MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: susunan acara tedak siten    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

Javanese

Info

Susunan Upacara Pernikahan Adat Budaya Bali

susunan upacara pernikahan adat budaya bali

Last Update: 2013-02-27
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

doa penutup acara KEJUARAAN PENCAK SILAT

Please, specify two different languages

Last Update: 2014-07-30
Subject: Religion
Usage Frequency: 1
Quality:

Wayang adalah seni wayang yang muncull dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupunRamayana.Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemaWayang adalah seni wayang yang muncull dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupunRamayana.Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber. han bahasa palembang

gooWayang adalah seni wayang yang muncull dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupunRamayana.Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber. gle agensi palembang

Last Update: 2014-09-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

ADAT ISTIADAT JAWA (manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat) Wus pinasti wanito puniki,Dadi wadah wijining tumitah,Den aji aji wajibe Watak suwargo nunut,Nunut iku gese njalari,Dadyo nomo suwargo Yen tetesing luhur,Winastono neroko Lamun hamadhani asor asorin budi,wiji haneng poro prio Lahir dan mendewasakan anak Mupu, artinya mungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya. Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya. Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak. Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan. Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah. Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki. Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas maka si bayi diperkirakan laki-laki. Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a memohon kepada Tuhan. Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih, sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5 (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya bernama T. Dewantoro. Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata T. Dewantoro berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka T.Dewantoro berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan luas,cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya. Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur ayam rebus dan bubur merah-putih. Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten. Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik, maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang dilanjutkan dengan cerita Murwakala. Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan kalimat : laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua). Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang. Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau jaka,suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4 (empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng. Saat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain: jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake balung apisah(menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung kapirangu (tergila-gila/cinta). Melamar Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan. Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup. Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen. Perkawinan Orang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memberikan sejumlah uang guna membantu pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana. Dalam perkawinan harus dicari hari "baik", maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli hitungan hari "baik" berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa yang akan membikin tubuh ideal dan singset. Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal. Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil hitungannya (3 - 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat, yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya, yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya, perlambang status raja. Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan "semoga selamat di dalam hidupnya". Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang. Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu. Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk). Upacara akad nikah, harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah. Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya. Misalnya dalam gaya Solo, di hari "H"nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal (biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek. Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan. Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap: Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak ? (berat mana Pak ?), yang dijawab sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur. Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin. Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan) berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah kedua pengantin). Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu, dsb.nya. Mati/Wafat Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya). Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda. Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong kambing untuk disate dan gule. Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roch seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-18
Subject: Literary Translations
Usage Frequency: 6
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

google terjemahan bahasa indonesia ke bahasa jawaPudarnya Tata Krama Bahasa Jawa Masyarakat Jawa memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya, telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa Jawa telah menjadi pengikat kebudayaan. Akan tetapi, agaknya pengikat tersebut telah terabaikan dan menjadi hal yang sulit untuk dicari. Masyarakat Jawa telah kehilangan identitasnya sebagai penyandang bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tata krama bahasa, atau istilah dalam bahasa Jawanya adalah unggah-ungguh bahasa. Tata krama bahasa Jawa ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu krama alus atau inggil, krama lugu, dan ngoko. Bahasa Jawa alus biasanya digunakan dalam percakapan berikut: antara orang yang lebih muda dengan yang lebih tua dan atau seusia, ditujukan kepada seseorang yang berkedudukan lebih tinggi, serta digunakan dalam acara-acara formal. Bahasa Jawa lugu dipergunakan dalam percakapan masyarakat awam. Kedudukan bahasa Jawa lugu lebih rendah dari bahasa Jawa alus. Bahasa Jawa ngoko adalah bahasa dengan tingkatan tata krama paling rendah. Biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, percakapan sesama teman, dan sebagainya. Masyarakat Jawa yang identik dengan budaya saling menghormati dan kesantunan yang tinggi, mempergunakan tata krama bahasa sebagai salah satu bentuk penghormatan. Mereka menggunakan bahasa sebagai bentuk rasa hormat kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, berkat adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menjadikan pudarnya nilai-nilai tata krama bahasa Jawa. Penutur asli bahasa Jawa beralih bahasa menggunakan bahasa Indonesia. Peminat bahasa Jawa semakin sedikit. Tata krama bahasa Jawa telah lenyap digantikan bahasa ngoko dan bahasa Indonesia (ditekankan, bahwa bahasa Jawa ngoko tidak dapat dipakai sebagai bahasa penghormatan). Tata krama bahasa ini pun telah jarang kita temui dalam masyarakat Jawa. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah sulitnya sosialisasi, karena semakin minimnya pengguna bahasa Jawa alus. Seharusnya, yang menjadi pensosialisasi bahasa Jawa alus pertama kali adalah orang tua. Orang tua yang harusnya mengenalkan bahasa Jawa alus. Karena dengan begitu, seorang anak akan terbiasa dengan memakai bahasa tersebut. Kemudian, sekolah. Sekolah mengajarkan bahasa Jawa alus kepada murid-muridnya. Sekolah dasar biasanya mengadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok). Akan tetapi, sekarang ini tidak banyak orang tua yang mengajarkan bahasa alus tersebut. Orang tua cenderung lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Begitu juga dengan sekolah. Sekolah-sekolah lebih banyak memprioritaskan bahasa Indoesia ketimbang bahasa Jawaalus. Dampak negatif dari tidak dipakainya tata krama ini adalah tidak terjalin komunikasi yang selaras. Misalnya pembicaraan seorang anak dengan Ibunya. Ketika seorang anak berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada Ibunya, akan terlihat saru atau tidak sopan. Contoh: si Anak bertanya, “arep lungo endi, Bu?” akan berbeda suasana bila si Anak itu bertanya dengan bahasa Jawa alus, “badhe tindak pundi, Bu?”. Pemakaian bahasa Jawa sesuai dengan tata kramanya lebih banyak memiliki dampak positif. Di antaranya, timbul rasa hormat kepada lawan bicara sehingga perbincangan pun akan terjalin dengan baik dan pembicaraan akan terkesan harmonis karena penutur dan lawan tuturnya mempergunakan bahasa yang halus. Oleh karena itulah, penting adanya sosialisasi dan peninjauan kembali fungsi dan kedudukan tata krama bahasa Jawa agar lebih diperhatikan oleh masyarakat Jawa serta pemerintah. Pemerintah hendaknya diikutsertakan supaya membantu pelestarian budaya Indonesia yaitu bahasa daerah. Share this:

Pudarnya Tata Krama Bahasa Jawa Masyarakat Jawa memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya, telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa Jawa telah menjadi pengikat kebudayaan. Akan tetapi, agaknya pengikat tersebut telah terabaikan dan menjadi hal yang sulit untuk dicari. Masyarakat Jawa telah kehilangan identitasnya sebagai penyandang bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tata krama bahasa, atau istilah dalam bahasa Jawanya adalah unggah-ungguh bahasa. Tata krama bahasa Jawa ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu krama alus atau inggil, krama lugu, dan ngoko. Bahasa Jawa alus biasanya digunakan dalam percakapan berikut: antara orang yang lebih muda dengan yang lebih tua dan atau seusia, ditujukan kepada seseorang yang berkedudukan lebih tinggi, serta digunakan dalam acara-acara formal. Bahasa Jawa lugu dipergunakan dalam percakapan masyarakat awam. Kedudukan bahasa Jawa lugu lebih rendah dari bahasa Jawa alus. Bahasa Jawa ngoko adalah bahasa dengan tingkatan tata krama paling rendah. Biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, percakapan sesama teman, dan sebagainya. Masyarakat Jawa yang identik dengan budaya saling menghormati dan kesantunan yang tinggi, mempergunakan tata krama bahasa sebagai salah satu bentuk penghormatan. Mereka menggunakan bahasa sebagai bentuk rasa hormat kepada lawan bicaranya. Akan tetapi, berkat adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menjadikan pudarnya nilai-nilai tata krama bahasa Jawa. Penutur asli bahasa Jawa beralih bahasa menggunakan bahasa Indonesia. Peminat bahasa Jawa semakin sedikit. Tata krama bahasa Jawa telah lenyap digantikan bahasa ngoko dan bahasa Indonesia (ditekankan, bahwa bahasa Jawa ngoko tidak dapat dipakai sebagai bahasa penghormatan). Tata krama bahasa ini pun telah jarang kita temui dalam masyarakat Jawa. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah sulitnya sosialisasi, karena semakin minimnya pengguna bahasa Jawa alus. Seharusnya, yang menjadi pensosialisasi bahasa Jawa alus pertama kali adalah orang tua. Orang tua yang harusnya mengenalkan bahasa Jawa alus. Karena dengan begitu, seorang anak akan terbiasa dengan memakai bahasa tersebut. Kemudian, sekolah. Sekolah mengajarkan bahasa Jawa alus kepada murid-muridnya. Sekolah dasar biasanya mengadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok). Akan tetapi, sekarang ini tidak banyak orang tua yang mengajarkan bahasa alus tersebut. Orang tua cenderung lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Begitu juga dengan sekolah. Sekolah-sekolah lebih banyak memprioritaskan bahasa Indoesia ketimbang bahasa Jawaalus. Dampak negatif dari tidak dipakainya tata krama ini adalah tidak terjalin komunikasi yang selaras. Misalnya pembicaraan seorang anak dengan Ibunya. Ketika seorang anak berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada Ibunya, akan terlihat saru atau tidak sopan. Contoh: si Anak bertanya, “arep lungo endi, Bu?” akan berbeda suasana bila si Anak itu bertanya dengan bahasa Jawa alus, “badhe tindak pundi, Bu?”. Pemakaian bahasa Jawa sesuai dengan tata kramanya lebih banyak memiliki dampak positif. Di antaranya, timbul rasa hormat kepada lawan bicara sehingga perbincangan pun akan terjalin dengan baik dan pembicaraan akan terkesan harmonis karena penutur dan lawan tuturnya mempergunakan bahasa yang halus. Oleh karena itulah, penting adanya sosialisasi dan peninjauan kembali fungsi dan kedudukan tata krama bahasa Jawa agar lebih diperhatikan oleh masyarakat Jawa serta pemerintah. Pemerintah hendaknya diikutsertakan supaya membantu pelestarian budaya Indonesia yaitu bahasa daerah. Share this:

Last Update: 2014-09-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Pada suatu hari di kerajaan mataram, sedang berlangsung suatu pertemuan tertutup yang hanya dihadiri oleh para petinggi kerajaan Mataram. Mereka sedang membahas masalah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang anak selir yang akan dapat menggoyangkan tahta Sultan Agung jika ia dibesarkan di wilayah kerajaan. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya diputuskan untuk menitipkan anak tersebut kepada Ki Gede Cempaluk. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang putra yang lucu dan tampan. Anak laki-laki tersebut adalah putra Sultan Agung yang dikandung oleh selirnya. Sesuai dengan kesepakatan, maka sesaat setelah bayi tersebut lahir langsung dibawa oleh Ki Gede Cempaluk untuk diasuh. Sultan Agung memberikan sebidang tanah di daerah Gambiran, Kesesi kepada Ki Gede Cempaluk sebagai tempat untuk mendirikan padepokan sekaligus kediamannya. Oleh Ki Gede Cempaluk, bayi laki-laki tersebut kemudian diberi nama Jaka Bau. Jaka Bau memiliki beberapa sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah seperti saudara. Mereka sudah kenal dan berteman akrab sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka senang sekali merpura-pura menjadi panglima perang tentara Mataram setiap kali bermain perang-perangan. Bahkan mereka sering bertengkar karena memperebutkan kedudukan. Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu ingin menjadi panglima perang kerajaan Mataram. Seiring dengan berjalannya waktu, Jaka Bau tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, kuat, baik hati, dan memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi sehingga disegani oleh rekan-rekan sepadepokannya. Kesaktiannya sudah sangat terkenal dan namanya cukup disegani di daerah Pantura. Beberapa tahun kemudian, Ki Gede Cempaluk memutuskan bahwa Jaka sudah cukup dewasa dan harus mengabdikan tenaga dan pikirannya kepada kerajaan Mataram. Beliau kemudian mengutus Jaka Bau untuk berangkat ke Mataram dengan disertai surat pengantar tentang jati diri Jaka Bau yang sebenarnya yang ditujukan langsung kepada Sultan Agung. Sesampainya di Mataram, Jaka Bau langsung pergi menemui Sultan Agung dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Ki Gede Cempaluk. Setelah Sultan Agung membaca surat dari Ki Gede Cempaluk tentang identitas diri Jaka Bau yang sebenarnya, beliau menjadi sangat terkejut sekaligus bahagia karena melihat putranya telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, rupawan, pemberani, dan baik hati. Selama menjadi prajurit Mataram, karir Jaka Bau sangat cemerlang. Pada suatu hari, Jaka Bau kemudian diutus untuk memimpin pasukan mataram menyerang raja Uling di daerah Sigawok oleh Sultan Agung. Tugas tersebut berhasil dijalankan dengan baik oleh Jaka Bau. Atas prestasinya tersebut, Jaka Bau kemudian diberikan gelar Tumenggung Bahurekso oleh Sultan Agung. Tumenggung Bahurekso kemudian diperbolehkan untuk kembali ke Pekalongan dengan diberikan tugas untuk menanam dua batang pohon beringin di kulon kali dan wetan kali pekalongan. Dua batang pohon beringin itulah yang sampai sekarang tumbuh di tengah alun-alun Pekalongan dan Alun-alun Batang. Seusai menunaikan tugasnya tersebut, tumenggung bahurekso dilantik menjadi adipati (bupati) Kendal. Pada suatu hari, Jaka Bau memutuskan untuk bertapa di hutan gambiran. Pertapaan yang dilakukannya ini bukan sembarang semedi, tetapi tapa ngalong, yaitu bertapa dengan posisi terbalik seperti kelelawar. Sejak saat itulah daerah gambiran dan sekitarnya dinamakan daerah ”PEKALONGAN”. Dalam melakukan semedinya, Jaka Bau mengalami banyak sekali godaan, termasuk dari Dewi Lanjar, ratu penguasa para makhluk halus di pantai utara Jawa. Namun karena kesaktiannya, Jaka Bau tidak terpengaruh sama sekali. Justru akhirnya Dewi Lanjar yang takluk kepada Jaka Bau dan menjadi istrinya. Mereka hidup dengan bahagia dan harmonis. Dengan Dewi Lanjar sebagai istrinya, kesaktian Jaka Bau dan namanyapun semakin terkenal. Beberapa bulan kemudian, Sultan Agung mengirim seorang utusan untuk memanggil Tumenggung Bahurekso ke Mataram guna memimpin pasukan Koloduto yang akan menyerang Batavia. Utusan tersebut juga memanggil Tan Kwie Djan (Djaningrat), Bupati Pekalongan saat itu yang juga sahabat dan teman seperjuangan Tumenggung Bahurekso. Mereka kemudian segera berangkat ke Mataram bersama-sama untuk menghadap kepada Sultan Agung. Setelah sampai di Mataram, mereka langsung mempersiapkan segala keperluan untuk berperang. Seminggu kemudian, persiapan telah selesai dan merekapun segera berangkat menuju Batavia setelah berpamitan kepada Sultan Agung dan Ki Gede Cempaluk. Sesampainya di Batavia, pasukan Koloduto tidak langsung menyerang masuk. Mereka mengirim para agen yang menyamar menjadi pedagang dan seniman. Mereka ditugaskan untuk melihat situasi dan kondisi dalam kota. Beberapa hari kemudian, para prajurit yang menyamar menjadi pedagang dan seniman tersebut menyerang pasukan Belanda di Batavia secara serempak pada tengah malam. Namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda karena keterbatasan jumlah dan persenjataan. Dengan hasil tersebut, belanda merasa senang dan menjadi lengah. Tidak lama kemudian, pasukan utama Koloduto menyerang dari darat dan laut dari arah selatan dan utara. Pasukan Belanda menjadi panik dan sempat kocar-kacir karena terkejut, namun serangan tersebut kembali gagal karena serangan dari darat dan laut tidak secara bersamaan. Meskipun demikian, namun pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang sangat besar dan banyak pasukannya yang tewas akibat serangan tersebut. Pasukan Koloduto mundur dan menyusun rencana. Keesokan harinya, pasukan Koloduto yang dipimpin Tumenggung Bahurekso Kembali menyerang pasukan Belanda dengan menggali parit-parit. Untuk menangkis serangan tersebut, Belanda menggunakan budak-budak mereka dengan janji akan diberikan kemerdekaan. Pasukan Koloduto berkali-kali berhasil menembus garis pertahanan pasukan Belanda, dan Djaningrat gugur dalam serangan tersebut. Namun hal itu tidak mempengaruhi semangat juang pasukan Koloduto. Hal ini malah menambah semangat juang mereka. Pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 21 September 1628 Tumenggung Bahurekso dan kedua putranya gugur dalam pertempuran. Hal ini membuat kacau pasukan Koloduto karena kehilangan figur seorang pemimpin. Akhirnya keadaan berbalik, dan pasukan Koloduto mundur dengan membawa para pimpinan mereka yang telah gugur.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga pada hari ini kita semua bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa halangan dan kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya selaku ketua acara, memberikan beberapa patah kata untuk membuka acara Sedekah Bumi Desa Bantal, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tahun 2014. Sebelumnya saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada: 1. Bpk. Alwarno selaku kepala wilayah Trawas beserta staf2nya yang kami hormati, yang telah berkenan hadir meluangkan waktunya, 2. Bpk. Sukarni selaku kepala Polisi Sektor trawas beserta perangkat keamanan yang kami hormati. 3. Kepada yang terhormat Bapak Juri, selaku Kepala Desa Bantal 4. Sekretaris Desa dan juga segenap perangkat desa beserta warga desa bantal dan sekitarnya yang telah bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya demi terselenggaranya acara ini Seperti waktu-waktu sebelumnya, setiap tahun di desa kita tercinta ini selalu menyelenggarakan acara sedekah bumi yang secara serentak dilakukan oleh semua warga Desa Bantal. Sedekah bumi atau biasa disebut dengan acara bersih desa adalah salah satu warisan tradisi dan kebudayaan daerah khas Trawas yang harus kita jaga dan lestarikan bersama. Sedekah bumi merupakan wujud ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rejekinya kepada kita semua, terutama warga Desa Duyung dan sekitarnya. Pada kesempatan tahun ini merupakan acara sedekah bumi yang istimewa dibandingkan sedekah bumi tahun-tahun yang lalu, karena semangat kerjasama dan kekeluargaan dari semual elemen warga desa Bantal acara sedekah bumi ini dapat berjalan dengan suasana yang kondusif, hal ini tidak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat Desa Bantal dan juga segenap instansi desa yang senantiasa saling bahu-membahu dalam mewujudkan desa yang kondusif. Untuk mengawali acara sedekah bumi tahun ini marilah kita bersama-sama memulainya dengan membaca Basmalah. Bismillahirohmanirrohim semoga acara sedekah Bumi ini berjalan lancer dari awal sampai akhir, amien amien ya robal alamin. Untuk mengisi acara sedekah bumi kali ini akan ada rangkaian acara dan hiburan-hiburan yang telah dijadwalkan oleh panitia penyelenggara. Semoga dengan diadakannya acara tahunan ini, dapat membawa berkah bagi kita semua dan membuat desa kita semakin semangat untuk menjaga lingkungan, serta memajukan perkembangan desa Bantal terutama dalam hal pertanian, tekhnologi dan pendidikan. Selain itu, untuk ke depannya peran generasi muda desa ini sangat kami harapkan untuk ikut menyumbangkan aspirasi dan kemampuannya untuk membangun desa Bantal menjadi desa teladan bagi desa-desa yang lainnya. Demikianlah sambutan yang bisa saya sampaikan selaku ketua acara. Bila ada tutur kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawa wicara sedhekahé bumi

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

PERINGATAN MAULID NABI Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kula nuwun! Bapak, Ibu guru saha Siswa-siswi SMPN 2 TANGGULANGIN.Saderengipun mangga kita sesarengan ngaturaken Pudya-pudyastuti katur marang Gusti Allah swt, kang wus paring karahayon marang umate kabeh. Saha kula panjenengan sedaya sami taksih pinaringan kasugengan karaharjan, saged makempal wonten in SMPN 2 TANGGULANGIN mriki. Ing dinten punika tanggal 12 Rabiul awal tahun 1431 H utawi tanggal 14 wulan Januari tahun 2014 Masehi. Kita saged makempal wonten ing SMPN 2 TANGGULANGIN mriki, ingkang seperlu mengeti dinten Maulid Nabi junjungan kita inggih punika kanjeng Nabi Muhammad saw. Kula minangka ketua pembawa acara pengetan Maulid Nabi Muhammad saw ing SMPN 2 TANGGULANGIN. Mriki, ngaturaken gunging panuwun dhumateng para rawuh ingkang sampun kersa nglonggaraken wekdal kersa ngrawuhi pengetan wiyosipun kanjeng Nabi Muhammad saw ing panggenan mriki. Minangka pratandha sampun mantep lan raos sadara dhumateng agami islam minangka pitedah kabagyanipun agesang wonten ing ngalam donya dumugi akhirat. Wondene inti saking pengetan punika badhe dipun wedaraken Bapak Ustadz Ahmad Mujai saking SMPN 2 TANGGULANGIN. Kula kinten atur pambuka pengetan dinten maulid nabi ing dalu punika kula cekapi semanten kemawon. Selajengipun, mangga sesarengan paring tetenger bilih pengetan punika kita wiwiti “bismillahi rahmani rrohim”. Dan kepada Ustadz Ahmad Mujai dipersilahkan. Hadirin sekalian yang kami hormati!. Apa latar belakang dari peringatan maulid Nabi yang setiap tahun diperingati oleh segala lapisan umat islam dan hampir dianggap wajib. Tidak lain hanyalah karena saat itu setelah bertahun-tahun Rasulullah saw., wafat perjuangan islam hampir punah, disana sini hanya memikirkan kepentingan pribadi belaka. Maka setelah diadakan peringatan tersebut perjuangan umat islam menjadi semangat lagi sampai pada zaman kita sekarang ini. Adapun nama orang yang merintis peringatan tersebut bernama: “Shalahuddin Al-Ayyubiy” . Ma’asyiral muslimin rahimakuullah!. Ada rahasia apakah dalam terutusnya Nabi Muhammad saw,. Sehingga beliau termasuk nabi pilihan dan masih banyak lagi predikat keunggulan serta teladan bagi para rasul, tidak lain adalah merupakan rahmat bagi seluruh alam. Hadirin sekalian yang kami muliakan!. Selain kita perhatikan firman allah tersebut,maka kita bisa menyimpulkan bahwa terutusnya Nabi Muhammad saw adalah merupakan rahmat bagi seluruh alam untuk menanamkan rasa kasih sayang kepadanya. Apakah itu alam yang berupa manusia, hewan-hewan,flora dan fauna maupun tumbuh-tumbuhan, semuanya itu akan memperoleh rahmat atau kasih sayang melalui terutusnya Rasulullah saw. Adapun sebagai bukti bahwa semuanya itu benar, maka marilah kita amati mulai dari segi keyakinan(agama). bagaimanakah manusia baik dari bangsa arab maupun bangsa yang lain sebelum Nabi Muhammad saw, diutus?. Tidak lain bangsa tersebut semua hidup dalam suasana yang tidak teratur, berpecah belah serta saling bermusuhan satu sama lain. Dengan demikian maka jadi rendahlah martabat mereka jauh lebih rendah daripada hewan.Demikianlah yang bisa kusumbangkan kepada para hadirin, mohon maaf atas segala kekurangan. Kepada beliau selaku pembawa acara disampaikan banyak terima kasih dan dipersilahkan menutup acara ini. Acara demi acara telah kita lalui bersama, demikianlah santapan rohani telah disampaikan secara panjang lebar, semoga kita mengambil contoh yang baik untuk kita kerjakan dan contoh yang jelek untuk kita jauhi dan semoga bisa menjadi cambuk bagi kita sekalian untuk lebih giat beribadah kepada Allah untuk memperbanyak bekal kembali kealam baqa kelak. Aminn. Dan kepada beliau selaku Ustadz yang hadir disampaikan banyak terima kasih. Maka kini tibalah pada acara yang terakhir yaitu penutup/doa. Bagi kami selaku pembawa acara,jika mulai awal hingga akhir terdapat kekurangan/kekhilafan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kami akhiri ... “IHDINASH SHIRATHAL MUSTAQIM” Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

google translation Javanese Indonesian

Last Update: 2014-09-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Jajan pasar dan bubur merah putih yang harus ada dalam upacara tedak siten. Tedak Siten berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “tedhak” berarti ‘menapakkan kaki’ dan “siten” (berasal dari kata ‘siti’) yang berarti ‘bumi’.Tedhak Siten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat Jawa Tengah . Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar ia menjadi mandiri di masa depan.Upacara Tedhak Siten selalu ditunggu-tunggu oleh orangtua dan kerabat keluarga Jawa karena dari upacara ini mereka dapat memperkirakan minat dan bakat adik kita yang baru bisa berjalan.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-11
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

KESULTANAN BANTEN Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Daftar pemimpin Kesultanan Banten  Sunan Gunung Jati  Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570  Maulana Yusuf 1570 - 1580  Maulana Muhammad 1585 - 1590  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640  Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650  Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687  Sultan Yahya 1687 - 1690  Sultan Zainul Abidin 1690 - 1733  Sultan Arifin 1733–1748  Halimin  Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777 Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn. Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi. Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor. Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu. Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

KESULTANAN BANTEN Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Daftar pemimpin Kesultanan Banten  Sunan Gunung Jati  Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570  Maulana Yusuf 1570 - 1580  Maulana Muhammad 1585 - 1590  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640  Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650  Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687  Sultan Yahya 1687 - 1690  Sultan Zainul Abidin 1690 - 1733  Sultan Arifin 1733–1748  Halimin  Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777 Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn. Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi. Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor. Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu. Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

Last Update: 2014-09-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

KESULTANAN BANTEN Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Daftar pemimpin Kesultanan Banten  Sunan Gunung Jati  Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570  Maulana Yusuf 1570 - 1580  Maulana Muhammad 1585 - 1590  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640  Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650  Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687  Sultan Yahya 1687 - 1690  Sultan Zainul Abidin 1690 - 1733  Sultan Arifin 1733–1748  Halimin  Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777 Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn. Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi. Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor. Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu. Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-04
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

assalamu alaikum Wr Wb. Yang terhormat adik-adik tamu undangan Yang kami hormati Bapak Ibu shohibul hajat Pertama – tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT, yang telah melimpahkan rahmatNya Kepada kita sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul tanpa halangan suatu apapun. Dan mari kita ikrakan dengan ucapan tahmid Alhamdu lillahi robil alamin. Sholawat dan salam Allah semoga tersanjung atas Nabi Muhammad SAW. Yang menuntun kita dari zaman kegelapan sampai zaman yaman yang terang benderang ini. Saya mengucapkan selamat terima kasih kepada adik-adik yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri Ultah Nanta yang kelima hari ini. Disini saya akan membacakan susunan acara pada kali ini Acara yang pertama yaitu pembukaan Kemudian dilanjutkan sambutan shohibul hajat Acara ketiga yaitu pemotongan kue.. Selanjutnya yaitu hiburan Untuk membuka acara pada kali ini marilah kita berdoa menurut keyakinan masing- masing ….berdo’a mulai……… (Tamu undangan berdoa) Dengan dimulainya dengan berdo’a semoga acara ini lancar hingga akhir acara nanti. Selanjutnya acara yang kedua yaitu sambutan shohibul hajat kepada yth bapak riris kami persilahkan ( sambutan shohibul hajat ) Terima kasih kepada Bp Riris yang telah meberikan sambutan senagai shohibul hajat. Selanjutnya acara yang ketiga yaitu pemotongan kue….untuk itu hadirin di persilahkan berdiri Selamat ulang tahun kami ucapkan Selamat panjang umur kami kan do’akan Selamat sejahtera sehat sentosa Selamat panjang umur dan bahagia Tiup lilinya tiup lilinya tiup lilinya sekarang juga sekarang juga sekarag juga Potong kue-nya Potong kue-nya Potong kue-nya Potong kue-nya sekarang juga sekarang juga Makan kue-nya makan kue-nya makan kue-nya makan kue-nya sekarang juga sekarang juga Hadirin dipersilahkan duduk kembali. Saatnya kita mendengarkan teman2 kita yang mau menyumbangka lagu….. Untuk itu kami persilahkan teman-teman untuk menyumbangkan lagu….. Demikianlah acara demi acara telah kita lalui bersama atas nama shohibul hajat kami minta doanya semoga adik nanta tambah pinter dan panjang umur. Dan saya selaku pembawa tentunya banyak salah dalam membawakan acara kali mengucapkan minta maaf yang sebesar2nya akhirnya kami ucapkan wabilahi taufiq walhidayah wasalamu alaikum Wr Wb

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-09-03
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahaKenduri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah,dan sebagainya.[1] Kenduri atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Selamatan atau Kenduren (sebutan kenduri bagi masyarakat Jawa) telah ada sejak dahulu sebelum masuknya agama ke Nusantara.[1] Dalam praktikya, kenduri merupakan sebuah acara berkumpul, yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang yang dipimpin oleh orang yang dituakan atau orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut.[2] [3] Seperti : Kiyai.[2] [3] Pada umumnya, kenduri dilakukan setelah ba'da isya, dan disajikan sebuah nasi tumpeng dan besek (tempat yg terbuat darr anyaman bambu bertutup bentuknya segi empat yang dibawa pulang oleh seseorang dari acara selametan atau kenduri) untuk tamu undangan.[2] [3] Sedangkan bagi kaum perempuan , kenduri memberikan ruang privasi untuk kaum wanita dalam berbagi informasi baik tentang keluarga sendiri maupun tetangga yang lain.[1] Di sinilah wanita bisa saling bertukar cerita dengan bebas tanpa gangguan dari kaum [laki-laki|lelaki]] selama mereka menyiapkan makanan, karena wanita akan bekerja mempersiapkan kenduri dalam waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 4-7 hari pada masa perayaan.[1] Pada zaman sekarang, kenduri masih banyak dilakukan oleh segala lingkup masyarakat baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan.[4] [3] Karena kenduri merupakan sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara untuk memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan.[3] [4] Macam[sunting sumber] Kenduri selapanan Tujuan kenduri selapanan adalah untuk mendoakan anak tersebut (yang didoakan) terhindar dari penyakit, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, terhindar dari bencana, dan menjadi anak yang bermanfaat dalam bermasyarakat.[3] Biasanya kenduri ini diadakan setelah anak berumur 35 hari atau selapan.[3] Kenduri Suronan Tujuan diadakan kenduri suronan adalah untuk memperingati tahun jawa.[3] Biasanya tanggal 10 suro dan laksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Mitoni Tujuan kenduri mitoni adalah untuk memperingati kehamilan anak pertama yang masih dalam kandungan dan berumur kurang lebih tujuh bulan.[3] Kenduri Puputan Tujuan diadakan kenduri puputan adalah untuk memperingati terlepasnya tali pusar anak.[3] Biasanya dilakukan sebelum anak berumur selapan atau kalau tali pusarnya terlepas.[3] Kenduri Syukuran Tujuan diadakan kenduri syukuran adalah untuk mengucapkan rasa syukur karena yang sebuah hal yang diinginkan sudah tercapai dan orang yang mengadakan kenduri syukuran ini bersedekah dengan masyarakat sekitar.[3] Kenduri Munggahan Kenduri ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur ke Surga (beberapa tempat menyebutnya dengan selamaten pati).[5] Kenduri ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduri tersebut.[5] [3] Dan, kenduri ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yakni: kenduren/selamatan ke-3(Kenduri Telongdinanan), ke-7 (Kenduri Pitungdinanan), ke-40 (Kenduri Patangpuluhan), ke-100 (Kenduri Nyatusan), dan ke-1000 (Kenduri Nyewu) hari wafatnya seseorang.[5] [3] Kenduri Badan (lebaran/mudunan) Kenduri ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge).[5] Kenduri ini sama seperti kenduri Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur agar dapat bertemu dan bertegur sapa.[5] Yang membedakan hanya, sebelum kenduri badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.[5] Kenduri Weton Kenduri ini dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang.[5] Di beberapa tempat, kenduri jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut.[5] Kenduri ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).[5] Kenduri Sko Kenduri ini merupakan kendurian terbesar dalam masyarakat Kerinici.[6] Kenduri ini biasanya dilaksanakan setelah panen hasil sawah yang pada awalnya dilakukan untuk tujuan meningkatkan rasa kebersamaan antar sesama masyarakat yang memanen.[6] Kenduri Selikuran Tujuan diadakan kenduri selikuran adalah untuk memperingati puasa sudah 21 hari.[3] Biasanya dilaksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Angsumdahar Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] sa indonesia ke bahasa jawa

google agensi ngaKenduri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah,dan sebagainya.[1] Kenduri atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Selamatan atau Kenduren (sebutan kenduri bagi masyarakat Jawa) telah ada sejak dahulu sebelum masuknya agama ke Nusantara.[1] Dalam praktikya, kenduri merupakan sebuah acara berkumpul, yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang yang dipimpin oleh orang yang dituakan atau orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut.[2] [3] Seperti : Kiyai.[2] [3] Pada umumnya, kenduri dilakukan setelah ba'da isya, dan disajikan sebuah nasi tumpeng dan besek (tempat yg terbuat darr anyaman bambu bertutup bentuknya segi empat yang dibawa pulang oleh seseorang dari acara selametan atau kenduri) untuk tamu undangan.[2] [3] Sedangkan bagi kaum perempuan , kenduri memberikan ruang privasi untuk kaum wanita dalam berbagi informasi baik tentang keluarga sendiri maupun tetangga yang lain.[1] Di sinilah wanita bisa saling bertukar cerita dengan bebas tanpa gangguan dari kaum [laki-laki|lelaki]] selama mereka menyiapkan makanan, karena wanita akan bekerja mempersiapkan kenduri dalam waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 4-7 hari pada masa perayaan.[1] Pada zaman sekarang, kenduri masih banyak dilakukan oleh segala lingkup masyarakat baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan.[4] [3] Karena kenduri merupakan sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara untuk memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan.[3] [4] Macam[sunting sumber] Kenduri selapanan Tujuan kenduri selapanan adalah untuk mendoakan anak tersebut (yang didoakan) terhindar dari penyakit, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, terhindar dari bencana, dan menjadi anak yang bermanfaat dalam bermasyarakat.[3] Biasanya kenduri ini diadakan setelah anak berumur 35 hari atau selapan.[3] Kenduri Suronan Tujuan diadakan kenduri suronan adalah untuk memperingati tahun jawa.[3] Biasanya tanggal 10 suro dan laksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Mitoni Tujuan kenduri mitoni adalah untuk memperingati kehamilan anak pertama yang masih dalam kandungan dan berumur kurang lebih tujuh bulan.[3] Kenduri Puputan Tujuan diadakan kenduri puputan adalah untuk memperingati terlepasnya tali pusar anak.[3] Biasanya dilakukan sebelum anak berumur selapan atau kalau tali pusarnya terlepas.[3] Kenduri Syukuran Tujuan diadakan kenduri syukuran adalah untuk mengucapkan rasa syukur karena yang sebuah hal yang diinginkan sudah tercapai dan orang yang mengadakan kenduri syukuran ini bersedekah dengan masyarakat sekitar.[3] Kenduri Munggahan Kenduri ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur ke Surga (beberapa tempat menyebutnya dengan selamaten pati).[5] Kenduri ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduri tersebut.[5] [3] Dan, kenduri ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yakni: kenduren/selamatan ke-3(Kenduri Telongdinanan), ke-7 (Kenduri Pitungdinanan), ke-40 (Kenduri Patangpuluhan), ke-100 (Kenduri Nyatusan), dan ke-1000 (Kenduri Nyewu) hari wafatnya seseorang.[5] [3] Kenduri Badan (lebaran/mudunan) Kenduri ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge).[5] Kenduri ini sama seperti kenduri Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur agar dapat bertemu dan bertegur sapa.[5] Yang membedakan hanya, sebelum kenduri badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.[5] Kenduri Weton Kenduri ini dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang.[5] Di beberapa tempat, kenduri jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut.[5] Kenduri ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).[5] Kenduri Sko Kenduri ini merupakan kendurian terbesar dalam masyarakat Kerinici.[6] Kenduri ini biasanya dilaksanakan setelah panen hasil sawah yang pada awalnya dilakukan untuk tujuan meningkatkan rasa kebersamaan antar sesama masyarakat yang memanen.[6] Kenduri Selikuran Tujuan diadakan kenduri selikuran adalah untuk memperingati puasa sudah 21 hari.[3] Biasanya dilaksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Angsumdahar Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] nti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-08-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google terjemahan bahaKenduri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah,dan sebagainya.[1] Kenduri atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Selamatan atau Kenduren (sebutan kenduri bagi masyarakat Jawa) telah ada sejak dahulu sebelum masuknya agama ke Nusantara.[1] Dalam praktikya, kenduri merupakan sebuah acara berkumpul, yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang yang dipimpin oleh orang yang dituakan atau orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut.[2] [3] Seperti : Kiyai.[2] [3] Pada umumnya, kenduri dilakukan setelah ba'da isya, dan disajikan sebuah nasi tumpeng dan besek (tempat yg terbuat darr anyaman bambu bertutup bentuknya segi empat yang dibawa pulang oleh seseorang dari acara selametan atau kenduri) untuk tamu undangan.[2] [3] Sedangkan bagi kaum perempuan , kenduri memberikan ruang privasi untuk kaum wanita dalam berbagi informasi baik tentang keluarga sendiri maupun tetangga yang lain.[1] Di sinilah wanita bisa saling bertukar cerita dengan bebas tanpa gangguan dari kaum [laki-laki|lelaki]] selama mereka menyiapkan makanan, karena wanita akan bekerja mempersiapkan kenduri dalam waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 4-7 hari pada masa perayaan.[1] Pada zaman sekarang, kenduri masih banyak dilakukan oleh segala lingkup masyarakat baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan.[4] [3] Karena kenduri merupakan sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara untuk memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan.[3] [4] Macam[sunting sumber] Kenduri selapanan Tujuan kenduri selapanan adalah untuk mendoakan anak tersebut (yang didoakan) terhindar dari penyakit, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, terhindar dari bencana, dan menjadi anak yang bermanfaat dalam bermasyarakat.[3] Biasanya kenduri ini diadakan setelah anak berumur 35 hari atau selapan.[3] Kenduri Suronan Tujuan diadakan kenduri suronan adalah untuk memperingati tahun jawa.[3] Biasanya tanggal 10 suro dan laksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Mitoni Tujuan kenduri mitoni adalah untuk memperingati kehamilan anak pertama yang masih dalam kandungan dan berumur kurang lebih tujuh bulan.[3] Kenduri Puputan Tujuan diadakan kenduri puputan adalah untuk memperingati terlepasnya tali pusar anak.[3] Biasanya dilakukan sebelum anak berumur selapan atau kalau tali pusarnya terlepas.[3] Kenduri Syukuran Tujuan diadakan kenduri syukuran adalah untuk mengucapkan rasa syukur karena yang sebuah hal yang diinginkan sudah tercapai dan orang yang mengadakan kenduri syukuran ini bersedekah dengan masyarakat sekitar.[3] Kenduri Munggahan Kenduri ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur ke Surga (beberapa tempat menyebutnya dengan selamaten pati).[5] Kenduri ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduri tersebut.[5] [3] Dan, kenduri ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yakni: kenduren/selamatan ke-3(Kenduri Telongdinanan), ke-7 (Kenduri Pitungdinanan), ke-40 (Kenduri Patangpuluhan), ke-100 (Kenduri Nyatusan), dan ke-1000 (Kenduri Nyewu) hari wafatnya seseorang.[5] [3] Kenduri Badan (lebaran/mudunan) Kenduri ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge).[5] Kenduri ini sama seperti kenduri Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur agar dapat bertemu dan bertegur sapa.[5] Yang membedakan hanya, sebelum kenduri badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.[5] Kenduri Weton Kenduri ini dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang.[5] Di beberapa tempat, kenduri jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut.[5] Kenduri ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).[5] Kenduri Sko Kenduri ini merupakan kendurian terbesar dalam masyarakat Kerinici.[6] Kenduri ini biasanya dilaksanakan setelah panen hasil sawah yang pada awalnya dilakukan untuk tujuan meningkatkan rasa kebersamaan antar sesama masyarakat yang memanen.[6] Kenduri Selikuran Tujuan diadakan kenduri selikuran adalah untuk memperingati puasa sudah 21 hari.[3] Biasanya dilaksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.[3] Kenduri Angsumdahar Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] Tujuan diadakan kenduri ini adalah untuk memperingati calon pengantin sebelum resmi menikah dan biasanya dilaksanakan 2 hari sebelum calon pengantin tersebut menikah.[3] sa indonesia ke bahasa jawa

google agensi nganti Jawa Indonesia

Last Update: 2014-08-31
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Definisi Sesuai standar JAS, udon berbentuk bulat seperti pipa harus berdiameter di atas 1,7 mm, sedangkan udon berbentuk pipih harus memiliki lebar di atas 1,7 mm. Hiyamugi terlihat mirip dengan udon namun lebih langsing. Hiyamugi mempunyai diameter 1,2-1,7 mm dan ketebalan 1,0-2,0 mm. Selain disebut Hiyamugi, udon yang langsing juga disebut Hosoudon. Tepung terigu berprotein sedang atau rendah diulen dengan air dan sedikit garam untuk membuat adonan udon. Setelah adonan dipotong-potong, udon bisa langsung direbus. Udon rebus biasanya dimakan bersama kuah yang dibuat dari dashi dengan tambahan kecap asin yang disebut tsuyu. Di Jepang bagian barat, kuah udon berwarna coklat muda hampir bening karena memakai kecap asin encer (usukuchi shōyu). Sedangkan di Jepang bagian timur, kuah udon berwarna gelap hampir hitam karena memakai kecap asin kental (koikuchi shōyu). Di Jepang, udon merupakan makanan rakyat, berharga murah dan banyak dimakan sebagai pengganti nasi. Orang Jepang sejak dulu sudah akrab dengan udon dan sering dimakan beramai-ramai sewaktu ada keramaian atau perayaan. Variasi cara memasak dan jenis lauk yang digunakan berbeda-beda bergantung pada daerahnya di Jepang. Sejarah Di zaman kuno, udon dilafalkan sebagai "undon". Konon orang Jepang mengenalnya di abad pertengahan sebagai makanan asal Tiongkok. Sampai sekarang, pangsit (wonton) dalam dialek Wu ditulis sebagai 餛飩 dan dibaca sebagai undon. Dalam kitab Engishiki, "undon" diperkenalkan sebagai salah satu jenis makanan dari dinasti Tang. Tapi "undon" zaman itu mungkin lebih dekat dengan pangsit, karena berupa daging dibungkus lembaran tepung yang digilas tipis. Udon yang dikenal sekarang ini dulunya disebut Kirimugi, dan baru disebut "udon" sejak zaman Edo. Pada waktu itu, "udon" adalah nama untuk sejenis masakan berupa kirimugi yang dimakan dengan kuah hangat, atau didinginkan dengan air es setelah direbus. Udon di berbagai daerah Menurut pembagian yang dibuat orang awam, udon identik dengan Jepang bagian barat sedangkan soba identik dengan Jepang bagian timur. Pembagian model ini tidak sepenuhnya benar, banyak wilayah di Jepang bagian timur yang sekaligus mengenal soba dan udon. Udon sudah dikenal luas penduduk Edo sejak zaman Edo. Di paruh pertama zaman Edo, soba berbentuk mi belum dikenal. Ketika orang masih menikmati tepung soba dalam bentuk Sobagaki, udon sudah merupakan mi yang populer. Tapi setelah dikenal mi dari soba yang kepopulerannya diangkat rumah makan khusus soba (sobaya), udon tidak lagi merupakan makanan populer di Edo. Di Tokyo dan sekitarnya, rumah makan khusus udon memang tidak banyak dijumpai dibandingkan di daerah Kansai. Sebaliknya di daerah Kansai hampir sulit ditemui rumah makan khusus soba. Di dalam menu penjual udon di daerah Kansai biasanya juga tersedia soba. Selain itu, rumah makan yang menyediakan soba sering menyebut dirinya rumah makan udon. Kepopuleran Sanuki udon pada tahun 2000 sempat membuka peluang bagi ekspansi restoran udon model waralaba di wilayah Kanto. Sayangnya, sejak tahun 2004 minat orang terhadap Sanuki udon terlihat cenderung menurun. Di daerah asal Sanuki udon di Prefektur Kagawa, hanya ada sedikit penjual udon yang mau memasukkan soba ke dalam menu. Kuah Kuah udon di daerah Kanto berbeda dengan kuah udon di daerah Kansai. Di daerah Kanto, kuah berwarna gelap dan terasa lebih asin. Sedangkan di daerah Kansai, kuah nyaris bening dan tidak asin. Di daerah Kanto, kuah udon secara umum dibuat berdasarkan takaran untuk membuat kuah soba. Kuah udon ala Kanto dibuat dari campuran dashi dan kaeshi (mirin dan gula yang dimasak bersama kecap asin). Di daerah Kansai, kuah udon berupa dashi yang dibuat dari campuran berbagai bahan seperti: kombu, sababushi, katsuobushi, shiitake, dan niboshi yang sudah sedikit digongseng. Ditambah kecap asin encer yang warnanya tidak terlalu gelap, kuah udon yang dihasilkan berwarna hampir bening. Kuah udon di daerah Kanto sering dianggap terlalu asin bagi orang Kansai, bahkan dari cuma melihatnya saja. Orang asal Kansai sering tidak mau makan udon ala Kanto yang kuahnya berwarna gelap hingga dasar mangkok menjadi tidak kelihatan. Asin atau tidak asin sebenarnya tidak bisa ditentukan dari warna kuah. Kecap asin kental yang digunakan di daerah Kanto hanya memiliki aroma dan warna yang lebih pekat. Sedangkan kadar garam yang dikandung kira-kira hampir sama dengan kecap asin encer di daerah Kansai. Sebagai jalan tengah, rumah makan udon di daerah Kanto perlu menuliskan udon yang dijualnya sebagai ala Kansai atau ala Kanto. Prefektur Shiga, Prefektur Gifu, Prefektur Aichi, dan Prefektur Shizuoka sering dipakai orang sebagai garis batas yang memisahkan udon ala Kansai dan udon ala Kanto. Di tempat-tempat tersebut bisa ditemui udon dalam dua versi. Pembagian udon ala Kanto dan ala Kansai bisa juga ditemui di kios-kios penjual mi soba yang ada di dalam stasiun JR sepanjang jalur utama Tokaido. Kuah yang digunakan penjual soba di stasiun kereta api JR mulai dari stasiun Sekigahara ke arah timur, seperti Nagoya dan Gifu adalah kuah kental ala Kanto. Sebaliknya, penjual soba dari stasiun Sekigahara ke arah barat semuanya menggunakan kuah encer ala Kansai. Jenis-jenis udon Berdasarkan bentuk Udon tebal (futo udon) Udon tipis (hoso udon) Udon kecil-kecil (himokawa udon) Berdasarkan cara pembuatan Teuchi (udon buatan tangan) Adonan udon digilas tipis dan dipotong memakai pisau secara manual. Disebut juga Teuchi Udon, dan banyak ditawarkan rumah makan udon kelas menengah hingga kelas atas. Kikaiuchi (udon buatan mesin) Dibuat di pabrik dengan mesin otomatis sehingga harganya murah. Sebagian besar udon yang dijual di Jepang merupakan produksi pabrik. Tenobe (udon yang dilebarkan dengan tangan) Udon jenis ini termasuk langka, dibuat dengan cara menarik-narik adonan dan melipatnya berkali-kali dengan menggunakan dua batang kayu atau sumpit panjang. Cara ini mirip dengan teknik pembuatan somen atau mi tradisional Tiongkok. Berdasarkan bentuk fisik Tama udon (udon bundar) Udon mentah yang baru jadi direbus dengan air mendidih selama 1 menit. Setelah itu udon diangkat dan dibundarkan. Sebelum dimakan, udon masih harus direbus kembali dan ditiriskan. Udon jenis ini masih banyak mengandung air dan tidak tahan lama disimpan. Tama udon yang dimasukkan ke dalam kantong plastik disebut Yude udon (udon rebus) dan banyak dijual di pasar-pasar swalayan di Jepang. Nama udon (udon segar) Udon yang baru jadi, ditaburi tepung dan dibungkus. Udon segar biasanya lebih enak dari jenis udon lainnya, tapi tidak tahan lama disimpan. Selama belum direbus, tepung terigu yang dikandung udon terus mengalami proses pematangan. Udon segar harus segera dimasak karena cuma tahan beberapa hari saja. Sebelum dihidangkan, udon segar harus direbus dan ditiriskan airnya. Hoshi udon (udon kering) Udon yang dijadikan udon kering biasanya adalah hoso udon (udon tipis). Setelah jadi, udon dilipat sama panjang, berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 20 cm dan dikeringkan. Udon kering bisa tahan lama disimpan dan sebelum dimakan harus direbus terlebih dulu. Dibandingkan dengan udon segar, udon yang sudah dikeringkan rasanya tidak begitu enak. Udon jenis ini sering digunakan untuk membuat udon goreng yang disebut Yakiudon. Reitō udon (udon beku) Setelah direbus dengan air mendidih, udon langsung dibekukan. Jenis udon segar yang dibekukan tanpa direbus lebih dulu disebut Reitonama udon (udon segar beku). Air yang terkandung di dalam berbagai jenis mi akan mengembang bila dibekukan. Susunan molekul tepung terpecah-pecah sehingga rasa mi menjadi kurang enak. Agar udon beku yang sudah direbus bisa kenyal kembali, produsen udon sering menambahkan tapioka atau zat tepung yang lain. Udon instan Udon instan yang dijual dalam kemasan mangkok biasanya sudah digoreng dengan minyak atau mengalami proses freeze drying. Udon instan tahan lama dan bisa langsung dimakan setelah diseduh air panas. Udon instan yang tidak digoreng tapi dikeringkan dengan hembusan udara panas sering dianggap lebih enak.

Definisi Sesuai standar JAS, udon berbentuk bulat seperti pipa harus berdiameter di atas 1,7 mm, sedangkan udon berbentuk pipih harus memiliki lebar di atas 1,7 mm. Hiyamugi terlihat mirip dengan udon namun lebih langsing. Hiyamugi mempunyai diameter 1,2-1,7 mm dan ketebalan 1,0-2,0 mm. Selain disebut Hiyamugi, udon yang langsing juga disebut Hosoudon. Tepung terigu berprotein sedang atau rendah diulen dengan air dan sedikit garam untuk membuat adonan udon. Setelah adonan dipotong-potong, udon bisa langsung direbus. Udon rebus biasanya dimakan bersama kuah yang dibuat dari dashi dengan tambahan kecap asin yang disebut tsuyu. Di Jepang bagian barat, kuah udon berwarna coklat muda hampir bening karena memakai kecap asin encer (usukuchi shōyu). Sedangkan di Jepang bagian timur, kuah udon berwarna gelap hampir hitam karena memakai kecap asin kental (koikuchi shōyu). Di Jepang, udon merupakan makanan rakyat, berharga murah dan banyak dimakan sebagai pengganti nasi. Orang Jepang sejak dulu sudah akrab dengan udon dan sering dimakan beramai-ramai sewaktu ada keramaian atau perayaan. Variasi cara memasak dan jenis lauk yang digunakan berbeda-beda bergantung pada daerahnya di Jepang. Sejarah Di zaman kuno, udon dilafalkan sebagai "undon". Konon orang Jepang mengenalnya di abad pertengahan sebagai makanan asal Tiongkok. Sampai sekarang, pangsit (wonton) dalam dialek Wu ditulis sebagai 餛飩 dan dibaca sebagai undon. Dalam kitab Engishiki, "undon" diperkenalkan sebagai salah satu jenis makanan dari dinasti Tang. Tapi "undon" zaman itu mungkin lebih dekat dengan pangsit, karena berupa daging dibungkus lembaran tepung yang digilas tipis. Udon yang dikenal sekarang ini dulunya disebut Kirimugi, dan baru disebut "udon" sejak zaman Edo. Pada waktu itu, "udon" adalah nama untuk sejenis masakan berupa kirimugi yang dimakan dengan kuah hangat, atau didinginkan dengan air es setelah direbus. Udon di berbagai daerah Menurut pembagian yang dibuat orang awam, udon identik dengan Jepang bagian barat sedangkan soba identik dengan Jepang bagian timur. Pembagian model ini tidak sepenuhnya benar, banyak wilayah di Jepang bagian timur yang sekaligus mengenal soba dan udon. Udon sudah dikenal luas penduduk Edo sejak zaman Edo. Di paruh pertama zaman Edo, soba berbentuk mi belum dikenal. Ketika orang masih menikmati tepung soba dalam bentuk Sobagaki, udon sudah merupakan mi yang populer. Tapi setelah dikenal mi dari soba yang kepopulerannya diangkat rumah makan khusus soba (sobaya), udon tidak lagi merupakan makanan populer di Edo. Di Tokyo dan sekitarnya, rumah makan khusus udon memang tidak banyak dijumpai dibandingkan di daerah Kansai. Sebaliknya di daerah Kansai hampir sulit ditemui rumah makan khusus soba. Di dalam menu penjual udon di daerah Kansai biasanya juga tersedia soba. Selain itu, rumah makan yang menyediakan soba sering menyebut dirinya rumah makan udon. Kepopuleran Sanuki udon pada tahun 2000 sempat membuka peluang bagi ekspansi restoran udon model waralaba di wilayah Kanto. Sayangnya, sejak tahun 2004 minat orang terhadap Sanuki udon terlihat cenderung menurun. Di daerah asal Sanuki udon di Prefektur Kagawa, hanya ada sedikit penjual udon yang mau memasukkan soba ke dalam menu. Kuah Kuah udon di daerah Kanto berbeda dengan kuah udon di daerah Kansai. Di daerah Kanto, kuah berwarna gelap dan terasa lebih asin. Sedangkan di daerah Kansai, kuah nyaris bening dan tidak asin. Di daerah Kanto, kuah udon secara umum dibuat berdasarkan takaran untuk membuat kuah soba. Kuah udon ala Kanto dibuat dari campuran dashi dan kaeshi (mirin dan gula yang dimasak bersama kecap asin). Di daerah Kansai, kuah udon berupa dashi yang dibuat dari campuran berbagai bahan seperti: kombu, sababushi, katsuobushi, shiitake, dan niboshi yang sudah sedikit digongseng. Ditambah kecap asin encer yang warnanya tidak terlalu gelap, kuah udon yang dihasilkan berwarna hampir bening. Kuah udon di daerah Kanto sering dianggap terlalu asin bagi orang Kansai, bahkan dari cuma melihatnya saja. Orang asal Kansai sering tidak mau makan udon ala Kanto yang kuahnya berwarna gelap hingga dasar mangkok menjadi tidak kelihatan. Asin atau tidak asin sebenarnya tidak bisa ditentukan dari warna kuah. Kecap asin kental yang digunakan di daerah Kanto hanya memiliki aroma dan warna yang lebih pekat. Sedangkan kadar garam yang dikandung kira-kira hampir sama dengan kecap asin encer di daerah Kansai. Sebagai jalan tengah, rumah makan udon di daerah Kanto perlu menuliskan udon yang dijualnya sebagai ala Kansai atau ala Kanto. Prefektur Shiga, Prefektur Gifu, Prefektur Aichi, dan Prefektur Shizuoka sering dipakai orang sebagai garis batas yang memisahkan udon ala Kansai dan udon ala Kanto. Di tempat-tempat tersebut bisa ditemui udon dalam dua versi. Pembagian udon ala Kanto dan ala Kansai bisa juga ditemui di kios-kios penjual mi soba yang ada di dalam stasiun JR sepanjang jalur utama Tokaido. Kuah yang digunakan penjual soba di stasiun kereta api JR mulai dari stasiun Sekigahara ke arah timur, seperti Nagoya dan Gifu adalah kuah kental ala Kanto. Sebaliknya, penjual soba dari stasiun Sekigahara ke arah barat semuanya menggunakan kuah encer ala Kansai. Jenis-jenis udon Berdasarkan bentuk Udon tebal (futo udon) Udon tipis (hoso udon) Udon kecil-kecil (himokawa udon) Berdasarkan cara pembuatan Teuchi (udon buatan tangan) Adonan udon digilas tipis dan dipotong memakai pisau secara manual. Disebut juga Teuchi Udon, dan banyak ditawarkan rumah makan udon kelas menengah hingga kelas atas. Kikaiuchi (udon buatan mesin) Dibuat di pabrik dengan mesin otomatis sehingga harganya murah. Sebagian besar udon yang dijual di Jepang merupakan produksi pabrik. Tenobe (udon yang dilebarkan dengan tangan) Udon jenis ini termasuk langka, dibuat dengan cara menarik-narik adonan dan melipatnya berkali-kali dengan menggunakan dua batang kayu atau sumpit panjang. Cara ini mirip dengan teknik pembuatan somen atau mi tradisional Tiongkok. Berdasarkan bentuk fisik Tama udon (udon bundar) Udon mentah yang baru jadi direbus dengan air mendidih selama 1 menit. Setelah itu udon diangkat dan dibundarkan. Sebelum dimakan, udon masih harus direbus kembali dan ditiriskan. Udon jenis ini masih banyak mengandung air dan tidak tahan lama disimpan. Tama udon yang dimasukkan ke dalam kantong plastik disebut Yude udon (udon rebus) dan banyak dijual di pasar-pasar swalayan di Jepang. Nama udon (udon segar) Udon yang baru jadi, ditaburi tepung dan dibungkus. Udon segar biasanya lebih enak dari jenis udon lainnya, tapi tidak tahan lama disimpan. Selama belum direbus, tepung terigu yang dikandung udon terus mengalami proses pematangan. Udon segar harus segera dimasak karena cuma tahan beberapa hari saja. Sebelum dihidangkan, udon segar harus direbus dan ditiriskan airnya. Hoshi udon (udon kering) Udon yang dijadikan udon kering biasanya adalah hoso udon (udon tipis). Setelah jadi, udon dilipat sama panjang, berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 20 cm dan dikeringkan. Udon kering bisa tahan lama disimpan dan sebelum dimakan harus direbus terlebih dulu. Dibandingkan dengan udon segar, udon yang sudah dikeringkan rasanya tidak begitu enak. Udon jenis ini sering digunakan untuk membuat udon goreng yang disebut Yakiudon. Reitō udon (udon beku) Setelah direbus dengan air mendidih, udon langsung dibekukan. Jenis udon segar yang dibekukan tanpa direbus lebih dulu disebut Reitonama udon (udon segar beku). Air yang terkandung di dalam berbagai jenis mi akan mengembang bila dibekukan. Susunan molekul tepung terpecah-pecah sehingga rasa mi menjadi kurang enak. Agar udon beku yang sudah direbus bisa kenyal kembali, produsen udon sering menambahkan tapioka atau zat tepung yang lain. Udon instan Udon instan yang dijual dalam kemasan mangkok biasanya sudah digoreng dengan minyak atau mengalami proses freeze drying. Udon instan tahan lama dan bisa langsung dimakan setelah diseduh air panas. Udon instan yang tidak digoreng tapi dikeringkan dengan hembusan udara panas sering dianggap lebih enak.

Last Update: 2014-07-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Definisi Sesuai standar JAS, udon berbentuk bulat seperti pipa harus berdiameter di atas 1,7 mm, sedangkan udon berbentuk pipih harus memiliki lebar di atas 1,7 mm. Hiyamugi terlihat mirip dengan udon namun lebih langsing. Hiyamugi mempunyai diameter 1,2-1,7 mm dan ketebalan 1,0-2,0 mm. Selain disebut Hiyamugi, udon yang langsing juga disebut Hosoudon. Tepung terigu berprotein sedang atau rendah diulen dengan air dan sedikit garam untuk membuat adonan udon. Setelah adonan dipotong-potong, udon bisa langsung direbus. Udon rebus biasanya dimakan bersama kuah yang dibuat dari dashi dengan tambahan kecap asin yang disebut tsuyu. Di Jepang bagian barat, kuah udon berwarna coklat muda hampir bening karena memakai kecap asin encer (usukuchi shōyu). Sedangkan di Jepang bagian timur, kuah udon berwarna gelap hampir hitam karena memakai kecap asin kental (koikuchi shōyu). Di Jepang, udon merupakan makanan rakyat, berharga murah dan banyak dimakan sebagai pengganti nasi. Orang Jepang sejak dulu sudah akrab dengan udon dan sering dimakan beramai-ramai sewaktu ada keramaian atau perayaan. Variasi cara memasak dan jenis lauk yang digunakan berbeda-beda bergantung pada daerahnya di Jepang. Sejarah Di zaman kuno, udon dilafalkan sebagai "undon". Konon orang Jepang mengenalnya di abad pertengahan sebagai makanan asal Tiongkok. Sampai sekarang, pangsit (wonton) dalam dialek Wu ditulis sebagai 餛飩 dan dibaca sebagai undon. Dalam kitab Engishiki, "undon" diperkenalkan sebagai salah satu jenis makanan dari dinasti Tang. Tapi "undon" zaman itu mungkin lebih dekat dengan pangsit, karena berupa daging dibungkus lembaran tepung yang digilas tipis. Udon yang dikenal sekarang ini dulunya disebut Kirimugi, dan baru disebut "udon" sejak zaman Edo. Pada waktu itu, "udon" adalah nama untuk sejenis masakan berupa kirimugi yang dimakan dengan kuah hangat, atau didinginkan dengan air es setelah direbus. Udon di berbagai daerah Menurut pembagian yang dibuat orang awam, udon identik dengan Jepang bagian barat sedangkan soba identik dengan Jepang bagian timur. Pembagian model ini tidak sepenuhnya benar, banyak wilayah di Jepang bagian timur yang sekaligus mengenal soba dan udon. Udon sudah dikenal luas penduduk Edo sejak zaman Edo. Di paruh pertama zaman Edo, soba berbentuk mi belum dikenal. Ketika orang masih menikmati tepung soba dalam bentuk Sobagaki, udon sudah merupakan mi yang populer. Tapi setelah dikenal mi dari soba yang kepopulerannya diangkat rumah makan khusus soba (sobaya), udon tidak lagi merupakan makanan populer di Edo. Di Tokyo dan sekitarnya, rumah makan khusus udon memang tidak banyak dijumpai dibandingkan di daerah Kansai. Sebaliknya di daerah Kansai hampir sulit ditemui rumah makan khusus soba. Di dalam menu penjual udon di daerah Kansai biasanya juga tersedia soba. Selain itu, rumah makan yang menyediakan soba sering menyebut dirinya rumah makan udon. Kepopuleran Sanuki udon pada tahun 2000 sempat membuka peluang bagi ekspansi restoran udon model waralaba di wilayah Kanto. Sayangnya, sejak tahun 2004 minat orang terhadap Sanuki udon terlihat cenderung menurun. Di daerah asal Sanuki udon di Prefektur Kagawa, hanya ada sedikit penjual udon yang mau memasukkan soba ke dalam menu. Kuah Kuah udon di daerah Kanto berbeda dengan kuah udon di daerah Kansai. Di daerah Kanto, kuah berwarna gelap dan terasa lebih asin. Sedangkan di daerah Kansai, kuah nyaris bening dan tidak asin. Di daerah Kanto, kuah udon secara umum dibuat berdasarkan takaran untuk membuat kuah soba. Kuah udon ala Kanto dibuat dari campuran dashi dan kaeshi (mirin dan gula yang dimasak bersama kecap asin). Di daerah Kansai, kuah udon berupa dashi yang dibuat dari campuran berbagai bahan seperti: kombu, sababushi, katsuobushi, shiitake, dan niboshi yang sudah sedikit digongseng. Ditambah kecap asin encer yang warnanya tidak terlalu gelap, kuah udon yang dihasilkan berwarna hampir bening. Kuah udon di daerah Kanto sering dianggap terlalu asin bagi orang Kansai, bahkan dari cuma melihatnya saja. Orang asal Kansai sering tidak mau makan udon ala Kanto yang kuahnya berwarna gelap hingga dasar mangkok menjadi tidak kelihatan. Asin atau tidak asin sebenarnya tidak bisa ditentukan dari warna kuah. Kecap asin kental yang digunakan di daerah Kanto hanya memiliki aroma dan warna yang lebih pekat. Sedangkan kadar garam yang dikandung kira-kira hampir sama dengan kecap asin encer di daerah Kansai. Sebagai jalan tengah, rumah makan udon di daerah Kanto perlu menuliskan udon yang dijualnya sebagai ala Kansai atau ala Kanto. Prefektur Shiga, Prefektur Gifu, Prefektur Aichi, dan Prefektur Shizuoka sering dipakai orang sebagai garis batas yang memisahkan udon ala Kansai dan udon ala Kanto. Di tempat-tempat tersebut bisa ditemui udon dalam dua versi. Pembagian udon ala Kanto dan ala Kansai bisa juga ditemui di kios-kios penjual mi soba yang ada di dalam stasiun JR sepanjang jalur utama Tokaido. Kuah yang digunakan penjual soba di stasiun kereta api JR mulai dari stasiun Sekigahara ke arah timur, seperti Nagoya dan Gifu adalah kuah kental ala Kanto. Sebaliknya, penjual soba dari stasiun Sekigahara ke arah barat semuanya menggunakan kuah encer ala Kansai. Jenis-jenis udon Berdasarkan bentuk Udon tebal (futo udon) Udon tipis (hoso udon) Udon kecil-kecil (himokawa udon) Berdasarkan cara pembuatan Teuchi (udon buatan tangan) Adonan udon digilas tipis dan dipotong memakai pisau secara manual. Disebut juga Teuchi Udon, dan banyak ditawarkan rumah makan udon kelas menengah hingga kelas atas. Kikaiuchi (udon buatan mesin) Dibuat di pabrik dengan mesin otomatis sehingga harganya murah. Sebagian besar udon yang dijual di Jepang merupakan produksi pabrik. Tenobe (udon yang dilebarkan dengan tangan) Udon jenis ini termasuk langka, dibuat dengan cara menarik-narik adonan dan melipatnya berkali-kali dengan menggunakan dua batang kayu atau sumpit panjang. Cara ini mirip dengan teknik pembuatan somen atau mi tradisional Tiongkok. Berdasarkan bentuk fisik Tama udon (udon bundar) Udon mentah yang baru jadi direbus dengan air mendidih selama 1 menit. Setelah itu udon diangkat dan dibundarkan. Sebelum dimakan, udon masih harus direbus kembali dan ditiriskan. Udon jenis ini masih banyak mengandung air dan tidak tahan lama disimpan. Tama udon yang dimasukkan ke dalam kantong plastik disebut Yude udon (udon rebus) dan banyak dijual di pasar-pasar swalayan di Jepang. Nama udon (udon segar) Udon yang baru jadi, ditaburi tepung dan dibungkus. Udon segar biasanya lebih enak dari jenis udon lainnya, tapi tidak tahan lama disimpan. Selama belum direbus, tepung terigu yang dikandung udon terus mengalami proses pematangan. Udon segar harus segera dimasak karena cuma tahan beberapa hari saja. Sebelum dihidangkan, udon segar harus direbus dan ditiriskan airnya. Hoshi udon (udon kering) Udon yang dijadikan udon kering biasanya adalah hoso udon (udon tipis). Setelah jadi, udon dilipat sama panjang, berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 20 cm dan dikeringkan. Udon kering bisa tahan lama disimpan dan sebelum dimakan harus direbus terlebih dulu. Dibandingkan dengan udon segar, udon yang sudah dikeringkan rasanya tidak begitu enak. Udon jenis ini sering digunakan untuk membuat udon goreng yang disebut Yakiudon. Reitō udon (udon beku) Setelah direbus dengan air mendidih, udon langsung dibekukan. Jenis udon segar yang dibekukan tanpa direbus lebih dulu disebut Reitonama udon (udon segar beku). Air yang terkandung di dalam berbagai jenis mi akan mengembang bila dibekukan. Susunan molekul tepung terpecah-pecah sehingga rasa mi menjadi kurang enak. Agar udon beku yang sudah direbus bisa kenyal kembali, produsen udon sering menambahkan tapioka atau zat tepung yang lain. Udon instan Udon instan yang dijual dalam kemasan mangkok biasanya sudah digoreng dengan minyak atau mengalami proses freeze drying. Udon instan tahan lama dan bisa langsung dimakan setelah diseduh air panas. Udon instan yang tidak digoreng tapi dikeringkan dengan hembusan udara panas sering dianggap lebih enak.

Indonesian translation into Jepang basa

Last Update: 2014-07-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga pada hari ini kita semua bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa halangan dan kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya selaku ketua acara, memberikan beberapa patah kata untuk membuka acara Sedekah Bumi Desa Bantal, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tahun 2014. Sebelumnya saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada: 1. Bpk. Alwarno selaku kepala wilayah Trawas beserta staf2nya yang kami hormati, yang telah berkenan hadir meluangkan waktunya, 2. Bpk. Sukarni selaku kepala Polisi Sektor trawas beserta perangkat keamanan yang kami hormati. 3. Kepada yang terhormat Bapak Juri, selaku Kepala Desa Bantal 4. Sekretaris Desa dan juga segenap perangkat desa beserta warga desa bantal dan sekitarnya yang telah bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya demi terselenggaranya acara ini Seperti waktu-waktu sebelumnya, setiap tahun di desa kita tercinta ini selalu menyelenggarakan acara sedekah bumi yang secara serentak dilakukan oleh semua warga Desa Bantal. Sedekah bumi atau biasa disebut dengan acara bersih desa adalah salah satu warisan tradisi dan kebudayaan daerah khas Trawas yang harus kita jaga dan lestarikan bersama. Sedekah bumi merupakan wujud ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rejekinya kepada kita semua, terutama warga Desa Duyung dan sekitarnya. Pada kesempatan tahun ini merupakan acara sedekah bumi yang istimewa dibandingkan sedekah bumi tahun-tahun yang lalu, karena semangat kerjasama dan kekeluargaan dari semual elemen warga desa Bantal acara sedekah bumi ini dapat berjalan dengan suasana yang kondusif, hal ini tidak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat Desa Bantal dan juga segenap instansi desa yang senantiasa saling bahu-membahu dalam mewujudkan desa yang kondusif. Untuk mengawali acara sedekah bumi tahun ini marilah kita bersama-sama memulainya dengan membaca Basmalah. Bismillahirohmanirrohim semoga acara sedekah Bumi ini berjalan lancer dari awal sampai akhir, amien amien ya robal alamin. Untuk mengisi acara sedekah bumi kali ini akan ada rangkaian acara dan hiburan-hiburan yang telah dijadwalkan oleh panitia penyelenggara. Semoga dengan diadakannya acara tahunan ini, dapat membawa berkah bagi kita semua dan membuat desa kita semakin semangat untuk menjaga lingkungan, serta memajukan perkembangan desa Bantal terutama dalam hal pertanian, tekhnologi dan pendidikan. Selain itu, untuk ke depannya peran generasi muda desa ini sangat kami harapkan untuk ikut menyumbangkan aspirasi dan kemampuannya untuk membangun desa Bantal menjadi desa teladan bagi desa-desa yang lainnya. Demikianlah sambutan yang bisa saya sampaikan selaku ketua acara. Bila ada tutur kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Last Update: 2014-06-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga pada hari ini kita semua bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa halangan dan kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya selaku ketua acara, memberikan beberapa patah kata untuk membuka acara Sedekah Bumi Desa Bantal, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tahun 2014. Sebelumnya saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada: 1. Bpk. Alwarno selaku kepala wilayah Trawas beserta staf2nya yang kami hormati, yang telah berkenan hadir meluangkan waktunya, 2. Bpk. Sukarni selaku kepala Polisi Sektor trawas beserta perangkat keamanan yang kami hormati. 3. Kepada yang terhormat Bapak Juri, selaku Kepala Desa Bantal 4. Sekretaris Desa dan juga segenap perangkat desa beserta warga desa bantal dan sekitarnya yang telah bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya demi terselenggaranya acara ini Seperti waktu-waktu sebelumnya, setiap tahun di desa kita tercinta ini selalu menyelenggarakan acara sedekah bumi yang secara serentak dilakukan oleh semua warga Desa Bantal. Sedekah bumi atau biasa disebut dengan acara bersih desa adalah salah satu warisan tradisi dan kebudayaan daerah khas Trawas yang harus kita jaga dan lestarikan bersama. Sedekah bumi merupakan wujud ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rejekinya kepada kita semua, terutama warga Desa Duyung dan sekitarnya. Pada kesempatan tahun ini merupakan acara sedekah bumi yang istimewa dibandingkan sedekah bumi tahun-tahun yang lalu, karena semangat kerjasama dan kekeluargaan dari semual elemen warga desa Bantal acara sedekah bumi ini dapat berjalan dengan suasana yang kondusif, hal ini tidak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat Desa Bantal dan juga segenap instansi desa yang senantiasa saling bahu-membahu dalam mewujudkan desa yang kondusif. Untuk mengawali acara sedekah bumi tahun ini marilah kita bersama-sama memulainya dengan membaca Basmalah. Bismillahirohmanirrohim semoga acara sedekah Bumi ini berjalan lancer dari awal sampai akhir, amien amien ya robal alamin. Untuk mengisi acara sedekah bumi kali ini akan ada rangkaian acara dan hiburan-hiburan yang telah dijadwalkan oleh panitia penyelenggara. Semoga dengan diadakannya acara tahunan ini, dapat membawa berkah bagi kita semua dan membuat desa kita semakin semangat untuk menjaga lingkungan, serta memajukan perkembangan desa Bantal terutama dalam hal pertanian, tekhnologi dan pendidikan. Selain itu, untuk ke depannya peran generasi muda desa ini sangat kami harapkan untuk ikut menyumbangkan aspirasi dan kemampuannya untuk membangun desa Bantal menjadi desa teladan bagi desa-desa yang lainnya. Demikianlah sambutan yang bisa saya sampaikan selaku ketua acara. Bila ada tutur kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

aku di sini

Last Update: 2014-06-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin banyak pula penemuan-penemuan yang telah menjawab pertanyaan-pertanyaan serta ketidaktahuan manusia dalam fenomena alam serta kehidupan sehari-hari. Banyak penyakit-penyakit yang pada zaman dahulu dianggap wajar-wajar saja, akan tetapi berkat perkembangan ilmu pengetahuan manusia menjadi lebih tahu bahwa ternayata penyakit yang pada zaman dahulu dianggap biasa dan wajar adalah bukan sesuatu yang biasa dan wajar lagi bahkan berbahaya untuk kehidupan si penderita. Contohnya penyakit pikun (dementia) yang terjadi pada usia lanjut. Banyak manusia berpikir bahwa pikun merupakan biasa dan wajar pada usia lanjut. Akan tetapi, berdasarkan survey mengatakan bahwa banyak orang berusia lanjut yang tidak pikun. Bahkan persentasi orang usia lanjut yang pikun dengan yang tidak lebih banyak orang yang tidak pikun di banding dengan yang pikun. Penelitian lebih lanjut telah menjawab bahwa penyakit pikun pada usia lanjut yang parah adalah penyakit mematikan. Penyakit ini disebut Alzheimer. Nama penyakit Alzheimer ini jarang di dengar orang. Oleh karena itu, penyusun memilih Alzheimer sebagai topik pembahasan dengan harapan dapat menambah ilmu pengetahuan pembaca pada umumnya dan penyusun pada khususnya.

Manfaat buah pepaya untuk kesehatan memang sudah tidak diragukan lagi, banyak sekali manfaatnya dan salah satunya yakni untuk menjaga kesehatan rambut. Buah pepaya memang bukan merupakan buah yang asing ditelinga masyarkat. Karena pohon pepaya sendiri saat ini sudah banyak tumbuh baik di pedesaan. Nah meskipun setiap orang sudah tahu buah pepaya namun sayangnya tidak banyak yang mengetahui manfaat dan khasiatnya bagi kesehatan kita. Padahal apabila buah ini dikonsumsi secara rutin dapat memperlancar proses pencernaan dalam tubuh kita, sehingga kita dapat terhindar dari sembelit atau susah buang air besar. Untuk mendapatkan manfaatnya pun anda dapat mengkonsumsi dengan berbagai cara, pada umumnya buah ini dikonsumsi secara langsung, namun ada pula yang menjadikannya sebagai jus ataupun es buah. Nah sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai manfaat buah pepaya untuk kesehatan mungkin ada baiknya kita membahas terlebih dulu seputar buah ini. Manfaat Buah Pepaya Manfaat Buah Pepaya Buah yang mempunyai banyak sekali manfaat untuk kesehatan ini ternyata dulunya berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Seiring berjalannya waktu kini pohon buah pepaya dapat kita temukan dengan mudah diberbagai negara khususnya negara dengan iklim tropis. Tahukan anda bahwa nama buah "Pepaya" dalam bahasa Indonesia itu ternyata diambil dari bahasa belanda yakni "Papaja". Uniknya pohon pepaya ini terdiri dari tiga jenis kelamin, yakni tumbuhan jantan, betina, dan banci. Buah yang terdapat biji hitam kecil-kecil dalam jumlah banyak ini mempunyai bentuk bulat hingga memanjang dengan ujung biasanya meruncing. Dagingnya akan berwarna orange atau merah ketika sudah matang dan ketika masih muda mempunyai warna kulit hijau gelap. Meskipun bentuk buahnya kurang menarik namun ternyata banyak sekali manfaatnya, dari pohon, daun, daging buah, bahkan sampai bijinya juga mempunyai manfaat yakni dijadikan obat tradisional. Nah pasti anda belum mengetahui apa saja kan kandungan dan manfaat buah pepaya, berikut ini informasi selengkapnya. Vitamin A (1.750 IU) Vitamin B ( 0.03 mg) Vitamin C (56 mg) Kalium (470 mg) Zat Besi (0.3 mg) Kalsium (20 mg) Riboflavin (0.04 mg) Fosfor (16 mg) Niacin (0.3 mg) Lemak (0.1 gr) Karbohidrat (10 gr) Protein (0.6 gr) Kalori (39) Manfaat buah pepaya untuk kesehatan 1. Membantu kesehatan mata Apabila anda ingin mempunyai mata yan sehat maka jangan lupa untuk mengkonsumsi buah ini secara rutin. Pasalnya dalam pepaya terkandung betakaroten yang dapat dikonversi menjadi vitamin A. Dengan demikian buah ini mampun membantu kesehatna mata anda. 2. Mengatasi sembelit dan melancarkan pencernaan Dalam buah pepaya terkandung papain yang dapat membunuh parasit yang mengganggu aktifitas pencernaan dalam tubuh kita. Selain itu kandungan serat dalam buah ini sangat baik untuk melancarkan pencernaan kita sehingga dapat terhindar dari yang namanya sembelit atau susah buang air besar. 3. Menjaga kesehatan rambut Memang aneh rasanya kenapa buah pepaya dapat menjaga kesehatan rambut, namun itulah kenyataannya. Berbagai kandungan dalam buah ini ternyata dapat kita manfaatkan untuk menjaga kesehatan rambut, namun tentunya ada cara khusus, yakni dengan menjadikan masker rambut alami. 4. Membantu penyembuhan luka kulit Bukan hanya dagingnya saja yang mempunyai manfaat untuk kesehatan kita, namun kulitnya pun mempunyai khasiat untuk membantu menyembuhkan luka pada kullit. Jadi bagi anda yang mempunyai luka dikulit tidak ada salahnya untuk menggunakan bahan alami yang satu ini untuk menyembuhkannya. 5. Membantu proses diet Bagi anda yang sedang menjalankan proses diet sehata jangan pernah melupakan buah yang satu ini. Buah dengan rasa manis dan mempunyai daging merah ini ternyata rendah kalori dan bergizi tinggi, sehingga cocok dikonsumsi bagi anda yang sedang diet. 6. Kesehatan kulit Mempunyai kulit kusam dan kering memang membuat kita menjadi kurang percaya diri, untuk itu segera atasi masalah tersebut. Salah satu solusinya yakni dengan mengkonsumsi buah pepaya secara rutin, karena dalam buah ini terkandung vitamin A C dan E. Dimana kandungan vitamin E dalam buah tersebut bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit, selain itu tentu saja dapat mengatasi kulit kusam dan dapat melembabkan kulit anda. 7. Mencegah stroke dan serangan jantung Buah pepaya ternyata mengandung antioksidan yang terbilang cukup tinggi, dimana kandungan tersebut sangat bermanfaat untuk mencegah oksidasi kolesterol serta menurunkan resiko penyakit kardiovaskular. 8. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh Terkadang meskipun tidak hujan atau belum waktunya pergantian musim banyak sekali orang terserang penyakit seperti flu, batuk, dan pilek. Salah satu pemicu terserangnya penyakit tersebut yakni kekebalan tubuh kita yang kurang baik sehingga mudah terserang penyakit. Nah untuk itu anda dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi buah pepaya secara rutin. Karena dalam buah ini terkandung vitamin C yang bermanfaat untuk memperbaiki sistem imunitas tubuh. Selain 8 manfaat buah pepaya untuk kesehatan diatas tentunya masih banyak lagi manfaat yang kaan kita dapatkan apabila mengkonsumsinya secara rutin. Nah bagi para wanita yang ingin selalu menjaga kecantikan wajah, anda dapat menggunakan pepaya sebagai masker alami, karena ternyata buah ini juga terbukti mencerahkan serta menghaluskan kulit wajah. Mungkin sampai disini dulu informasi kali ini, semoga artikel manfaat buah pepaya ini dapat bermanfaat untuk anda.

Last Update: 2014-05-24
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

Some human translations with low relevance have been hidden.
Show low-relevance results.

Add a translation