MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: lengkap    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Nama lengkap

hiurty

Last Update: 2013-01-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

assalamualaikum indah , jangan lupa ya besok jumat tanggal 10 november kelas 7,8,9 upacara di lapangan smp negeri 3 ungaran , berpakaian osis lengkap

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-26
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Biarkan saya tetap masuk Lupa kata sandi Anda? Mendaftar SEJARAH HIDUP PRESIDEN SOEKARNO 16 Agustus 2013 pukul 16:48 Ir Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan juga sebagai Pahlawan Proklamasi, Soekarnoyang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta. Saat ia lahir dinamakan Koesno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika. Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi IT. Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Saat dipenjara, Soekarno mengandalkan hidupnya dari sang istri. Seluruh kebutuhan hidup dipasok oleh Inggit yang dibantu oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Wardoyo. Saat dipindahkan ke penjara Sukamiskin, pengawasan terhadap Soekarno semakin keras dan ketat. Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bahkan untuk mengisolasi Soekarno agar tidak mendapat informasi dari luar, dia digabungkan dengan para tahanan 'elite'. Kelompok tahanan ini sebagian besar terdiri dari orang Belanda yang terlibat korupsi, penyelewengan, atau penggelapan. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. Paling banter yang dibicarakan adalah soal makanan, cuaca, dan hal-hal yang tidak penting. Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya, ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar. Hal itu terjadi saat pihak penjara membolehkan Soekarno menerima kiriman makanan dan telur dari luar. Telur yang merupakan barang dagangan Inggit itu selalu diperiksa ketat oleh sipir sebelum diterima Bung Karno. Seperti yang dituturkan Ibu Wardoyo yang dikutip dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antarkota tahun 1978, telur menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara. Caranya, bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun dia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail. Seiring berjalannya waktu, Soekarno dan Inggit kemudian menemukan cara yang lebih canggih untuk mengelabui Belanda. Medianya masih sama, telur. Namun, telur tersebut telah ditusuk-tusuk dengan jarum halus dan pesan lebih detail mengenai kabar buruk itu dapat dipahami Bung Karno. Satu tusukan di telur berarti semua kabar baik, dua tusukan artinya seorang teman ditangkap, dan tiga tusukan berarti ada penyergapan besar-besaran terhadap para aktivis pergerakan kemerdekaan. Selama menjalani masa hukuman dari Desember 1929 hingga dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931, Soekarno tidak pernah dijenguk oleh kedua orangtuanya yang berada Blitar. Menurut Ibu Wardoyo, orang tua mereka Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tidak sanggup melihat anak yang mereka banggakan itu berada di tempat hina yakni penjara dan dalam posisi yang tidak berdaya. Apalagi, saat di Sukamiskin, menurut Ibu Wardoyo, kondisi Soekarno demikian kurus dan hitam. Namun Bung Karno beralasan, dia sengaja membuat kulitnya menjadi hitam dengan bekerja dan bergerak di bawah terik matahari untuk memanaskan tulang-tulangnya. Sebab di dalam sel tidak ada sinar matahari, lembab, gelap, dan dingin. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”. Presiden Soekarno dan Ibu fatmawati Presiden Soekarno semasa hidupnya dikenal memiliki pesona, sehingga dengan mudah menaklukkan wanita-wanita cantik yang diinginkannya. Sejarah mencatat Bung Karno sembilan kali menikah. Namun banyak yang tidak tahu wanita seperti apa yang dicintai Sang Putra Fajar itu. Untuk urusan kriteria ternyata Bung Karno bukanlah sosok pria neko-neko. Perhatian Bung Karno akan mudah tersedot jika melihat wanita sederhana yang berpakaian sopan. Lalu, bagaimana Bung Karno memandang wanita berpenampilan seksi? Pernah di satu kesempatan ketika sedang jalan berdua dengan Fatmawati, Bung Karno bercerita mengenai penilaiannya terhadap wanita. Kala itu Bung Karno benar-benar sedang jatuh hati pada Fatmawati. "Pada suatu sore ketika kami sedang berjalan-jalan berdua, Fatmawati bertanya padaku tentang jenis perempuan yang kusukai," ujar Soekaro dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antar Kota. Sesaat Bung Karno memandang sosok Fatmawati yang saat itu berpakaian sederhana dan sopan. Perasaan Bung Karno benar-benar bergejolak, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Aku memandang kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan. Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan," kata Soekarno. "Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring," tambahnya. Mungkin saat itu Fatmawati begitu terpesona mendengar jawaban Soekarno yang lugas. Sampai pada akhirnya jodoh mempertemukan keduanya. Soekarno menikah dengan Fatmawati pada tahun 1943, dan dikarunia 5 anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. "Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak," katanya. Menurut pengakuan Ibu Fatmawati, dia dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia. "Kami tidak pernah merayakan kawin perak atau kawin emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat," begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda, terbitan Pustaka Antar Kota, 1978. Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa. Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari. Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia. "Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat," ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. Soekarno tidak hanya mencintai budaya Jawa. Dia juga mengagumi tari-tarian dari seantero negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh penduduk Papua. Karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, Istana Negara penuh dengan aneka lukisan, patung dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut. Dia menghargai setiap seniman, budayawan hingga penabuh gamelan. Soekarno akan meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang soal seni dan budaya setiap pagi, di samping bicara politik. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Saat-saat diasingkan di Istana Bogor selepas G-30S/PKI, Soekarno membunuh waktunya dengan mengiventarisir musik-musik keroncong yang dulu populer tahun 1930an dan kemudian menghilang. Atas kerja kerasnya dan beberapa seniman keroncong, Soekarno berhasil menyelamatkan beberapa karya keroncong. Setlah itu Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi". Detik Detik Kematian Sang Presiden Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer. Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus. Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini. “Pak, Pak, ini Ega…” Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi. Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya. Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini..?” Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini. Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani. “No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya. Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya. Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya. Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal. Isu di bunuh secara perlahan Banyak Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderit

google translation Javanese Indonesian

Last Update: 2014-11-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

AUTOBIOGRAFI ROHAYATI Nama saya Rohayati, biasa dipanggil roha. Tetapi kedua orang tua saya memanggil saya dengan panggilan yanti. Karena dulu waktu saya kecil saya diberikan nama Rohayanti oleh ayah saya. Tapi pada saat saya pembuatan akta kelahiran, nama yang tertulis ROHAYATI. Jadi dari saya SD sampai dengan sekarang orang-orang memanggil saya dengan nama roha, sedangkan orang rumah sendiri memanggil saya dengan nama panggilan yanti. Itu sekilas tentang nama saya. Saya lahir di indramayu pada hari senin jam 21.00 WIB tanggal 28 mei 1999. Nama ayah saya Rindam dan nama ibu saya Watini. Kakek saya bernama Kandeg dan Darus, nenek saya bernama Damini dan Witem. Ayah saya mempunyai dua orang adik satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah paman dan bibi saya yang bernama Sarkim dan Tarunah. Itu sekilas dari keluarga saya. Ayah saya bekerja sebagai petani dan seoang supir. Sedangkan ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saya merupakan anak pertama dari ayah dan ibu. Saya mempunyai satu adik laki-laki bernama Wahyuda. Adik saya masih duduk dibangku SD kelas 6 sekarang. Umur saya 15 tahun sekarang , selisih 4 tahun dengan adik saya. Hobby saya menulis, menggambar, mendengarkan lagu dan bermain volley. Nama sahabat yang selalu ada buat saya dari SMP sampai sekarang adalah Nur wulandari. Dia satu-satunya sahabat yang selalu ada disisi saya, walaupun sekarang kita beda sekolah tapi kita masih sering komunikasi. Saya alergi susu putih(bila terlalu banyak meminumnya) , alergi panas matahari, alergi debu. Makanan kesukaan saya tumis sawi kecap dan tumis kangkung. Minuman kesukaan juice melon. Warna kesukaan biru. Angka kesukaan 8 dan saya paling benci dengan angka 17. Binantang yang saya suka kelinci dan heamster. Riwayat sekolah, dulu saya sekolah di SD yang cukup dekat dengan rumah saya. saya langsung masuk ke SD tanpa TK terlebih dahulu. Karena saya sudah bisa membaca dan menghitung sendiri, jadi saya langsung masuk ke SD. SD saya di SDN JATISURA II, ketika masih SD saya sering diejek dan dibuli oleh teman-teman saya, karena badan saya kurus kecil dan pendek gara-gara sering diejek seperti itu saya sering makan biar saya nggak diejek kurus kecil dan pendek lagi. Dulu waktu saya kelas 1, saya pernah ikut lomba cerdas cermat tingkat kec. Cikedung dan mendapat juara II , kemudian mengikuti lomba lagi lomba Calistung (membaca , menulis, dan menghitung) di SDN CIKEDUNG LOR II, mendapat juara III. Ketika saya kelas 2 dan kelas 3 saya mengikuti lomba yang sama di SDN CIKEDUNG I tetapi saya cuma mendapat juara III, kemudian ada lagi lomba MIPA (matematika dan ipa) tingkat kec.cikedung pada saat saya kelas 4 tetapi pada lomba itu saya kalah. Waktu itu saya menangis, saya merasa sudah mengecewakan ayah dan ibu dan terutama guru saya. Rasa yang saya rasakan pada saat itu adalah sedih, kesal, dan menyesal. Kemudian selang beberapa bulan ada perlombaan kaligrafi, cerdas cermat, pidato, hafalan juz’ama, dll. Saya mengikuti 2 perlombaan karena tidak bentrok waktunya jam 07.00-09.00 WIB kaligrafi dan 09.30-10.10 lomba cerdas cermat lomba tersebut diadakan di SDN JAMBAK I. Saya cuma mendapat juara III, sedangkan cerdas cermat juara II. Itupun berkat bantuan adik kelas saya namanya sudur. Pada saat kelas 5 SD, ada perlombaan olahraga antara lain : lempar lembing, lempar cakram, lompat jauh, lari, bulu tangkis, tenis meja, catur dan volley (PA/PI). Siapa yang mengikuti lomba? Semua sudah ditentukan oleh guru olahraga. Erwanto mengikuti lomba catur, teguh saiful hamzah mengikuti tenis meja, iman lempar lembing, eka lempar cakram, castirah lari, team volley (PA) agus, rasadi, supri, solikin dan ahmad, team volley (PI) rasiti, rohayati, arwati, arlinah, devi, bulu tangkis iqbal sama safitri. Semuanya sudah ditentukan berhari-hari kami latihan, setiap sore kami pasti ke sekolah untuk latihan hingga pada saat waktu lomba tinggal menghitung hari saya dipindah oleh siti untuk mengikuti lomba bulu tangkis putri tunggal, saya merasa kaget dan terkejut. Saya berfikir kenapa saya dipindah mendadak begini? Sedangkan waktu untuk berlatih pun nggak ada hanya tinggal 3 hari saya harus siap menghadapi lomba. Saya bingung harus apa selain menerima kenyataan bahwa saya harus dipindah ke bulu tangkis cabang olahraga yang belum terlalu saya kusai, karena besik saya sudah divolley. Tapi saya bisa apa?? Ya udahlah bismillah ajah semoga saya bisa menjadi yang terbaik dan menjadi juara agar bisa mengharumkan nama baik sekolah. Saat yang sudah ditunggu-tunggu kini telah tiba. Kami serombongan berangkat ke cikedung. Kemudian karena tempat lomba terpisah jadi kami dipecah dan berpencar, yang ikut lomba volley, lempar cakram, lempar lembing, tenis meja, dan catur diSDN CIKEDUNG LOR II, sedangkan bulu tangkis di KUD cikedung. Dalam hati saya, saya berkata:”semangat teman-teman mari kita buktikan kepada mereka, bahwa kitalah yang akan juara. Bawa semua piala teman-teman, jangan lupa walau kita terpisah tapi semangat kita sama. Yaitu ingin mengharumkan nama SD kita. Teman-teman semangat jangat takut ok!!!” saya berharap akan menang meski saya mengikuti lomba ini tanpa persiapan. Selang beberapa menit kemudian tibalah giliran saya untuk bermain, ya allah bantu saya mengalahkan lawan-lawan saya Bismillah. Babak pertama saya menang tapi kemudian saya kalah dibabak kedua. Saya sedih, merasa kecewa.. tapi tak apa yang penting saya bisa dapat teman baru dan pengalaman baru. Teman saya itu berasal dari SDN JAMBAK I namanya sisi dan rio. Kata dia permainanku cukup baik, saya bilang alhamdulillah karena berarti saya juga ada bakat dipermainan ini. Kemudian saya pergi ke SDN CIKEDUNG LOR II untuk melihat teman-teman yang sudah menyelesaikan lombanya, kemudian kami berkumpul saling bertanya gimana lombanya menang nggak. Saya bilang nggak tau hasilnya akan dibagikan nanti. Singkat waktu kami pulang dan kembali kerumah masing-masing. Kemudian keesokan harinya kami berangkat sekolah, dan mendengar kabar bahwa yang menang dan mendapat hanya catur (juara III), lempar lembing (juara III), lempar cakram (juara III), lari (juara II), dan tenis meja (juara I). Alhamdulillah masih ada yang juara, setidaknya SDN JATISURA II bisa membawa pulang piala walau nggak semuanya. Semasa saya SD, saya selalu mendapat rangking 1. Bahkan pada saat hasil UN keluar nilai saya merupakan nilai yang terbaik di kelas. Selang beberapa waktu saya menerima surat kelulusan, saya begitu sedih saat melihat isi surat tersebut, kenapa? Karena saya lulus, dan berarti sayapun takan lagi bertemu dengan mereka. Takan bersama-sama dengan mereka lagi, takan bisa lagi bercanda dan tertawa bareng mereka. Tapi saya bersyukur serta berterimakasih kepada ibu/bapak guru yang telah membimbing dan mengajari saya. kemudian saya melanjutkan sekolah lagi ke SMPN 2 LELEA, salah satu SMP terfavorit didesa saya. saya berangkat dari rumah jam 5, kenapa? Karena rumah saya dengan SMP cukup jauh, sedangkan kendaraan yang saya gunakan hanya sepeda. Jadi saya berangkat harus pagi-pagi sekali mengingat rumah saya yang jauh dari sekolah. Kemudian sesampainya disana, saya mengikuti psikotest kemudian lulus, 2 hari mengikuti MOS sangat seru!!! Kemudian setelah mendapat pengumuman bahwa saya diterima di SMPN 2 LELEA, saya berhasil masuk ke kelas 7G, yang diwali kelasi oleh ibu Riche Rias Rustiah. Ibu riche adalah seorang guru bhs. Inggris orangnya sangat sabar, baik, dan penyayang. Saat saya kelas 7, saya mengikuti ekskul pramuka dan paskibra. Kemudian setelah dua bulan mengikuti ekskul paskibra, diadakan pelantikan dan seleksi calon dewan paskibra. Yang syaratnya harus meminum 3 botol susu putih, sedangkan saya alergi pada susu putih. Jadi saya memutuskan untuk tidak mengikutinya, dan kemudian berhenti dan keluar dari ekskul tersebut. Saat kelas 7 saya mendapat rangking 1 pada semester 1 dan 2, kemudian saat kenaikan kelas saya masuk 8A kelas yang siswa-siswinya terkenal pintar-pintar dan aktif semua. Selain pramuka saya juga mengikuti organisasi osis, dan menjabat sebagai seksi humas. Pernah mengikuti lomba pramuka diSMAN 1 LOHBENER mendapat juara harapan 1. Kemudian lomba pramuka di SMAN 1 SINDANG , lomba LKBB dan haking rally mendapat juara II LKBB. Kemudian mengikuti lomba lagi di SMKN 2 INDRAMAYU yang berupa haking rally mendapat juara umum 1. Kemudian mengikuti lomba lagi di SMPN 1 SUMEDANG berupa haking rally mendapat juara umum 1, juara harapan 1 putra, juara harapan 3 putri, dan mendapat juara terfavorit. Kemudian saya naik kekelas 9A karena saya merupakan salah satu anak-anak yang tergolong aktif dikegiatan organisasi baik dipramuka dan diOSIS. Nama angkatan pramuka saya ken arok dan kendedes sedangkan nama ambalanya adalah WIRAPANAWU atau lebih lengkapnya adalah Ki Wirapati dan Nyi mas Nawang Wulan. Kemudian selang beberapa minggu setelah menghadapi UN. Saya mendapat surat kelulusan dari sekolah dan setelah dibuka isinya bertuliskan LULUS. Alhamdulillah dan kemudian melanjutkan sekolah lagi di SMAN 1 INDRAMAYUdan diterima di Sayoe, setelah melewati psikotest kemudian diadakan MOS, ketika mos aku masuk gugus 8 dimentori sama mba lilis dan mba riris. Dan setelah beberapa hari ada pengumuman, ternyata aku masuk kelas X MIA 1 yang diwali kelasi oleh bapak sutjita. Saya juga ikut ekskul volley. Saya di Indramayu ngekost, sama mba lilis dan mba sumini. Kost saya dipekandang di Gang kesatuan. Saya berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Saya suka dengan puisi, kata-kata bijak, kata-kata motivasi, kritik, nasehat serta saran karena itu bisa membangun karakter saya. membuat saya bisa selangkah lebih maju dari sebelumnya. Pengalaman saya cukup berkesan dan memberikan pelajaran. Saya berasal dari keluarga yang tak mampu, ayah saya seorang petani dan supir. Sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi saya dan tekad saya akan membuktikan bahwa bukan hanya mereka yang diatas yang bisa sukses, tapi orang-orang kecil pun bisa!. Dan saya bisa sampai sekarang itu berkat ayah, ibu, serta guru-guru saya untuk itu saya ucapkan terima kasih untuk bimbangan serta ajakannya. Tanpa kalian saya bukanlah apa-apa, mungkin tanpa ibu/bapak guru saya tidak bisa baca tulis. Pengalaman yang selalu saya ingat dalam hidup adalah ketika ayah saya mengalami kecelakaan karena ditabrak oleh sepeda motor, akhirnya ayah saya mengalami patah tulang pada tulang pahanya dan mengalami retakan pada tulang lututnya. Betapa sedihnya saya hari itu, kemudian ayah dibawa kerumah sakit oleh keluarga saya dan di obati disana. Kemudian setelah itu ayah pulang kerumah sambil dipapah oleh paman saya, saya nggak tega melihat orang yang selama ini berjuang banting tulang menghidupi saya hanya bisa terbaring lemas ditempat tidurnya. Untuk pertama kalinya ayah menangis didepan saya, ayah bilang pada kakek saya tolong jaga anak-anakku jika esok umurku sudah tiada. Saya menangis didepan ayah, dalam hati “saya berjanji akan selalu patuh dengan apapun perintah ayah, karena ayah segalanya bagi saya”. 4 bulan ayah bertahan dan ibu mencari uang, dia berhutang sana sini untuk mengobati ayah. Akhirnya terkumpulah uang untuk pengobatan ayah, ayah di bawa kerumah sakit yang ada disolo namanya rumah sakit KUSTATI untuk melakukan operasi, agar ayah bisa berjalan dengan normal kaki ayah diPen. Selama 3 hari ayah disolo, setelah itu ayah pulang kerumah. Saya senang ayah akhirnya pulang , ayah keluar dari mobil dengan memakai tongkat saya tau sebenarnya ayah capek dan lelah, tapi dengan melihat saya dan adik saya yang masih sangat membutuhkan ayah. Ayah mulai bangkit dan bersemangat lagi, hingga pada suatu malam gara-gara ayah terlalu capek, jadi tabung penampung darah kotor yg bentuknya kaya infusan itu copot dan darahnya kemana-mana. Difikiran saya cuma mikir ya allah betapa sakitnya itu, jangan sampai ayah kenapa-napa ya allah. Saya takut, sangat takut.. kemudian ibu memanggil mantri untuk mengobati ayah, tapi ayah malah berfikir “aku sangat menyusahkan banyak orang”. Setelah berminggu-minggu akhirnya ayah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat, namun sekarang kaki ayah tidaklah sama kakinya pendek sebelah. Meskipun begitu bagi saya yang penting ayah bisa kembali normal walaupun sekarang ayah tidak boleh bekerja terlalu berat. Sudah 4 tahun ayah saya dipen bahkan sampai sekarang pen itu belum dicopot, ayah takut tulangnya masih belum menyatu. Jadi sampai sekarang ayah memakai pen. Dan aku ingin mencontoh ayah, sifat ayah yang nggak gampang menyerah. Tekad ayah meembuat saya lebih semangat untuk mengejar cita-cita saya . sungguh Ayah adalah moodbooster yang paling hebat dan kuat, karena dia mampu menguatkan saya. Ayah ibu Do’akan aku suatu saat akan mengangkat nama dan derajatmu amiiin .

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Bertemu lagi dengan kami diacara lapasta spageti instan. Lapasta terdiri dari 2 farian rasa yaitu spacy barbeque dan cheese bolognese anda dapat memilih salah satu dari itu yang anda suka. Cara membuatnya mudah dan praktis :1. Masukkan spageti, minyak dan sayuran kering kedalam 500 ml air mendidih selama 4 menit2. Setelah matang keluarkan spageti dan sayuran kering dari air dan tiriskan3. Campurkan spageti dengan bumbu, aduk hingga merata, taburkan bawang merah pedas, hidangkan.Lapasta mengandung banyak vitamin A,B1H,B12, dan juga vitamin C. Lapasta quick and easy spageti mudah di sajikan hanya dalam 4 menit. Lapasta terbuat dari gandum pilihan "dilengkapi bumbu dan bahan yang kaya cita rasa".

QUERY LENGTH LIMIT EXCEDEED. MAX ALLOWED QUERY : 500 CHARS

Last Update: 2014-11-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Kantor itu dicat merah menyala, mencolok dibandingkan dengan kantor sejenis di komplek itu. Ketika kami masuk, kami melihat lobi kantor yang cukup berantakan. Meski berantakan, fasilitas di kantor itu lengkap. Masih ada sofa yang bisa dipakai duduk. Di belakang lobi ada ruangan tertutup dengan menyisakan lorong untuk masuk ke lantai atas. Di dinding lorong tertempel foto - foto kegiatan kantor serta beberapa piagam penghargaan.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-14
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

daya yang ada di daerah tuban,terutama tentang industri industri unggulan yang berada di kabupaten tuban yang pastinya sudah menembus pasar mancanegara Dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Seribu Goa, menjadikan Kabupaten Tuban sebagai salah satu tempat tujuan wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Tidak hanya objek wisata religi saja yang sekarang ini digemari para wisatawan, mereka juga mulai mengagumi keindahan panorama alam di Kabupaten Tuban seperti deretan goa yang dilengkapi dengan stalaktit dan stalakmit yang sangat cantik, serta beberapa potensi wisata pantai yang menyuguhkan panorama laut cukup menawan. Memiliki luas wilayah sekitar 1.904,70 km2 dan panjang pantai mencapai 65 km, Kabupaten Tuban ternyata tidak hanya memiliki potensi alam cukup menawan namun juga menyimpan beragam potensi bisnis daerah yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Sebut saja seperti potensi unggulan di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan, industri kerajinan, pertambangan, perindustrian, dan lain sebagainya. Nah, untuk mengetahui potensi bisnis apa saja yang tersimpan di Kabupaten Tuban. Berikut ini kami informasikan beberapa sektor potensi unggulan yang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat di sekitar daerah Tuban

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Aswatama memiliki fisik bermata kedondongan putih, berhidung mancung serba lengkap, berketu udeng dengan garuda membelakang, bersunting kembang kluwih panjang, berkalung putran berbentuk bulan sabit, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain, tetapi tidak bercelana panjang dan bentuk telapak kakinya seperti telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki) dan bersurai Dan memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Aswatama belajar ilmu perang bersama para pangeran Kuru di bawah bimbingan ayahnya sendiri yaitu Resi Drona. Ia memiliki keterampilan dalam ilmu perang, terutama mempergunakan sejata panah dan kemampuannya hampir sama dengan Arjuna. Ia mendapat pusaka yang sangat sakti dari ayahnya bernama Cundamanik.Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin, yaitu manusia berumur panjang. Saat perang Bharatayudha berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta dan penyerbuan itu dilakukan setelah perang diumumkan berakhir.

google translation Javanese Indonesian

Last Update: 2014-11-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Nama Aliando Syarief mulai banyak diperbincangkan karena parasnya yang tampan. Saat ini, Aliando Syarief menjadi idola remaja putri terlebih lagi saat membintangi sinetron Ganteng-Ganteng Serigala. Hal ini terbukti di akun twiiter Aliando sendiri @alysyarief ia banyak menuai pujian dari para followernya. Pemeran Digo dalam sinetron Ganteng-Ganteng Serigala itu sebenarnya sudah lama berkutat di dunia akting.s Dia lebih sering bermain di serial FTV seperti Petaka Homeschooling. Garuda Di Dadaku 2 adalah film yang ia bintangi. Pemilik nama lengkap Muhammad Ali Syarief ini masih berumur 17 tahun. Ia tidak hanya mengandalkan parasnya yang tampan saja, tetapi aktingnya tidak diragukan lagi. Cowok kelahiran 26 Oktober ini merupakan keturunan Arab-Indo dimana sang ayah adalah orang Arab asli. Sinetron yang ia bintangi sekarangpun menjadi trending topic di jejaring social twitter.

gawenen pengalaman pribadhi sing paling nengsemake

Last Update: 2014-09-29
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Nama lengkap Francesco Totti Tanggal lahir 27 September 1976 (umur 37) Tempat lahir Rome, Italia Tinggi 1,80 m (5.9 kaki) Posisi bermain Penyerang Informasi klub Klub saat ini Roma Nomor 10

Nama lengkap Francesco Totti Tanggal lahir 27 September 1976 (umur 37) Tempat lahir Rome, Italia Tinggi 1,80 m (5.9 kaki) Posisi bermain Penyerang Informasi klub Klub saat ini Roma Nomor 10google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Menurut babat, Syeikh Mursyahadatillah yang nama ali ketika mudanya Pangeran Walangsungsang adalah putra Raja Pajajaran IX, lengkapnya Pangeran Walangsungsang bin Prabu Siliwangi bin Raja Mundingkawati bin Angga Larang bin Banyak Wangi bin Banyak Larang bin Susuk Tunggal bin Wastu Kencana bin Lingga bin Linggahiang bin Ratu Sari Purba bin Raja Ciung Wanara. Disamping itu masih ada beberapa julukan lain, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Gagak Lumayung, Nama julukan ketika menjadi Pendekar 2. Pangeran Cakrabuana, Nama julukan setelah berhasil menyempurnakan ilmu cakrabirawa warisan dari MBAH KUWU SANGKAN dan babat tanah Cirebon 3. Somadullah, Nama julukan karena mampu menyelesaikan pendidikannya di Samodra Pasai dan Jazirah Arab 4. Abdullah Iman, Nama julukan yang diberikan sang Guru sekembalinya ia menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah 5. Sri Mangara, Nama julukan ketika ia di anggkat menjadi kuwu Cirebon menggantikan sang mertua Ki Gde Alang alang 6. Syeikh Mursyahadatillah, Nama julukan setelah menghabiskan hari-hari tuanya untuk kerja da’wah

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Sedih, sunyi, canda, tawa kita lewati bersama Kemanapun bagai tali yang telah diikat kuat, yang tak dapat dilepas Kau hibur aku disaat gundah dan kuhibur kau disaat kau membutuhkan Kita saling melengkapi satu sama lain Tapi berbeda Berbeda pada saat itu Pada saat waktu tak berpihak kepada kita Kau dan aku terpisah Dan akhirnya, Akhirnya kau meninggalkan aku dengan sosok bayangmu Bayangmu yang tak tahu dimana tubuhnya Yang sekarang sudah tak mempunyai hati dan perasaan Seperti bukan lagi sahabatku

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Mengapa? Karena aku tidak seperti laki­laki pada umumnya. Wajah  itu,  penampilan itu yang terpantul pada permukaan cermin, membuatku  enggan meninggalkan kamar, apalagi harus berada di luar rumah. Maka,   kubiarkan   Ayah   dan   Ninda   berlama­lama   menungguku   di  mobil. Aku tidak ingin ikut bersama mereka ke kampus, salah satu tempat  yang paling aku hindari. Kemarin,  aku mengalami hal  buruk di tempat itu.  Di hari pertama  kuliah,   aku   harus   bertemu   seseorang   yang   kuanggap   penjahat   semasa  SMA. Seseorang yang selalu memperolok keadaanku. Kali   ini,   ia   membawa   teman­temannya   yang   baru   dan   kembali  mempermalukanku  dengan mengatakan  bahwa   aku  ini   banci.  Laki­laki  yang   kejantanannya   telah   hilang,   laki­laki   yang   ingin   keluar   dari  kodratnya. Hatiku panas. Darahku terasa mendidih. Tampaknya, sudah tiba saat  di mana orang yang telah lama kubenci mendapat sebuah pelajaran yang  begitu berharga. Kepalan   tanganku   telah   siap   dan   mulutnya   telah   masuk   dalam  sasaran  tinjuku.  Tapi  begitu hendak aku  luncurkan,   tanganku  terkunci.  Ninda  menggenggam  kedua   lengan   tanganku   dengan   erat.  Gadis   yang  menguasai  karate  dan  silat   tersebut   semakin memperparah keadaanku.  Aku  semakin dipermalukan.  Laki­laki   yang  berlindung  di  bawah ketiak  wanita katanya. “Begitulah jika ibumu seorang yang tidak waras!” Telunjuk Riko tepat  ke   arah mukaku  yang  memerah,   panas  menahan marah  yang   semakin  memuncak. Nyaris aku dapat melepaskan diri, tetapi Ninda masih belum  mau melepaskan cengkeramannya di kedua lenganku. 1 “Sebaiknya, kau tutup mulutmu! Apa kau tidak tahu bahwa mulutmu  itu   bau   sekali?”   Ninda   membalas.   Suaranya   yang   lantang   menarik   perhatian sekitarnya. Muka Riko sontak merah padam. Matanya mendelik. “Berani...?” Ninda  membalas   dengan   kepalan   tangan   teracung.  Disambut   oleh  sorakan   teman­teman   Riko   lengkap   dengan   tepuk   tangan.   Sepertinya,  mereka senang mendapat ancaman itu. Padahal, mereka belum tahu bahwa  kepalan   tangan  Ninda   telah   tiga   kali  memakan   korban,   ketiga­tiganya  adalah wajah Riko. “Hajar, Rik! Hajar!” Riko mengangkat tangan. Teman­temannya berhenti berseru. Ia lalu  berputar dan pergi. Teman­temannya menjadi ekor. “Mengapa tidak kau hajar saja gadis sok jago itu, Rik?” “Tidak usah.  Jika aku menghajar yang perempuan,  aku  juga harus  menghajar yang laki­laki. Dan itu akan membuat mereka semakin aneh.  Yang perempuan nanti  malah bisa menghamili dan yang laki­laki malah  bisa dihamili.” Tawa  mereka  meledak.  Dan   di   sela­sela   tawa   itu,   aku  mendengar  Ninda berkata, “Aku rasa, ibunya yang tidak waras.” Kata­kata  itu,  meskipun ditujukan kepada Riko,   tetap  membuatku  sakit.  Air mataku meleleh tanpa dapat kutahan.  Tanpa banyak berkata,  aku   bergegas   pergi.   Aku   tidak   menghiraukan   pesan   Ayah   yang   akan  menjemput   jika   kami   menelepon.   Yang   kupikirkan   hanya   pulang,  secepatnya pulang dan memperlihatkan air mataku kepada Ibu. Aku menaiki   sebuah  angkutan  umum.  Penumpangnya   yang  nyaris  penuh bertambah olehku,   lalu ditambah Ninda yang berhasil  menyusul.  Napasnya turun naik tak karuan. Ia telah berlari berpuluh­puluh meter. Ia  sempat kehilangan jejak sebelum akhirnya menemukanku terlihat menaiki  angkutan umum. Aku menangis. Masih menangis. Air mataku masih belum juga dapat  berhenti. “Kenapa, Dik?” tanya seorang ibu. Aku bergegas mengesat air mata. Namun, tetap saja terus mengalir.  Melihatku kewalahan, ibu itu mengunjukkan selembar tisu. “Pakai saja, Dik. Saya masih punya tiga kotak lagi. Boleh minta jika  masih kurang.” 2 Aku hanya tercenung, sementara pipiku semakin basah. Ninda yang  melihatku  tidak berbuat  apa­apa,   segera mengambil  alih.   Ia mengambil  tisu   itu   untuk   kemudian   memberikannya   kepadaku.   Dan   aku  mengambilnya ragu­ragu. “Masalah laki­laki, ya?” bisik ibu itu kepada Ninda. Kebetulan mereka  duduk bersebelahan. Ninda   balas   mengangguk.   Aku   menangis   sejadi­jadinya   di   balik  lembaran tisu yang telah basah. Dalam hati, aku bertanya, “Apakah aku  telah benar­benar seperti wanita?” Ibu itu memberiku tisu, dan penumpang  lain tidak berbisik­bisik, seolah­olah menggunjing. Mereka seperti melihat  sesuatu yang telah lumrah. Seorang gadis yang menangis. *** “Jika benci, mengapa harus kau tatap?” Sebuah suara yang kukenal  membalikkan   tubuhku.   Itu   Ninda,   satu­satunya   teman   yang   kumiliki  hingga   sekarang.  Hanya   ia   yang   tersisa   setelah  penampilanku   berubah  aneh seperti ini. Ia ternyata menyusul ke kamar. “Kau hanya akan semakin  membenci  dirimu  jika kau  terlalu suka menatap dirimu di   cermin.  Apa  waktu   dua   tahun   tidak   cukup   untuk   membuatmu   terbiasa   dengan  penampilan itu?” Dua   tahun....   Seratus   tahun   pun   rasanya   tidak   akan   dapat  membuatku   terbiasa   dengan   penampilan   ini.  Meskipun   penampilan   ini  sangat dekat dengan seseorang yang kukenal baik. Aku   lalu   hanya  menggeleng   dan  menjawab,   “Meskipun   aku   tidak  menatap diriku di cermin, aku masih bisa menatap diriku di mana­mana,  terutama dari mata orang­orang yang aku jumpai.” Ninda diam  sekejap.   “Sudahlah....  Sekarang,   lebih baik kita  segera  berangkat   ke   kampus.  Kasihan   ayahmu.  Beliau   telah   lama  menunggu.  Mesin  mobilnya   juga   telah   lama  menyala   dari   tadi.   Ingat,  BBM  sudah  mahal.” “Aku tidak ingin ke kampus. Aku tidak ingin kuliah jika penampilanku  tetap seperti ini.” “Aku tahu itu. Kau telah sering mengatakannya padaku dan kau juga  telah sering mengatakannya pada ibumu.” 3 Lalu, Ninda menoleh ke belakang. Aku baru sadar bahwa Ibu ada di  sana, yang kini tengah menangis dalam pelukan Ayah. Ibu kemudian pergi.  Pasti  memuaskan   hatinya   untuk  menangis   di   kamar.  Ayah  menatapku  seakan meminta untuk menurut. Aku tak berkutik. Jika Ibu sudah menangis, apa boleh buat. Ini adalah  keinginannya dan  ia adalah orang yang paling  rapuh di  keluarga kami.  Ialah   yang   paling  menginginkanku  melanjutkan   sekolah   ke   perguruan  tinggi, tanpa memperbolehkanku merubah penampilan. Sementara Ayah, ia  selalu dalam bimbang. Kini, aku lagi­lagi harus menurut. Sama seperti dua tahun lalu, ketika  aku harus menggantikan seseorang. “Baiklah....” Aku melangkah meninggalkan kamar diiringi oleh Ninda.  Kami menuju mobil dan duduk di kursi belakang. Ayah menyusul setelah  memberitahukan kabar gembira ini kepada Ibu. Ia duduk di kursi depan  dan mulai  menjalankan mobil  yang mesinnya  telah begitu panas.  Entah  sudah berapa liter menghabiskan bensin. Dalam perjalanan,  aku hanya diam.  Kepalaku bersandar pada kaca  jendela pintu mobil  sebelah kiri.  Rambut  yang begitu panjang menutup  sebagian wajahku. Kubiarkan Ninda mengoceh  tanpa kugubris.  Ia mencoba menghibur  dengan mengatakan bahwa jika aku tidak dapat bersaing dengan laki­laki  soal kekuatan fisik, aku bisa bersaing dengan wanita soal kecantikan. “Pandang   ke   sini!”   Ia   memutar   daguku.   Ia   ternyata   telah  mempersiapkan   sebuah   cermin   bundar   yang   mungil   di   samping   kiri  wajahnya.  “Lihat,  kau  lebih cantik dariku!  Pasti  banyak wanita yang  iri  kepadamu, karena mereka kalah cantik oleh seorang laki­laki.” Aku   segera   membuang   muka   dan   kembali   bersandar.   “Itu   wajah  kakakku, bukan wajahku...,” ucapku dalam hati. Kubiarkan   Ninda   kecewa.   Usahanya   untuk   menghiburku   kembali  gagal.   Ya,   yang   baru   saja   menurutnya   adalah   cara   menghibur,   selalu  melihat dari sisi baiknya.  “Lihat kemarin, kau tidak dianggap aneh oleh orang banyak di dalam  angkutan umum. Mereka hanya menganggapmu seorang gadis yang wajar  kalau menangis. Hanya Riko yang menganggapmu aneh, bersama teman­ temannya   yang   tidak   waras   itu.   Jika   Riko   yang   menangis,   lain   lagi  ceritanya.   Riko   menangis   darah,   penumpang­penumpang   itu   mungkin  hanya tertawa. Mereka baru simpati ketika Riko pingsan karena kehabisan  darah.” 4 Tetapi,   aku   tidak   pernah   sependapat   soal   itu.   Penampilan   ini  mengungkungku.  Semenjak  berpenampilan  seperti   ini,   aku harus  dapat  menjaga sikap. Aku tidak bisa bertindak kasar sembarangan.  Seperti yang pernah terjadi ketika aku duduk di kelas XII. Jam pulang  sekolah,   aku   balas   dendam   dengan   seorang   teman   Riko   yang   sering  mengolok   dan   mengatakan   bahwa   ibuku   bukanlah   orang   yang   waras.  Pukulanku   tepat   mengenai   wajahnya   dan   tepat   di   depan   mata   Ibu.  Pulangnya,  aku  dinasehati  habis­habisan.   Ibu  tidak  ingin melihat   anak  gadisnya ternodai oleh sifat kasarku. Rasanya, aku telah menjadi tubuh orang lain, tubuh kakakku sendiri.  Mungkin,   ini   adalah   balasan   karena   aku   sering   berbuat   tidak   baik  kepadanya.  Aku   sering  membuatnya   kaget,  meskipun   tahu   ia  memiliki  jantung   yang   lemah.   Oleh   karena   itu,   ia   menjadi   anak   yang   paling  dilindungi oleh Ibu. Ibu tidak ingin Kak Anita memiliki masalah dengan  jantungnya. Hingga di  suatu hari  di   libur sekolah dua  tahun silam.  Aku masih  ingat ketika sebuah truk meluncur ke arah mobil kami, di bawah terpaan   hujan   lebat.   Truk   itu   tak   terkendali   dan   menghantam   mobil   kami.  Selebihnya, aku sadar di rumah sakit dengan luka yang cukup parah, dan  mendengar   kabar   bahwa   Kak   Anita   tidak   tertolong.   Itu  membuat   Ibu  sangat terpukul. Hampir   dua   bulan,   aku   baru   dapat   bersekolah.   Namun   terlebih  dahulu, aku harus memotong rambutku yang terlampau panjang. Mereka  ternyata tidak kehilangan kesuburan, meski selama ini aku terbaring sakit.  Rambutku   justru   tumbuh   panjang,   hingga   cukup   membuat   Ibu  menganggapku sebagai Kak Anita. Aku dan Ayah sontak tersadar. Penampilanku kini lebih mirip dengan  saudara  kembarku  tersebut.  Gawatnya,   itu membuat   Ibu kembali   jatuh  dalam masa lalu. Padahal, ia baru mulai mencoba menerima kepergian Kak  Anita dua pekan ini. Ibu   tidak   setuju   dengan   rencanaku   untuk   memotong   rambut.  Sementara   aku   berkeras.   Tiap   siswa   tidak   diperkenankan   bersekolah  dengan rambut gondrong. “Tapi....” Mata Ibu berkaca­kaca dan mendadak ia pergi meninggalkan  kami.  Ia memuaskan hatinya menangis di  kamar.  Ayah pergi  membujuk  dan rencanaku terpaksa ditunda. Hari pertama di sekolah, rambutku menjuntai lurus hampir sebahu.  Aku   hanya  mendapat   teguran  agar   aku  menjaga   sikap.  Aku  mendapat  keringanan karena Ayah telah berbicara dengan pihak sekolah. 5 Pulangnya, aku singgah di tempat cukur rambut tepi jalan. Rambutku  dipangkas. Kedatanganku di rumah disambut Ibu dengan kebingungan., “Di mana Anita...?” Sekarang, Ibu tambah parah. Ia tidak mau makan dan akhirnya jatuh  sakit. Ia sangat ingin Anita kembali hadir di hadapannya, meski ia sendiri  sadar  bahwa putri   tercintanya  tersebut   telah  lama pulang ke pangkuan  Sang   Pencipta.  Hanya   dengan  melihat  Anita   berada   di   sampingnya,   ia  merasa masih dapat menjaga sang putri. Karena keinginan Ibu yang aneh, orang­orang bahkan keluarga kami  sendiri, berkata bahwa Ibu telah gila. Apakah karena kejadian naas itu?  Mungkin saja. Karena aku juga merasakan ada yang berubah pada diriku.  Aku pendiam. Gawatnya, itu adalah kepribadian Kak Anita. Apakah otakku telah rusak? Kian hari,  kondisi  Ibu kian memburuk.  Ayah sempat memberi  usul  untuk   mengenakan   rambut   palsu.   Tapi   kutolak   mentah­mentah.   Aku  merasa bodoh dengan benda tersebut. Aku laki­laki. “Kalau   begitu,   biarkan   saja   rambutmu   kembali   terurai   seperti  kemarin.  Demi   ibumu.  Ayah   akan  mencoba   untuk  meminta   pengertian  kepada pihak sekolah.” “Tapi....” “Kau laki­laki. Meski sekarang penampilanmu seperti Anita, lambat  laun kau akan tetap seperti laki­laki. Kumismu bisa tumbuh dan suaramu  akan  membesar.  Dengan   cara   ini,  Ayah   harap   kau   dapat   sedikit   demi  sedikit menggiring ibumu untuk dapat menerima kepergian Anita.” Pada saat itu, aku percaya saja. Aku menurut hingga aku benar­benar  merasa itu sebuah kebohongan yang besar. Hingga sekarang, wajahku tetap  semulus dulu. Bahkan pita suaraku, rasanya semakin mengencang. Justru  inilah yang lebih mengukuhkanku lagi sebagai Kak Anita di mata Ibu. *** Terasa  sangat  berat  untuk menjejakkan kaki  di  kampus.  Jika  saja  bukan  Ninda   yang  menarikku,   aku  mungkin   akan   tetap  mematung   di  tempat di mana Ayah menurunkan kami. 6 “Bersikap wajar. Tidak seisi kampus tahu tentang jati dirimu.” Tapi, kami tampaknya memang harus bertemu dengan si penjahat itu  kembali. Ia dan teman­teman barunya mencegat jalan kami. “Tidak usah repot­repot untuk menyembunyikan jati dirimu. Karena  dalam waktu dekat, seisi kampus akan tahu siapa dirimu. Dan mulai saat  ini, kau tidak akan betah di sini. Sebagai permulaan....” Riko   menunjukkan   selembar   kertas   kepada   Ninda.   Ninda  merampasnya dan membaca apa yang tertulis. “Dasar tidak punya hati! Kau ingin mengekspose temanku?” “Itu hanya untuk edisi minggu ini. Untuk edisi minggu depan, akan  kumuat semuanya lebih gamblang. Aku ingin orang­orang penasaran.” “Kau takkan berhasil!” “Selama ini, aku selalu berhasil membuat kalian menjadi pecundang.” Ninda menyiapkan kepalannya. “Ingin menghajarku? Pikirkan lagi jika kau tidak ingin kami keroyok.” “Pengecut!” “Ninda...,  sebaiknya kita pergi.”  Aku mencoba melerai.  Orang­orang  sudah mulai  memperhatikan kami  dan aku  takut   rahasiaku akan bocor  lebih awal. “Yap, pergi saja dengan setengah wanita itu!” Deg!   Jiwa   laki­lakiku   terpanggil.  Aku  maju   ke   depan.   “Kau   ingin  merasakan pukulanku?” “Aku yakin, pukulanmu selembut belaian tangan bayi.” Giliran Ninda mencoba menarikku untuk menjauh.   Ia sudah sadar  dengan situasi yang akan kami hadapi. “Aku bisa membeberkan  rahasiamu  sekarang.  Dan malumu  takkan  tertanggung. Kau memiliki ibu yang....” “Hentikan ucapanmu!” Pekikanku berhasil menarik perhatian orang­ orang. Semua berhenti dan menoleh.  Saat itu, aku tersadar.  Tampaknya,  semua akan tahu rahasiaku. Tapi, aku terlanjur kesal dengan pemuda di  hadapanku. Riko tersenyum melecehkan. Dan  mendadak,   tanganku   bergerak  merangkul   pundak   Riko.   Aku  menciumnya. Mata Ninda seakan mau copot menyaksikan bibir kami yang  saling menyatu. 7 ** TAMAT ** http://www.dirgitadevina.web.id 8 Tentang Penulisgoogle terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Last Update: 2014-09-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966. Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka. Biodata Dewi Sartika Nama : Raden Dewi Sartika Tanggal Lahir : Bandung, 4 Desember 1884 Wafat : Tasikmalaya, 11 September 1947 Penghargaan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966 Biografi Dewi Sartika - Semasa hidupnya, Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di rumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Biografi Dewi Sartika - Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap. Biografi Dewi Sartika - Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Biografi Dewi Sartika - Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

google Tembung tegese Artine ngeklik Indonesia lan

Last Update: 2014-09-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Rawon atau nasi rawon (karena selalu disajikan dengan nasi) adalah menu berupa sup daging dengan bumbu khas karena mengandung kluwek. Rawon, meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur (seperti Surabaya), dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur (daerah Surakarta). Daging untuk rawon umumnya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil. Bumbu supnya sangat khas Indonesia, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, lengkuas (laos), ketumbar, serai, kunir, lombok, kluwek, garam, serta minyak nabati. Semua bahan ini (kecuali serai dan lengkuas) dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama-sama dengan daging. Warna gelap khas rawon berasal dari kluwek. Rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge kecil, daun bawang, kerupuk udang, daging sapi goreng (empal) dan sambal.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-08-29
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Nama lengkap : Mohammad Tria Ramadhani Nama panggilan : Tria Cangcut Jenis kelamin : Pria Tempat & tanggal lahir : Bandung, Juni 22, 1982 Zodiak : Cancer Pendidikan : -- Status perkawinan : Lajang

Nama lengkap : Mohammad Tria Ramadhani Nama panggilan : Tria Cangcut Jenis kelamin : Pria Tempat & tanggal lahir : Bandung, Juni 22, 1982 Zodiak : Cancer Pendidikan : -- Status perkawinan : Lajang

Last Update: 2014-01-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Lagi-lagi selebritis tanah air terlibat kasus penyalah-gunaan zat Psycotropica. Kali ini selebriti muda multi talenta Raffi Ahmad yang berurusan dengan barang haram tersebut. Kabar yang beredar, mantan pacar Yuni Shara tersebut kedapatan sedang berpesta narkoba di kediamannya yang terletak di kawasan Lebak Bulus. Menurut informasi yang dihimpun KapanLagi.com®, sekitar pukul 04.00 WIB dini hari tadi Raffi Ahmad bersama beberapa temannya diciduk oleh pihak kepolisian dan BNN. Deputy Penindakkan BNN, Irjen. Benny Mamoto membenarkan adanya penggrebekan di sebuah rumah di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. "Memang ada," ucapnya di gedung BNN, Jakarta Timur, Minggu (27/1). Benny pun tidak membantah kalau salah satu orang yang ditangkapnya adalah Raffi Ahmad. "Iya benar," ujarnya singkat. Kejelasan berita mengejutkan ini bakal disampaikan pihak BNN secara resmi setelah informasi yang diperlukan telah terkumpul lengkap. "Tapi kasih saya waktu 15 menit untuk naik ke atas untuk informasi lengkapnya. Hasil tes semuanya termasuk tes urine," pungkasnya. (kpl/hen/dka)

google translation Indonesian Javanese

Last Update: 2013-02-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

RÉNGSÉ NGAGUNAKEUN PERLENGKAPAN DAHAR SARTA INUM GEURA-GIRU PIKEUN LANGSUNG DIBERSIHKEUN

becik ketitik olo ketoro

Last Update: 2012-10-20
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation