MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: argumentasi budaya pop    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Susunan Upacara Pernikahan Adat Budaya Bali

susunan upacara pernikahan adat budaya bali

Last Update: 2013-02-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Susunan Upacara Pernikahan Adat Budaya Bali


Last Update: 2013-02-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

ciri ciri paraghraf argumentasi 1 menjelaskan agar pembaca yakin


Last Update: 2013-01-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

sebaik baiknya budaya orang, pasti lebih baik budaya sendiri

sebaik baiknya budaya orang, pasti lebih baik budaya sendiri

Last Update: 2013-01-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Ketoprak adalah salah satu warisan budaya, yang makin hari makin tersingkir oleh geliat modernisasi. Hiburan rakyat yang pada awalnya adalah apresiasi dari warga-warga desa untuk mendapatkan hiburan dengan menabuh lesung atau “gejogan” disaat bulan purnama.


Last Update: 2013-02-21
Subject: History
Usage Frequency: 2
Quality:

kaya akan kebudayaan


Last Update: 2013-03-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Prasasti Yupa uga diarani Prasasti Mulawarman iku salahsijining sumber sajarah peninggalan kerajaan Kutai sing wujudé tugu watu sing ana tulisané. Prasasti Yupa iki ditemo'aké déning petugas topografi Walanda taun 1879 lan saiki disimpen ing Museum Nasional ing Jakarta. Ana 7 iji Yupa peninggalan kerajaan Kutai kabèh ditulis nganggo aksara Pallawa lan nganggo basa Sansekerta. Salahsiji Yupa ana sing urung dadi sing saiki disimpen ing kompleks cagar budaya Muara Kaman, ing pinggir kali Mahakam, Kalimantan Timur.

Berbagai cara bisa dilakukan untuk menyambut tahun baru. Berbagi keceriaan dengan pesta kembang api ataupun riuhnya tiupan terompet menjadi salah satu yang biasa kita lihat untuk menyambut pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat. Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa. Bagi warga Solo mungkin perayaan malem selikuran keraton surakarta memiliki kesan tersendiri. Sebanyak seribu tumpeng akan diperebutkan oleh abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dan masyarakat sekitar. Tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun untuk memeringati malam selikuran atau malam ke dua puluh satu dalam hitungan bulan Ramadan yang biasa disebut malam Lailatul Qadar itu. Seribu tumpeng tersebut dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Solo yang berjarak sekitar 500 meter. Para abdi dalem juga membawa lampu menyerupai lampion atau ting. Sehingga kirab ini juga dikenal dengan nama ting-ting hik. Di depan barisan ancak canthaka, terdapat joli kencana atau kotak menyerupai anchak canthaka yang berukuran besar dan berbentuk menyerupai rumah-rumahan. Di dalam joli kencana tersebut terdapat ingkung. Setiap prosesi tumpeng seribu selalu ada dua joli kencana dan satu ting berukuran besar, lengkap dengan cap logo Keraton Surakarta. Tradisi malam selikuran dengan mengusung seribu tumpeng merujuk pada malam lailatul qodar yang jatuh pada malam ganjil di bulan Ramadan. Kirab dilakukan pada malam selikur sebagai malam ganjil. Dan pada malam lailatul qadar adalah malam seribu pahala jumlah pahala tersebut diibaratkan dengan jumlah seribu tumpeng. Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Last Update: 2013-03-08
Subject: General
Usage Frequency: 2
Quality:
Reference: Anonymous

Upacara Adat Bathok Bolu Upacara adat Bathok Bolu Alas Ketonggo diselenggarakan untuk mengenang nilai luhur kepasrahan Pangeran Ganthi/Sujono putra Sultan Hamengku Buwono V ketika meditasi menyatukan rasa di Keraton Kajiman Alas Ketangga Sambiroto. Selain itu upacara adat Bathok Bolu Alas Ketongo merupakan persembahan dan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada masyarakat Sambiroto. Dari sisi kebudayaan, kegiatan ini dapat menjadikan wahana internalisasi nilai-nilai budaya bagi masyarakat setempat khususnya pada generasi muda. Sisi pariwisata, diharapkan upacara adat ini dapat mengenalkan dan memasyarakatkan salah satu wisata religius di Kabupaten Sleman yang memiliki daya tarik tersendiri. Acara yang digelar dalam pembukaan biasanya berupa bazar di lapangan dusun pada siang dan malam hari. Untuk selanjutnya pada hari yang berbeda akan dilangsungkan pengambilan air dari Sendang Banyu Panguripan untuk kemudian dikirabkan secara sederhana di masjid setempat dilanjutkan dengan tahlil dan macapatan. Puncak acara diawali dengan kirab “banyu panguripan” dan ubarampe dimeriahkan dengan berbagai bregada prajurit, diantaranya Bregada Ganggeng Samodra, Bregada Bathok Bolu, punggawa desa yang dipimpin oleh 2 punggawa berkendaraan kuda. Selain itu juga akan ikut kirab bregada penderek dari para ulama, tokoh dan sesepuh masyarakat serta kelompok kesenian tradisional. Kirab tersebut berawal dari masjid setempat menuju ke Kraton Bathok Bolu Alas Ketonggo. Sesampainya di Kraton Bathok Bolu Alas Ketonggo kemudian di lakukan serah terima secara simbolis banyu panguripan dan uba rampe dari bregada prajurit kepada punggawa upacara adat. Upacara Adat Bathok Bolu (Upacara Ritual dalam rangka memperingati turunnya Wahyu Kraton di Desa Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman). Ziarah dengan filosofi kepasrahan ini diiringi dengan pembagian air suci. makna nilai nilai luhur yang terkandung adalah kebersamaan dan kegotoroyongan, ketauladanan/edukasi, sejarah dan budaya. Untuk lebih jelasnya ikuti uraian dibawah ini. a. Nilai luhur kebersamaan dan gotongroyong. Bahwa dalam pelaksanaan upacara adat dilakukan secara bersama-¬sama tidak memandang pada agama maupun pranata sosial seluruh masyarakat sambiroto dan sekitarnya sebagai perwujudan kekerabatan persatuan dan kesatuan antara arga tanpa memperdulikan dengan suatu maksud dalam pemahaman kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Nilai luhur kepribadian dan kepercayaan diri Bahwa dengan melaksanakan upacara ini masyarakat sambiroto merasa yakin akan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa dan akan mengabulkan segala permohonannya. Para pelaku upacara mempunyai semangat tinggi dan kepribadian yang mantap dan kuat untuk melabuhkan sosial naluri yang tertanam dalam kancah budaya spiritual. c. Nilai luhur ketauladanan Bahwa dengan melaksanakan upacara tersebut akan memberikan suri tauladan dan pewarisan nilai luhur budaya daerah kepada generasi muda dan masyarakat yang nantinya mampu menyerap, mengamalkan dan selanjutnya melestarikan d. Nilai luhur kepasrahan Bahwa melaksanakan upacara adat adalah wujud dari kepasrahan kepada Tuhan Yang Esa, tasyakur atas rahmat yang telah dilimpahkan kepada kita semua dengan rasa handarbeni dan melestarikan budaya berarti akan mewariskan kepada generasi selanjutnya. e. Tokoh Bathok Bolu, Tugiran sekdes Poromartani Kalasan. Hal hal yang diwariskan adalah untuk mengenang kepasrahan seseorang dalam menyatukan sarana meditasi kraton kajiman alas ketangga, sambiroto dan dijadikan tempat yang sakral yang dapat menyatakan rasa syukur kepada Yang maha Kuasa "Nyawijekke Rasa Pangrasa Anggayuh Nugrahaning Gusti”, sehingga masyarakat apabila tidak melaksanakan upacara tersebut dikhawatirkan akan mendapat bencana atau mara bahaya dengan yang bersemayam di kraton kajiman bathok bolu alas ketangga.


Last Update: 2012-11-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Warning: Contains invisible HTML formatting

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation