MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: pengertian banjir dalam bhsa jawa    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Javanese

Indonesian

Info

banjir bahasa jawa

Banjir-time Java

Last Update: 2014-09-19
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

banjir

bumi

Last Update: 2014-08-26
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Basa Jawa main sekolah

bapak mangkat kantor numpak

Last Update: 2014-10-09
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

muter Jawa Ramayana

(Suara Gendhing Jawa) Alkisah pada suatu hari, Rama diutus oleh Prabu Desarata untuk bertapa di hutan Dandaka. Ia ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Mereka bersama-sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Desarata. Siang itu, setelah berjalan begitu jauh dari Ayodya, akhirnya mereka sampai di hutan Dandaka. Rama : “Dinda, sepertinya kita sudah sampai, apa dinda capek?” Shinta : “Tidak kakanda, selama aku ada disampingmu aku tidak akan pernah merasa capek” Rama : “Ah…! Dinda ini bisa aja! Aku jadi tersandung...” Shinta : “Lho… Kok tersandung Kakanda?” Rama : “Eh… tersanjung maksudku, Dinda!” Shinta : “Oh… Tersanjung! Aku kira kakanda tersinggung dengan perkataanku...” Rama : “Ya tidaklah istriku, kata-katamu itu…! Hem… Begitu indah dan sangat menyejukkan jiwaku.” Shinta : “Ah…Kanda !” (memukul Rama lembut) Rama : “Aduh, Dinda…! Dari tadi kok kita asyik menyanjung – nyanjung diri sendiri, sampai–sampai kita lupa kalau kita ditemani adik kita tercinta.” (menengok Laksmana yang ada di dekat mereka) Shinta : “Oh iya! Sini adikku, kenapa masih disitu?” (menghampiri Laksmana) “Maaf ya Dik Laksmana, bukan maksud kami anu... Anu...”(belum selesai ngomong kemudian dipotong oleh Laksmana) Laksmana : “Sudahlah Kak Shinta, tidak apa–apa! Lagi pula aku juga senang melihat keakraban Kak Rama dan Kak Shinta.” Shinta : “Kamu memang adik yang baik laksmana. Kanda sangat beruntung punya adik sebaik dik Laksmana!” (menengok ke arah Rama) Rama : “Betul Dinda! Laksmana memang adik yang sangat baik.”(menepuk pundak Laksmana) Laksmana : “Sudahlah, Kak Shinta dan Kak Rama tidak usah memuji aku terus. Nanti keterusan sampai malam dan akhirnya kita tidak punya tempat untuk istirahat. Ehm … !! Kak, bagaimana kalau kita mendirikan tenda disini saja. Sepertinya disini tempatnya sangat teduh dan lapang.” Rama : “Ya!” (mengangguk–anggukkan kepalanya) “Bagaimana menurut Dinda?” Shinta : “Iya Kanda, lebih baik kita mendirikan tenda disini saja.” Rama : “Baik! kalau begitu kita mendirikan tenda disini! Dik Laksmana, tolong ambilkan tendanya di tas !” (lalu mendirikan tenda bersama Laksmana dan Shinta membuatkan minum untuk Rama dan Laksmana) Shinta : “Kakanda, Kakanda pasti capek. Ini diminum dulu airnya, supaya capeknya hilang.” (mengusap dahi Rama dengan selendang)“Adik Laksmana juga, istirahat dulu! Nanti diteruskan lagi, ini diminum airnya.” Laksmana : “Iya .. Kak shinta! Sebentar lagi, nanggung … !”(masih sibuk membenarkan tenda) Rama : “Sudahlah, Dik! Benar apa yang dikatakan kakakmu Shinta, istirahat dulu nanti diteruskan!” Laksmana : “Ya sudaaah… Aku istirahat...” (menghentikan pekerjaannya lalu duduk di dekat Rama dan meminum minumannya) Di saat yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Sarpakenaka, Rahwana, dan Mak Lemper sedang mengamati keromantisan Rama Shinta dari bola kristal. Mereka mengamati dengan penuh rasa sakit. Sakit teramat sakit melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Sarpakenaka : "Huh... Ini tidak adil!! Mengapa hal itu harus terjadi padaku? Aku tidak suka melihat mereka bahagia. Karena Rama harus suamiku... Huhuhu... Simbok!!" (menangis) MakLemper : "Keep silent, sayang... Tenang..." Sarpakenaka : "Ya Tuhan .. Simbok, lihatlah mereka, mereka terlihat begitu dekat, aku tidak tahan melihatnya. Hatiku merasa seperti diiris pisau tajam, huhuhu ... Ini perih!" (masih menangis) MakLemper : "Tarik nafas... Hembuskan... Jangan khawatir... Simbok akan membantu..." Sarpakenaka : (meratap menangis) "Kanda Rahwana! Apa yang harus kita lakukan? Mengapa Kanda tidak mengatakan apa-apa? Bukankah Kanda juga mencintai Shinta? Mengapa Kanda membiarkan mereka, ha? Mengapaaa!?" (dramatis bin alay) Rahwana : "Kau begitu berisik!! Aku diam bukan berarti akutak peduli!Aku sedang berpikir! Aku tak sepertimu yang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu!!Dasar bocah Alay!!" Sarpakenaka : "Sungguh, teganya dirimu padaku. Bagaimana bisa kau menghinaku seperti ini." MakLemper : "Hey! Hey! Hey! Jangan bertengkar!! Dengarkan aku, Sarpakenaka, Kandamu benar. Kita perlu strategi untuk memisahkan Rama dan Shinta, jadi tenanglah dahululalu berpikirlah apa yang harus kita lakukan..." Sarpakenaka : "Oke, mbok..." (terdiam sejenak untuk berpikir) MakLemper : " Yeeiiii... Aku mendapatkan ide!!" Sarpakenaka+Rahwana : "Opo idene?" Mak lemper : "Ok, sini aku kasih tau. Shinta itu salah satu gadis yang mudah tertarik dengan hal-hal menarik. Seperti kijang emas. Jadi, Rahwana... Panggil abdimu dan bawa ke sini biar ia ku jadikan kijang untuk menarik perhatian Shinta. Dan Shinta akan menyuruh Rama untuk memburunya..." Rahwana : “Wah benar juga. Lalu, Rama dan Laksmana akan meninggalkan Shinta kan, simbok? Dan aku bisa menculik Shinta dan memboyongnya ke Alengka...” MakLemper : “Tumben elo pinter.” Sarpakenaka : "Bagaimana denganku, mbok?Apakah kau hanya memikirkan nasib Kanda Rahwana?" (memelas kepada MakLemper) MakLemper : "Gadis Bodoh . Aku sedang berpikir tentang kau!!” (terdiam sejenak) “Nah jadi begini saja...” Sarpakenaka : "Pripun mbok? Apakah kau akan mengubahku menjadi Shinta atau apa?” MakLemper : "Pandai. Setelah Shinta diambil oleh Rahwana, aku akan mengubahmu menjadi Shinta dan kamu akan hidup selamanya dengan Rama..." Sarpakenaka : "Benarkah?? Terima kasih banyak simbokku tercinta... (Sarpakenaka mencium pipi ibunya) Rahwana : "Baguslah... Kalau begitu aku akan segera memanggil abdi kepercayaanku." (mengambil HP, mencoba menelpon, SMS) “Ehm, simbok,ada sedikit masalah... Aku sudah menghubunginya lewat SMS, BBM, facebook, twitter. Tapi, dia tak menjawab...” MakLemper : "Apakah kau sudah memanggilnya melalui telepon?" Rahwana : "Belum. Ini karena aku tak punya pulsa, hehe... Aku kan raja yang kere..." Sarpakenaka : "Ckkk .... Bilang saja kau ingin ku kirimi pulsa. Memalukan!! Bagaimana bisa seorang raja Alengka, pulsa saja tidak punya. Bagaimana kau menghidupi rakyatmu kelak?" Rahwana : "Itu bukan memalukan. Itu namanya hemat uang, Nduk.” (mengelus kepala Sarpakenaka) Sarpakenaka : “Ya sudah, aku mau manicure pedicure bersama artis Hollywood di Los Angeles. Nanti setelah Rahwana menculik Shinta, panggil aku agar aku ke sini...” (Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper) Seusai Sarpakenaka meninggalkan Rahwana dan Mak Lemper, mereka masih menunggu datangnya abdi Rahwana hingga lumutan. Akhirnya, setelah lima jam menunggu, tiga abdi Rahwana datang, mereka bernama Maricha, Bharata, dan Angkara. Rahwana : “Beraninya kau membuat kita menunggu untuk waktu yang lama.Kau ingin dikutuk menjadi batu?? Heh?" (menempeleng kepala abdinya) Maricha : "Maafkan kelancangan kami, Yang Mulia. Ini salahku. Internetnya tidak terhubung, sehingga hamba tidak bisa berselancar di Facebook dan Twitter. Rahwana : "Ah , kau bicara terlalu banyak. By the way, aku punya tugas besar untukmu, datang ke sini..." (Rahwana membisikkan sesuatu pada abdi-abdinya) Bharata : "Hamba siap untuk melakukan perintah Anda, Yang Mulia. Hamba tidak akan membuat Anda kecewa.” MakLemper : "Baik. Sekarang, berdiri di sana dan pegang tongkat kayu ini, aku akan mengubahmu menjadi kijang emas, Maricha. Dan kau, Bharata dan Angkara, ku ubah kau menjadi kijang hitam sebaga pengiring Maricha. Apakah kau siap?" (bersiap memantrai abdi) Angkara : “Lha kata Yang Mulia Rahwana tadi, kami disuruh menarik perhatian Shinta. Kok malah jadi kijang? Maksudnya bagaimana?” MakLemper : “Begini, setelah kalian nanti aku ubah menjadi kijang, aku perintahkan kalian untuk menarik perhatian Shinta dengan tarian kijang!” Maricha : “Terus setelah hamba menari, apa yang harus hamba lakukan Baginda?” Rahwana : “Aduh…! Begok banget sih. Katrok–katrok! Setelah kamu menari dan kamu melihat mereka sudah tertarik untuk memburu kamu. Kamu langsung lari saja supaya Rama dan Laksmana lari mengejar kamu dan akhirnya Shinta ditinggal sendirian. Nah… Setelah itu aku bisa membawa lari Shinta! Paham?” Angkara : “Kami paham, Baginda...” Bharata : “Ibunda Ratu Mak Lemper... Kami sudah siap untuk kau ubah...” MakLemper : "Hopla. Beri aku A , Beri aku B , Beri aku C , ABC .... Ambil perubahan!” Mak Lemper mengucap mantranya dan mulai mengubah ketiga abdi itu. Dalam sekejap, Angkara,Bharata, dan Maricha berubah menjadi tiga ekor kijang. Usai itu, ketiga kijang tadi segera berlarin menuju peristirahatan Rama Shinta di hutan Dandaka dan segera menjalankan misinya. Mereka menaritarian kijang dengan lincah dan menarik perhatian Shinta. Shinta : “Kanda, dik Laksmana, lihat! Kijang-kijang itu cantik sekali!!” (menunjuk kijang-kijang yang menari) Rama : “Iya Dinda, betapa indahnya gerakan mereka!” Laksmana : “Iya Kak, kijang-kijang itu lucu sekali!” Shinta : “Kanda, lihat! Ada kijang yang bertanduk emas, aku ingin sekali kijang emas itu, Kanda! Kanda mau kan menangkap kijang itu untukku?” Rama : “Apa kamu sangat menginginkannya, istriku ?” Shinta : “Iya kanda ! kanda mau kan menangkapnya untukku?” (sangat berharap ) Rama : “Baiklah, demi kau istriku yang sangat aku sayangi dan aku cintai, aku akan memburu kijang emas itu untukmu” (menyiapkan perlengkapan untuk memburu) “Dan kamu adikku, tolong jaga kakakmu, Shinta, selama kakak pergi memburu kijang itu. Karena aku takut nanti Rahwana tiba-tiba datang dan membawa pergi Shinta.” Laksmana : “Iya kak! Saya mengerti , tenang saja kak aku akan menjaga kak shinta sampai titik darah penghabisan.” ( sambil mengepalkan tangan keatas ) Rama : “Baiklah adikku, aku percaya kepadamu, pokoknya jangan kemana-mana sampai nanti aku kembali.” Shinta : “Hati-hati ya kanda .. ! aku yakin kanda pasti akan segera kembali dengan membawa kijang emas itu untukku” ( sambil mencium tangan rama ) “Kanda, aku sangat mencintaimu” ( sambil memegangi tangan Rama ) Rama : “Aku juga sangat mencintaimu dinda !”( mengusap rambut sinta ) “Ya sudah , aku berangkat sekarang, nanti keburu kijangnya kabur .” “Jaga kakakmu yah!” (menepuk pundak Laksmana lalu pergi) Laksmana : “Iya kak, percaya sama saya. TiTi DJ kak !”( sambil melambaikan tangan) Setelah Rama pergi, Shinta dan Laksmana membereskan barang-barang ke dalam tenda. Di balik pohon beringin, Rahwana tetap mengintai dengan bola kristal hasil ngutang dari Mak Lemper. Ia bingung memikirkan Laksmana yang tidak ikut memburu kijang emas itu. Rahwana : “Aduhhh…. ! bagaimana ini Durya, kenapa Laksmana tidak ikut memburu kijang. Padahal bayanganku Laksmana ikut mengejar kijang emas itu. Nah … ! Sekarang bagaimana supaya Laksmana terpisah dengan Shinta ? (menengok Durya yang diam saja) Durya … ! kamu kok diam saja, bantu aku mikir donk !” Durya : “Hamba diam ini juga lagi mikir baginda! Sambil searching, mumpung ada wi-fi” Rahwana :“Oo..! ya sudah sekarang kita pikirkan bersama.” Lima, sepuluh, lima belas, bahkan dua puluh menit lamanya mereka memikirkan cara untuk menyingkirkan Laksmana dari sisi Shinta. Ide-ide bodoh muncul di pikiran mereka, tetapi Laksmana pasti bisa mengatasi ide-ide itu. Mereka terus berpikir keras dan memeras otak untuk menemukan cara terjitu untuk menjalankan misi ini. Durya : “Nah! Ketemu!” Rahwana : “Hus … ! jangan teriak-teriak, nanti mereka dengar!” Durya : “Maaf baginda ! kelepasan baginda , hamba sudah menemukan caranya.” Rahwana : “Iya , bagaimana ?” Durya : “Begini baginda” ( sambil berbisik ) Rahwana : “Bagus ! ide kamu bagus sekali, ternyata kamu pintar juga Durya ?” Durya : “Iya dong baginda! Hamba kan lulusan S2 SMP N 1 Godean! Di sana muridnya pinter-pinter! Gurunya asik lagi! Makanya, sekolah di Negsago!” Rahwana : “Ciyus? sama dong kaya’ aku !” Durya : “wah … sama dong kita baginda ?” Rahwana : “Heh , enak aja lho mau nyamakan aku dengan kamu, sudah sudah kok malah bercanda ( serunya dengan keras ) sekarang aku akan merubah suaraku menjadi suara rama. Hem … Shinta ! kau pasti akan jadi milikku!”(serunya dengan yakin) Setelah Shinta dan Laksamana selesai membereskan barang-barang mereka yang ada di dalam tenda, mereka mulai beristirahat. Tapi, tiba-tiba mereka mendengar jeritan Rama. Rama seakan minta tolong. Apakah yang terjadi? Pikirkanlah hal itu… Rahwana : “Tolong! Tolong! dik laksmana tolong aku!”(teriaknya dengan suara menyerupai rama, sembunyi di balik pohon) “Hihihi… Durya… Pasti ini berhasil…” (lirih) Shinta : “Dik laksmana ! apa kamu mendengar sesuatu ?” Laksmana : “iya kak ! itu kak Rama, bahkan teriakan itu memanggil namaku. aku yakin itu kak Rama ! kak rama butuh bantuan, aku harus menolongnya” ( ucapnya dengan nada khawatir ) Shinta : “iya dik! kamu pergi saja menolong kakanda sekarang biar aku disini saja menjaga barang-barang kita” Laksmana : “Tapi kak, aku sudah berjanji pada kak rama untuk menjaga kak shinta” Shinta : “Tidak apa-apa dik ! sekarang kakanda membutuhkan bantuan dik laksmana. Dik laksmana tenang saja. Aku disini baik-baik saja !” Laksmana : “Baik aku akan menolong kak rama. Tapi aku akan membuatkan perlindungan dulu untuk kak shinta (Laksmana membuat lingkaran sakti yang akan menjaga Shinta dari apapun) Laksmana : “Kak shinta , tolong sekarang kakak masuk dalam bundaran ini !” Shinta : “Ini apa dik ?”( sambil masuk kedalam bundaran sakti ) “kok dik laksmana malah ngajak main ?” Laksmana : “Houm …… !” (membaca mantra) “hap! Nah sekarang bundaran ini sudah menjadi bundaran sakti” Shinta : “Bundaran Sakti ?” Laksmana : “Iya , bundaran sakti ini tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh siapapun, jadi kak shinta tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Tapi kalau kak shinta keluar, kak shinta tidak akan bisa masuk lagi kedalam bundaran ini.” Shinta : “Baiklah kalau begitu! sekarang kamu sudah bisa tenang kan meninggalkan aku?” Laksmana : “Iya kak, tapi kak shinta harus janji tidak akan keluar dari bundaran sakti ini. Sampai aku dan kak rama kembali !” Shinta : “Iya, kak sinta janji, sekarang kamu berangkat selamatkan kak Rama ya ?” Laksmana : “Baik, aku berangkat! Doakan ya kak! aku akan segera kembali” ( pamit dengan membawa seperangkat alat memanah ) Laksmana segera melesat secepat angin menyusul Kakaknya, Rama. Sedangkan Rahwana yang sudah berhasil dalam mengusir Laksmana masih tetap bingung. Ya, dia bingung akan bagaimana caranya mengeluarkan Shinta dari lingkaran sakti itu lalu memboyongnya ke Alengka. Rahwana : “Aduh! Bagaimana ini? Aku kira setelah Laksmana pergi, aku langsung bisa membawa Shinta, tapi sekarang aku malah tidak bisa menyentuh Shinta sama sekali” ( sambil mondar-mandir dan mengepalkan tangannya ) “Durya, bagaimana ? Apa kamu tidak punya ide lagi?” Durya : “Mohon maaf baginda, sepertinya kali ini hamba benar-benar tidak tau bagaimana caranya mengambil Dewi Shinta dari bundaran sakti itu, karena hamba yakin tidak akan mampu menembusnya !” Rahwahna : “Ah, gimana sih kamu itu! katanya ngaku lulusan sekolah lor Pasar Godean itu, ada masalah gini aja bingung .” Durya : “Tapi baginda juga bingungkan?” Rahwana : “Jadi kamu ngledek aku? Iya?!” (membentak sambil menoyor kepala Durya) Durya : “Ampun Baginda! Hamba tidak bermaksud seperti itu!” Rahwana : “Ya sudah sekarang kita mikir lagi!” (terdiam sambil mondar mandir) Rahwana : “Nah! Aku sekarang punya ide!” Durya : “Bagaimana baginda?” ( mendekati rahwana ) Rahwana : “Begini....” ( sambil berbisik ) Durya : “siap baginda ! hamba siap melaksanakannya” Rahwana : “Tidak, kali ini biar aku yang melakukannya, biar nanti aku bisa langsung membawa shinta pergi ke Istanaku” Durya : “Oh … baik baginda !” ( sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ) Rahwana : “Tapi kamu tetap disini mengawasi, siapa tau Rama dan Laksmana nanti kembali. Dan kamu harus menghadangnya, apapun caranya !” Durya : “Siap baginda !” Rahwana : “Bagus. sekarang aku akan merubah wujudku menjadi seorang lelaki yang tua renta. Houm!” (membaca mantra, sementara itu Durya memasangkan aksesoris ke Rahwana) “Hap!” Kakek : “Bagus kan?? Baik, aku akan kesana dan kamu jaga disini, Durya !” Durya : “Keren, Baginda… Good luck baginda! Cemungutt eeaakk! Go Bagind

Last Update: 2014-09-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous
Warning: Contains invisible HTML formatting

google agensi Jawa Indonesia

lagi ngapain

Last Update: 2014-10-23
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja. Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa. Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain. Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung. Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih

Last Update: 2014-10-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

kanugrahan

Last Update: 2014-10-21
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

saya

Last Update: 2014-10-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

alkisah pada zaman dahulu

Last Update: 2014-10-14
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

selamat ulang tahun semoga panjang umur,sehat dan sukses selalu

Last Update: 2014-10-14
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

Aku cinta kamu tapi kamu tidak

Last Update: 2014-10-10
Subject: General
Usage Frequency: 3
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

menyusun Berita yang Ada di Sekolah atau di Masyarakat Sekitar

Last Update: 2014-10-08
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Kgoogle agensi Jawa Indonesia

Ibu,bapak aku kangen kalian. Kapan ibu dan bapak berkunjung ke sini? Aku belum bisa pulang ke indramayu sampai semester 1 ini selesai

Last Update: 2014-10-03
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

Kekeringan melanda Aceh Utara, menyebabkan ribuan hektar sawah pusoh. Tanah pecah-pecah dengan retakan sedalam setengah hingga satu meter. Akibat ketiadaan irigasi, tanaman tidak dapat hidup, sedangkan hewan ternak sulit memperoleh air. Ribuan petani di Kecamatan Peureulak Timur terancam kelaparan. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa sejumlah petani meninggalkan ladang mereka dan beralih menjadi penebang kayu di hutan untuk menyambung hidup (Indosiar, 16 Juni 2008). Lima belas tahun mendatang, diperkirakan akan mengalami kekeringan akibat semakin bertambah luasnya perkebunan sawit hingga ke pelosok negeri. Untuk mengantisipasinya, diharapkan Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyusun qanun yang mengatur keberadaan hutan, yang tidak boleh dirambah atau dibuka sebagai lahan perkebunan baru (Waspada Online, 10 Maret 2010). Dua unit bendungan di Desa Blang Puuk Nigan, Kecamatan Seunagan hancur terkena banjir beberapa waktu sebelumnya. Sekitar 200 hektar sawah di enam desa di Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya terancam kekeringan. Sebagian besar lahan sawah telah ditanami padi, sehingga jika kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan akan mengakibatkan gagal panen. Para petani hanya menggantungkan air dari hujan (indowarta, 6 April 2010) Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang dampak kerugiannya berlangsung pelan namun pasti. Biasanya pun kerusakan yang ditimbulkan bukanlah kerusakan fisik. Kekeringan terjadi akibat kondisi cuaca yang menyimpang dari kondisi normal, yang terjadi di suatu wilayah tertentu. Penyimpangan tersebut dapat berupa kurangnya curah hujan dibandingkan pada kondisi normal. Berdasarkan penyebabnya, kekeringan di Aceh dibedakan menjadi: kekeringan meteorologis, hidrologis, pertanian, dan kekeringan sosial ekonomi. Kekeringan meteorologis merupakan kekeringan yang semata-mata diakibatkan oleh watak iklim wilayah. Pada saat-saat tertentu, suatu wilayah mengalami kekurangan air karena curah hujan lebih kecil daripada nilai penguapan air. Wilayah tersebut biasanya selalu kekurangan air pada musim kemarau, sehingga masyarakat sudah terbiasa dan mampu menyesuaikan aktivitasnya dengan iklim setempat. Meskipun demikian, penyimpangan musim masih dapat terjadi. Musim kemarau berlangsung lebih panjang daripada biasanya, sehingga terjadilah bencana kekeringan. Kekeringan hidrologis merupakan gejala menurunnya cadangan air (debit) sungai, waduk, dan danau; serta menurunnya permukaan air tanah sebagai dampak kejadian kekeringan. Kekeringan jenis ini biasanya disebabkan oleh kekeringan meteorologis, khususnya di wilayah yang kawasan hutannya sempit dan atau mengalami kerusakan. Oleh karena itu, keberadaan dan kelestarian hutan perlu dipertahankan agar dapat menyimpan air yang cukup. Kekeringan pertanian merupakan kekeringan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman. Kekeringan muncul karena kadar lengas tanah berada di bawah titik layu permanen atau istilahnya tanaman telah mengalami cekaman air. Dampak dari ketiga jenis kekeringan tersebut adalah terjadinya kekeringan sosial ekonomi, yaitu saat pasokan dan permintaan barang dan jasa terganggu, juga menurunnya cadangan pangan yang menimbulkan kelaparan dan bahkan kematian.

Last Update: 2014-10-02
Subject: History
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

aku sayang kamu

Last Update: 2014-10-01
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

kamu pergi ke jakarta

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

Tapak V”Adat-istiadat Desaku” Dalam adat-istiadat di desa Randusari hampir tidak ada perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Disebabkan faktor rumpun atau budaya suku yang berperan vital dalam hal ini. Penulis akan coba sebutkan contoh-contohnya semoga pembaca dapat memahami dan menjadikan wawasan baru bagi pengetahuan pembaca. Ada adat mapati dan mitoni bagi Ibu hamil. Mapati berasal dari kata papat artinya empat, yang dimaksud empat disini adalah empat bulan usia kehamilan. Baisanya dalam usia empat bulan kehamilan, akan diadakan tasyakuran. Maksud tasyakuran tersebut adalah pada umur kandungan tersebut dipercaya bayi dalam perut mulai ditiupkan Ruh dari Allah Swt. Agar ruh yang ditiupkan kelak menjadi anak atau orang yang baik dan banyak rejeki maka pada usia hamil empat bulan itu diadakan tasyakuran, berdoa agar anak yang dikandung kelak menjadi anak yang mulia. Mitoni dengan mapati hampir tidak ada bedanya, berasal dari kata pitu atau tujuh. Pada usia kehamilan tujuh bulan, bayi biasanya diselamatani dengan bermacam-macam ritual. Yang berbeda dengan mapati adalah usia tujuh bulan itu adalah usia dimana bayi hampir lahir ke dunia, sehingga prosesi acaranya lebih rumit dibanding mapati. Biasanya kalau mitoni, ada persiapan khusus seperti kelapa gading dua buah dengan diberi gambar wayang sesuai pilihan orangtuanya. Misalnya gambar Wrjuna dan Srikandi dimaksudkan agar apabila yang lahir laki-laki maka diharapkan berwajah tampan seperti Arjuna. Bila perempuan yang lahir maka diharapkan agar kecantikannya seperti dewi Srikandi. Disertakan pula biasanya boneka dari labu panjang dengan dihiasi uang recehan. Dimaksudkan agar prosesi persalinan si jabang bayi kelak lancar tidak ada kendala. Juga agar kelak saat menempuh kehidupan diberi kelebihan harta. Sambil dibacakan kitab Barzanji agar anak yang lahir kelak menjadi anak yang soleh atau soleha. Ada pula adat tumplek ponjen saat prosesi pernikahan, dimaksudkan agar pasangan pengantin kelak hidup makmur dan banyak rejeki. Masih dalam prosesi pernikahan, ada ritual pecah telur, lempar sirih, saling suap, dan lain-lain yang kesemuanya dimaksudkan agar kelak pasangan pengantin dapat hidup berumah tangga dengan langgeng, aman, damai, dan melimpah rejeki. Ada lagi yang menarik dalam adat-istiadat desa kami, ada yang namanya prosesi buka kaki. Buka kaki yang dimaksud adalah permulaan orang mau membangun rumah tempat tinggal. Agar rumahnya terbebas dari bala bencana, serta penghuninya selalu rukun juga betah. Macam-macam yang disyaratkan dalam buka kaki ini, mulai ada kelapa, padi, buah-buahan, yang unik lagi wajib ada bendera merah putihnya. Dalam memanen padi dan khajatan juga ada ritual khusus yang harus dilakukan sebagai adat-istiadat. Setiap musim panen dan hendak khajatan harus ada sesaji yang dikhusukan untuk ruh para leluhur. Demikian pula bila ada ritual tolak bala dan pindahah rumah, jug aharus ada sesaji yang disuguhkan untuk ruh nenenk moyang. Padahal secara logika hal tersebut tidak ada korelasinya. Namun yang namanya adat tidak dapat dihilangkan begitu saja, biarlah hilang seiring bergesernya nilai-nilai budaya yang ada. Karena untuk menggusur keberadaan adat adalah gaya hidup modern yang selalu mengedepankan logika dari pada mitos.Demikian sekilas adat-istiadat yang dapat penulis sampaikan semoga bermanfaat bagi perbendaharaan pengetahuan pembaca. saya berharap tulisan ini selain bermanfaat untuk saya semoga tulisan ini dapat menjadi literature bagi pembaca dalam memahami pengetahuan tentang asal-usul desa Randusari khususnya dan Kabupaten Tegal secara umum beserta adat-istiadatnya yang berkembang hingga sekarang.

Last Update: 2014-09-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

kAMU

Last Update: 2014-09-28
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

Assalamualaikum....wr...wb Puji syukur kita panjatkan ke hadirat allah

Last Update: 2014-09-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

google agensi Jawa Indonesia

CERITA RAKYAT TENTANG BAGUS RANGIN Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang dalang dari Beber yang bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan itu mendengar pada saat mereka menonton wayang ketika waktu kecil di klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan Pangeran Kornel yang membantu ...Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai Bagus Rangin. Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang disana ada pohon jati berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda berhadapan dengan Bagus Rangin. Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari Bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo dan sebagainya. Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan Odong (ikan gabus). Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya. Bahkan masyarakat dengan sukarela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya. Perlindungan yang diberikan Bagus Rangin bahkan sampai ke Indramayu. Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon beserta Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung. Namun karena saktinya Bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di daerah Kadongdong, di daerah Indramayu. Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang. Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya yang memberontak bukan Bagus Rangin, tetapi rakyat Cirebonlah yang memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bila Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongeng orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa Depok di Jatiwangi. ( DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT : Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa )

Last Update: 2014-09-16
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation