MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: cerita rakyat dewi sri    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

arjuna adalah salah satu tokoh dalam cerita mahabharata

Basa Jawa artikel bab wayang kulit

Last Update: 2014-08-25
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Seni Barong atau Barongan atau Singo Barong, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Kendal.

sSeni Barong atau Barongan atau Singo Barong, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Kendal.

Last Update: 2012-09-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Yudistira alias Darmawangsa adalah ksatria tertua dari para Pandawa dan merupakan salah satu tokoh Protagonis dalam Cerita Mahabarata. Yudistira adalah putera dari Pandu dan Dewi Kunti. Ia adalah raja dari kerajaan Kuru yang pemerintahannya berpusat di Hastinapura. Dalam pewayangan, Yudistira mendapat gelar “Prabu” dan dikenal sebagai Puntadewa. Dan kerajaannya disebut Kerajaan Amarta. Arti Nama Dalam bahsa Sansekerta, Yudistira bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Yudistira juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja yang berarti “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya. Yudistira memiliki banyak julukan, dan diantaranya adalah: • Ajataśatru, "yang tidak memiliki musuh". • Bhārata, "keturunan Maharaja Bharata". • Dharmawangsa atau Dharmaputra, "keturunan Dewa Dharma". • Kurumukhya, "pemuka bangsa Kuru". • Kurunandana, "kesayangan Dinasti Kuru". • Kurupati, "raja Dinasti Kuru". • Pandawa, "putera Pandu". • Partha, "putera Prita atau Kunti". • Puntadewa, "derajat keluhurannya setara para dewa". • Yudistira, "pandai memerangi nafsu pribadi". • Gunatalikrama, "pandai bertutur bahasa". • Samiaji, "menghormati orang lain bagai diri sendiri". Sifat dan Kesaktian Sifat-sifat yang dimiliki Yudistira sudah tercermin dalam nana –nama julukannya. Namun sifat yang paling menonjol dari yudistira adalah adil,sabar,jujur,taat terhadap ajaran agama,penuh percaya diri,dan berani berspekulasi. Dalam kisah Mahabarata, Yudistira memiliki kelebihan atau kemampuan dalam memainkan tombak,sedangkan dalam pewayangan Jawa, Yudistira memiliki kesaktian atau kemampuan batin, misalnya ia pernah dikisahkan mampu menjinakkan kewan-hewan buas di hutan Wanamarta hanya dengan meraba kepala mereka. Yudistira memiliki beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Pusaka Jamus Kalimasada itu berupa kitab, Tunggulnaga berupa payung, seedangkan Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Kalimasada dan Tunggulnaga menjadi pusaka utama kerajaan Amarta,sedangkan Robyong Mustikawarih adalah pusaka pemberian Gandarma, patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila Yudistira sudah sampai pada ambang batas kesabarannya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika ia berubah menjadi raksasa besar yang berkulit putih bersih. Kelahiran dan Masa Kecil Yudistira Ada perbedaan kisah tentang kelahiran Yudistira, Dalam kitab Mahabarata bagian pertama atau Adiparwa, mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu, ayah Yudistira yang tanpa sengaja telah membunuh Brahmana bernama Resi Kindama saat ia (Resi Kindama) dan istrinya sedang bersenggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya, Resi Kindama mengutuk pandu,bahwa ia akan mati ketika mengawini istrinya. Dengan penuh penyesalan,pandu kemudian meniggalkan tahta Hastinapura untuk pergi bertapa demi mengurangi hawa nafsunya. Kedua istrinya yaitu Kunti dan Madri pun setia mengikuti Pandu. Pada suatu hari, Pandu mengutarakan ingin memiliki anak, Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya dengan mantra itu. Mantra iru adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama mereka itu diberi nama Yudistira. Dharma adalah dewa keadilan dan kebijaksanaan, dan Yudistira pun mewarisi sifat Dharma sepanjang hidupnya. Dalam versi pewayangan Jawa, Puntadewa atau Yudistira adalah anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Bathara Dharma hanya sekedar menolong kelahiran Puntadewa dan member restu untuknya. Berkat bantuan Dharma, Puntadewa lahir dari ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa juga melukiskan bahwa Yudistira adalah seorang manusia berdarah putih, yang berarti sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran. Yudhistira dan para Pandawa yang lain mempelajari ilmu agama,hukum, dan tata Negara kepada Resi Krepa bersama-sama dengan saudara-saudara sepupu mereka yaitu Korawa. Dalam pendidikan ini, Yudistira adalah murid yang paling pandai. Setelah itu, Pamdawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam hal ini,Arjuna adalah murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah, sementara Yudistira lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-19
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jkok (Penokohan) : 1. Bawang Bombai : lemah lembut, sabar 2. Ibu Bawang Bombai : sombong, jahat 3. Cabai keriting : sombong jahat 4. Pengawal : tegas 5. Buto Ijo : baik hati, pemarah 6. Raja : tegas, licik 7. Pangeran : penyabar, baik hati Narasi : Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang gadis yang bernama Bawang Bombai dengan ibu tiri dan saudara tirinya, karena sifat jahat ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Bombai terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci semua pakaian kotor di sungai. Hingga suatu hari terjadilah peristiwa yang tidak diduga oleh Bawang Bombai, untuk cerita selengkapnya, mari kita saksikan di TKP ! (suara gamelan) (hening) (suara kicauan burung dan gemercik air sungai) BABAK 1 TERLIHAT BAWANG BOMBAI TENGAH MERATAPI NASIBNYA SAMBIL MENCUCI SETUMPUK PAKAIAN DI SUNGAI. Bawang Bombai : “Setiap hari, pekerjaan ini yang harus aku lakukan. Membuatku rindu dengan ayah dan ibu. Ayah, Ibu, Bombai merindukan kalian.” (TIBA-TIBA CABAI KRITING DAN IBUNYA MUNCUL) Cabai Keriting : ”Kayaknya ada yang lagi kangen sama ayah dan ibunya ni !.” Bawang Bombai : “Kakak, ibu, kenapa kalian ada di sini ?.” (KAGET) Ibu Tiri : “Hei!, denger ya, bukan urusan kamu, aku sama Keriting ada di sini.” Cabai Keriting : “Denger gak kamu ?, uda sana lanjutin pekerjaan kamu. Rumahnya juga belum dibersikan tahu!.” Bawang Bombai : “Iya, maafkan saya Bu, Kak.” (BOMBAI MELANJUTKAN MENCUCI, SEMENTARA CABAI KERITING DAN IBUNYA SIBUK MERAPIKAN DIRI DAN BERDANDAN) Cabai Keriting : “Sebentar lagi, mereka pasti akan lewat.” Ibu Tiri : “Iya, karena itu jaga penampilan kamu!.” TAK LAMA KEMUDIAN, MUNCULLAH PARA PENGAWAL ISTANA DENGAN MEMBUNYIKAN KENTONGAN) Pengawal : “Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman.” Ibu Tiri : “Hei kalian, gak lihat apa ada orang di sini!, dari tadi pengumuman pengumuman. Emang apa pengumumannya ?.” Cabai Keriting : “Iya dari tadi kita di sini nungguin kalian tahu. Emangnya pengumuman apa si ?.” Pengawal : “Sabar dong. Nyonya-nyonya ingin tau saja apa ingin tahu banget?.” Cabai Keriting : “Ya, ingin tahu banget lah. Kita uda jauh-jauh kesini cuma ingin mendengar pengumuman kalian secara langsung. Bukan lewat kabar burung.” Ibu Tiri : “Uda ayo cepat. Apa pengumumannya, bacakan !” Pengawal : “Baiklah, dengarkan baik-baik.” (BAWANG BOMBAI JUGA TURUT MENDENGARKAN) Pengawal : “Diberitahukan kepada seluruh gadis di seluruh penjuru negeri ini, untuk datang ke istana pada malam tahun baru, karena sang raja akan mengadakan pesta. Sekian terimakasih. Sudah nyonya, saya mau melanjutkan perjalanan. Pengumuaman, pengumuman.” (PENGAWALPUN BERLALU PERGI) Cabai Keriting : “Wah! pasti seru banget. Hei Bombai, jangan harap kamu bisa ikut ya. Kita tidak mengijinkan!, ya kan Bu ?.” Ibu Tiri : “Tentu saja. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu dan pulang!, kita berdua mau ke pasar dulu untuk membeli baju yang bagus.” Cabai Keriting : “Rasain!.” (SAMBIL MENENDANG KERANJANG CUCIAN BAWANG BOMBAI DAN BERLALU PERGI) BAWANG BOMBAI KEMBALI SENDIRI DAN MEMBERESKAN CUCIAN YANG BERANTAKAN. Bawang Bombai : “Ibu Tiri hanya cinta, kepada ayahku saja .. selagi ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja. Tapi bila ayah pergi, ku disiksa dan dimaki, “ (MENYANYI DI IRINGI MUSIK) “Sabar sabar, semua ini sudah takdir yang harus aku jalani, meski berat, aku harus bersyukur. Bersyukur tidak jadi Pejabat, (TERTAWA). Kasihan –kasihan. Kasihan kalau ditanya malaikat, mereka jujur gak ya ?, kalau di pengadilan manusia si masih bisa bohong, masih bisa main suap. Malaikat disuap apa ya ? (TERTAWA) jadi nglantur.” (MENYANYI) “Andaiku gayus tambunan, yang bisa pergi ke Bali, semua keinginannya, masih bisa terpenuhi, ….” Buto Ijo : “Terdengar merdu sekali suaranya, buat hatiku berdebar. Siapa ya gadis cantik itu…. ?” (BERJALAN MENGENDAP DI BALIK POHON) Bawang Bombai : “Hai… siapa ya ?. Terdengar suara tapi gak ada orangnya. Jangan nakutin dong ?. Ayo keluarlah !” Buto Ijo : “Maafkan aku tuan putri, aku telah mengganggu pekerjaanmu.” (MASIH DIBALIK POHON DENGAN SUARA DIBUAT-BUAT) Bawang Bombai : “Tidak, kamu tidak menggangguku. Siapa kamu ?, kenapa bersembunyi ?, keluarlah” Buto Ijo : “Maafkan aku tuan putri, aku malu.” Bawang Bombai : “Syukurlah, ternyata hari gini ada orang yang masih punya rasa malu. Tapi kenapa kamu malu ? Apa kamu malu karena sudah korupsi ?. Aku bukan KPK kok !. Jangan takut” Buto Ijo : “Tuan putri bisa saja. Aku malu karena aku jelek tuan putri. Aku khawatir tuan putri takut jika melihat aku.” Bawang Bombai : “Tenang saja, asal kamu bukan gederuwo aku tidak akan takut. Keluarlah !” ( BUTO IJO KEUAR TAPI TUBUHNYA DISELIMUTI DENGAN KAIN) Bawang Bombai : “Kenapa kamu tutupi tubuhmu ?” Buto Ijo : “Aku malu dan takut tuan putri lari jika melihat aku.” Bawang Bombai : “Baiklah, biar aku yang membuka kainnya, kan ku buktikan jika aku tidak takut padamu.” (BAWANG BOMBAI MEMBUKA PENUTUP TUBUH BUTO IJO) Bawang Bombai : “Aawwww!!,” (BAWANG BOMBAI TERIAK MENJAHUI BUTO IJO) Buto Ijo : “Tuan putri jangan takut, aku tidak sedang mencari timun mas untuk dimakan, tapi aku sedang mencari………………….” (BUTO IJO BERBALIK DAN MENGELUARKAN MAWAR MERAH DARI BALIK BAJUNYA) Bawang Bombai : “Maaf, kalau boleh tahu, kamu mencari siapa ?” Buto Ijo : “Aku mencari……………..” Bawang Bombai : “Iya mencari siapa ?” Buto Ijo : “Aku mencari…………….. “ (BUTO IJO BINGGUNG TIDAK BISA MENGUNGKAPKAN PERASAANNYA) Bawang Bombai : “Sampai kapan aku menunggumu untuk bicara ?” Buto Ijo : “Maaf, aku mencari seorang putri yang mau berteman denganku.” Bawang Bombai : “O, tapi aku bukanlah tuan putri, jadi jangan panggil aku tuan putri. Sekarang biar kuantar kamu ke rumah tuan putri.” Buto Ijo : “Tidak, tidak, aku ingin berteman denganmu saja. Bolehkah ?.” Bawang Bombai : “Baiklah, asalkan kamu tidak akan memakanku. Namaku Bawang Bombai, kamu siapa ?.” (SAMBIL MENGULURKAN TANGAN) Buto Ijo : “Panggil saja aku Ijo.” (KEDUANYA SEKARANG BERTEMAN, BUTO IJO MEMBANTU BAWANG BOMBAI MENCUCI) Buto Ijo :“Sini aku bantu. Kamu istirahat aja dulu.” Bawang Bombai : “Kenapa kamu baik sekali.” Buto Ijo : “Karena kamu sudah bersedia menjadi temanku.” BUTO IJO MERASA SANGAT SENANG, BEGITU PULA BAWANG BOMBAI. DITANGAN BUTO IJO, PEKERJAAN BAWANG BOMBAIPUN CEPAT SELESAI. Bawang Bombai : “Oh ya, besok malam raja akan mengadakan pesta. Aku ingin datang ke pesta itu. Tapi aku tidak tahu jalannya. Ibu dan kakakku tidak mengijinkan aku untuk ikut.” Buto Ijo : “Jangan khawatir, aku akan mengantarkanmu.” Bawang Bombai : “Sungguh ?.” Buto Ijo : “Iya.” Bawang Bombai : “Terimahkasih. Tadi kamu sudah membantuku, besok mau mengantarkan aku. Sekarang, apa yang bisa kulakukan untukmu Ijo ?.” Buto Ijo : “Aku senang sekali bisa bersama kamu Bombai. Kalau boleh, aku ingin bersamamu terus. Apa boleh ?.” Bawang Bombai : (HANYA MENGANGGUK) “Sekarang pulang yuk ?.” Buto Ijo : “Biar aku yang bawakan cuciannya.” Bawang Bombai : “Terimakasih.” BABAK 2 SUASANA KERAJAAN YANG RAMAI, BANYAK GADIS YANG BERDATANGAN. DUDUKLAH SANG RAJA DAN PUTRANYA. Raja : “Putraku, pilihlah satu gadis yang menarik hatimu, dan jadikan ia pendampingmu selamanya.” Pangeran : “Baiklah ayah, semoga ada gadis yang mampu mencuri hatiku.” PENGAWAL MEMBUNYIKAN KENTONGAN, PERTANDA ADA YANG MAU DISAMPAIKAN. Pengawal : “Perhatian, perintah dari Sang Baginda Raja, para gadis diminta untuk memperkenalkan dirinya satu persatu.” TANPA BASA-BASI CABAI KERITING LANGSUNG MAJU MEMPERKENALKAN DIRI. Cabai Keriting : “Permisi Sang Raja, Pangeran. Perkenalkan nama saya Cabai Keriting. Saya yang paling cantik diantara gadis-gadis yang ada disini.” Raja : “Terimakasih Cabai Rawit.” Cabai Keriting : “Cabai Keriting Baginda.” Raja : “Ya, maaf. Terimakasih Cabai Keriting. Silahkan kembali ketempatmu.” PANGERAN BERBISIK KEPADA PENGAWAL UNTUK MEMINTA BAWANG BOMBAI MEMPERKENALKAN DIRI. PENGAWALPUN MEMINTA BAWANG BOMBAI UNTUK MAJU. Bawang Bombai : “Maafkan saya Baginda, Pangeran. Saya malu untuk memperkenalkan diri.” Raja : “Jangan malu, perkenalkan saja siapa nama kamu.” Bawang Bombai : “Nama saya Bawang Bombai Baginda.” Pangeran : “Dimana kamu tinggal Bombai ?.” Bawang Bombai : “Di tengah hutan Pangeran.” Pangeran : “Sekarang pulanglah, bilang pada kedua orang tuamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di Istana.” Ibu Tiri : “Maaf Pangeran, saya ibunya Pangeran, dan ini Cabai Keriting adalah kakak Bawang Bombai. Kenapa Bombai harus tinggal di Istana. Tentu kami akan merasa sedih dan merasa kehilangan Pangeran.” Cabai Keriting : “Iya Pangeran. Bawang Bombai biar bersama kami saja.” Raja : “Kalau begitu kalian berdua juga saya ijinkan untuk tinggal di Istana bersama Bawang Bombai.” Ibu Tiri : “Terimakasih Baginda, terimakasih Pangeran.” Raja : “Kalau begitu, pesta ini saya akhiri, mari ikut saya untuk berkeliling Istana.” (PESTAPUN BERAKHIR, RAJA, IBU BAWANG BOMBAI DAN CABAI KERITING MENGIKUTI SANG RAJA BERKELILING ISTANA, DAN TINGGALLAH PANGERAN BERSAMA BAWANG BOMBAI) Pangeran : “Bawang Bombai, kenapa nama kamu Bawang Bombai ?.” Bawang Bombai : “Maaf, pangeran. Dulu saya sangat gendut, dan semenjak Ibu saya meninggal. Saya harus ikut ibu tiri. Semenjak itu, saya yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena para pembantu di usir oleh kakak tiri saya Cabai Keriting.” Pangeran : (TERSENYUM) “Sekarang, disini kamu tidak akan pernah melakukan pekerjaan itu lagi.” Bawang Bombai : “Bagaimana bisa Pangeran. Ibu dan kakak saya kan ada disini.” Pangeran : “Di Istana banyak pembantu yang akan mengerjakan semuanya Bombai.” Bawang Bombai : ”Terus, kenapa saya harus tinggal di istana Pangeran.” Pangeran : “Kamu akan menemaniku jalan-jalan disaat santai.” Bawang Bombai : “Apa Pangeran tidak malu berjalan-jalan dengan saya.” Pangeran : “Tidak Bombai, sebenarnya aku sudah sering melihatmu, saat kamu mencuci begitu banyak pakaian di sungai. Dan kesederhanaanmu itu, membuat kamu kelihatan sangat cantik. Sekarang, bersediakah kamu ku jadikan permaisuri ?.” (SAMBIL MEMBERIKAN SETANGKAI BUNGA MAWAR) DENGAN MALU-MALU BAWANG BOMBAI MENERIMANYA, HATINYA SANGAT SENANG HINGGA LUPA JIKA IA DITUNGGU OLEH BUTO IJO YANG TADI MENGANTARNYA, SEHINGGA BUTO IJO DENGAN MURKA MEMAKSA MASUK MENCARI BAWANG BOMBAI KARENA DIA SUDAH LAMA MENUNGGU. Buto Ijo : “Bombai !!” (DENGAN WAJAH MARAH KARENA MELIHAT BOMBAI DIPELUK OLEH PANGERAN) Bawang Bombai : “Ijo.” Pangeran : “Pengawal !” (PANGERAN BERSERU KETAKUTAN) DENGAN SEGERA PENGAWAL MENGHADANG BUTO IJO, TAPI BUTO IJO BERONTAK DAN MENYERANG PANGERAN. PANGERAN TAMPAK MENYERAH SEHINGGA SALAH SATU PENGAWAL MEMANGGIL SANG RAJA. PANGERAN NAMPAK LEMAH. TETAPI RAJA SEGERA DATANG DAN BUTO IJO BERHENTI MENGHAJAR PANGERAN. Raja : “Siapakah kamu ?, dan apa maksud kamu datang kemari.” Bawang Bombai : “Maaf, Baginda. Dia Buto Ijo teman saya.” Raja : “Teman kamu ?.” Bawang Bombai : “Iya Baginda. Saya mohon, maafkanlah dia” NAMPAKNYA RAJA TAHU AKAN KEMARAHAN BUTO IJO, SEHINGGA IA MEMPUNYAI SIASAT UNTUK MEMBUNUH BUTO IJO AGAR TIDAK LAGI MENGGANGGU BAWANG BOMBAI. Raja : “Baiklah, kalau begitu, duduklah Buto Ijo, pengawalku akan membawakan makanan untukmu. Bawang Bombai, Putraku, pergilah kalian beristirahat, biar saya yang menjamu Buto Ijo di sini ” RAJA MEMBERI ISYARAT KEPADA PENGAWAL UNTUK SEGERA MASUK MEMBAWA MAKANAN YANG TERNYATA SUDAH DIBERI OBAT TIDUR DAN RACUN Raja : “Makanlah, kamu pasti lapar.” BUTO IJOPUN MEMAKAN SEMUA HIDANGAN DENGAN LAHAP, SAMPAI IA TERTIDUR DAN TIDAK AKAN BANGUN LAGI SELAMANYA. (PARA PENGAWAL MASUK DAN MEMBAWANYA KELUAR) SESUNGGUHNYA RAJA SANGAT DENDAM DENGAN KELUARGA BUTO IJO YANG PERNAH MEMAKAN SEBAGIAN RAKYATNYA, SEHINGGA IA SANGAT DENDAM DAN TEGA MEMBUNUH BUTO IJO. SEJAK SAAT ITU, BAWANG BOMBAI TAK PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN BUTO IJO, DAN IA MERAYAKAN PESTA PERNIKAHAN DENGAN SANG PANGERAN, IBUNYA DI PERSUNTING SANG BAGINDA, SEDANGKAN CABAI KERITING TERNYATA JATUH HATI DENGAN PENGAWAL. MEREKAPUN HIDUP BAHAGIA DI ISTANA. awa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-19
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

ADAT ISTIADAT JAWA (manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat) Wus pinasti wanito puniki,Dadi wadah wijining tumitah,Den aji aji wajibe Watak suwargo nunut,Nunut iku gese njalari,Dadyo nomo suwargo Yen tetesing luhur,Winastono neroko Lamun hamadhani asor asorin budi,wiji haneng poro prio Lahir dan mendewasakan anak Mupu, artinya mungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya. Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya. Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak. Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan. Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah. Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki. Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas maka si bayi diperkirakan laki-laki. Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a memohon kepada Tuhan. Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih, sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5 (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya bernama T. Dewantoro. Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata T. Dewantoro berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka T.Dewantoro berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan luas,cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya. Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur ayam rebus dan bubur merah-putih. Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten. Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik, maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang dilanjutkan dengan cerita Murwakala. Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan kalimat : laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua). Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang. Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau jaka,suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4 (empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng. Saat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain: jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake balung apisah(menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung kapirangu (tergila-gila/cinta). Melamar Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan. Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup. Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen. Perkawinan Orang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memberikan sejumlah uang guna membantu pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana. Dalam perkawinan harus dicari hari "baik", maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli hitungan hari "baik" berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa yang akan membikin tubuh ideal dan singset. Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal. Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil hitungannya (3 - 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat, yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya, yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya, perlambang status raja. Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan "semoga selamat di dalam hidupnya". Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang. Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu. Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk). Upacara akad nikah, harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah. Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya. Misalnya dalam gaya Solo, di hari "H"nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal (biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek. Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan. Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap: Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak ? (berat mana Pak ?), yang dijawab sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur. Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin. Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan) berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah kedua pengantin). Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu, dsb.nya. Mati/Wafat Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya). Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda. Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong kambing untuk disate dan gule. Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roch seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-18
Subject: Literary Translations
Usage Frequency: 6
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

(Suara Gendhing Jawa) Alkisah pada suatu hari, Rama diutus oleh Prabu Desarata untuk bertapa di hutan Dandaka. Ia ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Mereka bersama-sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Desarata. Siang itu, setelah berjalan begitu jauh dari Ayodya, akhirnya mereka sampai di hutan Dandaka. Rama : “Dinda, sepertinya kita sudah sampai, apa dinda capek?” Shinta : “Tidak kakanda, selama aku ada disampingmu aku tidak akan pernah merasa capek” Rama : “Ah…! Dinda ini bisa aja! Aku jadi tersandung...” Shinta : “Lho… Kok tersandung Kakanda?” Rama : “Eh… tersanjung maksudku, Dinda!” Shinta : “Oh… Tersanjung! Aku kira kakanda tersinggung dengan perkataanku...” Rama : “Ya tidaklah istriku, kata-katamu itu…! Hem… Begitu indah dan sangat menyejukkan jiwaku.” Shinta : “Ah…Kanda !” (memukul Rama lembut) Rama : “Aduh, Dinda…! Dari tadi kok kita asyik menyanjung – nyanjung diri sendiri, sampai–sampai kita lupa kalau kita ditemani adik kita tercinta.” (menengok Laksmana yang ada di dekat mereka) Shinta : “Oh iya! Sini adikku, kenapa masih disitu?” (menghampiri Laksmana) “Maaf ya Dik Laksmana, bukan maksud kami anu... Anu...”(belum selesai ngomong kemudian dipotong oleh Laksmana) Laksmana : “Sudahlah Kak Shinta, tidak apa–apa! Lagi pula aku juga senang melihat keakraban Kak Rama dan Kak Shinta.” Shinta : “Kamu memang adik yang baik laksmana. Kanda sangat beruntung punya adik sebaik dik Laksmana!” (menengok ke arah Rama) Rama : “Betul Dinda! Laksmana memang adik yang sangat baik.”(menepuk pundak Laksmana) Laksmana : “Sudahlah, Kak Shinta dan Kak Rama tidak usah memuji aku terus. Nanti keterusan sampai malam dan akhirnya kita tidak punya tempat untuk istirahat. Ehm … !! Kak, bagaimana kalau kita mendirikan tenda disini saja. Sepertinya disini tempatnya sangat teduh dan lapang.” Rama : “Ya!” (mengangguk–anggukkan kepalanya) “Bagaimana menurut Dinda?” Shinta : “Iya Kanda, lebih baik kita mendirikan tenda disini saja.” Rama : “Baik! kalau begitu kita mendirikan tenda disini! Dik Laksmana, tolong ambilkan tendanya di tas !” (lalu mendirikan tenda bersama Laksmana dan Shinta membuatkan minum untuk Rama dan Laksmana) Shinta : “Kakanda, Kakanda pasti capek. Ini diminum dulu airnya, supaya capeknya hilang.” (mengusap dahi Rama dengan selendang)“Adik Laksmana juga, istirahat dulu! Nanti diteruskan lagi, ini diminum airnya.” Laksmana : “Iya .. Kak shinta! Sebentar lagi, nanggung … !”(masih sibuk membenarkan tenda) Rama : “Sudahlah, Dik! Benar apa yang dikatakan kakakmu Shinta, istirahat dulu nanti diteruskan!” Laksmana : “Ya sudaaah… Aku istirahat...” (menghentikan pekerjaannya lalu duduk di dekat Rama dan meminum minumannya) Di saat yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Sarpakenaka, Rahwana, dan Mak Lemper sedang mengamati keromantisan Rama Shinta dari bola kristal. Mereka mengamati dengan penuh rasa sakit. Sakit teramat sakit melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Sarpakenaka : "Huh... Ini tidak adil!! Mengapa hal itu harus terjadi padaku? Aku tidak suka melihat mereka bahagia. Karena Rama harus suamiku... Huhuhu... Simbok!!" (menangis) MakLemper : "Keep silent, sayang... Tenang..." Sarpakenaka : "Ya Tuhan .. Simbok, lihatlah mereka, mereka terlihat begitu dekat, aku tidak tahan melihatnya. Hatiku merasa seperti diiris pisau tajam, huhuhu ... Ini perih!" (masih menangis) MakLemper : "Tarik nafas... Hembuskan... Jangan khawatir... Simbok akan membantu..." Sarpakenaka : (meratap menangis) "Kanda Rahwana! Apa yang harus kita lakukan? Mengapa Kanda tidak mengatakan apa-apa? Bukankah Kanda juga mencintai Shinta? Mengapa Kanda membiarkan mereka, ha? Mengapaaa!?" (dramatis bin alay) Rahwana : "Kau begitu berisik!! Aku diam bukan berarti akutak peduli!Aku sedang berpikir! Aku tak sepertimu yang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu!!Dasar bocah Alay!!" Sarpakenaka : "Sungguh, teganya dirimu padaku. Bagaimana bisa kau menghinaku seperti ini." MakLemper : "Hey! Hey! Hey! Jangan bertengkar!! Dengarkan aku, Sarpakenaka, Kandamu benar. Kita perlu strategi untuk memisahkan Rama dan Shinta, jadi tenanglah dahululalu berpikirlah apa yang harus kita lakukan..." Sarpakenaka : "Oke, mbok..." (terdiam sejenak untuk berpikir) MakLemper : " Yeeiiii... Aku mendapatkan ide!!" Sarpakenaka+Rahwana : "Opo idene?" Mak lemper : "Ok, sini aku kasih tau. Shinta itu salah satu gadis yang mudah tertarik dengan hal-hal menarik. Seperti kijang emas. Jadi, Rahwana... Panggil abdimu dan bawa ke sini biar ia ku jadikan kijang untuk menarik perhatian Shinta. Dan Shinta akan menyuruh Rama untuk memburunya..." Rahwana : “Wah benar juga. Lalu, Rama dan Laksmana akan meninggalkan Shinta kan, simbok? Dan aku bisa menculik Shinta dan memboyongnya ke Alengka...” MakLemper : “Tumben elo pinter.” Sarpakenaka : "Bagaimana denganku, mbok?Apakah kau hanya memikirkan nasib Kanda Rahwana?" (memelas kepada MakLemper) MakLemper : "Gadis Bodoh . Aku sedang berpikir tentang kau!!” (terdiam sejenak) “Nah jadi begini saja...” Sarpakenaka : "Pripun mbok? Apakah kau akan mengubahku menjadi Shinta atau apa?” MakLemper : "Pandai. Setelah Shinta diambil oleh Rahwana, aku akan mengubahmu menjadi Shinta dan kamu akan hidup selamanya dengan Rama..." Sarpakenaka : "Benarkah?? Terima kasih banyak simbokku tercinta... (Sarpakenaka mencium pipi ibunya) Rahwana : "Baguslah... Kalau begitu aku akan segera memanggil abdi kepercayaanku." (mengambil HP, mencoba menelpon, SMS) “Ehm, simbok,ada sedikit masalah... Aku sudah menghubunginya lewat SMS, BBM, facebook, twitter. Tapi, dia tak menjawab...” MakLemper : "Apakah kau sudah memanggilnya melalui telepon?" Rahwana : "Belum. Ini karena aku tak punya pulsa, hehe... Aku kan raja yang kere..." Sarpakenaka : "Ckkk .... Bilang saja kau ingin ku kirimi pulsa. Memalukan!! Bagaimana bisa seorang raja Alengka, pulsa saja tidak punya. Bagaimana kau menghidupi rakyatmu kelak?" Rahwana : "Itu bukan memalukan. Itu namanya hemat uang, Nduk.” (mengelus kepala Sarpakenaka) Sarpakenaka : “Ya sudah, aku mau manicure pedicure bersama artis Hollywood di Los Angeles. Nanti setelah Rahwana menculik Shinta, panggil aku agar aku ke sini...” (Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper) Seusai Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper, mereka masih menunggu datangnya abdi Rahwana hingga lumutan. Akhirnya, setelah lima jam menunggu, tiga abdi Rahwana datang, mereka bernama Maricha, Bharata, dan Angkara. Rahwana : “Beraninya kau membuat kita menunggu untuk waktu yang lama.Kau ingin dikutuk menjadi batu?? Heh?" (menempeleng kepala abdinya) Maricha : "Maafkan kelancangan kami, Yang Mulia. Ini salahku. Internetnya tidak terhubung, sehingga hamba tidak bisa berselancar di Facebook dan Twitter. Rahwana : "Ah , kau bicara terlalu banyak. By the way, aku punya tugas besar untukmu, datang ke sini..." (Rahwana membisikkan sesuatu pada abdi-abdinya) Bharata : "Hamba siap untuk melakukan perintah Anda, Yang Mulia. Hamba tidak akan membuat Anda kecewa.” MakLemper : "Baik. Sekarang, berdiri di sana dan pegang tongkat kayu ini, aku akan mengubahmu menjadi kijang emas, Maricha. Dan kau, Bharata dan Angkara, ku ubah kau menjadi kijang hitam sebaga pengiring Maricha. Apakah kau siap?" (bersiap memantrai abdi) Angkara : “Lha kata Yang Mulia Rahwana tadi, kami disuruh menarik perhatian Shinta. Kok malah jadi kijang? Maksudnya bagaimana?” MakLemper : “Begini, setelah kalian nanti aku ubah menjadi kijang, aku perintahkan kalian untuk menarik perhatian Shinta dengan tarian kijang!” Maricha : “Terus setelah hamba menari, apa yang harus hamba lakukan Baginda?” Rahwana : “Aduh…! Begok banget sih. Katrok–katrok! Setelah kamu menari dan kamu melihat mereka sudah tertarik untuk memburu kamu. Kamu langsung lari saja supaya Rama dan Laksmana lari mengejar kamu dan akhirnya Shinta ditinggal sendirian. Nah… Setelah itu aku bisa membawa lari Shinta! Paham?” Angkara : “Kami paham, Baginda...” Bharata : “Ibunda Ratu Mak Lemper... Kami sudah siap untuk kau ubah...” MakLemper : "Hopla. Beri aku A , Beri aku B , Beri aku C , ABC .... Ambil perubahan!” Mak Lemper mengucap mantranya dan mulai mengubah ketiga abdi itu. Dalam sekejap, Angkara,Bharata, dan Maricha berubah menjadi tiga ekor kijang. Usai itu, ketiga kijang tadi segera berlarin menuju peristirahatan Rama Shinta di hutan Dandaka dan segera menjalankan misinya. Mereka menaritarian kijang dengan lincah dan menarik perhatian Shinta. Shinta : “Kanda, dik Laksmana, lihat! Kijang-kijang itu cantik sekali!!” (menunjuk kijang-kijang yang menari) Rama : “Iya Dinda, betapa indahnya gerakan mereka!” Laksmana : “Iya Kak, kijang-kijang itu lucu sekali!” Shinta : “Kanda, lihat! Ada kijang yang bertanduk emas, aku ingin sekali kijang emas itu, Kanda! Kanda mau kan menangkap kijang itu untukku?” Rama : “Apa kamu sangat menginginkannya, istriku ?” Shinta : “Iya kanda ! kanda mau kan menangkapnya untukku?” (sangat berharap ) Rama : “Baiklah, demi kau istriku yang sangat aku sayangi dan aku cintai, aku akan memburu kijang emas itu untukmu” (menyiapkan perlengkapan untuk memburu) “Dan kamu adikku, tolong jaga kakakmu, Shinta, selama kakak pergi memburu kijang itu. Karena aku takut nanti Rahwana tiba-tiba datang dan membawa pergi Shinta.” Laksmana : “Iya kak! Saya mengerti , tenang saja kak aku akan menjaga kak shinta sampai titik darah penghabisan.” ( sambil mengepalkan tangan keatas ) Rama : “Baiklah adikku, aku percaya kepadamu, pokoknya jangan kemana-mana sampai nanti aku kembali.” Shinta : “Hati-hati ya kanda .. ! aku yakin kanda pasti akan segera kembali dengan membawa kijang emas itu untukku” ( sambil mencium tangan rama ) “Kanda, aku sangat mencintaimu” ( sambil memegangi tangan Rama ) Rama : “Aku juga sangat mencintaimu dinda !”( mengusap rambut sinta ) “Ya sudah , aku berangkat sekarang, nanti keburu kijangnya kabur .” “Jaga kakakmu yah!” (menepuk pundak Laksmana lalu pergi) Laksmana : “Iya kak, percaya sama saya. TiTi DJ kak !”( sambil melambaikan tangan) Setelah Rama pergi, Shinta dan Laksmana membereskan barang-barang ke dalam tenda. Di balik pohon beringin, Rahwana tetap mengintai dengan bola kristal hasil ngutang dari Mak Lemper. Ia bingung memikirkan Laksmana yang tidak ikut memburu kijang emas itu. Rahwana : “Aduhhh…. ! bagaimana ini Durya, kenapa Laksmana tidak ikut memburu kijang. Padahal bayanganku Laksmana ikut mengejar kijang emas itu. Nah … ! Sekarang bagaimana supaya Laksmana terpisah dengan Shinta ? (menengok Durya yang diam saja) Durya … ! kamu kok diam saja, bantu aku mikir donk !” Durya : “Hamba diam ini juga lagi mikir baginda! Sambil searching, mumpung ada wi-fi” Rahwana :“Oo..! ya sudah sekarang kita pikirkan bersama.” Lima, sepuluh, lima belas, bahkan dua puluh menit lamanya mereka memikirkan cara untuk menyingkirkan Laksmana dari sisi Shinta. Ide-ide bodoh muncul di pikiran mereka, tetapi Laksmana pasti bisa mengatasi ide-ide itu. Mereka terus berpikir keras dan memeras otak untuk menemukan cara terjitu untuk menjalankan misi ini. Durya : “Nah! Ketemu!” Rahwana : “Hus … ! jangan teriak-teriak, nanti mereka dengar!” Durya : “Maaf baginda ! kelepasan baginda , hamba sudah menemukan caranya.” Rahwana : “Iya , bagaimana ?” Durya : “Begini baginda” ( sambil berbisik ) Rahwana : “Bagus ! ide kamu bagus sekali, ternyata kamu pintar juga Durya ?” Durya : “Iya dong baginda! Hamba kan lulusan S2 SMP N 1 Godean! Di sana muridnya pinter-pinter! Gurunya asik lagi! Makanya, sekolah di Negsago!” Rahwana : “Ciyus? sama dong kaya’ aku !” Durya : “wah … sama dong kita baginda ?” Rahwana : “Heh , enak aja lho mau nyamakan aku dengan kamu, sudah sudah kok malah bercanda ( serunya dengan keras ) sekarang aku akan merubah suaraku menjadi suara rama. Hem … Shinta ! kau pasti akan jadi milikku!”(serunya dengan yakin) Setelah Shinta dan Laksamana selesai membereskan barang-barang mereka yang ada di dalam tenda, mereka mulai beristirahat. Tapi, tiba-tiba mereka mendengar jeritan Rama. Rama seakan minta tolong. Apakah yang terjadi? Pikirkanlah hal itu… Rahwana : “Tolong! Tolong! dik laksmana tolong aku!”(teriaknya dengan suara menyerupai rama, sembunyi di balik pohon) “Hihihi… Durya… Pasti ini berhasil…” (lirih) Shinta : “Dik laksmana ! apa kamu mendengar sesuatu ?” Laksmana : “iya kak ! itu kak Rama, bahkan teriakan itu memanggil namaku. aku yakin itu kak Rama ! kak rama butuh bantuan, aku harus menolongnya” ( ucapnya dengan nada khawatir ) Shinta : “iya dik! kamu pergi saja menolong kakanda sekarang biar aku disini saja menjaga barang-barang kita” Laksmana : “Tapi kak, aku sudah berjanji pada kak rama untuk menjaga kak shinta” Shinta : “Tidak apa-apa dik ! sekarang kakanda membutuhkan bantuan dik laksmana. Dik laksmana tenang saja. Aku disini baik-baik saja !” Laksmana : “Baik aku akan menolong kak rama. Tapi aku akan membuatkan perlindungan dulu untuk kak shinta (Laksmana membuat lingkaran sakti yang akan menjaga Shinta dari apapun) Laksmana : “Kak shinta , tolong sekarang kakak masuk dalam bundaran ini !” Shinta : “Ini apa dik ?”( sambil masuk kedalam bundaran sakti ) “kok dik laksmana malah ngajak main ?” Laksmana : “Houm …… !” (membaca mantra) “hap! Nah sekarang bundaran ini sudah menjadi bundaran sakti” Shinta : “Bundaran Sakti ?” Laksmana : “Iya , bundaran sakti ini tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh siapapun, jadi kak shinta tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Tapi kalau kak shinta keluar, kak shinta tidak akan bisa masuk lagi kedalam bundaran ini.” Shinta : “Baiklah kalau begitu! sekarang kamu sudah bisa tenang kan meninggalkan aku?” Laksmana : “Iya kak, tapi kak shinta harus janji tidak akan keluar dari bundaran sakti ini. Sampai aku dan kak rama kembali !” Shinta : “Iya, kak sinta janji, sekarang kamu berangkat selamatkan kak Rama ya ?” Laksmana : “Baik, aku berangkat! Doakan ya kak! aku akan segera kembali” ( pamit dengan membawa seperangkat alat memanah ) Laksmana segera melesat secepat angin menyusul Kakaknya, Rama. Sedangkan Rahwana yang sudah berhasil dalam mengusir Laksmana masih tetap bingung. Ya, dia bingung akan bagaimana caranya mengeluarkan Shinta dari lingkaran sakti itu lalu memboyongnya ke Alengka. Rahwana : “Aduh! Bagaimana ini? Aku kira setelah Laksmana pergi, aku langsung bisa membawa Shinta, tapi sekarang aku malah tidak bisa menyentuh Shinta sama sekali” ( sambil mondar-mandir dan mengepalkan tangannya ) “Durya, bagaimana ? Apa kamu tidak punya ide lagi?” Durya : “Mohon maaf baginda, sepertinya kali ini hamba benar-benar tidak tau bagaimana caranya mengambil Dewi Shinta dari bundaran sakti itu, karena hamba yakin tidak akan mampu menembusnya !” Rahwahna : “Ah, gimana sih kamu itu! katanya ngaku lulusan sekolah lor Pasar Godean itu, ada masalah gini aja bingung .” Durya : “Tapi baginda juga bingungkan?” Rahwana : “Jadi kamu ngledek aku? Iya?!” (membentak sambil menoyor kepala Durya) Durya : “Ampun Baginda! Hamba tidak bermaksud seperti itu!” Rahwana : “Ya sudah sekarang kita mikir lagi!” (terdiam sambil mondar mandir) Rahwana : “Nah! Aku sekarang punya ide!” Durya : “Bagaimana baginda?” ( mendekati rahwana ) Rahwana : “Begini....” ( sambil berbisik ) Durya : “siap baginda ! hamba siap melaksanakannya” Rahwana : “Tidak, kali ini biar aku yang melakukannya, biar nanti aku bisa langsung membawa shinta pergi ke Istanaku” Durya : “Oh … baik baginda !” ( sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ) Rahwana : “Tapi kamu tetap disini mengawasi, siapa tau Rama dan Laksmana nanti kembali. Dan kamu harus menghadangnya, apapun caranya !” Durya : “Siap baginda !” Rahwana : “Bagus. sekarang aku akan merubah wujudku menjadi seorang lelaki yang tua renta. Houm!” (membaca mantra, sementara itu Durya memasangkan aksesoris ke Rahwana) “Hap!” Kakek : “Bagus kan?? Baik, aku akan kesana dan kamu jaga disini, Durya !” Durya : “Keren, Baginda… Good luck baginda! Cemungutt eeaakk! Go Bagind

muter Jawa Ramayana

Last Update: 2014-09-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada suatu hari di kerajaan mataram, sedang berlangsung suatu pertemuan tertutup yang hanya dihadiri oleh para petinggi kerajaan Mataram. Mereka sedang membahas masalah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang anak selir yang akan dapat menggoyangkan tahta Sultan Agung jika ia dibesarkan di wilayah kerajaan. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya diputuskan untuk menitipkan anak tersebut kepada Ki Gede Cempaluk. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang putra yang lucu dan tampan. Anak laki-laki tersebut adalah putra Sultan Agung yang dikandung oleh selirnya. Sesuai dengan kesepakatan, maka sesaat setelah bayi tersebut lahir langsung dibawa oleh Ki Gede Cempaluk untuk diasuh. Sultan Agung memberikan sebidang tanah di daerah Gambiran, Kesesi kepada Ki Gede Cempaluk sebagai tempat untuk mendirikan padepokan sekaligus kediamannya. Oleh Ki Gede Cempaluk, bayi laki-laki tersebut kemudian diberi nama Jaka Bau. Jaka Bau memiliki beberapa sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah seperti saudara. Mereka sudah kenal dan berteman akrab sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka senang sekali merpura-pura menjadi panglima perang tentara Mataram setiap kali bermain perang-perangan. Bahkan mereka sering bertengkar karena memperebutkan kedudukan. Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu ingin menjadi panglima perang kerajaan Mataram. Seiring dengan berjalannya waktu, Jaka Bau tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, kuat, baik hati, dan memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi sehingga disegani oleh rekan-rekan sepadepokannya. Kesaktiannya sudah sangat terkenal dan namanya cukup disegani di daerah Pantura. Beberapa tahun kemudian, Ki Gede Cempaluk memutuskan bahwa Jaka sudah cukup dewasa dan harus mengabdikan tenaga dan pikirannya kepada kerajaan Mataram. Beliau kemudian mengutus Jaka Bau untuk berangkat ke Mataram dengan disertai surat pengantar tentang jati diri Jaka Bau yang sebenarnya yang ditujukan langsung kepada Sultan Agung. Sesampainya di Mataram, Jaka Bau langsung pergi menemui Sultan Agung dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Ki Gede Cempaluk. Setelah Sultan Agung membaca surat dari Ki Gede Cempaluk tentang identitas diri Jaka Bau yang sebenarnya, beliau menjadi sangat terkejut sekaligus bahagia karena melihat putranya telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, rupawan, pemberani, dan baik hati. Selama menjadi prajurit Mataram, karir Jaka Bau sangat cemerlang. Pada suatu hari, Jaka Bau kemudian diutus untuk memimpin pasukan mataram menyerang raja Uling di daerah Sigawok oleh Sultan Agung. Tugas tersebut berhasil dijalankan dengan baik oleh Jaka Bau. Atas prestasinya tersebut, Jaka Bau kemudian diberikan gelar Tumenggung Bahurekso oleh Sultan Agung. Tumenggung Bahurekso kemudian diperbolehkan untuk kembali ke Pekalongan dengan diberikan tugas untuk menanam dua batang pohon beringin di kulon kali dan wetan kali pekalongan. Dua batang pohon beringin itulah yang sampai sekarang tumbuh di tengah alun-alun Pekalongan dan Alun-alun Batang. Seusai menunaikan tugasnya tersebut, tumenggung bahurekso dilantik menjadi adipati (bupati) Kendal. Pada suatu hari, Jaka Bau memutuskan untuk bertapa di hutan gambiran. Pertapaan yang dilakukannya ini bukan sembarang semedi, tetapi tapa ngalong, yaitu bertapa dengan posisi terbalik seperti kelelawar. Sejak saat itulah daerah gambiran dan sekitarnya dinamakan daerah ”PEKALONGAN”. Dalam melakukan semedinya, Jaka Bau mengalami banyak sekali godaan, termasuk dari Dewi Lanjar, ratu penguasa para makhluk halus di pantai utara Jawa. Namun karena kesaktiannya, Jaka Bau tidak terpengaruh sama sekali. Justru akhirnya Dewi Lanjar yang takluk kepada Jaka Bau dan menjadi istrinya. Mereka hidup dengan bahagia dan harmonis. Dengan Dewi Lanjar sebagai istrinya, kesaktian Jaka Bau dan namanyapun semakin terkenal. Beberapa bulan kemudian, Sultan Agung mengirim seorang utusan untuk memanggil Tumenggung Bahurekso ke Mataram guna memimpin pasukan Koloduto yang akan menyerang Batavia. Utusan tersebut juga memanggil Tan Kwie Djan (Djaningrat), Bupati Pekalongan saat itu yang juga sahabat dan teman seperjuangan Tumenggung Bahurekso. Mereka kemudian segera berangkat ke Mataram bersama-sama untuk menghadap kepada Sultan Agung. Setelah sampai di Mataram, mereka langsung mempersiapkan segala keperluan untuk berperang. Seminggu kemudian, persiapan telah selesai dan merekapun segera berangkat menuju Batavia setelah berpamitan kepada Sultan Agung dan Ki Gede Cempaluk. Sesampainya di Batavia, pasukan Koloduto tidak langsung menyerang masuk. Mereka mengirim para agen yang menyamar menjadi pedagang dan seniman. Mereka ditugaskan untuk melihat situasi dan kondisi dalam kota. Beberapa hari kemudian, para prajurit yang menyamar menjadi pedagang dan seniman tersebut menyerang pasukan Belanda di Batavia secara serempak pada tengah malam. Namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda karena keterbatasan jumlah dan persenjataan. Dengan hasil tersebut, belanda merasa senang dan menjadi lengah. Tidak lama kemudian, pasukan utama Koloduto menyerang dari darat dan laut dari arah selatan dan utara. Pasukan Belanda menjadi panik dan sempat kocar-kacir karena terkejut, namun serangan tersebut kembali gagal karena serangan dari darat dan laut tidak secara bersamaan. Meskipun demikian, namun pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang sangat besar dan banyak pasukannya yang tewas akibat serangan tersebut. Pasukan Koloduto mundur dan menyusun rencana. Keesokan harinya, pasukan Koloduto yang dipimpin Tumenggung Bahurekso Kembali menyerang pasukan Belanda dengan menggali parit-parit. Untuk menangkis serangan tersebut, Belanda menggunakan budak-budak mereka dengan janji akan diberikan kemerdekaan. Pasukan Koloduto berkali-kali berhasil menembus garis pertahanan pasukan Belanda, dan Djaningrat gugur dalam serangan tersebut. Namun hal itu tidak mempengaruhi semangat juang pasukan Koloduto. Hal ini malah menambah semangat juang mereka. Pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 21 September 1628 Tumenggung Bahurekso dan kedua putranya gugur dalam pertempuran. Hal ini membuat kacau pasukan Koloduto karena kehilangan figur seorang pemimpin. Akhirnya keadaan berbalik, dan pasukan Koloduto mundur dengan membawa para pimpinan mereka yang telah gugur.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Wah, liat judulnya saja sudah benar-benar serius yah tapi inilah saya apa adanya, kalau dilihat sepintas selalu serius, kalau nulis di milis kadang membuat orang jengkel Saya coba menuliskan tentang diri dan sejarah hidup disini deh, tapi mungkin saja tidak akan berurutan karena nulisnya tergantung mood saja… Eng..ing..enggg…..dimulai (halah, gak penting banget…) seorang debby akhirnya dilahirkan pada tanggal 1-8-1993, hari minggu, pukul 12.30 , diatas rumah tradisional di desa sumberame, tepatnya di Jalan wringinanom… Masa-masa kecil yang dilalui tidak terlalu banyak saya ingat sih, mungkin karena otak tentang masa itu sudah ketimpa memori-memori lain… Tapi ada beberapa hal yang masih terlintas dalam memori sewaktu halaman ini ditulis… Masa Pra Sekolah (ceileee..kayak prasejarah saja ) Apa yang saya ingat pada masa ini ? Mainan….motor…..pagar halaman berwarna merah, pagar rumah berwarna hijau putih dan pagar pintu depan berwarna hijau…. Jadi ingat, mainan yang paling saya suka itu main kartu,… Ada tambahan nih yang saya ingat…yaitu volly dan bilyard… Pada masa ini, ada pengalaman yang cukup berkesan, karena saking berkesannya masih cukup jelas dalam ingatan… Pada usia 5 tahun, ayah dan ibu mengajak saya jalan-jalan (katanya sih keliling Jawa dan Bali), dan beberapa memori yang masih jelas teringat berkaitan dengan pengalaman ini adalah: 1. di atas kereta api, berdinding hijau…dalam ingatan masih segar warna hijau mudanya dengan jendelanya dan pohon-pohon yang dilewati oleh kereta itu… 2. penjual es (yah…bener…penjual es keliling), yaitu seorang anak, menggunakan baju kaos dan celana merah, membawa termos es di tangan kanan dan bel di tangan kiri. waktu itu posisi saya digendong oleh ibu dan menghadap ke belakang. anak itu sempat menoleh ke saya dan berjalan ke sebuah gapura berukir. Rupanya saat itu saya ada di Bali… Satu kenangan yang bahagia bersama keluarga secara lengkap (sampai sekarang masih terasa sedih…mengapa hal itu tidak berlangsung dalam waktu yang lama….nantilah di blog ini akan saya tuliskan juga…) adalah masa dimana saya berada diatas…ya…diatas meja makan bersama ibu dan ayah… tapi entah, mengapa itu menjadi sebuah kenangan terakhir untuk berkumpul sebagai sebuah keluarga yang lengkap, karena kisah di bawah ini semuanya tidak menggambarkan ayah lagi.. Masa Taman Kanak-Kanak Cukup banyak yang saya ingat pada masa ini, dimulai dengan seragam putih dan merah muda dan rutinitas berangkat ke sekolah bersama ibu. Khusus ibu akan saya tulis tersendiri… Karena ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan saya sekolah di TK selama setahun. Oh iya…karena saya sudah mengenal huruf dan angka sebelum masuk TK, maka di TK tersebut saya dimasukkan dalam kelas 0 besar Rutinitas bangun pagi-pagi (benar-benar pagi), yaitu bangun jam 5.15, mandi 15 menit sampai setengah 6, berpakaian 15 menit dan makan 10 menit selalu dilakoni, karena mobil penjemput (memakai truk tentara) selalu siap pukul 6.10 pagi di jalan garuda, yang membutuhkan waktu 3-5 menit berjalan kaki. (mungkin karena terbiasa dengan pola militer ini jadi sekarang saya terbiasa bekerja dengan jadwal yah…). Masing teringat naik truk harus diangkat oleh ibu dan disambut oleh teman-teman ibu diatas mobil…masih teringat gerakan mobil yang berbelok kiri dan kanan…dan canda dari teman-teman kerja ibu yang sering gemes (hehehe…) , saya diajak jalan ke TK oleh ibu dan ditungguin beberapa menit…setelah itu ibu kembali pulang lagi… TK tersebut mengasyikkan, minimal dalam pandangan anak kecil…banyak mainan…banyak bola-bola kecil…banyak mainan yang bisa dipanjat (namanya halang rintang klu gak salah), tapi sayang, untuk mainan yang berbau fisik, saya kurang suka memainkan, mungkin itulah sebab atau akibat dari kondisi fisik saya yang lemah… satu yang membanggakan sewaktu di TK adalah saya terpilih untuk ikut tampil menjadi peserta anak pantura , yah..masa-masa TK yang bahagia, dan memang tanpa beban… Masa Sekolah Dasar Usia sudah cukup 6 tahun rupanya untuk bisa melanjutkan ke Sekolah Dasar. Karena masih amat kecil, dan juga karena letak sekolah yang dekat dari rumah, saya jalan kaki terkadang juga memakai sepeda ungklik. , Pada masa MI ini sepertinya badai ekonomi mulai menghantam keluarga (akan saya ceritakan di tulisan yang lain). Selama 6 tahun, hampir bisa dihitung dengan jari ibu memberikan uang jajan maupun uang untuk transportasi. Masih segar dalam ingatan, kotak bekal yang diberi serta kotak air putih yang dibawa setiap hari. Isinya kadang nasi dengan ikan, atau nasi dengan telur mata sapi. Atau kadang roti dengan telur mata sapi Kalau jam istirahat tiba, saya pasti menjauh ke gedung MI.SUNAN GIRI (satu-satunya yang bertingkat) dan makan di pojokan, karena takut dimintai oleh teman-teman (soalnya kalau diminta pasti tidak akan cukup). Kadang melihat teman belanja di warung, terasa amat ngiler tapi apa daya tidak ada uang di kantong. kalaupun ada, cuman dengan pesan yang amat kuat, hanya digunakan kalau terpaksa….jadi menikmati makanan hanya kalau diberi teman atau dibayarkan Kelas 4, mulai merasakan kerasnya hidup, karena mulai terasa mengeluarkan biaya yang cukup banyak Kelas 5, saya menemui guru yang paling berkesan, yaitu Bu Zaniar, selama 2 tahun sampai kelas 6 beliau terus mengajar saya. 1 pelajaran yang paling berkesan dan yang paling berharga adalah pelajaran matematika yang dibawakan oleh beliau. Saat teman-teman secara sembunyi-sembunyi sudah menggunakan kalkulator (dimana saat itu hanya dimiliki maksimal 3 orang saja, karena harganya selangit menurut kantong anak DASAR), juga oleh beliau sangat haram digunakan di kelasnya. Beliau selalu berkata “Tuhan menciptakan jari kalian berjumlah 10 itu ada maksudnya, juga Tuhan menciptakan otak kalian itu ada maksudnya, maka gunakanlah jari dan otak kalian untuk menghitung.” 1 istilah yang beliau gunakan untuk istilah “mencongak” adalah “komputer otak” dimana komputer saat itu adalah sebuah benda yang hanya ada di alam mimpi. Otak saya amat terasah pada kelas 5 dan 6 ini, dimana perhitungan-perhitungan harus dilakukan tanpa kalkulator, kertas dan pinsil. Baru boleh menggunakan pinsil dan kertas untuk perhitungan yang cukup rumit. Doa terus saya panjatkan untuk ibu guru Zaniar dimanapun beliau berada sekarang. Saya tidak akan bisa menjadi seperti ini tanpa Beliau… Pada masa MI ini rupanya bakat seni saya muncul…gak tau bagaimana, tiba-tiba ditunjuk menjadi anggota anak pantura Akhirnya sukses dengan tampil di mana mana …mulai dengan kesana-kemari mengajukan pendaftaran SMP sampai ngurus berkas kiri kanan… Di Ujung Pandang, ada 2 sekolah yang dinyatakan favorit, yaitu SMP Negeri 1 krian . Berhubung standar NEM di SMP Negeri 1 krian lumayan tinggi, yaitu 33,35 maka saya didaftarkan di SMP Negeri 1 wringinanom,. Kenapa di sekolah ini ? Karena rupanya selain favorit juga ibu dan saudara-saudaranya sebagian besar lulusan dari sekolah ini… Masa-masa sulit berlanjut disini…sambil mengandung anak ketiga, ibu mulai mencari pekerjaan Masih teringat jelas bagaimana saat waktu ibu bekerja kadang iri melihat anak-anak lain berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda, sedangkan saya jalan kaki. Ngomong-ngomong soal hobi, hobi mmenyanyi & membaca saya sepertinya tumbuh dengan amat subur dari waktu kcil hingga menuju puberitas, Satu prestasi yang cukup membanggakan, adalah pernah mejadi Juara 2 Lomba nyanyi sekecamatan pada tahun 2007 Lika liku hidup mulai terbangun sejak di SMP ini, dan saya mulai terbuka dengan kondisi ekonomi dan kondisi sekitar keluarga. Disinilah saya belajar banyak untuk tidak terlalu banyak menuntut apa-apa, disinilah saya belajar untuk menghargai apa adanya… Masa Sekolah Menengah Atas rupanya cukup ampuh untuk menembus beberapa SMA ini, tapi pengalaman hidup yang telah saya alami memberikan sebuah keputusan bahwa “Saya ingin menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan orang tua sebagaimana ia telah merawat ku dari kecil hingga dewasa.” Disini masalah baru muncul, yang manakah yang saya pilih ? SMA Negeri 2 (langsung masuk karena NEM), SMF Depkes (yang mempunya jaminan kerja setelah lulus dan hanya 1 di Indonesia Timur) dan SMA Pembangunan (yang peringkat 1 dan jaminan Beasiswa)… Akhirnya, setelah berpikir, utamanya menyangkut ekonomi orang tua, saya memilih masuk di MA.Raden aku wringinanom. Tahun pertama, tidak terlalu banyak yang terjadi, cuman berusaha untuk belajar dan belajar, karena sebagian besar yang diperoleh adalah hal yang baru. masa-masa merenung sendiri memikirkan jati diri…. 1 orang guru yang amat berkesan dan akhirnya mewarnai kehidupan dan pola pikir saya sampai saat ini. Beliau banyak bercerita tentang hidup dan kehidupan dan meminjamkan sebuah buku yang membuka mata saya. Yaitu “2 tahun jadi milyader.” Akhir masa sekolah menengah keatas adalah sebuah masa menuju keperguruan tinggi dimana hari hari yang menegangkan saat mengikuti test lewat jalur umum yang kurang lebih 2 mingguan pengumuman akan dimunculkan lewat alat informasi yaitu internet Dan saat saya melihat akhirnya saya ditrima di jenjang perguruan tinggi di Stikes Yarsis yang sekarang diganti dengan nama UNUSA Surabaya, dalam hatiku berkata alhamdulillah sujud syukur ku padamu ya allah . pada saat itu aku mulai masuk hari pertama tetesan air mata mulai keluar karena sangking senangnya bisa melanjutkan kejenjang tinggi, hari ke 2 sampai 3 mingguan aku masih terasa nyaman dan mulain banyak teman dan setelah kebahagiaan yang sekilas kini mulai sangat mnyedihkan, karena dimana saya terkena virus GBS , dengan pengetahuan ini saya mulai terasa lemas nggak ada tenaga sama sekali dan akhirnya saya dirawat drumah sakit tepatnya di RS.SOETOMO selama 4 bulan setengan ,pulang dari RS aku pun masih belum bisa ngapa-ngapain masih butuh bantuan, perlu dibantu ,akhirnya pada tahun 2014 sembuhlah serang debby yang kini sudah duduk di fakultas eknomi, meski dengan keadaan seperti ini aku tidak peduli orang berkata apa tentang diriku dan aku selalu semangat dalam meraih cita cita meski ini bukan keinginan aku , setelah lulus ini rencana aku , aku ingin bekerja dan aku akan membalas kebaikan orang tua dengan cara memberangkatkan mreka ke tanah suci tempat dan akan aku tunjukan pada mreka meski dengan keadaan ku seperti ini tapi aku sukses dalam kemandirianku.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Pada suatu hari, Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu dan memerintah Tumang untuk mengejar buruannya, tetapi ia tidak mengikuti perintah yang membuat Sangkuriang mengusir Tumang dan tidak mengijikannya pulang. Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya yang membuat ibunya sangat marah, lalu memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok nasi. Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya karena kekesalannya tersebut. Dayang Sumbi sangat menyesali kepergian Sangkuriang dan berharap ia kembali. Dari ketulusannya, Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Sangkuriang pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan wanita cantik yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Pada suatu hari, Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya sendiri dari bekas luka yang ada di kepalanya dan langsung membatalkan rencana pernikahan mereka. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang yang harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing sebagai cara untuk membatalkan rencana pernikahan mereka. Keesokan harinya, ternyata Sangkuriang menyanggupinya dan Dayang Sumbi mencegahnya dengan membuat seolah-olah hari itu sudah menjelang pagi. Karena Sangkuriang mengetahui hari telah menjelang pagi, maka dengan kesal Sangkuriang menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri, lalu terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

• Foto: Mohammad Hatta PROFIL BERITA FOTO ________________________________________ Nama Lengkap : Mohammad Hatta Profesi : - Agama : Islam Tempat Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat Tanggal Lahir : Selasa, 12 Agustus 1902 Zodiac : Leo Hobby : Membaca | Menulis Warga Negara : Indonesia BIOGRAFI Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia. Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman.Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18 November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto. PENDIDIKAN • Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932) • Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia (1921) • Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang (1919) • Europeesche Lagere School (ELS), Padang, 1916 • Sekolah Dasar Melayu Fort de kock, Minangkabau (1913-1916) KARIR • Ketua Panitia Lima (1975) • Penasihat Presiden dan Penasehat Komisi IV (1969) • Dosen Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta (1954-1959) • Dosen Sesko Angkatan darat, Bandung (1951-1961) • Wakil Presiden, Perdana menteri, dan Menteri Luar Negeri NKRIS (1949-1950) • Ketua delegasi Indonesia Konferensi Meja Bundar, Den Haag (1949) • Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan (1948-1949) • Wakil Presiden RI pertama (1945) • Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (1945) • Wakil Ketua Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (1945) • Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (1945) • Kepala Kantor Penasehat Bala Tentara Jepang (1942) • Ketua Panitia Pendidikan Nasional Indonesia (1934-193] • Wakil Delegasi Indonesia Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931) • Ketua Perhimpunan Indonesia, Belanda (1925-1930) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919) • Partai Nasional Indonesia Organisasi: • Club pendidikan Nasional Indonesia • Liga menentang Imperialisme • Perhimpunan Hindia • Jong Sumatranen Bond PENGHARGAAN • Pahlawan Nasional • Bapak koperasi Indonesia • Doctor Honoris Causa, Universitas Gadjah Mada, 1965 • Proklamator Indonesia • The Founding Father's of Indonesia google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

• Foto: Mohammad Hatta PROFIL BERITA FOTO ________________________________________ Nama Lengkap : Mohammad Hatta Profesi : - Agama : Islam Tempat Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat Tanggal Lahir : Selasa, 12 Agustus 1902 Zodiac : Leo Hobby : Membaca | Menulis Warga Negara : Indonesia BIOGRAFI Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia. Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman.Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18 November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto. PENDIDIKAN • Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932) • Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia (1921) • Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang (1919) • Europeesche Lagere School (ELS), Padang, 1916 • Sekolah Dasar Melayu Fort de kock, Minangkabau (1913-1916) KARIR • Ketua Panitia Lima (1975) • Penasihat Presiden dan Penasehat Komisi IV (1969) • Dosen Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta (1954-1959) • Dosen Sesko Angkatan darat, Bandung (1951-1961) • Wakil Presiden, Perdana menteri, dan Menteri Luar Negeri NKRIS (1949-1950) • Ketua delegasi Indonesia Konferensi Meja Bundar, Den Haag (1949) • Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan (1948-1949) • Wakil Presiden RI pertama (1945) • Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (1945) • Wakil Ketua Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (1945) • Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (1945) • Kepala Kantor Penasehat Bala Tentara Jepang (1942) • Ketua Panitia Pendidikan Nasional Indonesia (1934-193] • Wakil Delegasi Indonesia Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931) • Ketua Perhimpunan Indonesia, Belanda (1925-1930) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919) • Partai Nasional Indonesia Organisasi: • Club pendidikan Nasional Indonesia • Liga menentang Imperialisme • Perhimpunan Hindia • Jong Sumatranen Bond PENGHARGAAN • Pahlawan Nasional • Bapak koperasi Indonesia • Doctor Honoris Causa, Universitas Gadjah Mada, 1965 • Proklamator Indonesia • The Founding Father's of Indonesia google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

• Foto: Mohammad Hatta PROFIL BERITA FOTO ________________________________________ Nama Lengkap : Mohammad Hatta Profesi : - Agama : Islam Tempat Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat Tanggal Lahir : Selasa, 12 Agustus 1902 Zodiac : Leo Hobby : Membaca | Menulis Warga Negara : Indonesia BIOGRAFI Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia. Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman.Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18 November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto. PENDIDIKAN • Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932) • Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia (1921) • Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang (1919) • Europeesche Lagere School (ELS), Padang, 1916 • Sekolah Dasar Melayu Fort de kock, Minangkabau (1913-1916) KARIR • Ketua Panitia Lima (1975) • Penasihat Presiden dan Penasehat Komisi IV (1969) • Dosen Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta (1954-1959) • Dosen Sesko Angkatan darat, Bandung (1951-1961) • Wakil Presiden, Perdana menteri, dan Menteri Luar Negeri NKRIS (1949-1950) • Ketua delegasi Indonesia Konferensi Meja Bundar, Den Haag (1949) • Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan (1948-1949) • Wakil Presiden RI pertama (1945) • Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (1945) • Wakil Ketua Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (1945) • Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (1945) • Kepala Kantor Penasehat Bala Tentara Jepang (1942) • Ketua Panitia Pendidikan Nasional Indonesia (1934-193] • Wakil Delegasi Indonesia Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931) • Ketua Perhimpunan Indonesia, Belanda (1925-1930) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921) • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919) • Partai Nasional Indonesia Organisasi: • Club pendidikan Nasional Indonesia • Liga menentang Imperialisme • Perhimpunan Hindia • Jong Sumatranen Bond PENGHARGAAN • Pahlawan Nasional • Bapak koperasi Indonesia • Doctor Honoris Causa, Universitas Gadjah Mada, 1965 • Proklamator Indonesia • The Founding Father's of Indonesia google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Cerita ini dimulai dari kisah sang Prabu Dasaratha yang berasal dari negeri Ayodya. Prabu Dasaratha mempunyai empat orang anak yangsemuanya laki-laki. Keempat anak itu diberi nama Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrughna. Seorang resi atau Begawan yang bernama Wismawamitra mengajukan permohonan bantuan kepada sang Prabu Dasaratha.Resi Wismawamitra merasa ketakutan dan tidak mampu menghadapi gangguan para raksasa yang mengganggu daerah pertapaannya. Maka sang prabu Dasaratha memberi bantuan kepada resi Wismawamitra dengan mengutus puteranya Rama dan Laksmana untuk mengusir para raksasa tersebut.Sesuai dengan amanat ayahandanya, Rama dan Laksmana berhasil menghabisi para raksasa pengganggu area pertapaan itu. Setelah itu Rama dan Laksmana pergi ke negeri Mithila untuk mengikuti sayembara memanah berhadiah seorang putri raja yang bernama Sinta. Singkat cerita, Rama pun keluar sebagai pemenangdan memboyong putri raja pulang ke Ayodya.Alkisah karena ada solidaritas dendam para raksasa yang telah dibunuh oleh Rama, maka di kemudian hari kehidupan Rama danSinta diganggu oleh para raksasa Rahwana. Di dalam cerita juga Ramadan Sinta serta Laksmana pernah meninggalkan kerajaan dikarenakanuntuk memberi kesempatan kepada adiknya Bharata (adik lain ibu) untuk menjadi raja Ayodya.Kemudian di tengah hutan Rama dan Sinta diusik ketenangannya. Raksasa menculik istri Rama. Sinta sempat dibantu oleh Jatayu, namun akhirnya Jatayu mati. Jatayu adalah sahabat ayahandanya Prabu Dasaratha. Di dalam kondisi sekaratJatayu melapor ke Rama dan Laksmana bahwa Sinta dibawa Rahwana ke kerajaannya.Di dalam perjalannya Rama dan Laksmana bertemu kawanan kera putih yang siap membantu perjuangan Rama. Bala bantuan itu dipimpin oleh Hanoman. Karena dibantu oleh banyak pasukan maka mereka berhasil membunuh Rahwana. Akhirnya Rama bisa membebaskan istrinya Sinta dan kembali Ayodya. Selanjutnya Rama diangkat menjadi Raja Ayodya lagi.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cut Nyak Dien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orang tua dan para guru agama. Semua ini membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian, dan tawakal. Seperti umumnya di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873, Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dien selalu memberikan dukungan dan dorongan semangat. Semangat juang dan perlawanan Cut Nyak Dien bertambah kuat saat Belanda membakar Masjid Besar Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad meneruskan perjuangan. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku Ibrahim, Teuku Umar adalah pejuang kemerdekaan yang hebat. Bersama Cut Nyak Dien, perlawananyang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura bekerja sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan membawa Iari senjata dan perlengkapan peranglain. Namun, dalam pertempuran di Meulaboh tanggal 11 Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dien mengatur serangan besar- besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Seluruh barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya. Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat serangan Belanda. Meski demikian,ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah. Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya. Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang LaotAli. Namun,walau pun di dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906. Cut Nyak Dien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih ini tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah seorang bekas panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan beliau yang baru berusia 15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa para tawanan itu. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau yang taat beragama dan menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan simpati banyak orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau makanan. Cut Nyak Dien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November 1908. Beliau dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan Sumedang, tak jauh dan pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa beliau, bahkan hingga Indonesia merdeka. Makam beliau dapat dikenali setelah dilakukan penelitian berdasarkan data dari pemerintah Belanda. Tempat/Tgl. Lahir : Aceh, 1848 (tanggal dan bulan tidak diketahui) Tempat/Tgl. Wafat : Sumedang, 6 November 1908 SK Presiden : Keppres No.106 Tahun 1964, Tgl. 2 Mei 1964 Gelar : Pahlawan Nasional google terjemahan bahasa jawa - bebasan

google agensi saka basa Jawa - kamardikan

Last Update: 2014-09-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Perang Bharatayudha Tentu saja kata-kata ini tidaklah asing bagi kita, apa yang ada di benak kita saat memikirkan kata “Perang Bharatayudha” ? Wayang, sejarah, sebuah perang hebat? Kisah peperangan ini adalah kisah perang terhebat dalam cerita pewayangan, perang ini adalah perang antar saudara yaitu Pandhawa(melambangkan kekuatan baik) dan sepupu mereka Kurawa(melambangkan kekuatan jahat) akibat perebutan takhta kerajaan yang seharusnya jatuh ke tangan Puntadewa, malah diberikan pamannya(Destrarestra) ke anaknya yaitu Duryudana, anak sulung dari para Kurawa. Padahal Destraresta berjanji akan mengembalikan takhta ke tangan Puntadewa saat mereka sudah cukup dewasa. Di saat mereka sudah mulai berkuasa, datanglah Kurawa dan Sengkuni yang mencurangi mereka dalam permainan judi sehingga para Pandawa pun harus pergi ke hutan sebagai akibat dari kekalahan mereka. Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa. Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang). Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi. Asal Usul Perang Bharatayudha Istilah Baratayuda berasal dari kata Kisah peperangan ini merupakan bagian dari kitab Mahabarata yang berasal dari India, beberapa hal dalam peperangan agak berbeda versi antara Jawa dengan India. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa, Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi Mahabharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara berisi tentang urutan siapa saja yang akan menjadi korban dalam perang Baratayuda. kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, atas perintah Batara Guru, raja kahyangan. Menurut beberapa sumber, 695 tahun sebelum masehi, muncul banyak pujangga-pujangga kerajaan yang menulis banyak karya sastra dan menerjemahkan cerita-cerita yang berkembang, di masa ini, terdapat banyak biksu, nah kitab Mahabharata ini sendiri dikatakan berasal dari kerajaan Sriwijaya, sebab di sini terdapat biksu-biksu yang lebih banyak dari di kerajaan lain dan kerajaan Sriwijaya sudah mulai mengelola perpustakaan. uga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyatabahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Bharatayuddha (Perang Bharata), yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri. Sebenarnya kitab baratayuda yang ditulis pada masa Kediri itu untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga . Di Yogyakarta, cerita Baratayuda ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848. Babak dalam Perang Bharatayudha • Babak 1: Seta Gugur • Babak 2: Tawur (Bisma Gugur) • Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur) • Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur) • Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur) • Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur) • Babak 7: Karna Tanding • Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur) • Babak 9: Lahirnya Parikesit

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-08
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Sejarah Singkat Kota Surakarta by mashendri Cerita bermula ketika Sunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta Komandan pasukan Belanda J.A.B Van Hohenndorff untuk mencari lokasi ibukota kerajaan Mataram Islam yang baru. Setelah mempertimbangkan faktor fisik dan non-fisik akhirnya terpilihlah suatu desa di tepi Sungai Bengawan yang bernama desa Sala ( 1746 Masehi atau 1671 Jawa ). Sejak saat itu desa Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang pesat. Kota Surakarta pada mulanya adalah wilayah kerajaan Mataram. Kota ini bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram. Karena adanya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Mataram Islam terpecah karena propaganda kolonialisme Belanda. Kemudian terjadi pemecahan pusat pemerintahan menjadi dua yaitu pusat pemerintahan di Surakarta dan Yogyakarta. Pemerintahan di Surakarta terpecah lagi karena Perjanjian Salatiga (1767) menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran. Pada tahun 1742, orang-orang Tionghoa memberontak dan melawan kekuasaan Pakubuwana II yang bertahta di Kartasura sehingga Keraton Kartasura hancur dan Pakubuwana II menyingkir ke Ponorogo, Jawa Timur. Dengan Bantuan VOC pemberontakan tersebut berhasil ditumpas dan Kartasura berhasil direbut kembali. Sebagai ganti ibukota kerajaan yang telah hancur maka didirikanlah Keraton Baru di Surakarta 20 km ke arah selatan timur dari Kartasura pada 18 Februari 1745. Peristiwa ini kemudian dianggap sebagai titik awal didirikannya kraton Kasunanan Surakarta. Pemberian nama Surakarta Hadiningrat mengikuti naluri leluhur, bahwa Kerajaan Mataram yang berpusat di Karta, kemudian ke Pleret, lalu pindah ke Wanakarta, yang kemudian diubah namanya menjadi Kartasura. Surakarta Hadiningrat berarti harapan akan terciptanya negara yang tata tentrem karta raharja (teratur tertib aman dan damai), serta harus disertai dengan tekad dan keberanian menghadapi segala rintangan yang menghadang (sura) untuk mewujudkan kehidupan dunia yang indah (Hadiningrat). Dengan demikian, kata “Karta” dimunculkan kembali sebagai wujud permohonan berkah dari para leluhur pendahulu dan pendirian kerajaan Mataram. Sejarah nama kota Solo sendiri dikarenakan daerah ini dahulu banyak ditumbuhi tanaman pohon Sala ( sejenis pohon pinus) seperti yang tertulis dalam serat Babad Sengkala yang disimpan di Sana Budaya Yogyakarta. Sala berasal dari bahasa Jawa asli ( lafal bahasa jawa : Solo ) Pada akhirnya orang-orang mengenalnya dengan nama Kota Solo.google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indoAsal usul danau toba Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa. Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar. Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani. “Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat. Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja. Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri. Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya. Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu. Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir. nesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Soekarno atau biasa di panggil Bung Karno, lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur dan meninggal Dunia di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, Beliau mempunyai 3 orang istri (walaupun sebenarnya istrinya lebih dari itu) dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Ibu Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.

google agensi Indonesia - kamardikan

Last Update: 2014-09-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dahulu kala, di sebuah kerajaan Medhangkamulan, bertahtalah seorang raja bernama Dewata Cengkar. Atau terkenal dengan nama Prabu Dewata Cengkar. Seorang raja yang sangat rakus, bengis, tamak, dan suka memakan daging manusia. Karena kegemarannya memakan daging manusia, maka secara bergilir rakyatnya pun dipaksa menyetor upeti berwujud manusia. Mendengar kebengisan Prabu Dewata Cengkar, seorang pengembara bernama Aji Saka bermaksud menghentikan kebiasaan sang raja. Aji Saka mempunyai 2 orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Dalam perjalanannya ke kerajaan Medhangkamulan,­ Aji Saka mengajak Dora, sedangkan Sembada tetap ditempat karena harus menjaga sebuah pusaka sakti milik Aji Saka. Aji Saka berpesan kepada Sembada, agar jangan sampai pusaka itu diberikan kepada siapapun kecuali aku (Aji Saka). Setelah beberapa waktu, sampailah Aji Saka di kerajaan Medhangkamulan yang sepi. Rakyat di kerajaan itu takut keluar rumah, karena takut menjadi santapan lezat sang raja yang bengis. Aji Saka segera menuju istana dan menjumpai sang patih. Dia berkata kalau dirinya sanggup dan siap dijadikan santapan Prabu Dewata Cengkar. Tibalah pada hari dimana Aji Saka akan dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar. Sebelum dimakan, sang prabu selalu mengabulkan 1 permintaan dari calon korban. Dan Aji Saka dengan tenang meminta tanah seluas syurban kepalanya. Mendengar permintaan Aji Saka, Prabu Dewata Cengkar hanya tertawa terbahak-bahak,­ dan langsung menyetujuinya. Maka dibukalah kain syurban penutup kepala Aji Saka. Aji Saka memegang salah satu ujung syurban, sedangkan yang lain dipegang oleh Prabu Dewata Cengkar. Aneh, ternyata syurban itu seperti mengembang sehingga Dewata Cengkar harus berjalan mundur, mundur, dan mundur hingga sampai di tepi pantai selatan. Begitu Dewata Cengkar sampai di tepi pantai selatan, Aji Saka dengan cepat mengibaskan syurbannya sehingga membungkus badan Dewata Cengkar, dan menendangnya hingga terjebur di laut selatan. Tiba-tiba saja tubuh Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. “Karena engkau suka memakan daging manusia, maka engkau pantas menjadi buaya, dan tempat yang tepat untuk seekor buaya adalah di laut” demikian kata Aji Saka. Sejak saat itu, Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh Aji Saka. Seorng raja yang arif dan bijaksana. Tiba-tiba Aji Saka teringat akan pusaka saktinya, dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. Namun Sembada tidak mau memberikan pusaka itu, karena teringat pesan Aji Saka. Maka terjadilah pertarungan yang hebar diantara Dora dan Sembada. Karena memiliki ilmu dan kesaktian yang seimbang, maka meninggallah Dora dan Sembada secara bersamaan. Aji Saka yang teringat akan pesannya kepada Sembada, segera menyusul. Namun terlambat, karena sesampai di sana, kedua abdinya yang sangat setia itu sudah meninggal dunia. Untuk mengenang keduanya, maka Aji Saka mengabadikannya­ dalam sebuah Aksara / huruf yang bunyi dan tulisannya :

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation