MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: madura    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

English

Info

Madura

Madura

Last Update: 2014-10-07
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

gooRoro Jonggrang Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. “Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!”, ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Roro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. “Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso. Esok harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang. “Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?”, Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang. Roro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. “Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”, ujar Loro Jongrang dalam hati. “Apa yang harus aku lakukan ?”. Roro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Roro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso. “Bagaimana, Roro Jonggrang ?” desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang mendapatkan ide. “Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya. “Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”. “Bukan itu, tuanku, kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. “Seribu buah?” teriak Bondowoso. “Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. “Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!” Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. “Apa yang harus kami lakukan Tuan ?”, tanya pemimpin jin. “Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah. Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. “Wah, bagaimana ini?”, ujar Roro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. “Cepat bakar semua jerami itu!” perintah Roro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung… dung…dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing. Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. “Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin. Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. “Jumlahnya kurang satu!” seru Roro Jonggrang. “Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”. Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. “Tidak mungkin…”, kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Roro Jonggrang. “Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang. Ajaib! Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro Jonggrang. (SELESAI) gle terjemahan jawa madura

google translation of Java Madura

Last Update: 2014-10-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Sebuah perkawinan yang pada akhirnya diharapkan oleh semua orang adalah menciptakan mahligai rumah tangga yang bahagia dan sejahtera serta terbangun rumah tangga mawaddah wa rahmah. Untuk mencapai maksud tersebut tentu banyak usaha yang dipersipkan dan dilakukan oleh orang tua ketika harus menikahkan putra putrinya dalam suatu proses, yaitu proses yang dibenarkan oleh adat danbudaya. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat Madura. Upacara adat yang kerap menjadi tuntutan dan tuntunan sejak kelahiran anak, perkawinan sampai kematianpun dilakukan dengan proses panjang. Hal ini tentu banyak sisi yang dijalani sebagai tolok ukur sejauh mana penghargaan diri manusia terhadap dirinya, lingkungan sosial, dan terutama terhadap Sang Pencitanya. Upacara Pelet Kandhung. Secara harfiah Pelet Kandhung atau Peret Kandung atau Pelet Betteng atau Salameddhan Kandhungan punya arti pijat kandungan. Secara tradisional masyarakat Madura cenderung tahap demi tahap melakukan pijak kandungan sebagai bentuk pencegahanh dan penghindaran agar bayi yang dikandunfnya tidak mengalami masalah sehingga ketika bayi dilahirkan berjalan lancar dan aman. Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Dan tentu berbicara tentang budaya dan upacara adat Madura, akan terbagai beberapa perwilayahan yang berbeda, yang masing-masing daerah memikili ciri tersendiri dalam melakukan upacara adat. Wilayah Madura timur akan berbada dengan Madura wilayah tengah dan barat. Bahkan dalam satu wilayahpun kerap berbeda antara satu kecamatan/desa/kampung dengan lainnya. Meski demikian, nama dan pemaknaan dari peristiwa budaya itu mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Demikian pula yang terjadi pada upacara adat Pelet Kandhung, atau upacara adat lainnya. Dalam tulisan ini akan kami ambil secara umum yaitu mengurai upacara Pelet Kandung yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Madura. Upacara Pelet Kandhung ini dilakukan hanya pada saat hamil pertama, kalaupun terjadi kehamilan berikutnya, biasa tidak dilaksanakan semeriah pada pada kehamilan pertama, namun tetap dilaknakan dengan sangat sederhana, yaitu yang umumnya berupa.salameddhan (arasol) (selamatan) atau cuma arebbha (hantaran nasi kepada kiyai, atau kerabat terdekat). Upacara ini dilakukan pada saat kandungan berusia tujuh bulan. Pada masa itu merupakan masa pembentukan janin yang wajib dirawat dan diruwat. Upacara adat ini biasanya dilakukan dari pihak keluarga perempuan atau orang tua dari anak yang hamil. Dan ada pula dilaksanakan oleh pihak mertua, orang tua suami. Hal ini tergantung kesepakatan, dan umumnya untuk wilayah Madura timur, pihak keluarga laki-laki meminta agar dilaksanakan di rumah si suami mengingat berbagai pertimbangan. Telah menjadi kesepakatan adat, setelah pelaknaan pernikahan, sang anak laki-laki (suami) langsung hijrah ke rumah sang istri sebagai tempat tinggalnya. Dalam kondisi ini orang tua si perempuan secara tradisional rumah-rumah yang nantinya menjadi bagian/warisan yang kemudian dikenal dengan Taneyan Lanjheng. Jauh sebelum upacara Pelet Kandhung dilaksanakan, pada bulan pertama kandhungan telah dikalakukan upacara nandai, yaitu memberi tanda bahkan sang anak telah mengandung. Nandai ini ditaruh sebiji bigilan atau manjilen (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh bigilan atau manjilen yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan. Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: • tahap pelet kandhung (pijat perut) • tahap penyepakan ayam • tahap penginjakan kelapa muda dan telur • tahap pemandian • tahap orasol (kenduri). Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dan apa pula dilaksanakan sekitar jam 2 siang, atau bha’da dhuhur . Hal ini bergantung situasi dan kondisi wilayah yang bersangkutan. Mengambil pada saat bulan purnama, lantaran pada saat itu memungkinkan suasana kampung akan jadi terang, selian sebagai simbul kecerahan. Dilaksanakan pada siang atau menjelang sore, karena diharapkan memberikan kesempatan kepada para terundang bisa hadir setelah turun dari ladang. Yang hadir dan menyaksikan upacara adat ini hanya terdiri kaum perempuan atau para ibu. Sedang tata laksana upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin. Sedang Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pelet betteng atau pelet kandhung adalah: • kain putih sepanjang 1½ meter yang nantinya akan digunakan sebagai penutup badan perempuan yang akan diupacarai pada saat dimandikan • air satu penay (belanga) • berbagai jenis bunga (biasanya 40 jenis bunga) untuk campuran air mandi. Air dalam penay dan berbagai jenis bunga (komkoman) mengandung makna kesucian dan keharuman • gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya • sebutir telur ayam yang masih mentah dan sebutir lagi yang sudah direbus • satu leper ketan kuning yang sudah masak • seekor ayam muda • minyak kelapa • kemenyan Arab • setanggi • uang logam • sepasang cengker kelapa gading yang digambari Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa; serta • berbagai macam hidangan untuk arasol (kenduri) yang berupa: kuwe procut, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut, jubada (juadah), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen). Prosesi Upacara Adat Pelet Kandhung Dalam proses ini dukon baji’ (dukun bayi) berperan penting, yang nantinya akan memimpin proses upacara adat. Dalam kegiatan yang lain, selain dukun bayi, dihadirkan pula seorang kiyai atau bindhara yang nantinya akan memimpin pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa. Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Sementara mereka membaca ayat-ayat Al Quran, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan. Saat si perempuan hamil sedang dipelet, para kerabatnya yang perempuan, mulai dari embha/ nyae (nenek), mattowa bine (mertua perempuan dari suami istri), majedhi’ bine’ (adik perempuan ayah dan ibunya), epar bine’ (saudara ipar perempuan), secara bergantian mendatangi dan mengusap perutnya. Sambil mengusap perut, mereka memanjatkan doa dan harapan agar si perempuan beserta bayi yang dikandungnya selalu dalam lindungan Tuhan. Usai dipelet, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh sang dukon baji’ ke tempat seekor ayam yang sebelumnya telah diikat pada salah satu kaki tempat tidur. Saat berada di dekat ayam, si perempuan hamil diharuskan untuk menyepak hingga sang ayam kesakitan dan berbunyi “keok”. Selanjutnya ayam yang masih terikat itu dilepaskan dan dikurung di belakang rumah. Apabila upacara telah selesai, ayam itu akan diserahkan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih. Selesai menyepak ayam, perempuan hamil itu kemudian diselimuti dengan kain putih dan diminta untuk menginjak sebutir kelapa muda dengan kaki kanan. Selanjutnya, ia diminta lagi untuk menginjak telur mentah dengan kaki kiri. Apabila telur berhasil dipecahkan, maka bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki. Namun, apabila telur tidak berhasil dipecahkan, sang dukun akan mengambil dan menggelindingkannya dari perut perempuan hamil itu. Saat telur pecah, orang-orang yang hadir di ruangan itu seretak berucap “jebbhing, jebbhing”, yang mengandung makna bahwa kelak bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin perempuan atau “kacong, kacong”, menandakan jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Selanjutnya, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh dukun baji ke belakang rumah untuk menjalani prosesi pemandian. Ia kemudian didudukkan di sebuah kursi kayu yang rendah dan di dekatnya disediakan air komkoman pada sebuah periuk tanah. Setelah itu, sang dukun baji sambil memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan ranting beringin, memasukkan uang logam ke dalam komkoman dan mulai memandikan perempuan hamil itu. Sesudah dukun selesai mengguyur, maka satu-persatu perempuan kaum kerabatnya mulai bergiliran mengguyur hingga air di dalam komkoman habis. Selesai dimandikan, ia dibawa masuk lagi ke kamarnya untuk dirias dan dipakaikan busana yang paling bagus. Kemudian, ia dibawa menuju ke ruang tamu untuk diperlihatkan kepada para hadirin. Saat itu, para hadirin akan mengucapkan kata-kata “radin, radin”, yang artinya “cantik”. Ucapan itu dimaksudkan sebagai persetujuan hadirin bahwa pakaian yang dikenakannya sudah serasi dan sesuai. Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah kelapa gading yang masih cengker (muda) yang telah digambari pewayangan biasanya tokoh Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir, Kyae lalu menyerakan kedua cengker tersebut kepada mattowa bine’ untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu. Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari. Selanjutnya, perempuan hamil itu dibawa masuk lagi ke dalam kamarnya dan diberi minum jamu dek cacing towa yang ditempatkan dalam sebuah cengkelongan (tempurung gading). Setelah jamu dek cacing towa diminum, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke taneyan (halaman rumah). Apabila cengkelongan jatuhnya tertelentang, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, apabila tertelungkup, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin perempuan. Setelah itu, si perempuan hamil disuapi dengan sedikit nasi ponar (nasi kuning), ketan yang diberi warna kuning dan telur rebus. Makanan itu tidak dimakan sampai habis. Dengan berakhirnya tahap pemberian nasi ponar ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pelet kandhung. Sebagai catatan, sejak saat diadakan upacara nandai, pelet kandhung, hingga melahirkan, perempuan yang sedang hamil itu harus mematuhi berbagai macam pantangan, baik pantangan memakan makanan tertentu maupun pantangan melakukan perbuatan tertentu. Pantangan yang berupa makanan diantaranya adalah: pantang memakan juko’ lake’ (sejenis binatang yang bersengat), kepiting,janggireng, seyongan, ennos (sejenis cumi-cumi), daging kambing, ce cek (kerupuk rambak), petis, nenas muda, durian, mangga kweni lembayung, dan plotan lembur. Apabila pantangan ini dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: keguguran, bayi yang dikandung terkena sabhan (sawan), proses melahirkan tidak lancar, dan banyak darah yang keluar pada saat melahirkan. Sedangkan pantangan yang berupa tindakan atau perbuatan diantaranya adalah: tidak boleh kerja berat berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik-turun tangga, menyiksa binatang, tidur melingkar, duduk di ambang pintu, etampa (makan sambil menyangga piring), asanrasan (bergunjing, mencela, menyumpah, dan bertengkar dengan orang lain), dan bersenggama pada hari-hari tertentu (Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu). Apabila pantangan-pantangan ini dilanggar, sebagian masyarakat Madura percaya bahwa kandungan yang nantinya akan dilahirkan akan mengalami cacat. Nilai yang Terkandung. Dalam pelaksanaan Pelet Kandhung ini merupakan refleksi dari aktifitas budaya yang secara turun temurun berlangsung. Banyak hal yang didapat dari proses upacara adat ini, antara lain memiliki nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian. Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya. Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pelet kandhung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia. Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara arasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Catatan Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa setiap acara upcara adat baik Pelet Kandhung maupun lainnya di Madura, memang terjadi perbedaan dalam pelaksanaan maupun bentuk kegiatannya. Dalam tulisan ini cenderung dilakukan oleh masyarakat Madura wilayah Barat, atau sekitar dari Sampang dan Bangkalan. Untuk wilayah Madura timur, seperti Pamekasan, Sumenep serta wilayah kepulauan akan berbeda pula, meski pada intinya punyai tujuan dan maksud yang sama. Namun disayangkan upacara adat macam ini sekarang mulai sudah tidak lagi dilakukan secara utuh bahkan mengalami perubahan dan pelaksanaannya jauh lebih simpel dan praktis. Dalam kondisi perubahan kondisi masyarakat, Pelet Kandhung jauh dilaksanakan lebih sederhana, bahkan untuk wilayah perkotaan yaitu cukup pemandian anak yang hamil saja, kemudian diteruskan selamatan (arasol). Dalam arasol biasanya dibacakan sholawat Nabi atau dibak kemudian disugihi makanan hidangan dan ditandai dengan minuman poka’ atau minuman rojak yaitu minuman yang terbuat dari buah-buahan dengan rasa manis pedas seperti rujak. (Syaf Anton Wr / Lontar Madura) Tulisan diatas menyalin dari : Pelet Kandung, Upacara Adat Kehamilan Masyarakat Madura http://www.lontarmadura.com/pelet-kandung-upacara-adat-kehamilan-masyarakat-madura/#ixzz3EtkT4gEr

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-10-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

KEMANA

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

google translation of Java MaduraBangkalan berasal dari kata “bangka” dan ”la-’an” yang artinya sudah matilah. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut cerita, setelah kejayaan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di Madura, maka pada dekade berikutnya perubahan jaman mulai membentuk karakter orang-orang Madura. Jaman yang penuh pergulatan dan perjuangan kala itu. Yang paling mengenaskan ialah saat kolonial Belanda bercokol di Madura. Dan saat itulah banyak timbul pemberontakan-pemberontakan, yang kerap dikenal dengan pemberontakan Trunojoyo, Ke’ (Pak) Lesap, Sakerah dan lainnya.

Last Update: 2014-09-24
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bahan dan Bumbu : ½ kg daging ayam buang kulit dan tulang (fillet ayam), potong dadu 20 tusuk sate 150 gram kacang tanah, sangrai, kupas, haluskan 150 ml air 2 sdm kecap manis untuk bumbu kacang 2 sdm kecap manis untuk olesan 3 sdm minyak/ lemak ayam yang dicairkan 2 sdm minyak goreng untuk menumis Haluskan : 1 buah cabe merah besar, buang bijinya, rebus 2 buah cabe rawit 4 butir bawang merah 1 siung bawang putih 5 buah kemiri, sangrai 2 sdt gula merah 1 sdt garam CARA MEMBUAT SATE AYAM MADURA : Tusuk potongan daging ayam dengan jumlah sesuai selera. Sisihkan. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum. Sisihkan 2 sdm untuk bumbu olesan. Tambahkan pada bumbu yang sudah ditumis kacang halus dan air, masak hingga kental. Tambahkan 2 sdm kecap manis. Aduk rata, angkat. Campur 2 sdm bumbu tumis yang disisihkan dengan kecap manis dan sisa minyak. Olesi sate dengan bumbu olesan hingga rata. Panggang di atas bara api atau elektric grill atau kompor (dengan wajan teflon) sambil dibalik-balik hingga matang. Angkat. Sajikan panas bersama bumbu kacang dan irisan jeruk nipis. Lengkapi dengan irisan cabe rawit dan potongan bawang merah (acar) jika suka serta taburan bawang goreng

Bahan dan Bumbu : ½ kg daging ayam buang kulit dan tulang (fillet ayam), potong dadu 20 tusuk sate 150 gram kacang tanah, sangrai, kupas, haluskan 150 ml air 2 sdm kecap manis untuk bumbu kacang 2 sdm kecap manis untuk olesan 3 sdm minyak/ lemak ayam yang dicairkan 2 sdm minyak goreng untuk menumis Haluskan : 1 buah cabe merah besar, buang bijinya, rebus 2 buah cabe rawit 4 butir bawang merah 1 siung bawang putih 5 buah kemiri, sangrai 2 sdt gula merah 1 sdt garam CARA MEMBUAT SATE AYAM MADURA : Tusuk potongan daging ayam dengan jumlah sesuai selera. Sisihkan. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum. Sisihkan 2 sdm untuk bumbu olesan. Tambahkan pada bumbu yang sudah ditumis kacang halus dan air, masak hingga kental. Tambahkan 2 sdm kecap manis. Aduk rata, angkat. Campur 2 sdm bumbu tumis yang disisihkan dengan kecap manis dan sisa minyak. Olesi sate dengan bumbu olesan hingga rata. Panggang di atas bara api atau elektric grill atau kompor (dengan wajan teflon) sambil dibalik-balik hingga matang. Angkat. Sajikan panas bersama bumbu kacang dan irisan jeruk nipis. Lengkapi dengan irisan cabe rawit dan potongan bawang merah (acar) jika suka serta taburan bawang goreng

Last Update: 2014-09-21
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

teman teman pelajar yang saya hormati

Last Update: 2014-09-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. 10 Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau di sana. 15 Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Mereka pun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis. 20 Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.” 25 Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itu pun menerimanya. 30 Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. 35 Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panici tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna. 40 Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama-kelamaan beras itu pun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya. Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.

celleng

Last Update: 2014-09-15
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Salak se’ nase’ Salak se’ nase’ merupakan salah satu salak dari Bangkalan yang enak rasanya. Jenis salak ini merupakan salak terbaik di Bangkalan. Buahnya berbentuk lonjong dengan bagian pangkal yang meruncing. Kulit buahnya bersisik besar dan berwarna kekuningan. Daging buahnya tebal, masir, dan rasanya manis. Bahkan, buah yang belum tua sekali pun sudah terasa manis. Selain manis, aroma salak ini juga harum merangsang selera. Biji buahnya kecil. Ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan salak kerbau, berat rata-rata 67 g per buah. Produktivitasnya tak berbeda jauh dengan salak si manggis, per pohon rata-rata menghasilkan 30 buah. Salak panjalin Salak penjalinan, berasal dari Bangkalan, Madura. Kecil, coklat-kekuningan, dan rasanya manis, renyah, dan masir Salak mangghis Salak ini juga berasal dari "Pulau Garam", tepatnya daerah Bangkalan, Madura. Buahnya berbentuk bulat. Kulit buahnya cokelat tua seperti warna buah manggis. Oleh karena itu, salak ini dinamakan salak si manggis. Kulit buahnya ini bersisik besar dan tersusun rapi seperti genting. Daging buah agak tebal, berwarna putih agak kuning, dan masir. Rasanya manis sedikit asam. Aroma buahnya cukup harum. Dibandingkan salak bangkalan lainnya, ukuran salak ini termasuk besar, berat rata-ratanya 87 g. Produksi rata-rata per pohon sekitar 30 buah atau sekitar 2, 5 kg buah. SALAK KERBAU Deskripsi Di daerah asalnya -Bangkalan, Madura - salak kerbau termasuk salah satu jenis salak yang cukup diminati karena enak rasanya. Disebut salak kerbau karena buahnya besar dan kulitnya cokelat kehitaman. Buahnya bulat lonjong dan tampak gemuk. Daging buahnya agak tebal dan berwarna putih. Rasanya cukup manis, empuk, dan segar karena kadar airnya cukup banyak. Aromanya harum. Berat rata-rata per buah 65-70 g

Indonesia to Madura

Last Update: 2014-09-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada waktu itu saya ingin sekali bermain bola, tetapi karena saya masih kecil dan ketika itu saya baru berumur 6 tahun jadi saya tidak diperbolehkan main oleh orang-orang dewasa yang sedang bermain bola. sayapun hanya bisa menonton dari luar lapangan. Sampai sekitar ada 30 menit saya menonton tiba-tiba ada satu pemain yang keluar karena ada kepentingan. Saya memaksa untuk main dan akhirnya diperbolehkan. Sewaktu saya main saya tidak dianggap yaitu tidak diberi umpan dan bahkan tidak pernah mendapat bola. Sampai akhirnya pada waktu saya mendapatkan bola yang pertama kalinya saya langsung berlari cepat melewati beberapa pemain dan saya langsung mencetak gol. Setelah gol itu saya menjadi lebih sering mendapat bola. Para orang dewasa itu pun mulai memperhitungkan saya. Sampai akhirnya pada akhir laga saya berhasil mencetak 7 gol. Saya sangat senang karena telah mencetak 7 gol mengingat saya yang tadinya tidak dianggap, dan sempat tidak pernah mendapat bola tetapi saya bisa mencetak 7 gol. Semua pemain melihat saya. Saya pun menjadi sangat bangga. Saya tidak akan melupakan pertandingan ini.indonesia ke madura

ketika saya bermain bola

Last Update: 2014-08-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation