MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: cerita dewasa com    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Sejarah Pandawa Lima Kisah pewayangan merupakan kisah legendaris bagi masyarakat hindu. Di india maupun di Indonesia semasa nusantara dibawah jaman kerajaan hindu kisah tersebut mengakar dalam cerita rakyat, juga berkembang menjadi budaya di masyarakat nusantara. Seperti kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. kisah2 tersebut kemudian berakulturasi dengan kebudayaan jawa, dan diceritakan kembali dalam kisah pewayangan, meskipun mengalami sedikit perbedaan. Cerita filosofi wayang yang merupakan budaya hindu tersebut mulai menjadi filosofi jawa, yang digelar dalam acara2 penting pada masyarakat jawa. Pada masa kecilku, masih banyak sekali pertunjukan wayang digelar untuk merayakan upacara khitanan, perkawinan, ulang tahun instansi, atau pesta adat jawa. namun saat ini kebudayaan wayang sudahmulai tergradasi dengan budaya modern. Bioskop, Televisi, Playstation, dan berbagai teknologi baru, telah menggantikan hiburan massal seperti pertunjukan wayang. Budaya wayang dekat dengan masa kecilku, membuat kisah filosofisnya masih melekat dalam benakku. Pada tanggal 7 November 2003, wayang dianugerahi oleh UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga(Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Kisah Baratayudha, sebuah kisah pertempuran antara bala Pandawa dan Kurawa di Kurusetra, meninggalkan sepenggal legenda heroik yang sarrat makna. Pandawa yang merupakan Putra Pandu, terdiri dari 5 orang kesatria yang melambangkan kebaikan dan 5 sifat kesempurnaan manusia (khususnya pria). YUDHISTIRA Dalam pewayangan jawa lebih sering dikenal dengan Puntadewa, merupakan putra pertamapandawa yang memiliki sifat paling Jujur. dalam kisahnya Dia diceritakan tidak pernah berbohong selama hidupnya. Dia juga disebut Satria dari Amarta. Yudisthira adalah pemegang hak waris tahta Hastinapura yang sesungguhnya, karena ayahnya Pandu menitipkan Hastinapura kepada Destarata adiknya yang juga merupakan ayah para Korawa. Namun karena ketamakan Korawa, Pandawa menjadi teraniaya dan sering ditipu. BIMA Dalam pewayangan jawa Werkudara atau Bimasena, merupakan putra kedua Pandawa yang paling perkasa dan pemberani, tempramental namun mencintai kebenaran, ia dikenal denganGada Rujakpolo sebagai senjatanya yang paling terkenal. Werkudara adalah satria dari Jodiphati, wilayah dari Amarta. Dia menganggap semua orang sama derajadnya, sehingga dalam cerita pewayangan jawa, dia tidak pernah bicara dalam Bahasa Krama Inggil (bahasa jawa yang nilai rasanya paling halus) juga tidak pernah duduk ketika berbicara dengan orang lain. sifat khasnya yang lain, dia tidak suka berbasa-basi dalam berbicara, tanpa tading aling-aling dan tidak pernah menelan kembali ludahnya sendiri. ARJUNA dikenal juga dengan nama Janaka atau Permadi, diceritakan memiliki wajah yang rupawan, romantis, dan pecinta ulung dengan panah pasopati sebagai senjatanya. dalam berbagai kisah roman masa kini, kisah arjuna banyak dijadikan inspirasi percintaan para sastrawan. Janaka merupakan Satria dari Madukara. Arjuna memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Sembadradan Srikandi. Sembadra memiliki sifat yang lembut, lemah gemulai, anggun dan santun. sedangkan Srikandi memiliki sifat lincah, enerjik, bahkan ikut bertempur di Baratayudha bahu-membahu bersama suaminya. maka dalam masyarakat masa kini wanita karir dengan segudang prestasi sering dikiaskan dengan Srikandi istri sang Arjuna. Meskipun tampan dan rupawan, Arjuna merupakan kesatria tanpa tanding, selalu menang dalam setiap pertempuran. untuk itu dia juga pernah dijuluki Wijaya yang berarti tidak pernah kalah. dan yang terakhir adalah si kembar Nakula dan Sadewa merupakan saudara tiri dari ketiga pandawa sebelumnya. NAKULA mempunyai watak setia, taat, belas kasih, tahu membalas budi dan dapat menyimpan rahasia. dia memiliki kelebihan dalam ilmu pengobatan. dikisahkan dia memiliki ingatan yang tidak terbatas, sehingga dapat mengingat semua hal yang pernah ia alami. SADEWA Sadewa dikisahkan memiliki sifat bijak dan pintar. jika Nakula saudara kembarnya memilikiingatan masa lalu yang kuat, sadewa memiliki penglihatan masa depan karena Sadewa adalah seorang ahli perbintangan yang ulung (ramalan) dan dianggap mengetahui kejadian yang akan terjadi dalam Mahabharata namun ia dikutuk bahwa apabila ia membeberkan apa yang diketahuinya, kepalanya akan terbelah. Maka dari itu, selama dalam kisah ia cenderung diam saja dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Sadewa jugalah dengan kepintarannya akhirnya yang berhasil membunuh Sengkuni, paman dan penasihat Korawa yang paling pintar (licik). Dalam kisah Baratayudha, seteru pandawa adalah Korawa dengan Duryudana sebagai putra sulungnya, merupakan seratus bersaudara laki-laki yang merupakan sepupu pandawa. seratus berarti banyak maka Kurawa merupakan filosofis dari Tamak dan Serakah. Dalam kisah Baratayudha lahir pula berbagai sosok pahlawan yang gugur di medan Kurusetra. ABIMANYU Abimanyu: Tokoh yang sering terdengar namanya ini adalah putra Arjuna dari Dewi Sembadra,merupakan sosok yang lembut, namun keras hati. dia seorang yang cerdik, ahli strategi, dan patuh kepada ayahnya. Pada hari ketiga belas perang Bharatayuddha, Abimanyu tewas dalam formasi Chakrayuha korawa yang sebenarnya digunakan untuk menjebak Pandawa yang begitu tangguh. namun Abimanyu yang berhasil memporakporandakan formasi korawa malah tertinggal dalam Chakrayuha sendirian, karena para pandawa yang lain dipancing keluar. dengan gagah berani Abimanyu bertarung seperti banteng terluka menjelang ajalnya di medan Kurusetra. Bahkan sempat menewaskan Laksamana, Putra kesayangan Duryudana. Abimanyu merupakan sosok pejuang sampai titik darah penghabisan. GATOTKACA Gatotkaca merupakan putra Bima dengan dewi Arimbi, kesatria sakti mandraguna dari Pringgodani. dikisahkan sebagai seorang manusia setengah raksasa yang gagah perkasa, memiliki sifat pemberani rela berkorban, dan pantang menyerah. Ketika lahir, ia di masukkan dalam kawah candradimuka sehingga benar2 menjadi kesatria yang tertempa. Dia bisa terbang, memiliki otot kawat balung wesi (otot kawat tulang besi). Gatotkaca memiliki dua orang saudara tiri yang juga sangat sakti yaitu Antareja dan Antasena, namun kedua saudaranya tersebut meningal sebelum perang baratayudha. Gatotkaca tewas oleh Adipati Dorna dengan satu-satunya senjata yang bisa membunuhnya yaitu Kuntawijayadanu, sebuah keris yang digunakan untuk memoton tali pusarnya sewaktu lahir. Dan di hari tewasnya Gatotkaca menukar nyawanya dengan seribu nyawa pasukan Korawa.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indonesiaRaden Sadewa memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Dalam hal olah senjata, sadewa ahli dalam penggunaan pedang. Nama-nama lain dari Sadewa adalah Sudamala, dan Madraputra. Dalam penyamaran di Negri Wirata Sadewa menjadi pengurus taman kerajaan di Wirata bernama Tantripala. Jika Nakula tak dapat lupa akan segala hal maka, Sadewa juga memiliki ingatan yang kuat serta ahli dalam hal menganalisis sesuatu. Sadewa juga ahli dalam hal Metafisika dan dapat tahu hal yang akan terjadi. Ini diperoleh dari Ditya Sapulebu yang dikalahkannya dan menyatu dalam tubuhnya saat Pandawa membuka hutan Mertani. Selain itu, Sadewa mendapatkan wilayah Bumiretawu atau juga disebut Bawertalun. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati putri Begawan Badawanganala dan berputra Bambang Widapaksa. Selain itu Ia juga menikah dengan Dewi Rasawulan, putri dari Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamiral. Menurut kabar, yang sanggup memperistri Dewi Rasawulan akan unggul dalam Baratayuda Di saat yang sama Arjuna dan Dursasana juga datang melamar, namun yang memenakan sayembara pilih itu hanyalah Sadewa karena ia sanggup menjabarkan apa arti cinta sebenarnya. Sebelum pecah Baratayuda, ada dua raksasa penjelmaan Citraganda dan Citrasena yang bernama Kalantaka dan Kalanjaya yang datang ke Astina hendak membantu kerajaan Astina. Kedua raksasa tersebut sebenarnya hanyalah jin biasa, namun karena dikutuk oleh Batara Guru akibat mengintip Batara Guru dan Dewi Uma yang sedang mandi di telaga. Kehadiran kedua raksasa tersebut tenyata menimbulkan kegusaran dalam diri Dewi Kunti. Dewi Kunti lalu memohon pada Batari Durga agar kedua raksasa tersebut dimusnahkan. Batari Durga meminta Sadewa sebagai tumbalnya. Mendengar hal itu, Dewi Kunti tidak setuju dan kemudian kembali ke Amarta. Batari Durga kemudian menyuruk Kalika, seorang jin anak buahnya untuk menyusup kedalam tubuh Dewi Kunti. Dalam keadaan kerasukan, Dewi Kunti menyuruh sadewa sebagai tumbal dan diminta menghadap Batari Durga. Sadewa pun hanya menurut perintah ibu tirinya yang telah mengasuhnya dari kecil. Sesampainya di hutan, Batari Durga minta diruwat oleh Sadewa menjadi putri yang cantik. Sadewa tidak sanggup melakukannya dan lalu akan dimangsa oleh Batari Durga. Sang Hyang Narada yang mengetahui hal itu lalu melaporkannya pada Batara Guru. Batara Guru lalu merasuk kedalam tubuh Sadewa dan meruwat Batari Durga. Kemudian kedua raksasa jelmaan Citraganda dan Citrasena dimusnahkan. Cerita ini dikenal dengan lakon Sudamala. Setelah perang baratayuda selesai, Sadewa memilih menjadi patih Hastina dan juga pendamping Puntadewa. Akhir hidupnya diceritakan mati moksa dengan saudara-saudaranya. Dalam pewayangan gaya Yogyakarta, wayang Nakula dan Sadewa dibedakan oleh jamang lidi (semacam hiasan kepala) yang di tunjuk dalam gambar dibawah. Sadewa menggunakan jamang lidi sedang Nakula tidak. ke bahasa jawa

Raden Sadewa memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Dalam hal olah senjata, sadewa ahli dalam penggunaan pedang. Nama-nama lain dari Sadewa adalah Sudamala, dan Madraputra. Dalam penyamaran di Negri Wirata Sadewa menjadi pengurus taman kerajaan di Wirata bernama Tantripala. Jika Nakula tak dapat lupa akan segala hal maka, Sadewa juga memiliki ingatan yang kuat serta ahli dalam hal menganalisis sesuatu. Sadewa juga ahli dalam hal Metafisika dan dapat tahu hal yang akan terjadi. Ini diperoleh dari Ditya Sapulebu yang dikalahkannya dan menyatu dalam tubuhnya saat Pandawa membuka hutan Mertani. Selain itu, Sadewa mendapatkan wilayah Bumiretawu atau juga disebut Bawertalun. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati putri Begawan Badawanganala dan berputra Bambang Widapaksa. Selain itu Ia juga menikah dengan Dewi Rasawulan, putri dari Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamiral. Menurut kabar, yang sanggup memperistri Dewi Rasawulan akan unggul dalam Baratayuda Di saat yang sama Arjuna dan Dursasana juga datang melamar, namun yang memenakan sayembara pilih itu hanyalah Sadewa karena ia sanggup menjabarkan apa arti cinta sebenarnya. Sebelum pecah Baratayuda, ada dua raksasa penjelmaan Citraganda dan Citrasena yang bernama Kalantaka dan Kalanjaya yang datang ke Astina hendak membantu kerajaan Astina. Kedua raksasa tersebut sebenarnya hanyalah jin biasa, namun karena dikutuk oleh Batara Guru akibat mengintip Batara Guru dan Dewi Uma yang sedang mandi di telaga. Kehadiran kedua raksasa tersebut tenyata menimbulkan kegusaran dalam diri Dewi Kunti. Dewi Kunti lalu memohon pada Batari Durga agar kedua raksasa tersebut dimusnahkan. Batari Durga meminta Sadewa sebagai tumbalnya. Mendengar hal itu, Dewi Kunti tidak setuju dan kemudian kembali ke Amarta. Batari Durga kemudian menyuruk Kalika, seorang jin anak buahnya untuk menyusup kedalam tubuh Dewi Kunti. Dalam keadaan kerasukan, Dewi Kunti menyuruh sadewa sebagai tumbal dan diminta menghadap Batari Durga. Sadewa pun hanya menurut perintah ibu tirinya yang telah mengasuhnya dari kecil. Sesampainya di hutan, Batari Durga minta diruwat oleh Sadewa menjadi putri yang cantik. Sadewa tidak sanggup melakukannya dan lalu akan dimangsa oleh Batari Durga. Sang Hyang Narada yang mengetahui hal itu lalu melaporkannya pada Batara Guru. Batara Guru lalu merasuk kedalam tubuh Sadewa dan meruwat Batari Durga. Kemudian kedua raksasa jelmaan Citraganda dan Citrasena dimusnahkan. Cerita ini dikenal dengan lakon Sudamala. Setelah perang baratayuda selesai, Sadewa memilih menjadi patih Hastina dan juga pendamping Puntadewa. Akhir hidupnya diceritakan mati moksa dengan saudara-saudaranya. Dalam pewayangan gaya Yogyakarta, wayang Nakula dan Sadewa dibedakan oleh jamang lidi (semacam hiasan kepala) yang di tunjuk dalam gambar dibawah. Sadewa menggunakan jamang lidi sedang Nakula tidak.

Last Update: 2014-10-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon. Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan. Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya. Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut. Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya. Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias. Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai. Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu. Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut. Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain. BIDING LAUT DI TANAH JAWA Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu. Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga. Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten. Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya. Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya. Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur. TENGGELAM DI LAUT SELATAN Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati. Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan. Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan. Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan. KEMBALINYA KANJENG RATU NYI RORO KIDUL – BIDING LAUT Setelah begitu lama menjadi penguasa pantai selatan akhirnya Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul diketahui dari mana asal muasalnya. Ternyata Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul adalah Biding Laut Putri Stilting dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon, hilangnya Biding Laut begini ceritanya; Ketika terjadi skandal cinta antara Saribu Raja dengan Boru Pareme kedua adeknya Limbong Mulana dan Sagala Raja bersekutu untuk membunuh Saribu Raja karena dianggap telah membuat aib keluarga, kemudian Lau Raja segera memberitahukan serta menyuruh Saribu Raja agar pergi dari kampung halamannya. Mendengar berita dari adeknya bahwa Saribu Raja pergi meninggalkan kampung halamannya sedangkan Boru pareme bersembunyi ke hutan. Sebelum berangkat Saribu Raja berpesan pada kakaknya Biding Laut agar menjaga dan membina adik-adik mereka semua. Katanya “seharusnya saya yang bertanggung jawab kak, untuk menjaga dan membina adek-adek kita tapi saya telah gagal dan akan pergi meninggalkan kampung halaman kita. Kakak tidak perlu mencari saya, permintaan saya kakak menjaga, memelihara, mengayomi adek-adek kita serta menjaga keutuhan nama besar keluarga kita”. Dengan berlinang airmata Biding Laut bertanya, adikku kemana gerangan kamu pergi? kamu adikku juga, saya yang seharusnya menjaga kamu dari segala bahaya, apalagi yang berniat membunuhmu adalah adik kita, kamu tidak perlu takut, tinggallah disini, kita selesaikan permasalahanmu secara kekeluargaan. Namun tekad dan pendirian Saribu Raja sudah bulat untuk pergi. Dia berpesan kepada Biding Laut dia akan ke Barat dan tidak perlu mencarinya. Sebagai anak sulung Biding Laut berpikir harus mencari adiknya dan mempersatukan kembali adik-adiknya. Biding Laut bertekad harus menemukan Saribu Raja agar terhindar dari pembunuhan adiknya. Biding Laut mengambil keputusan berangkat mencari adiknya Saribu Raja ke arah Barat. Pencarianpun mulai dilakukan Biding Laut sesuai yang dikatakan adiknya bahwa dia berangkat ke arah Barat. Biding Laut pun menelusuri jalan kearah Barat, karena sangat sayang terhadap adiknya, Biding Laut tidak mengenal siang dan malam bahkan terhadap hujan dan panas serta teriknya matahari tetap dilaluluinya. Meski telah menyusuri lembah, menyeberangi sungai, mendaki gunung namun Biding Laut tidak menemukan adiknya. Dalam benaknya dia bertanya apakah adiknya masih hidup atau adiknya sengaja membohingi dirinya dengan mengatakan dia pergi ke Barat padahal ke Timur! Tanpa sadar Biding Laut sampai di sebuah desa ditepi pantai tempat sandar nelayan penangkap ikan, dengan penuh harapan dia bertanya pada seorang nelayan apakah pernah melihat seorang asing lewat atau tinggal di desa itu. Setiap orang yang ditanya Biding Laut selalu menjawab bahwa mereka tidak pernah ada yang melihat adiknya. Dengan perasaan kesal dan kecewa memikirkan sang adik akhirnya Biding Laut beristirahat ditepi pantai untuk melepas rasa penat dan lelah. Dari pinggir pantai Biding Laut melihat sebuah pulau timbul pikirannya jangan ¬jangan adikku bersembunyi disana, lalu dia bertanya kepada seorang nelayan, pak nama pulau itu apa? Sang nelayan menjawab, pulau mursala, lalu Biding Laut meminta pak nelayan untuk mengantarnya ke pulau tersebut. Setelah sampai dipulau itu, dia mencari disetiap pelosok pulau namun tidak menemukan adiknya Saribu Raja, biding laut berteriak-teriak memanggil nama adiknya dipulau itu namun tidak ada jawaban. Sambil merenungkan kira-kira kemana lagi dia harus mencari adiknya, Biding Laut bersandar pada sebuah pohon sambil menikmati sejuknya angin yang berhembus membuat rasa kantuk tidak tertahankan tanpa sadar dia tertidur. Tanpa sepengetahuan Biding Laut ternyata dari seberang, ada seorang pemuda yang membuntutinya, pemuda itu kagum melihat keberanian Biding Laut dan kelembutan serta wajahnya yang cantik. Timbullah hasrat si pemuda itu untuk mendapatkan Biding Laut. Pemuda itu menghampiri Biding Laut yang tertidur pulas serta membangunkannya, pemuda itu menawarkan jasa untuk mengantarkan Biding Laut keseberang. Sambil berjalan Biding Laut bertanya kepada pemuda itu apakah pernah bertemu atau melihat orang asing karena saya sedang mencari adik saya Saribu Raja. Mengapa kamu mencari orang yang tidak tahu dimana dia berada kepada saya kata pemuda itu. Saya tidak pernah melihat ataupun mendengar Saribu Raja adikmu dan kalaupun saya pernah melihat atau mendengar saya tidak akan memberitahukannya sebab kamu anggun dan cantik jadi kamu lebih pantas menjadi istri saya, kata pemuda itu merayu. Mendengar jawaban pemuda itu Biding Laut naik pitam dan mengusir pemuda itu. Pemuda itupun pulang ke desanya dengan membawa dendam dihati. Keesokan harinya pemuda itu memberitahukan kepada temannya bahwa ia ditantang dan dipermalukan oleh seorang gadis yang cantik dan sakti. Mendengar pengaduan pemuda itu teman-temannya marah serta mengajak pemuda itu menunjukkan dimana tempatnya dan berangkatlah mereka ke pulau mursala. Tanpa banyak tanya, anak-anak muda tersebut mengeroyok Biding Laut yang sedang santai menikmati segarnya udara pagi. Tangan dan kakinya diikat, ditelanjangi lalu diperkosa secara bergantian sampai Biding Laut tidak sadarkan diri lalu dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut. Dia pasrah bahwa kematian akan datang, jasadnya boleh mati tetapi Roh kesaktiannya harus tetap hidup, sebab tugas belum terlaksana adiknya Saribu Raja harus ditemukan dimanapun dia berada. MENURUT LITERATUR YANG LAIN Sebagaimana legenda, mitos, hikayat, dan alkisah, Ratu Laut Selatan, atau yang lebih dikenal sebagai Nyi Roro Kidul, juga mempunyai awal mula. Ceritanya bukanlah penuh bahagia. Seperti halnya sinema elektronik, ada masa di mana kita merasa mengenali jalan sejarahnya. Nampak tidak asing dan sering kita dengar sebelumnya. Nyi Roro Kidul, dikatakan, dahulunya adalah seorang wanita berparas elok bernama Kadita. Karena kecantikannya, dia sering disebut Dewi Srengenge, yang artinya Matahari Wangi. Kadita adalah putri Raja Munding Wangi. Walaupun ia berwajah menawan, duka Raja tak bisa dihilangkan karena mendamba anak lelaki untuk melanjutkan kepemimpinannya. Kegundahan Raja baru hilang setelah ia memperistri Dewi Mutiara. Dari rahim istri barunya, lahirlah seorang putra. Raja amat bahagia, demikian pula Dewi Mutiara. Dia memang mengharapkan anaknya menjadi penguasa kerajaan dan Raja pun merestuinya sebagai pewaris tahta. Namun, meski demikian, Dewi Mutiara tidak menginginkan kekuasaan anaknya nanti mendapatkan tandingan. Dan, itu hanya bisa terjadi jika Kadita tetap tinggal di kerajaan. Dewi Mutiara membujuk Raja Munding Wangi untuk mengusir Kadita. Ide ini, tentu saja, dimentahkannya dengan tinggi nada bicara. Dewi Mutiara tidak membantah, menggantinya dengan perkataan manis dan menuruti apa pun kehendak sang Raja. Kemarahan Raja pun berangsur surut, memaafkan Dewi Mutiara meski kata-katanya sempat membakar isi dada. Di lain pihak, Dewi Mutiara diam-diam tidak menerima keputusan suaminya. Dia pun mengatur rencana agar Kadita terusir dari kerajaan. Esok harinya, ia mengirimkan inang pengasuh untuk memanggil seorang tukang sihir. Kepadanya diperintahkan, agar kepada Kadita dikirimkan guna-guna. Penyihir itu pun menyanggupi. Singkat cerita, ketika malam tiba, tatkala Kadita sedang lelap, masuklah angin semilir ke dalam kamarnya. Angin itu berbau busuk, mirip bau bangkai. Ketika Kadita terbangun, dia menjerit. Seluruh tubuhnya penuh dengan kudis, bernanah, dan sangat berbau tidak enak. Saat Raja mengetahui penyakit yang menimpa putrinya, ia tahu hal itu pastilah guna-guna. Dia juga mencurigai istrinyalah pelaku kejahatan itu. Akan tetapi, bagaimana cara membuktikannya? Namun, kalaupun terbukti, bagaimana dengan Kadita? Raja harus segera memutuskan nasibnya. Atas desakan Patih, Kadita pun diasingkan keluar kerajaan agar tidak menjadi aib keluarga. Maka, pergilah Kadita seorang diri. Hatinya remuk redam. Air matanya berleleran. Tetapi, dia tetap tak mau menyumpahi orang-orang yang mencelakainya. Ia masih ingat ajaran neneknya, bahwa mendendam dan membenci bukanlah sikap yang istimewa. Siang dan malam Kadita berjalan. Tanpa arah, tanpa tujuan. Pada hari-7, ia tiba di pantai Selatan. Ketika berdiri memandang luasnya samudera, ia mendengar suara yang memanggilnya. Menyuruhnya menceburkan diri ke dalam laut. Saat Kadita mengikuti petunjuk suara itu, kala Kadita tersentuh air laut, tubuhnya pulih kembali. Semua penyakitnya hilang. Kadita pun menjelma cantik seperti sediakala. Tidak hanya itu, ia segera menguasai seluruh lautan dan isinya, mendirikan kerajaan yang megah, kokoh, indah, dan berwibawa. Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon. Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan. Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya. Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut. Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya. Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias. Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai. Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu. Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut. Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain. BIDING LAUT DI TANAH JAWA Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu. Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga. Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten. Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya. Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya. Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur. TENGGELAM DI LAUT SELATAN Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati. Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan. Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan. Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan. KEMBALINYA KANJENG RATU NYI RORO KIDUL – BIDING LAUT Setelah begitu lama menjadi penguasa pantai selatan akhirnya Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul diketahui dari mana asal muasalnya. Ternyata Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul adalah Biding Laut Putri Stilting dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon, hilangnya Biding Laut begini ceritanya; Ketika terjadi skandal cinta antara Saribu Raja dengan Boru Pareme kedua adeknya Limbong Mulana dan Sagala Raja bersekutu untuk membunuh Saribu Raja karena dianggap telah membuat aib keluarga, kemudian Lau Raja segera memberitahukan serta menyuruh Saribu Raja agar pergi dari kampung halamannya. Mendengar berita dari adeknya bahwa Saribu Raja pergi meninggalkan kampung halamannya sedangkan Boru pareme bersembunyi ke hutan. Sebelum berangkat Saribu Raja ber

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-02
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahaTERIMAKASIH UNTUK KEPERCAYAANMU Kehidupan yang nestapa, kehidupan yang kelam, kehidupan yang gelap. Kehidupan ku yang hambar tanpa warna dan rasa. Kehidupan ku yang hitam putih.. tak berhias apa pun disisi nya. Sudut kepedihan adalah hal yang sering kutemui di hidup ku. tak ada ruang bagiku untuk menemukan kebahagiaan di balik jeruji kesedihan. Kemana? Kemana kebahagiaan ! kenapa semua nya menghilang!? Apa yang terjadi padaku? Kenapa semuanya terasa hancur dan kacau? Seperti becahan beling yang tajam menusuk. Kemana kehidupan ku yang dulu? Yang pernah ada canda tawa di sudutnya? Yang selalu bewarna di setiap celah nya.. kemana? Oh kemana?! Aku hanya bisa menyesali semuanya. Menyesali setiap kesalahan yang pernah kuperbuat di masa lalu ku. tapi itu sudah tak ada guna nya, karena kini. Aku sudah tak dianggap lagi di muka bumi ini. lantas, untuk apa aku hidup ? Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, sambil memandang pantulan tubuh ku dari sebuah cermin besar di dekat ku. aku melihat, tubuh ku yang begitu dekil dan sangat menyedihkan. Baju compang-camping. Badan kurus kering dengan beberapa luka sayatan di lengan. Oh tidak, tidak.. itu sepertinya bukan ku! itu sepertinya seorang pengecut di masa lalu yang kini tengah menyesali semuanya. “Kenapa mas?” tanya salah seorang gadis dari balik pintu dibelakang ku. Aku menoleh ke arahnya, dengan senyuman sinis. Maklum saja, sudah hampir satu tahun setengah aku tak pernah tersenyum manis.. paling-paling senyum sinis. “Enggak ada apa-apa kok, kenapa emang?” “Ooh gitu, ya enggak aja sih. Kirain saya mas mau beli cermin besar itu” tunjuknya ke arah cermin yang berada di depan ku. aku hanya menggeleng dan menudukkan kepalaku. “Apakah penampilan ku ini seperti yang hendak membeli cermin?” tanyaku pada gadis itu dengan tatapan kosong. Ia mengangkat bahunya, menghela nafas dalam-dalam kemudian menjawab, “Enggak juga sih mas.. kan mungkin aja gitu” Aku terdiam, kemudian meninggalkan gadis tersebut. Aku menyusuri jalanan setapak tanpa alas kaki. Kurasakan kedua telapak kakiku yang terasa pecah-pecah dan sangat kotor oleh debu dan lumpur. Ingin sekali aku mandi lalu mengenakan baju baru dan bersih sambil menata kembali kehidupan ku yang dulu. Tapi itu rasanya mustahil. Aku merasa sangat kasihan pada diriku sendiri. Merasa seperti sampah yang tak diperlukan oleh masyarakat. Walau pun sebenarnya aku bukan sampah, aku hanya seorang pria yang terjebak dalam kelam nya dunia narkotika. Mencari jalan untuk kembali pada-Nya, tapi kurasa aku sudah terlalu jauh dalam kesesatan yang nyata. Kemana lagi aku akan mencari tempat untuk berteduh? Mengeluh? Apakah aku harus kembali ke rumah ku? oh tidak,tidak! Itu sama saja aku menyerahkan diriku untuk merasakan siksaan dari kepedihan keluarga ku. Masih terbayang dalam pikiran ku ketika aku ketahuan oleh keluargaku menggunakan narkoba. Ekspresi ayah ku membeku seperti es dengan raut mata yang menunjukkan rasa kekecewaan yang sangat. Lalu ibuku, yang menangis tersedu-sedu karena tak dapat menggampai ku.. sedangkan kakak ku, kak Tasya ia hanya bisa diam dalam kekecewaan terdalam. Bukan kah itu sudah cukup ? aku tak ingin membuat mereka kembali menjadi seperti dulu dengan adanya kedatangan ku. aku takut, aku tak punya rumah untuk kembali. Aku sekarang hanya bisa tinggal dijalanan dengan sisa usia ku. aku merasa tak bisa banyak berbuat. Pikiran ku melayang, pusing rasanya. Aku tak punya uang lagi untuk membeli lintingan ganja di Bos Belo. Si penggedar paling terkenal di kota ku. Aku diam, masih membayangkan pilunya masa lalu ku, masih terpuruk dalam masa lalu ku yang kelam..begitu kelam. Rasanya aku ingin memutar kembali waktu dan ingin kuperbaiki semuanya! Langkah kakiku terhenti di depan masjid yang berwarna putih dan perak. Masjid itu begitu besar nan luas. Mataku jauh memandang ke arahnya. Rasanya, aku ingin sekali menginjakkan kedua kakiku kedalam bangunan suci itu, kemudian solat dan memohon ampunan kepada ALLAH SWT. Tapi rasanya, aku tak bisa.. banyak bacaan solat dan surat-surat pendek yang sudah kulupan. Jangankan bacaan solat dan surat pendek, cara berwudhu saja aku sudah lupa. Aku makin merasa down dengan keadaan ku yang sekarang. Ingin tobat saja sudah lupa caranya. Bagaimana ini? apa yang akan kulakukan selanjutnya? Kembali meneruskan perjalanan ku yang tiada akhir dan ujung? Dan menunggu ajal menjemputku? Klasik! “Permisi mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang pria dari belakang, membuyarkan lamunan ku. Aku terdiam sejenak, aku memandang pria berbadan besar itu. Ia mengenakan pakaian kokoh serba putih, rambutnya yang hitam pekat ia tutupi dengan kopiah putih polosnya. “Tidak ada apa-apa mas, saya Cuma jalan-jalan. cari kehidupan saya yang telah menghilang..” entah kenapa setelah aku berkata seperti itu, pria itu mengkerutkan dahinya. Kedua mata nya memandang ku dengan tatapan heran, ia sepertinya melihatku seperti yang tak asing. “Lho.. Akbar! Kamu Akbar kah?” pria itu berkata dengan penuh semangat. Aku kemudian berpikir, berusaha mengingat siapakah gerangan pria itu.. hmm..siapa ya dia? Dan.. otakku menemukan jawabannya! Ternyata itu adalah Karno. Sahabat ku ketika aku masih SMA, “Iyah ini Akbar, kamu Karno ya?” jawab ku dengan perasaan lega. Ya lega.. setidaknya ada seseorang yang masih mengenali ku walau pun aku sudah berubah pesat. “Iyah Bar, ini aku Karno. Duh gimana kabar mu? Jarang kelihatan ya sekarang?” “Aku lagi nggak baik-baik No, ya biasalah .. kamu tahukan aku. Aku habis diculik sama dunia kelam ku!” “Oh begitu kah? Okeh.. kita ngobrol nya di warung sana aja yuk? Sambil ngopi-ngopi” ajak nya, ia menggegam tangan kanan ku. lalu kami berdua menuju sebuah warung yang berukuran lumayan besar di daerah luar masjid. Setelah Karno memesan pesanan kami berdua, ia lalu mengajakku untuk bercerita tentang kehidupan ku selama satu tahun lebih kemarin. “Aku nggak yakin mau cerita ini sama kamu, No..” aku berkata demikian, nyali ku rasanya ciut. Kamu, kamu memang punya seribu tebakan buatku. Tingkah laku mu yang misterius, tak pernah tertebak oleh ku apa isi hatimu ketika kamu berada disampingku. Tapi entah mengapa kamu tetap ingin menjadi seseorang yang spesial di hidupku, aku sendiri tidak punya kelebihan apa-apa. Selain diriku yang hanya seorang gadis energic dan sangat ceria, dan selalu hadir di kehidupan mu tak henti. Namun aku .. sangat senang telah mengenalmu, dan aku sangat bersyukur pada Tuhan karena.. di waktu-waktu terakhirmu, aku bisa membuatmu tersenyum walau dengan tangisan air mata yang menyeruak meleleh di kedua pipimu. Yeah.. setidaknya, pada saat itu, kamu memberiku kepercayaan untuk memiliki mu.. walau itu hanya sebentar.. +++ “Ayda, tumben belum pulang?” tanya Rangga ketika aku masih duduk di depan kelas seorang diri, walau hari telah petang. Aku menggelengkan kepala lalu tersenyum simpul padanya, ya.. aku tak dapat mengatakan apa pun, karena tubuhku terasa kaku dan jantungku berdebar kencang ketika ia menyapa ku, mendekatiku atau berhadapan. Rangga membalas senyuman ku dengan manis, kemudian ia duduk di sampingku sambil melempar tas nya yang bewarna abu-abu pekat itu ke sampingku. Ia kemudian duduk dengan santai di lantai depan kelas ku sambil melihat ke arahku, dengan tatapan misterius. Aku menundukkan kepala, seperti biasanya. Entah aku tak dapat melakukan apa pun ketika ia melihat ku dengan tatapan misterius seperti itu, aku takut salah membalas tatapannya dan malah menimbulkan gelak tawa. Rangga, cowok kelas 9A, kelas unggulan. Ia terkenal misterius dan lucu. Punyabody gede dan tinggi, tekstur tubuhnya cocok buat jadi pemain basket andalan. Matanya yang bewarna coklat muda jernih, kulit putih agak kecoklatan dan wajahnya yang manis dan nggak pasaran. Aku bingung, kenapa cowok seperti Rangga mau mengajak ku ngobrol, padahal Rangga itu termaksud cowok nomer 1 terpopuler di sekolah, karena keahliannya di bidang basket. Dan selalu mendapat juara satu terus menerus setiap diikut sertakan pertandingan. Sedangkan aku? Seorang Ayda Ashida kelas 9K , kelas ku yang lebih sering disebutkelas buangan. Fisikku juga biasa saja, seperti anak perempuan lainnya. Rambut panjang diikat satu, kulit sawo matang, wajah sederhana tanpa bintik jerawat, bodysedang, tinggi dan nggak menunjukkan sexy. Pokoknya sangat sederhana, dengan prestasi sederhana dan hanya menonjol di bidang melukis saja. Aku malah justru heran dengan Rangga yang mendekatiku, padahal ada banyak seribu wanita yang mengejarnya setiap hari demi mendapatkan hati Rangga, si cowok cool itu. Namun tetap saja, Rangga tak pernah membuka hatinya pada wanita mana pun. Dan.. justru, Rangga malah saat ini selalu ingin mendekatiku, menyapa ku dan seperti yang ingin mendapatkan hatiku. Namun, aku sih sadar diri saja! Aku nggak mau terlalu dekat dengannya, takut malah menimbulkan konflik dengan para fans Rangga di sekolah ini. “Ayda, pulang bareng yuk?” “Eeh? Pu..pulang bareng? Enggak deh Rang! Lain waktu aja ya? Aku ga biasa pulang sama cowok, hehehe” sialan! Harusnya aku tidak menolak ajakkan Rangga.. namun aku harus sadar diri! “Hmm.. yang bener Da? Oke deh! Sekarang kamu lagi nunggu siapa? Jemputan?” “Sekarang sih iyah, tunggu jemputan. Kalau kamu?” “Aku sih nunggu kamu sampai pulang aja” “Weh!! Lebay deh! Hehehe” “Biarin!” Jantungku berdetak kencang dari biasanya, yeah! Barusan adalah momen dimana untuk pertama kalinya Rangga mengajakku pulang bareng! Weh.. enak banget ya? Mimpi apa aku semalam? Hahaha… tapi, mau tak mau aku harus menolak ajakannya. Bukannya sok jual mahal atau karena dijemput, hanya saja sadar diri aja deh! Sebelum konflik membanjiri diriku terlebih dahulu. Aku kemudian menunggu beberapa menit lagi dan tak lama setelah itu, ada pesan masuk dari kakakku yang berisikan kalau ia sudah berada di depan gerbang sekolah. So jemputan yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang juga. Aku segera beranjak dari depan kelasku seraya melambaikan tangan pada Rangga dengan ekpresi wajah salah tingkah. Ternyata Rangga membalas lambaian tangan ku! Plus… ia juga tersenyum manis kepadaku! Oh ya Tuhan.. indahnya!! bersambung Hari ini, hari kamis. Hari dimana aku harus masuk sekolah lebih awal dari biasanya. Yeah.. pukul enam pagi harus sudah di kelas. karena setiap kamis kami dijadwalkan pulang lebih awal, yaitu pukul sembilan pagi. Jadi masuknya pun harus lebih awal. Namun aku kecolongan pagi ini, aku lupa kalau hari ini hari kamis dan aku juga lupa memasang jam waker untuk membangunkan ku pukul lima. Dan alhasil.. pukul 5.30 aku baru saja bangun! Sialan.. belum mandi dan belum pula sarapan ditambah waktu yang dihabiskan untuk perjalanan di sekolah. 6.00 tepat dimana aku baru usai makan. Aku menepuk jidatku ketika melihat jam dinding pink yang terletak di ruang tamu itu menunjukkan pukul enam pagi pas. Aku segera mengenakan sepatu kats hitam putihku yang diselingi dengan garukkan kepala yang agak gatal. Seusai mengenakan sepatu, aku pamit kepada orang-orang rumah. Kemudian setelah itu, aku dan kakakku mulai menerobos gerbang rumah dengan cepat, melesat bagai rudal dengan kecepatan tinggi. Seperti yang bisa kita tebak, pukul 06.19 aku baru sampai depan gerbang sekolah dan.. gerbang sekolah sudah ditutup ternyata! Huh telat lagi, hampir 2 pekan terakhir ini aku telat. Yaahh.. terpaksa menunggu jam pelajaran pertama usai, karena itu peraturan sekolah ku. Aku duduk terpangku di depan gerbang sekolah dengan perasaan kacau, kesal dan kecewa pada diri sendiri. Mengingat kebodohan yang telah kulakukan 2 pekan terakhir ini. Mana Cuma aku sendiri yang ada di depan gerbang ini! yeah.. percis kucing kehilangan sang jantan dan sedang menunggu sang jantannya pulang. Aku menundukkan kepalaku, kepalaku tenggelam di lekukan tangan yang kulipat erat, dengan membawa sedikit angan agar gerbang ini terbuka, lalu aku dibiarkan masuk agar bisa mengikuti pelajaran kembali. Ahh.. cuman keinginan yang tak tersampai, sampai sejauh kuberimajinasi, takkan ada yang berubah. Kecuali menunggu jam pelajaran pertama usai. Tiba-tiba ditengah aganku yang terbang jauh, kudengar di sampingku ada langkah kaki yang mendekat disertai nafas yang memburu, yeah.. sangat memburu. Ia sepertinya bernasib sama denganku, kesiangan. “Ayda, kesiangan juga?” Suara itu adalah suara yang sangat kukenal baik, membuatku tersentak dan segera melirik ke sampingku. Ohh ya Tuhan! Betapa terkejutnya aku! Ternyata itu adalah Rangga! Ia ternyata kesiangan juga! “Hehe iyah Rang, aku kebobolan. Lupa pasang alarm plus lupa kalau sekarang hari kamis” “Oh gitu ya? Senasib dong! Aku juga sama tragedinya sama kamu. Btw bosen nih, mau ngapain ya?” “Ga tau Rang, aku bingung. Huh.. bt pula!” “Yaudah, kita main yuk? Ke taman kota? Kan disana seger tuh.. lagi pula nunggu jam pelajaran pertama usai kan lama, gimana?” Aku mengaanguk pelan dengan rasa senang bercampur gugup mendengar nya. Yeah.. untuk pertama kalinya, aku menerima ajakan Rangga. Bukan karena aku sedang ingin berdua dengannya, tapi ya bisa juga kan melepas rasa jenuh akibat dihukum. Akhirnya, dengan berjalan kaki saja. Kami akhirnya sampai di taman kota yang jaraknya untung tidak terlalu jauh, sekitar beberapa meter saja. Disana, ada sebuah teman duduk taman yang luas dan besar, ber catkan putih dan abu-abu. Di sana, ada kami berdua tengah duduk bersama sambil bercanda ria, tertawa girang melepas beban yang terasa. “Jadi waktu dulu, kamu takut banget sama kulkas ya Rangga? Hahaha” “Iyah .. soalnya dingin dan bisa nyetrum, hahaha” Itulah percakapan canda tawa kami saat ini, hari ini. Rangga mengungkapkan fakta rahasia dan uniknya padaku seorang. Mulai dari phobianya pada benda-benda tertentu ketika masih kecil seperti saat berusia 5 tahun, Rangga paling takut dengan kulkas. Ia mengalami trauma saat ia mendengar berita pembantu tetangganya meninggal gara-gara tertimpah kulkas, lalu selain itu ia juga berpikiran kalau kulkas itu dingin dan bisa nyetrum. Dan yang paling lucu nya lagi, dulu Rangga anti yang namanya olahraga. Ia paling suka ngemil dan tidur-tiduran alias malas-malassan dirumah. Alhasil ketika ia beranjak SD, tubuh Rangga terbilang gemuk dan ia mudah terserang penyakit gara-gara malas untuk berolahraga. Sehingga ketika ia kelas 7, ia terpaksa diikut sertakan olahraga basket di eskul sekolah. Alhasil selama beberapa tahun, hmm.. yang tepatnya dua tahun lamanya ia melakoni kegiatan olahraga basket itu, tubuhnya makin lama makin kurus dan terbentuk, lalu ia juga mendapat banyak prestasi di bidang olahraga basket tersebut. Aku hanya cekikikan mendengar semua perkataan Rangga, fakta lucunya. Ahh pokoknya rame sekali mengobrol dengan Rangga. Bahkan aku, aku tak menyangka dapat berbincang-bincang lama dan mengetahui lebih dalam sosok Rangga. Padahal aku ini lebih sering menjauhi nya karena aku merasa tak cocok dan aku bukan level untuk dia. “Kenapa sih kamu ngedekatin aku? Padahal Aku nggak punya kelebihan yang cetarkayak kamu Rang.. aku juga nggak sexy. Aku terkesan kuper dan kamseupay” “Aah! Ngomong apa sih kamu, Ayda? Aku tuh ngedekatin kamu. Karena kamu berbeda. Aku nggak liat dari fisik mu, aku melihat dari cara mu bertingkah laku. Kamu alim dan lugu, baik pula. nggak kayak kebanyakan cewek jaman sekarang, kamu berbeda Da” Ucapan Rangga membuatku tersentak, aku tersenyum kepadanya. Untuk pertama kali nya pun aku merasakan kedekatan ku dengan Rangga. Padahal selama ini aku selalu menghindarinya, tapi mengapa? Sekarang aku merasakan kalau aku ingin selalu dekat dengannya? n bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan. Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu. Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya. Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

QUERY LENGTH LIMIT EXCEDEED. MAX ALLOWED QUERY : 500 CHARS

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dalam pewayangan Jawa, Kamsa dieja dengan sebutan Kangsa, dan merupakan anak Basudewa raja Kerajaan Mandura. Adapun Ugrasena versi Jawa bukanlah mertua Basudewa, melainkan adik bungsunya. Dikisahkan, Basudewa memiliki empat orang istri, yaitu Mahira, Rohini, Dewaki, dan Badraini. Suatu hari ketika Basudewa berburu di hutan, muncul seorang raja raksasa dari Kerajaan Guargra, bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai dirinya dan bersetubuh dengan Mahira. Hal ini diketahui oleh Rukma adik Basudewa. Gorawangsa pun dibunuhnya. Basudewa yang mendengar laporan Rukma segera membuang Mahira ke hutan. Di sana ia melahirkan Kangsa dengan bantuan seorang pendeta raksasa bernama Anggawangsa. Mahira sendiri kemudian meninggal dunia. Bayi Kangsa diubah menjadi dewasa dalam sekejap oleh Anggawangsa. Kangsa kemudian mendatangi Basudewa di Mandura untuk minta diakui sebagai anak. Kebetulan saat itu Mandura diserang oleh Suratrimantra adik Gorawangsa yang ingin menuntut balas. Kangsa berhasil mengalahkan Suratrimantra dan mendapat pengakuan dari Basudewa. Basudewa yang cemas melihat ambisi dan kesaktian Kangsa memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya, yaitu Baladewa, Kresna, dan Subadra kepada pembantunya yang tinggal di desa Widarakandang, bernama Antagopa dan Sagopi. Sementara itu, Kangsa telah diberi kedudukan sebagai adipati di Sengkapura oleh Basudewa. Suratrimantra yang kini mengabdi sebagai patih memberi tahu Kangsa bahwa ia sebenarnya adalah anak kandung Gorawangsa. Kangsa pun memutuskan untuk merebut takhta dari tangan Basudewa. Kangsa juga mengetahui kalau anak-anak Basudewa disembunyikan di Widarakandang. Ia mengirim prajurit untuk membunuh mereka. Namun karena tidak ada, yang jadi sasaran adalah Antagopa, yang ditangkap dan dibawa ke tempat Kangsa. Sedangkan Sagopi dan Subadra berhasil meloloskan diri. Sagopi dan Subadra yang dikejar prajurit Kangsa berhasil diselamatkan oleh Arjuna keponakan Basudewa. Mereka juga bertemu Baladewa dan Kresna yang masing-masing baru saja berguru ilmu kesaktian. Bersama-sama mereka menuju tempat Kangsa untuk membebaskan Antagopa. Kangsa sendiri menantang Basudewa untuk mengadu jago. Jika jagoan Basudewa kalah, ia harus menyerahkan takhta Mathura kepada Kangsa. Jagoan Kangsa tidak lain adalah Suratrimantra, sementara jagoan Basudewa adalah Bimasena, kakak Arjuna. Dalam pertandingan di atas panggung, Bima berhasil mengalahkan Suratrimantra. Namun begitu melihat Baladewa datang, Suratrimantra segera turun untuk membunuhnya. Baladewa dengan cepat lebih dulu membunuh raksasa itu. Melihat kematian pamannya, Kangsa segera menangkap Baladewa. Kresna mencoba menolong tapi ikut tertangkap pula. Keduanya dicekik sampai lemas. Untuk menolong kedua kakaknya, Subadra berdiri di hadapan Kangsa. Kangsa pun terpesona sehingga lengah. Arjuna pun memanah dadanya, sehingga Baladewa dan Kresna pun terlepas. Pada saat itulah Baladewa dan Kresna bangkit menyerang Kangsa dengan senjata masing-masing. Kangsa pun tewas. Peristiwa ini dalam pewayangan dikenal dengan kisah Kangsa Adu Jago. Kangsa meninggalkan gada yang sangat berat bernama Rujakpolo dan tidak ada seorang pun yang bisa memindahkannya, kecuali Bimasena. Oleh karena itu, gada pusaka tersebut kemudian menjadi milik Bima.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-24
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Wayang adalah seni wayang yang muncull dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupunRamayana.Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Ia dilahirkan dalam kekurangsempurnaan. Dari rahim seorang istri Wicitrawirya, Dewi Ambika, Destarata dilahirkan. Namun sejatinya ia bukan anak biologis Wicitrawirya yang wafat karena sakit paru dan tanpa berketurunan, ia adalah anak pujan dari Begawan Abiyasa. Setelah Wicitrawirya mangkat, Setyawati, ibunda Wicitrawirya, mengutus Dewi Ambika dan Ambalika – yang kedua-duanya adalah istri Wicitrawirya – untuk menemui Begawan Abiyasa di Gunung Sapta Arga dengan maksud memohon keberkahan akan keturunan. Di dalam kamar semedi Begawan Abiyasa, dengan wajah yang teramat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala, Begawan Abiyasa menyelenggarakan upacara pujan untuk memohon keturunan bagi Ambika dan Ambalika. Ambika menutup matanya atas hal tersebut, sehingga lahirlah dari rahim dirinya seorang anak yang buta yang kelak dinamakan Destarata. Sementara Ambalika berupaya untuk tidak menutup matanya atas apa yang ada dihadapannya. Dengan segala dayanya yang walaupun harus dilaluinya dengan kepucatan, Ambalika akhirnya memperoleh keturunan yang di kemudian hari anaknya tersebut dinamakan Pandu, yang berarti kulit yang pucat. Destarata dan Pandu tumbuh dan besar di istana Hastinapura. Sampai ketika mereka telah dewasa, saatnyalah bagi mereka untuk naik ke tampuk singgasana kerajaan yang telah lama vakum. Semestinyalah Destarata yang menggantikan ayahnya untuk memerintah Hastinapura. Namun karena keterbatasan yang ia miliki maka Pandu, adiknya, yang dikukuhkan sebagai raja Hastinapura selanjutnya. Pandu tidak memerintah terlalu lama atas Hastinapura. Pandu gugur dalam perang tanding antara dirinya dengan muridnya sendiri, Tremboko, raja raksasa dari Pringgondani. Keris Kalanadah telah merobek paha Pandu yang berujung pada ajalnya, sementara anak panah yang dilesatkan Pandu memenggal leher Tremboko. Perang tanding yang semestinya tidak terjadi andai saja Tremboko tidak termakan hasutan Sengkuni. Sebelum ajal menjemputnya, pesan terakhir yang sempat disampaikan Pandu bahwa singgasana Hastinapura yang ia tinggalkan untuk dititipkan kepada Destarata sampai anak-anak Pandu tumbuh dewasa dan dapat melanjutkan dinastinya. Suatu pesan terakhir, wasiat adalah suatu pendulum yang tidak dapat ditarik kembali ujungnya. Disampaikan dengan keikhlasan dan penuh harap akan apa-apa yang dikehendakinya. Pesan terakhir, wasiat merupakan suatu kepercayaan bahwa bagi pemangkunya hal tersebut adalah suatu keniscayaan. Keniscayaan untuk dan atas nama seorang patron dan keniscayaan akan keberlangsungan harapannya. Harapan sebagai mana anak panah yang melesat secara pasti pada titik ujungnya sekaligus yang tak mungkin untuk kembali lagi ke gendewanya. Destarata, sang pemangku wasiat tersebut mengemban tidak sepenuh hati apa yang telah dipesankan adiknya. Dalam keterbatasan, Destarata menyadari sepenuhnya bahwa Hastinapura sebagai suatu kerajaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri wangsa Kuru harus tetap dijaga keberlangsungannya. Ia bersinggsana di Hastinapura dengan didampingi para pinesepuh wangsa Kuru, yakni Bisma, Widura, Durna dan Krepa. Namun di sisi lain, bukan demikian halnya akan keberlanjutan singgasana yang telah ia duduki tersebut. Para Pandawa, kelima anak Pandu, telah beranjak dewasa dalam bimbingan Kunti, ibundanya dan para eyangnya. Di istana Hastinapura mereka dibesarkan. Begitupun dengan Kurawa, seratus anak Destarata dari istrinya, Gendari, telah berangkat dewasa dalam pengasuhan yang sama di istana megah pinggir telaga tersebut. Kurawa dan Pandawa, bukan sebagai saudara – walaupun hanya sepupu – mereka tumbuh remaja dan dewasa secara bersama-sama dan dalam pengasuhan yang sama di tempat yang sama pula. Kurawa secara laten menanamkan semangat kebencian dan iri dengki mereka atas Pandawa dalam diri mereka. Singgasana Hastinapura yang sekarang diduduki ayah mereka sebagai pemantiknya. Tampaknya Destarata mulai lupa akan pesan terakhir Pandu kepadanya sebelum Pandu menghembuskan nafas. Destarata yang telah uzur, Gendari dengan sinar matanya yang silau, menjadikan para Kurawa leluasa berdiri tegak dengan kepongahannya atas Pandawa. Destarata semakin tak berdaya ketika Kurawa mengadakan permainan dadu dengan mengundang Pandawa di Bale Sigala-gala. Permainan dadu yang telah menihilkan hak-hak Pandawa sekaligus yang telah meruntuhkan kehormatan Pandawa. Tidak terkecuali Drupadi. Permainan dadu pula yang menjadikan Pandawa harus mengasingkan diri selama tiga belas tahun di hutan Kamiaka. Di taman istana Hastinapura, di tepian kolam dengan air keperakan tersapu cahaya bulan, sebatang ranting cemara jatuh, terapung, beriak air berjalan lambat ke tepi. Destarata duduk terpaku ditemani Gendari yang telah menutup kedua matanya dengan kain hitam. Destarata membayangkan perang yang akan terjadi antara anak-anaknya dengan para Pandawa di Kurusetra esok hari. Perang yang akan menghapus satu garis keturunan dari wangsa Kuru. Perang yang seharusnya tidak terjadi jika saja ia dapat membesarkan anak-anaknya secara baik. Perang yang juga seharusnya tidak terjadi jika saja sinar mata yang silau dari Gendari tidak menggodanya. Kalaupun sekarang Gendari telah menutup kedua matanya, semuanya telah terlambat. Orang tua yang akan memberikan segala warna bagi anak-anaknya. Anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Ketika anak telah berjalan di luar dari hak-hak yang ia punya dan seorang istri yang telah bertindak melebihi batas-batasnya, Destarata tidak berdaya atas semuanya. Destarata, ternyata tidak hanya buta matanya, namun juga buta hatinya. Hingga akhirnya wasiat itu ia langgarnya dengan segala akibat yang harus ia tanggung.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jkok (Penokohan) : 1. Bawang Bombai : lemah lembut, sabar 2. Ibu Bawang Bombai : sombong, jahat 3. Cabai keriting : sombong jahat 4. Pengawal : tegas 5. Buto Ijo : baik hati, pemarah 6. Raja : tegas, licik 7. Pangeran : penyabar, baik hati Narasi : Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang gadis yang bernama Bawang Bombai dengan ibu tiri dan saudara tirinya, karena sifat jahat ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Bombai terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci semua pakaian kotor di sungai. Hingga suatu hari terjadilah peristiwa yang tidak diduga oleh Bawang Bombai, untuk cerita selengkapnya, mari kita saksikan di TKP ! (suara gamelan) (hening) (suara kicauan burung dan gemercik air sungai) BABAK 1 TERLIHAT BAWANG BOMBAI TENGAH MERATAPI NASIBNYA SAMBIL MENCUCI SETUMPUK PAKAIAN DI SUNGAI. Bawang Bombai : “Setiap hari, pekerjaan ini yang harus aku lakukan. Membuatku rindu dengan ayah dan ibu. Ayah, Ibu, Bombai merindukan kalian.” (TIBA-TIBA CABAI KRITING DAN IBUNYA MUNCUL) Cabai Keriting : ”Kayaknya ada yang lagi kangen sama ayah dan ibunya ni !.” Bawang Bombai : “Kakak, ibu, kenapa kalian ada di sini ?.” (KAGET) Ibu Tiri : “Hei!, denger ya, bukan urusan kamu, aku sama Keriting ada di sini.” Cabai Keriting : “Denger gak kamu ?, uda sana lanjutin pekerjaan kamu. Rumahnya juga belum dibersikan tahu!.” Bawang Bombai : “Iya, maafkan saya Bu, Kak.” (BOMBAI MELANJUTKAN MENCUCI, SEMENTARA CABAI KERITING DAN IBUNYA SIBUK MERAPIKAN DIRI DAN BERDANDAN) Cabai Keriting : “Sebentar lagi, mereka pasti akan lewat.” Ibu Tiri : “Iya, karena itu jaga penampilan kamu!.” TAK LAMA KEMUDIAN, MUNCULLAH PARA PENGAWAL ISTANA DENGAN MEMBUNYIKAN KENTONGAN) Pengawal : “Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman.” Ibu Tiri : “Hei kalian, gak lihat apa ada orang di sini!, dari tadi pengumuman pengumuman. Emang apa pengumumannya ?.” Cabai Keriting : “Iya dari tadi kita di sini nungguin kalian tahu. Emangnya pengumuman apa si ?.” Pengawal : “Sabar dong. Nyonya-nyonya ingin tau saja apa ingin tahu banget?.” Cabai Keriting : “Ya, ingin tahu banget lah. Kita uda jauh-jauh kesini cuma ingin mendengar pengumuman kalian secara langsung. Bukan lewat kabar burung.” Ibu Tiri : “Uda ayo cepat. Apa pengumumannya, bacakan !” Pengawal : “Baiklah, dengarkan baik-baik.” (BAWANG BOMBAI JUGA TURUT MENDENGARKAN) Pengawal : “Diberitahukan kepada seluruh gadis di seluruh penjuru negeri ini, untuk datang ke istana pada malam tahun baru, karena sang raja akan mengadakan pesta. Sekian terimakasih. Sudah nyonya, saya mau melanjutkan perjalanan. Pengumuaman, pengumuman.” (PENGAWALPUN BERLALU PERGI) Cabai Keriting : “Wah! pasti seru banget. Hei Bombai, jangan harap kamu bisa ikut ya. Kita tidak mengijinkan!, ya kan Bu ?.” Ibu Tiri : “Tentu saja. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu dan pulang!, kita berdua mau ke pasar dulu untuk membeli baju yang bagus.” Cabai Keriting : “Rasain!.” (SAMBIL MENENDANG KERANJANG CUCIAN BAWANG BOMBAI DAN BERLALU PERGI) BAWANG BOMBAI KEMBALI SENDIRI DAN MEMBERESKAN CUCIAN YANG BERANTAKAN. Bawang Bombai : “Ibu Tiri hanya cinta, kepada ayahku saja .. selagi ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja. Tapi bila ayah pergi, ku disiksa dan dimaki, “ (MENYANYI DI IRINGI MUSIK) “Sabar sabar, semua ini sudah takdir yang harus aku jalani, meski berat, aku harus bersyukur. Bersyukur tidak jadi Pejabat, (TERTAWA). Kasihan –kasihan. Kasihan kalau ditanya malaikat, mereka jujur gak ya ?, kalau di pengadilan manusia si masih bisa bohong, masih bisa main suap. Malaikat disuap apa ya ? (TERTAWA) jadi nglantur.” (MENYANYI) “Andaiku gayus tambunan, yang bisa pergi ke Bali, semua keinginannya, masih bisa terpenuhi, ….” Buto Ijo : “Terdengar merdu sekali suaranya, buat hatiku berdebar. Siapa ya gadis cantik itu…. ?” (BERJALAN MENGENDAP DI BALIK POHON) Bawang Bombai : “Hai… siapa ya ?. Terdengar suara tapi gak ada orangnya. Jangan nakutin dong ?. Ayo keluarlah !” Buto Ijo : “Maafkan aku tuan putri, aku telah mengganggu pekerjaanmu.” (MASIH DIBALIK POHON DENGAN SUARA DIBUAT-BUAT) Bawang Bombai : “Tidak, kamu tidak menggangguku. Siapa kamu ?, kenapa bersembunyi ?, keluarlah” Buto Ijo : “Maafkan aku tuan putri, aku malu.” Bawang Bombai : “Syukurlah, ternyata hari gini ada orang yang masih punya rasa malu. Tapi kenapa kamu malu ? Apa kamu malu karena sudah korupsi ?. Aku bukan KPK kok !. Jangan takut” Buto Ijo : “Tuan putri bisa saja. Aku malu karena aku jelek tuan putri. Aku khawatir tuan putri takut jika melihat aku.” Bawang Bombai : “Tenang saja, asal kamu bukan gederuwo aku tidak akan takut. Keluarlah !” ( BUTO IJO KEUAR TAPI TUBUHNYA DISELIMUTI DENGAN KAIN) Bawang Bombai : “Kenapa kamu tutupi tubuhmu ?” Buto Ijo : “Aku malu dan takut tuan putri lari jika melihat aku.” Bawang Bombai : “Baiklah, biar aku yang membuka kainnya, kan ku buktikan jika aku tidak takut padamu.” (BAWANG BOMBAI MEMBUKA PENUTUP TUBUH BUTO IJO) Bawang Bombai : “Aawwww!!,” (BAWANG BOMBAI TERIAK MENJAHUI BUTO IJO) Buto Ijo : “Tuan putri jangan takut, aku tidak sedang mencari timun mas untuk dimakan, tapi aku sedang mencari………………….” (BUTO IJO BERBALIK DAN MENGELUARKAN MAWAR MERAH DARI BALIK BAJUNYA) Bawang Bombai : “Maaf, kalau boleh tahu, kamu mencari siapa ?” Buto Ijo : “Aku mencari……………..” Bawang Bombai : “Iya mencari siapa ?” Buto Ijo : “Aku mencari…………….. “ (BUTO IJO BINGGUNG TIDAK BISA MENGUNGKAPKAN PERASAANNYA) Bawang Bombai : “Sampai kapan aku menunggumu untuk bicara ?” Buto Ijo : “Maaf, aku mencari seorang putri yang mau berteman denganku.” Bawang Bombai : “O, tapi aku bukanlah tuan putri, jadi jangan panggil aku tuan putri. Sekarang biar kuantar kamu ke rumah tuan putri.” Buto Ijo : “Tidak, tidak, aku ingin berteman denganmu saja. Bolehkah ?.” Bawang Bombai : “Baiklah, asalkan kamu tidak akan memakanku. Namaku Bawang Bombai, kamu siapa ?.” (SAMBIL MENGULURKAN TANGAN) Buto Ijo : “Panggil saja aku Ijo.” (KEDUANYA SEKARANG BERTEMAN, BUTO IJO MEMBANTU BAWANG BOMBAI MENCUCI) Buto Ijo :“Sini aku bantu. Kamu istirahat aja dulu.” Bawang Bombai : “Kenapa kamu baik sekali.” Buto Ijo : “Karena kamu sudah bersedia menjadi temanku.” BUTO IJO MERASA SANGAT SENANG, BEGITU PULA BAWANG BOMBAI. DITANGAN BUTO IJO, PEKERJAAN BAWANG BOMBAIPUN CEPAT SELESAI. Bawang Bombai : “Oh ya, besok malam raja akan mengadakan pesta. Aku ingin datang ke pesta itu. Tapi aku tidak tahu jalannya. Ibu dan kakakku tidak mengijinkan aku untuk ikut.” Buto Ijo : “Jangan khawatir, aku akan mengantarkanmu.” Bawang Bombai : “Sungguh ?.” Buto Ijo : “Iya.” Bawang Bombai : “Terimahkasih. Tadi kamu sudah membantuku, besok mau mengantarkan aku. Sekarang, apa yang bisa kulakukan untukmu Ijo ?.” Buto Ijo : “Aku senang sekali bisa bersama kamu Bombai. Kalau boleh, aku ingin bersamamu terus. Apa boleh ?.” Bawang Bombai : (HANYA MENGANGGUK) “Sekarang pulang yuk ?.” Buto Ijo : “Biar aku yang bawakan cuciannya.” Bawang Bombai : “Terimakasih.” BABAK 2 SUASANA KERAJAAN YANG RAMAI, BANYAK GADIS YANG BERDATANGAN. DUDUKLAH SANG RAJA DAN PUTRANYA. Raja : “Putraku, pilihlah satu gadis yang menarik hatimu, dan jadikan ia pendampingmu selamanya.” Pangeran : “Baiklah ayah, semoga ada gadis yang mampu mencuri hatiku.” PENGAWAL MEMBUNYIKAN KENTONGAN, PERTANDA ADA YANG MAU DISAMPAIKAN. Pengawal : “Perhatian, perintah dari Sang Baginda Raja, para gadis diminta untuk memperkenalkan dirinya satu persatu.” TANPA BASA-BASI CABAI KERITING LANGSUNG MAJU MEMPERKENALKAN DIRI. Cabai Keriting : “Permisi Sang Raja, Pangeran. Perkenalkan nama saya Cabai Keriting. Saya yang paling cantik diantara gadis-gadis yang ada disini.” Raja : “Terimakasih Cabai Rawit.” Cabai Keriting : “Cabai Keriting Baginda.” Raja : “Ya, maaf. Terimakasih Cabai Keriting. Silahkan kembali ketempatmu.” PANGERAN BERBISIK KEPADA PENGAWAL UNTUK MEMINTA BAWANG BOMBAI MEMPERKENALKAN DIRI. PENGAWALPUN MEMINTA BAWANG BOMBAI UNTUK MAJU. Bawang Bombai : “Maafkan saya Baginda, Pangeran. Saya malu untuk memperkenalkan diri.” Raja : “Jangan malu, perkenalkan saja siapa nama kamu.” Bawang Bombai : “Nama saya Bawang Bombai Baginda.” Pangeran : “Dimana kamu tinggal Bombai ?.” Bawang Bombai : “Di tengah hutan Pangeran.” Pangeran : “Sekarang pulanglah, bilang pada kedua orang tuamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di Istana.” Ibu Tiri : “Maaf Pangeran, saya ibunya Pangeran, dan ini Cabai Keriting adalah kakak Bawang Bombai. Kenapa Bombai harus tinggal di Istana. Tentu kami akan merasa sedih dan merasa kehilangan Pangeran.” Cabai Keriting : “Iya Pangeran. Bawang Bombai biar bersama kami saja.” Raja : “Kalau begitu kalian berdua juga saya ijinkan untuk tinggal di Istana bersama Bawang Bombai.” Ibu Tiri : “Terimakasih Baginda, terimakasih Pangeran.” Raja : “Kalau begitu, pesta ini saya akhiri, mari ikut saya untuk berkeliling Istana.” (PESTAPUN BERAKHIR, RAJA, IBU BAWANG BOMBAI DAN CABAI KERITING MENGIKUTI SANG RAJA BERKELILING ISTANA, DAN TINGGALLAH PANGERAN BERSAMA BAWANG BOMBAI) Pangeran : “Bawang Bombai, kenapa nama kamu Bawang Bombai ?.” Bawang Bombai : “Maaf, pangeran. Dulu saya sangat gendut, dan semenjak Ibu saya meninggal. Saya harus ikut ibu tiri. Semenjak itu, saya yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena para pembantu di usir oleh kakak tiri saya Cabai Keriting.” Pangeran : (TERSENYUM) “Sekarang, disini kamu tidak akan pernah melakukan pekerjaan itu lagi.” Bawang Bombai : “Bagaimana bisa Pangeran. Ibu dan kakak saya kan ada disini.” Pangeran : “Di Istana banyak pembantu yang akan mengerjakan semuanya Bombai.” Bawang Bombai : ”Terus, kenapa saya harus tinggal di istana Pangeran.” Pangeran : “Kamu akan menemaniku jalan-jalan disaat santai.” Bawang Bombai : “Apa Pangeran tidak malu berjalan-jalan dengan saya.” Pangeran : “Tidak Bombai, sebenarnya aku sudah sering melihatmu, saat kamu mencuci begitu banyak pakaian di sungai. Dan kesederhanaanmu itu, membuat kamu kelihatan sangat cantik. Sekarang, bersediakah kamu ku jadikan permaisuri ?.” (SAMBIL MEMBERIKAN SETANGKAI BUNGA MAWAR) DENGAN MALU-MALU BAWANG BOMBAI MENERIMANYA, HATINYA SANGAT SENANG HINGGA LUPA JIKA IA DITUNGGU OLEH BUTO IJO YANG TADI MENGANTARNYA, SEHINGGA BUTO IJO DENGAN MURKA MEMAKSA MASUK MENCARI BAWANG BOMBAI KARENA DIA SUDAH LAMA MENUNGGU. Buto Ijo : “Bombai !!” (DENGAN WAJAH MARAH KARENA MELIHAT BOMBAI DIPELUK OLEH PANGERAN) Bawang Bombai : “Ijo.” Pangeran : “Pengawal !” (PANGERAN BERSERU KETAKUTAN) DENGAN SEGERA PENGAWAL MENGHADANG BUTO IJO, TAPI BUTO IJO BERONTAK DAN MENYERANG PANGERAN. PANGERAN TAMPAK MENYERAH SEHINGGA SALAH SATU PENGAWAL MEMANGGIL SANG RAJA. PANGERAN NAMPAK LEMAH. TETAPI RAJA SEGERA DATANG DAN BUTO IJO BERHENTI MENGHAJAR PANGERAN. Raja : “Siapakah kamu ?, dan apa maksud kamu datang kemari.” Bawang Bombai : “Maaf, Baginda. Dia Buto Ijo teman saya.” Raja : “Teman kamu ?.” Bawang Bombai : “Iya Baginda. Saya mohon, maafkanlah dia” NAMPAKNYA RAJA TAHU AKAN KEMARAHAN BUTO IJO, SEHINGGA IA MEMPUNYAI SIASAT UNTUK MEMBUNUH BUTO IJO AGAR TIDAK LAGI MENGGANGGU BAWANG BOMBAI. Raja : “Baiklah, kalau begitu, duduklah Buto Ijo, pengawalku akan membawakan makanan untukmu. Bawang Bombai, Putraku, pergilah kalian beristirahat, biar saya yang menjamu Buto Ijo di sini ” RAJA MEMBERI ISYARAT KEPADA PENGAWAL UNTUK SEGERA MASUK MEMBAWA MAKANAN YANG TERNYATA SUDAH DIBERI OBAT TIDUR DAN RACUN Raja : “Makanlah, kamu pasti lapar.” BUTO IJOPUN MEMAKAN SEMUA HIDANGAN DENGAN LAHAP, SAMPAI IA TERTIDUR DAN TIDAK AKAN BANGUN LAGI SELAMANYA. (PARA PENGAWAL MASUK DAN MEMBAWANYA KELUAR) SESUNGGUHNYA RAJA SANGAT DENDAM DENGAN KELUARGA BUTO IJO YANG PERNAH MEMAKAN SEBAGIAN RAKYATNYA, SEHINGGA IA SANGAT DENDAM DAN TEGA MEMBUNUH BUTO IJO. SEJAK SAAT ITU, BAWANG BOMBAI TAK PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN BUTO IJO, DAN IA MERAYAKAN PESTA PERNIKAHAN DENGAN SANG PANGERAN, IBUNYA DI PERSUNTING SANG BAGINDA, SEDANGKAN CABAI KERITING TERNYATA JATUH HATI DENGAN PENGAWAL. MEREKAPUN HIDUP BAHAGIA DI ISTANA. awa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-19
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

ADAT ISTIADAT JAWA (manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat) Wus pinasti wanito puniki,Dadi wadah wijining tumitah,Den aji aji wajibe Watak suwargo nunut,Nunut iku gese njalari,Dadyo nomo suwargo Yen tetesing luhur,Winastono neroko Lamun hamadhani asor asorin budi,wiji haneng poro prio Lahir dan mendewasakan anak Mupu, artinya mungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya. Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya. Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak. Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan. Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah. Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki. Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas maka si bayi diperkirakan laki-laki. Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a memohon kepada Tuhan. Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih, sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5 (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya bernama T. Dewantoro. Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata T. Dewantoro berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka T.Dewantoro berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan luas,cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya. Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur ayam rebus dan bubur merah-putih. Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten. Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik, maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang dilanjutkan dengan cerita Murwakala. Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan kalimat : laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua). Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang. Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau jaka,suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4 (empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng. Saat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain: jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake balung apisah(menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung kapirangu (tergila-gila/cinta). Melamar Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan. Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup. Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen. Perkawinan Orang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memberikan sejumlah uang guna membantu pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana. Dalam perkawinan harus dicari hari "baik", maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli hitungan hari "baik" berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa yang akan membikin tubuh ideal dan singset. Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal. Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil hitungannya (3 - 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat, yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya, yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya, perlambang status raja. Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan "semoga selamat di dalam hidupnya". Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang. Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu. Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk). Upacara akad nikah, harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah. Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya. Misalnya dalam gaya Solo, di hari "H"nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal (biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek. Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan. Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap: Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak ? (berat mana Pak ?), yang dijawab sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur. Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin. Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan) berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah kedua pengantin). Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu, dsb.nya. Mati/Wafat Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya). Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda. Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong kambing untuk disate dan gule. Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roch seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-18
Subject: Literary Translations
Usage Frequency: 6
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

(Suara Gendhing Jawa) Alkisah pada suatu hari, Rama diutus oleh Prabu Desarata untuk bertapa di hutan Dandaka. Ia ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Mereka bersama-sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Desarata. Siang itu, setelah berjalan begitu jauh dari Ayodya, akhirnya mereka sampai di hutan Dandaka. Rama : “Dinda, sepertinya kita sudah sampai, apa dinda capek?” Shinta : “Tidak kakanda, selama aku ada disampingmu aku tidak akan pernah merasa capek” Rama : “Ah…! Dinda ini bisa aja! Aku jadi tersandung...” Shinta : “Lho… Kok tersandung Kakanda?” Rama : “Eh… tersanjung maksudku, Dinda!” Shinta : “Oh… Tersanjung! Aku kira kakanda tersinggung dengan perkataanku...” Rama : “Ya tidaklah istriku, kata-katamu itu…! Hem… Begitu indah dan sangat menyejukkan jiwaku.” Shinta : “Ah…Kanda !” (memukul Rama lembut) Rama : “Aduh, Dinda…! Dari tadi kok kita asyik menyanjung – nyanjung diri sendiri, sampai–sampai kita lupa kalau kita ditemani adik kita tercinta.” (menengok Laksmana yang ada di dekat mereka) Shinta : “Oh iya! Sini adikku, kenapa masih disitu?” (menghampiri Laksmana) “Maaf ya Dik Laksmana, bukan maksud kami anu... Anu...”(belum selesai ngomong kemudian dipotong oleh Laksmana) Laksmana : “Sudahlah Kak Shinta, tidak apa–apa! Lagi pula aku juga senang melihat keakraban Kak Rama dan Kak Shinta.” Shinta : “Kamu memang adik yang baik laksmana. Kanda sangat beruntung punya adik sebaik dik Laksmana!” (menengok ke arah Rama) Rama : “Betul Dinda! Laksmana memang adik yang sangat baik.”(menepuk pundak Laksmana) Laksmana : “Sudahlah, Kak Shinta dan Kak Rama tidak usah memuji aku terus. Nanti keterusan sampai malam dan akhirnya kita tidak punya tempat untuk istirahat. Ehm … !! Kak, bagaimana kalau kita mendirikan tenda disini saja. Sepertinya disini tempatnya sangat teduh dan lapang.” Rama : “Ya!” (mengangguk–anggukkan kepalanya) “Bagaimana menurut Dinda?” Shinta : “Iya Kanda, lebih baik kita mendirikan tenda disini saja.” Rama : “Baik! kalau begitu kita mendirikan tenda disini! Dik Laksmana, tolong ambilkan tendanya di tas !” (lalu mendirikan tenda bersama Laksmana dan Shinta membuatkan minum untuk Rama dan Laksmana) Shinta : “Kakanda, Kakanda pasti capek. Ini diminum dulu airnya, supaya capeknya hilang.” (mengusap dahi Rama dengan selendang)“Adik Laksmana juga, istirahat dulu! Nanti diteruskan lagi, ini diminum airnya.” Laksmana : “Iya .. Kak shinta! Sebentar lagi, nanggung … !”(masih sibuk membenarkan tenda) Rama : “Sudahlah, Dik! Benar apa yang dikatakan kakakmu Shinta, istirahat dulu nanti diteruskan!” Laksmana : “Ya sudaaah… Aku istirahat...” (menghentikan pekerjaannya lalu duduk di dekat Rama dan meminum minumannya) Di saat yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Sarpakenaka, Rahwana, dan Mak Lemper sedang mengamati keromantisan Rama Shinta dari bola kristal. Mereka mengamati dengan penuh rasa sakit. Sakit teramat sakit melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Sarpakenaka : "Huh... Ini tidak adil!! Mengapa hal itu harus terjadi padaku? Aku tidak suka melihat mereka bahagia. Karena Rama harus suamiku... Huhuhu... Simbok!!" (menangis) MakLemper : "Keep silent, sayang... Tenang..." Sarpakenaka : "Ya Tuhan .. Simbok, lihatlah mereka, mereka terlihat begitu dekat, aku tidak tahan melihatnya. Hatiku merasa seperti diiris pisau tajam, huhuhu ... Ini perih!" (masih menangis) MakLemper : "Tarik nafas... Hembuskan... Jangan khawatir... Simbok akan membantu..." Sarpakenaka : (meratap menangis) "Kanda Rahwana! Apa yang harus kita lakukan? Mengapa Kanda tidak mengatakan apa-apa? Bukankah Kanda juga mencintai Shinta? Mengapa Kanda membiarkan mereka, ha? Mengapaaa!?" (dramatis bin alay) Rahwana : "Kau begitu berisik!! Aku diam bukan berarti akutak peduli!Aku sedang berpikir! Aku tak sepertimu yang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu!!Dasar bocah Alay!!" Sarpakenaka : "Sungguh, teganya dirimu padaku. Bagaimana bisa kau menghinaku seperti ini." MakLemper : "Hey! Hey! Hey! Jangan bertengkar!! Dengarkan aku, Sarpakenaka, Kandamu benar. Kita perlu strategi untuk memisahkan Rama dan Shinta, jadi tenanglah dahululalu berpikirlah apa yang harus kita lakukan..." Sarpakenaka : "Oke, mbok..." (terdiam sejenak untuk berpikir) MakLemper : " Yeeiiii... Aku mendapatkan ide!!" Sarpakenaka+Rahwana : "Opo idene?" Mak lemper : "Ok, sini aku kasih tau. Shinta itu salah satu gadis yang mudah tertarik dengan hal-hal menarik. Seperti kijang emas. Jadi, Rahwana... Panggil abdimu dan bawa ke sini biar ia ku jadikan kijang untuk menarik perhatian Shinta. Dan Shinta akan menyuruh Rama untuk memburunya..." Rahwana : “Wah benar juga. Lalu, Rama dan Laksmana akan meninggalkan Shinta kan, simbok? Dan aku bisa menculik Shinta dan memboyongnya ke Alengka...” MakLemper : “Tumben elo pinter.” Sarpakenaka : "Bagaimana denganku, mbok?Apakah kau hanya memikirkan nasib Kanda Rahwana?" (memelas kepada MakLemper) MakLemper : "Gadis Bodoh . Aku sedang berpikir tentang kau!!” (terdiam sejenak) “Nah jadi begini saja...” Sarpakenaka : "Pripun mbok? Apakah kau akan mengubahku menjadi Shinta atau apa?” MakLemper : "Pandai. Setelah Shinta diambil oleh Rahwana, aku akan mengubahmu menjadi Shinta dan kamu akan hidup selamanya dengan Rama..." Sarpakenaka : "Benarkah?? Terima kasih banyak simbokku tercinta... (Sarpakenaka mencium pipi ibunya) Rahwana : "Baguslah... Kalau begitu aku akan segera memanggil abdi kepercayaanku." (mengambil HP, mencoba menelpon, SMS) “Ehm, simbok,ada sedikit masalah... Aku sudah menghubunginya lewat SMS, BBM, facebook, twitter. Tapi, dia tak menjawab...” MakLemper : "Apakah kau sudah memanggilnya melalui telepon?" Rahwana : "Belum. Ini karena aku tak punya pulsa, hehe... Aku kan raja yang kere..." Sarpakenaka : "Ckkk .... Bilang saja kau ingin ku kirimi pulsa. Memalukan!! Bagaimana bisa seorang raja Alengka, pulsa saja tidak punya. Bagaimana kau menghidupi rakyatmu kelak?" Rahwana : "Itu bukan memalukan. Itu namanya hemat uang, Nduk.” (mengelus kepala Sarpakenaka) Sarpakenaka : “Ya sudah, aku mau manicure pedicure bersama artis Hollywood di Los Angeles. Nanti setelah Rahwana menculik Shinta, panggil aku agar aku ke sini...” (Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper) Seusai Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper, mereka masih menunggu datangnya abdi Rahwana hingga lumutan. Akhirnya, setelah lima jam menunggu, tiga abdi Rahwana datang, mereka bernama Maricha, Bharata, dan Angkara. Rahwana : “Beraninya kau membuat kita menunggu untuk waktu yang lama.Kau ingin dikutuk menjadi batu?? Heh?" (menempeleng kepala abdinya) Maricha : "Maafkan kelancangan kami, Yang Mulia. Ini salahku. Internetnya tidak terhubung, sehingga hamba tidak bisa berselancar di Facebook dan Twitter. Rahwana : "Ah , kau bicara terlalu banyak. By the way, aku punya tugas besar untukmu, datang ke sini..." (Rahwana membisikkan sesuatu pada abdi-abdinya) Bharata : "Hamba siap untuk melakukan perintah Anda, Yang Mulia. Hamba tidak akan membuat Anda kecewa.” MakLemper : "Baik. Sekarang, berdiri di sana dan pegang tongkat kayu ini, aku akan mengubahmu menjadi kijang emas, Maricha. Dan kau, Bharata dan Angkara, ku ubah kau menjadi kijang hitam sebaga pengiring Maricha. Apakah kau siap?" (bersiap memantrai abdi) Angkara : “Lha kata Yang Mulia Rahwana tadi, kami disuruh menarik perhatian Shinta. Kok malah jadi kijang? Maksudnya bagaimana?” MakLemper : “Begini, setelah kalian nanti aku ubah menjadi kijang, aku perintahkan kalian untuk menarik perhatian Shinta dengan tarian kijang!” Maricha : “Terus setelah hamba menari, apa yang harus hamba lakukan Baginda?” Rahwana : “Aduh…! Begok banget sih. Katrok–katrok! Setelah kamu menari dan kamu melihat mereka sudah tertarik untuk memburu kamu. Kamu langsung lari saja supaya Rama dan Laksmana lari mengejar kamu dan akhirnya Shinta ditinggal sendirian. Nah… Setelah itu aku bisa membawa lari Shinta! Paham?” Angkara : “Kami paham, Baginda...” Bharata : “Ibunda Ratu Mak Lemper... Kami sudah siap untuk kau ubah...” MakLemper : "Hopla. Beri aku A , Beri aku B , Beri aku C , ABC .... Ambil perubahan!” Mak Lemper mengucap mantranya dan mulai mengubah ketiga abdi itu. Dalam sekejap, Angkara,Bharata, dan Maricha berubah menjadi tiga ekor kijang. Usai itu, ketiga kijang tadi segera berlarin menuju peristirahatan Rama Shinta di hutan Dandaka dan segera menjalankan misinya. Mereka menaritarian kijang dengan lincah dan menarik perhatian Shinta. Shinta : “Kanda, dik Laksmana, lihat! Kijang-kijang itu cantik sekali!!” (menunjuk kijang-kijang yang menari) Rama : “Iya Dinda, betapa indahnya gerakan mereka!” Laksmana : “Iya Kak, kijang-kijang itu lucu sekali!” Shinta : “Kanda, lihat! Ada kijang yang bertanduk emas, aku ingin sekali kijang emas itu, Kanda! Kanda mau kan menangkap kijang itu untukku?” Rama : “Apa kamu sangat menginginkannya, istriku ?” Shinta : “Iya kanda ! kanda mau kan menangkapnya untukku?” (sangat berharap ) Rama : “Baiklah, demi kau istriku yang sangat aku sayangi dan aku cintai, aku akan memburu kijang emas itu untukmu” (menyiapkan perlengkapan untuk memburu) “Dan kamu adikku, tolong jaga kakakmu, Shinta, selama kakak pergi memburu kijang itu. Karena aku takut nanti Rahwana tiba-tiba datang dan membawa pergi Shinta.” Laksmana : “Iya kak! Saya mengerti , tenang saja kak aku akan menjaga kak shinta sampai titik darah penghabisan.” ( sambil mengepalkan tangan keatas ) Rama : “Baiklah adikku, aku percaya kepadamu, pokoknya jangan kemana-mana sampai nanti aku kembali.” Shinta : “Hati-hati ya kanda .. ! aku yakin kanda pasti akan segera kembali dengan membawa kijang emas itu untukku” ( sambil mencium tangan rama ) “Kanda, aku sangat mencintaimu” ( sambil memegangi tangan Rama ) Rama : “Aku juga sangat mencintaimu dinda !”( mengusap rambut sinta ) “Ya sudah , aku berangkat sekarang, nanti keburu kijangnya kabur .” “Jaga kakakmu yah!” (menepuk pundak Laksmana lalu pergi) Laksmana : “Iya kak, percaya sama saya. TiTi DJ kak !”( sambil melambaikan tangan) Setelah Rama pergi, Shinta dan Laksmana membereskan barang-barang ke dalam tenda. Di balik pohon beringin, Rahwana tetap mengintai dengan bola kristal hasil ngutang dari Mak Lemper. Ia bingung memikirkan Laksmana yang tidak ikut memburu kijang emas itu. Rahwana : “Aduhhh…. ! bagaimana ini Durya, kenapa Laksmana tidak ikut memburu kijang. Padahal bayanganku Laksmana ikut mengejar kijang emas itu. Nah … ! Sekarang bagaimana supaya Laksmana terpisah dengan Shinta ? (menengok Durya yang diam saja) Durya … ! kamu kok diam saja, bantu aku mikir donk !” Durya : “Hamba diam ini juga lagi mikir baginda! Sambil searching, mumpung ada wi-fi” Rahwana :“Oo..! ya sudah sekarang kita pikirkan bersama.” Lima, sepuluh, lima belas, bahkan dua puluh menit lamanya mereka memikirkan cara untuk menyingkirkan Laksmana dari sisi Shinta. Ide-ide bodoh muncul di pikiran mereka, tetapi Laksmana pasti bisa mengatasi ide-ide itu. Mereka terus berpikir keras dan memeras otak untuk menemukan cara terjitu untuk menjalankan misi ini. Durya : “Nah! Ketemu!” Rahwana : “Hus … ! jangan teriak-teriak, nanti mereka dengar!” Durya : “Maaf baginda ! kelepasan baginda , hamba sudah menemukan caranya.” Rahwana : “Iya , bagaimana ?” Durya : “Begini baginda” ( sambil berbisik ) Rahwana : “Bagus ! ide kamu bagus sekali, ternyata kamu pintar juga Durya ?” Durya : “Iya dong baginda! Hamba kan lulusan S2 SMP N 1 Godean! Di sana muridnya pinter-pinter! Gurunya asik lagi! Makanya, sekolah di Negsago!” Rahwana : “Ciyus? sama dong kaya’ aku !” Durya : “wah … sama dong kita baginda ?” Rahwana : “Heh , enak aja lho mau nyamakan aku dengan kamu, sudah sudah kok malah bercanda ( serunya dengan keras ) sekarang aku akan merubah suaraku menjadi suara rama. Hem … Shinta ! kau pasti akan jadi milikku!”(serunya dengan yakin) Setelah Shinta dan Laksamana selesai membereskan barang-barang mereka yang ada di dalam tenda, mereka mulai beristirahat. Tapi, tiba-tiba mereka mendengar jeritan Rama. Rama seakan minta tolong. Apakah yang terjadi? Pikirkanlah hal itu… Rahwana : “Tolong! Tolong! dik laksmana tolong aku!”(teriaknya dengan suara menyerupai rama, sembunyi di balik pohon) “Hihihi… Durya… Pasti ini berhasil…” (lirih) Shinta : “Dik laksmana ! apa kamu mendengar sesuatu ?” Laksmana : “iya kak ! itu kak Rama, bahkan teriakan itu memanggil namaku. aku yakin itu kak Rama ! kak rama butuh bantuan, aku harus menolongnya” ( ucapnya dengan nada khawatir ) Shinta : “iya dik! kamu pergi saja menolong kakanda sekarang biar aku disini saja menjaga barang-barang kita” Laksmana : “Tapi kak, aku sudah berjanji pada kak rama untuk menjaga kak shinta” Shinta : “Tidak apa-apa dik ! sekarang kakanda membutuhkan bantuan dik laksmana. Dik laksmana tenang saja. Aku disini baik-baik saja !” Laksmana : “Baik aku akan menolong kak rama. Tapi aku akan membuatkan perlindungan dulu untuk kak shinta (Laksmana membuat lingkaran sakti yang akan menjaga Shinta dari apapun) Laksmana : “Kak shinta , tolong sekarang kakak masuk dalam bundaran ini !” Shinta : “Ini apa dik ?”( sambil masuk kedalam bundaran sakti ) “kok dik laksmana malah ngajak main ?” Laksmana : “Houm …… !” (membaca mantra) “hap! Nah sekarang bundaran ini sudah menjadi bundaran sakti” Shinta : “Bundaran Sakti ?” Laksmana : “Iya , bundaran sakti ini tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh siapapun, jadi kak shinta tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Tapi kalau kak shinta keluar, kak shinta tidak akan bisa masuk lagi kedalam bundaran ini.” Shinta : “Baiklah kalau begitu! sekarang kamu sudah bisa tenang kan meninggalkan aku?” Laksmana : “Iya kak, tapi kak shinta harus janji tidak akan keluar dari bundaran sakti ini. Sampai aku dan kak rama kembali !” Shinta : “Iya, kak sinta janji, sekarang kamu berangkat selamatkan kak Rama ya ?” Laksmana : “Baik, aku berangkat! Doakan ya kak! aku akan segera kembali” ( pamit dengan membawa seperangkat alat memanah ) Laksmana segera melesat secepat angin menyusul Kakaknya, Rama. Sedangkan Rahwana yang sudah berhasil dalam mengusir Laksmana masih tetap bingung. Ya, dia bingung akan bagaimana caranya mengeluarkan Shinta dari lingkaran sakti itu lalu memboyongnya ke Alengka. Rahwana : “Aduh! Bagaimana ini? Aku kira setelah Laksmana pergi, aku langsung bisa membawa Shinta, tapi sekarang aku malah tidak bisa menyentuh Shinta sama sekali” ( sambil mondar-mandir dan mengepalkan tangannya ) “Durya, bagaimana ? Apa kamu tidak punya ide lagi?” Durya : “Mohon maaf baginda, sepertinya kali ini hamba benar-benar tidak tau bagaimana caranya mengambil Dewi Shinta dari bundaran sakti itu, karena hamba yakin tidak akan mampu menembusnya !” Rahwahna : “Ah, gimana sih kamu itu! katanya ngaku lulusan sekolah lor Pasar Godean itu, ada masalah gini aja bingung .” Durya : “Tapi baginda juga bingungkan?” Rahwana : “Jadi kamu ngledek aku? Iya?!” (membentak sambil menoyor kepala Durya) Durya : “Ampun Baginda! Hamba tidak bermaksud seperti itu!” Rahwana : “Ya sudah sekarang kita mikir lagi!” (terdiam sambil mondar mandir) Rahwana : “Nah! Aku sekarang punya ide!” Durya : “Bagaimana baginda?” ( mendekati rahwana ) Rahwana : “Begini....” ( sambil berbisik ) Durya : “siap baginda ! hamba siap melaksanakannya” Rahwana : “Tidak, kali ini biar aku yang melakukannya, biar nanti aku bisa langsung membawa shinta pergi ke Istanaku” Durya : “Oh … baik baginda !” ( sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ) Rahwana : “Tapi kamu tetap disini mengawasi, siapa tau Rama dan Laksmana nanti kembali. Dan kamu harus menghadangnya, apapun caranya !” Durya : “Siap baginda !” Rahwana : “Bagus. sekarang aku akan merubah wujudku menjadi seorang lelaki yang tua renta. Houm!” (membaca mantra, sementara itu Durya memasangkan aksesoris ke Rahwana) “Hap!” Kakek : “Bagus kan?? Baik, aku akan kesana dan kamu jaga disini, Durya !” Durya : “Keren, Baginda… Good luck baginda! Cemungutt eeaakk! Go Bagind

muter Jawa Ramayana

Last Update: 2014-09-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada suatu hari di kerajaan mataram, sedang berlangsung suatu pertemuan tertutup yang hanya dihadiri oleh para petinggi kerajaan Mataram. Mereka sedang membahas masalah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang anak selir yang akan dapat menggoyangkan tahta Sultan Agung jika ia dibesarkan di wilayah kerajaan. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya diputuskan untuk menitipkan anak tersebut kepada Ki Gede Cempaluk. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang putra yang lucu dan tampan. Anak laki-laki tersebut adalah putra Sultan Agung yang dikandung oleh selirnya. Sesuai dengan kesepakatan, maka sesaat setelah bayi tersebut lahir langsung dibawa oleh Ki Gede Cempaluk untuk diasuh. Sultan Agung memberikan sebidang tanah di daerah Gambiran, Kesesi kepada Ki Gede Cempaluk sebagai tempat untuk mendirikan padepokan sekaligus kediamannya. Oleh Ki Gede Cempaluk, bayi laki-laki tersebut kemudian diberi nama Jaka Bau. Jaka Bau memiliki beberapa sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah seperti saudara. Mereka sudah kenal dan berteman akrab sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka senang sekali merpura-pura menjadi panglima perang tentara Mataram setiap kali bermain perang-perangan. Bahkan mereka sering bertengkar karena memperebutkan kedudukan. Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu ingin menjadi panglima perang kerajaan Mataram. Seiring dengan berjalannya waktu, Jaka Bau tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, kuat, baik hati, dan memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi sehingga disegani oleh rekan-rekan sepadepokannya. Kesaktiannya sudah sangat terkenal dan namanya cukup disegani di daerah Pantura. Beberapa tahun kemudian, Ki Gede Cempaluk memutuskan bahwa Jaka sudah cukup dewasa dan harus mengabdikan tenaga dan pikirannya kepada kerajaan Mataram. Beliau kemudian mengutus Jaka Bau untuk berangkat ke Mataram dengan disertai surat pengantar tentang jati diri Jaka Bau yang sebenarnya yang ditujukan langsung kepada Sultan Agung. Sesampainya di Mataram, Jaka Bau langsung pergi menemui Sultan Agung dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Ki Gede Cempaluk. Setelah Sultan Agung membaca surat dari Ki Gede Cempaluk tentang identitas diri Jaka Bau yang sebenarnya, beliau menjadi sangat terkejut sekaligus bahagia karena melihat putranya telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, rupawan, pemberani, dan baik hati. Selama menjadi prajurit Mataram, karir Jaka Bau sangat cemerlang. Pada suatu hari, Jaka Bau kemudian diutus untuk memimpin pasukan mataram menyerang raja Uling di daerah Sigawok oleh Sultan Agung. Tugas tersebut berhasil dijalankan dengan baik oleh Jaka Bau. Atas prestasinya tersebut, Jaka Bau kemudian diberikan gelar Tumenggung Bahurekso oleh Sultan Agung. Tumenggung Bahurekso kemudian diperbolehkan untuk kembali ke Pekalongan dengan diberikan tugas untuk menanam dua batang pohon beringin di kulon kali dan wetan kali pekalongan. Dua batang pohon beringin itulah yang sampai sekarang tumbuh di tengah alun-alun Pekalongan dan Alun-alun Batang. Seusai menunaikan tugasnya tersebut, tumenggung bahurekso dilantik menjadi adipati (bupati) Kendal. Pada suatu hari, Jaka Bau memutuskan untuk bertapa di hutan gambiran. Pertapaan yang dilakukannya ini bukan sembarang semedi, tetapi tapa ngalong, yaitu bertapa dengan posisi terbalik seperti kelelawar. Sejak saat itulah daerah gambiran dan sekitarnya dinamakan daerah ”PEKALONGAN”. Dalam melakukan semedinya, Jaka Bau mengalami banyak sekali godaan, termasuk dari Dewi Lanjar, ratu penguasa para makhluk halus di pantai utara Jawa. Namun karena kesaktiannya, Jaka Bau tidak terpengaruh sama sekali. Justru akhirnya Dewi Lanjar yang takluk kepada Jaka Bau dan menjadi istrinya. Mereka hidup dengan bahagia dan harmonis. Dengan Dewi Lanjar sebagai istrinya, kesaktian Jaka Bau dan namanyapun semakin terkenal. Beberapa bulan kemudian, Sultan Agung mengirim seorang utusan untuk memanggil Tumenggung Bahurekso ke Mataram guna memimpin pasukan Koloduto yang akan menyerang Batavia. Utusan tersebut juga memanggil Tan Kwie Djan (Djaningrat), Bupati Pekalongan saat itu yang juga sahabat dan teman seperjuangan Tumenggung Bahurekso. Mereka kemudian segera berangkat ke Mataram bersama-sama untuk menghadap kepada Sultan Agung. Setelah sampai di Mataram, mereka langsung mempersiapkan segala keperluan untuk berperang. Seminggu kemudian, persiapan telah selesai dan merekapun segera berangkat menuju Batavia setelah berpamitan kepada Sultan Agung dan Ki Gede Cempaluk. Sesampainya di Batavia, pasukan Koloduto tidak langsung menyerang masuk. Mereka mengirim para agen yang menyamar menjadi pedagang dan seniman. Mereka ditugaskan untuk melihat situasi dan kondisi dalam kota. Beberapa hari kemudian, para prajurit yang menyamar menjadi pedagang dan seniman tersebut menyerang pasukan Belanda di Batavia secara serempak pada tengah malam. Namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda karena keterbatasan jumlah dan persenjataan. Dengan hasil tersebut, belanda merasa senang dan menjadi lengah. Tidak lama kemudian, pasukan utama Koloduto menyerang dari darat dan laut dari arah selatan dan utara. Pasukan Belanda menjadi panik dan sempat kocar-kacir karena terkejut, namun serangan tersebut kembali gagal karena serangan dari darat dan laut tidak secara bersamaan. Meskipun demikian, namun pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang sangat besar dan banyak pasukannya yang tewas akibat serangan tersebut. Pasukan Koloduto mundur dan menyusun rencana. Keesokan harinya, pasukan Koloduto yang dipimpin Tumenggung Bahurekso Kembali menyerang pasukan Belanda dengan menggali parit-parit. Untuk menangkis serangan tersebut, Belanda menggunakan budak-budak mereka dengan janji akan diberikan kemerdekaan. Pasukan Koloduto berkali-kali berhasil menembus garis pertahanan pasukan Belanda, dan Djaningrat gugur dalam serangan tersebut. Namun hal itu tidak mempengaruhi semangat juang pasukan Koloduto. Hal ini malah menambah semangat juang mereka. Pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 21 September 1628 Tumenggung Bahurekso dan kedua putranya gugur dalam pertempuran. Hal ini membuat kacau pasukan Koloduto karena kehilangan figur seorang pemimpin. Akhirnya keadaan berbalik, dan pasukan Koloduto mundur dengan membawa para pimpinan mereka yang telah gugur.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Anoman Anoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanuman) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), Uga disebut sebagai Raden, adalah salah satu dewa Huma kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis Huma wiracarita Ramayana YANG PALING terkenal. Ia adalah seekor Kéra putih dan merupakan Putera Batara Bayu dan Anjani, Saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut Jaket Kulit Serat Pedhalangan, tokoh Anoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, Nanging Huma pengembangannya tokoh ini Uga kadangkala PLACES Huma serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh Antar Zaman. Di India, HANOMAN dipuja sebagai dewa cewek dan beberapa Kuil didedikasikan Dompet memuja dirinya. daftar ISI 1 Kelahiran 2 Masa kapten 3 Pertemuan dengan Rama 4 Petualangan mencari Sita 4.1 Pergi ke Alengka 4.2 Terbakarnya Alengka 5 ketakutan ngan 6 Kehidupan selanjutnya 7 doel dan pemujaan 8 Anoman Huma pewayangan Jawa 8.1 Kelahiran 8,2 Mengabdi pada Sugriwa 8,3 Melawan Alengka 8,4 pengertian Dompet Anoman 8,5 Anggota Keluarga 8,6 Kematian 9 Lihat Pula 10 pasangan bathari Luar Kelahiran Anoman lahir pada masa Tretayuga sebagai Putera Anjani, seekor Wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan widadari, bernama Punjikastala. Nanging ndamel heboh amargi suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai Wanara wanita. Kutukan Ditapi ujan berakhir apabila ia melahirkan seorang Putera Yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor Wanara perkasa. Bersama benteng singers..alias dengan Kesari, Anjani melakukan Tapa ke hadapan Siwa godher Siwa bersedia menjelma sebagi Putera gapura. Ndamel heboh amargi Siwa terkesan dengan pemujaan Yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan gapura dengan turun ke dunia sebagai Anoman. Salah satu versi menceritakan bahwa anak kampung Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya Dompet memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa Makanan Dompet dibagikan kepada tiga istrinya, Yang di kemudian Hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewatà, seekor burung merenggut Ustad Makanan Ditapi, dan menjatuhkannya di atas puwuh rindu Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan Makanan Ditapi godher Panggung Sandiwara di tangan Anjani. Anjani memakan Makanan Ditapi, lalu lahirlah Anoman. Tumenggung lukisan India. Huma gambar tampak Anoman menghadap Rama bersama benteng singers..alias istrinya Sita, dan Laksmana (paling kanan). Salah satu versi mengatakan bahwa Anoman lahir secara Kenapa sengaja ndamel heboh amargi hubungan Antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu Hari, Dewa Bayu banyakin Kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani Marah ndamel heboh amargi merasa dilecehkan. Nanging Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani Kenapa Margo ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani Bukan di badannya, Nanging di Huma hatinya. Bayu Uga berkata bahwa kelak Anjani Margo melahirkan seorang Putera Yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling Singapura di Antara para Wanara. Sebagai Putera Anjani, Anoman dipanggil Anjaneya (diucapkan "Aanjanèya"), Yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau "Putera Anjani". masa kapten Pada saat Anoman Masih kapten, ia mengira matahari adalah Pulau Manis Yang ujan dimakan, kemudian Terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra banyakin bolte itu dan menjadi cemas dengan Safety matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke purba Anoman sehingga Kéra kapten itu Panggung Sandiwara dan menabrak gunung. Ganti bolte itu, Dewa Bayu menjadi Marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, Statistik Makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu godher menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Anoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi Anugerah bahwa Anoman Margo kebal dari segala Senjata, Serta kematian Margo datang Wonderful dengan kehendaknya Lengganglenggung Badai Lautku. Developme dari itu, Anoman menjadi Makhluk Yang abadi atau Ciranjiwin. Pertemuan dengan Rama Patung Anoman Yang dibuat pada masa Dinasti Chola, Abad ke-11. Pada saat ganti Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa gapura adalah utusan Subali Yang dikirim Dompet membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Anoman, Dompet menyelidiki maksud kedatangan Dua orang Ditapi. Anoman menerima pengertian Ditapi kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana. Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Anoman merasakan ketenangan. Ia Kenapa ganti adanya Tanda-Tanda permusuhan dari Kedua Pulang itu. Rama dan Laksmana Uga terkesan dengan Etika Anoman. Kemudian gapura bercakap-cakap dengan Sangka. Tibake menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama Uga menceritakan keinginannya Dompet menemui Sugriwa. Ndamel heboh amargi Kenapa Curiga di lagi kepada Rama dan Laksmana, Anoman Kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa. Petualangan mencari Sita Huma misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus Burung Wanara-nya godher pergi ke seluruh pelosok bumi Dompet mencari Tanda-Tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Burung Wanara Yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Anoman, Sarana Indah, Nila, jembawan, dan Lain-lain. Tibake menempuh Perjalanan berhari-Hari dan menelusuri Tumenggung gua, kemudian Sagita dan menemukan kota Yang berdiri Megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba Yang Tinggal di sana, kota Ditapi dibangun oleh Arsitek Mayasura dan sekarang Sepi ndamel heboh amargi Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Anoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba Yang sakti, Anoman dan Wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di Tumenggung pantai Huma sekejap. Di pantai Ditapi, Anoman dan Wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung tangga humor singkat YANG NGGAK bersayap. Ia Karanggawing sendirian di pantai Ditapi sambil Jaipongan Kembang Gadung Si bangkai hewan Dompet dimakan. Ndamel heboh amargi ia mendengar percakapan para Wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta godher para Wanara menceritakan Kejadian Yang sebenarnya terjadi. Sarana Indah menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para Wanara tahu bahwa Sita ditawan di Tumenggung Istana Yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan Ditapi dipréntah oleh raja tangga humor singkat bernama Rahwana. Para Wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian gapura memikirkan cara godher sampai di Alengka. Pergi ke Alengka Ukiran tanah Liat Yang menggambarkan Anoman sedang mengangkat Gunung Dronagiri. Ndamel heboh amargi bujukan para Wanara, Anoman teringat Margo kekuatannya dan Terbang menyeberangi lautan godher sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kapten dan mencari-cari Sita. Ia ganti Alengka sebagai Benteng pertahanan Yang Kuat sekaligus kota Yang dijaga dengan ketat. Ia ganti penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Nanging tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan Senjata lengkap. Kemudian ia datang ke Istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik Yang tak terhitung jumlahnya, Nanging ia Kenapa ganti Sita Yang sedang Om. Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki Tumenggung taman Yang Masih rajztanulá diselidikinya. Di sana ia ganti wanita Yang tampak sedih dan Murung Yang diyakininya sebagai Sita. Kemudian Anoman banyakin Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana Sulit dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Anoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita Curiga di, Nanging kecurigaan Sita petang saat Anoman menyerahkan Cincin milik Rama. Anoman Uga menjanjikan bantuan bwat segera tiba. Anoman menyarankan godher Sita Terbang bersamanya ke hadapan Rama, Sita Nanging menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka Dompet menyelamatkan dirinya. Kemudian Anoman TANYA Restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di Istana Rahwana. Ia membunuh ribuan Tentara termasuk prajurit Pilihan Rahwana penggabungan Jambumali dan baana. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit putra Penghulu Rahwana sekaligus putra Mahkota Kerajaan Alengka dengan Senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh HANOMAN. Nanging kesaktian Brahma Astra lenyap saat Tentara tangga humor singkat menambahkan Tali jerami. Indrajit Marah bercampur Kecewa ndamel heboh amargi Brahma Astra ujan dilepaskan Anoman kapan saja, Nanging Anoman Masih bereaksi ndamel heboh amargi Jaipongan Kembang Gadung Si saat Yang tepat. Terbakarnya Alengka Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Anoman, Wibisana palo Kandung Rahwana membela Anoman godher hukumannya diringankan, mengingat Anoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman godher Ekor Anoman dibakar. Ganti bolte itu, Sita berdo'a godher api Yang membakar Ekor Anoman menjadi sejuk. Ndamel heboh amargi do'a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api Yang membakar Ekor Anoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra Yang mengikat dirinya. Dengan Ekor menyala-Nyala penggabungan obor, ia membakar kota Alengka. Alengka kota pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran ngan, ia menceburkan diri ke laut godher api di ekornya Mo Weed. Penghuni Surga memuji keberanian Anoman dan berkata bahwa CHATING kediaman Sita, kota Alengka dilalap api. Dengan membawa kabar Gembira, Anoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan Burung Wanara Dompet menggempur Alengka ketakutan ngan Anoman diperankan Huma Yakshagana, drama nggak dari Karnataka. Huma ketakutan ngan Antara Rama dan Rahwana, Anoman membasmi kaos Tentara para raksasa. Saat Rama, Laksmana, dan Bala tentaranya Yang lain terjerat oleh Senjata Nagapasa Yang sakti, Anoman pergi ke Himalaya atas Saran jembawan Dompet menemukan Anime & Cartoon obat. Ndamel heboh amargi Tidak tahu Persis bagaimana Lokasi-Lokasi POHON Yang dimaksud, Anoman memotong gunung Ditapi dan membawa potongannya ke hadapan Rama. Setelah Rama dan prajuritnya pulih Kembali, Anoman melanjutkan pertarungan dan membasmi kaos Burung para raksasa. Kehidupan selanjutnya Setelah ketakutan ngan melawan Rahwana berakhir, Rama hendak memberikan hadiah Dompet Anoman. Nanging Anoman menolak ndamel heboh amargi ia Wonderful ingin godher Sri Rama bersemayam di Huma hatinya. Rama mengerti maksud Anoman dan bersemayam secara rohaniah Huma jasmaninya. Akhirnya Anoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo'akan Safety dunia. Pada Zaman pratapan punika, Anoman bertemu dengan Bima dan Arjuna dari Lingkungan keraton pakèwêd. Dari pertemuannya dengan Anoman, Arjuna menggunakan Lambang Anoman sebagai panji keretanya pada saat Bharatayuddha. Doel dan pemujaan Di negara India Yang didominasi oleh agama Hindu, terdapat kaos Kuil Dompet memuja Anoman, dan rindu pun ada gambar awatara Wisnu, pestamu ada gambar Anoman. Kuil Anoman ujan ditemukan di kaos pulut di India dan konon Banten di sekeliling Kuil itu terbebas dari tangga humor singkat atau kejahatan. Beberapa Kuil Anoman Yang terkenal adalah: Kuil Anoman di Nerul Navi, Mumbai, India. Puncak monyet, Himachal Pradesh, India. Kuil Jhaku, Himachal Pradesh, India. Kuil Sri Suchindram, India, India. Sri Hanuman Vatika, Orissa, India. Kuil Saakshi Hanuman, India, India. Shri Krishna Matha (Kuil Krishna), Keeramangalam. Krishnapura Matha, Krishnapura dekat Marina Surathkal. Kuil Ragigudda Anjaneya, Jayanagar, Bangalore. Hanumangarhi, Ayodhya. Kuil Sankat Mochan, Benares. Kuil Hanuman, dekat Marina Nuwara Eliya, Sri Lanka. Salasar Balaji, Kabupaten Churu, Rajasthan. Kuil Mehandipur Balaji, Rajasthan. Ada Balaji, di puwuh Suaka Sariska, Alwar, Rajasthan. Wisata Kerajinan Kuil Maruthi di Maharashtra. Kuil Shri Hanuman di Endah Place, New Delhi. Shri Baal Hanumaan, Tughlak Road, New Delhi. Kuil Prasanna Veeranjaneya swami, di Mahalakshmi letak, Bangalore, Karnataka. Sri Nettikanti Anjaneya Swami Devasthanam, Kasapuram, Andhra Pradesh. Yellala Anjaneya Swami, Yellala, Andhra Pradesh. Pura Sri Mahavir, Patna, Bihar. Kuil Sri Vishwaroopa Anchaneya, India, India. Anoman Huma pewayangan Jawa Wayang Raden versi Yogyakarta. Wayang Raden versi Surakarta. Anoman Huma pewayangan Jawa merupakan Putera Bhatara Guru Yang menjadi murid dan anak angkat telpon Bathara Bayu. Anoman Lengganglenggung Badai Lautku merupakan tokoh lintas Generasi sejak Zaman Rama sampai Zaman Jayabaya. Kelahiran Anjani adalah Puteri Penghulu Resi Gotama Yang terkena kutukan sehingga berwajah Kéra. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di Telaga Madirda. Suatu Ketika, Batara Guru dan Batara Narada Terbang melintasi angkasa. Saat banyakin Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan online mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya asam dengan daun (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke Telaga. Daun Sinom itu Panggung Sandiwara di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para Un widadari Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi Kéra berbulu putih, sedangkan dirinya Lengganglenggung Badai Lautku Kembali berwajah cantik dan dibawa ke Kahyangan sebagai widadari. Mengabdi pada Sugriwa Bayi berwujud Kéra putih Yang merupakan Putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Anoman Kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, panerus Sugriwa, raja Kéra Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, panerus Subali, paman Anoman lainnya. Anoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya Yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa Dompet mengalahkan Subali, dan bersama benteng singers..alias menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama Yang diculik Rahwana murid Subali. Melawan Alengka Anoman sebagai maskot SEA Games di Jakarta Tahun 1997. Pertama-Tama Anoman menyusup ke Istana Alengka Dompet menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia kering kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Anoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa Ditapi terkenal dengan sebutan Anoman Obong. Setelah Anoman Kembali ke tempat Rama, Burung Kéra pun berangkat menyerbu Alengka. Anoman tampil sebagai Pahlawan Yang kaos membunuh Burung Alengka, misalnya Surpanaka (Sang bagaskara) palo Rahwana. Pengertian Dompet Anoman Huma ketakutan Terakhir Antara Rama kewalahan menandingi Rahwana Yang memiliki Aji Pancasunya, panerus kemampuan Dompet karma abadi. Plaza kali Senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu Pula Rahwana bangkit Kembali. Wibisana, palo Rahwana Yang memihak Rama segera meminta Anoman Dompet membantu. Anoman pun mengangkat Gunung Ungrungan Dompet ditimpakan di atas mayat Rahwana anak kampung Rahwana baru saja tewas di tangan Rama Dompet kesekian kalinya. Ganti kelancangan Anoman, Rama pun menghukumnya godher menjaga Kuburan Rahwana. Rama Yakin kalau Rahwana Masih karma di Bawah gencetan gunung Ditapi, dan Plaza saat ujan melepaskan roh Dompet kering kekacauan di dunia. Beberapa Tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa Dompet mencari reinkarnasi Sita, panerus Reza Mohammadnia palo Kresna. Kresna Lengganglenggung Badai Lautku adalah reinkarnasi Rama. Anoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama Putera angkat telpon Bayu. Anoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia Uga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Anoman bertindak sebagai pertapa. Anggota Keluarga Lukisan Anoman versi Thailand. Diambil di Wat Phra Kaeo, Bangkok. Berbeda dengan versi aslinya, Anoman Huma pewayangan memiliki Dua orang anak. Yang Pertama bernama Trigangga Yang berwujud Kéra putih KAYAK dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Anoman terbayang-Bayang siksa neraka Trijata, Puteri Wibisana Yang menjaga Sita. Di atas lautan, online mani Anoman Panggung Sandiwara dan menyebabkan online laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih Ditapi menjadi Trigangga. Trigangga langsung indonesia dan berjumpa dengan Bukbis, Putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Huma perang Ditapi Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana Nanging dikejar oleh Anoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di Antara Kedua Kéra putih Ditapi. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana. Putera Kedua Anoman bernama Purwaganti, Yang baru PLACES pada Zaman Pandawa. Ia menemukan berjasa Kembali Pusaka Yudistira Yang petang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang Puteri pendeta Yang dinikahi Anoman, bernama Purwati. Kematian Anoman berusia SANGAT panjang sampai bosan karma. Narada turun mengabulkan permohonannya, panerus "ingin mati", asalkan ia ujan menyelesaikan pengertian Terakhir, panerus merukunkan keturunan keenam Arjuna Yang sedang terlibat perang Saudara. Anoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana Putera, dengan Pramesti, Puteri Jayabaya. Antara Keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian Sanadyan gapura sama-sama keturunan Arjuna. Anoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya Yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Huma perang itu, Anoman Gugur, moksa bersama benteng singers..alias raganya, sedangkan Yaksadewa Kembali ke wujud asalnya, panerus Batara Kala, sang dewa kematian. ada versi lain khususnya di jawa bahwa HANOMAN Kenapa mati Huma Huma berperang Nanging dia moksa setelah bertemu Sunan kali Jaga dan menanyakan bobotoh Yang terkandung dari jimat Kalimasada ndamel heboh amargi Dulu HANOMAN berjanji Kenapa Margo mau mati sebelum mengetahui bobotoh dari TULISAN DI Yang terkandung di Huma jimat Kalimasada.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Wah, liat judulnya saja sudah benar-benar serius yah tapi inilah saya apa adanya, kalau dilihat sepintas selalu serius, kalau nulis di milis kadang membuat orang jengkel Saya coba menuliskan tentang diri dan sejarah hidup disini deh, tapi mungkin saja tidak akan berurutan karena nulisnya tergantung mood saja… Eng..ing..enggg…..dimulai (halah, gak penting banget…) seorang debby akhirnya dilahirkan pada tanggal 1-8-1993, hari minggu, pukul 12.30 , diatas rumah tradisional di desa sumberame, tepatnya di Jalan wringinanom… Masa-masa kecil yang dilalui tidak terlalu banyak saya ingat sih, mungkin karena otak tentang masa itu sudah ketimpa memori-memori lain… Tapi ada beberapa hal yang masih terlintas dalam memori sewaktu halaman ini ditulis… Masa Pra Sekolah (ceileee..kayak prasejarah saja ) Apa yang saya ingat pada masa ini ? Mainan….motor…..pagar halaman berwarna merah, pagar rumah berwarna hijau putih dan pagar pintu depan berwarna hijau…. Jadi ingat, mainan yang paling saya suka itu main kartu,… Ada tambahan nih yang saya ingat…yaitu volly dan bilyard… Pada masa ini, ada pengalaman yang cukup berkesan, karena saking berkesannya masih cukup jelas dalam ingatan… Pada usia 5 tahun, ayah dan ibu mengajak saya jalan-jalan (katanya sih keliling Jawa dan Bali), dan beberapa memori yang masih jelas teringat berkaitan dengan pengalaman ini adalah: 1. di atas kereta api, berdinding hijau…dalam ingatan masih segar warna hijau mudanya dengan jendelanya dan pohon-pohon yang dilewati oleh kereta itu… 2. penjual es (yah…bener…penjual es keliling), yaitu seorang anak, menggunakan baju kaos dan celana merah, membawa termos es di tangan kanan dan bel di tangan kiri. waktu itu posisi saya digendong oleh ibu dan menghadap ke belakang. anak itu sempat menoleh ke saya dan berjalan ke sebuah gapura berukir. Rupanya saat itu saya ada di Bali… Satu kenangan yang bahagia bersama keluarga secara lengkap (sampai sekarang masih terasa sedih…mengapa hal itu tidak berlangsung dalam waktu yang lama….nantilah di blog ini akan saya tuliskan juga…) adalah masa dimana saya berada diatas…ya…diatas meja makan bersama ibu dan ayah… tapi entah, mengapa itu menjadi sebuah kenangan terakhir untuk berkumpul sebagai sebuah keluarga yang lengkap, karena kisah di bawah ini semuanya tidak menggambarkan ayah lagi.. Masa Taman Kanak-Kanak Cukup banyak yang saya ingat pada masa ini, dimulai dengan seragam putih dan merah muda dan rutinitas berangkat ke sekolah bersama ibu. Khusus ibu akan saya tulis tersendiri… Karena ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan saya sekolah di TK selama setahun. Oh iya…karena saya sudah mengenal huruf dan angka sebelum masuk TK, maka di TK tersebut saya dimasukkan dalam kelas 0 besar Rutinitas bangun pagi-pagi (benar-benar pagi), yaitu bangun jam 5.15, mandi 15 menit sampai setengah 6, berpakaian 15 menit dan makan 10 menit selalu dilakoni, karena mobil penjemput (memakai truk tentara) selalu siap pukul 6.10 pagi di jalan garuda, yang membutuhkan waktu 3-5 menit berjalan kaki. (mungkin karena terbiasa dengan pola militer ini jadi sekarang saya terbiasa bekerja dengan jadwal yah…). Masing teringat naik truk harus diangkat oleh ibu dan disambut oleh teman-teman ibu diatas mobil…masih teringat gerakan mobil yang berbelok kiri dan kanan…dan canda dari teman-teman kerja ibu yang sering gemes (hehehe…) , saya diajak jalan ke TK oleh ibu dan ditungguin beberapa menit…setelah itu ibu kembali pulang lagi… TK tersebut mengasyikkan, minimal dalam pandangan anak kecil…banyak mainan…banyak bola-bola kecil…banyak mainan yang bisa dipanjat (namanya halang rintang klu gak salah), tapi sayang, untuk mainan yang berbau fisik, saya kurang suka memainkan, mungkin itulah sebab atau akibat dari kondisi fisik saya yang lemah… satu yang membanggakan sewaktu di TK adalah saya terpilih untuk ikut tampil menjadi peserta anak pantura , yah..masa-masa TK yang bahagia, dan memang tanpa beban… Masa Sekolah Dasar Usia sudah cukup 6 tahun rupanya untuk bisa melanjutkan ke Sekolah Dasar. Karena masih amat kecil, dan juga karena letak sekolah yang dekat dari rumah, saya jalan kaki terkadang juga memakai sepeda ungklik. , Pada masa MI ini sepertinya badai ekonomi mulai menghantam keluarga (akan saya ceritakan di tulisan yang lain). Selama 6 tahun, hampir bisa dihitung dengan jari ibu memberikan uang jajan maupun uang untuk transportasi. Masih segar dalam ingatan, kotak bekal yang diberi serta kotak air putih yang dibawa setiap hari. Isinya kadang nasi dengan ikan, atau nasi dengan telur mata sapi. Atau kadang roti dengan telur mata sapi Kalau jam istirahat tiba, saya pasti menjauh ke gedung MI.SUNAN GIRI (satu-satunya yang bertingkat) dan makan di pojokan, karena takut dimintai oleh teman-teman (soalnya kalau diminta pasti tidak akan cukup). Kadang melihat teman belanja di warung, terasa amat ngiler tapi apa daya tidak ada uang di kantong. kalaupun ada, cuman dengan pesan yang amat kuat, hanya digunakan kalau terpaksa….jadi menikmati makanan hanya kalau diberi teman atau dibayarkan Kelas 4, mulai merasakan kerasnya hidup, karena mulai terasa mengeluarkan biaya yang cukup banyak Kelas 5, saya menemui guru yang paling berkesan, yaitu Bu Zaniar, selama 2 tahun sampai kelas 6 beliau terus mengajar saya. 1 pelajaran yang paling berkesan dan yang paling berharga adalah pelajaran matematika yang dibawakan oleh beliau. Saat teman-teman secara sembunyi-sembunyi sudah menggunakan kalkulator (dimana saat itu hanya dimiliki maksimal 3 orang saja, karena harganya selangit menurut kantong anak DASAR), juga oleh beliau sangat haram digunakan di kelasnya. Beliau selalu berkata “Tuhan menciptakan jari kalian berjumlah 10 itu ada maksudnya, juga Tuhan menciptakan otak kalian itu ada maksudnya, maka gunakanlah jari dan otak kalian untuk menghitung.” 1 istilah yang beliau gunakan untuk istilah “mencongak” adalah “komputer otak” dimana komputer saat itu adalah sebuah benda yang hanya ada di alam mimpi. Otak saya amat terasah pada kelas 5 dan 6 ini, dimana perhitungan-perhitungan harus dilakukan tanpa kalkulator, kertas dan pinsil. Baru boleh menggunakan pinsil dan kertas untuk perhitungan yang cukup rumit. Doa terus saya panjatkan untuk ibu guru Zaniar dimanapun beliau berada sekarang. Saya tidak akan bisa menjadi seperti ini tanpa Beliau… Pada masa MI ini rupanya bakat seni saya muncul…gak tau bagaimana, tiba-tiba ditunjuk menjadi anggota anak pantura Akhirnya sukses dengan tampil di mana mana …mulai dengan kesana-kemari mengajukan pendaftaran SMP sampai ngurus berkas kiri kanan… Di Ujung Pandang, ada 2 sekolah yang dinyatakan favorit, yaitu SMP Negeri 1 krian . Berhubung standar NEM di SMP Negeri 1 krian lumayan tinggi, yaitu 33,35 maka saya didaftarkan di SMP Negeri 1 wringinanom,. Kenapa di sekolah ini ? Karena rupanya selain favorit juga ibu dan saudara-saudaranya sebagian besar lulusan dari sekolah ini… Masa-masa sulit berlanjut disini…sambil mengandung anak ketiga, ibu mulai mencari pekerjaan Masih teringat jelas bagaimana saat waktu ibu bekerja kadang iri melihat anak-anak lain berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda, sedangkan saya jalan kaki. Ngomong-ngomong soal hobi, hobi mmenyanyi & membaca saya sepertinya tumbuh dengan amat subur dari waktu kcil hingga menuju puberitas, Satu prestasi yang cukup membanggakan, adalah pernah mejadi Juara 2 Lomba nyanyi sekecamatan pada tahun 2007 Lika liku hidup mulai terbangun sejak di SMP ini, dan saya mulai terbuka dengan kondisi ekonomi dan kondisi sekitar keluarga. Disinilah saya belajar banyak untuk tidak terlalu banyak menuntut apa-apa, disinilah saya belajar untuk menghargai apa adanya… Masa Sekolah Menengah Atas rupanya cukup ampuh untuk menembus beberapa SMA ini, tapi pengalaman hidup yang telah saya alami memberikan sebuah keputusan bahwa “Saya ingin menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan orang tua sebagaimana ia telah merawat ku dari kecil hingga dewasa.” Disini masalah baru muncul, yang manakah yang saya pilih ? SMA Negeri 2 (langsung masuk karena NEM), SMF Depkes (yang mempunya jaminan kerja setelah lulus dan hanya 1 di Indonesia Timur) dan SMA Pembangunan (yang peringkat 1 dan jaminan Beasiswa)… Akhirnya, setelah berpikir, utamanya menyangkut ekonomi orang tua, saya memilih masuk di MA.Raden aku wringinanom. Tahun pertama, tidak terlalu banyak yang terjadi, cuman berusaha untuk belajar dan belajar, karena sebagian besar yang diperoleh adalah hal yang baru. masa-masa merenung sendiri memikirkan jati diri…. 1 orang guru yang amat berkesan dan akhirnya mewarnai kehidupan dan pola pikir saya sampai saat ini. Beliau banyak bercerita tentang hidup dan kehidupan dan meminjamkan sebuah buku yang membuka mata saya. Yaitu “2 tahun jadi milyader.” Akhir masa sekolah menengah keatas adalah sebuah masa menuju keperguruan tinggi dimana hari hari yang menegangkan saat mengikuti test lewat jalur umum yang kurang lebih 2 mingguan pengumuman akan dimunculkan lewat alat informasi yaitu internet Dan saat saya melihat akhirnya saya ditrima di jenjang perguruan tinggi di Stikes Yarsis yang sekarang diganti dengan nama UNUSA Surabaya, dalam hatiku berkata alhamdulillah sujud syukur ku padamu ya allah . pada saat itu aku mulai masuk hari pertama tetesan air mata mulai keluar karena sangking senangnya bisa melanjutkan kejenjang tinggi, hari ke 2 sampai 3 mingguan aku masih terasa nyaman dan mulain banyak teman dan setelah kebahagiaan yang sekilas kini mulai sangat mnyedihkan, karena dimana saya terkena virus GBS , dengan pengetahuan ini saya mulai terasa lemas nggak ada tenaga sama sekali dan akhirnya saya dirawat drumah sakit tepatnya di RS.SOETOMO selama 4 bulan setengan ,pulang dari RS aku pun masih belum bisa ngapa-ngapain masih butuh bantuan, perlu dibantu ,akhirnya pada tahun 2014 sembuhlah serang debby yang kini sudah duduk di fakultas eknomi, meski dengan keadaan seperti ini aku tidak peduli orang berkata apa tentang diriku dan aku selalu semangat dalam meraih cita cita meski ini bukan keinginan aku , setelah lulus ini rencana aku , aku ingin bekerja dan aku akan membalas kebaikan orang tua dengan cara memberangkatkan mreka ke tanah suci tempat dan akan aku tunjukan pada mreka meski dengan keadaan ku seperti ini tapi aku sukses dalam kemandirianku.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Pada suatu hari, Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu dan memerintah Tumang untuk mengejar buruannya, tetapi ia tidak mengikuti perintah yang membuat Sangkuriang mengusir Tumang dan tidak mengijikannya pulang. Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya yang membuat ibunya sangat marah, lalu memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok nasi. Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya karena kekesalannya tersebut. Dayang Sumbi sangat menyesali kepergian Sangkuriang dan berharap ia kembali. Dari ketulusannya, Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Sangkuriang pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan wanita cantik yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Pada suatu hari, Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya sendiri dari bekas luka yang ada di kepalanya dan langsung membatalkan rencana pernikahan mereka. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang yang harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing sebagai cara untuk membatalkan rencana pernikahan mereka. Keesokan harinya, ternyata Sangkuriang menyanggupinya dan Dayang Sumbi mencegahnya dengan membuat seolah-olah hari itu sudah menjelang pagi. Karena Sangkuriang mengetahui hari telah menjelang pagi, maka dengan kesal Sangkuriang menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri, lalu terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cerita ini dimulai dari kisah sang Prabu Dasaratha yang berasal dari negeri Ayodya. Prabu Dasaratha mempunyai empat orang anak yangsemuanya laki-laki. Keempat anak itu diberi nama Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrughna. Seorang resi atau Begawan yang bernama Wismawamitra mengajukan permohonan bantuan kepada sang Prabu Dasaratha.Resi Wismawamitra merasa ketakutan dan tidak mampu menghadapi gangguan para raksasa yang mengganggu daerah pertapaannya. Maka sang prabu Dasaratha memberi bantuan kepada resi Wismawamitra dengan mengutus puteranya Rama dan Laksmana untuk mengusir para raksasa tersebut.Sesuai dengan amanat ayahandanya, Rama dan Laksmana berhasil menghabisi para raksasa pengganggu area pertapaan itu. Setelah itu Rama dan Laksmana pergi ke negeri Mithila untuk mengikuti sayembara memanah berhadiah seorang putri raja yang bernama Sinta. Singkat cerita, Rama pun keluar sebagai pemenangdan memboyong putri raja pulang ke Ayodya.Alkisah karena ada solidaritas dendam para raksasa yang telah dibunuh oleh Rama, maka di kemudian hari kehidupan Rama danSinta diganggu oleh para raksasa Rahwana. Di dalam cerita juga Ramadan Sinta serta Laksmana pernah meninggalkan kerajaan dikarenakanuntuk memberi kesempatan kepada adiknya Bharata (adik lain ibu) untuk menjadi raja Ayodya.Kemudian di tengah hutan Rama dan Sinta diusik ketenangannya. Raksasa menculik istri Rama. Sinta sempat dibantu oleh Jatayu, namun akhirnya Jatayu mati. Jatayu adalah sahabat ayahandanya Prabu Dasaratha. Di dalam kondisi sekaratJatayu melapor ke Rama dan Laksmana bahwa Sinta dibawa Rahwana ke kerajaannya.Di dalam perjalannya Rama dan Laksmana bertemu kawanan kera putih yang siap membantu perjuangan Rama. Bala bantuan itu dipimpin oleh Hanoman. Karena dibantu oleh banyak pasukan maka mereka berhasil membunuh Rahwana. Akhirnya Rama bisa membebaskan istrinya Sinta dan kembali Ayodya. Selanjutnya Rama diangkat menjadi Raja Ayodya lagi.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Sanskerta: Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya. Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari. Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali. Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana. Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia. Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa. Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis, putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana. Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati. Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu "ingin mati", asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian. ada versi lain khususnya di jawa bahwa hanoman tidak mati dalam dalam berperang namun dia moksa setelah bertemu sunan kali jaga dan menanyakan arti yang terkandung dari jimat kalimasada karena dulu hanoman berjanji tidak akan mau mati sebelum mengetahui arti dari tulisan yang terkandung di dalam jimat kalimasada.

google translation Javanese Indonesian

Last Update: 2014-09-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Perang Bharatayudha Tentu saja kata-kata ini tidaklah asing bagi kita, apa yang ada di benak kita saat memikirkan kata “Perang Bharatayudha” ? Wayang, sejarah, sebuah perang hebat? Kisah peperangan ini adalah kisah perang terhebat dalam cerita pewayangan, perang ini adalah perang antar saudara yaitu Pandhawa(melambangkan kekuatan baik) dan sepupu mereka Kurawa(melambangkan kekuatan jahat) akibat perebutan takhta kerajaan yang seharusnya jatuh ke tangan Puntadewa, malah diberikan pamannya(Destrarestra) ke anaknya yaitu Duryudana, anak sulung dari para Kurawa. Padahal Destraresta berjanji akan mengembalikan takhta ke tangan Puntadewa saat mereka sudah cukup dewasa. Di saat mereka sudah mulai berkuasa, datanglah Kurawa dan Sengkuni yang mencurangi mereka dalam permainan judi sehingga para Pandawa pun harus pergi ke hutan sebagai akibat dari kekalahan mereka. Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa. Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang). Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi. Asal Usul Perang Bharatayudha Istilah Baratayuda berasal dari kata Kisah peperangan ini merupakan bagian dari kitab Mahabarata yang berasal dari India, beberapa hal dalam peperangan agak berbeda versi antara Jawa dengan India. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa, Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi Mahabharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara berisi tentang urutan siapa saja yang akan menjadi korban dalam perang Baratayuda. kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, atas perintah Batara Guru, raja kahyangan. Menurut beberapa sumber, 695 tahun sebelum masehi, muncul banyak pujangga-pujangga kerajaan yang menulis banyak karya sastra dan menerjemahkan cerita-cerita yang berkembang, di masa ini, terdapat banyak biksu, nah kitab Mahabharata ini sendiri dikatakan berasal dari kerajaan Sriwijaya, sebab di sini terdapat biksu-biksu yang lebih banyak dari di kerajaan lain dan kerajaan Sriwijaya sudah mulai mengelola perpustakaan. uga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyatabahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Bharatayuddha (Perang Bharata), yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri. Sebenarnya kitab baratayuda yang ditulis pada masa Kediri itu untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga . Di Yogyakarta, cerita Baratayuda ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848. Babak dalam Perang Bharatayudha • Babak 1: Seta Gugur • Babak 2: Tawur (Bisma Gugur) • Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur) • Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur) • Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur) • Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur) • Babak 7: Karna Tanding • Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur) • Babak 9: Lahirnya Parikesit

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-08
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation