MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: madura    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

English

Info

Ke' Lesap adalah putera Madura keturunan dari Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III (1707-1718) dengan isteri selir. Tokoh ini sering muncul dari cerita rakyat Madura. Pada suatu waktu ia diberitahu oleh ibunya tentang siapa sebenarnya ayahnya. Sebagai seorang pemuda ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil ke depan dengan berbagai macam keahliannya. Kek Lesap muda memiliki kebiasaan suka sekali bertapa di Gunung-gunung dan di kuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa di gunung Geger (di Bangkalan) dengan waktu yang cukup lama, hingga setelah bertapa ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama keahliannya sebagai dukun untuk menyembuhkan bermacam-macam penyakit yang diderita oleh orang-orang. Hal itu terdengar oleh Raja Bangkalan yang bernama Suro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat IV / Pangeran Cakraningrat IV (1718-1736). lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tinggal di Bangkalan dan diberi hadiah berupa rumah di Desa Pejagan, selain itu Raja juga mengijinkan ia untuk menjalankan prakteknya sebagai dukun. Sebagai dukun ia tak segan untuk memberi berbagai macam obat-obatan kepada siapapun yang menderita sakit. Meskipun sudah mendapat penghormatan semacam itu, Ke' Lesap masih merasa belum puas karena ia merasa sering diawasi oleh Raja. Sementara Ke' Lesap sendiri mempunyai maksud tersembunyi yaitu dia berambisi untuk memegang pemerintahan di Seluruh Madura, karena itu Ke' Lesap meninggalkan kota Bangkalan dengan menuju ke arah Timur dan akhirnya ia sampai di goa Gunung Pajuddan di daerah Guluk-Guluk dan di Goa itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya. Diceritakan bahwa Ke' Lesap mempunyai sebuah Calok atau golok yang dinamai dengan Kodhi' Crancang yang dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada seorang pun yang memegangnya, karena kesaktian-kesaktian yang dimilikinya, maka ia makin dikenal sampai ke seluruh pelosok Madura. Pemberontakan[sunting | sunting sumber] Akhirnya Ke' Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup mampu untuk mengobarkan api pemberontakan, keahlian dan kemasyhurannya banyak membawa simpati pada rakyat, sehingga ketika ia turun dari pertapaannya di gunung Pajuddan dan ia mulai dapat menaklukan desa-desa yang ia datangi. Dengan bantuan pengikutnya Ke' Lesap yang dikomandoi oleh panglima perangnya yang bernama oleh Raden Buka mulai menyerang kerajaan Sumenep pada tahun 1749 - 1750 M. Pertempuran terjadi dimana-mana dan tak lama kemudian Sumenep dapat didudukinya. Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV atau Raden Alza atau Adipati Sumenep XXVIII ( 1744 - 1749) sebagai Bupati Sumenep merasa sangat ketakutan, dan ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan melaporkan adanya pemberontakan itu kepada Kompeni Belanda - VOC (1749 M) yang berada di Surabaya. Setelah keraton Sumenep dapat diduduki, Ke' Lesap menempatkan Raden Buka sebagai Adipati Sumenep (1749 - 1750). Selanjutnya Kek Lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan ialah Bluto, Prenduan, Kaduaradan seterusnya. Dimanapun tempat yang ia lalui, dia selalu disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus rakyat menggabungkan diri sebagai pasukan pemberontak, Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan karena pada waktu itu Bupati Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada di tempat, karena ia sedang bepergian ke Semarang. Raden Adikoro IV tak lain adalah menantu Cakraningrat V yang bertahta di Bangkalan, sewaktu Adikoro IV kembali dari Semarang dan singgah di Bangkalan ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke' Lesap melakukan pemberontakan, setelah mendengar berita itu Adikoro IV meminta diri kepada ayahnya untuk berangkat berperang melawan Ke' Lesap. Ia sangat marah karena memikirkan nasib rakyat pamekasan yang tentunya kocar kacir karena ditinggal pemimpinnya. Dengan diiringi pengikutnya yang masih setia Adikoro IV terus menuju ke Sampang, Di kota ini ia berhenti untuk beristirahat sebentar, pada saat makan siang datanglah seorang utusan Ke' Lesap dengan membawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Adikoro IV sangat marah dan serta merta nasinya tidak dimakannya bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang-orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Ke' Lesap. Penghulu Bagandan tidak menyetujui untuk berangkat segera karena hari itu adalah hari naas dan menasehatkan untuk berangkat keesokan harinya saja. Tetapi adikoro tidak sabar untuk menunggu semalam saja, ia menanyakan lagi siapa yang sanggup mati bersama-bersama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut bahwa ia yang pertama bersedia untuk mati bersama pemimpinnya karena itu tanpa ditunda-tunda lagi Adikoro berangkat dengan diikuti penghulu Bagandan dan pengiring-pengiring menuju ke Pamekasan, Adikoro IV dan pasukannya mengamuk sedemikian rupa sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai ke Pangantenan di daerah Pamekasan, namun karena jumlah pasukan Adikoro sangat sedikit dan ia sendiri sudah amat lelah maka tidak lama kemudian perutnya terkena senjata sampai ususnya keluar. Tetapi semangatnya tidak padam, dengan melilitkan tangkai ususnya pada tangkai kerisnya, ia terus mengamuk dengan tombaknya, rupanya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh dan meninggal dunia. Demikian pula Penghulu Bagandan gugur di Medan pertempuran bersama Adikoro IV. Setelah Adikoro IV dapat dikalahkan maka Ke' Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Saat itu Bangkalan dipimpin oleh Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I / Panembahan Tjokro Diningrat V / Pangeran Cakraningrat V (1736-1769). di Bangkalan pertempuran hebat pun dimulai, sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan-perlawanan yang cukup berkobar tetapi lama kelamaan pasukan Bangkalan dapat dipukul mundur dan saat bantuan Kumpeni Belanda telah didatangkan dari Surabaya, pertempuran terus berkobar kembali. Bantuan dari Kumpeni belanda tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula. Merasa hampir kalah, Cakraningrat V akhirnya mengungsi ke daerah Malajah, sedangkan Benteng masih dipertahankan oleh Pasukan Kompeni Belanda (VOC), dan waktu itu Ke' Lesap membuat Pesanggrahan di desa Tonjung. Bengkah La An[sunting | sunting sumber] Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Ke' Lesap dikirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih yang maksudnya Bangkalan akan menyerah, tipu muslihat itu keesokan harinya dijalankan seorang perempuan diberinya pakaian Keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus dikirimkan kepada Ke' Lesap. Ke' Lesap menerima pemberian itu dan wanita si pemberi hadiah itupun dibawa ke Pesanggrahannya dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah. Pada waktu Cakraningrat V menunggu reaksi, Ke' Lesap dengan dikirimkannya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba-tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama Ki Nenggolo gemetar dan bersinar-sinar seolah mengeluarkan api, Cakraningrat V bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil tombak itu, ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Ke' Lesap. Sesampainya di Desa Tonjung Ke' Lesap sangat terkejut karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba-tiba dengan tidak menunggu lama Cakraningrat V mendatangi pempinan pemberontak itu dan menancapkan tombaknya, pada seketika itu Ke' Lesap meninggal, Rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya berseru "Bengkah la'an" yang artinya sudah matilah. Karena itu sebagian orang Madura mengatakan bahwa nama Bangkalan itu berasal dari kalimat itu.

gila karnamu

Last Update: 2014-07-20
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pangeran Saccadiningrat menikah dengan saudara sepupu ibunya yang bernama Dewi Sarini, yang pada akhirnya mereka dikaruniai seorang putri bernama Saini dan diberi julukan R.A. Potre Koneng, karena kulit yang mengkilap dan kebaikan budi pekertinya. Potre Koneng tumbuh menjadi wanita cantik dan memiliki budi pekerti yang baik. Suatu hari ayahnya (P.Saccadiningrat) menghampiri Potre Koneng yang sedang duduk di taman. P.Saccadiningrat :” putriku….., sedang apa engkau, sepertinya sedang gembira “kata p.saccadiningrat Potre koneng : “Ayahanda …, maafkanlah ananda atas kelancangan hamba yang Belum bisa memenuhi permintaan ayahanda”. Jawab Potre Koneng dengan lembut. P. saccadiningrat : “Dengan dasar apa engkau mengakatan hal yang demikian itu?” kata Pangeran Saccadiningrat ingin tahu Potre koneng : “Ananda sama sekali tidak mengetahui tentang masalah perkawinan dan ananda lebih senang berbakti kepada Allah dari pada kawin”. Jawab Potre Koneng dengan tegas. Kejadian itu berlangsung cukup lama yang pada akhirnya Potre Koneng berpamitan kepada ayahanda dan ibundanya untuk bertapa ke gua Payudan. Potre Koneng meminta izin untuk menghadap Pangeran Saccadiningrat. Potre Koneng : “Ayahanda…, ananda mohon dengan penuh belas kasihan ananda”. Jawab Potre Koneng sedih. Setelah memikirkan dengan penuh pertimbangan akhirnya kedua orang tua Potre Koneng mengizinkan dengan syarat ditemani dengan pengiringnya. P. saccadiningrat :” bawalah pengiringmu “ Potre koneng :”baiklah ayahanda “ Permaisuri :”hati-hati anakku “ kata Permaisuri mengkhawatirka Potre koneng. Potre Koneng pun berangkat meninggalkan keraton menuju gua Payudan. Ia menjalani masa pertapaannya dengan tidak makan, minum dan tidur. Suatu hari tanggal empat belas Potre Koneng tertidur, yang dalam tidurnya Potre Koneng bertemu dengan seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah. potre koneng : “Siapa engkau ini?” tanya Potre Koneng. Adi poday :” Aku adalah Adi Poday” jawab pemuda tersebut. Keesokan harinya, Potre Koneng kembali ke Sumenep ditemani pengiringnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ada sebuah keajaiban pada diri Potre Koneng, yaitu perutnya yang semakin membesar. Saat bersama ibu dan para pengawalnya yang sedang jalan-jalan di taman tiba-tiba Potre koneng mual-mual. Permaisuri :” anakku, kenapakah dirimu ? apa kamu sakit ?” kata permaisuri panic Potre koneng :”entahlah Ibunda, aku tidak tau !” Permaisuri membawa potre koneng yang dipapah oleh pengawal ke kamarnya. P.saccadiningrat :”permaisuri, ada apa dengan anak kita ? “ tanyanya yang juga panic Permaisuri :” hamba tidak tau yang Mulia Raja ! “ Kemudian P.Saccadiningrat memanggil para pengawalnya : P.saccadiningrat :”pengawal…, “ kata P.Saccadingrat berteriak Pengawal :”ada apa yang Mulia ! P.saccadiningrat :”cepat panggilkan tabib “ Pengawal :”baik yang Mulia “ Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tabib datang Tabib :”ada apa yang Mulia memanggil hamba !” kata tabib kemudian P.saccadiningrat :”tolong periksa potre koneng “ Tabib :”baiklah yang Mulia !” Tabib mulai memeriksa potre koneng Permaisuri :”bagaimana keadaan anakku tabib” Tanya permaisuri Tabib :”maaf yang mulia permaisuri, sebenarnya yang mulia putrid tidak sakit,tapi sedang hamil “ P.Saccadiningrat : “Potre Koneng …!! Apa yang telah engkau lakukan?! Engkau telah membuat aib yang sangat besar, yaitu engkau telah hamil di luar nikah dan telah merusak nama baik keraton ini”. Kata Pangeran Saccadiningrat. potre koneng :”apa !!!... hamil ? tidak, tidak mungkin ayahanda ! saya tidak pernah melakukannya” (menitikkan air mata) P.saccadiningrat :”apa katamu ?, cepat pergi dari kerajaan ini !!! “katanya marah”aku tidak mau melihatmu “. Permaisuri :”jangan yang mulia, potre anak kita kenapa harus diusir ?” P.saccadiningrat :”diam !! jangan kau bela anak itu !! dia telah membuat kita malu dan telah merusak nama baik keraton ini” katanya “ pangawal !!! cepat bawakeluarpotre koneng “ Pengawal :”tapi yang mulia ?” P.saccadiningrat :”cepat !! apa kau juga akan aku usir dari kadipaten ini” Pengawal :”baik yang mulia, hamba akan melakukanya “ kemudian menarik tangan potre koneng dengan paksa, pengawal 1 pun ikut menarik tangan potre koneng. Potre koneng :” tidak ayahanda ! tidak “ P.saccadiningrat :” diam !! cepat pergi kau :” *** Semenjak di usir dari kerajaan Potre koneng tinggal di hutan bersama seorang dayangnya sampai ia melahirkan anaknya. Kemuadian Potre koneng menyuruh dayangnya untuk membuang anak tersebut. Potre koneng :”anakku aku sangat menyayangimu, maafkan ibu !” kata P.koneng mencium bayinya. Dayang :” putri…, jangan putrid ! “ kata dayang itu Potre koneng “Mbok! Aku tidak tega menyingkirkan bayi ini akan tetapi apa mau dikata inilah cara yang terbaik” kata sang putri menjelaskan. Dayang :“Apa maksud tuan putri?” tanya si mbok penuh keheranan. P.koneng :“Taruh anakku ini di tempat yang jauh dan aman”. Kata sang putrid menghawatirkannya. Dayang :“Baik tuan putri hamba bersedia melakukan segala titik tuan putri dan demi keselamatan tuan putri” jawab si mbok. Dengan sangat berat hati dan diiringi dengan deraian air mata sang putri menyerahkan bayi itu kepada si mbok. Maka berangkatlah si mbok ke hutan dan meletakkan bayi itu di tempat yang terjamin keamanannya. Bayi itu diletakkan di bawah pohon rindang dan di tutup dengan dedaunan, setelah melaksanakan tugasnya itu maka sang pengasuh kembali ke keraton. *** Beberapa tahun kemudian Dikeraton P. saccadiningrat membuat perjanjian yang diumumkan kepada seluruh rakyat Sumenep. P. saccadiningrat :”barang siapa yang dapat mengalahkan dempo awang, akan ku angkat menjadi raja di istana ini “. Mendengar janji P.saccadiningrat, banyak para pemuda yang mencoba untuk mengalahkan dempo awang namun, sayang tidak ada satupun yang berhasil mengalahkannya. Suatu ketika ketika sedang terjadi peperangan di kerajaan Joko tole datang membantu P.saccadiningrat untuk mengalahkan Dempo awang. Dempo awang :” siapa kau anak muda ! jangan ikut campur atau ku hancurkan kau !”kata Dempo awang marah. Joko tole :”jangan banyak bicara ! hadapi aku” kata Joko tole menantang. Peperangan terjadi antara Joko tole dan Dempo awang yang kemudian dimenangkan oleh Joko tole. P.saccadingrat senang melihatnya dan memanggil Joko tole untuk mendekat. P. saccadiningrat :”siapa namamu anak muda ! “ kata P. saccadiningrat Joko tole :” sembahku pada yang Mulia, nama hamba Joko tole “ sambil berlutut P. saccadiningrat :” karena kamu berhasil mengalahkan Dempo awang maka kamu akan ku angkat menjadi raja di keraton ini. Belum sempat menjawab, kemudian Mpu kelleng datang. Mpu kelleng :” mafkan hamba yang Mulia karena lancang mengganggu yang Mulia.” Kata Mpu kelleng tiba-tiba. Joko tole :” ayah….” Kata Joko tole kaget. P. saccadiningrat :”apa dia ayahmu ?” Tanyanya pada Joko tole Joko tole :” iya yang Mulia” P. saccadiningrat :”putramu sangat hebat “ kata P. saccadiningrat memuji. Mpu kelleng :”terimakasih yang Mulia. Yang Mulia sebenarnya ada yang ingin hamba sampaikan kepada anda!“ P. saccadiningrat :” apa yang ingin kau katakana ? “ Mpu kelleng :”sebenarnya hamba bukan orang tua Joko tole. Orang tua Joko tole yang sebenarnya adalah …... “ kata Mpu kelleng gugup, kemudian melanjutkan perkataannya “ yang Mulia, Joko tole ini adalah putra dari yang Mulia potre koneng “. P. saccadiningrat :” apa ?, benarkah ?” kata P. saccadiningrat tidak percaya. Mpu kelleng :” iya yang Mulia.” P. saccadiningrat :”berarti kau adalah cucuku Joko tole “ kata P. saccadiningrat memeluk joko tole. Joko tole :” kakek …! “ dalam pelukan kakeknya P. saccadiningrat :” sekarang dimana putriku Potre koneng ? “ Tanya P. saccadiningrat kepada Mpu kelleng Kemudian Potre koneng datang bersama permaisuri dan dayangnya. Potre koneng :” hamba disini ayahanda ! “ kata potre koneng. P. saccadiningrat :” putriku …. Joko tole :” ibu… indonesia ke madura

Saya tidur

Last Update: 2014-05-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Pada waktu itu saya ingin sekali bermain bola, tetapi karena saya masih kecil dan ketika itu saya baru berumur 6 tahun jadi saya tidak diperbolehkan main oleh orang-orang dewasa yang sedang bermain bola. sayapun hanya bisa menonton dari luar lapangan. Sampai sekitar ada 30 menit saya menonton tiba-tiba ada satu pemain yang keluar karena ada kepentingan. Saya memaksa untuk main dan akhirnya diperbolehkan. Sewaktu saya main saya tidak dianggap yaitu tidak diberi umpan dan bahkan tidak pernah mendapat bola. Sampai akhirnya pada waktu saya mendapatkan bola yang pertama kalinya saya langsung berlari cepat melewati beberapa pemain dan saya langsung mencetak gol. Setelah gol itu saya menjadi lebih sering mendapat bola. Para orang dewasa itu pun mulai memperhitungkan saya. Sampai akhirnya pada akhir laga saya berhasil mencetak 7 gol. Saya sangat senang karena telah mencetak 7 gol mengingat saya yang tadinya tidak dianggap, dan sempat tidak pernah mendapat bola tetapi saya bisa mencetak 7 gol. Semua pemain melihat saya. Saya pun menjadi sangat bangga. Saya tidak akan melupakan pertandingan ini.indonesia ke madura

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-04-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menangindonesia ke madura

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menangIndonesia to Madura

Last Update: 2014-04-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-04-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-04-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

Madura

Last Update: 2014-04-09
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Add a translation