisik di rumah, mereka akan mengembangkan konsep diri dan harapan diri yang negatif, yang kemudian dengan pengalaman tersebut mereka cenderung akan lebih dulu meyerang orang lain sebelum mereka diserang.Bullying dimaknai oleh anak sebagai sebuah kekuatan untuk melindungi diri dari lingkungan yang mengancam. Faktor sekolah: Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi anak-anak yang lainnya. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan yang negatif pada siswanya misalnya, berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah. Faktor kelompok sebaya: Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman sekitar rumah kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Kadang kala beberapa anak melakukan bullyingpada anak yang lainnya dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut. Bagaimana dengan Mereka Korban Bullying? Korban bullying atau victim adalah seseorang yang berulangkali mendapatkan perlakuan agresi dari kelompok sebaya baik dalam bentuk serangan fisik, atau serangan verbal, atau bahkan kekerasan psikologis. Biasanya mereka yang menjadi korban bullying pada kelompok laki-laki adalah mereka yang lemah secara fisik dibandingkan dengan kelompok sebayanya. Mereka yang menjadi korban bullying, menurut penelitian adalah kebanyakan dari keluarga atau sekolah yang overprotective sehingga si anak/siswa tidak dapat mengembangkan secara maksimal kemampuan untuk memecahkan masalah (coping skill). Siswa sebagai korban bullying sering menunjukkan beberapa gejala misalnya cemas, merasa selalu tidak aman, sangat berhati-hati, dan mereka menunjukkan harga diri yang rendah (low self-estem). Mereka memiliki interaksi sosial yang rendah dengan teman-temannya, kadangkala mereka termasuk anak yang diisolasi oleh teman sebayanya. Apa yang Terjadi di Balik Bullying? Konsekuensi adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dan apa yang bisa terjadi di balik perilaku bullying ini. Pada artikel Ron Banks pada tahun 1997 dipaparkan sebuah penelitian di Scandinavian bahwa ada koleksi yang kuat antara bullying yang dilakukan oleh siswa selama beberapa tahun sekolah dimana mereka kemudian menjadi pelaku kriminal saat dewasa. Ini adalah sebuah penelitan yang memberikan gambaran bagaimana bullying bisa membentuk sebuah kepribadian yang menempatkan seorang anak pada perjalanan dan pengalaman hidup yang kelam. Sedangkan mereka sebagai korban bullying sering mengalami ketakutan untuk sekolah dan menjadi tidak percaya diri, merasa tidak nyaman, dan tidak bahagia. Aksi bullying menyebabkan seseorang menjadi terisolasi dari kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau akhirnya mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban. Apa yang Perlu Dilakukan? Bullying sudah menjadi masalah global yang kemudian tidak bisa kita abaikan lagi. Banyak hal yang harus bisa kita lakukan untuk meyelamatkan perkembangan psikologis anak-anak dan remaja kita. Kekerasan sejak dini bukan merupakan bagian dari perkembangan psikologis mereka, oleh sebab itu banyak elemen harus ikut terlibat, baik orang tua, pihak sekolah, bahkan pemerintah. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain: Orang tua membiasakan diri memberikan feedback positif bagi anak sehingga mereka belajar untuk berperilaku sosial yang baik dan mereka mendapatkan model interaksi yang tepat bukan seperti perilakubullying dan agresi. Kemudian, menggunakan alternatif hukuman bagi anak dengan tidak melibatkan kekerasan fisik maupun psikologis. Selain itu, orang tua mau menjalin relasi dengan sekolah untuk berkonsultasi jika anaknya baik sebagai pelaku bullying ataupun korban. Pihak sekolah menciptakan lingkungan yang positif misalnya dengan adanya praktik pendisiplinan yang tidak menggunakan kekerasan. Selain itu juga, meningkatkan kesadaran pihak sekolah untuk tidak mengabaikan keberadaan bullying. Bullying harus dihentikan!

Translation

Last Update: 2014-09-15
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

PRAKTEK KERJA INDUSTRI merupakan program pendidikan yang sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan khususnya bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) Maka prakerin merupakan keharusan akademis bagi setiap siswa pada tingkat II atau III Dan ikut menentukan standar kualifikasi kelulusan yang bersangkutan pada akhir jenjang pendidikan. Praketin bagi siswa SMK adalah dimaksudkan untuk mendekatkan siswa pada dan tuntutandunia kerja, sekaligus diharapkan mampu memberiakan umpan balik kepada pihak instansi dan sekolahan, sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai standar kualifikasi kelulusan SMK yang dibutuhkan oleh DU/DI dan masukan-masukan yang berarti bagi pengembangan mutu pendidikan kejuruan. Buku petunjuk pelaksanan prakerin ini disusun sebagai pedoman bagi siswa dalam melaksanakan prakerin dan pihak instansi dalam membimbing praktikan dan memberikan evaluasi yang didalamnya mencakup tujuan, petunjuk teknis persiapan dan pelaksaan, pedoman penilaian dan petunjuk penyusunan buku ini adalah sebagai upaya untuk menyempurnakan pelaksanan prakerin, serta menghindari terjadinya kekeliruan penempatan bidang praktek kerja siswa, sehingga diharapkan hasil prakerin tidak akan menyimpang dari kurikulum SMK. Kesesuaian pemilihan tempat praktek dengan program studi yang ditempuh siswa merupakan faktor yang sangat menetukan dalam usaha mendekatkan siswa dalam bidang profesinya, untuk itu kepada pihak instansi diharapkan dapat membantu menempatkan siswa dengan program keahliannya.

google translation Indonesian to English

Last Update: 2014-09-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Salak se’ nase’ Salak se’ nase’ merupakan salah satu salak dari Bangkalan yang enak rasanya. Jenis salak ini merupakan salak terbaik di Bangkalan. Buahnya berbentuk lonjong dengan bagian pangkal yang meruncing. Kulit buahnya bersisik besar dan berwarna kekuningan. Daging buahnya tebal, masir, dan rasanya manis. Bahkan, buah yang belum tua sekali pun sudah terasa manis. Selain manis, aroma salak ini juga harum merangsang selera. Biji buahnya kecil. Ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan salak kerbau, berat rata-rata 67 g per buah. Produktivitasnya tak berbeda jauh dengan salak si manggis, per pohon rata-rata menghasilkan 30 buah. Salak panjalin Salak penjalinan, berasal dari Bangkalan, Madura. Kecil, coklat-kekuningan, dan rasanya manis, renyah, dan masir Salak mangghis Salak ini juga berasal dari "Pulau Garam", tepatnya daerah Bangkalan, Madura. Buahnya berbentuk bulat. Kulit buahnya cokelat tua seperti warna buah manggis. Oleh karena itu, salak ini dinamakan salak si manggis. Kulit buahnya ini bersisik besar dan tersusun rapi seperti genting. Daging buah agak tebal, berwarna putih agak kuning, dan masir. Rasanya manis sedikit asam. Aroma buahnya cukup harum. Dibandingkan salak bangkalan lainnya, ukuran salak ini termasuk besar, berat rata-ratanya 87 g. Produksi rata-rata per pohon sekitar 30 buah atau sekitar 2, 5 kg buah. SALAK KERBAU Deskripsi Di daerah asalnya -Bangkalan, Madura - salak kerbau termasuk salah satu jenis salak yang cukup diminati karena enak rasanya. Disebut salak kerbau karena buahnya besar dan kulitnya cokelat kehitaman. Buahnya bulat lonjong dan tampak gemuk. Daging buahnya agak tebal dan berwarna putih. Rasanya cukup manis, empuk, dan segar karena kadar airnya cukup banyak. Aromanya harum. Berat rata-rata per buah 65-70 g

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-09-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

jalan merupakan sarana transportasi darat, yang memainkan peran penting dalam sektor transportasi, terutama kelangsungan mendistribusikan barang dan jasa. Sebagai salah satu sarana transportasi yang sangat penting. Jalan dari Wairbaka-Wolomude yang merupakan jalan akses menghubungkan dua desa yakni Desa Habi dan desa Teka Iku sebagai pusat untuk produk pertanian, maka dibutuhkan perencanaan dengan kualitas dan tingkat layanan yang akan menjadi cara yang baik untuk transportasi. Perencanaan kekasaran lentur ini mengacu pada perencanaan instruksi tebal lentur perkerasan jalan dengan menggunakan metode analisis komponen SKBI 2.3.2.6.1987-UDC: 625.73 (02), dan pedoman untuk penentuan kekasaran tebal Pliable Highway No.: 01/PD/BM/1983. Dari hasil perencanaan kekasaran lentur road Wairbaka-Wolomude, maka fungsi dapat diklasifikasikan sebagai kelas jalan sekunder IIC. Urutan setiap lapisan adalah sebagai berikut lapisan permukaan kekasaran (HRA) 5 cm, dengan lapisan tebal Foundation atas (agregat kelas C, CBR 60%) dengan lapisan tebal 15-sentimeter Foundation, bawah (Sirtu Pitrun kelas B, CBR 50%) dengan 11 cm tebal

jalan merupakan sarana transportasi darat, yang memainkan peran penting dalam sektor transportasi, terutama kelangsungan mendistribusikan barang dan jasa. Sebagai salah satu sarana transportasi yang sangat penting. Jalan dari Wairbaka-Wolomude yang merupakan jalan akses menghubungkan dua desa yakni Desa Habi dan desa Teka Iku sebagai pusat untuk produk pertanian, maka dibutuhkan perencanaan dengan kualitas dan tingkat layanan yang akan menjadi cara yang baik untuk transportasi. Perencanaan kekasaran lentur ini mengacu pada perencanaan instruksi tebal lentur perkerasan jalan dengan menggunakan metode analisis komponen SKBI 2.3.2.6.1987-UDC: 625.73 (02), dan pedoman untuk penentuan kekasaran tebal Pliable Highway No.: 01/PD/BM/1983. Dari hasil perencanaan kekasaran lentur road Wairbaka-Wolomude, maka fungsi dapat diklasifikasikan sebagai kelas jalan sekunder IIC. Urutan setiap lapisan adalah sebagai berikut lapisan permukaan kekasaran (HRA) 5 cm, dengan lapisan tebal Foundation atas (agregat kelas C, CBR 60%) dengan lapisan tebal 15-sentimeter Foundation, bawah (Sirtu Pitrun kelas B, CBR 50%) dengan 11 cm tebal technique

Last Update: 2014-08-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Maret 2014 Gunung Slamet menunjukkan aktifitas dan statusnya menjadi Waspada. Berdasarkan data PVMBG, aktivitas vukanik Gunung Slamet masih fluktuatif. Setelah sempat terjadi gempa letusan hingga 171 kali pada Jumat 14 Maret 2014 dari pukul 00.00-12.00 WIB, pada durasi waktu yang sama, tercatat sebanyak 57 kali gempa letusan. Tercatat pula 51 kali embusan. Pemantauan visual, embusan asap putih tebal masih keluar dari kawah gunung ke arah timur hingga setinggi 1 km

Java

Last Update: 2014-08-16
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation