MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: pacelathon basa jawa    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

google agensi Jawa Indonesia

upomo sliramu sekar melati

Last Update: 2014-07-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Indonesian translation into Jepang basa

Anata ga hontou ni kowaii

Last Update: 2014-07-07
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

naskah drama bahasa jawa roro jonggrang

roro basa Jawa muter Jonggrang

Last Update: 2014-06-13
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

artikel bahasa jawa tentang wayang kulit

Basa Jawa artikel bab Cepu

Last Update: 2014-06-10
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Ilmu komputer adalah pendekatan ilmiah dan praktis untuk komputasi dan aplikasi. Ini adalah studi sistematis kelayakan, struktur, ekspresi, dan mekanisasi prosedur metodis (atau algoritma) yang mendasari akuisisi, representasi, pengolahan, penyimpanan, komunikasi, dan akses ke informasi, apakah informasi tersebut dikodekan sebagai bit dalam memori komputer atau dituangkan dalam gen dan struktur protein dalam sel biologi. [1] seorang ilmuwan komputer mengkhususkan diri dalam teori komputasi dan desain sistem komputasi. [2] Subbidang dapat dibagi ke dalam berbagai jenis ilmu teoritis dan praktis. Beberapa bidang, seperti teori kompleksitas komputasi (yang membahas sifat-sifat dasar dari Komputasi dan masalah terselesaikan), sangat abstrak, sedangkan bidang-bidang seperti komputer grafis menekankan aplikasi visual yang nyata. Dalam bidang lain fokus pada tantangan dalam melaksanakan perhitungan. Misalnya, teori bahasa pemrograman mempertimbangkan berbagai pendekatan untuk deskripsi perhitungan, sementara studi pemrograman komputer itu sendiri menyelidiki berbagai aspek penggunaan bahasa pemrograman dan sistem yang kompleks. Interaksi manusia-komputer mempertimbangkan tantangan dalam membuat komputer dan perhitungan yang berguna, bermanfaat, dan dapat diakses secara universal bagi manusia.google terjemahan indonesia jawa

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-07-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Inilah sebuah kisah legenda di tanah jawa, Roro Jonggrang putri sang raja. Wajah ayu nan cantik jelita. Dayang-dayang menari. Indah bagai sang bidadari. Bertabur bunga melati. Semerbak harum mewangi. Ibu Ratu : Prabu Boko raja kita akan segera memasuki singgahsana. Semua yang hadir dimohon berdiri untuk memberi penghormatan. Patih Karungkala : Selaksa ampun wahai sang Prabu Boko, hamba datang membawa warta yang sangat genting. Prabu Baka : Ada apa gerangan Patih Karungkala. Mengapa engkau tampak begitu tergesa-gesa paman? Patih Karungkala : Ada mala petaka agung yang tengah melanda keraton, pasukan Pengging yang dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Prabu Baka : Apa? Oh… betapa tubuhku bergetar mendengar warta genting ini. Penghinaan ini tak bisa dibiarkan. Aku sendiri yang akan turun tangan menghadapi Bandung Bondowoso. Paman Patih Karungkala? Patih Karungkala : Hamba tuanku. Prabu Baka : Siapkan prajurit yang paling gesit. Siapkan senjata yang paling ampuh. Kita bom bardir Bandung Bondowoso dan pasukannya.. Patih Karungkala : Daulat tuanku. Bandung Bandawasa : Hey kau Prabu Boko! Depaklah aku kalau berani! Lawanlah prajurit elit yang ku bawa ini. Prabu Baka : Aku Prabu Boko tak kecil nyali. Mari kita bertarung sampai mati. Bandung Bandawasa : Baiklah kalau itu maunya. Prabu Baka : Iya, ini yang ku mau. Bandung Bandawasa : Jangan menyesal jika kau lumpuh oleh ajianku. Prabu Baka : Aku Prabu Boko tak kecil nyali. Mari kita bertarung sampai mati. Ayo pasukan ku! Jangan gentar pada cicunguk ini! Serangg!!! Bandung Bandawasa : Aha…ha..ha… ha... ha... mereka menyerah kalah. Ayo pasukan ku kita serang kerajaan mereka! Takhlukan hingga ke akar-akarnya! Roro Jonggrang : Bunda permaisyuri, apa gerangan yang terjadi pada ayahanda Prabu Boko? Ibu Ratu : Putriku Roro Jonggrang, Ibu pun sedang menanti kabar. Yakinlah pada hatimu dan mala. Patih Karungkala : Permaisyuri dan tuan putri Roro Jonggrang junjungan hamba, hamba yang hina ini membawa warta sedih perih. Prabu Boko telah wafat dibunuh Bandung Bondowoso yang biadap. Roro Jonggrang : Ayahanda….. Ayah…ayah…ayah.... Oh, kesedihan macam apa yang mesti kutumpahkan? Ayahanda Prabu Boko tercinta telah tiada. Patih Karungkala : Selaksa ampun, selaksa maaf wahai permaisyuri dan Tuan Putri. Kesedihan tidak punya makna sekarang, hamba mohon permaisyuri dan tuan putri segera tinggalkan keraton. Cari tempat bersembunyi! Selamatkan jiwa dan harga diri. Roro Jonggrang : Paman Patih Karungkara, aku tak mau pergi. Tolong iringi ibunda permaisyuri untuk sembunyi. Patih Karungkala : Tapi, eh, bagaimana dengan Bandung Bondowoso Tuan Putri? Roro Jonggrang : Akan ku hadapi Bandung Bondowoso. Wahai dayangku, kita tunjukan bahwa perempuan bukan makhluk yang lemah. Bersiaplah, kita hadapi Bandung Bondowoso dan pasukannya. Bandung Bandawasa : Ha…ha…ha…ha…. Datanglah Bandung Bondowoso untuk merebut kerajaan. Lalu diusirnya semua dayang-dayang. Karena takjub ada perempuan. Terkejut hati Bandung Bondowoso melihat Jonggrang yang cantik jelita. Bandung Bandawasa : Oh…siapa gerangan kau perempuan ayu kecantikanmu meluluhkan fungsi panca inderaku. Luluh hati dan amarahnya. Iri berubah jadi cinta. Jonggrang pun ingin dimilikinya. Namun Jonggrang pun menolaknya. Jik puna mau dengan 1 syarat membuat seribu candi dalam 1 malam. Bandung Bondowoso pun menyanggupi dengan bergegas lalu melangkah pergi. Roro Jonggrang : Aku takut Bandung Bondowoso berhasil membangun seribu candi dalam semalam. Ini harus digagalkan sebelum celaka melanda. Wahai kau dayang-dayang ku, malam nanti perintahkan rakyat untuk menabuh lesung dan menyapu sebelum semburat sinar matahari muncul di ufuk timur. Bandung Bandawasa : Wahai dhemit, setan priprayangan, bantulah aku, Bandung Bondowoso untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Bantulah aku! Wahai jin, setan priprayangan, bantulah aku Bandung Bondowoso! Wahai dhemit-dhemit, setan, bantulah aku! Bantulah aku! Bantulah! Hahaha… Raja Genderuwo kau tidak bisa lepas dari tangan Bandung Bondowoso . sebagai imbalan kemenangan ku, maka sekarang kau harus membantuku. Aku meminta untuk mengerahakan para jin dan setan anak buahmu. Perintahkan mereka untuk membuat seribu candi malam ini juga. Seribu candi malam ini juga! Dan harus selesai sebelum matahari terbit! Sekarang laksanakan perintahku Raja Genderuwo! Setan dan jin pun membuat seribu candi, energy hitam pun menyelimuti. Atas perintah Raja Genderuwo yang dikalahkan Bandung Bondowoso saat perang untuk menebus kekalahan. Candi-candi itu pun mulai jadi, Bandung Bondowoso berbesar hati. Dia ingin buktikan kepada Roro Jonggrang bahwa dia mampu melakukan membuat seribu candi dalam satu malam. Bandung Bandawasa : Jonggrang!!! Hahaha pasti kau akan terkejut bahwa aku mampu membuat dan menyelesaikan seribu candi dalam satu malam. Dan tidak akan lama lagi engakau akan menjadi permaisyuriku Jonggrang! Hahah…. Rakyat desa : Ayo…ayo… ayo…(memukul kentongan). Orang-orang berdatangan atas perintah Roro Jonggrang. Dengan bunyi kentongan usir jin setan. Roro Jonggrang ingin hancurkan tekad besar Bandung Bondowoso. Seribu candi takkan pernah jadi. Suasana pagi dicipta lebih awal yang dijanjikannya. Terengah Bandung Bondowoso melihatnya. Terdengar ayam yang berkokok, singga setan riuh kebingungan. Bandung Bondowoso geram dengan penuh dendam. Roro Jonggrang ingin hancurkan tekad besar Bandung Bondowoso. Seribu candi takkan pernah jadi. Bandung Bandawasa : Ah, ada apa ini? Mengapa terdengar kokok ayam? Keparat! Dan mengapa para jin dan setan juga lari kocar-kacir. Ohh…ahhhh…. Bagaimana ini? Roro Jonggrang : Bandung Bondowoso mana seribu candi yang kau janjikan ayam telah berkokok dan sang surya segera muncul di kaki langit timur. Waktumu telah habis! Bandung Bandawasa : Roro Jonggrang yang ayu, seribu candi yang terindah telah selesai. Lihatlah! Roro Jonggrang : Kau baru membangun sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi. Ada satu candi yang belum kau bangun, maka aku tak sudi menjadi istrimu! Bandung Bandawasa : Wah! Dasar kau licik Jonggrang! Kau licik! Baiklah, satu candi belum ku bangun maka kau yang akan jadi pelengkapnya Jonggrang! Jadilah kau arca yang ke seribu Roro Jonggrang!

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-06-06
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Assalamualaikum wr wb. Pada postingan kali ini saya pengen mengenal kan salah satu gunung di gugusan gunung di daerah kota kudus-jawa tengah, mungkin nama gunung ini terdengar asing di telinga anda bagi yg luar jawa. Tapi di balik nama asing gunung ini tersimpan keindahan budaya tanah jawa yg teramat kental dan mistik…… gunung ini terkenal dengan sebutan Wukir Rahtawu (puncak 29 ). Rahtawu sebenarnya adalah nama desa di lereng Gunung Muria masuk Kecamatan Gebog itu, bagi masyarakat Kudus dikenal banyak menyimpan misteri. Sekitar tiga dasa warsa yang lalu (lebih 30 tahun-Red), Rahtawu merupakan sebuah desa yang sangat terisolir. Sebab, belum ada jalan poros desa. Roda empat pun tak bisa menuju ke desa itu, termasuk angkudes. Satu-satunya jalan adalah lewat jalan setapak. Pendatang harus rela berjalan kaki sekitar lima kilometer mulai dari Desa Menawan. Berkat jasa Bupati Marwotosoeko, dengan tekad gugur gunung, jalan menuju desa tersebut sudah dilebarkan, sehingga Rahtawu menjadi seperti sekarang ini. Meskipun lokasi tidak mudah dicapai, Rahtawu mempunyai daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melakukan ritual ziarah. Di kawasan Rahtawu banyak menyimpan petilasan (bukan makam-Red) dengan nama-nama tokoh pewayangan leluhur Pandawa. Sebut saja petilasan Eyang Sakri, Lokajaya, Pandu, Palasara, Abiyoso. Selain itu di sana juga ada kawasan yang diberi nama Jonggring Saloka dan Puncak Songolikur. Petilasan itu banyak menarik minat orang untuk datang berziarah. Di setiap daerah biasanya ada pantangan tertentu. Di Rahtawu juga ada pantangan, yakni warga dilarang nanggap wayang kulit. Meski di sana banyak nama petilasan bernama leluhur Pandawa. Sampai sekarang tidak ada yang berani melanggar. Bila dilanggar, konon yang bersangkutan terkena bencana. Jadi kalau ada warga punya hajat, paling nanggap tayub, karena diperbolehkan. Kata orang desa sana nama Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (bahasa jawa) kalo indonesianya (darah yang bercecer ) Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyoso yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan keturunan dinasti Bharata/para shangyang. Sebuah misteri yang membingungkan , ( aku aja bingung…..hehehehhe ) banyak sekali tokoh 2 pewayangan yang petilasan nya masih di rawat oleh penduduk sekitar sampai sekarang bahkan banyak orang – orang dari luar kudus ( jateng ) banyak yg berdatangan untuk menikmati suasan pegunungan dan mistik yg ada di gunung tersebut , menurut pengalaman saya tidak salah kalau orang -orang yang suka mistik ( terutama yang beraliran kejawen ) banyak yang berdatangan ke gunung Rahtawu karena memang dari lereng gunung sampai puncak gunung itu berjajar banyak sekali petilasan – petilasan dari para tokoh pewayangan yang di sucikan dan di sebut ” eyang ” oleh penduduk sekitar . Berikut ini adalah nama – nama petilasan para tokoh pewayangan yang ada di gunung Wukir Rahtawu : Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloko, dukuh Semliro, desa Rahtawu. Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Argo”. Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Songolikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya. Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur. Eyang Lokajaya (Guru Spiritual Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga (sebelum bertaubat), di Rahtawu. Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro. Memang didaerah rahtawu peradaban Hindu, budha tidak tampak jelas karena tidak di temukan candi / arca yang sebagai mana di temukan di daerah lain yang mempunyai peradaban hindu / budha , yang ada hanyalah petilasan 2 batu datar yang menurut penduduk sekitar merupakan bekas tempat bersemedinya para ” suci “. Ada satu lagi yang aneh dari kebudayaan warga sekitar, meskipun semua petilasan yang ada di Wukir Rahtawu identik dengan para tokoh Pewayangan ( Mahabarata – Hindu ) tapi di sana sangat di tabukan untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut. Menurut saya pribadi sesungguhnya gunung rahtawu dlm kajian mistik adalah netral dalam artian ,Hitam dan Putih tergantung manusianya. Kalau mau wisata mistik ke rahtawu pasti ketemu macam2 dukun/orang pintar dr mana saja datang saja dan nginap dr yg saya tahu dukun2 yg kejawen di daerahku gak lepas dr rahtawu. Saya yakin ada para bolowongalus yg sudah pernah ke rahtawu…… Wassalam. @@@

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-05-25
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Prasasti Yupa uga diarani Prasasti Mulawarman iku salahsijining sumber sajarah peninggalan kerajaan Kutai sing wujudé tugu watu sing ana tulisané. Prasasti Yupa iki ditemo'aké déning petugas topografi Walanda taun 1879 lan saiki disimpen ing Museum Nasional ing Jakarta. Ana 7 iji Yupa peninggalan kerajaan Kutai kabèh ditulis nganggo aksara Pallawa lan nganggo basa Sansekerta. Salahsiji Yupa ana sing urung dadi sing saiki disimpen ing kompleks cagar budaya Muara Kaman, ing pinggir kali Mahakam, Kalimantan Timur.

Berbagai cara bisa dilakukan untuk menyambut tahun baru. Berbagi keceriaan dengan pesta kembang api ataupun riuhnya tiupan terompet menjadi salah satu yang biasa kita lihat untuk menyambut pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat. Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa. Bagi warga Solo mungkin perayaan malem selikuran keraton surakarta memiliki kesan tersendiri. Sebanyak seribu tumpeng akan diperebutkan oleh abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dan masyarakat sekitar. Tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun untuk memeringati malam selikuran atau malam ke dua puluh satu dalam hitungan bulan Ramadan yang biasa disebut malam Lailatul Qadar itu. Seribu tumpeng tersebut dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Solo yang berjarak sekitar 500 meter. Para abdi dalem juga membawa lampu menyerupai lampion atau ting. Sehingga kirab ini juga dikenal dengan nama ting-ting hik. Di depan barisan ancak canthaka, terdapat joli kencana atau kotak menyerupai anchak canthaka yang berukuran besar dan berbentuk menyerupai rumah-rumahan. Di dalam joli kencana tersebut terdapat ingkung. Setiap prosesi tumpeng seribu selalu ada dua joli kencana dan satu ting berukuran besar, lengkap dengan cap logo Keraton Surakarta. Tradisi malam selikuran dengan mengusung seribu tumpeng merujuk pada malam lailatul qodar yang jatuh pada malam ganjil di bulan Ramadan. Kirab dilakukan pada malam selikur sebagai malam ganjil. Dan pada malam lailatul qadar adalah malam seribu pahala jumlah pahala tersebut diibaratkan dengan jumlah seribu tumpeng. Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Last Update: 2013-03-08
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation