MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: cerita rakyat dewi sri    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Bisma Gugur Ribuan Bala tentara bergerak maju bagaikan ombak samudra saling menerjang silih berganti. Gemerincing suara pedang dan kelewang bersulingnya anak panah ditingkah jerit lengking anak manusia, seakan ilustrasi musik kematian yang mengerikan. Itulah perang besar Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa. Gelanggang perang Kurusetra yang terhampar luas bagaikan sebuah pentas permainan drama perebutan nyawa. Panggung maut itu tampak menyeramkan dikelilingi hutan tempat setan dan iblis bercokol turut berpesta menonton kisah drama kematian. Mereka tertawa riang, mereka merasa senang melihat darah berceceran daging berkeping-keping pertanda hancurnya peradaban manusia nyawa tidak berharga. Demikian perang Barata telah dimulai akibat Duryudana menolak perdamaian. Tongkat panglima di pihak Kurawa berada di tangan si jago tua Arya Bisma yang terkenal gagak sakti tiada tanding. Selain Bisma juga Dorna mantan guru Pandawa ahli menggunakan senjata dan pakar strategi perang, ditopang aji Chandra Birawanya Salya yang ganas mematikan. Sementara di pihak Pandawa hanya memiliki seorang Kresna itu pun tak boleh terlibat langsung secara fisik dalam perang, kecuali memberi petunjuk di saat Pandawa mengalami kesulitan. Demikianlah selama sembilan hari komando Kurawa di tangan Bisma, serangan Pandawa praktis menjadi lumpuh. Tidak sedikit prajurit yang mati perwira yang perlaya menghadapi amukan Bisma. Siasat gunung segara sulit ditebus. Masuknya Arjuna dalam peperangan kekuatan agak seimbang, meskipun untuk memperoleh kemajuan tetap seru. Melihat perkembangan yang memprihatinkan, Pandawa mengadakan pertemuan membahas bagaimana mengatasi situasi. Mereka bertanya kepada nasehat agung Kresna. "Selama komando pihak Kurawa masih di tangan Bisma, Pandawa tidak akan memperoleh kemajuan apalagi untuk keluar sebagai pemenang. Bisma tak dapat dikalahkan oleh prajurit laki-laki betapapun saktinya," ujar Kresna. "Kalau Bisma tak dapat dikalahkan oleh laki-laki, apa harus sama cewek?" seloroh bima seenaknya saking keselnya. "Kau benar dik. Di tangan prajuit wanitalah rahasia kelemahannya," Kresna membenarkan pendapat Bima. Siapa lagi prajurit wanita kalau bukan Srikandi istri Arjuna. Demikianlah kesokan harinya dengan didampingi Arjuna, Srikandi menuju medan laga Kurusetra mengendarai kereta perangnya. Terkejut Bisma melihat Srikandi menuju ke arahnya. Sementara di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke tubuh Srikandi, Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman: "Amba aku takkan lari dari sumpahmu. Tapi aku sebagai prajurit takkan membiarkan kemenanganmu akan mudah diraih," tegasnya. Akhirnya dalam perang itu Bisma roboh setelah sebuah panah Srikandi menancap didadanya yang kemudian disusul panah Arjuna mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu tembus ke punggung sang Gangga putra. Tapi karena badannya penuh dengan panah, maka tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah, sedang kepalanya terkulai. Seketika perang dihentikan guna menghormat seorang pahlawan agung yang banyak jasanya pada keturunan Barata. Hari itu Pandawa dan Kurawa tampak akrab saling bertanya, sejenak mereka melupakan perang. Bisma tersenyum puas karena telah memenuhi darma baktinya. Karena kepalanya terkulai ia minta diganjal. Segera Duryudana memerintahkan mengambil bantal empuk bersarungkan kain sutra. Tapi Bisma menolak katanya: "Maaf, bantal ini terlalu bagus. Aku ingin bantal yang pantas buat seorang prajurit." Bisma melirik pada Arjuna. Arjuna mengerti apa yang diminta. Dengan mata berkaca -kaca Arjuna melepas tiga anak panah ketanah dan kepala Bisma direbahkan tersangga oleh anak panah itu seraya berkata: "Nah, beginilah pantasnya bantal seorang prajurit di medan laga. Jangan aku dipindah dari sini," pintanya. "Oh, aku haus, tolong berikan air," Tanpa pikir lagi Duryudana segera memerintahkan mengambil arak dan anggur. Pemberian itu kembali ditolak dan Bisma melirik Arjuna, dilepaskanlah anak panah ke tanah dibagian sisi kanan Bisma dan keluarlah air jernih memancar dari tanah dan jatuh persis di mulutnya dan dengan nikmatnya ia minum air itu. Sesaat kemudian Bisma berkata kepada Duryudana: "Wahai cucuku Duryudana, kepandaian Arjuna menandingi Dewa. Dalam segala hal ia tampak lebih menonjol. Karena itu dia bukan tandinganmu. Lebih baik berdamai, berikanlah sebelah negeri ini kepada Pandawa dan hiduplahj rukun bersamanya," wejangnya. "Tidak eyang, perang tak akan berhenti dan sejengkal tanah pun takkan kuserahkan. Aku yakin kemenangan akan berada di pihak kami," sergahnya tegas. Begitulah keesokan harinya perang pun dimulai lagi. Kali ini Pandawa terus memperoleh kemenangan karena Bisma yang menjadi andalannya telah google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

Bisma Gugur Ribuan Bala tentara bergerak maju bagaikan ombak samudra saling menerjang silih berganti. Gemerincing suara pedang dan kelewang bersulingnya anak panah ditingkah jerit lengking anak manusia, seakan ilustrasi musik kematian yang mengerikan. Itulah perang besar Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa. Gelanggang perang Kurusetra yang terhampar luas bagaikan sebuah pentas permainan drama perebutan nyawa. Panggung maut itu tampak menyeramkan dikelilingi hutan tempat setan dan iblis bercokol turut berpesta menonton kisah drama kematian. Mereka tertawa riang, mereka merasa senang melihat darah berceceran daging berkeping-keping pertanda hancurnya peradaban manusia nyawa tidak berharga. Demikian perang Barata telah dimulai akibat Duryudana menolak perdamaian. Tongkat panglima di pihak Kurawa berada di tangan si jago tua Arya Bisma yang terkenal gagak sakti tiada tanding. Selain Bisma juga Dorna mantan guru Pandawa ahli menggunakan senjata dan pakar strategi perang, ditopang aji Chandra Birawanya Salya yang ganas mematikan. Sementara di pihak Pandawa hanya memiliki seorang Kresna itu pun tak boleh terlibat langsung secara fisik dalam perang, kecuali memberi petunjuk di saat Pandawa mengalami kesulitan. Demikianlah selama sembilan hari komando Kurawa di tangan Bisma, serangan Pandawa praktis menjadi lumpuh. Tidak sedikit prajurit yang mati perwira yang perlaya menghadapi amukan Bisma. Siasat gunung segara sulit ditebus. Masuknya Arjuna dalam peperangan kekuatan agak seimbang, meskipun untuk memperoleh kemajuan tetap seru. Melihat perkembangan yang memprihatinkan, Pandawa mengadakan pertemuan membahas bagaimana mengatasi situasi. Mereka bertanya kepada nasehat agung Kresna. "Selama komando pihak Kurawa masih di tangan Bisma, Pandawa tidak akan memperoleh kemajuan apalagi untuk keluar sebagai pemenang. Bisma tak dapat dikalahkan oleh prajurit laki-laki betapapun saktinya," ujar Kresna. "Kalau Bisma tak dapat dikalahkan oleh laki-laki, apa harus sama cewek?" seloroh bima seenaknya saking keselnya. "Kau benar dik. Di tangan prajuit wanitalah rahasia kelemahannya," Kresna membenarkan pendapat Bima. Siapa lagi prajurit wanita kalau bukan Srikandi istri Arjuna. Demikianlah kesokan harinya dengan didampingi Arjuna, Srikandi menuju medan laga Kurusetra mengendarai kereta perangnya. Terkejut Bisma melihat Srikandi menuju ke arahnya. Sementara di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke tubuh Srikandi, Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman: "Amba aku takkan lari dari sumpahmu. Tapi aku sebagai prajurit takkan membiarkan kemenanganmu akan mudah diraih," tegasnya. Akhirnya dalam perang itu Bisma roboh setelah sebuah panah Srikandi menancap didadanya yang kemudian disusul panah Arjuna mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu tembus ke punggung sang Gangga putra. Tapi karena badannya penuh dengan panah, maka tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah, sedang kepalanya terkulai. Seketika perang dihentikan guna menghormat seorang pahlawan agung yang banyak jasanya pada keturunan Barata. Hari itu Pandawa dan Kurawa tampak akrab saling bertanya, sejenak mereka melupakan perang. Bisma tersenyum puas karena telah memenuhi darma baktinya. Karena kepalanya terkulai ia minta diganjal. Segera Duryudana memerintahkan mengambil bantal empuk bersarungkan kain sutra. Tapi Bisma menolak katanya: "Maaf, bantal ini terlalu bagus. Aku ingin bantal yang pantas buat seorang prajurit." Bisma melirik pada Arjuna. Arjuna mengerti apa yang diminta. Dengan mata berkaca -kaca Arjuna melepas tiga anak panah ketanah dan kepala Bisma direbahkan tersangga oleh anak panah itu seraya berkata: "Nah, beginilah pantasnya bantal seorang prajurit di medan laga. Jangan aku dipindah dari sini," pintanya. "Oh, aku haus, tolong berikan air," Tanpa pikir lagi Duryudana segera memerintahkan mengambil arak dan anggur. Pemberian itu kembali ditolak dan Bisma melirik Arjuna, dilepaskanlah anak panah ke tanah dibagian sisi kanan Bisma dan keluarlah air jernih memancar dari tanah dan jatuh persis di mulutnya dan dengan nikmatnya ia minum air itu. Sesaat kemudian Bisma berkata kepada Duryudana: "Wahai cucuku Duryudana, kepandaian Arjuna menandingi Dewa. Dalam segala hal ia tampak lebih menonjol. Karena itu dia bukan tandinganmu. Lebih baik berdamai, berikanlah sebelah negeri ini kepada Pandawa dan hiduplahj rukun bersamanya," wejangnya. "Tidak eyang, perang tak akan berhenti dan sejengkal tanah pun takkan kuserahkan. Aku yakin kemenangan akan berada di pihak kami," sergahnya tegas. Begitulah keesokan harinya perang pun dimulai lagi. Kali ini Pandawa terus memperoleh kemenangan karena Bisma yang menjadi andalannya telah google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Bisma Gugur Ribuan Bala tentara bergerak maju bagaikan ombak samudra saling menerjang silih berganti. Gemerincing suara pedang dan kelewang bersulingnya anak panah ditingkah jerit lengking anak manusia, seakan ilustrasi musik kematian yang mengerikan. Itulah perang besar Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa. Gelanggang perang Kurusetra yang terhampar luas bagaikan sebuah pentas permainan drama perebutan nyawa. Panggung maut itu tampak menyeramkan dikelilingi hutan tempat setan dan iblis bercokol turut berpesta menonton kisah drama kematian. Mereka tertawa riang, mereka merasa senang melihat darah berceceran daging berkeping-keping pertanda hancurnya peradaban manusia nyawa tidak berharga. Demikian perang Barata telah dimulai akibat Duryudana menolak perdamaian. Tongkat panglima di pihak Kurawa berada di tangan si jago tua Arya Bisma yang terkenal gagak sakti tiada tanding. Selain Bisma juga Dorna mantan guru Pandawa ahli menggunakan senjata dan pakar strategi perang, ditopang aji Chandra Birawanya Salya yang ganas mematikan. Sementara di pihak Pandawa hanya memiliki seorang Kresna itu pun tak boleh terlibat langsung secara fisik dalam perang, kecuali memberi petunjuk di saat Pandawa mengalami kesulitan. Demikianlah selama sembilan hari komando Kurawa di tangan Bisma, serangan Pandawa praktis menjadi lumpuh. Tidak sedikit prajurit yang mati perwira yang perlaya menghadapi amukan Bisma. Siasat gunung segara sulit ditebus. Masuknya Arjuna dalam peperangan kekuatan agak seimbang, meskipun untuk memperoleh kemajuan tetap seru. Melihat perkembangan yang memprihatinkan, Pandawa mengadakan pertemuan membahas bagaimana mengatasi situasi. Mereka bertanya kepada nasehat agung Kresna. "Selama komando pihak Kurawa masih di tangan Bisma, Pandawa tidak akan memperoleh kemajuan apalagi untuk keluar sebagai pemenang. Bisma tak dapat dikalahkan oleh prajurit laki-laki betapapun saktinya," ujar Kresna. "Kalau Bisma tak dapat dikalahkan oleh laki-laki, apa harus sama cewek?" seloroh bima seenaknya saking keselnya. "Kau benar dik. Di tangan prajuit wanitalah rahasia kelemahannya," Kresna membenarkan pendapat Bima. Siapa lagi prajurit wanita kalau bukan Srikandi istri Arjuna. Demikianlah kesokan harinya dengan didampingi Arjuna, Srikandi menuju medan laga Kurusetra mengendarai kereta perangnya. Terkejut Bisma melihat Srikandi menuju ke arahnya. Sementara di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke tubuh Srikandi, Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman: "Amba aku takkan lari dari sumpahmu. Tapi aku sebagai prajurit takkan membiarkan kemenanganmu akan mudah diraih," tegasnya. Akhirnya dalam perang itu Bisma roboh setelah sebuah panah Srikandi menancap didadanya yang kemudian disusul panah Arjuna mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu tembus ke punggung sang Gangga putra. Tapi karena badannya penuh dengan panah, maka tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah, sedang kepalanya terkulai. Seketika perang dihentikan guna menghormat seorang pahlawan agung yang banyak jasanya pada keturunan Barata. Hari itu Pandawa dan Kurawa tampak akrab saling bertanya, sejenak mereka melupakan perang. Bisma tersenyum puas karena telah memenuhi darma baktinya. Karena kepalanya terkulai ia minta diganjal. Segera Duryudana memerintahkan mengambil bantal empuk bersarungkan kain sutra. Tapi Bisma menolak katanya: "Maaf, bantal ini terlalu bagus. Aku ingin bantal yang pantas buat seorang prajurit." Bisma melirik pada Arjuna. Arjuna mengerti apa yang diminta. Dengan mata berkaca -kaca Arjuna melepas tiga anak panah ketanah dan kepala Bisma direbahkan tersangga oleh anak panah itu seraya berkata: "Nah, beginilah pantasnya bantal seorang prajurit di medan laga. Jangan aku dipindah dari sini," pintanya. "Oh, aku haus, tolong berikan air," Tanpa pikir lagi Duryudana segera memerintahkan mengambil arak dan anggur. Pemberian itu kembali ditolak dan Bisma melirik Arjuna, dilepaskanlah anak panah ke tanah dibagian sisi kanan Bisma dan keluarlah air jernih memancar dari tanah dan jatuh persis di mulutnya dan dengan nikmatnya ia minum air itu. Sesaat kemudian Bisma berkata kepada Duryudana: "Wahai cucuku Duryudana, kepandaian Arjuna menandingi Dewa. Dalam segala hal ia tampak lebih menonjol. Karena itu dia bukan tandinganmu. Lebih baik berdamai, berikanlah sebelah negeri ini kepada Pandawa dan hiduplahj rukun bersamanya," wejangnya. "Tidak eyang, perang tak akan berhenti dan sejengkal tanah pun takkan kuserahkan. Aku yakin kemenangan akan berada di pihak kami," sergahnya tegas. Begitulah keesokan harinya perang pun dimulai lagi. Kali ini Pandawa terus memperoleh kemenangan karena Bisma yang menjadi andalannya telah google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

NGANALISIS CERPEN 1. Judul cariyos : Rubuhe Surau Kula Sedaya 2. Tokoh utama : Kakek (Garin), Ojo Sidi, Haji Saleh 3. Tokoh pembantu : Ojo Sidi, Haji Saleh 4. Watak tokoh utama :  Tokoh antagonis :  Tokoh protagonist : 5. Latar :  Tempat : kota, di surau, kuburan  Waktu : beberapa tahun yang lalu 6. Alur : alur mundur 7. Tema : seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. 8. Amanat :  jangan cepat marah kalau diejek orang,  jangan cepat bangga kalau berbuat baik,  jangan terpesona oleh gelar dan nama besar,  jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan  jangan egois. 9. Ringkasan cerita : Seperti rumah yang di tinggal penghuninya. Surau yang dulunya digunakan untuk beribadah kini hanya dipakai untuk sekedar bermain anak-anak. Tak ada lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. pemandangan yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal. Tetapi sebagai garin kakek itu begitu di kenal. Kehidupan kakek ini hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan, beribadah di surau. bekerja hanya untuk keperluannya sendiri tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Sebelum kakek meninggal kakek sempat bercerita tentang Ojo Sidi. Ojo sidi mengisahkan tentang Haji saleh. Haji Saleh adalah orang yang rajin beribadah Namun Tuhan Maha Tau dan Maha Adil, Haji Saleh yang begitu rajin beribadah di masukan ke dalam neraka. Kesalahan terbesarnya adalah ia terlalu mementingkan dirinya sendiri. Ia takut masuk neraka, karena itu ia bersembahyang. Tapi ia melupakan kehidupan kaumnya, melupakan kehidupan anak isterinya. Ia terlalu egoistis. Padahal di dunia ini kita berkaum, bersaudara semuanya, tapi ia tidak memperdulikan itu sedikit pun. Cerita ini yang membuat kakek tersindir dan merasa dirinya murung. Kakek itu begitu memikirkan hal itu. Keesokan harinya, kakek ditemukan meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur. Ternyata Ojo Sidi telah meninggalkan pesan kepada istrinya untuk membelikan tujuh lapis kain kafan untuk kakek

google terjemahan basa Jawa - kabebasan

Last Update: 2014-11-13
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cerita ini dimulai dari kisah sang Prabu Dasaratha yang berasal dari negeri Ayodya. Prabu Dasaratha mempunyai empat orang anak yangsemuanya laki-laki. Keempat anak itu diberi nama Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrughna. Seorang resi atau Begawan yang bernama Wismawamitra mengajukan permohonan bantuan kepada sang Prabu Dasaratha.Resi Wismawamitra merasa ketakutan dan tidak mampu menghadapi gangguan para raksasa yang mengganggu daerah pertapaannya. Maka sang prabu Dasaratha memberi bantuan kepada resi Wismawamitra dengan mengutus puteranya Rama dan Laksmana untuk mengusir para raksasa tersebut.Sesuai dengan amanat ayahandanya, Rama dan Laksmana berhasil menghabisi para raksasa pengganggu area pertapaan itu. Setelah itu Rama dan Laksmana pergi ke negeri Mithila untuk mengikuti sayembara memanah berhadiah seorang putri raja yang bernama Sinta. Singkat cerita, Rama pun keluar sebagai pemenangdan memboyong putri raja pulang ke Ayodya.Alkisah karena ada solidaritas dendam para raksasa yang telah dibunuh oleh Rama, maka di kemudian hari kehidupan Rama danSinta diganggu oleh para raksasa Rahwana. Di dalam cerita juga Ramadan Sinta serta Laksmana pernah meninggalkan kerajaan dikarenakanuntuk memberi kesempatan kepada adiknya Bharata (adik lain ibu) untuk menjadi raja Ayodya.Kemudian di tengah hutan Rama dan Sinta diusik ketenangannya. Raksasa menculik istri Rama. Sinta sempat dibantu oleh Jatayu, namun akhirnya Jatayu mati. Jatayu adalah sahabat ayahandanya Prabu Dasaratha. Di dalam kondisi sekaratJatayu melapor ke Rama dan Laksmana bahwa Sinta dibawa Rahwana ke kerajaannya.Di dalam perjalannya Rama dan Laksmana bertemu kawanan kera putih yang siap membantu perjuangan Rama. Bala bantuan itu dipimpin oleh Hanoman. Karena dibantu oleh banyak pasukan maka mereka berhasil membunuh Rahwana. Akhirnya Rama bisa membebaskan istrinya Sinta dan kembali Ayodya. Selanjutnya Rama diangkat menjadi Raja Ayodya lagi.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-13
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

pengolahan Tahu dan Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Bioteknologi Konvensional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Industri tahu merupakan industri rakyat, yang sampai saat ini masih banyak yang berbentuk usaha perumahan atau industri rumah tangga. Walaupun sebagai industri rumah tangga dengan modal kecil, industri ini memberikan sumbangan perekonomian negara dan menyediakan banyak tenaga kerja. Namun pada sisi lain dihasilkan limbah cair yang sangat berpotensi merusak lingkungan. Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu merupakan limbah organik yang degradable atau mudah diuraikan oleh mikroorganisme secara alamiah. Namun karena sebagian besar pemrakarsa yang bergerak dalam industri tahu adalah orang-orang yang hanya mempunyai modal terbatas, maka perhatian terhadap pengolahan limbah industri tersebut sangat kecil, dan bahkan ada beberapa industri tahu yang tidak mengolah limbahnya sama sekali dan langsung dibuang ke lingkungan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dan harus mendapat perhatian yang serius. Pengolahan limbah cair industri tahu sampai saat sekarang kebanyakan hanya menampung limbah cair kemudian didiamkan beberapa saat lalu dibuang ke sungai. Cara ini memerlukan kapasitas penampungan limbah cair yang sangat besar. Terlebih lagi apabila kapasitas industri tahu cukup besar, maka dihasilkan limbah cair industri tahu yang sangat banyak. Penguaraian polutan tersebut dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen bebas atau secara anaerob. Memang hal tersebut dapat berjalan walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Supaya proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif, maka perlu dicari kondisi yang paling baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme dapat hidup dengan baik pada kondisi pH limbah cair sekitar 7 atau pada keadaan normal. Limbah cair industri tahu bersifat asam sehingga sebelum diolah perlu dinetralkan terlebih dahulu dengan kapur agar kerja mikroorganisme berlangsung dengan baik.Mengingat waktu yang cukup panjang dalam proses pengolahan limbah cair tahu secara anaerob, maka perlu dicari jalan ke luar untuk mendapatkan proses yang singkat namun biayanya tetap murah. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana cara pengolahan tahu ? b. Bagaimana cara memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas ? c. Bagaimana kerja Metana Bacterium dalam memfermentasikan limbah tahu menjadi biogas ? 3.1 Pengolahan Produk Tahu Berdasarkan observasi yang kami lakukan di salah satu home industry tahu di Kabupaten Tegal , kami mendapatkan bahwa terdapat 4 macam jenis kedelai yaitu kedelai kuning, kedelai hitam, kedelai coklat dan kedelai hijau. Dalam pengolahan tahu ini , digunakan kedelai kuning karena dapat mengasilkan tahu yang berkualitas tinggi . Syarat mutu tahu kualitas utama yaitu : a. bebas dari sisa tanaman (kulit palang, potongan batang atau ranting, batu, kerikil, tanah atau biji-bijian) b. biji kedelai tidak luka atau bebas serangan hama dan penyakit c. biji kedelai tidak memar d. kulit biji kedelai tidak keriput , rasanya manis dan mengkilap . Alat yang dibutuhkan meliputi : 1. Ember besar 2. Tampah (nyiru) 3. Kain Saring atau kain blancu 4. Kain pengaduk 5. Cetakan 6. Keranjang 7. Rak bamboo 8. Tungku atau kompor 9. Alat penghancur (alu) 10. Mesin penggiling Bahan yang digunakan meliputi : 1. Kedelai 2. Air secukupnya 3. Kunir 4. Garam 5. Asam cuka sebagai penggumpal tahu Proses produksi Tahu Tahap dalam proses produksi tahu adalah sebagai berikut : 1. Kedele dipilih dengan penampi untuk memilih biji kedele besar. Kemudian di cuci serta direndam dalam air besar selama 6 jam. Tujuannya agar kedelai lebih lentur sehingga mudah digiling . 2. Setelah di rendam di cuci kembali sekitar 1/2 jam 3. Setelah di cuci bersih kedelai di bagi-bagi diletakkan dalam ebleg terbuat dari bambu atau plastik. 4. Selanjutnya kedele giling sampai halus, dan butir kedele mengalir dengan sendirinya kedalam tong penampung. 5. Selesai digiling langsung direbus selama 15 – 20 menit mempergunakan wajan dengan ukuran yang besar-besar . Sebaiknya jarak waktu antara selesai digiling dan dimasak jangan lebih dari 5 – 10 menit, supaya kualitas tahu menjadi baik. 6. Selesai di masak bubur kedele diangkat dari wajan ke bak/tong untuk disaring menggunakan kain belacu atau mori kasar yang telah di letakkan pada sangkar bambu. Agar bubur dapat di saring sekuat-kuatnya diletakkan sebuah papan kayu pada kain itu lalu ada satu orang naik di atasnya dan menggoyang-goyang, supaya terperas semua air yang masih ada pada bubur kedele. Limbah dari penyaringan berupa ampas tahu. Kalau perlu ampas tahu diperas lagi dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Pekerjaan penyaringan di lakukan berkali-kali hingga bubur kedele habis. 7. Air sampingan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih adalah bahan yang akan menjadi tahu. Air saringan di campur dengan asam cuka untuk menggumpalkan. Sebagai tambahan asam cuka dapat juga air kelapa atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah di eramkan maupun bubuk batu tahu (sulfat kapur) 8. Gumpalan atau jonjot putih yang mulai mengendap itulah yang nanti sesudah di cetak menjadi tahu. Air asam yang masih ada dipisahkan dari jonjot-jonjot tahu dan disimpan, sebab air asam cuka masih dapat digunakan lagi. Endapan tahu dituangkan dalam kotak ukuran misalnya 50 x 60 cm 2 dan sebagai alasnya di hamparkan kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Pengempaan dilakukan sekitar 1 menit, adonan tahu terbentuk kotak, yang sudah padat, di potong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm 2, sebelum menjadi tahu siap di jual.

pengolahan Tahu dan Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Bioteknologi Konvensional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Industri tahu merupakan industri rakyat, yang sampai saat ini masih banyak yang berbentuk usaha perumahan atau industri rumah tangga. Walaupun sebagai industri rumah tangga dengan modal kecil, industri ini memberikan sumbangan perekonomian negara dan menyediakan banyak tenaga kerja. Namun pada sisi lain dihasilkan limbah cair yang sangat berpotensi merusak lingkungan. Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu merupakan limbah organik yang degradable atau mudah diuraikan oleh mikroorganisme secara alamiah. Namun karena sebagian besar pemrakarsa yang bergerak dalam industri tahu adalah orang-orang yang hanya mempunyai modal terbatas, maka perhatian terhadap pengolahan limbah industri tersebut sangat kecil, dan bahkan ada beberapa industri tahu yang tidak mengolah limbahnya sama sekali dan langsung dibuang ke lingkungan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dan harus mendapat perhatian yang serius. Pengolahan limbah cair industri tahu sampai saat sekarang kebanyakan hanya menampung limbah cair kemudian didiamkan beberapa saat lalu dibuang ke sungai. Cara ini memerlukan kapasitas penampungan limbah cair yang sangat besar. Terlebih lagi apabila kapasitas industri tahu cukup besar, maka dihasilkan limbah cair industri tahu yang sangat banyak. Penguaraian polutan tersebut dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen bebas atau secara anaerob. Memang hal tersebut dapat berjalan walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Supaya proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif, maka perlu dicari kondisi yang paling baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme dapat hidup dengan baik pada kondisi pH limbah cair sekitar 7 atau pada keadaan normal. Limbah cair industri tahu bersifat asam sehingga sebelum diolah perlu dinetralkan terlebih dahulu dengan kapur agar kerja mikroorganisme berlangsung dengan baik.Mengingat waktu yang cukup panjang dalam proses pengolahan limbah cair tahu secara anaerob, maka perlu dicari jalan ke luar untuk mendapatkan proses yang singkat namun biayanya tetap murah. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana cara pengolahan tahu ? b. Bagaimana cara memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas ? c. Bagaimana kerja Metana Bacterium dalam memfermentasikan limbah tahu menjadi biogas ? 3.1 Pengolahan Produk Tahu Berdasarkan observasi yang kami lakukan di salah satu home industry tahu di Kabupaten Tegal , kami mendapatkan bahwa terdapat 4 macam jenis kedelai yaitu kedelai kuning, kedelai hitam, kedelai coklat dan kedelai hijau. Dalam pengolahan tahu ini , digunakan kedelai kuning karena dapat mengasilkan tahu yang berkualitas tinggi . Syarat mutu tahu kualitas utama yaitu : a. bebas dari sisa tanaman (kulit palang, potongan batang atau ranting, batu, kerikil, tanah atau biji-bijian) b. biji kedelai tidak luka atau bebas serangan hama dan penyakit c. biji kedelai tidak memar d. kulit biji kedelai tidak keriput , rasanya manis dan mengkilap . Alat yang dibutuhkan meliputi : 1. Ember besar 2. Tampah (nyiru) 3. Kain Saring atau kain blancu 4. Kain pengaduk 5. Cetakan 6. Keranjang 7. Rak bamboo 8. Tungku atau kompor 9. Alat penghancur (alu) 10. Mesin penggiling Bahan yang digunakan meliputi : 1. Kedelai 2. Air secukupnya 3. Kunir 4. Garam 5. Asam cuka sebagai penggumpal tahu Proses produksi Tahu Tahap dalam proses produksi tahu adalah sebagai berikut : 1. Kedele dipilih dengan penampi untuk memilih biji kedele besar. Kemudian di cuci serta direndam dalam air besar selama 6 jam. Tujuannya agar kedelai lebih lentur sehingga mudah digiling . 2. Setelah di rendam di cuci kembali sekitar 1/2 jam 3. Setelah di cuci bersih kedelai di bagi-bagi diletakkan dalam ebleg terbuat dari bambu atau plastik. 4. Selanjutnya kedele giling sampai halus, dan butir kedele mengalir dengan sendirinya kedalam tong penampung. 5. Selesai digiling langsung direbus selama 15 – 20 menit mempergunakan wajan dengan ukuran yang besar-besar . Sebaiknya jarak waktu antara selesai digiling dan dimasak jangan lebih dari 5 – 10 menit, supaya kualitas tahu menjadi baik. 6. Selesai di masak bubur kedele diangkat dari wajan ke bak/tong untuk disaring menggunakan kain belacu atau mori kasar yang telah di letakkan pada sangkar bambu. Agar bubur dapat di saring sekuat-kuatnya diletakkan sebuah papan kayu pada kain itu lalu ada satu orang naik di atasnya dan menggoyang-goyang, supaya terperas semua air yang masih ada pada bubur kedele. Limbah dari penyaringan berupa ampas tahu. Kalau perlu ampas tahu diperas lagi dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Pekerjaan penyaringan di lakukan berkali-kali hingga bubur kedele habis. 7. Air sampingan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih adalah bahan yang akan menjadi tahu. Air saringan di campur dengan asam cuka untuk menggumpalkan. Sebagai tambahan asam cuka dapat juga air kelapa atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah di eramkan maupun bubuk batu tahu (sulfat kapur) 8. Gumpalan atau jonjot putih yang mulai mengendap itulah yang nanti sesudah di cetak menjadi tahu. Air asam yang masih ada dipisahkan dari jonjot-jonjot tahu dan disimpan, sebab air asam cuka masih dapat digunakan lagi. Endapan tahu dituangkan dalam kotak ukuran misalnya 50 x 60 cm 2 dan sebagai alasnya di hamparkan kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Pengempaan dilakukan sekitar 1 menit, adonan tahu terbentuk kotak, yang sudah padat, di potong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm 2, sebelum menjadi tahu siap di jual.

Last Update: 2014-11-12
Subject: Forestry
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Riwayat Kampung Laweyan tidak dapat dilepaskan dari tokoh Ki Ageng Enis. Ki Ageng Enis adalah putra Ki Ageng Sela. Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Pemanahan berputra Sutawijaya atau Mas Ngabehi Loring Pasar atau Senapati pendiri kerajaan Mataram Islam Dalam sejarah Pajang[1], Pemanahan dan Sutawijaya bersama-sama dengan Ki Juru Martani dan Ki Panjawi, sangat berjasa kepada Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir atau Mas Karebet) sebab dapat membunuh Arya Panangsang, musuhnya dari Jipang. Selanjutnya atas jasa tersebut, Sultan Hadiwijaya memberi anugerah tanah Pati kepada Ki Panjawi, dan tanah Mataram kepeda Ki Ageng Pamanahan. Sedang kepada Ki Ageng Enis dianugerahi tanah perdikan di Laweyan.[2] Karena ketaatan para kawulanya, Ki Ageng Enis mendapatkan sebutan Ki Ageng Luwih, makamnya di Astana Lawiyan. Istilah Lawiyan berasal dari kata Luwih (sakti) dari Ki Ageng Enis tersebut. Istilah Lawiyan juga kita temukan pada peristiwa pembunuhan Raden Pabelan (Jaka Pabelan atau dalam cerita Ki Gede Sala disebut Kyai Batang). Dia dibunuh karena bermain asmara dengan putri bungsu Sultan, yaitu Raden Ayu Sekar Kedaton.[3]. Mayat Jaka Pabelan dibuang di Sungai Lawiyan (Sungai Jenes). Selanjutnya nama Lawiyan disebut pula dalam peristiwa pelarian Sunan Paku Buwana II ke Panaraga dalam masa Geger Pacinan (Pemberontakan Tionghoa)[4]. Daerah ini dipergunakan sebagai tempat peristirahatan dan persembunyiannya. Sunan mohon berkah di Astana Lawiyan (Makam Ki Ageng Enis). Maka Sunan Paku Buwana II juga disebut Sunan Nglawiyan dan ketika mangkat juga dimakamkan di Astana Nglawiyan.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

a. Legenda Desa Pandak Konon berdasarkan cerita para sesepuh Desa Pandak mengisahkan bahwa awal mula nama Desa Pandak berasal dari kisah datangnya seorang pertapa agung bernama Mbah Pendek. Beliau adalah seorang pertapa sakti yang berbudi luhur yang mengarungi perjalanan kehidupannya dengan merantau sambil menebarkan bhakti sosial, ilmu kanuragan yang adiluhung, budi pekerti luhur dan berbagai tatanan kehidupan yang tenteram, damai, rukun dan sentosa. Beliau dikenal arif bijaksana di kalangan nayaka praja maupun abdi dalem, disegani kawan maupun lawan. Beliau seorang pertapa agung yang berjiwa penolong. Hingga pada suatu saat beliau bertemu dengan seorang wanita pengelana yang ahli dalam menari (terkenal dengan nama Nyai Ronggeng) bersama putri asuhnya yang masih keturunan trah Kadipaten Kuthaliman. Di saat mereka mengembara singgahlah mereka di pertapaan Mbah Pendek. Lama-kelamaan mereka tinggal di pedukuhan itu, hingga banyak pendatang yang mengikuti jejak Nyai Ronggeng untuk tinggal di pedukuhan itu membentuk masyarakat desa yang tenteram, guyub rukun dalam kedamaian. Lama-kelamaan banyak warga berdatangan ke pedukuhan itu, setelah mereka beranak pinak hingga terbentuklah masyarakat desa. Untuk mengenang kasepuhan pendirinya maka desa itu dinamakan Desa Pandak. Beberapa kisah tentang adat yang masih berlaku di Desa Pandak antara lain Pada jaman dulu hingga kini masyarakat Desa Pandak pantang menyebut kata “pendeken” karena frase kata tersebut ada mosi merendahkan Mbah Pendek. Masyarakat Pandak tidak boleh menanggap hiburan wayang kulit sampai tujuh turunan sejak adanya sengketa pendapat antara Mbah Dukun dengan Mbah Nyai Ronggeng, namun pada dekade tahun 1960 an serapah tersebut digugurkan dengan adanya gebyak wayang kulit Pandak Ki Dalang Martosuwito. Kemudian disusul pula oleh Ki Dalang Aji Mujiono. Sejak itulah pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Desa Pandak dapat dilakukan hingga kini. Demikian juga dengan tanggapan hiburan Ronggeng, Ebeg (Kuda Lumping), Lengger, Angguk (Tari Rebana),Genjringan, Calung, Gendhingan, Tarling, Kenthongan, bahkan penampilan group musik modern seperti Band dapat diselenggarakan di Desa Pandak. Kegiatan keagamaan seperti kegiatan tahlil pada kendurian juga berlangsung turun temurun. Hal ini dilakukan sebagian masyarakat Desa Pandak yang beragama Islam pada saat acara selamatan, tasyakuran, dan dijadikan sebagai kegiatan rutin warga pada malam Jum’at secara berkeliling atau bergiliran tempat dengan maksud agar masyarakat yang belum bisa membaca Al Qur’an dapat saling belajar.

google agensi saka basa Jawa - kamardikan

Last Update: 2014-11-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Kisah ini bercerita tentang kesucian cinta Rama dan Shinta. Dimulai dari sayembara yang diselenggarakan oleh Raja Janaka dari Kerajaan Wideha. Di mana pada sayembara itu, Rama berhasil memenangkan sayembara dan mendapatkan Shinta.Rama adalah seorang raja dari Ayodya yang berbudi pekerti luhur, jujur, peduli , tegas​​, dan setia. Wajahnya begitu tampan dan mengkilap, sehingga mudah baginya untuk menarik hati semua wanita di dunia. Betapa beruntungnya seorang putri cantik bernama Shinta . Dia adalah satu-satunya wanita dicintai oleh Rama dan menjadi istri Rama. Shinta adalah seorang wanita yang cantik, lembut, dan sangat perhatian.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-11
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:
Reference: Anonymous

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja. Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa. Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain. Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung. Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-08
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Unsur intrinsik cerita “Asal Usul Danau Toba”. 1. Tema: Kokar lupa akan janjinya kepada istrinya. Buki : “……..Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya dengan berkata, “Pantaslah kamu semakin nakal kepada orang tua karena kamu memang anak dekke (ikan)!”. 2. Penokohan dan perwatakan a) Tokoh utama → Kokar : Rajin dan pemarah, pelupa. Bukti : “……Kau adalah pemuda yang rajin dan baik budi, maka saya disuruh menemuimu dan mendampingimu sebagai seorang istri,” (paragraph 2) → “……..Timbullah amarah Kokar kepada anaknya. Dicarinya Samosir. Ketika hendak tertangkap, Samosir tertawa terbahak-bahak. Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya”. (Paragraf 6) → Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung.” (Paragraf 7) b) Tokoh sampingan → Samosir : baik dan lincah menjadi nakal. Bukti : “Setahun kemudian istri kokar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Anaknya baik dan lincah. Akan tetapi, semakin besar sikapnya bertambah nakal.” (Paragraf 5). → Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung.” (Paragraf 7) → Karena kenakalanmu, kita semua harus berpisah. Tempat ini akan dilanda banjir besar, anakku!” (Paragraf 7) 3. Alur/Plot : maju a) Pengenalan Bukti : Pada suatu pagi, kokar mengangkat bubunya dari sebuah parit. Alangkah senang hatinya ketika didapatnya seekor dekke (ikan) yang besar. Ikan itu ditaruhnya dalam kolam disamping rumah, lalu ia pergi ke sawah. → Setelah mengerjakan sawah ladangnya, kokar terkejut karena melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri didekat kolam ikannya. → “Jangan takut dan heran, wahai kokar! Saya adalah seorang putrid raja jin penghuni pegunungan disekitar sini. Kau pemuda yang rajin dan baik budi, maka saya disuruh menemuimu dan mendampingimu sebagai seorang istri,” kata putri yang jelita itu. → Belum sempat kokar berkata, putri jin itu melanjutkan kata-katanya. “Tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi, kokar. Syarat itu adalah janji yang tidak boleh dilanggar. Bila kita nanti dikaruniai anak, jika itu nakal jangan sekali-kali memarahi dan mengatakan anak dekke! Apabila engkau melanggar, kita akan berpisah untuk selamanya. Engkau dan anak kita akan binasa,” kata putri cantik itu. b) Muncul masalah Bukti : Suatu hari, Kokar pulang dari sawah. Sehabis membasuh kaki, tangan, dan muka Kokar menuju keruang makan. Ia terkejut karena hidangan di meja telah habis, tentu dimakan oleh Samosir, putranya sendiri. Timbullah amarah Kokar kepada anaknya. Dicarinya Samosir. Ketika hendak tertangkap, Samosir tertawa terbahak-bahak. Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya dengan berkata, “Pantaslah kamu semakin nakal kepada orang tua karena kamu memang anak dekke (ikan)!”. → Mendengar kata-kata ayahnya, Samosir lahi mencari ibunya dan mengatakan seperti ayahnya. Mendengar kata anaknya, ibu Samosir gemetar sambil berkata. “O……., anakku! Tiba juga saat yang mengetikan. Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung. Karena kenakalanmu, kita semua harus berpisah. Tempat ini akan dilanda banjir besar, anakku!” → Sebentar kemudian keadaan berubah, gelap. Halilintar menggelegar dan kilat bersautan. Hujan turun tiada hentinya, Banjir segera terjadi. Lembah yang subur digenangi air. Semua penduduk binasa termasuk Kokar. Samosir yang di puncak gunung dicekam ketakutan hingga meninggal di puncak gunung tersebut. c) Keadaan mulai memuncak Bukti : Sebentar kemudian keadaan berubah, gelap. Halilintar menggelegar dan kilat bersautan. Hujan turun tiada hentinya, Banjir segera terjadi. Lembah yang subur digenangi air. Semua penduduk binasa termasuk Kokar. Samosir yang di puncak gunung dicekam ketakutan hingga meninggal di puncak gunung tersebut. d) Akhir Bukti : Putri jin kembali ke asalnya. Lembah subur menjadi telaga yang disebut Danau Toba. Gunung tempat Samosir meninggal disebut Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba. 4. Latar a) Latar waktu : siang hari b) Latar tempat : Rumah/sawah c) Latar suasana : Mengerikan 5. Amanat “ Jangan sembarang janji kepada orang lain kalau kita tidak mampu menjaganya”. Unsur Ekstrinsik 1. Nilai moral → Orang yang rutin dan baik pasti akan membuahkan hasil yang bagus. 2. Nilai kebudayaan → Sebuah pernikahan dilaksanakan sesuai adat daerah itu.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Suatu cerita terdapat anak kecil yang bertapa di sungai. Disebuah hutan ada sekelompok monyet yang sedang bermain. Dan ada seekor lutung yang bernama Lutung Kasarung, yang ternyata jelmaan dari seorang pria yang bernama Arya Panulung dari Kerajaan Pajajaran. Suatu hari Arya ingin melihat kota Raja. Dan akhirnya ia pergi mengembara di hutan. Ditengah perjalanan Arya mendengar seseorang berteriak minta tolong karena ia sedang dikejar oleh seekor banteng, orang itu bernama Dewangga, yaitu seorang pemburu yang sedang mencari lutung yang berkepala perak. Kemudian Arya menyelamatkannya dan kemudian Dewangga bercerita tentang sayembara Putri Raja yang sedang sakit. Kemudian Arya mengikuti sayembara itu. Dan Arya pun segera datang ke Kerajaan. Arya pun segera menemui Putri. Putri itu selalu menyendiri di hutan, meratapi sakitnya. Kemudian Arya merubah dirinya menjadi seekor lutung dan segera menemui Putri. Suatu hari lutung itu menyuruh Putri untuk mandi. Dan lutung itu membuatkannya sebuah ramuan dari daun sambiloto untuk mengobati sakitnya. Kemudian lutung itu menyuruh Putri untuk meminumnya setelah mandi. Setelah 40 hari lamanya, akhirnya penyakit itu sembuh. Putri sangat senang dan bahagia, lalu berterimakasih kepada Tuhan dan Lutung tersebut. Raja ingin mengangkat Lutung itu sebagai menantunya. Namun ia menolak. Kemudian ia pergi ke hutan dan bertemu lagi dengan Dewangga dan menceritakan semuanya. Dewangga sangat ingin menjadi suami Putri. Dan ia meminta Arya agar mengubah dirinya menjadi lutung sepertinya. Lalu Arya menuruti keinginannya tersebut. Kemudian Dewangga segera menemui Putri dan mereka segera menikah dan hidup bahagia.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cerita Mahabarata secara singkat (sinopsis) Secara garis besar, cerita Mahabarata bercerita mengenai kehidupan Prabu Santanu atau Sentanu (Çantanu). Dia adalah seorang raja keturunan keluarga Kuru yang menjadi raja kerajaan Barata. Dia mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga, dan berputra Bisma. Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka dikaruniai seorang putra bernama Bisma. Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu. Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah. Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Destarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Destarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Surya lahirlah Arjuna. Sedangkan Madrim yang menikah dengan dewa kembar Aҫwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. Pusing ya…, sama… hehe… Selanjutnya, keturunan-keturuan itu dibagi dua yakni keturunan Destarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa. Sebenarnya Destarasta berhak mewarisi takhta ayahnya, tapi karena ia buta sejak lahir, maka takhta itu kemudian diberikan kepada Pandu. Hal ini pada kemudian hari menjadi sumber bencana antara kaum Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta sampai berlarut-larut, hingga akhirnya pecah perang dahsyat yang disebut Baratayuda yang berarti peperangan memperebutkan kerajaan Barata. Peperangan diawali dengan aksi judi dimana kaum Pandawa kalah. Kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengembara di hutan belantara selama dua belas tahun. Setelah itu, pada tahun ke-13 sesuai perjanjian dengan Kurawa, para Pandawa harus menyembunyikan diri di tempat tertentu. Namun para Pandawa memutuskan untuk bersembunyi di istana raja Matsyapati. Pada tahun berikutnya, para Pandawa keluar dari persembunyian dan memperlihatkan diri di muka umum lalu menuntut hak mereka kepada Kurawa. Namun tuntutan mereka tidak dipenuhi Kurawa hingga terjadi perang 18 hari yang menyebabkan lenyapnya kaum Kurawa. Dengan demikian, kaum Pandawa dengan leluasa mengambil alih kekuasaan di Barata. - See more at: http://www.dee-nesia.com/2012/07/cerita-mahabarata.html#sthash.b9Rkfr8U.dpuf

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Khrisna adalah anak ke delapan dari pasangan dari Prabu Basudewa (Vasudev) dan Puteri Dewaki. Sering juga dikisahkan beliau adalah anak ketiga dari pasangan tersebut. Tersebutlah Prabu Basudewa dan Dewaki harus menghabiskan masa di tahanan, karena diramalkan putera-nya akan membunuh pamannya sendiri, Prabu Kangsa (Raja Kamsa). Untuk menghindari ramalan tersebut, Prabu Kangsa pun mengurung Basudewa dan Dewaki dan membunuh setiap anak yang terlahir dari pasangan tersebut. Seketika sampai pada putera ke tujuhnya, putera ketujuh tersebut menghilang dan tidak sempat dibunuh. Begitu pula pada putera ke delapannya, Prabu Basudewa memilih untuk mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi. Kisah lain ada yang menyebutkan bahwa saat masih bayi, Khrisna keluar sendiri dari penjara bersama dua saudaranya. Kisah lain pun ada yang menyebut, bahwa 3 putera terakhir Prabu Basudewa dikirim secara ajaib ke rahim Yasoda di Vrindavana. Putera-putera Prabu Basudewa tersebut selanjutnya kita kenal dengan Balaram, Khrisna, dan Subadhra (Prabu Baladewa, Sri Kresna, dan Dewi Subadra).

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

KAWAH CANDRADIMUKA, adalah kawah yang terdapat di alam kahyangan. Di Kawah Candradimuka itulah jabang bayi Tutuka, anak Bima, pernah digembleng oleh Batara Empu Anggajali, sehingga bayi itu tampil sebagai ksatria perkasa yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gatotkaca. Kesaktian yang dimiliki Gatotkaca berkat gemblengan di Kawah Candradimuka menyebabkan anak Bima itu sanggup mengalahkan musuh para dewa. Selain Gatotkaca, salah seorang anak Arjuna yang bernama Bambang Wisanggeni, sewaktu masih bayi juga pernah dimasukkan ke Kawah Candradimuka, oleh Dewasrani dengan maksud untuk membunuhnya. Namun, Wisanggeni bukan mati melainkan justru menjadi ksatria mahasakti. Menurut pedalangan gagrak Jawatimuran, Sitija, yakni Boma Narakasura semasa kanak-kanak juga pernah dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka, tetapi ternyata ia tetap hidup dan makin sakti. Putra Sang Hyang Antaboga, yaitu Bambang Nagatatmala juga pernah dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka. Ia memang dihukum mati oleh Batara Guru, karena kepergok berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Berbeda dengan Gatotkaca, Wisanggeni, dan Sitija, akibat panasnya kawah itu, Nagatatmala mati. Namun, akhirnya Nagatatmala dapat dihidupkan kembali oleh Dewi Supreti, ibunya. Lava yang keluar dari kawah Candradimuka disebut Endut Blegedaba, yang menurut Ki Dalang, panasnya setara dengan tujuh kali panas api.asa jepang

Indonesian translation into Jepang basa pasti bisa haha

Last Update: 2014-10-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dewi Sinta lahir dari rahim Dewi Tari isteri Dasamuka raja raksasa di negara Alengka. Kelahirannya sudah diramalkan oleh para ahli nujum negara Alengka, bahwa anak di dalam kandungan Dewi Tari tersebut adalah titisan Dewi Widowati yang diincar oleh Dasamuka untuk dijadikan isteri. Karena dipercaya bahwa barangsiapa memperistri Dewi Widowati atau titisannya akan mendapat kemuliaan lahir dan batin. Maka jika ramalan para nujum itu benar, maka dikhawatirkan bahwa anak dewi Tari akan diperistri ole ayahnya sendiri.

kemem

Last Update: 2014-10-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya. Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata. Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa. Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa. [sunting] Prabu Santanu dan keturunannya Prabu Santanu dan Dewi Satyawati, leluhur para Pandawa dan Korawa Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika). Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim,namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa - Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata. Pandawa dan Korawa Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa. Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca. Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa. Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan. Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun. Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Pertempuran di Kurukshetra Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi. Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma. Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

.tresno ku ginow

Last Update: 2014-10-20
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:
Reference: Anonymous

Kedua kesatria ini adalah saudara kembar, putera Pandu dari permaisuri Dewi Madrim, saudara Prabu Salya, raja Madraka. Nakula dan Sadewa waktu kanak-kanak bernama Pinten dan Tangsen. Mereka inilah dua saudara Pandawa yang terakhir. Kesetiaan keduanya kepada ketiga saudaranya yang lain tiada pernah berubah. Kelimanya berpendirian yang sama, merupakan suatu kesatuan. Waktu perang Baratayudha hampir berkobar, Pandawa merasa takut bermusuhan dengan Prabu Salya yang sakti dan sabar itu. Tetapi oleh kebijaksanaan Sri Kresna, Nakula dan Sadewa diutus menghadap Prabu Salya untuk meredakan nafsu marahnya. Karena itu, Salya tak sampai hati bermusuhan dengan Pandawa, sebab mengingat Nakula. dan Sadewa anak kemenakannya. Maka sewaktu perang Baratayudha pecah, Prabu Salya berperang tanpa semangat.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra. Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Kurawa. Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan 7 anak, akan tetapi semua ditenggelamkan ke laut Gangga oleh Dewi Gangga dengan alasan semua sudah terkena kutukan. Akan tetapi kemudian anak ke 8 bisa diselamatkan oleh Prabu Santanu yang diberi nama Dewabrata. Kemudian Dewi Ganggapun pergi meninggalkan Prabu Santanu. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi dipanggil untuk mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Drestarastra. Kemudian Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam sebuah kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putra yang buta (Drestarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (putranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Drestarastra dan Pandu mempunyai saudara tiri yang bernama Widura. Widura merupakan anak dari Resi Byasa dengan seorang dayang Satyawati yang bernama Datri. Pada saat upacara dilangsungkan dia lari keluar kamar dan akhirnya terjatuh sehingga Widura pun lahir dengan kondisi pincang kakinya. Dikarenakan Drestarastra terlahir buta maka tahta Hastinapura diberikan kepada Pandu. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan kutukan bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Atas bantuan mantra Adityahredaya yang pernah diberikan oleh Resi Byasa maka Dewi Kunti bisa memanggil para dewa untuk kemudian mendapatkan putra. Pertama kali mencoba mantra tersebut datanglah Batara Surya, tak lama kemudian Kunti mengandung dan melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Karna. Tetapi Karna kemudian dilarung kelaut dan dirawat oleh Kurawa, sehingga nanti pada saat perang Bharatayudha, Karna memihak kepada Kurawa. Kemudian atas permintaan Pandu, Kunti mencoba mantra itu lagi, Batara Guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira, setahun kemudian Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, Batara Guru juga mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Arjuna dan yang terakhir Batara Aswan dan Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Dewi Gandari, dan memiliki sembilan puluh sembilan orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Kurawa.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan. Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu. Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya. Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

QUERY LENGTH LIMIT EXCEDEED. MAX ALLOWED QUERY : 500 CHARS

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dewi : “Selamat Malam pa ?” Pak Is : “Ya..Malam”.

Dewi: "Good evening pa" Apa Pak: "Ya..Malam".

Last Update: 2014-09-20
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation