MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: dewi    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Laksmana adalah salah satu tokoh protagonist dalam wiracarita Ramayana. Ia merupakan putera ketiga Prabu Dasarata dan merupakan adik tiri Sri Rama, pangeran kerajaan Kosala.Laksmana merupakan adik yang paling dekat dengan Rama bila dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain. Menurut kitab Purana, Laksmana merupakan penitisan Sesa. Sesha adalah ular yang mengabdi kepada Wisnu dan menjadi ranjang ketika Wisnu beristirahat di lautan susu. Sesha selalu menitis kepada setiap awatara Wisnu dan menjadi pendamping setianya. Dalam hal ini, Sesha menitis kepada Laksmana, yang kemudian menjadi pendamping awatara Wisnu, yaitu Rama. Laksmana merupakan putera ketiga Prabu Dasarata, raja Kerajaan Kosala. Kakak pertamanya adalah Rama, kakak keduanya bernama Bharata, dan kembarannya sekaligus adiknya bernama Satrugna. Laksmana menikah dengan adik Dewi Sita yang bernama Urmila Keempat putera Dasarata memang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat meskipun mereka berbeda ibu. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Namun Satrugna lebih dekat dengan Bharata, sedangkan Laksmana lebih dekat dengan Rama. Saat Resi Wiswamitra meminta bantuan Rama untuk mengusir para Raksasa di hutan Dandaka, Laksmana juga turut serta. Mereka berdua berhasil membunuh banyak raksasa dan melindungi para resi. Laksmana selalu ikut kemanapun Rama pergi, ia selalu berbakti kepada kakaknya tersebut. Saat Kekayi ibu Bharata ,menagih janjinya kepada Dasarata yang meminta agar Bharata dijadikan pewaris takhta, dan membuang Rama selama 14 tahun. Laksmana juga mengikuti Rama bersama Sita, istri Rama. Ketika Bharata datang menyusul Rama ke dalam hutan ,Laksmana mencurigai kedatangan kakak keduanya itu dan bersiap-siap untuk menyerang. Namun Rama yang sudah mengetahui maksud kedatangan Bharata mencegah dan meminta Laksmana untuk menahan hawa nafsunya. Rama kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya kedatangan Bharata adalah untuk meminta dirinya kembali ke Ayodhya. Selama masa pembuangan, Laksmana membuat pondok untuk Rama dan Sita. Saat seorang rekshasi bernama Surpanaka mengganggu mereka dan hendak melukai Sita, Laksmana segera bertindak dan pedangnya melukai hidung Surpanaka.Dengan penuh rasa malu, Surpanaka lari dan mengadu kepada kakak-kakaknya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-25
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Biarkan saya tetap masuk Lupa kata sandi Anda? Mendaftar SEJARAH HIDUP PRESIDEN SOEKARNO 16 Agustus 2013 pukul 16:48 Ir Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan juga sebagai Pahlawan Proklamasi, Soekarnoyang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta. Saat ia lahir dinamakan Koesno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika. Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi IT. Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Saat dipenjara, Soekarno mengandalkan hidupnya dari sang istri. Seluruh kebutuhan hidup dipasok oleh Inggit yang dibantu oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Wardoyo. Saat dipindahkan ke penjara Sukamiskin, pengawasan terhadap Soekarno semakin keras dan ketat. Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bahkan untuk mengisolasi Soekarno agar tidak mendapat informasi dari luar, dia digabungkan dengan para tahanan 'elite'. Kelompok tahanan ini sebagian besar terdiri dari orang Belanda yang terlibat korupsi, penyelewengan, atau penggelapan. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. Paling banter yang dibicarakan adalah soal makanan, cuaca, dan hal-hal yang tidak penting. Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya, ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar. Hal itu terjadi saat pihak penjara membolehkan Soekarno menerima kiriman makanan dan telur dari luar. Telur yang merupakan barang dagangan Inggit itu selalu diperiksa ketat oleh sipir sebelum diterima Bung Karno. Seperti yang dituturkan Ibu Wardoyo yang dikutip dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antarkota tahun 1978, telur menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara. Caranya, bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun dia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail. Seiring berjalannya waktu, Soekarno dan Inggit kemudian menemukan cara yang lebih canggih untuk mengelabui Belanda. Medianya masih sama, telur. Namun, telur tersebut telah ditusuk-tusuk dengan jarum halus dan pesan lebih detail mengenai kabar buruk itu dapat dipahami Bung Karno. Satu tusukan di telur berarti semua kabar baik, dua tusukan artinya seorang teman ditangkap, dan tiga tusukan berarti ada penyergapan besar-besaran terhadap para aktivis pergerakan kemerdekaan. Selama menjalani masa hukuman dari Desember 1929 hingga dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931, Soekarno tidak pernah dijenguk oleh kedua orangtuanya yang berada Blitar. Menurut Ibu Wardoyo, orang tua mereka Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tidak sanggup melihat anak yang mereka banggakan itu berada di tempat hina yakni penjara dan dalam posisi yang tidak berdaya. Apalagi, saat di Sukamiskin, menurut Ibu Wardoyo, kondisi Soekarno demikian kurus dan hitam. Namun Bung Karno beralasan, dia sengaja membuat kulitnya menjadi hitam dengan bekerja dan bergerak di bawah terik matahari untuk memanaskan tulang-tulangnya. Sebab di dalam sel tidak ada sinar matahari, lembab, gelap, dan dingin. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”. Presiden Soekarno dan Ibu fatmawati Presiden Soekarno semasa hidupnya dikenal memiliki pesona, sehingga dengan mudah menaklukkan wanita-wanita cantik yang diinginkannya. Sejarah mencatat Bung Karno sembilan kali menikah. Namun banyak yang tidak tahu wanita seperti apa yang dicintai Sang Putra Fajar itu. Untuk urusan kriteria ternyata Bung Karno bukanlah sosok pria neko-neko. Perhatian Bung Karno akan mudah tersedot jika melihat wanita sederhana yang berpakaian sopan. Lalu, bagaimana Bung Karno memandang wanita berpenampilan seksi? Pernah di satu kesempatan ketika sedang jalan berdua dengan Fatmawati, Bung Karno bercerita mengenai penilaiannya terhadap wanita. Kala itu Bung Karno benar-benar sedang jatuh hati pada Fatmawati. "Pada suatu sore ketika kami sedang berjalan-jalan berdua, Fatmawati bertanya padaku tentang jenis perempuan yang kusukai," ujar Soekaro dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antar Kota. Sesaat Bung Karno memandang sosok Fatmawati yang saat itu berpakaian sederhana dan sopan. Perasaan Bung Karno benar-benar bergejolak, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Aku memandang kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan. Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan," kata Soekarno. "Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring," tambahnya. Mungkin saat itu Fatmawati begitu terpesona mendengar jawaban Soekarno yang lugas. Sampai pada akhirnya jodoh mempertemukan keduanya. Soekarno menikah dengan Fatmawati pada tahun 1943, dan dikarunia 5 anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. "Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak," katanya. Menurut pengakuan Ibu Fatmawati, dia dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia. "Kami tidak pernah merayakan kawin perak atau kawin emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat," begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda, terbitan Pustaka Antar Kota, 1978. Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa. Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari. Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia. "Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat," ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. Soekarno tidak hanya mencintai budaya Jawa. Dia juga mengagumi tari-tarian dari seantero negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh penduduk Papua. Karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, Istana Negara penuh dengan aneka lukisan, patung dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut. Dia menghargai setiap seniman, budayawan hingga penabuh gamelan. Soekarno akan meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang soal seni dan budaya setiap pagi, di samping bicara politik. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Saat-saat diasingkan di Istana Bogor selepas G-30S/PKI, Soekarno membunuh waktunya dengan mengiventarisir musik-musik keroncong yang dulu populer tahun 1930an dan kemudian menghilang. Atas kerja kerasnya dan beberapa seniman keroncong, Soekarno berhasil menyelamatkan beberapa karya keroncong. Setlah itu Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi". Detik Detik Kematian Sang Presiden Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer. Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus. Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini. “Pak, Pak, ini Ega…” Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi. Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya. Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini..?” Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini. Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani. “No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya. Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya. Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya. Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal. Isu di bunuh secara perlahan Banyak Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderit

google translation Javanese Indonesian

Last Update: 2014-11-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Korawa mengangkat Adipati karna sebagai senopati perang setelah Burisrawa gugur. Hari itu sudah gelap, dan menurut aturan perang, perang dihentikan sementara. Namun tidak tahu mengapa Korawa melanggar aturan itu dan mengirim senopati perangnya malam itu. Adipati Karna menerabas dan menghancurkan pasukan Pandawa di garda depan. Para penjaga perkemahan tidak mampu menandingi krida sanga Adipati. Berita itu cepat terdengar hingga perkemahan Pandawa Mandalayuda. Sri Kresna kemudian memanggil Raden Haryo Gatotkaca, raja Pringgodani, putera Raden Bratasena dan Dewi Arimbi. Di sampan Sri kresna, Raden Bratasena (Bimasena) berdiri layaknya gunung memperhatikan dengan seksama apa yang dibicarakan antara Sri kresna dan puteranya. Kresna : ”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini” Gatotkaca : ”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang Baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….” Setelah mendapat perintah dari Sri Kresna, Gatotkaca dalam sekejap tidak terlihat. Sebenarnya, Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan Pandawa. Namundi atidak mau merusak hati adik-adiknya Pandawa. Namun ia harus mempersiapkan hati Werkudara untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti. Kresna : “Wrekudoro…“ Werkudara : “Injih, kakang Kresna“ (Injih = iya) Kresna : “Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri dan anaknya ??“ Werkudara : “Wah…Kakang seperti anak kecil. Orang berperang itu kalau nggak hidup ya mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“ Kresna : “Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-mudahan yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“ (Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Werkudara). Malam semakin larut, namun di angkasa ladang Kurukhsetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nayal obor ribuan prajurit kedua belah pihak yang saling hantam gada, sabet pedang, lempar tombak dan kelebat kelewang dan juga hujan anak panah. Gatotkaca mengerahkan semua kemampuannya, dikenakannya Kutang Antakusuma, terompah Basunanda dan dikeluarkannya seluruh tenaga yang dimilikinya. Ia tebang mengangkasa dan sesekali menukik turun menyambar mangsanya. Sekali sambar, puluhan prajurit Hastina tergelepar tanpa daya dengan terpisahnya kepala-kepala mereka dari gembungnya. Sejak ia lahir, Gatotkaca memang sudah menunjukkan tanda-tand kedigdayaannya. Ari-arinya tidak bisa diputus dengan senjata apapun. Kuku Pancanaka Bimasena mental, keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, dan semua senjata di Amarta sudah dicoba namun tidak ada yang mamou memutuskan tali pusarnya. Para sesepuh Amarta termasuk Sri Kresna sudah kehabisan akal bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi. Raden Arjuna, sang paman kemudian menyingkir sejenak , dan atas saran Sri Kresna, ia menepi untuk meminta petunjuk kepada Yang Maha Esa untuk mengatasi masalah itu. Di kahyangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para Dewa. Bathara Guru kemudian mengutus Bathara Narada untuk memberikan senjata berupa keris Kunta Wijayandanu untuk memotong ari-ari bayi Dewi Arimbi itu. Bathara Narada turun dengan membawa senjata Kunta untuk diserahkan kepada Arjuna yang saat itu ditemani oleh para punokawan, abdi tersayang. Namun, di tempat lain Adipati Karna juga sedang mengadu kepada ayahnya, Bethara Surya, memohon welas asih agar diberi sebjayta andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya kemudian menyarankan anaknya untuk merampas senjata Kunta dari Bethara Narada. Karna dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakannya sangat mirip, hanya suaranya saja yang membedakannya. Maka ketika Adipati Karna dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bethara Narada tidak bisa lagi membedakan mana Arjuna dan Adipati Karna. Demi membantu sang putera, Dewa Surya juga mengubah siang yang terik dan terng benderang, tiba-tiba meredup seolah menjelang malam, dan dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Bethara narada yang sudah tua dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu semakin rabun karena gerhana ini. Adipati karna kemudian mencegat Bethara Narada dan tanpa rasa curiga, ia memberikan senjata Kunta kepada Arjuna palsu. Karena tugasnya sudah selesai, maka ia berniat untuk kembali ke kahyangan, namun ditemuinya Arjuna lagi yang diiringi para Punokawan. Sadar bahwa dirinya tertipu, ia lalu memerintahkan Arjuna untuk merebut senjata Kunta dari angan Adipati Karna. Perang tanding antara Arjuna dan Karna pun tidak bisa dihindarkan. Namun, Raden Arjuna hanya berhasil merebut warangka senjata Kunta dari Adipati Karna. Ia kemudian kembali ke Amarta, dan ari-ari jabang bayi Arimbi yang kelak bernama Gatotkaca itu bisa diputus dengan warangka itu. Keanehan pun terjadi ketika sesaat setelah ari-ari jabang bayi diputus, seketika wearangka itu hilang dan menyatu ke dalam perut si jabang bayi. Sekarang saat perang besar Baratayuda terjadi, sudah takdirnya Senjata Kunta mencari warangkanya di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, yang konon berotot kawat, tulang besi dan kesaktiannya kuga ditempa di kawah Candradimuka, namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai disini. Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendana, paman Gatotkaca yang sangat menyayangi Gatotkaca sudah menunggu untuk sowan ke pengayunan yang Maka Pemberi Hidup. Bahkan, karena begitu sayangnya, Kalabendana tidak akan kembali ke asal kehidupannya jika tidak bersama keponakannya itu. Di ladang Pertempuran, Karna sudah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wjayandanu. Dalam hatinya berbisik, “ Anakku cah bagus, belum pupus bekas ari-arimu, berani-beraninya kamu menghdapi awakmu ini. Bukan kamu yang aku tunggu ngger..Arjuna mana? Ya..ya..sma-sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta wijayandanu ini”. Sementara Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam tahu semua gerak-gerik Sang Adipat Karna. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada dalam tubuhnya yang selama ini menyokong kekuatannya. Dicobanya untuk mengulur takdir, ia lalu terbang diantara awan-awan gelap yang menggantung tinggi di langit, mencoba menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan. Namun takdir memang tidak bisa dipercepat atau ditunda. Kunta Wijayandanu terlepas dari busur adipati Karna, yang ketepatan dalam mengolah dan mengarahkan panah hamper mendekati sempurana dan hanya Arjuna yang mampu menandinginya. Secepat kilat, Kunta Wiajayndanu melesat ke angkasa. Di angkasa, Kalabendana sudah siaga menunggu tunggangan, dan dengan sigap ia menumpang ke senjata Kunta. Senjata Kunta dan Kalabendana, menghujam ke dada gatotkaca membelah jantung putera kinasih Bratasena itu. Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap,” Aku mau mati kalau dengan musuh ku…”. Tubuh Gatotkaca jatuh mengarah ke kereta Basukarna. Namun Basukarna bukanlah ksatria biasa, ia secepat kilat melompat dari keretanya. Jasad Gatotkaca menimpa kereta, keretanya hancur lebur, pun dengan delapan kuda dan kusirnya tewas dengan jasad yang tak terbentuk. Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira bagi kubu Korawa. Para prajurit bersorak-sorai mengeluk-elukan sang Senopati. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereke meningkat dan keyakinan diri bertambah akan memenangi perang akbar ini. Sebaliknya, kesedihan mendalam meliputi pihak Pandawa. Werkudara hamper tidak bisa menguasai dirinya, melihat kematian Gatotkaca. Werkudara : ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki sejati…!”. Sementara sang ibu, Arimbi juga tidak kuat menahan emosi. Arimbi menceburkan dirinya ke perapian membara yang telah disiapkannya. Sudah menjadi tekatnya, jika nanti anak kesayangannya mati sebelum kepergiannya kea lam kelanggengan, dia akan nglayu membakar diri. Dengan demikian, Pandawa kehilangan dua keluarga sekaligus. Werkudara kehilangan anak tersayang dan istri tercintanya. Namun keturunan tidaklah terputus, baik Antareja maupun Gatotkaca telah mempunyai anak laki-laki sebagai penerus Werkudara. Fajar menjelang, jenazah Gatotkaca dan abu Arimbi selesai diupakarti sesuai dengan ageman dan keyakinan mereka. Sri Kresna sudah bisa menenangkan Werkudara dan para Pandawa yang lain. Namun tugas harus dilanjutkan, saatny amengatur strategi dan menuntaskan perang.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cerita Mahabarata secara singkat (sinopsis) Secara garis besar, cerita Mahabarata bercerita mengenai kehidupan Prabu Santanu atau Sentanu (Çantanu). Dia adalah seorang raja keturunan keluarga Kuru yang menjadi raja kerajaan Barata. Dia mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga, dan berputra Bisma. Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka dikaruniai seorang putra bernama Bisma. Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu. Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah. Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Destarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Destarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Surya lahirlah Arjuna. Sedangkan Madrim yang menikah dengan dewa kembar Aҫwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. Pusing ya…, sama… hehe… Selanjutnya, keturunan-keturuan itu dibagi dua yakni keturunan Destarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa. Sebenarnya Destarasta berhak mewarisi takhta ayahnya, tapi karena ia buta sejak lahir, maka takhta itu kemudian diberikan kepada Pandu. Hal ini pada kemudian hari menjadi sumber bencana antara kaum Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta sampai berlarut-larut, hingga akhirnya pecah perang dahsyat yang disebut Baratayuda yang berarti peperangan memperebutkan kerajaan Barata. Peperangan diawali dengan aksi judi dimana kaum Pandawa kalah. Kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengembara di hutan belantara selama dua belas tahun. Setelah itu, pada tahun ke-13 sesuai perjanjian dengan Kurawa, para Pandawa harus menyembunyikan diri di tempat tertentu. Namun para Pandawa memutuskan untuk bersembunyi di istana raja Matsyapati. Pada tahun berikutnya, para Pandawa keluar dari persembunyian dan memperlihatkan diri di muka umum lalu menuntut hak mereka kepada Kurawa. Namun tuntutan mereka tidak dipenuhi Kurawa hingga terjadi perang 18 hari yang menyebabkan lenyapnya kaum Kurawa. Dengan demikian, kaum Pandawa dengan leluasa mengambil alih kekuasaan di Barata. - See more at: http://www.dee-nesia.com/2012/07/cerita-mahabarata.html#sthash.b9Rkfr8U.dpuf

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Khrisna adalah anak ke delapan dari pasangan dari Prabu Basudewa (Vasudev) dan Puteri Dewaki. Sering juga dikisahkan beliau adalah anak ketiga dari pasangan tersebut. Tersebutlah Prabu Basudewa dan Dewaki harus menghabiskan masa di tahanan, karena diramalkan putera-nya akan membunuh pamannya sendiri, Prabu Kangsa (Raja Kamsa). Untuk menghindari ramalan tersebut, Prabu Kangsa pun mengurung Basudewa dan Dewaki dan membunuh setiap anak yang terlahir dari pasangan tersebut. Seketika sampai pada putera ke tujuhnya, putera ketujuh tersebut menghilang dan tidak sempat dibunuh. Begitu pula pada putera ke delapannya, Prabu Basudewa memilih untuk mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi. Kisah lain ada yang menyebutkan bahwa saat masih bayi, Khrisna keluar sendiri dari penjara bersama dua saudaranya. Kisah lain pun ada yang menyebut, bahwa 3 putera terakhir Prabu Basudewa dikirim secara ajaib ke rahim Yasoda di Vrindavana. Putera-putera Prabu Basudewa tersebut selanjutnya kita kenal dengan Balaram, Khrisna, dan Subadhra (Prabu Baladewa, Sri Kresna, dan Dewi Subadra).

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

KAWAH CANDRADIMUKA, adalah kawah yang terdapat di alam kahyangan. Di Kawah Candradimuka itulah jabang bayi Tutuka, anak Bima, pernah digembleng oleh Batara Empu Anggajali, sehingga bayi itu tampil sebagai ksatria perkasa yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gatotkaca. Kesaktian yang dimiliki Gatotkaca berkat gemblengan di Kawah Candradimuka menyebabkan anak Bima itu sanggup mengalahkan musuh para dewa. Selain Gatotkaca, salah seorang anak Arjuna yang bernama Bambang Wisanggeni, sewaktu masih bayi juga pernah dimasukkan ke Kawah Candradimuka, oleh Dewasrani dengan maksud untuk membunuhnya. Namun, Wisanggeni bukan mati melainkan justru menjadi ksatria mahasakti. Menurut pedalangan gagrak Jawatimuran, Sitija, yakni Boma Narakasura semasa kanak-kanak juga pernah dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka, tetapi ternyata ia tetap hidup dan makin sakti. Putra Sang Hyang Antaboga, yaitu Bambang Nagatatmala juga pernah dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka. Ia memang dihukum mati oleh Batara Guru, karena kepergok berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Berbeda dengan Gatotkaca, Wisanggeni, dan Sitija, akibat panasnya kawah itu, Nagatatmala mati. Namun, akhirnya Nagatatmala dapat dihidupkan kembali oleh Dewi Supreti, ibunya. Lava yang keluar dari kawah Candradimuka disebut Endut Blegedaba, yang menurut Ki Dalang, panasnya setara dengan tujuh kali panas api.asa jepang

Indonesian translation into Jepang basa pasti bisa haha

Last Update: 2014-10-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dewi Sinta lahir dari rahim Dewi Tari isteri Dasamuka raja raksasa di negara Alengka. Kelahirannya sudah diramalkan oleh para ahli nujum negara Alengka, bahwa anak di dalam kandungan Dewi Tari tersebut adalah titisan Dewi Widowati yang diincar oleh Dasamuka untuk dijadikan isteri. Karena dipercaya bahwa barangsiapa memperistri Dewi Widowati atau titisannya akan mendapat kemuliaan lahir dan batin. Maka jika ramalan para nujum itu benar, maka dikhawatirkan bahwa anak dewi Tari akan diperistri ole ayahnya sendiri.

kemem

Last Update: 2014-10-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya. Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata. Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa. Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa. [sunting] Prabu Santanu dan keturunannya Prabu Santanu dan Dewi Satyawati, leluhur para Pandawa dan Korawa Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika). Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim,namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa - Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata. Pandawa dan Korawa Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa. Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca. Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa. Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan. Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun. Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Pertempuran di Kurukshetra Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi. Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma. Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

.tresno ku ginow

Last Update: 2014-10-20
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:
Reference: Anonymous

Kedua kesatria ini adalah saudara kembar, putera Pandu dari permaisuri Dewi Madrim, saudara Prabu Salya, raja Madraka. Nakula dan Sadewa waktu kanak-kanak bernama Pinten dan Tangsen. Mereka inilah dua saudara Pandawa yang terakhir. Kesetiaan keduanya kepada ketiga saudaranya yang lain tiada pernah berubah. Kelimanya berpendirian yang sama, merupakan suatu kesatuan. Waktu perang Baratayudha hampir berkobar, Pandawa merasa takut bermusuhan dengan Prabu Salya yang sakti dan sabar itu. Tetapi oleh kebijaksanaan Sri Kresna, Nakula dan Sadewa diutus menghadap Prabu Salya untuk meredakan nafsu marahnya. Karena itu, Salya tak sampai hati bermusuhan dengan Pandawa, sebab mengingat Nakula. dan Sadewa anak kemenakannya. Maka sewaktu perang Baratayudha pecah, Prabu Salya berperang tanpa semangat.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra. Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Kurawa. Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan 7 anak, akan tetapi semua ditenggelamkan ke laut Gangga oleh Dewi Gangga dengan alasan semua sudah terkena kutukan. Akan tetapi kemudian anak ke 8 bisa diselamatkan oleh Prabu Santanu yang diberi nama Dewabrata. Kemudian Dewi Ganggapun pergi meninggalkan Prabu Santanu. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi dipanggil untuk mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Drestarastra. Kemudian Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam sebuah kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putra yang buta (Drestarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (putranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Drestarastra dan Pandu mempunyai saudara tiri yang bernama Widura. Widura merupakan anak dari Resi Byasa dengan seorang dayang Satyawati yang bernama Datri. Pada saat upacara dilangsungkan dia lari keluar kamar dan akhirnya terjatuh sehingga Widura pun lahir dengan kondisi pincang kakinya. Dikarenakan Drestarastra terlahir buta maka tahta Hastinapura diberikan kepada Pandu. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan kutukan bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Atas bantuan mantra Adityahredaya yang pernah diberikan oleh Resi Byasa maka Dewi Kunti bisa memanggil para dewa untuk kemudian mendapatkan putra. Pertama kali mencoba mantra tersebut datanglah Batara Surya, tak lama kemudian Kunti mengandung dan melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Karna. Tetapi Karna kemudian dilarung kelaut dan dirawat oleh Kurawa, sehingga nanti pada saat perang Bharatayudha, Karna memihak kepada Kurawa. Kemudian atas permintaan Pandu, Kunti mencoba mantra itu lagi, Batara Guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira, setahun kemudian Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, Batara Guru juga mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Arjuna dan yang terakhir Batara Aswan dan Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Dewi Gandari, dan memiliki sembilan puluh sembilan orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Kurawa.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-02
Subject: General
Usage Frequency: 6
Quality:
Reference: Anonymous

Ia dilahirkan dalam kekurangsempurnaan. Dari rahim seorang istri Wicitrawirya, Dewi Ambika, Destarata dilahirkan. Namun sejatinya ia bukan anak biologis Wicitrawirya yang wafat karena sakit paru dan tanpa berketurunan, ia adalah anak pujan dari Begawan Abiyasa. Setelah Wicitrawirya mangkat, Setyawati, ibunda Wicitrawirya, mengutus Dewi Ambika dan Ambalika – yang kedua-duanya adalah istri Wicitrawirya – untuk menemui Begawan Abiyasa di Gunung Sapta Arga dengan maksud memohon keberkahan akan keturunan. Di dalam kamar semedi Begawan Abiyasa, dengan wajah yang teramat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala, Begawan Abiyasa menyelenggarakan upacara pujan untuk memohon keturunan bagi Ambika dan Ambalika. Ambika menutup matanya atas hal tersebut, sehingga lahirlah dari rahim dirinya seorang anak yang buta yang kelak dinamakan Destarata. Sementara Ambalika berupaya untuk tidak menutup matanya atas apa yang ada dihadapannya. Dengan segala dayanya yang walaupun harus dilaluinya dengan kepucatan, Ambalika akhirnya memperoleh keturunan yang di kemudian hari anaknya tersebut dinamakan Pandu, yang berarti kulit yang pucat. Destarata dan Pandu tumbuh dan besar di istana Hastinapura. Sampai ketika mereka telah dewasa, saatnyalah bagi mereka untuk naik ke tampuk singgasana kerajaan yang telah lama vakum. Semestinyalah Destarata yang menggantikan ayahnya untuk memerintah Hastinapura. Namun karena keterbatasan yang ia miliki maka Pandu, adiknya, yang dikukuhkan sebagai raja Hastinapura selanjutnya. Pandu tidak memerintah terlalu lama atas Hastinapura. Pandu gugur dalam perang tanding antara dirinya dengan muridnya sendiri, Tremboko, raja raksasa dari Pringgondani. Keris Kalanadah telah merobek paha Pandu yang berujung pada ajalnya, sementara anak panah yang dilesatkan Pandu memenggal leher Tremboko. Perang tanding yang semestinya tidak terjadi andai saja Tremboko tidak termakan hasutan Sengkuni. Sebelum ajal menjemputnya, pesan terakhir yang sempat disampaikan Pandu bahwa singgasana Hastinapura yang ia tinggalkan untuk dititipkan kepada Destarata sampai anak-anak Pandu tumbuh dewasa dan dapat melanjutkan dinastinya. Suatu pesan terakhir, wasiat adalah suatu pendulum yang tidak dapat ditarik kembali ujungnya. Disampaikan dengan keikhlasan dan penuh harap akan apa-apa yang dikehendakinya. Pesan terakhir, wasiat merupakan suatu kepercayaan bahwa bagi pemangkunya hal tersebut adalah suatu keniscayaan. Keniscayaan untuk dan atas nama seorang patron dan keniscayaan akan keberlangsungan harapannya. Harapan sebagai mana anak panah yang melesat secara pasti pada titik ujungnya sekaligus yang tak mungkin untuk kembali lagi ke gendewanya. Destarata, sang pemangku wasiat tersebut mengemban tidak sepenuh hati apa yang telah dipesankan adiknya. Dalam keterbatasan, Destarata menyadari sepenuhnya bahwa Hastinapura sebagai suatu kerajaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri wangsa Kuru harus tetap dijaga keberlangsungannya. Ia bersinggsana di Hastinapura dengan didampingi para pinesepuh wangsa Kuru, yakni Bisma, Widura, Durna dan Krepa. Namun di sisi lain, bukan demikian halnya akan keberlanjutan singgasana yang telah ia duduki tersebut. Para Pandawa, kelima anak Pandu, telah beranjak dewasa dalam bimbingan Kunti, ibundanya dan para eyangnya. Di istana Hastinapura mereka dibesarkan. Begitupun dengan Kurawa, seratus anak Destarata dari istrinya, Gendari, telah berangkat dewasa dalam pengasuhan yang sama di istana megah pinggir telaga tersebut. Kurawa dan Pandawa, bukan sebagai saudara – walaupun hanya sepupu – mereka tumbuh remaja dan dewasa secara bersama-sama dan dalam pengasuhan yang sama di tempat yang sama pula. Kurawa secara laten menanamkan semangat kebencian dan iri dengki mereka atas Pandawa dalam diri mereka. Singgasana Hastinapura yang sekarang diduduki ayah mereka sebagai pemantiknya. Tampaknya Destarata mulai lupa akan pesan terakhir Pandu kepadanya sebelum Pandu menghembuskan nafas. Destarata yang telah uzur, Gendari dengan sinar matanya yang silau, menjadikan para Kurawa leluasa berdiri tegak dengan kepongahannya atas Pandawa. Destarata semakin tak berdaya ketika Kurawa mengadakan permainan dadu dengan mengundang Pandawa di Bale Sigala-gala. Permainan dadu yang telah menihilkan hak-hak Pandawa sekaligus yang telah meruntuhkan kehormatan Pandawa. Tidak terkecuali Drupadi. Permainan dadu pula yang menjadikan Pandawa harus mengasingkan diri selama tiga belas tahun di hutan Kamiaka. Di taman istana Hastinapura, di tepian kolam dengan air keperakan tersapu cahaya bulan, sebatang ranting cemara jatuh, terapung, beriak air berjalan lambat ke tepi. Destarata duduk terpaku ditemani Gendari yang telah menutup kedua matanya dengan kain hitam. Destarata membayangkan perang yang akan terjadi antara anak-anaknya dengan para Pandawa di Kurusetra esok hari. Perang yang akan menghapus satu garis keturunan dari wangsa Kuru. Perang yang seharusnya tidak terjadi jika saja ia dapat membesarkan anak-anaknya secara baik. Perang yang juga seharusnya tidak terjadi jika saja sinar mata yang silau dari Gendari tidak menggodanya. Kalaupun sekarang Gendari telah menutup kedua matanya, semuanya telah terlambat. Orang tua yang akan memberikan segala warna bagi anak-anaknya. Anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Ketika anak telah berjalan di luar dari hak-hak yang ia punya dan seorang istri yang telah bertindak melebihi batas-batasnya, Destarata tidak berdaya atas semuanya. Destarata, ternyata tidak hanya buta matanya, namun juga buta hatinya. Hingga akhirnya wasiat itu ia langgarnya dengan segala akibat yang harus ia tanggung.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Dewi : “Selamat Malam pa ?” Pak Is : “Ya..Malam”.

Dewi: "Good evening pa" Apa Pak: "Ya..Malam".

Last Update: 2014-09-20
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Soekarno atau biasa di panggil Bung Karno, lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur dan meninggal Dunia di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, Beliau mempunyai 3 orang istri (walaupun sebenarnya istrinya lebih dari itu) dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Ibu Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.

google agensi Indonesia - kamardikan

Last Update: 2014-09-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Last Update: 2014-09-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

google Tembung tegese Artine ngeklik Indonesia lan

Last Update: 2014-09-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong.

google agensi palembang

Last Update: 2014-08-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Pada suatu hari Sunan muria berniat mnghadiri sebuah pertemuan Wali Sanga di daerah Pati untuk membicarakan syiar islam. Perjalanannya diikuti oleh sejumlah santri terpilih yang senantiasa setia berguruk kepada Sunan Muria. Pada waktu itu perjalanan mereka belum selancar sekarang karena masih menempuh hutan belukar, sawah dan rawa. Perjalanan itu berlangsung siang dan malam agar segera sampai ke tempat tujuan. Di suatu persawahan yang terlindung pepohonan yang lebat, Sunan Muria terhenti langkahnya karena mendengar suara “krubyuk-krubyuk” yaitu suara air yang disebabkan oleh gerakan tertentu. Sesungguhnya suara itu berasal dari langkah-langkah orang disawah yang berair. “suara apakah yang krubyuk-krubyuk dimalam sepi begini?” tanya Sunan Muria kepada santri-santrinya Mendengar pertanyaan Sang Sunan bergegaslah para santrinya mencari tahu. Kemudian, diketahui bahwa suara itu berasal dari langkah-langkah orang yang sedang mencabuti bibit padi untuk ditanam di sawah keesokan harinya. “Kanjeng Sunan, sesungguhnya suara itu dari orang yang sedang mencabuti bibit pada. Besok pagi mereka akan menanamnya di sawah” “oh, kukira tadi suara bulus.” Kata Sunan Muria dengan lembutnya. Konon, kata-kata Sunan menjadi kenyataan. Orang-orang yang sedang mencabuti bibit padi itu berubah menjadi bulus atau kura-kura. Tentu saja mereka pun terkejut dan bersedih hati menyadari nasibnya yang malang itu. Akan tetap ikepada siapa mereka harus mengadukan nasibnya? Mereka hanya bisa menduga bahwa kejadian itu akibat kutukan dewata atau orang sakti yang keramat. “Barangkali kita berdosa karena bekerja malam hari,” ujar seekor bulus dengan nada sedih. “Tapi, siapa orang yang melarang orang bekerja malam hari?” ujar yang lain. “Itu mustahil, sebab Dewi Sri selalu mendapat sesaji di saat kita panen. Dewi Sri pastilah bersedih manyaksikan nasib kita seperti ini.” “Sudahlah, kita berserah diri kepada sang Pencipta. Barangkali memang sudah takdir,” kata seekor bulus yang merasa bertanggung jawab atas musibah itu. Dialah yang pada mulanya mengajak sanak kerabatnya untuk bekerja di malam hari. Segera saja peristiwa itu menjadi buah bibir penduduk setempat yang resah karena kehilangan sebagian warganya. Lantas, diantara mereka ada yang berusaha mencari keterangan kesana-kesini hingga tahulah bahwa kejadian itu akibat kata-kata sunan muria. Kabar itu akhirnya terdengar oleh kaum kura-kura yang berusaha payah mencari persembunyian Beberapa hari kemudian, mereka yang telah menjadi bulus itu mendengar kabar dari orang-orang bahwa Sunan Muria akan segera kembali dari Pati. Tumbuhlah niat mereka hendak memohon ampunan kepada Sunan Muria agar dapat menjadi manusia biasa. Dengan kabar mereka menunggu lewatnya suan muria sambil berendam diri disawah. Setiap kali mendengar langkah orang yang lewat mereka berebut naik keatas hendak mengetahui siapa yang lewat. Beberapa kali mereka pun kecewa karena orang-orang yang lewat ternyata bukan rombongan Sunan Muria. Pada saat Sunan Muria dan Santri-santrinya melewati tempat itu bergegaslah mereka naik keatas hendak menghadap Sunan Muria. Setelah yakin bahwa orang-orang yang lewat adalah rombongan Sunan Muria, berkatalah diantara mereka,” Kanjeng Sunan, ampunilah dosa dan kesalahan kami dan mohonkan kepada Allah agar akmi kembali menjadi manusia biasa.” Sesungguhnya hati Sunan Muria merasa terharu menyaksikan peristwa itu. Akan tetapi beliau pun tersenyum sambil berkata dengan lembutnya. “Wahai sanak kerabatku, aku sendiri ikut prihatin terhadap musibah ini, namun haruslah kukatakan bahwa semua ini sudah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu terimalah dengan iklas dan bertawakallah kepada Sang Pencipta.” Kanjeng Sunan, sekiranya memang demikian takdir kami, lantas bagaimanakah kami memperoleh kehidupan?” Hati Sunan Muria semakin pilu mendengar permohonan itu. Setelah beliau bertafakur sejenak sesaat kemudian dengan tangkas menusukkan tongkatnya ke dalam tanah. Pada saat Sunan mencabut tongkatnya muncullah air yang jernih. Dalam waktu sekejap saja tempat itu telah menjadi kolam atau sendang. “Dengarlah wahai para bulus tempat ini telah menjadisumber air abadi dan kelak akan mejadi desa yang ramai dengan nama sumber. Bersabarlah kalian disini karena makanan apapun yang kalian inginkan akan datang sendiri.” Setelah berkata demikian bergegaslah Sunan Muria dan rombongan meningglkan tempat itu sehingga para bulus tak sempat menyampaikan terima kasihnya. Sejak itu orang-orang setempat menyaksikan sebuah kolam atau sendang yang banyak bulusnya. Sampai sekarang sendang sumber itu masih dikeramatkan.

Indonesia nerjemahake menyang basa Jawa

Last Update: 2014-08-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Destarastra adalah putra Prabu Kresnadwipayana atau Abiyasa Raja Astina dengan permaisuri Dewi Ambika. Sejak lahir aku mempunyai cacat netra, tidak dapat melihat atau buta. Aku mempunyai dua adik dari ibu yang berbeda yaitu Pandudewanata dan Yamawidura. Walaupun aku cacat, aku memiliki mantra sakti Aji Lebur Saketi yang sangat ditakuti lawan. Apabila mantra Aji Lebur Saketi aku baca maka semua benda yang aku pegang akan hancur menjadi debu. Nama lain dari Destarastra adalah Raden Kuru. Ia bertempat tinggal di Kadipaten Gajahoya. Isterinya bernama Dewi Gendari putri Prabu Keswara dari Plasajenar atau Gandaradesa. Perkawinan Destarastra dengan Gendari ini adalah atas kebaikan Pandudewanata adiknya, yang waktu itu memenangkan sayembara dengan memboyong tiga putri. Satu dari ketiga putri boyongan tersebut diberikan kepada Destarastra. Dari perkawinan dengan Dewi Gendari putri boyongan tersebut Destarastra dikaruniai seratus orang anak laki-laki dan ditambah satu anak perempuan, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kurawa. Dari seratus anak, yang lahir sulung merupakan anak istimewa. Istimewa karena ketika lahir bayi tersebut mempunyai badan yang paling besar, berkulit kuning dan tangisnya seperti serigala. Ia diberi nama Duryudana. Pada akhir hayatnya, Destarastra mati tertimbun beteng bersama isterinya, dan tanpa sengaja diinjak-injak oleh seratus anaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada awal perang Baratayuda, pada saat cerita Kresna duta. Destarastra pada waktu perang Baratayuda sudah selesai, yaitu ketika Destarastra bersama Gendari isterinya bertapa di hutan. Tiba-tiab hutan terbakar dan mereka berdua mati bersama.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-08-26
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Prabu Sumali, raja Alengka, girang bukan kepalang. Putri cantiknya, Dewi Sukesi, istri Resi Wisrawa, telah melahirkan. Empat anak sekaligus. Tiga lelaki dan satu perempuan. Anak kesatu, kedua dan ketiga berujud raksasa, dan yang bungsu berwajah tampan. Anak pertama diberi nama Dasamuka, kedua Kumbakarna, ketiga perempuan Sarpakenaka dan yang bungsu Gunawan Wibisana, tampan. Resi Wisrawa merasakan bahwa kelahiran anak-anaknya, selain anugrah dewata, juga sebagai ‘hukuman’. Sebetulnya Resi Wisrawa sudah mempunya putra yang bernama Prabu Danapati, yang sekarang menjadi raja di Lokapala. Resi Wisrawa madeg pandita dan menyerahkan tampuk keprabon kepada Danapati. Awalnya, Resi Wisrawa hanyalah sebagai duta anaknya untuk melamar Dewi Sukesi. Setelah mengalahkan Patih Jambumangli, yang konon sakti luar biasa, yang nampaknya juga ada hati dengan Dewi Sukesi, bertemulah sang resi dengan sang dewi. Tetapi, Dewi Sukesi ada pemintaan lain, yaitu kepingin dibabarkan rahasia Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah rahasia kadewatan. Tidak boleh sembarang orang tahu. Akan tetapi, sejarah memang harus tertulis, melihat keelokan Dewi Sukesi ternyata Sang Begawan ini bobol juga sifat kapanditannya, lupa anak lupa lupa status. Dan, terjadilah, wejangan wingit itu dibabar dalam suasana malam temaram yang menghanyutkan. Apa boleh buat, dua orang beda umur ini menjadi pasangan suami istri, sementara Danapati di ujung sana hanya bisa mengurut dada, patah hati yang justru disebabkan oleh orangtua sendiri. 13612753211103593857 Lanjut cerita, setelah dewasa, atas petunjuk dewata, Resi Wisrawa memerintahkan kepada keempat anak-anaknya untuk bertapa di Gunung Gohkarno. Gohkarno adalah gunung yang terkenal keliwat angker. Sapa mara sapa mati. Masing-masing mengambil tempat yang terpisah. Tapa mereka ternyata menimbulkan gara-gara, goncangan hebat di kahyangan. Udan deres wor lesus kadi pinusus. Syahdan, Batara Guru lalu mengutus Batara Narada untuk mencari tahu sebab gara-gara ini dan dan dititah untuk menghentikannya. Wee, ternyata ada empat orang manusia sedang tekun bertapa di hutan Gohkarno. Para putra Resi Wisrawa. ‘Wis, wis ngger, aja diterus-teruske tapamu, ulun bakal paring nugraha marang sira kabeh…’ demikian sabda Batara Narada kepada keempat putra Wisrawa. Dan inilah jawaban mereka. Dasamuka: ingin menjadi orang yang sakti mandraguna, tidak ada orang yang bisa mengalahkan sekalipun dewa, dan dapat terwujud semua yang diimpikan. Kumbakarna: ingin selalu dapat makan enak dan kenyang, dan dapat tidur pulas selama ia mau. Sarpakenaka: ingin selalu dapat melampiaska libidonya yang hiperaktif. Nantinya Sarpakenaka akan bersuami banyak. Gunawan Wibisana: ingin selalu dapat berpihak pada kebenaran, dan berani menyatakan kebenaran. Batara Narada mengabulkan semua permohonan mereka, tetapi juga mengingatkan, bahwa segala sesuatu selalu ada batasnya, dan segala sesuatu mesti mengandung risiko, semuanya memerlukan pengorbanan. Setelah itu keempatnya pulang. Selanjutnya Prabu Sumali mengangkat Dasamuka sebagai raja Alengka, karena Begawan Wisrawa menolak menduduki tahta Alengka. Dan, dari saat itulah Prabu Dasamuka atau Prabu Rahwanaraja memulai kehidupannya yang penuh onar dan darah, dan juga cinta…

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-01-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Resminya, Nakula atau Pinten adalah putra dari Prabu Pandu dan Dewi Madrim. Namun karena Prabu Pandu tak dapat behubungan tubuh dengan istrinya, maka Dewi Madri yang telah diajari ilmu Adityaredhaya oleh Dewi Kunti memanggil dewa tabib kayangan yang juga dikenal sebagai dewa kembar. Batara Aswan-Aswin. Nakula adalah putra dar Batara Aswan sedang Sadewa adalah putra dari Batara Aswin.

google translation Indonesian Javanese

Last Update: 2013-05-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation