MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: madura    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

English

Info

kelasku sepuluh mia 8 mendapat adat madura

simple past tense

Last Update: 2014-10-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Konon, topeng dikatakan sebagai bentuk kesenian yang paling tua, karena topeng pada masa lalu dipergunakan oleh penganut animesme dan Hinduisme ketika mengalami sesuatu yang mengkhawatirkan, seperti ; bencana alam ataupun penyakit. Pada masa itu topeng digunakan sebagai media untuk berhubungan dengan alam ghaib, dengan para penguasa alam lain, dengan roh-roh nenek moyang. Pementasan Topeng pada jaman itu dimaksudkan agar mampu berdamai sekaligus mengusir roh-roh jahat yang mengganggu kehidupan mereka. Selain ludruk, topeng merupakan bentuk teater rakyat yang paling populer di dataran pulau Madura. Menurut babad Madura yang ditulis pada abad 19, topeng dalang pertama kali dikembangkan pada abad ke-15 di desa Proppo, kerajaan Jambwaringin, Pamekasan pada masa pemerintahan Prabu Menak Senaya. Menurut cerita bahwa Prabu Menak Senaya inilah, yang pertama kali menumbuhkan topeng di wilayah Madura, karena bukti-bukti keberadaan topeng di daerah Proppo banyak diketemukan. Yang dijadikan model pembuatan topeng (tatopong – bahasa Madura) adalah figur tokoh-tokoh pewayangan. Mengingat hubungan Madura dengan kerajaan Majapahit dan Singosari yang mesra, tak dapat dipungkiri bahwa topeng dalang Madura merupakan kelanjutan dari teater topeng di kedua kerajaan Jawa Timur tersebut. Namun dalam perkembangannya, topeng di Madura menempuh jalan sendiri, lebih-lebih ketika agama Islam mulai masuk ke pulau Madura. Unsur-unsur cerita yang dipentaskan, banyak menyelipkan penjabaran nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai moral, nilai filosofi yang berlandaskan ajaran Islam. bentuk-bentuk penggarapan topeng pun mulai dihubungkan dengan hasil modifikasi topeng yang dirancang pada era para wali, terutama dalam hal kesederhanannya. Pada abad ke-18 topeng dalang yang semula merupakan teater rakyat, kemudian diangkat menjadi kesenian istana. Di dalam lingkungan istana, ragam hias topeng yang sederhana dimodifikasi kembali. Bentuk dan kehalusan ukirannya diperindah, begitu pula dengan seni karawitannya, seni pedalangan sekaligus pemanggungan/pementasan. Sehingga pada masa itu, merupakan masa berkembangnya sastra Madura. Apalagi hubungan antara raja Madura dengan kerajaan Mataram semakin erat, sehingga pengaruh Mataram tak dapat dielakkan lagi. Perkawinan antara seorang keluarga kerajaan Mataram dengan keluarga Madura, yaitu Pangeran Buwono VII (1830-1850) dengan salah satu putri raja Madura (Bangkalan), semakin mengokohkan jalinan kekeluargaan. Karena mertuanya senang dengan topeng dalang, Paku Buwono VII memberikan hadiah seperangkat topeng lengkap dengan busana dan perlengkapannya. Kehadiran topeng hadiah dari Solo ini sedikit banyak berpengaruh pada seni topeng Madura, terutama kehalusan ukiran-ukirannya. Pada abad ke-20, setelah kerajaan-kerajaan mulai hilang dari bumi Madura, topeng dalang kembali menjadi kesenian rakyat dan mencapai puncak kesuburannya sampai tahun 1960. hal itu dapat dilihat dari banyaknya group kesenian, banyaknya dalang dan banyaknya pengrajin topeng di berbagai pelosok. Memasuki dekade 1960-an, topeng dalang mengalami masa surut. Hal ini disebabkan banyaknya tokoh-tokoh topeng yang meninggal dunia, sedangkan tokoh-tokoh muda belum muncul dan menguasai seni topeng dalang. Pada tahun 1970-an topeng dalang kembali bangkit dan itu tidak terlepas dari jasa dalang tua Sabidin (dari Sumenep), yang tetap bertahan dan eksis dalam menggeluti topeng dalang sekaligus mendidik kader-kader muda yang berasal dari beberapa daerah di wilayah Sumenep. Pengkaderan diprioritaskan pada penguasaan materi pedalangan maupun mendidik penari-penari topeng. Kerja keras dalang Sabidin membuahkan hasil, murid-murid hasil didikannya mampu menguasai dan melestarikan kembali seni topeng dalang. Karakteristik Topeng Madura Adapun bentuk topeng yang dikembangkan di Madura, berbeda dengan topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya. Kecuali Semar, hampir semua topeng itu diukir pada bagian atas kepala dengan berbagai ragam hias. Ragam hias yang paling populer ialah hiasan bunga melati. Sedangkan untuk tokoh-tokoh penguasa zalim, digunakan ragam hias badge, yaitu lambang yang dipakai para penguasa kolonial Belanda. Selain itu topeng Madura ada dua jenis, satu berukuran seluas telapak tangan, satu lebih besar. Bentuk topeng ini tidak sepenuhnya bisa menutup wajah penari, terutama dagu, maka gerak dagu dalam setiap pementasan tidak dapat disembunyikan, dan ini memberikan nilai estetik tersendiri. . Adapun penggambaran karakter pada topeng Dalang selain nampak pada bentuk muka juga tampak pada pemilihan warna. Untuk tokoh yang berjiwa bersih dan suka berterus terang digunakan warna putih. Sedangkan warna merah, digunakan untuk tokoh-tokoh tenang dan penuh kasih sayang (tokoh Yudistira), hitam untuk tokoh yang arif bijaksana, bersih dari nafsu duniawi (tokoh wayang Krisna). Untuk penggambaran tokoh anggun dan berwibawa, digunakan warna kuning emas (tokoh wayang Subadra). Sedangkan penggambaran tokoh yang pemarah, licik dan sombong memakai warna kuning. Begitu pula konsep karakter tokoh topeng, setelah menyebar ke berbagai wilayah para dalang memodifikasi sesuai dengan karakter daerah dimana topeng itu tumbuh dan berkembang. Sehingga tidak mengherankan kalau konsep karakter tokoh-tokoh wayang Madura dengan konsep karakter topeng Jawa Tengah agak berbeda. Salah satu contoh adalah, di lingkungan Astina, Suyudana sang Raja, ternyata oleh orang Madura dicitrakan sebagai raja yang lemah lembut, dan topeng nya diberi warna hijau sahdu. Di Jawa Tengah dan Solo, Suyudana adalah raja yang citranya keras dan cenderung kasar. Ciri khas yang paling spesifik dan unik dari topeng dalang Madura adalah dipakainya ghungseng (giring-giring) dipergelangan kaki penari. Pemakaian gungseng (giring-giring) tersebut bukan hanya sekedar hiasan, bunyi giring-giring yang selalu terdengar setiap kaki penari bergerak menjadi alat bantu yang ekspresif sekaligus menjadi media komunikasi para penari, karena para penari sepatah pun tak boleh berdialog (dialog dilakukan sang dalang, dan tokoh Semar). Di samping itu, ghungseng dipergunakan sebagai kode perubahan gerakan dalam cerita, misalnya bunyi sreng (panjang) berarti aserek, dan bunyi kroncang-kroncang berarti para pemain sedang berjalan. Ghungseng biasanya dikenakan oleh para pemain yang berperan sebagai tokoh antagonis. Topeng dalang Madura yang dikenakan para pemain, terkesan cukup sederhana, bersahaya dan agak kaku ukirannya, inilah salah satu hal yang membedakan dengan topeng Yogjakarta, Solo, Bali ataupun daerah Jawa lainnya. Barangkali karakteristik topeng Madura, diidentikkan dengan pembawaan dan karakter orang Madura yang terkenal keras, kaku tetapi polos dan jujur. Adapun dalam setiap pementasan seluruh pemain topeng Dalang serta para penari didominasi pemain laki-laki. Setiap pementasan dibutuhkan penari sebanyak 15 sampai 25 orang dalam setiap lakon, yang dipentaskan semalam suntuk. Adapun aksesoris yang dibutuhkan para pemain meliputi, ; taropong, sapiturung, ghungseng, kalong (kalung) rambut dan badung ; sedangkan untuk pemeran wanita, aksesoris tambahan berupa, sampur, kalung ular, gelang dan jamang. Topeng Sebagai Media Dakwah Topeng merupakan bentuk kesenian teater rakyat tradisional yang paling kompleks dan utuh. Hal tersebut disebabkan dalam kesenian topeng mengandung unsur cerita, unsur tari, unsur musik, unsur pedalangan dan unsur kerajinan. Sehingga bentuk kesenian ini, dianggap paling pas untuk digunakan sebagai media dakwah. Oleh para Sunan dan dalang yang inovatif dan kreatif, tokoh-tokoh baru diciptakan dan alur cerita mengalami perubahan, dari cerita yang syarat dengan bobot filsafat dan filosofi Hindu, diganti dengan tokoh-tokoh dan alur cerita yang mengandung bobot nilai-nilai moral dan nilai-nilai filosofi Islami. Tanpa mengubah tema cerita, yaitu pertentangan dan konflik antara tokoh antagonis dan protagonis. Bahwa kebajikan akan selalu menang melawan kebatilan, kebenaran selalu menang melawan kejahatan. Sebagai media dakwah, kesenian topeng telah menjelajahi hampir semua wilayah nusantara, dan telah mengalami perubahan. Oleh sutradara-sutradara yang kreatif dan inovatif, cerita-cerita baru, tokoh-tokoh baru diciptakan sesuai dengan karakter daerah dimana topeng itu dipentaskan. Sehingga tidak mengherankan, apabila alur cerita dalam pementasan topeng tidak murni lagi menjalankan alur cerita yang bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Melalui tokoh-tokoh yang dimainkan, nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral ditanamkan kepada para penganutnya. Hal itu dilakukan dengan jalan menciptakan bait-bait, gending-gending maupun jalinan kisah (cerita), yang mengandung nilai-nilai moral, nilai-nilai filosofi Islami. Sebagai seni pertunjukan rakyat, teater Topeng Dalang dipentaskan untuk memeriahkan berbagai acara, misalnya upacara perkawinan, selamatan desa dan laut, khaul (peringatan yang berhubungan dengan meninggalnya seseorang/tokoh), serta ritual rokat. Adapun kisah-kisah yang dimainkan disesuaikan dengan suasana hajatan. Misalnya ruwatan untuk anak bungsu, mengambil kisah Pandawa Bungsu. Prosesi Pertunjukan Seperti hal nya Ludruk, salah satu jenis kesenian di Jawa Timur, yang mengawali setiap pementasannya dengan “ngremo”, topeng Dalang juga membuka pagelaran dengan penampilan tarian. Dalam setiap pementasan, biasanya yang ditampilkan adalah jenis tarian sakral. Setelah tari pembukaan, Dalang membuka dengan pemaparan prolog/panorama. Kemudian disusul tembang-tembang Suluk, alunan tembang ini mengantarkan para penonton untuk memasuki inti cerita yang akan dipentaskan. Suluk dan dialog dalam topeng dalang Madura memakai bahasa Madura halus. Untuk suluk pembukaan menggunakan bahasa Jawa kuno, hal ini membuktikan bahwa topeng awalnya berasal dari satu sumber. Dalam setiap pertunjukan, tokoh utama yang menggerakkan semua pemeran adalah dalang. Ki dalang sebagai pemimpin orkestra gamelan, menyajikan suluk, narasi dan mengucapkan dialog. Dengan suaranya yang lembut, kadang menghentak keras ki dalang memimpin penari-penari yang bergerak di belakang topeng. Semua pemeran lakon/penari tidak berbicara, kecuali Semar. Karena dialog dan nyanyian seluruhnya diucapkan oleh Dalang yang duduk di belakang layar. Pada layar tersebut dibuat lubang kecil, dari lubang berbentuk segi empat inilah Dalang mengisahkan lakon sesuai dengan cerita. Di depan layar, para pemain lakon menyesuaikan dengan gerakan-gerakan tari setiap alur cerita yang dikisahkan Dalang. Setiap lakon yang dibawakan, selalu sarat dengan gaung cinta, adegan heroik ataupun beragam petuah bermakna filosofis kehidupan yang kental. Ditambah dengan gerak tarian, terangkai dalam gerak yang kompleks. Kadang-kadang gerakan tarinya halus, lemah lembut dan melankonis, lalu berubah kasar, kaku dan sedikit naif, namun dibawakan dengan penuh emosi yang ekspresif. Dalam setiap pementasan, penampilan para penari sangat sederhana, tetapi ekspresif. Sekalipun setiap gerak tari agak naif dan sedikit kaku, tetapi mengandung nilai spiritual yang tinggi. Dan itu merupakan salah satu nilai plus, karena nilai-nilai yang terkandung dalam setiap gerakan masih brilian, bersih dan otentik. Adapun gerakan/gaya tarian yang dipakai dalam pertunjukan topeng Dalang ada beberapa macam, diantaranya: Tandhang Alos (tari halus), Tandhang baranyak (tari sedang), Tandhang ghalak (tari kasar) dan putri ( gerak penari perempuan). Masing-masing tandhang ini diiringi oleh gending-gending tersendiri. Tandhang Alos diiringi gending-gending Puspawarna, Tallang, Rarari, dan lain-lainnya. Tandhang Baranyak diiringi gending-gending, Calilit, Pedat dan Lembik. Sedangkan tandhang Ghalak diiringi gending-gending Gagak, Pucung, Kwatang Serang dan Gunungsari. Alat-alat musik yang dipakai adalah gamelan, ditambah crek-crek yang dipakai oleh dalang. Nilai plus pada topeng Dalang Madura adalah suasana dengan nuansa magis yang dibangun oleh bunyi gemerincing gongseng.. Seolah-olah getaran gongseng menyebar ke seluruh arena membentuk suasana yang diperlukan, baik suasana sedih, gembira ataupun tegang. Apalagi ketika penari menghentak-hentakkan kaki, sepanjang pertunjukan tak sepi dari suara ghungseng, apabila disimak memang suara satu dan lainnya memberikan ekspresi tersendiri. Pada masa lalu, lakon yang dimainkan dalam Topeng Dalang banyak mengambil kisah Panji atau kisah-kisah seperti Damar Wulan. Namun dalam perkembangannya, kisah-kisah yang dipentaskan saat ini banyak mengambil cerita dari epik Ramayana dan Mahabharata, dengan ditambah cerita-cerita carangan yang tokoh-tokohnya tetap merupakan tokoh-tokoh Ramayana atau Mahabharata. Dalam setiap pementasan kisah Mahabharata lebih sering ditampilkan. Karena kisah-kisah dalam Mahabharata terdapat lebih banyak pertentangan, perseteruan dan konflik. Konflik multi dimensi, dari masalah cinta, perang saudara, perebutan tahta, ideologi maupun pertentangan antara anak dengan orang tua, murid dengan guru, saudara dengan saudara. Konflik-konflik tersebut dibumbui dengan adu kedigdayaan, baik berupa senjata mustika maupun kesaktian yang dimiliki oleh para ksatria. Sebagai media dakwah, ceritera dalam epik Mahabharata telah dimodifikasi demikian rupa. Tokoh-tokoh dan alur cerita tetap sama. Namun isi maupun filosofinya diubah menjadi cerita yang bernuansa dan bernafaskan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dibuktikan dalam cerita Mustakaweni atau Hilangnya Jimat Kalimosodo. Jimat Kalimosodo adalah sebuah senjata pusaka yang berkekuatan istimewa yang dapat digunakan untuk maksud apa saja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Cerita jimat Kalimosodo adalah asli buatan Demak. Maksudnya ‘ Azimah = Jimat (sesuatu yang bertuah/sakti). Sada = Syahadat (Persaksian, bukti diri), jimat Kalimosodo berarti Azimah Kalimat Syahadah, mempunyai kesaktian luar biasa dan dimiliki oleh keluarga-keluarga yang baik seperti Pandawa. Sedangkan Pandawa Lima, ada yang mengartikan Rukun Islam yang lima, atau Lima Waktu Sholat dan lain-lain. Teater Tradisional Masyarakat Pinggiran Teater Topeng Dalang Madura, satu-satunya teater tradisional yang mampu menaikkan pamor seni tradisi. Di era tahun 80 sampai 90-an, topeng Dalang Sumenep (Madura) melanglang buana ke belahan benua, Amerika, Asia dan Eropa. Kota-kota besar dunia yang disinggahi pada waktu itu adalah, kota London, Amsterdam, Belgia, Perancis, Jepang dan New York. Penampilan seni tradisional tersebut ternyata mampu memikat, memukau, meng-hipnotis dan menimbulkan decak kagum para penonton. Begitu hangat sambutan masyarakat internasional terhadap teater tradisional ini. Sangatlah disayangkan ! Kekaguman yang pernah dibangun oleh para Dalang di masa itu, saat ini mulai pudar. Hal itu disebabkan karena teater Topeng Dalang telah dijauhi oleh para penikmatnya. Kesenian ini lambat laun mulai berkurang, terutama di kalangan masyarakat kota. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa teater tradisional ini sudah ketinggalan jaman. Saat ini pementasan topeng Dalang masih sering diundang oleh masyarakat pinggiran, yang masih peduli dan mencintai teater topeng Dalang. Saat ini masih ada beberapa kelompok komunitas teater Topeng Dalang, kelompok-kelompok ini masih eksis melestarikan topeng Dalang. Baik sebagai komunitas tetap ataupun hanya kelompok insidentil. Kelompok ini menyebar di beberapa wilayah kecamatan, diantaranya desa Slopeng, Dasuk, desa Leggung, Batang-Batang, kecamatan Gapura, kecamatan Kalianget dan kecamatan Kota Sumenepindonesia ke madura

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-11-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Apabila Anda berkunjung ke Pulau Madura, sempatkanlah mampir ke Kabupaten Sumenep di ujung timur Pulau Madura. Di kabupaten yang pernah menjadi pusat pemerintahan Keraton Sumenep ini, Anda dapat menemukan sebuah pantai dengan gugusan pohon cemara udang yang menghiasi hampir seluruh tepiannya. Namanya Pantai Lombang (dalam pelafalan orang Madura disebut `lombheng`), terletak sekitar 30 kilometer di timur Pusat Kota Sumenep. Pantai yang boleh jadi paling banyak dikunjungi wisatawan di seluruh Pulau Madura ini mulai menjadi obyek wisata favorit sejak sekitar tahun 2000 lalu, ditandai dengan kunjungan pertama para turis mancanegara ke pantai ini. Beberapa agen perjalanan yang membawa turis dari Jakarta menuju Bali biasanya juga menawarkan kunjungan beberapa hari ke pantai ini. Selain turis mancanegara, tentu saja Pantai Lombang juga menjadi lokasi yang sangat diminati oleh turis domestik, baik masyarakat Madura sendiri maupun wisatawan lokal yang datang dari Surabaya dan sekitarnya. Menurut pantauan situs http://surabaya.detik.com pada Desember 2008 lalu, setiap harinya tak kurang dari 1.200 pengunjung yang menikmati keindahan pantai ini. Pada hari libur, utamanya ketika Lebaran atau libur Natal, maka pengunjung bisa membludak hingga 75 ribu orang. Pantai Lombang dengan deretan pohon cemara udang Sumber Foto: http://imamisnaini.multiply.com B. Keistimewaan Pantai Lombang memiliki kesan istimewa karena memiliki hamparan pasir putih sepanjang 12 kilometer. Berbeda dengan pantai lainnya yang umumnya dihiasi oleh pepohonan kelapa, di pantai ini wisatawan dapat melihat deretan pohon-pohon cemara udang. Tinggi pepohonan tersebut sekitar 4 meter di atas tanah, namun tidak dalam kondisi tegak, melainkan agak membungkuk sehingga nampak seperti udang. Di tengah kondisi cuaca di Pulau Madura yang terkenal panas, berlindung di bawah rerimbunan daun pohon cemara ini dapat sedikit menghela cuaca panas tersebut. Pohon cemara udang Sumber: http://pupisstory.blogspot.com Akan tetapi, jika memang ingin berjemur, hamparan pasir putih di Pantai Lombang sangat cocok untuk aktivitas tersebut. Di pasir putih ini, wisatawan juga dapat melihat bola-bola pasir kecil yang terbentuk dari galian kepiting-kepiting mini. Kepiting-kepiting tersebut cukup banyak di pantai ini, namun tidak membahayakan karena mereka biasanya akan lari atau berlindung di dalam pasir jika ada orang menghampirinya. Apabila berkunjung bersama keluarga, tak ada salahnya untuk mengajak anak-anak bermain pasir membentuk pola atau bidang tetentu. Kondisi pantai yang masih bersih dengan ombak yang relatif kecil membuat pantai ini juga cocok untuk lokasi berenang, snorkeling, atau olahraga air lainnya. Wisatawan yang belum mahir berenang, atau masih di bawah umur, dapat menyewa peralatan renang seperti ban pelampung di sekitar pantai ini. Bermain pasir putih di Pantai Lombang Sumber Foto: http://www.kamera-digital.com Selain menikmati `fasilitas biasa`, wisatawan yang tak keberatan membayar uang lebih mahal dapat menikmati fasilitas yang lebih memadai seperti pelayanan yang diberikan kepada wisatawan asing. Fasilitas tersebut tak hanya berupa kunjungan untuk menikmati pesona alam Pantai Lombang, melainkan juga berbagai seni pertunjukan masyarakat setempat, menikmati pesta bakar ikan di malam hari, serta memperoleh fasilitas penginapan yang unik. Penginapan ini merupakan pondok-pondok di pinggir pantai dengan bahan dasar kayu, memakai dinding rotan, beratapkan ranting dan daun pohon cemara, serta berlantaikan pasir pantai. Selain nampak natural, pondok inap tersebut juga dilengkapi dengan ukiran dan perabot khas Madura sehingga nampak lebih eksotis. C. Lokasi Secara administratif, Pantai Lombang terletak di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. D. Akses Pantai Lombang terletak sekitar ± 30 km dari Kota Sumenep ke arah timur laut. Untuk mencapai lokasi, wisatawan dapat memanfaatkan angkutan umum, persewaan mobil, atau menyewa ojek dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Bila Anda berdomisili di luar Pulau Madura, Anda dapat menyeberang melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Kamal, Bangkalan Madura dengan kapal ferry. Dari Bangkalan, Anda dapat menggunakan angkutan umum menuju Kota Sumenep. E. Harga Tiket Biaya karcis untuk memasuki pantai ini adalah Rp 5.000 per orang. F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya Wisatawan yang ingin bermalam di pantai ini dapat mendirikan tenda di tepi pantai, sebab belum tersedia hotel di sekitar pantai ini. Fasilitas penginapan yang ada, yaitu pondok-pondok alami dari kayu, biasanya hanya diperuntukkan bagi peserta paket wisata dari agen perjalanan tertentu. Apabila terpaksa harus menginap, wisatawan dapat memperoleh jasa hotel di Kota Sumenep. Di pantai ini telah tersedia kamar bilas bagi para pengunjung untuk membersihkan badan sehabis bermain pasir atau berenang. Jika ingin duduk-duduk santai, wisatawan dapat memanfaakan beberapa tempat duduk atau warung-warung kecil di pinggir pantai yang menjual `es degan` (kelapa muda) serta `rujak lontong` (rujak Madura). Di tengah teriknya matahari, rujak lontong yang lezat, serta segarnya es degan sangat cocok untuk dinikmati.

terima kasih

Last Update: 2014-11-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Kahyangan Bathara Indra sedang berada dalam ancaman seorang raksasa yang bernama Niwatakawaca. Ia sudah siap untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan Bathara Indra. Niwatakawaca tidak bisa dikalahkan oleh siapapun baik Dewa maupun raksasa yang lain. Oleh karenanya, Bathara Indra memutuskan untuk meminta bantuan manusia untuk menghadapi raksasa itu. Pilihan jatuh kepada Arjuna putra tengah Pandawa yang saat itu sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun, terlebih dulu Bethara Indra menguji ketabahan Arjuna dalam melakukan pertapanya. Tujuh orang bidadari yang kecantikannya sudah tidak bisa diragukan lagi dipanggil untuk menjalankan tugas itu. Bidadari yang terpenting dari ketujuh bidadari tersebut adalah Suprabha dan Tilottama. Ketujuh bidadari tersebut diutus untuk menggunakan segala kemampuan dan kecantikannya untuk merayu Arjuna. Suprabha dan enam bidadari yang lain pergi ke tempat Arjuna bertapa yaitu Gunung Indrakala untuk menunaikan tugasnya. Sampailah para bidadari yang kecantikannya sungguh menabjukan itu di gua tempat Arjuna bertapa. Mereka berusaha menggoda Arjuna dengan memperlihatkan segala kecantikannya dan dengan segala akal agar Arjuna bisa tergoda. Namun, usaha mereka tak sedikitpun memberikan hasil. Tentunya mereka sangat kecewa, dan akhirnya mereka kembali ke kahyangan dan melaporkan kepada Bathara Indra. Mendengar laporan dari pada bidadari utusannya, Bathara Indra gembira, karena itu membuktikan bahwa Arjuna memang orang yang tepat dan pantas untuk dia pilih sebagai lawan Niwatakawaca. Tetapi Indra masih memiliki sedikit keraguan, dia masih bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Arjuna bertapa, apakah untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan untuk dirinya sendiri, sehingga ia tidak peduli degan keselamatan orang lain?indonesia ke madura

sakit

Last Update: 2014-10-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

KEMANA

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

google translation of Java MaduraBangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

Last Update: 2014-09-24
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bahan dan Bumbu : ½ kg daging ayam buang kulit dan tulang (fillet ayam), potong dadu 20 tusuk sate 150 gram kacang tanah, sangrai, kupas, haluskan 150 ml air 2 sdm kecap manis untuk bumbu kacang 2 sdm kecap manis untuk olesan 3 sdm minyak/ lemak ayam yang dicairkan 2 sdm minyak goreng untuk menumis Haluskan : 1 buah cabe merah besar, buang bijinya, rebus 2 buah cabe rawit 4 butir bawang merah 1 siung bawang putih 5 buah kemiri, sangrai 2 sdt gula merah 1 sdt garam CARA MEMBUAT SATE AYAM MADURA : Tusuk potongan daging ayam dengan jumlah sesuai selera. Sisihkan. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum. Sisihkan 2 sdm untuk bumbu olesan. Tambahkan pada bumbu yang sudah ditumis kacang halus dan air, masak hingga kental. Tambahkan 2 sdm kecap manis. Aduk rata, angkat. Campur 2 sdm bumbu tumis yang disisihkan dengan kecap manis dan sisa minyak. Olesi sate dengan bumbu olesan hingga rata. Panggang di atas bara api atau elektric grill atau kompor (dengan wajan teflon) sambil dibalik-balik hingga matang. Angkat. Sajikan panas bersama bumbu kacang dan irisan jeruk nipis. Lengkapi dengan irisan cabe rawit dan potongan bawang merah (acar) jika suka serta taburan bawang goreng

Bahan dan Bumbu : ½ kg daging ayam buang kulit dan tulang (fillet ayam), potong dadu 20 tusuk sate 150 gram kacang tanah, sangrai, kupas, haluskan 150 ml air 2 sdm kecap manis untuk bumbu kacang 2 sdm kecap manis untuk olesan 3 sdm minyak/ lemak ayam yang dicairkan 2 sdm minyak goreng untuk menumis Haluskan : 1 buah cabe merah besar, buang bijinya, rebus 2 buah cabe rawit 4 butir bawang merah 1 siung bawang putih 5 buah kemiri, sangrai 2 sdt gula merah 1 sdt garam CARA MEMBUAT SATE AYAM MADURA : Tusuk potongan daging ayam dengan jumlah sesuai selera. Sisihkan. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum. Sisihkan 2 sdm untuk bumbu olesan. Tambahkan pada bumbu yang sudah ditumis kacang halus dan air, masak hingga kental. Tambahkan 2 sdm kecap manis. Aduk rata, angkat. Campur 2 sdm bumbu tumis yang disisihkan dengan kecap manis dan sisa minyak. Olesi sate dengan bumbu olesan hingga rata. Panggang di atas bara api atau elektric grill atau kompor (dengan wajan teflon) sambil dibalik-balik hingga matang. Angkat. Sajikan panas bersama bumbu kacang dan irisan jeruk nipis. Lengkapi dengan irisan cabe rawit dan potongan bawang merah (acar) jika suka serta taburan bawang goreng

Last Update: 2014-09-21
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

teman teman pelajar yang saya hormati

Last Update: 2014-09-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

celleng

Last Update: 2014-09-15
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Salak se’ nase’ Salak se’ nase’ merupakan salah satu salak dari Bangkalan yang enak rasanya. Jenis salak ini merupakan salak terbaik di Bangkalan. Buahnya berbentuk lonjong dengan bagian pangkal yang meruncing. Kulit buahnya bersisik besar dan berwarna kekuningan. Daging buahnya tebal, masir, dan rasanya manis. Bahkan, buah yang belum tua sekali pun sudah terasa manis. Selain manis, aroma salak ini juga harum merangsang selera. Biji buahnya kecil. Ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan salak kerbau, berat rata-rata 67 g per buah. Produktivitasnya tak berbeda jauh dengan salak si manggis, per pohon rata-rata menghasilkan 30 buah. Salak panjalin Salak penjalinan, berasal dari Bangkalan, Madura. Kecil, coklat-kekuningan, dan rasanya manis, renyah, dan masir Salak mangghis Salak ini juga berasal dari "Pulau Garam", tepatnya daerah Bangkalan, Madura. Buahnya berbentuk bulat. Kulit buahnya cokelat tua seperti warna buah manggis. Oleh karena itu, salak ini dinamakan salak si manggis. Kulit buahnya ini bersisik besar dan tersusun rapi seperti genting. Daging buah agak tebal, berwarna putih agak kuning, dan masir. Rasanya manis sedikit asam. Aroma buahnya cukup harum. Dibandingkan salak bangkalan lainnya, ukuran salak ini termasuk besar, berat rata-ratanya 87 g. Produksi rata-rata per pohon sekitar 30 buah atau sekitar 2, 5 kg buah. SALAK KERBAU Deskripsi Di daerah asalnya -Bangkalan, Madura - salak kerbau termasuk salah satu jenis salak yang cukup diminati karena enak rasanya. Disebut salak kerbau karena buahnya besar dan kulitnya cokelat kehitaman. Buahnya bulat lonjong dan tampak gemuk. Daging buahnya agak tebal dan berwarna putih. Rasanya cukup manis, empuk, dan segar karena kadar airnya cukup banyak. Aromanya harum. Berat rata-rata per buah 65-70 g

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-09-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada waktu itu saya ingin sekali bermain bola, tetapi karena saya masih kecil dan ketika itu saya baru berumur 6 tahun jadi saya tidak diperbolehkan main oleh orang-orang dewasa yang sedang bermain bola. sayapun hanya bisa menonton dari luar lapangan. Sampai sekitar ada 30 menit saya menonton tiba-tiba ada satu pemain yang keluar karena ada kepentingan. Saya memaksa untuk main dan akhirnya diperbolehkan. Sewaktu saya main saya tidak dianggap yaitu tidak diberi umpan dan bahkan tidak pernah mendapat bola. Sampai akhirnya pada waktu saya mendapatkan bola yang pertama kalinya saya langsung berlari cepat melewati beberapa pemain dan saya langsung mencetak gol. Setelah gol itu saya menjadi lebih sering mendapat bola. Para orang dewasa itu pun mulai memperhitungkan saya. Sampai akhirnya pada akhir laga saya berhasil mencetak 7 gol. Saya sangat senang karena telah mencetak 7 gol mengingat saya yang tadinya tidak dianggap, dan sempat tidak pernah mendapat bola tetapi saya bisa mencetak 7 gol. Semua pemain melihat saya. Saya pun menjadi sangat bangga. Saya tidak akan melupakan pertandingan ini.indonesia ke madura

ketika saya bermain bola

Last Update: 2014-08-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation