MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: pacelathon basa jawa    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

artikel bahasa jawa tentang wayang kulit

Basa Jawa artikel bab wayang kulit

Last Update: 2014-11-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

SEJARAH DESA KUBANGDELEG PROFIL DESA a. Kondisi Desa i. Sejarah Desa 1. Terbentuknya Desa Kubangdeleg Kira-kira sekitar abad 16 sebelum terbentuknya Desa adalah pedukuhan.Berkumpul beberapa pemuka yang diantaranya 1.Buyut Nurjan tinggal di Kubangkelor(yang sekarang Desa Karangmekar) 2.Buyut Gareng yang tinggal di Karapyak 3.Buyut Pego yang tinggal di daerah Erpah 4.Buyut Jabrig yang tinggal di daerah Leuweung Lawang ( Caman ) 5.Buyut Brewes/magenggong yang tinggal di Cigabug ( Wanasaraya ) 6.Buyut Dingkul yang tinggal di Karangwareng 7.Buyut Katolik/mandita yang tinggal di Cibanban 8.Buyut Kulur yang tinggal di daerah Mertapada Karsidem, karsilem, bancet, gareng, Nursalim, mandita, Kulur, Bodas, Magenggong, Kudapawana, Mereka mengadakan suatu musyawarah di Tanah Sungging Curug untuk Membentuk sduatu wilayah pedukuhan dengan batas wilayah yang luas. Yang diantarnya meliputi 3 Kubang ( Wadah Caritra Cai ) diantaranya : 1.Kubang Blok Maja 2.Kubang Putat 3.Kubang Gede Maka setelah pertemuan itusalah satu dari mereka yaitu KI BUYUT NURJAN dengan ilmu yang sangat tinggi ( Saipi angin ) mulai mematok batas wilayah dengan batas seperti Segi Tiga Luas Batas Daerah Pancar, Daerah Wanasaraya dan Daerah Cihirup ( Kabupaten Kuningan ) Pancar Wanasaraya Cihirup Sejak saat itu terbentuklah sebuah pedukuhan besar itu dan sebagia pemuka yang di tunjuk untuk memprakarsai lahan pemukiman adalah BUYUT KARSILEM ( Karsilem adalah anak Ki Buyut Nurjan ), beliaulah pemuka cikal bakal yang memprakarsai pembukaan lahan untuk pemukiman,di Blok Maja dengan nama Kubang Putat. Beliau serang yang sakti mandraguna dan sangat terkenal kadigjayaannya. Prenah pada suatu ketika beliau di datangi dan di tantang adu kesaktian oleh Dua Durjana sakti yang bernama Sira Dipa dan Sira Pringga. Pertempuran terjadi selama dua hari dua malam,banyak penduduk pedukuhan panik, tapi dengan ketenangan Ki Buyut Karsilem menghadapi kedua Durjana Sakti tersebut. Ilmu kanuragan masing-masing yang dimiliki telah dikeluarkan, Sira Dipa dan Sira Pringga tak mempan oleh senjata apapun merupakan lawan yang tangguh. Aji-aji pamungkas telah dikeluarkan hampir sulit menentukan pemenang,namun pada suatu kesepatan ketika Ki Buyut Karsilem hampir terdesak keris yang dimiliki hancur dan meleleh menjadi air. Dua Durjana tersebut menghina dan mengolok- olok sambil tertawa terbahak-bahak, namun tak diduga sama sekali ketika kedua musuh lengah Ki Buyut Karsilem menggunakan tenaga dalam yang luar biasa seketika itu keris yang telah hancur menjadi air masuk ke mulut salah satu Durjana Sira Dipa dengan menjelma kembali menjadi sebuah keris sehingga mengoyak-ngoyak perut Sira Dipa,dan langsung menemui ajalnya. Melihat saudaranya tewas Sira Pringgga panik kabur tunggang langgang. Kubang Putat terdiri dari beberapa Blok antara lain : Blok Maja,Blok Pilangsari,BlokBantarsari, dan Blok Kubang Putat yang hanya dihuni oleh beberapa orang saja, dengan jumlah seluruhnya 16 Rumah,yaitu Blok Maja 7 Rumah, Blok Erpah 8 Rumah, dan Blok Dayeuh leutik 1 Rumah, dari tahun ketahun penduduknya semakin padat kaa diperlukan serang Peminpin. Dalam perkembangannya Pedukuhan Kubang Putat menjadi Persinggahan ,dengan pengaruh serang laki-laki sakti dan Suci yang disebut INDUNG BODAS ( Indung artinya Ibu : yang membimbing,mengasuh, Bodas berarti Suci dan Jujur ) beliau konon beasal dari Daerah Jawa Timur yang berkelana sehingga banyak meninggalkan petilasan diantara tempat yang di singgahi antara lain, di Surabaya, Demak, Tamiang Ropah sampai ke Daerah Cibinbin (Bapa Buyut Bodas ),Taraju,Cikelang,Panjalu ( Wali Rasa) yang akhirnya menetap di Pedukuhan Kubang Putat dengan Julukan Indung Bodas. Nama Kubangdeleg diambil karena pada saat itu telah terjadi sayembara adu tanding yang merebutkan seorang Putri Cantik dari Buyut Karsilem yang diadakan ditengah Kubangan yang terdapat ikan Gabus yang besar. Dalam adu tanding tersebut diadakan kir-kira Tahun 1608 M yang dimenangkan oleh Jawara bernama SYAMSUDIN.berasal dariu daerah Tambelang yang sekali gus di nikahkan denggan Putri dari Buyut Karsilem, dan keesokan harinya atas persetujuan Buyut Karsilem dan dipilih oleh semua warga maka KI Syamsudin menjadi Kepala Kampung pertama sekali gus nama Kampung dirubah dari Kubang Putat menjadi Kubangdeleg, Kubang artinya carita wadah cai / Deleg artinya Sejenis Ikan Gabus yang besar menggambarkan perjuangan yang baik dan Jujur. Sejak dulu masyarakat Kubangdeleg sangat ramah dan terbuka dengan tamu dari mana saja bahkan banyak para tamu menjadi pemuka-pemuka di antaranya : 1. Pangeran Gebang atau yang disebut Pangeran Warga Sara yang Terkenal dengan sebutan Panglima Tujuh Muara ( Muara Cilacap, Muara Majenang, Muara Onom, Muara Polan, Muara Paluh, Muara Pancar / Tegal Lampuyang, Muara Gebang/ Gunung Selayu ). 2. Pangeran Muhammad dari Selayu Bahkkan dalam perkembangannya sampai sekarang banyak pemimpin- Pemimpin / ( Kuwu ) di Desa Kubangdeleg berasal dari Daerah Luar Kubangdeleg ( Tamu yang menetap dan tinggal di Desa Kubangdeleg ). Dulu ketika Jaman Belanda Kubangdelehg terdiri dari Blok Induk (Puhun,Pahing,Manis,Wage,Keliwon ),Blok Bantarsari,Blok KampungBaru dan Blok Cikoneng,akan tetapi Blok Cikoneng pada saat itu di bumi hanguskan sehingga tidak tersisa, sekarang yang tersisa tinggal 6 Blok yaitu ( Blok Pahing, BlokPuhun, Blok Manis, BlokWage, Blok Keliwon, Blok Kampung Bantarsari dan Blok Kampung Baru ( Terdiri dari 6 Dusun dan Kepala Dusun ) Banyak Binatang yang jadi Simbol penunggu / Penjaga desa Kubangdeleg sampe sekarang diantaranya : 1. Kuda Pawana sekitar desa dan Lebak Pawana 2. Maung Pawana sekitar Desa dan Blok Pancen 3. Ular Gendang sekitar Blok Kisepat Konon Kuda Pawana adalah Jelmaan dari Pangeran Muhammad yang menggunakan baju Hikmah dalam menjaga masyarakat Desa Kubangdeleg dan Jika masyarakat Kubangdeleg ada yang memelihara kuda,maka kuda yag dipeliharnya akan mati karena penunggunya tidak rela. Kubangdeleg masuk dalam wilayah Kecamatan Karangsembung dan semenjak Tanggal 05 Bulan Oktober Tahun 2004 di mekar menjadi Kecamatan Karangwareng dengan Ibu kota Kecamatan yaitu di Desa Kubangdeleg hasil musyawarah yang di hadiri Muspida,Muspika ddan perwakilan dari 17 (Tujuh Belas ) Desa se Kecamatan Karangsembung. Semenjak itu Desa Kubangdeleg terus berbenah dengan banyaknya Pembangunan-pembangunan Infrastruktur dan Instansi-instansi Pemerintah dan kini telah memiliki Kantor Kecamatan, Polsek, SMP Negeri Karangwareng, SLB , UPT Pendidikan, Puskesmas menuju rawat inap 24 jam, Batibung Koramil 2009. Dalam catatan sejarah Kuwu / Kepala Desa yang memimpin Desa Kubangdeleg adalah sebagai berikut : 1. Syamsudin Dipilih tahun 1608 2. Mendung Dipilih tahun 1623 3. Ki Kulur Dipilih tahun 1653 4. Ki Warakas Dipilih tahun 1657 5. Nursim Dipilih tahun 1674 6. Karsilem Dipilih tahun 1716 7. Syamsudin Dipilih tahun 1725 8. Bantjet Dipilih tahun 1749 9. Lampayang Dipilih tahun 1765 10. Ki Gareng Dipilih tahun 1797 11. Ki Jaki Dipilih tahun 1806 12. Ngalambang Dipilih tahun 1821 13. Djamblang Dipilih tahun 1837 14. Ki Kanida Dipilih tahun 1841 15. Ki Tolih Dipilih tahun 1853 16. Ki Kerud Dipilih tahun 1865 17. Ki Karta Dipilih tahun 1871 18. Kramajaya Dipilih tahun 1913 19. Ki Salam Dipilih tahun 1919 20. Ki Brewes Dipilih tahun 1931 21. Ki Dulgani Dipilih tahun 1937 22. Ki Embon Dipilih tahun 1937 23. Ki Aksan Dipilih tahun 1943 24. Ki Suhari Dipilih tahun 1951 25. Ki Ciwang Dipilih tahun 1952 26. Ki Suhari Dipilih tahun 1954 27. Ki Entom Dipilih tahun 1964 28. Ki Tosin Dipilih tahun 1965 29. Ki Anwar Dipilih tahun 1973 30. Ny. Uun Yutrisni Dipilih tahun 1985 31. Agus Dustam Dipilih tahun 1995 32. H. Richyadi, S.IP Dipilih tahun 2003 33. Agus Dustam Dipilih tahun 2013 Sampai sekarang. 2. Sejarah Pembangunan Desa Tabel :1 SEJARAH PEMBANGUNAN DESA 3. Sejarah Pembangunan Desa Tabel :1 SEJARAH PEMBANGUNAN DESA TAHUN KEJADIAN YANG BAIK / KEBERHASILAN KEJADIAN YANG BURUK / KEGAGALAN 1608-1623 Ki Samsudin selaku kepala Desa Kubangdeleg yang pertama ( 15 th ) Belanda baru menjajah Indonesia 1623-1638 Ki mendung menggantikan Ki samsudin(15 th) 1638-1650 Ki Kulur menjadi Kuwu Kubangdeleg (12 th) 1650-1667 Ki Warakas menjadi Kuwu Kubangdeleg (17 th) 1667-1699 Ki Nursim menjadi Kuwu Kubangdeleg (32 th) 1699-1708 Ki Karsilem menjadi Kuwu Kubangdeleg( 9 th) 1708-1722 Ki Samsudin menjadi Kuwu Kubangdeleg (24 th) 1722-1738 Ki Banjet menjadi Kuwu Kubangdeleg(16 th) 1738-1770 Ki Lampayang menjadi Kuwu Kubangdeleg(32 th) 1770-1779 Ki Gareng menjadi Kuwu Kubangdeleg ( 9 Th) 1779-1794 Ki Jaki menjadi Kuwu Kubangdeleg (15 th) 1794-1810 Ki Ngalambang menjadi Kuwu Kubangdeleg(16 th) 1810-1830 Ki Djamblang menjadi Kuwu Kubangdeleg(20 th) 1830-1842 Ki Kanida menjadi Kuwu Kubangdeleg (12 th) 1842-1854 Ki Tolih menjadi Kuwu Kubangdeleg (12 th) 1854-1860 Ki Kerud menjadi Kuwu Kubangdeleg(6th) 1860-1866 KI Karta menjadi Kuwu Kubangdeleg(6 th) 1866-1908 Ki Kramajaya ( Kuwu Bintang ) menjadi Kuwu Kubangdeleg (42 Th) 1908-1920 Ki Salam menjadi Kuwu Kubangdeleg (12 th) 1920-1928 Ki Brewes menjadi Kuwu Kubangdeleg(8 th) TAHUN KEJADIAN YANG BAIK / KEBERHASILAN KEJADIAN YANG BURUK / KEGAGALAN 1928 Ki Dulgani menjadi Kuwu Kubangdeleg (1Hari) I Hari jadi Kuwu Di Bunuh dianggap mata – mata Belanda 1928-1932 Ki Ebon menjadi Kuwu Kubangdeleg (6 th) 1932-1940 Ki Aksan menjadi Kuwu Kubangdeleg ( 8 th) 1940-1948 Ki Suhari menjadi Kuwu Kubangdeleg (8 th) Jepang datang ke Indonesia Masyarakat Desa Kubangdeleg menjadi Pekerja Romusha 1948-1949 Ki Ciwang menjadi Kuwu Kubangdeleg (1 th) Gerombolan dibawah kepemimpinan Kartutosuwiryo di Desa KUBANGDELEG membuat ulah dengan membakar puluhan rumah serta banyak korban jiwa 1949-1951 Ki Suhari menjadi Kuwu Kubangdeleg(2 th) Pemilihan umum th 55 1953-1965 Ki Entom menjadi Kuwu Kubangdeleg (11 th) Meletus G 30 S PKI dan Kuwu serta banyak masyarakat Desa dianggap terlibat anggota PKI 1965-1973 Ki Tosin menjadi Kuwu Kubangdeleg ( 8 th) Kuwu Digantikan oleh TNI 1972 Pemilihan umum pertama masa presiden Bapak Soeharto untuk memilih wakil-wakil rakyat TK. II, TK I dan TK pusat, yang diikuti oleh 3 konstestan Bapak H. Amir mahmud berangkat haji ke makah tetapi diisukan yang berangkat haji ke Makah tdk bisa pulang 1973 Ki Anwar menjadi Kuwu Kubangdeleg (12 th) 1977 Pemilihan Umum untuk memilih wakil-wakil rakyat di TK II, TK. I dan pusat 1982 1982 Terjadi Letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, sehingga menjadikan tumbuhan dipenuhi debu hingga ternak banyak yang mati 1982 Terjadi kemarau panjang 1982 Pemilihan Umum memilih wakil-wakil rakyat 1983 Kuwu Anwar kasus dengan pembantu yang bernama Waryem 1985 Bu Uun Yutrisni menjadi Kuwu Kubangdeleg 1986 Pembuatan Gapura batas Desa 1987 Pemilihan Umum memilih wakil-wakil rakyat 1987 Listrik masuk Desa 1990 Kunjungan Menpora Abdul Gopur ke Kubangdeleg 1992 Pemilihan Umum untuk memilih wakil-wakil raky Diikuti oleh 2 partai politik dan 1 Golongan karya 1994 Pemilihan Kuwu antara Maryudi 9 Anggota Polisi ) Vs Bumbung Kosong di menangkan oleh Bumbung Kosong 1995 Bapak Agus Dustam Menjadi Kuwu Kubangdeleg 1997 Pemilihan Umumuntuk memilih wakil-wakil rakyat 1998 Prona Pertanahan 1998 Dibangun SMAN Karangsembung 1998 Dibangunnya Puskesmas Belender ( Kubangdeleg) TAHUN KEJADIAN YANG BAIK / KEBERHASILAN KEJADIAN YANG BURUK / KEGAGALAN 1999 Pemilu yang diikuti oleh 48 Partai 1999 Di mulainya Pembangunan Masjid Nuurussadah 2000 Dipilihnya Anggota BPD melalui pemilihan Langsung yang Pertama 2001 Kelantingan tanah sistem DHKP 2001 Kerja gotong royong membangun jalan plurisasi 2003 Pemilihan kuwu antara Mantan Kuwu agus dustam Vs Richyadi, yang dimenangkan oleh Richyadi Selisih 1 suara ketidak puasan Calon Agus Dustam ( Demo Ke Kabupaten ) 2004 PILPRES langsung yang dimenangkan oleh Pasangan Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kala 2004 Pembangunan Kantor Kuwu 2005 Pembangunan SLB 2005 Desa Kubangdeleg Masuk ke Kec Karangwareng 2005 Kantor Kuwu Kubangdeleg di jadikan Kantor Kecamatan Karangwareng 2006 Dibangun Kantor Camat Karangwareng 2006 Dibangun Mapolsek Karangsembung 2006 Safari Romadhon Bupati Cirebon Drs H Dedi Supardi MM 2006 Pemerintah Desa di isukan mengilep Dana BLt oleh sekelompok Orang yang ingin memecahkan keamanan Desa ( Laporan Tipikor) 2006 Mulai ditanam lengkengdi Blok Erpah oleh Bapak yanto 2006 Masyarakat bersatu membela Pemerintah Desa untuk menjawab adu domba dari sekelompik orang yang iri dengan pembangunan Desa 2007 Di bangun SMP Karangwareng 2007 Kunjungan Bupati Dedi Dalam rangka meresmikan Masjid dan Kantor Kuwu 2007 Kawinan Masal di bale Desa 2007 Desa KUBANGDELEG dapat bantuan Air Bersih dari,Uni Emirat Arab 2007 Desa KUBANGDELEG dapat bantuan Musholah bantarsari dari,Uni Emirat Arab 2007 Pemugaran total Musholah Kampung baru 2008 Kuwu Kubangdeleg Di Wisuda menjadi Sarjana Ilmu Pemerintahan 2008 Kuwu Kubangdeleg Bisa menunaikan ibadah Haji Ke makah 2008 PILKADA Gubernur Jawa Barat Yang Pertama Terpilih Pasangan Ahmad H dan Dede Y 2008 Ajudikasi tanah 2009 Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2009 yang dimenangkan oleh SBY dan Boediono 2009 H Richyadi menvcalonkan diri menjadi calon Legislatif Hasutan untuk menggulingkan Pemerintahan Desa Kubangdeleg dari Kelompok masyarakat yang diadu domba ( Demo Ke Desa) TAHUN KEJADIAN YANG BAIK / KEBERHASILAN KEJADIAN YANG BURUK / KEGAGALAN 2009 Dibangun 4 Jembatan dan Plurisasi jalan serta Hotmik Program PPIP dan bantuan Kabupaten 2010 Perbaikan Pajak Bumi dan Bangunan , Data SISMIOP ( tanah yang di klem milik PJKA masuk di dalam SPPT kepemilikan ) 2010 Pembangunan pengerasan Jalan Pertanian PNPM 2010 Pembangunan UPT Pendidikan 2010 Pembangunan Pelurisasi Jalan Dusun 03 sampai Dusun 04 dari ADD Fisik 2010 Pembangunan Talang air dari ADD Fisik 2011 Pembangunan Pelurisasi Jalan Dusun 04dari ADD Fisik 2011 Pembangunan Pelurisasi Halaman Balai Desa ADD Fisik 2011 Pembangunan Deker 6 buah Blok gang baru/kisepat ( PNPM ) 2011 Pembangunan Pemasangan Bis Beton di Musholah Dusun 03 ( Swadaya ) 2011 Pembangunan Tugu Perbatasan ADD Fisik 2011 Pembangunan Paving Block Dusun ,01,02,03,06 Program ( PLP ) 2011 Pembangunan Gedung Madrasah Dusun 03 (PNPM) 2011 Pembuatan sumur pantek ( Sumur Dangkal ) diblok Erpah turi 2011 Pembangunan Rehab Musholah Dusun 03 Swadaya dan Kas Musholah 2012 Pembangunan Pengerasan Jalan Usaha tani Blok Kisepat ( Swadya ) 2012 Pembangunan pengerasan Jalan Usaha Tani Blok Gang Baru,Kisepat ( DEPNAKER ) 2012 Pembangunan Jembatan Pawana Dusun 03 Program ( PNPM ) 2012 Pembangunan Pondasi Gedung Serbaguna Dusun 03 ADD Fisik 2012 Pembangunan Betonisasi Jalan Dusun 05 ADD Fisik 2012 Pembangunan Saluran Irigasi Blok Erpah Turi Program Peretanian 2012 Pembangunan PavingBlock Halaman Balai Desa 2012 Pembangunan Pengecatan Pagar kantor Desa dan gapura 2012 Pembangunan Jalan baru dimakam dusun 01 2012 Pembangunan Senderan ( TPT ) Dusun 06 Program Pengairan 2012 Pembangunan Pengerasan dan Senderan kemakam Dusun 01 Program ( Dapil ) 2012 Pembangunan Rutilahu 7 Buah Program, 6 Program Banprov, 1 Kabupaten H. RICHYADI, S.IP.MM

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Tokoh Wayang ARJUNA November 4, 2013putriendangfitriany Leave a comment Indonesia merupakan negeri dengan beribu macam kebudayaan, kebudayaan tersebut salah satunya tercermin dari beragam kesenian yang dimiliki. Salah satu kesenian yang dimiliki adalah seni pewayangan, baik wayang kuli maupun wayang orang. Tokoh pewayangan yang sangat terkenal salah satunya adalah Arjuna. Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam cerita Mahabharata. Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti “bersinar terang”, “putih” , “bersih”. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”. Ia dikenal sebagai anggota Pandawa yang berparas menawan dan berhati lemah lembut. Dalam Mahabharata diriwayatkan bahwa ia merupakan putra Prabu Pandu, raja di Hastinapura dengan Kunti atau Perta, putri Prabu Surasena, raja Wangsa Yadawa di Mathura. Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak senjak kecil. Pada usia muda ia mendapat gelar Maharathi atau “kesatria terkemuka”. Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arjuna terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Arjuna merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Beberapa ciri khas Arjuna versi pewayangan mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahābhārata versi India dengan bahasa Sanskerta. Dalam dunia pewayangan, Arjuna digambarkan sebagai seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa, dan berguru. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada). Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi. Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai banyak sekali istri,itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang selalu berguru kepada banyak pertapa. Berikut sebagian kecil istri dan anak-anaknya: Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada Dewi Maheswara Dewi Retno Kasimpar Dewi Dyah Sarimaya Dewi Srikandi

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

 BIOGRAFI JENDRAL SUDIRMAN    Profil dan Biografi Jendral Sudirman merupakan sosok pahlawan nasional. Beliau lahir pada tanggal 24 Januari pada tahun 1916 di kota Purbalingga, tepatnya di Dukuh Rembang. Beliau lahir dari sosok ayah yang bernama Karsid Kartowirodji, danseorang ibu yang bernama Siyem. Ayah dari Sudirman ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya merupakan keturunan Wedana Rembang. Jendral Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya yang bernama Toeridowati. Profil dan Biografi Jenderal Sudirman mengenyam pendidikan keguruan yang bernama HIK. Beliau belajar di tempat tersebut selama satu tahun. Hal ini beliau lakukan setelah selesai melaksanakan belajarnya di Wirotomo. Sudirman diangkat menjadi seorang Jendral pada umurnya yang menginjak 31 tahun. Beliau merupakan orang termuda dan sekaligus pertama di Indonesia. Sejak kecil, beliau merupakan seorang anak yang pandai dan juga sangat menyukai organisasi. Dimulai dari organisasi yang terdapat di sekolahnya dahulu, beliau sudah menunjukkan criteria pemimpin yang disukai di masyarakat. Keaktifan beliau pada pramuka hizbul watan menjadikan beliau seorang guru sekolah dasar Muhammadiyah di kabupaten Cilacap. Lalu beliau berlanjut menjadi seorang kepala sekolah. Profil dan Biografi Jendral Sudirman juga pernah masuk ke dalam belajar militer di PETA (Pembela Tanah Air) yang berada di kota Bogor. Pendidikan di PETA dilakukan oleh tentara Jepang pada sat itu. Ketika sudah menyelesaikan pendidikannya di PETA, kemudian beliau menjadi seorang Komandan Batalyon yang berada di Kroya, Jawa Tengah. Kepemimpinan beliau tidak berhenti sampai situ, beliau juga menjadi seorang panglima di kota Banyumas. Profil dan Biografi Jenderal Sudirman beliau pernah menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kota Banyumas. Jenderal Sudirman terpilih menjadi seorang panglima angkatan perang pada tanggal 12 November 1945. Beberapa perang melawan penjajah telah beliau pimpin seperti perang melawan tentara Inggris di Ambarawa, memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda II. Pada tahun 1950 beliau ini wafat. Beliau wafat karena terjangkit penyakit tuberculosis. Panglima besar Sudirman ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-05
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

ASAL MULA DUKUH SIDOREJO-SALE Dukuh Sidorejo terletak di kabupaten Rembang tepatnya berada di kecamatan Sale yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sejarah asal mula desa Sidorejo memiliki cerita yang unik dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat. Menengenai sebuah keluarga yang beranggotakan ayah, ibu dan 13 orang anak. Kurang lebih sekitar 250 tahun yang lalu atau 2 ½ abad yang lalu tinggallah sebuah keluarga miskin di tengah hutan, mereka adalah keluarga Pak Jailani dan Ibu Rusmen. Pak Jailani dan Ibu Rusmen di karuniai 13 orang anak diantaranya adalah Harto, Pono, Sugeng, Sugito, Ngasirah, Ningsih, Surip, Sri, Agung, Munandar Sarwoto, Bandi, dan yang terakhir Marni. Diantara ke 13 orang anaknya Sarwoto adalah anak yang paling cerdas, berbakti dan tampan dari saudara-saudaranya yang lain. Segala keinginanan Sarwoto selalu di penuhi Pak Jailani dan Bu Rusmen. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan saudara - saudaranya yang lain cemburu atau iri dengan perlakuan orang tua mereka yang berbeda kepada Sarwoto, karena mereka menyadari bahwa Sarwoto adalah anak yang baik. Keadaan ekonomi Pak Jailani yang sulit ditambah banyaknya anak Pak Jailani yang kebanyakan masih kecil, memaksa Harto sebagai anak tertua untuk turut membantu mencari nafkah. Setiap hari Pak Jailani dan di bantu beberapa anaknya pergi ke kebun untuk merawat jagung dan umbi-umbian. Karena setiap 2 bulan jagung dan umbi-umbian itu akan dipanen untuk kemudian ditukarkan dengan beras. Mereka menukarkan jagung dan umbi-umbian itu di desa atau daerah-daerah tertentu yang jaraknya berkilo-kilo meter dari hutan tempat mereka tinggal. Penghasilan yang hanya sedikit tentu tidak cukup untuk menyambung hidup. Akhirnya Harto memutuskan untuk bekerja di desa. Selama berhari-hari ia berjalan menempuh jarak yang sangat jauh untuk menuju desa yang banyak penduduknya, ia harus melewati hutan, sungai dan rawa-rawa untuk menuju desa tersebut. Setelah berhari-hari berjalan sampailah ia di sebuah desa, di desa inilah ia akan mencari kerja. Ia mulai menawarkan jasa atau pekerjaan apa saja kepada penduduk desa itu, tetapi tetap saja tidak ada yang membutuhkan tenaganya. Berhari-hari ia tinggal di desa itu, untuk sementara ia tinggal di surau(kalau sekarang adalah Mushola yang kecil). Untuk menyambung hidupnya Harto memakan umbi-umbian yang tumbuh liar di desa itu atau kalau tidak ia menanti belas kasihan dari penduduk setempat. Hal itu ia lakukan lantaran perut lapar karena bekal makanannya telah habis. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan seorang yang taat beragama dia adalah guru ngaji di desa itu usianyapun sudah cukup tua. Ia menawarkan pekerjaan sebagai penggembala kambing kepada Harto. Hartopun menerima tawaran guru ngaji tersebut dengan hati senang. Akhirnya ia mendapatkan pekerjaan, ia juga diperbolehkan tinggal di rumah sang guru ngaji. Selama di perjalanan menuju rumah guru ngaji, Harto memperkenalkan diri ia menceritakan perihal keluarganya. Sesampainya ia di rumah guru ngaji ia tak menyangka bahwa guru ngaji tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita, hal tersebut tentu membuat Harto semangat bekerja. Setiap harinya Harto harus menggembalakan kambing-kambing itu di hutan. Kambing yang berjumlah 87 ekor tersebut memiliki tubuh yang besar dan gemuk-gemuk di samping itu kambing-kambing tersebut bersih dan sehat. Setiap pagi kambing-kambing itu dibawanya kehutan kemudian ia lepaskan, sementara ia duduk di bawah pohon sambil memantau kambing-kambing tersebut. Ketika matahari hampir tenggelam Harto baru menggiring kambing-kambing itu kekandangnya, begitulah rutinitas Harto sebagai penggembala kambing . Hingga pada suatu ketika yang tak di duga-duga dan tidak pernah terbayangkan oleh Harto saat ia sedang menggembalakn kambingnya, seorang wanita cantik datang mendekatinya. Dia adalah Fatimah anak guru ngajinya. Dia duduk di samping Harto di bawah pohon yang rindang, dia juga membawakan makanan untuk Harto. Mereka bercengkrama dan tertawa lepas di tengah hutan, Harto mencritakan semua perihal keluarganya kepada Fatimah. Tak terasa hari mulai gelap Harto mengumpulkan kambing-kambingnya kemudian menggiring kambing-kambing itu dan di bantu oleh Fatimah. Selama berbulan-bulan Harto bekerja di rumah guru ngaji sebagai penggembala kambing, Harto berhasil mengunpulkan uang yang cukup untuk orang tua dan adik-adiknya. Akhirnya ia meminta ijin untuk pulang kerumah dan berjanji akan kembali secepatnya. Hartopun memulai perjalanannya pulang kerumah yang jaraknya jauh dan berliku-liku. Sesampainya di rumah, Harto langsung menemui ibunya untuk memberikan hasil jerih payahnya. Dia juga bercerita tentang guru ngaji yang memberikan pekerjaan kepadanya serta meminta pertimbangan perihal hubungnnya dengan Fatimah anak guru ngaji pemilik kambing. Ibu Rusmen yang mendengarkan cerita anaknya ikut terharu dan ia pun menyetujui hubungannya dengan Fatimah. Setelah itu Harto menyusul ayah dan adik-adiknya di kebun, ia sangat rindu kepada keluarganya, adik-adiknyapun demikian rindu kepada kakaknya, mereka sekarang telah tumbuh menjadi besar-besar. Harto tidur di rumah hanya satu malam keesokan harinya ia harus kembali ke desa ke rumah guru ngajinya karena ia masih punya tanggung jawab terhadap kambing kambing itu. Di sepanjang jalan Harto hanya memikirkan Fatimah, dia sangat cantik, rambutnya panjang, matanya lebar, serta kulitnya putih mulus. Sesampainya Harto di rumah guru ngaji, Harto langsung mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Fatimah. Hal tersebut mendapatkan tanggapan yang baik dari guru ngajinya. Dia juga tak mau mengulur-ulur waktu , dia langsung menikahi Fatimah hari itu juga. Cukup mengundang tetangga dekat serta beberapa sanak saudara pernikahan itupun dilangsungkan. Selang beberapa hari setelah pernikahan mereka, Harto mengajak isterinya untuk tinggal di rumah orang tua Harto. Isterinyapun sangat senang mendengar ajakan suaminya itu. Fatimah dan Harto memulai perjalanan esok hari, karena sore sebelumya hujan , jalanpun menjadi licin. Setelah bersusah payah melewati jalanan yang sangat licin sampailah mereka di gubuk orang tua Harto. Seluruh keluarga Harto menyembutnya dengan hati bahagia. Harto juga memperkenalkan keluarganya satu per satu , ketika Fatimah berkenalan dengan Sarwoto dia langsung menaruh hati kepada Sarwoto begitupun sebaliknya. Hal tersebut membuat Fatimah betah tinggal di tengah hutan yang jauh dari perkampungan yaitu tinggal di rumah orang tua Harto. Tingkah laku Ftaimah yang berbeda serta gelagat Sarwoto yang tak seperti biasanya tentu membuat seisi rumah keheranan. Tapi hal tersebut tidak di hiraukan oleh Harto, Harto mencintai Fatimah dan Fatimah mencintainya itulah yang di ketahui Harto. Ia tak mengira kalau Fatimah telah berselingkuh dengan adiknya Sarwoto. Ketampanan Sarwoto telah membuat Fatimah terpikat, semakin hari ia semakin mencintainya. Sarwotopun sama ia juga jatuh cinta kepada Fatimah yang cantik jelita. Merekapun akhirnya mempunyai hubungan khusus di belakang Harto. Sedikitpun Harto tidak mencurigai istrinya justru dia semakin mencintai Fatimah lantaran ia sedang hamil yang dia pikir itu adalah anaknya. Hingga suatu ketika Fatimah tidak dapat membendung lagi perasaannya kepada Sarwoto yang usianya lebih muda darinya. Ia menemui Sarwoto kemudian mengajaknya kesungai yang jaraknya dekat dengan kebun Pak Jailani. Disana mereka bercanda ria layaknya sepasang kekasih. Hal tersebut di ketahui oleh Marni yang tidak sengaja melihat mereka berdua di sungai. Waktu itu Marni disuruh ibunya kekebun untuk mengambil beberapa singkong untuk makan malam, ketika ia ingin menyeberangi sungai ia melihat kakaknya Sarwoto bersama kakak iparnya Fatimah, ia pun mengintip di balik pohon besar di pinggir sungai. Hari berikutnya Marni menemui kakaknya Harto yang sedang membuat sapu lidi dari daun kelapa yang sudah kering. Ia duduk di samping Harto, sebenarnya ia tak sampai hati menceritakan semua yang dilihatnya di sungai itu. Tapi apa boleh buat semua demi kebaikan kakaknya, akhirnya dia mneceritakan kepada Harto. Harto ynag mendengar cerita adiknya itu malah marah-marah, ia tak mempercayai Marni. Dan Marni berusaha keras membuat kakaknya percaya atas ucapannya, hal tersebut membuat Harto semakin marah. Tanpa pikir panjang Harto langsung mengambil pisau dan menusukkannya di kaki Marni. Marni menangis menahan sakit, darah yang keluar dari kaki kiri yang di tusuk pisau itu sangat banyak hingga mengalir ketanah dan berhenti pada sebuah lubang yang dalam. Harto tidak memperdulikan Marni yang menagis karena tusukan pisaunya, ia langsung menemui istrinya di dapur. Harto sangat kaget ketika melihat tangan Sarwoto memegang perut Fatiamah yang sudah besar. Fatimahpun ketakutan melihat suaminya dengan tampang menyeramkan, mukanya bengis, dan matanya merah melotot tajam. Hartopun melakukan hal yang sama ia lakukan kepada Marni , ia mengambil pisau hendak membunuh Fatimah. Tetapi Fatimah lari keluar rumah, Hartopun terus mengejar Fatimah, akhirnya Fatimah terpeleset dan jatuh kedalam lubang. Di dalam lubang itu banyak sekali pudak (semut merah), pudak-pudak itu mengerubungi tubuh Fatiamah hingga Fatimah meninngal dunia. ~”~ Seiring berjalannya waktu Harto mulai melupakan Fatimah dan dia menikah lagi dengan gadis desa pilihannya. Beberapa bulan kemudian disusul adik Harto yang ke-2 juga menginginkan untuk menikah begitu seterusnnya sampai adik Harto yang terakhir. Hal ini membuat Pak Jailani berniat untuk membabat seluruh hutan tersebut agar dijadikan tempat tinggal (rumah bagi setiap kepala keluarga). Setelah hutan di babat dan rumah-rumah didirikan, kini menjadi sangat ramai hingga dinamailah desa Pudakrejo. Pudak berasal dari semut merah yang membunuh Fatimah dan Rejo karena desa itu sangat ramai. Konon kabarnya semut merah yang membunuh Fatimah itu berasal dari darah Marni yang manis yang ditusuk kakinya oleh Harto. ~”~ Hingga suatu ketika ada suatu perlombaan antar desa dan digantilah nama Pudakrejo menjadi Sidorejo yang artinya desa kecil yang ramai karena masyarakatnya merupakan satu keluarga. Hingga sampai saat ini pada waktu tertentu di desa Sidorejo masih banyak di temui semut merah yang menurut mitos semut-semut itu membawa kesejahteraan bagi warga desa Sidorejo. Selang beberapa tahun kemudian sebagian besar anak Pak Jailani melakukan urbanisasi guna meningkatkan ekonomi keluarga. Dan Pak Jailani meninggal dunia karena sering sakit lantaran sudah tua kemudian disusul pula isterinya meninggal dunia. Mayat keduanya di makamkan secara berdampingan sehingga oleh masyarakat setempat dinamakan kuburan kedhono-kedhini (suami-isteri) Dikarenakan ruamah Pak Jailani kosong selama bertahun-tahun akhirnya pada tahun 2001 rumah itu di jual kepada oraganisasi Muhammadiyah kecamatan Sale, guna di runtuhkan untuk didirikan mushola Muhammadiyah yang sekarang mushola tersebut di beri nama mushola An-Nur yang berlokasi di dukuh Sidorejo.

aku

Last Update: 2014-11-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

gooNENEK GAYUNG Menurut cerita dan isu yang beredar tentang nenek gayung ini, disebutkan bahwa si nenek berkeliaran di sekitar wilayah Jakarta Timur. Biasanya si nenek bergayung ini akan mengajak ngobrol korbannya. Jika korban menanggapi dan melayani ajakan obrolan dari sang nini-nini tersebut, maka biasanya tak lama kemudian akan mati... Wew.. serem juga ya. Isu lain menyebutkan bahwa jika korban bercakap-cakap dengan si nenek, maka malamnya si nenek gayung akan datang, menggelar tikar dan memandikan korban dengan gayungnya, dan biasanya, esoknya si korban akan meninggal... Berikut ini adalah beberapa versi cerita lain dari Nenek Gayung yang dikumpulkan dari berbagai Forum : Waktu itu ada 2 pria berkendaraan sepeda motor, mereka melihat nenek-nenek berpakaian hitam dan membawa gayung serta tikar. Lalu si 2 orang itu mendatangi nenek itu dan nanya "Nenek mau kemana?". Nenek pun menjawab "Nenek mau mati, nenek minta dimandiin nak" kata nenek itu. Setelah lama ngobrol, 2 orang itu pun mengantar si nenek naik motor. Setelah beberapa lama tiba2 motor itu jatuh! Warga pun mengerubungi motor itu, dan ternyata 1 orang meninggal dan 1 orang lagi selamat, cuma sosok sang nenek itu tak terlihat batang hidungnya. Di Jakarta tengah di bangun Busway, dan si nenek itu ceritanya sedang mencari tumbal buat pembangunan itu, karena dipercaya nenek tersebut adalah sosok misterius yang memiliki ilmu hitam. Nenek itu beredar di sekitar Jakarta Timur. Jika kita ngobrol dengan nenek itu, pada malam hari nya si nenek akan datang mengunjungi anda, kemudian akan dimandiin sama si nenek dan besoknya meninggal. Mungkin dari percakapan gw sama temen gw paling pesek, Risma kalian udah bisa nebak apa maksud dari nenek-nenek gayung ini. Yap. Jadi ada suatu kehebohan yang terjadi di sekitar Bekasi Barat ampe Jakarta Timur yang udah jadi trending topic banget di Facebook, Twitter, bahkan inbox gw penuh sama SMS berisi peringatan akan kehadiran nenek-nenek gayung. Jadi, konon katanya. Warga-warga Penggilingan (JakTim) itu udah pada resah karena kehadiran sesosok hantu, jin, setan, dan sebangsanya yang udah mengancam keselamatan mereka. Konon katanya (lagi) itu nenek-nenek gayung, nggak cuman bawa gayung. Tapi juga bawa payung dan tiker. Dan kalau ada manusia yang nyapa, nanya-nanya mau kemana, atau Cuma sekedar melihat nenek-nenek gayung itu, dua atau tiga hari kemudian manusia yang nyapa, nanya-nanya, dan sekedar ngeliat tu nenek-nenek gayung bakalan mati tragis. Asalnya nenek gayung ini masih banyak yang nanya-nanya. Jadi belum ada yang tau pasti. Atau kalo kalian ada yang tau, cerita dong dikomennya. Oh iya. Jadi ntu nenek-nenek nggak Cuma menetap di suatu tempat. Tapi dia ngayap gitu kemana-mana. Yang terakhir gw denger sih lagi ada di daerah Cakung gituh. (alamakk... dekat sekolah itu.. -_-) NYARI TUMBAL? Ummm... nggak tau juga sih. Kebenaran akan isu ini juga belum sangat pasti. Banyak yang bilang cerita ini hanya sekedar nyari sensasi. Isu ini Cuma hoax yang bakalan ngalahin sensasi jambul khatulistiwa terowongan casablanca dan gorong-gorong sudirmannya Syahrini. Ada juga yang bilang kalo itu nenek-nenek gayung beneran ada. Dengan bukti banyak yang tewas setelah melihat atau menyapa nenek-nenek gayung itu. gle terjemahan bahasa indonesia bahasa jawa

google agensi Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-03
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Untuk upacara siraman sebetulnya jumlah orang yang akan memandikan tidak dibatasi, semakin banyak semakin baik asal jumlahnya ganjil. Namun untuk menjaga agar calon pengatin tidak kedinginan maka jumlah orang yang akan memandikan ditetapkan pitu (tujuh orang) yang berarti pitulungan. Siraman ini akan diakhiri oleh juru rias atau sesepuh (orang yang dituakan) dengan memecah kendi/klenthing dari tanah liat.google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Sipnopsis Drama Pada suatu haris Lisa sedang menceritakan sesuatu kepada Nuri. Lisa mengatakan kepada Nuri bahawa Ilya adalah sosok sahabat yang tidak baik. Lisa menganggap Ilya sangat tidak peduli dengan sahabatnya, bahkan dia bisa bersikap seperti tidak kenal ketika dimintai pertolongan oleh temannya. Namun, Nuri tidak serta merta percaya dengan pernyataan Lisa. Nuri meyakini bahwa Lisa hanya salah paham. Naskah Dialog Drama (Mulai) Lisa : Kamu tahu tidak, ternyata Ilya itu bukanlah seorang teman yang baik. Nuri : Memangnya kenapa? Kenapa kamu bilang kalau Ilya itu bukan seorang teman yang baik? Apa yang sudah dilakukan oleh Ilya? Lisa : Jika Ilya itu benar-benar ssosok teman yang baik, dia tidak mungkin membiarkan aku kehujanan ditengah-tengah malam. Nuri : Maksud kamu membiarkan kamu kehujanan ditengah-tengah malah bagaimana? Aku kurang paham maksud kamu itu? Lisa : Begini, kemarin aku kan berkunjung ke rumah tanteku. Aku pulangnya agak malam karena cuaca kebetulan lagi gerimis terus. Kemarin itu aku juga tidak bawa motor karena pas perginya dianterin sama temenku, Erni. Waktu aku berada dijalan... untuk menunggu taksi, taksinya tidak ada yang muncul. Eh.. ternyata aku lihat Ilya sedang mengendarahi sepeda motor, entah dia darimana. Nah, ketika aku berhentikan dia, dia malah terus jalan saja. Nuri : Yang benar saja? Jangan-jangan Ilya tidak tahu kalau kamu memanggilnya? Lisa : Tidak tahu bagaimana? Dia itu dekat sekali waktu aku mencoba memberhentikan dia. apalagi aku juga sangat keras waktu memanggilnya. Nuri masih tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Nuri, karena menurut Nuri selama ini Ilya dianggapnya sebagai sosok teman yang sangat peduli dengan teman-temannya. Nuri : Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan coba menayakan masalah ini sama Ilya. Mungkin besok aku akan ketemu dia. Lisa : Ya, silakan saja. Eh.. sebentar lagi aku ada janji sama Erni. Okay, kalau begitu aku pulang dulu ya... Nuri : Okay. Hati-hati dijalan! Lisa pun beranjak menghampiri motornya yang dia parkir dibawah pohon beringin. Pada keesokan harinya Nuri pun bertemu dengan Ilya. Nuri dengan segera menanyakan kebenaran perkataan Lisa terkait sikapnya kepada Lisa. Nuri : Ilya, aku mau nanya sama kamu. Ilya : Mau nanya apa? Silakan, sepertinya kamu serius amat! Nuri : Apa iya kemarin kamu main jalan saja waktu si Lisa sedang kehujanan dijalan pas malam-malam dia habis datang dari tumah tantenya? Ilya pun sangat terkejut dengan pertanyaan Nuri, karena dia merasa tidak keluar rumah sama sekali pada waktu itu. Ilya : Yang benar saja? Kemarin aku tidak kemana-mana. Aku dirumah saja, soalnya waktu itu aku kurang enak badan. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya ke mamaku. Seperti yang diyakini Nuri, bahwa Lisa salah paham dengan Ilya, karena Ilya bukanlah sosok seperti yang dianggap Lisa. Nuri : Tidak usah.. aku percaya sama kamu. Aku hanya ingin memastikan apakah benar apa yang dikatakan oleh Lisa, atau hanya salah paham saja. Ilya : Memangnya Lisa yakin sekali kalau yang dilhitanya kemarin malam itu aku? Bagaimana dia bisa yakin sekali? Nuri : Ya sudah, tak usah dipikirkan. Nanti aku ngomong sama dia kalau yang dia lihat malam itu bukanlah kamu. Ilya pun merasa tidak nyaman dengan Lisa. Dia melarang Nuri utuk menemui Lisa untuk menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Ilya memutuskan untuk menjelaskannya sendiri kepada Lisa. Ilya : Nuri, kamu tidak usah menjelaskan masalah ini sama Lisa ya.. biar aku saja yang ngomong sama dia, soalnya aku merasa tidak enak sama dia. Nuri : Ya sudah, kalau begitu kamu bisa temui dia besok ditempat kita bisa ngumpul. Kamu jelaskan ke dia bahwa yang dia lihat kemarin malam itu bukan kamu. Ilya : Ya, tentu. Keesokan harinya, pada sore hari Ilya pun mendatangi tempat dimana dia dan Lisa serta Nuri sering ngumpul bersama. Kebetulan pada saat itu Lisa memang sudah berada disana. Lisa : Eh, kamu Ilya.. sendirian saja? Memangnya Nuri kemanan? Ilya : Aku tidak tahu, mungkin dia lagi bantu-bantu ibunya dirumah. Aku mau nanya sama kamu. Apa iya kemarin kamu melihat aku di jalan.... Lisa : Kok kamu malah nanya aku? Memang benar kan, kemarin kamu bawa motor malam-malam dan waktu ku panggil kamu diam saja? Ilya : Lisa, kamu itu salah orang. Bagaimana mungkin itu aku, soalnya aku lagi dirumah. Waktu itu aku kurang enak badan. Lisa lantas sangat terkejut dengan penjelasan Ilya. Lisa : Yang benar saja kamu! Ilya : Iya benar, kalau kamu kurang yakin silakan tanya ke mamaku, adikku, atau tanya ke ayahku. Mereka pasti bilang aku memang sedang dirumah. Lisa tediam sejenak, karena dia merasa yakin sekali bahwa yang dilihatnya kemarin adalah wajah Ilya. Lisa : Apa iya orang lain? Ya sudah kalau itu memang bukan kamu, lalu dia itu siapa? Kenapa wajahnya sama pesis seperti kamu. Ilya : Begini saja, warna motor itu apa? Nomor platnya berapa? Lisa : Kalau warnanya aku ingat, motor itu warna biru. Nomor platnya aku tidak tahu karena waktu itu kan hujannya lumayan deras. Ilya : Warna biru? Kamu kan tahu kalau aku tidak memiliki motor berwarna biru. Kamu sering datang kerumahku, satu-satunya motor dirumahku itu kan berawarna hitam. Lisa pun mulai yakin bahwa yang dilihatnya memang bukanlah Ilya, melainkan orang lain yang memiliki kesamaan rupa dengan Ilya. Lisa akhirnya meminta maaf sama Ilya. Lisa : Ilya, kamu benar. Kamu tidak punya motor berwarna biru. Maaf, aku sudah menyangka kamu yang tidak-tidak. Kamu mau kan memaafkan aku? Ilya : Dengan senang hati. Sekarang aku sudah merasa enakan, karena akhirnya kamu tahu bahwa itu bukanlah aku. Bagaimana mungkin aku tega mentelantarkan kamu di jalan malam-malam hari, apalagi pada saat itu hujan deras. google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

C. Kesenian Keraton Yogyakarta Yang Dapat Melestarikan Nilai-Nilai Sosio Kultural Budaya Jawa Keraton Yogyakarta yang tidak hanya melaksanakan fungsinya sebagai wahana pelestarian budaya juga melakukan interaksi terhadap masyarakat sebagai wujud rasa sosial yang tinggi, mengingat bahwa Keraton Yogyakarta merupakan kediaman gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana X. Contoh nyatanya adalah hal-hal yang terjadi belum lama ini, bahwa 40 ribuan warga melakukan pisowanan ageng ke Keraton Yogyakarta. Pisowanan ageng tersebut bertujuan untuk meminta penjelasan atau klarifikasi dari Sri Sultan HB X. Tradisi ini dilakukan ketika terjadi kebuntuan informasi, sehingga rakyat mendatangi raja. Mereka memohon penjelasan langsung dari sang raja agar memperoleh kepuasan atas informasi yang tengah beredar di masyarakat. Menurut Gregorius Sahdan, pisowanan ageng ini merupakan tradisi baru dalam konteks hubungan kawula lan gusti di Daerah Istimewa Yogyakarta.. Dari semua ini terlihat jelas bahwa Keraton Yogyakarta melaksanakan peran sosialnya. Sedangkan nilai-nilai budaya Keraton dapat dilihat dengan melihat ritual semedi. Dimana Keraton meyakini bahwa siapa yang sedang bersemedi maka ia selalu berada dalam keagungan Tuhan YME. Di dalam ritual ini, orang yang bersemedi akan menghadapi berbagai rintangan. Contohnya, saat berada di Pasar Beringharja, maka gambaran rintangannya adalah wanita-wanita cantik, makanan lezat, minuman segar, kain bagus berwarna-warni dan bau-bauan yang wangi dan sedap. Sedangkan dalam Kepatihan akan dijumpai rintangan yang berupa kekuasaan, derajat, pangkat dan uang. Keraton Yogyakarta melakukan upacara ritual tiap tahunnya yang 11 dikenal dengan nama upacara grebeg. Grebeg adalah upacara keagamaan yang dilakukan 3 kali dalam setahun. Bertepatan pada lahinya Nabi Muhammad SAW (grebeg Maulud), hari raya idul fitri (grebeg Syawal) dan pada hari raya idul adha (grebeg Besar).pada hari itu, Sri Sultan berkenan memberi sedekah berupa gunungan-gunungan berisikan makanan dan lain-lain kepada rakyat. Dan tak kalah nilai budayanya adalah pertunjukan seni. Keraton Yogyakarta sering menggelar seni pertunjukan. Acara ini menjadi ritual fungsional dari istana. Di antaranya, adalah pertunjukan Tari Bedoyo yang disucikan, pertunjukan wayang kulit, wayang wong dan lain-lain. Gambaran dari wayang wong adalah suatu drama tarian berdasarkan cerita Mahabharata dan Ramayana. Pada zaman dahulu, wayang ini hanya ditarikan di Keraton atau di tempat tinggal para ningrat. Hanya orang yang khusus yang dapat membawakan drama tari ini. Drama ini hanya ditarikan pada acara khusus seperti pada ulang tahun raja atau pangeran, peringatan penobatan raja, atau pada penyambutan tamu agung. Dari semua contoh di atas, sudah terlihat jelas bahwa Keraton Yogyakarta yang memiliki bangunan-bangunan, lapangan-lapangan, halaman –halaman serta acara-acara seni yang mengandung unsur budaya dapat melestarikan nilai-nilai sosio kultural bangsa Indonesia secara turun temurun. D. Keraton Yogyakarta sebagai Objek Wisata Budaya. Keraton Yogyakarta sarat dengan nilai estetis atau keindahan budaya Jawanya yang khas. Di samping sebagai pusat budaya Jawa, Keraton Yogyakarta juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Banyak sekali turis asing 12 yang datang ke Keraton Yogyakarta mengingat bahwa Yogyakarta merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia dan tempat kediaman gubernurnya ada di Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa dan sekaligus sebagai Cultural Tourist Object, dihadapkan pada tantangan yang semakin berat dan kompleks. Untuk itu, perbaikan dan pembenahan mutlak dilakukan supaya eksistensi sebagai pusat aktivitas, pengabdian, dan pengembangan budaya Jawa tetap terjaga. Salah satu pembenahan yang dilakukan Keraton adalah penataan internal menyangkut sumberdaya manusia. Pembenahan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak lama yaitu pada saat Peringatan Naik Tahta ke-12 dan sampai sekarang masih tetap dilakukan. Semua itu dilakukan agar Keraton dapat memikat hati siapapun yang melihatnya dengan berbagai keindahan yang dimilikinya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-11-02
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

google agensi indonesia jawa

Last Update: 2014-10-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong. Arjuna memiliki dasanama sebagai berikut : Herjuna, Jahnawi, Sang Jisnu, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat bertapa di gunung Indrakila. Arjuna sendiri berarti putih atau bening. Pada saat lahir, sukma Arjuna yang berwujud cahaya yang keluar dari rahim ibunya dan naik ke kayangan Kawidaren tempat para bidadari. Semua bidadari yang ada jatuh cinta pada sukma Arjuna tersebut yang bernama Wiji Mulya. Kegemparan tersebut menimbulkan kemarahan para dewa yang lalu menyerangnya. Cahaya yang samar samar tersebut lalu berubah menjadi sesosok manusia tampan yang berpakaian sederhana. Hilangnya sukma Arjuna dari tubuh Dewi Kunthi menyebabkan kesedihan bagi Prabu Pandu. Atas nasehat Semar, Pandu lalu naik ke kayangan dan meminta kembali putranya setelah diberi wejangan oleh Batara Guru. Sejak muda, Arjuna sudah gemar menuntut ilmu. Ia menuntut ilmu pada siapapun. Menurutnya lingkungan masyarakat adalah gudang dari ilmu. Guru-gurunya antara lain adalah Resi Drona, dari Resi Dona ia mendapat senjata ampuh yang bernama panah Cundamanik dan Arya Sengkali, yang kedua adalah Begawan Krepa, Begawan Kesawasidi, Resi Padmanaba, dan banyak pertapa sakti lainnya. Dalam kisah Mahabarata, Arjuna berguru pada Ramaparasu, namun dalam kisah pewayangan, hal tersebut hampit tidak pernah disinggung.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indoneSENI TUTUR BEGALAN Banyumas merupakan daerah wilayah Jawa Tengah yang terletak di perbatasan Jawa Barat yang dipengaruhi oleh budaya Sunda dan Jawa menjadikan Banyumas memiliki kekhasan bahasa dan budaya Banyumasan. Banyumas sangat kaya kesenian yang sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang sampai sekarang, misalnya Kesenian lengger, Aksimidha, Angguk, Aplang, Baritan, Bongkel, Buncis, Calung, Ebeg, Begalan, dan lain sebagainya. Kesenian tersebut pada awalnya memiliki fungsi sebagai upacara keagamaan, upacara selamatan desa, maupun upacara selamatan pasca panen. Namun, sekarang ini kesenian tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga fungsi kesenian pun berubah menjadi sarana hiburan. Walaupun masih ada beberapa kesenian yang masih dipercayai sebagai upacara penolak bala di antaranya Seni Tutur Begalan. Seni tutur Begalan merupakan kesenian yang dilaksanakan pada upacara pernikahan, dilakukan oleh seseorang yang bernama Surantani memikul alat-alat rumah tangga kemudian datang seorang begal bernama Suradenta bermaksud merampas alat-alat rumah tangga tersebut. Dan terjadilah Hakikat Seni Tutur Begalan Begalan adalah seni tutur tradisional sebagai sarana upacara pernikahan. Begalan menggambarkan peristiwa perampokan terhadap barang bawaan dari pihak mempelai pria oleh seorang begal. Begalan dilakukan oleh dua orang dewasa yang merupakan sedulur pancer lanang dari pihak mempelai pria. Kedua pemain begalan menari di depan kedua mempelai dengan membawa peralatan rumah tangga yang disebut brenong kepang. Peralatan tersebut memiliki makna simbol dan berisi falsafah Jawa yang berguna bagi kedua mempelai yang akan menempuh hidup baru mengarungi kehidupan berumah tangga. Begal artinya sama dengan perampok, yaitu orang yang pekerjaannya merampas barang milik orang lain untuk dirinya sendiri. Istilah begalan dalam kesenian ini tidak berarti merampas barang orang lain, tetapi menjaga keselamatan apabila ada roh-roh jahat yang datang dan mengganggu. Begalan dilakukan sebagai salah satu syarat guna menghindari kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam atau mengganggu upacara pernikahan. Jadi istilah begalan di sini sebagai syarat/krenah/pangruwat guna menghindari segala kekuatan gaib yang mengancam keselamatan kedua mempelai. Arti begalan dijelaskan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun. Maksudnya dijauhkan dari mara bahaya. Mereka takut apabila nanti ada gangguan dari kekuatan yang selalu mengelilingi dan mengancam dirinya. Maka upacara ruwatan termasuk upacara begalan. sia ke bahasa jawa

google ageSENI TUTUR BEGALAN Banyumas merupakan daerah wilayah Jawa Tengah yang terletak di perbatasan Jawa Barat yang dipengaruhi oleh budaya Sunda dan Jawa menjadikan Banyumas memiliki kekhasan bahasa dan budaya Banyumasan. Banyumas sangat kaya kesenian yang sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang sampai sekarang, misalnya Kesenian lengger, Aksimidha, Angguk, Aplang, Baritan, Bongkel, Buncis, Calung, Ebeg, Begalan, dan lain sebagainya. Kesenian tersebut pada awalnya memiliki fungsi sebagai upacara keagamaan, upacara selamatan desa, maupun upacara selamatan pasca panen. Namun, sekarang ini kesenian tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga fungsi kesenian pun berubah menjadi sarana hiburan. Walaupun masih ada beberapa kesenian yang masih dipercayai sebagai upacara penolak bala di antaranya Seni Tutur Begalan. Seni tutur Begalan merupakan kesenian yang dilaksanakan pada upacara pernikahan, dilakukan oleh seseorang yang bernama Surantani memikul alat-alat rumah tangga kemudian datang seorang begal bernama Suradenta bermaksud merampas alat-alat rumah tangga tersebut. Dan terjadilah Hakikat Seni Tutur Begalan Begalan adalah seni tutur tradisional sebagai sarana upacara pernikahan. Begalan menggambarkan peristiwa perampokan terhadap barang bawaan dari pihak mempelai pria oleh seorang begal. Begalan dilakukan oleh dua orang dewasa yang merupakan sedulur pancer lanang dari pihak mempelai pria. Kedua pemain begalan menari di depan kedua mempelai dengan membawa peralatan rumah tangga yang disebut brenong kepang. Peralatan tersebut memiliki makna simbol dan berisi falsafah Jawa yang berguna bagi kedua mempelai yang akan menempuh hidup baru mengarungi kehidupan berumah tangga. Begal artinya sama dengan perampok, yaitu orang yang pekerjaannya merampas barang milik orang lain untuk dirinya sendiri. Istilah begalan dalam kesenian ini tidak berarti merampas barang orang lain, tetapi menjaga keselamatan apabila ada roh-roh jahat yang datang dan mengganggu. Begalan dilakukan sebagai salah satu syarat guna menghindari kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam atau mengganggu upacara pernikahan. Jadi istilah begalan di sini sebagai syarat/krenah/pangruwat guna menghindari segala kekuatan gaib yang mengancam keselamatan kedua mempelai. Arti begalan dijelaskan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun. Maksudnya dijauhkan dari mara bahaya. Mereka takut apabila nanti ada gangguan dari kekuatan yang selalu mengelilingi dan mengancam dirinya. Maka upacara ruwatan termasuk upacara begalan.nsi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indoneSENI TUTUR BEGALAN Banyumas merupakan daerah wilayah Jawa Tengah yang terletak di perbatasan Jawa Barat yang dipengaruhi oleh budaya Sunda dan Jawa menjadikan Banyumas memiliki kekhasan bahasa dan budaya Banyumasan. Banyumas sangat kaya kesenian yang sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang sampai sekarang, misalnya Kesenian lengger, Aksimidha, Angguk, Aplang, Baritan, Bongkel, Buncis, Calung, Ebeg, Begalan, dan lain sebagainya. Kesenian tersebut pada awalnya memiliki fungsi sebagai upacara keagamaan, upacara selamatan desa, maupun upacara selamatan pasca panen. Namun, sekarang ini kesenian tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga fungsi kesenian pun berubah menjadi sarana hiburan. Walaupun masih ada beberapa kesenian yang masih dipercayai sebagai upacara penolak bala di antaranya Seni Tutur Begalan. Seni tutur Begalan merupakan kesenian yang dilaksanakan pada upacara pernikahan, dilakukan oleh seseorang yang bernama Surantani memikul alat-alat rumah tangga kemudian datang seorang begal bernama Suradenta bermaksud merampas alat-alat rumah tangga tersebut. Dan terjadilah Hakikat Seni Tutur Begalan Begalan adalah seni tutur tradisional sebagai sarana upacara pernikahan. Begalan menggambarkan peristiwa perampokan terhadap barang bawaan dari pihak mempelai pria oleh seorang begal. Begalan dilakukan oleh dua orang dewasa yang merupakan sedulur pancer lanang dari pihak mempelai pria. Kedua pemain begalan menari di depan kedua mempelai dengan membawa peralatan rumah tangga yang disebut brenong kepang. Peralatan tersebut memiliki makna simbol dan berisi falsafah Jawa yang berguna bagi kedua mempelai yang akan menempuh hidup baru mengarungi kehidupan berumah tangga. Begal artinya sama dengan perampok, yaitu orang yang pekerjaannya merampas barang milik orang lain untuk dirinya sendiri. Istilah begalan dalam kesenian ini tidak berarti merampas barang orang lain, tetapi menjaga keselamatan apabila ada roh-roh jahat yang datang dan mengganggu. Begalan dilakukan sebagai salah satu syarat guna menghindari kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam atau mengganggu upacara pernikahan. Jadi istilah begalan di sini sebagai syarat/krenah/pangruwat guna menghindari segala kekuatan gaib yang mengancam keselamatan kedua mempelai. Arti begalan dijelaskan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun. Maksudnya dijauhkan dari mara bahaya. Mereka takut apabila nanti ada gangguan dari kekuatan yang selalu mengelilingi dan mengancam dirinya. Maka upacara ruwatan termasuk upacara begalan. sia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Karna menjadi panglima perang, dan berhasil menewaskan musuh. Yudhisthira minta agar Arjuna menahan serangan Karna. Arjuna menyuruh Ghatotkaca untuk menahan dengan ilmu sihirnya, Ghatotkaca mengamuk, Korawa lari tunggang-langgang. Karna dengan berani melawan serangan Ghatotkaca. Namun Ghatotkaca terbang ke angkasa. Karna melayangkan panah, dan mengenai dada Ghatotkaca. Satria Pringgandani ini limbung dan jatuh menyambar kereta Karna, tetapi Karna dapat menghindar dan melompat dari kereta. Ghatotkaca mati di atas kereta Karna. Para Pandawa berdukacita. Hidimbi pamit kepada Dropadi untuk terjun ke perapian bersama jenasah anaknya. Pertempuran terus berkobar, Drona berhasil membunuh tiga cucu Drupada, kemudian membunuh Drupada, dan raja Wirata. Maka Dhrtadyumna ingin membalas kematian Drupada. Kresna mengadakan tipu muslihat. Disebarkannya berita, bahwa Aswatthama gugur. Yudhisthira dan Arjuna mencela sikap Kresna itu. Kemudian Bhima membunuh kuda bernama Aswatthama, kemudian disebarkan berita kematian kuda Aswatthama. Mendengar berita kematian Aswatthama, Drona menjadi gusar, lalu pingsan. Dhrtadyumna berhasil memenggal leher Drona. Aswatthama membela kematian ayahnya, lalu mengamuk dengan menghujamkan panah Narayana. Arjuna sedih atas kematian gurunya akibat perbuatan yang licik. Arjuna tidak bersedia melawan Aswatthama, tetapi Bhima tidak merasakan kematian Drona. Dhrtadymna dan Satyaki saling bertengkar mengenai usaha perlawanan terhadap Aswatthama. Kresna dan Yudhisthira menenangkan mereka. Pandawa diminta berhenti berperang. Tapi Bhima ingin melanjutkan pertempuran, dan maju ke medan perang mencari lawan, terutama ingin menghajar Aswatthama. Saudara-saudaranya berhasil menahan Bhima. Arjuna berhasil melumpuhkan senjata Aswatthama. Putra Drona ini lari dan sembunyi di sebuah pertapaan. Karna diangkat menjadi panglima perang. Banyak perwira Korawa yang memihak kepada Pandawa. Pada waktu tengah malam, Yudhisthira meninggalkan kemah bersama saudara-saudaranya. Mereka khidmat menghormat kematian sang guru Drona, dan menghadap Bhisma yang belum meninggal dan masih terbaring di atas anak panah yang menopang tubuhnya. Bhisma memberi nasihat agar Pandawa melanjutkan pertempuran, dan memberi tahu bahwa Korawa telah ditakdirkan untuk kalah. Pandawa melanjutkan pertempuran melawan Korawa yang dipimpin oleh Karna. Karna minta agar Salya mau mengusiri keretanya untuk menyerang Kresna dan Arjuna. Salya sebenarnya tidak bersedia, tetapi akhirnya mau asal Karna menuruti perintahnya. Pertempuran berlangsung hebat, disertai caci maki dari kedua belah pihak. Bhima bergulat dengan Doryudana, kemudian menarik diri dari pertempuran. Dussasana dibunuh oleh Bhima, sebagai pembalasan sejak Dussasana menghina Drupadi. Darah Dussasana diminumnya. Arjuna perang melawan Karna. Naga raksasa bernama Adrawalika musuh Arjuna, ingin membantu Karna dengan masuk ke anak panah Karna untuk menembus Arjuna. Ketika hendak disambar panah, kereta yang dikusiri Kresna dirundukkan, sehingga Arjuna hanya terserempet mahkota kepalanya. Naga Adrawalika itu ditewaskan oleh panah Arjuna. Ketika Karna mempersiapan anak panah yang luar biasa saktinya, Arjuna telah lebih dahulu meluncurkan panah saktinya. Tewaslah Karna oleh panah Arjuna. Doryudhana menjadi cemas, lalu minta agar Sakuni melakukan tipu muslihat. Sakuni tidak bersedia karena waktu telah habis. Diusulkannya agar Salya jadi panglima tinggi. Sebenarnya Salya tidak bersedia. Ia mengusulkan agar mengadakan perundingan dengan Pandawa. Aswatthama menuduh Salya sebagai pengkhianat, dan menyebabkan kematian Karna. Tuduhan itu menyebabkan mereka berselisih, tetapi dilerai oleh saudara-saudaranya. Aswatthama tidak bersedia membantu perang lagi. Salya terpaksa mau menjadi panglima perang. Nakula disuruh Kresna untuk menemui Salya, dan minta agar Salya tidak ikut berperang. Nakula minta dibunuh daripada harus berperang melawan orang yang harus dihormatinya. Salya menjawab, bahwa ia harus menepati janji kepada Duryodhana, dan melakukan darma kesatria. Salya menyerahkan kematiannya kepada Nakula dan agar dibunuh dengan senjata Yudhisthira yang bernama Pustaka, agar dapat mencapai surga Rudra. Nakula kembali dengan sedih. Salya menemui Satyawati, pamit maju ke medan perang. Isteri Salya amat sedih dan mengira bahwa suaminya akan gugur di medan perang. Satyawati ingin bunuh diri, ingin mati sebelum suaminya meninggal. Salya mencegahnya. Malam hari itu merupakan malam terakhir sebagai malam perpisahan. Pada waktu fajar Salya meninggalkan Satyawati tanpa pamit, dan dipotongnya kain alas tidur isterinya dengan keris. Salya memimpin pasukan Korawa. Amukan Bhima dan Arjuna sulit untuk dilawannya. Salya menghujankan anak panahnya yang bernama Rudrarosa. Kresna menyuruh agar Pandawa menyingkir. Yudhisthira disuruh menghadap Salya. Yudhisthira tidak bersedia harus melawan pamannya. Kresna menyadarkan dan menasihati Yudhisthira. Yudhisthira disuruh menggunakan Kalimahosadha, kitab sakti untuk menewaskan Salya. Salya mati oleh Kalimahosadha yang telah berubah menjadi pedang yang bernyala-nyala. Kematian Salya diikuti oleh kematian Sakuni oleh Bhima. Berita kematian Salya sampai kepada Satyawati. Satyawati menuju medan perang, mencari jenasah suaminya. Setelah ditemukan, Satyawati bunuh diri di atas bangkai suaminya. Duryodhana melarikan diri dari medan perang, lalu bersembunyi di sebuah sungai. Bhima dapat menemukan Duryodhana yang sedang bertapa. Duryodhana dikatakan pengecut. Duryodhana sakit hati, lalu bangkit melawannya. Bhima diajak berperang dengan gada. Terjadilah perkelahian hebat. Baladewa yang sedang berziarah ke tempat-tempat suci diberi tahu oleh Narada tentang peristiwa peperangan di Hastina. Kresna menyuruh Arjuna agar Bhima diberi isyarat untuk memukul paha Duryodhana. Terbayarlah kaul Bhima ketika hendak menghancurkan Duryodhana dalam perang Bharatayudha. Baladewa yang menyaksikan pergulatan Bhima dengan Duryodhana menjadi marah, karena Pandawa dianggap tidak jujur, lalu akan membunuh Bhima. Tetapi maksud Baladewa dapat dicegah, dan redalah kemarahan Baladewa..google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indonesia ke bahasKenduren Kenduren/ selametan adalah tradisi yang sudaah turun temurun dari jaman dahulu, yaitu doa bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang di tuakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan berupa Tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng dan lauknya nantinya di bagi bagikan kepada yang hadir yang di sebut Carikan ada juga yang menyebut dengan Berkat. Carikan/ berkat Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang di doakan, dan keluarganya, kenduren itu sendiri bermacam macam jenisnya, antara lain : kenduren wetonan ( wedalan ) Di namakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir ( weton, jawa ) seseorang. Dan di lakukan oleh hampir setiap warga, biasanya 1 keluarga 1 weton yang di rayain , yaitu yang paling tua atau di tuakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari ( 1 bulan ). Biasanya menu sajiannya hanya berupa tumpeng dan lauk seperti sayur, lalapan, tempe goreng, thepleng, dan srundeng. tidak ada ingkung nya ( ayam panggang ). Kenduren Sabanan ( Munggahan ) Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaik kan para leluhur. Di lakukan pada bulan Sya’ban, dan hampir oleh seluruh masyarakat di Watulawang dan sekitarnya, khususnya yang adatnya masih sama, seperti desa peniron, kajoran, dan sekitarnya. Siang hari sebelum di laksanakan upacara ini, biasanya di lakukan ritual nyekar, atau tilik bahasa watulawangnya, yaitu mendatangi makan leluhur, untuk mendoakan arwahnya, biasanya yang di bawa adalah kembang, menyan dan empos ( terbuat dari mancung ). Tradisi bakar kemenyan memang masih di percaya oleh masyarakat watulawang, sebelum mulai kenduren ini pun, terlebih dahulu di di jampi jampi in dan di bakar kemenyan di depan pintu. Menu sajian dalam kenduren sabanan ini sedikit berbeda dengan kenduren Wedalan, yaitu disini wajib memakai ayam pangang ( ingkung ). Kenduren Likuran Kenduren ini di laksanakan pada tanggal 21 bulan pasa ( ramadan ), yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an. dalam kenduren ini biasanya di lakukan dalam lingkup 1 RT, dan bertempat di ketua adat, atau sesepuh di setiap RT. dalam kenduren ini, warga yang datang membawa makanan dari rumah masing2, tidak ada tumpeng, menu sajiannya nasi putih, lodeh ( biasanya lodeh klewek) atau bihun, rempeyek kacang, daging, dan lalapan. Kenduren Badan ( Lebaran )/ mudunan Kenduren ini di laksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 sawal ( aboge ). kenduren ini sama seperti kenduren Likuran,hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. TYang membedakan hanya, sebelum kenduren Badan, biasanya di dahului dengan nyekar ke makam luhur dari masing2 keluarga. Kenduren Ujar/tujuan tertentu Kenduren ini di lakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan tertentu, atau ayng punya ujar/ omong. Sebelum kenduren ini biasanya di awali dengan ritual Nyekar terlebih dahulu. dan menu wajibnya, harus ada ingkung ( ayam panggang ). Kenduren ini biasanya banyak di lakukan pada bulan Suro ( muharram ). Kenduren Muludan Kenduren ini di lakukan pada tanggal 12 bulan mulud, sama seperti kenduren likuran, di lakukan di tempat sesepuh, dan membawa makanan dari rumah masing- masing. biasanya dalam kenduren ini ada ritual mbeleh wedus ( motong kambing ) yang kemudian di amsak sebagai becek dalam bahasa watulawang ( gulai ). Tilik Luhur Luhur – Têmbúng dwipúrwå lêluhúr såkå têmbúng linggå luhúr kang têgêsé dhuwúr. Kabèh kuwi miturút kontèks kang sumadhiyå. Déné lumrahé têmbúng luhúr kuwi ugå ngêmót råså wigati, bêcík lan utåmå. Akèh têtêmbungan kang nggunakaké têmbúng luhúr, kayåtå: budi pakarti luhúr, marsudi luhúr, pangudi luhúr, pawiyatan luhúr, majlís luhúr. Uga akèh jênêng kang nganggo têmbúng luhúr, kayåtå: – Luhúr Pambudi, – Luhúr Winasís, – Warsitå Luhúr, – Sri Luhúr Wigati. Têmbúng lêluhúr pådhå karo luhúr-luhúr, atêgês dhuwúr-dhuwúr, yåiku kang ånå ing dhuwúr-dhuwúr. Sabanjuré têmbúng lêluhúr minångkå istilah wóng tuwå sapandhuwúr kang wús nurúnaké. Lêluhúr kuwi ånå sing isíh sugêng, ånå lan akèh kang wís murút ing kasidan jati. Awaké dhéwé iki pådhå duwé lêluhúr yåiku wóng tuwå sakalórón, båpå lan biyúng. Dadi, båpå biyúng ånå båpå biyungé. Båpå biyungé båpå biyúng iyå ånå båpå biyungé, mangkono sapandhuwúr. Síng wís pådhå omah-omah, duwé bojo, gadhah sémah, kagungan garwå (garbhå) wóng tuwané dadi papat. Wóng tuwå såkå awaké dhéwé loro, lan wóng tuwa såkå sisihané uga loro. Wóng papat kuwi mêsthi wóng tuwané wólu. Wólu aran êmbah, simbah utåwå éyang. Êmbah wólu kuwi wóng tuwané mêsthi nêmbêlas. Nêmbêlas kuwi aran buyút. Sapandhuwúr wóng tuwané buyút cacah têlúng pulúh loro, arané canggah. Lêluhúr sandhuwuré yaiku warèng, cacahé ånå sêwidak papat. Têrusé udhêg-udhêg, ånå satus wólu likur. Banjúr gantúng siwúr, róng atús sèkêt ênêm. Gropak sénthé limang atús rolas. Kandhang bubrah sèwu pat likúr. Ing ndhuwuré manèh dêbóg bósók, ånå róng èwu patang pulúh wólu. Sabanjuré têkan tataran 11 gunggungé wís ånå patang èwu sangang pulúh ênêm, kuwi diarani galíh asêm. Mangkono satêrusé sandhuwuré. Mångkå saupåmå salah siji såkå kasêbut lêluhúr kuwi ora tinitah ing alam padhang iki, aliyas ora èksís, wósé ora sugêng ing ndonyå iki, lha åpå awaké iki ånå? Mulå prayogané pårå lêluhúr kasêbut kinúrmatan, dimúlyakaké, cinandhi ing salumrahé. Awaké dhéwé iki ing saiki lan ing mêngkoné iyå pådhå dadi lêluhúr; lêluhuré pårå anak, putu, buyút, canggah, warèng, udhêg-udhêg, gantúng siwúr, gropak sénthé, kandhang bubrah, dêbóg bósók, galíh asêm, sartå trah tumêrah turún tumurún mênggênêrasi amangún lan ambangun tuwúh, nuhóni darmané uríp. Iku laku jåntrå jlèntrèhíng ngauríp síng såpå ora ngluhúraké pårå lêluhuré, pantês baé ugå ora diluhúraké déníng kang binakal lêluhúr sartå turún-turúné.Bêbrayan sadonyå iki duwé cårå lan adat dhéwé-dhéwé tumrap ngluhúraké pårå lêluhúr. Ånå síng tilík kubúr, bêrsíh kubúr, rêsík kubúr, kirím dongå, wilujêngan mêmulé utåwå nyandhi, wilujêngan ruwahan, ziarah, misa arwah, ngêsúr tanah, nêlúng dinå, mitúng dinå, matang pulúh, nyatús, mêndhak pisan, mêndhak pindho, nyèwu, kól, haúl, lan sajinisé kuwi. Sanadyan wús sawatårå suwéné anggóné sédå (1350) éyangé, Gayatri; Hayam Wurúk nganakaké pangêtan ing taún 1362 aran sraddha. Sarirané ingkang éyang ginubah ginambar måwå rêróncèn ing kêmbang, sarta winarnå (dicritakaké) munggúh labúh labêté åpå déné åpå baé kang bisa tinulad tinuladhå dadyå sudarsanèng têdhak turún-turuné (Nêgarakêrtagama; Pararatón). Ing bêbrayan nganti tumêkå saiki isíh katón lan karåså nuwansa pèngêtan kang kadyéku. Bêbrayan isíh pådhå nyraddha, nyraddhan (nyadran) sarta anawúng lan anawúr kêmbang, sêkar; pådhå ngêmbang utåwå nyêkar. Pårå mitra ing ngrikå, Amérika, ing sasi Novèmbêr pådhå balík ndésané dhéwé-dhéwé, saprêlu bêbarêngan karo kulawargå kulawangså kulabråyå nglêksanani silaturahmi karo síng isíh uríp, matúr nuwún marang Gusti Allah awít sakèh sakabèhíng bêrkah kang ruméntah marang pårå tinitah, kanthi pangêtan Thanksgiving Day, kalayan angalimputi ngluhúraké pårå lêluhúr, kang tandhês tundhóné angluhúraké Hyang Mahaluhúr, luhúr-luhuríng ngaluhúr, sangkan Paraníng Pårå Lêluhúr. Déníng : Sudi Yatmånå ( soko File Ki Demang/ http:www.ki-demang.com )a jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

BANYUMANIK adalah salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang. Terletak di Selatan Semarang dan terdiri atas 11 kelurahan. Yakni Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon, Tinjomoyo dan Ngesrep. Asal mula nama Banyumanik konon berhubungan dengan perjalanan Ki Ageng Pandanaran menuju Tembayat. Saat itu Ki Ageng bersama istrinya yang masih sarat dengan urusan keduniawian melewati sebuah daerah yang cantik pemandangannya. Istrinya yang melihat dari kejauhan daun-daun talas yang berkilau kemudian berseru dalam bahasa jawa, “Duhai Kanjeng, lihatlah di sana begitu banyak manik-manik di atas daun-daun talas itu, sungguh kayanya daerah ini,” katanya. Menjawab hal itu, Ki Ageng pun berkata, “Jangan salah dinda, itu hanyalah air (jawa: banyu) tetesan embun pagi di atas daun-daun talas yang terkena cahaya matahari pagi.” Istri Ki Ageng pun termangu. “Oh jadi manik-manik itu hanya air? Ya sudahlah, kalau sampai “rejoning zaman”, daerah ini akan dinamakan Banyu Manik”.

BANYUMANIK adalah salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang. Terletak di Selatan Semarang dan terdiri atas 11 kelurahan. Yakni Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon, Tinjomoyo dan Ngesrep. Asal mula nama Banyumanik konon berhubungan dengan perjalanan Ki Ageng Pandanaran menuju Tembayat. Saat itu Ki Ageng bersama istrinya yang masih sarat dengan urusan keduniawian melewati sebuah daerah yang cantik pemandangannya. Istrinya yang melihat dari kejauhan daun-daun talas yang berkilau kemudian berseru dalam bahasa jawa, “Duhai Kanjeng, lihatlah di sana begitu banyak manik-manik di atas daun-daun talas itu, sungguh kayanya daerah ini,” katanya. Menjawab hal itu, Ki Ageng pun berkata, “Jangan salah dinda, itu hanyalah air (jawa: banyu) tetesan embun pagi di atas daun-daun talas yang terkena cahaya matahari pagi.” Istri Ki Ageng pun termangu. “Oh jadi manik-manik itu hanya air? Ya sudahlah, kalau sampai “rejoning zaman”, daerah ini akan dinamakan Banyu Manik”.

Last Update: 2014-10-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Kartini adalah pejuang kaum wanita yang berjasa memperjuangkan kaumnya. Ia berjuang membuat derajat wanita setara dengan kaum laki-laki. Dia juga memberantas kebodohan dan memajukan kaumnya. Kartini juga ingin memperoleh kebebasan. Ia sosok wanita yang berani. Dia juga senang berteman. Kita perlu mengenal kartini lebih dalam karena jasa-jasanya dan tekadnya yang kuat. Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad dan perbuatanya .Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus dia mampu mengubah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Penderitaan perempuan Jawa yang dunianya sebatas tembok rumah dan bersedia untuk dimadu kini bisa bebas untuk berpartisipasi di segala bidang. BAB II ISI Kartini lahir di Jepara Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1897. Kartini adalah putri dari Adipati Ario Sosrodiningrat, Bupati Jepara. Ia putri dari istri pertama tapi bukan dari istri utama. Ibunya bernama M.A Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telu-kawur,Jepara. Adipati Ario Sosrodiningrat awalnya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang Bupati beristrikan bangsawan. Karena Ngasirah bukan bangsawan tinggi, maka beliau menikah lagi dengan Raden Adjeng Werjan. Setelah pernikahan itu, ayah kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara, menggantikan kedudukan ayah kandung R.A Werjan, yaitu ,R.A.A. Tjitrowikromo. R.AKartini anak ke -5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari 11 bersaudara Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakak Kartini Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Eropase Legene School) hingga usia 12 tahun. Di situlah Kartini belajar bahasa Belanda. Pada seusia 12 tahun, Kartini harus mengalami masa pingitan. Kartini dipingit karena kebiasaan adat istiadat di tempat tinggalnya. Apabila seorang wanita sudah menamatkan belajar di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus mengalami masa pingitan hingga saatnya menikahnya tiba. Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang bergaul dengan orang-orang terpelajar dan juga gemar membaca buku. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya yang kebanyakan terdiri dari anak keluarga biasa tidak pernah bersekolah. Sejak saat itu Kartini berkeinginan dan betekad memajukan kaumnya. Untuk membenahi cita-citanya tersebut dia mendirikan sekolah untuk anak gadis. Di sekolah itu diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak dan sebagainya. Semua itu tidak dipungut biaya apapun. Bahkan demi cita-cita mulianya tersebut, Kartini berencana mengikuti sekolah guru di Belanda. Dia ingin menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Ia mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda. Namun keinginan mulianya tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orang tuanya. Kartini sangat senang berteman dengan orang-orang di dalam negeri maupun di Eropa khususnya di negeri Belanda. Kepada sahabatnya dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya untuk memajukan kaum wanita di negerinya. Ia ingin ada persamaan hak kaum wanita dan kaum pria. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka ia menulis surat kepada sahabatnya di Eropa, salah satu temanya adalah Rosa Abendanon. Oleh kawan-kawannya di Belanda. surat-surat Kartini dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Door Duistermis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku inilah yang akhirnya menjadi pondasi ’bangunan’ kesetaraan gender di Indonesia. Orang tua Kartini menikahkannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djoyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya memberi kebebasan dan mendukung mendirikan sekolah wanita. Kehidupan berkeluarganya tidak berlangsung lama. Kartini wafat di Rembang pada tanggal 17 September 1904, empat hari setelah beliau berjuang melahirkan putra pertamanya. BAB III ULASAN Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangat berpengaruh bagi bangsa kita. Kini kaum wanita sudah merasakan hasilnya. Kaum wanita sudah bisa sekolah dengan bebas dan di mana saja baik di dalam maupun di luar negeri. Gerakan emansipasi wanita telah berhasil. Kartini telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatam dan kebebasan. Kartini adalah sosok wanita teladan yang patut kita contoh. Kita perlu mencontoh keinginannya memberantas kebodohan dan mendirikan sekolah gratis bagi kaum wanita. Kita juga harus mencontoh sikap Kartini yang mempunyai banyak cita-cita mulia.Kartini juga menulis surat untuk memperoleh pertolongan dari luar negeri demi cita-citanya. Tanggal 21 April, kita memperingati kelahiran Raden Ajeng Kartini seorang pejuang tokoh wanita. Dia seorang figur yang baik dan harus kita teladani dalam kehidupan sehari- hari. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa-jasa pahlawannya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Rumah Adat Jawa Tengah Joglo dan Ciri Khasnya 16th April 2013 Cat: Rumah Adat with 1 Comment Keragaman budaya bangsa Indonesia yang juga tercermin dalam rumah adat Jawa Tengah tentunya sudah sangat dikenal oleh banyak orang Indonesia. Kali ini kita akan membahas keragaman tersebut dalam keunikan dan karakteristik dalam rumah adat Jawa Tengah Joglo, yang pastinya sudah sangat dikenal di seantero negeri. Rumah Joglo sudah sangat dikenal oleh banyak masyarakat, terutama masyarakat Jawa Tengah. Joglo adalah kerangka rumah yang membentuk rumah adat di Jawa Tengah yang berupa soko guru dan terdiri dari empat pilar atau tiang penyangga utama dan tumpangsari yakni susunan balok yang ditopang oleh soko guru. Rumah Adat Jawa Tengah Secara sosial, dulunya tidak banyak yang mempunyai rumah adat dikarenakan rumah ini merupakan lambang status sosial bagi orang-orang Jawa yang mempunya kemampuan ekonomi yang berlebih. Rumah Joglo adalah jenis rumah yang membutuhkan banyak bahan materi rumah yang mahal, terutama dari kayu. Umumnya pemilik rumah Joglo dulunya berasal dari kalangan ningrat atau bangsawan. Rumah jenis ini biasanya juga membutuhkan lahan yang luas dikarenakan beberapa bagian rumahnya digunakan untuk menerima tamu atau memuat banyak orang. Bagian-bagian dalam Rumah Adat Jawa Tengah Umumnya bagian rumah adat Jawa Tengah terdiri dari tiga bagian utama: pendhopo, pringgitan, dan omah ndalem atau omah njero. Pendhopo adalah bagian rumah yang biasanya digunakan untuk menerima tamu. Pringgitan adalah bagian ruang tengah yang digunakan untuk pertunjukan wayang kulit; berasal dari akar kata “ringgit” yang artinya wayang kulit. Bagian ketiga adalah omah ndalem atau omah njero, yang merupakan ruang keluarga. Dalam omah njero terdapat tiga buah kamar (senthong), yaitu senthong kanan, tengah, dan kiri. Dilihat dari strukturnya, rumah adat Jawa Tengah mungkin terlihat lebih sederhana. Pembangunan bagian rumah seperti pendhopo membutuhkan empat buah tiang penyangga guna menyangga berdirinya rumah. Tiang-tiang tersebut dinamakan soko guru, yang juga merupakan lambang penentu arah mata angin. Dari empat soko guru tersebut, terdapat juga tumpang sari yang merupakan susunan terbalik yang tersangga soko guru. Ndalem atau omah njero digunakan sebagai inti dari sebuah Joglo. Dilihat dari struktur tata ruangnya, bagian ndalem mempunyai 2 ketinggian yang berbeda. Hal ini bertujuan agar terdapat ruang sebagai tempat sirkulasi udara. Joglo adalah jenis rumah adat suku Jawa yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda status sosial seorang priyayi atau bangsawan Jawa. Rumah ini mempunyai keunikan atau kekhasan tersendiri dengan adanya tiang-tiang penyangga atau soko guru, beserta tumpang sari nya. Setiap bagian rumah merepresentasikan fungsi yang berbeda, yang dibangun di atas lahan yang luas juga; oleh karena itu, rumah ini hanyalah dipunyai orang dari kalangan berpunya saja. Beberapa hal penting lain tentang rumah adat Jawa Tengah dapat anda cari dari sumber lain, dari wikipedia.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-10-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawaPudarnya Tata Krama Bahasa Jawa Masyarakat Jawa memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya, telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa Jawa telah menjadi pengikat kebudayaan. Akan tetapi, agaknya pengikat tersebut telah terabaikan dan menjadi hal yang sulit untuk dicari. Masyarakat Jawa telah kehilangan identitasnya sebagai penyandang bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tata krama bahasa, atau istilah dalam bahasa Jawanya adalah unggah-ungguh bahasa. Tata krama bahasa Jawa ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu krama alus atau inggil, krama lugu, dan ngoko. Bahasa Jawa alus biasanya digunakan dalam percakapan berikut: antara orang yang lebih muda dengan yang lebih tua dan atau seusia, ditujukan kepada seseorang yang berkedudukan lebih tinggi, serta digunakan dalam acara-acara formal. Bahasa Jawa lugu dipergunakan dalam percakapan masyarakat awam. Kedudukan bahasa Jawa lugu lebih rendah dari bahasa Jawa alus. Bahasa Jawa ngoko adalah bahasa dengan tingkatan tata krama paling rendah. Biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, percakapan sesama teman, dan sebagainya. Masyarakat Jawa yang identik dengan budaya saling menghormati dan kesantunan yang tinggi, mempergunakan tata krama bahasa sebagai salah satu bentuk penghormatan. Mereka menggunakan bahasa sebagai bentuk rasa hormat kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, berkat adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menjadikan pudarnya nilai-nilai tata krama bahasa Jawa. Penutur asli bahasa Jawa beralih bahasa menggunakan bahasa Indonesia. Peminat bahasa Jawa semakin sedikit. Tata krama bahasa Jawa telah lenyap digantikan bahasa ngoko dan bahasa Indonesia (ditekankan, bahwa bahasa Jawa ngoko tidak dapat dipakai sebagai bahasa penghormatan). Tata krama bahasa ini pun telah jarang kita temui dalam masyarakat Jawa. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah sulitnya sosialisasi, karena semakin minimnya pengguna bahasa Jawa alus. Seharusnya, yang menjadi pensosialisasi bahasa Jawa alus pertama kali adalah orang tua. Orang tua yang harusnya mengenalkan bahasa Jawa alus. Karena dengan begitu, seorang anak akan terbiasa dengan memakai bahasa tersebut. Kemudian, sekolah. Sekolah mengajarkan bahasa Jawa alus kepada murid-muridnya. Sekolah dasar biasanya mengadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok). Akan tetapi, sekarang ini tidak banyak orang tua yang mengajarkan bahasa alus tersebut. Orang tua cenderung lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Begitu juga dengan sekolah. Sekolah-sekolah lebih banyak memprioritaskan bahasa Indoesia ketimbang bahasa Jawaalus. Dampak negatif dari tidak dipakainya tata krama ini adalah tidak terjalin komunikasi yang selaras. Misalnya pembicaraan seorang anak dengan Ibunya. Ketika seorang anak berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada Ibunya, akan terlihat saru atau tidak sopan. Contoh: si Anak bertanya, “arep lungo endi, Bu?” akan berbeda suasana bila si Anak itu bertanya dengan bahasa Jawa alus, “badhe tindak pundi, Bu?”. Pemakaian bahasa Jawa sesuai dengan tata kramanya lebih banyak memiliki dampak positif. Di antaranya, timbul rasa hormat kepada lawan bicara sehingga perbincangan pun akan terjalin dengan baik dan pembicaraan akan terkesan harmonis karena penutur dan lawan tuturnya mempergunakan bahasa yang halus. Oleh karena itulah, penting adanya sosialisasi dan peninjauan kembali fungsi dan kedudukan tata krama bahasa Jawa agar lebih diperhatikan oleh masyarakat Jawa serta pemerintah. Pemerintah hendaknya diikutsertakan supaya membantu pelestarian budaya Indonesia yaitu bahasa daerah. Share this:

Pudarnya Tata Krama Bahasa Jawa Masyarakat Jawa memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya, telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa Jawa telah menjadi pengikat kebudayaan. Akan tetapi, agaknya pengikat tersebut telah terabaikan dan menjadi hal yang sulit untuk dicari. Masyarakat Jawa telah kehilangan identitasnya sebagai penyandang bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tata krama bahasa, atau istilah dalam bahasa Jawanya adalah unggah-ungguh bahasa. Tata krama bahasa Jawa ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu krama alus atau inggil, krama lugu, dan ngoko. Bahasa Jawa alus biasanya digunakan dalam percakapan berikut: antara orang yang lebih muda dengan yang lebih tua dan atau seusia, ditujukan kepada seseorang yang berkedudukan lebih tinggi, serta digunakan dalam acara-acara formal. Bahasa Jawa lugu dipergunakan dalam percakapan masyarakat awam. Kedudukan bahasa Jawa lugu lebih rendah dari bahasa Jawa alus. Bahasa Jawa ngoko adalah bahasa dengan tingkatan tata krama paling rendah. Biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, percakapan sesama teman, dan sebagainya. Masyarakat Jawa yang identik dengan budaya saling menghormati dan kesantunan yang tinggi, mempergunakan tata krama bahasa sebagai salah satu bentuk penghormatan. Mereka menggunakan bahasa sebagai bentuk rasa hormat kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, berkat adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menjadikan pudarnya nilai-nilai tata krama bahasa Jawa. Penutur asli bahasa Jawa beralih bahasa menggunakan bahasa Indonesia. Peminat bahasa Jawa semakin sedikit. Tata krama bahasa Jawa telah lenyap digantikan bahasa ngoko dan bahasa Indonesia (ditekankan, bahwa bahasa Jawa ngoko tidak dapat dipakai sebagai bahasa penghormatan). Tata krama bahasa ini pun telah jarang kita temui dalam masyarakat Jawa. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah sulitnya sosialisasi, karena semakin minimnya pengguna bahasa Jawa alus. Seharusnya, yang menjadi pensosialisasi bahasa Jawa alus pertama kali adalah orang tua. Orang tua yang harusnya mengenalkan bahasa Jawa alus. Karena dengan begitu, seorang anak akan terbiasa dengan memakai bahasa tersebut. Kemudian, sekolah. Sekolah mengajarkan bahasa Jawa alus kepada murid-muridnya. Sekolah dasar biasanya mengadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok). Akan tetapi, sekarang ini tidak banyak orang tua yang mengajarkan bahasa alus tersebut. Orang tua cenderung lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Begitu juga dengan sekolah. Sekolah-sekolah lebih banyak memprioritaskan bahasa Indoesia ketimbang bahasa Jawaalus. Dampak negatif dari tidak dipakainya tata krama ini adalah tidak terjalin komunikasi yang selaras. Misalnya pembicaraan seorang anak dengan Ibunya. Ketika seorang anak berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada Ibunya, akan terlihat saru atau tidak sopan. Contoh: si Anak bertanya, “arep lungo endi, Bu?” akan berbeda suasana bila si Anak itu bertanya dengan bahasa Jawa alus, “badhe tindak pundi, Bu?”. Pemakaian bahasa Jawa sesuai dengan tata kramanya lebih banyak memiliki dampak positif. Di antaranya, timbul rasa hormat kepada lawan bicara sehingga perbincangan pun akan terjalin dengan baik dan pembicaraan akan terkesan harmonis karena penutur dan lawan tuturnya mempergunakan bahasa yang halus. Oleh karena itulah, penting adanya sosialisasi dan peninjauan kembali fungsi dan kedudukan tata krama bahasa Jawa agar lebih diperhatikan oleh masyarakat Jawa serta pemerintah. Pemerintah hendaknya diikutsertakan supaya membantu pelestarian budaya Indonesia yaitu bahasa daerah. Share this:

Last Update: 2014-09-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Pada suatu hari di kerajaan mataram, sedang berlangsung suatu pertemuan tertutup yang hanya dihadiri oleh para petinggi kerajaan Mataram. Mereka sedang membahas masalah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang anak selir yang akan dapat menggoyangkan tahta Sultan Agung jika ia dibesarkan di wilayah kerajaan. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya diputuskan untuk menitipkan anak tersebut kepada Ki Gede Cempaluk. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang putra yang lucu dan tampan. Anak laki-laki tersebut adalah putra Sultan Agung yang dikandung oleh selirnya. Sesuai dengan kesepakatan, maka sesaat setelah bayi tersebut lahir langsung dibawa oleh Ki Gede Cempaluk untuk diasuh. Sultan Agung memberikan sebidang tanah di daerah Gambiran, Kesesi kepada Ki Gede Cempaluk sebagai tempat untuk mendirikan padepokan sekaligus kediamannya. Oleh Ki Gede Cempaluk, bayi laki-laki tersebut kemudian diberi nama Jaka Bau. Jaka Bau memiliki beberapa sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah seperti saudara. Mereka sudah kenal dan berteman akrab sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka senang sekali merpura-pura menjadi panglima perang tentara Mataram setiap kali bermain perang-perangan. Bahkan mereka sering bertengkar karena memperebutkan kedudukan. Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu ingin menjadi panglima perang kerajaan Mataram. Seiring dengan berjalannya waktu, Jaka Bau tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, kuat, baik hati, dan memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi sehingga disegani oleh rekan-rekan sepadepokannya. Kesaktiannya sudah sangat terkenal dan namanya cukup disegani di daerah Pantura. Beberapa tahun kemudian, Ki Gede Cempaluk memutuskan bahwa Jaka sudah cukup dewasa dan harus mengabdikan tenaga dan pikirannya kepada kerajaan Mataram. Beliau kemudian mengutus Jaka Bau untuk berangkat ke Mataram dengan disertai surat pengantar tentang jati diri Jaka Bau yang sebenarnya yang ditujukan langsung kepada Sultan Agung. Sesampainya di Mataram, Jaka Bau langsung pergi menemui Sultan Agung dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Ki Gede Cempaluk. Setelah Sultan Agung membaca surat dari Ki Gede Cempaluk tentang identitas diri Jaka Bau yang sebenarnya, beliau menjadi sangat terkejut sekaligus bahagia karena melihat putranya telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, rupawan, pemberani, dan baik hati. Selama menjadi prajurit Mataram, karir Jaka Bau sangat cemerlang. Pada suatu hari, Jaka Bau kemudian diutus untuk memimpin pasukan mataram menyerang raja Uling di daerah Sigawok oleh Sultan Agung. Tugas tersebut berhasil dijalankan dengan baik oleh Jaka Bau. Atas prestasinya tersebut, Jaka Bau kemudian diberikan gelar Tumenggung Bahurekso oleh Sultan Agung. Tumenggung Bahurekso kemudian diperbolehkan untuk kembali ke Pekalongan dengan diberikan tugas untuk menanam dua batang pohon beringin di kulon kali dan wetan kali pekalongan. Dua batang pohon beringin itulah yang sampai sekarang tumbuh di tengah alun-alun Pekalongan dan Alun-alun Batang. Seusai menunaikan tugasnya tersebut, tumenggung bahurekso dilantik menjadi adipati (bupati) Kendal. Pada suatu hari, Jaka Bau memutuskan untuk bertapa di hutan gambiran. Pertapaan yang dilakukannya ini bukan sembarang semedi, tetapi tapa ngalong, yaitu bertapa dengan posisi terbalik seperti kelelawar. Sejak saat itulah daerah gambiran dan sekitarnya dinamakan daerah ”PEKALONGAN”. Dalam melakukan semedinya, Jaka Bau mengalami banyak sekali godaan, termasuk dari Dewi Lanjar, ratu penguasa para makhluk halus di pantai utara Jawa. Namun karena kesaktiannya, Jaka Bau tidak terpengaruh sama sekali. Justru akhirnya Dewi Lanjar yang takluk kepada Jaka Bau dan menjadi istrinya. Mereka hidup dengan bahagia dan harmonis. Dengan Dewi Lanjar sebagai istrinya, kesaktian Jaka Bau dan namanyapun semakin terkenal. Beberapa bulan kemudian, Sultan Agung mengirim seorang utusan untuk memanggil Tumenggung Bahurekso ke Mataram guna memimpin pasukan Koloduto yang akan menyerang Batavia. Utusan tersebut juga memanggil Tan Kwie Djan (Djaningrat), Bupati Pekalongan saat itu yang juga sahabat dan teman seperjuangan Tumenggung Bahurekso. Mereka kemudian segera berangkat ke Mataram bersama-sama untuk menghadap kepada Sultan Agung. Setelah sampai di Mataram, mereka langsung mempersiapkan segala keperluan untuk berperang. Seminggu kemudian, persiapan telah selesai dan merekapun segera berangkat menuju Batavia setelah berpamitan kepada Sultan Agung dan Ki Gede Cempaluk. Sesampainya di Batavia, pasukan Koloduto tidak langsung menyerang masuk. Mereka mengirim para agen yang menyamar menjadi pedagang dan seniman. Mereka ditugaskan untuk melihat situasi dan kondisi dalam kota. Beberapa hari kemudian, para prajurit yang menyamar menjadi pedagang dan seniman tersebut menyerang pasukan Belanda di Batavia secara serempak pada tengah malam. Namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda karena keterbatasan jumlah dan persenjataan. Dengan hasil tersebut, belanda merasa senang dan menjadi lengah. Tidak lama kemudian, pasukan utama Koloduto menyerang dari darat dan laut dari arah selatan dan utara. Pasukan Belanda menjadi panik dan sempat kocar-kacir karena terkejut, namun serangan tersebut kembali gagal karena serangan dari darat dan laut tidak secara bersamaan. Meskipun demikian, namun pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang sangat besar dan banyak pasukannya yang tewas akibat serangan tersebut. Pasukan Koloduto mundur dan menyusun rencana. Keesokan harinya, pasukan Koloduto yang dipimpin Tumenggung Bahurekso Kembali menyerang pasukan Belanda dengan menggali parit-parit. Untuk menangkis serangan tersebut, Belanda menggunakan budak-budak mereka dengan janji akan diberikan kemerdekaan. Pasukan Koloduto berkali-kali berhasil menembus garis pertahanan pasukan Belanda, dan Djaningrat gugur dalam serangan tersebut. Namun hal itu tidak mempengaruhi semangat juang pasukan Koloduto. Hal ini malah menambah semangat juang mereka. Pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 21 September 1628 Tumenggung Bahurekso dan kedua putranya gugur dalam pertempuran. Hal ini membuat kacau pasukan Koloduto karena kehilangan figur seorang pemimpin. Akhirnya keadaan berbalik, dan pasukan Koloduto mundur dengan membawa para pimpinan mereka yang telah gugur.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation