MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: cerita-cerita bahasa arab    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Malay

Arabic

Info

contoh teks forum bahasa arab

example text arabic forum

Last Update: 2014-04-17
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Cerita rekaan

تخيل

Last Update: 2013-11-28
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

english arab

mu'ayashah

Last Update: 2014-04-24
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

sekolah menengah arab al-asyraf

التقدير عربية

Last Update: 2014-04-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

.Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada di pesisir Timur Propinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai. pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai. Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai....cantik di Umai. Ya, ya.....d‘umai...d‘umai....” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya. Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi. Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai. Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala. Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala. Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan. Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:

قاموس

Last Update: 2014-04-11
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Konsep dan Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Maka, untuk memahami hukum-hukum yang di kandung nash-nash al-Qur’an diperlukan antara lain pemahaman dalam segi kebahasaan dalam hal ini adalah bahasa Arab. Para ulama’ yang ahli dalam bidang ushul fiqh, telah mengadakan penelitian secara sesama terhadap nash-nash al-Qur’an, lalu hasil penelitian itu dituangkan dalam kaidah-kaidah yang menjadi pegangan umat Islam guna memahami kandungan al-Qur’an dengan benar. Kaidah-kaidah itu membantu umat dalam memahami nash-nash yang nampak samar, menafsirkan yang global, menakwil nash dan lainnya yang bertalian dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dalam upaya mengenal kaidah-kaidah yang telah dirumuskan oleh para ulama’ khusus yang berkaitan dengan aspek kebahasaan dalam al-Qur’an disajikan beberapa bahasan antara lain : muhkam dan mutasyabihat, mujmal dan mufasar, ‘amm, khos dan musytarak, mutlaq dan muqoyyad, ‘amr dan nahi. [1] A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat Kata muhkam merupakan pengembangan dari kata “ahkama, yuhkimu, ihkaman” yang secara bahasa adalah atqona wa mana’a yang berarti mengokohkan dan melarang. Dari pengertian itu, maka al-muhkam menurut bahasa adalah berarti yang dikokohkan. Dalam istilah muhkam ialah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri tanpa dita’wilkan karena susunannya tertib dan tepat, serta pengertiannya tidak sulit dan masuk akal.[2] Namun seluruh pengertian ini pada dasarnya berbentuk perintah dan larangan, maupun yang bersifat khobar (penerangan) tentang halal dan haram.[3] Kata mutasyabihat berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti kesamaan atau kesamaran yang mengarah pada keserupaan. Contoh dalam ayat 70 surat al-Baqarah : Artinya : …Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami… Dalam istilah, mutasyabih adalah suatu lafadz al-Qur’an yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia, karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri, maka dari itu cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimengerti ole Allah SWT saja.[4] Secara istilah, para ulama’ berbeda-beda pendapat dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabihat. Dr. Amir Aziz dalam Dirasat fi Ulum al-Qur’an menginventarisasi enam definisi, yaitu : 1. Dari Dr. Amir dinyatakan sebagai pendapat ahlu sunnah, muhkam adalah ayat yang bisa dilihat pesannya dengan gamblang atau jelas, maupun dita’wil. Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh Allah. Misalnya, saat datangnya hari kiamat dan makna huruf tahajji, yakni huruf-huruf yang terdapat pada awal surat, seperti : Qaf, Alif Lam Mim, dan lain-lainnya. 2. Dari Ibnu Abbas, muhkam adalah ayat yang penakwilannya hanya mengandung satu makna, sedang mutasyabihat adalah ayat yang mengandung pengertian bermacam-macam. 3. Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah dapat ditangkap tetapi ayat-ayat mutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan, misalnya: bilangan raka’at di dalam shalat 5 waktu. Demikian juga penentuan puasa yang dijatuhkan pada bulan ramadhan, bukan bulan sya’ban atau muharram. 4. Ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam adalah ayat yang dinasikh dan padanya mengandung pesan pernyataan halal, haram, hudud, faraidl, dan semua yang wajib diimani dan diamalkan. Adapun mutasyabihat adalah ayat yang padanya terdapat mansukh dan qosam serta yang wajib diimani tetapi tidak wajib diamalkan lantaran tidak tertangkap makna yang dimaksud. Definisi ini menurut Dr. Amir Abdul Aziz, juga dinisbatkan pada Ibnu Abbas. 5. Ayat muhkamat yaitu ayat yang mengandung halal dan haram diluar ayat tersebut adalah ayat-ayat mutasyabihat. 6. Ayat muhkam adalah ayat yang tidak ternask, sementara ayat mutasyabihat adalah ayat yang dinask.[5] B. Sebab-sebab Adanya Dalil Muhkam dan Mustasyabihat Secara tegas dapat dikatakan, bahwa sebab adanya ayat muhkam dan mutasyabihat adalah karena Allah SWT menjadikannya demikian itu. Allah memisahkan ayat antara yang muhkam dan mutasyabihat dan menjadikan ayat muhkan sebagai bandingan ayat yang mutasyabih. Allah berfirman : Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. C. Macam-macam Dalil Mutasyabihat Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Maka macam-macam ayat mutasyabihat itu ada tiga macam : 1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali Allah SWT. Contohnya seperti dzatnya Allah, hakikat sifat-sifat-Nya waktu datangnya hari kiamat, dan sebagainya, hal ini termasuk urusan-urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT, seperti isi ayat 34 surat Lukman : Artinya: “Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. 2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang dalam. Contohnya seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarok, mengqoyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib dan sebagainya. 3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Seperti keterangan ayat 7 surat Ali Imran : “Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya”[6] Dalam pengertian yang sama, al-Bahiq al-Asfahani memberikan penjelasan yang mirip. Menurut Din Mutasyabih terbagi pada 3 jenis yaitu jenis yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya seperti waktu kiamat, keluarnya dabbah (binatang) dan sebagainya. Jenis yang dapat diketahui manusia, seperti lafadz-lafadz yang ganjil (gharib) dan hukum yang tertutup dan jenis yang hanya diketahui oleh ulama’ tertentu yang sudah dapat ilmu, jenis terakhir inilah yang disyaratkan Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas. اَللَّـهُمَّ فَقِّهْهُ فِىالدِّيْنِ وَعَلَّمَهُ اَلتَّأْوِيْلَ. Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam agama dan ajarkanlah padanya ta’wilnya”.[7] D. Pandangan Para Ulama terhadap Dalil Muhkam Mutasyabihat Apakah arti dan maksud ayat-ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia atau tidak, ada dua pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa arti dan ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia dan sebagian ulama yang lain mengatakan tidak dapat yang menjadi pangkal perselisihan ialah mereka berbeda pendapat dalam memahami ayat 7 surat Ali Imran : Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. Yang mereka perselisihkan ialah apakah kalimat والراسخون فىالعلم itu disambungkan dengan lafadz Allah yang sebelumnya dan lafadz يقول أمنابه itu menjadi hal dari الراسخون? Ataukah kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi subjek (mubtada’), sedang kalimat يقول أمنابه itu menjadi khobar (predikat)nya sedang huruf wawu sebagai tanda isti’naf (tanda permulaan)? 1. Imam Mujahid dan sahabat-sahabatnya serta Imam Nawawi memilih pendapat pertama, yakni bahwa kalimat والراسخون فىالعلم itu di ‘athofkan (disambungkan) kepada lafadz Allah. Pendapat ini berasal dari riwayat Ibnu Abbas berdasarkan dalil sebagai berikut : a) Hadits riwayat Ibnu Mundzir dari Mujahid dari Ibnu Abbas ra mengenai firman Allah : وَمَايَعْلَمْ تَعْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِىالْعِلْمِ. أَنَا مِمَّنْ يَعْلَمُ تَعْوِيْلَهُ. Ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang yang lebih mengetahuai ta’wilnya” b) Hadits riwayat Ibnu Hatim dari ad-Dhahak yang berkata : اَلرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَعْلَمُوْنَ تَأْوِيْلَهُ وَلَوْلَمْ يَعْلَمُوْا تَعْوِيْلَهُ لَمْ يَعْلَمُوْنَا سِحَّهُ مِنْ مَنْسُوْخِهُ وَلاَحَلاَلَهُ مِنْ حَرَامِهِ وَلاَ مُحْكَمَهُ مِنْ مُتَشَابِهِهِ. “Orang-orang yang mendalami ilmunya mengetahui ta’wilnya, sebab jika mereka tidak mengetahui ta’wilnya, tentu mereka tidak mengerti mana yang nasikh dari yang mansukh, dan tidak mengetahui yang halal dan yang haram, serta mana yang muhkam dan yang mutasyabih”. Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang pertama itulah yang lebih shahih sebab impossible (tidak mungkin) Allah itu akan mengkhithob hambanya dengan sesuatu yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. 2. Kebanyakan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in serta orang-orang setelah mereka, memilih pendapat kedua yakni kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi mubtadak (subjek) sedang khobarnya (predikatnya) adalah kalimat يقول أمنابه dan riwayat yang ini lebih sohih dibanding riwayat lainnya. Dalil yang mendasari pendapat kedua ini adalah sebagai berikut : a) Riwayat Abdul Rozzaq dalam tafsirnya dan riwayatnya al-Hakim dalam mustadraknya berasal dari Ibnu Abbas ra bahwa dia membaca : ...tوالراسخون فىالعلم يقول أمنابه Bacaan itu menunjukkan bahwa huruf wawu tersebut adalah menjadi permulaan, sehingga kalimat والراسخون فىالعلم menjadi mubtadak dan lafadz يقولون menjadi khobarnya. b) Ayat 7 surat Ali Imran mencela orang-orang dan mencari ayat-ayat mutasyabihat yang mensifati mereka dengan kesesatan dan mencari-cari fitrah, dan dalam ayat itu Allah memuji mereka yang menyerahkan urusan-urusan samar itu kepada Allah dengan firman Allah : tArtinya : “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." c) Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dan yang lain dari ‘Aisyah, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw setelah membaca ayat 7 surat Ali Imran itu, beliau bersabda : فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهَ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمُّوْا الله فَاحْذَرْهُمْ. Artinya : “Maka kalau kamu melihat yang mencari hal-hal yang samar itu, maka hindarilah mereka itu” KESIMPULAN Dari definisi-definisi tentang muhkam dan mutasyabihat di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa muhkam adalah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri serta mudah dipahami. Juga tercakup di dalamnya tentang halal, haram, amar, nahi, janji (wa’d) dan ancaman (wa’id) dan semua itu wajib diimani dan diamalkan. Sedangkan mutasyabihat adalah suatu lafadz yang artinya samar, maksudnya tidak jelas dan sulit bisa ditangkap karena mengandung penafsiran yang berbeda-beda dan bisa jadi mengandung pengertian arti yang bermacam-macam. Pandangan ulama mengenai ayat-ayat mutasyabihat dan dipahami manusia atau tidak ada dua pendapat. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa arti dan ayat-ayat mutasyabihat dapat diketahui oleh umat manusia, dan ulama yang lain mengatakan bahwa umat manusia tidak dapat mengetahuinya. HIKMAH Salah satu hikmah ayat muhkamat adalah memberi rahmat pada manusia, khususnya orang yang bahasa Arabnya lemah, memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya juga memudahkan mereka menghayati makna maksudnya agar mudah melaksanakan ajaran-ajarannya. Sedangkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat salah satunya adalah menambah pahala usaha umat manusia, dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat sebab semakin sukar pekerjaan seseorang maka akan semakin besar jugalah pahalanya. Konsep dan Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Maka, untuk memahami hukum-hukum yang di kandung nash-nash al-Qur’an diperlukan antara lain pemahaman dalam segi kebahasaan dalam hal ini adalah bahasa Arab. Para ulama’ yang ahli dalam bidang ushul fiqh, telah mengadakan penelitian secara sesama terhadap nash-nash al-Qur’an, lalu hasil penelitian itu dituangkan dalam kaidah-kaidah yang menjadi pegangan umat Islam guna memahami kandungan al-Qur’an dengan benar. Kaidah-kaidah itu membantu umat dalam memahami nash-nash yang nampak samar, menafsirkan yang global, menakwil nash dan lainnya yang bertalian dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dalam upaya mengenal kaidah-kaidah yang telah dirumuskan oleh para ulama’ khusus yang berkaitan dengan aspek kebahasaan dalam al-Qur’an disajikan beberapa bahasan antara lain : muhkam dan mutasyabihat, mujmal dan mufasar, ‘amm, khos dan musytarak, mutlaq dan muqoyyad, ‘amr dan nahi. [1] A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat Kata muhkam merupakan pengembangan dari kata “ahkama, yuhkimu, ihkaman” yang secara bahasa adalah atqona wa mana’a yang berarti mengokohkan dan melarang. Dari pengertian itu, maka al-muhkam menurut bahasa adalah berarti yang dikokohkan. Dalam istilah muhkam ialah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri tanpa dita’wilkan karena susunannya tertib dan tepat, serta pengertiannya tidak sulit dan masuk akal.[2] Namun seluruh pengertian ini pada dasarnya berbentuk perintah dan larangan, maupun yang bersifat khobar (penerangan) tentang halal dan haram.[3] Kata mutasyabihat berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti kesamaan atau kesamaran yang mengarah pada keserupaan. Contoh dalam ayat 70 surat al-Baqarah : Artinya : …Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami… Dalam istilah, mutasyabih adalah suatu lafadz al-Qur’an yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia, karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri, maka dari itu cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimengerti ole Allah SWT saja.[4] Secara istilah, para ulama’ berbeda-beda pendapat dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabihat. Dr. Amir Aziz dalam Dirasat fi Ulum al-Qur’an menginventarisasi enam definisi, yaitu : 1. Dari Dr. Amir dinyatakan sebagai pendapat ahlu sunnah, muhkam adalah ayat yang bisa dilihat pesannya dengan gamblang atau jelas, maupun dita’wil. Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh Allah. Misalnya, saat datangnya hari kiamat dan makna huruf tahajji, yakni huruf-huruf yang terdapat pada awal surat, seperti : Qaf, Alif Lam Mim, dan lain-lainnya. 2. Dari Ibnu Abbas, muhkam adalah ayat yang penakwilannya hanya mengandung satu makna, sedang mutasyabihat adalah ayat yang mengandung pengertian bermacam-macam. 3. Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah dapat ditangkap tetapi ayat-ayat mutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan, misalnya: bilangan raka’at di dalam shalat 5 waktu. Demikian juga penentuan puasa yang dijatuhkan pada bulan ramadhan, bukan bulan sya’ban atau muharram. 4. Ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam adalah ayat yang dinasikh dan padanya mengandung pesan pernyataan halal, haram, hudud, faraidl, dan semua yang wajib diimani dan diamalkan. Adapun mutasyabihat adalah ayat yang padanya terdapat mansukh dan qosam serta yang wajib diimani tetapi tidak wajib diamalkan lantaran tidak tertangkap makna yang dimaksud. Definisi ini menurut Dr. Amir Abdul Aziz, juga dinisbatkan pada Ibnu Abbas. 5. Ayat muhkamat yaitu ayat yang mengandung halal dan haram diluar ayat tersebut adalah ayat-ayat mutasyabihat. 6. Ayat muhkam adalah ayat yang tidak ternask, sementara ayat mutasyabihat adalah ayat yang dinask.[5] B. Sebab-sebab Adanya Dalil Muhkam dan Mustasyabihat Secara tegas dapat dikatakan, bahwa sebab adanya ayat muhkam dan mutasyabihat adalah karena Allah SWT menjadikannya demikian itu. Allah memisahkan ayat antara yang muhkam dan mutasyabihat dan menjadikan ayat muhkan sebagai bandingan ayat yang mutasyabih. Allah berfirman : Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. C. Macam-macam Dalil Mutasyabihat Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Maka macam-macam ayat mutasyabihat itu ada tiga macam : 1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali Allah SWT. Contohnya seperti dzatnya Allah, hakikat sifat-sifat-Nya waktu datangnya hari kiamat, dan sebagainya, hal ini termasuk urusan-urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT, seperti isi ayat 34 surat Lukman : Artinya: “Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. 2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang dalam. Contohnya seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarok, mengqoyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib dan sebagainya. 3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Seperti keterangan ayat 7 surat Ali Imran : “Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya”[6] Dalam pengertian yang sama, al-Bahiq al-Asfahani memberikan penjelasan yang mirip. Menurut Din Mutasyabih terbagi pada 3 jenis yaitu jenis yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya seperti waktu kiamat, keluarnya dabbah (binatang) dan sebagainya. Jenis yang dapat diketahui manusia, seperti lafadz-lafadz yang ganjil (gharib) dan hukum yang tertutup dan jenis yang hanya diketahui oleh ulama’ tertentu yang sudah dapat ilmu, jenis terakhir inilah yang disyaratkan Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas. اَللَّـهُمَّ فَقِّهْهُ فِىالدِّيْنِ وَعَلَّمَهُ اَلتَّأْوِيْلَ. Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam agama dan ajarkanlah padanya ta’wilnya”.[7] D. Pandangan Para Ulama terhadap Dalil Muhkam Mutasyabihat Apakah arti dan maksud ayat-ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia atau tidak, ada dua pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa arti dan ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia dan sebagian ulama yang lain mengatakan tidak dapat yang menjadi pangkal perselisihan ialah mereka berbeda pendapat dalam memahami ayat 7 surat Ali Imran : Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. Yang mereka perselisihkan ialah apakah kalimat والراسخون فىالعلم itu disambungkan dengan lafadz Allah yang sebelumnya dan lafadz يقول أمنابه itu menjadi hal dari الراسخون? Ataukah kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi subjek (mubtada’), sedang kalimat يقول أمنابه itu menjadi khobar (predikat)nya sedang huruf wawu sebagai tanda isti’naf (tanda permulaan)? 1. Imam Mujahid dan sahabat-sahabatnya serta Imam Nawawi memilih pendapat pertama, yakni bahwa kalimat والراسخون فىالعلم itu di ‘athofkan (disambungkan) kepada lafadz Allah. Pendapat ini berasal dari riwayat Ibnu Abbas berdasarkan dalil sebagai berikut : a) Hadits riwayat Ibnu Mundzir dari Mujahid dari Ibnu Abbas ra mengenai firman Allah : وَمَايَعْلَمْ تَعْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِىالْعِلْمِ. أَنَا مِمَّنْ يَعْلَمُ تَعْوِيْلَهُ. Ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang yang lebih mengetahuai ta’wilnya” b) Hadits riwayat Ibnu Hatim dari ad-Dhahak yang berkata : اَلرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَعْلَمُوْنَ تَأْوِيْلَهُ وَلَوْلَمْ يَعْلَمُوْا تَعْوِيْلَهُ لَمْ يَعْلَمُوْنَا سِحَّهُ مِنْ مَنْسُوْخِهُ وَلاَحَلاَلَهُ مِنْ حَرَامِهِ وَلاَ مُحْكَمَهُ مِنْ مُتَشَابِهِهِ. “Orang-orang yang mendalami ilmunya mengetahui ta’wilnya, sebab jika mereka tidak mengetahui ta’wilnya, tentu mereka tidak mengerti mana yang nasikh dari yang mansukh, dan tidak mengetahui yang halal dan yang haram, serta mana yang muhkam dan yang mutasyabih”. Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang pertama itulah yang lebih shahih sebab impossible (tidak mungkin) Allah itu akan mengkhithob hambanya dengan sesuatu yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. 2. Kebanyakan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in serta orang-orang setelah mereka, memilih pendapat kedua yakni kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi mubtadak (subjek) sedang khobarnya (predikatnya) adalah kalimat يقول أمنابه dan riwayat yang ini lebih sohih dibanding riwayat lainnya. Dalil yang mendasari pendapat kedua ini adalah sebagai berikut : a) Riwayat Abdul Rozzaq dalam tafsirnya dan riwayatnya al-Hakim dalam mustadraknya berasal dari Ibnu Abbas ra bahwa dia membaca : ...tوالراسخون فىالعلم يقول أمنابه Bacaan itu menunjukkan bahwa huruf wawu tersebut adalah menjadi permulaan, sehingga kalimat والراسخون فىالعلم menjadi mubtadak dan lafadz يقولون menjadi khobarnya. b) Ayat 7 surat Ali Imran mencela orang-orang dan mencari ayat-ayat mutasyabihat yang mensifati mereka dengan kesesatan dan mencari-cari fitrah, dan dalam ayat itu Allah memuji mereka yang menyerahkan urusan-urusan samar itu kepada Allah dengan firman Allah : tArtinya : “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." c) Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dan yang lain dari ‘Aisyah, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw setelah membaca ayat 7 surat Ali Imran itu, beliau bersabda : فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهَ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمُّوْا الله فَاحْذَرْهُمْ. Artinya : “Maka kalau kamu melihat yang mencari hal-hal yang samar itu, maka hindarilah mereka itu” KESIMPULAN Dari definisi-definisi tentang muhkam dan mutasyabihat di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa muhkam adalah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri serta mudah dipahami. Juga tercakup di dalamnya tentang halal, haram, amar, nahi, janji (wa’d) dan ancaman (wa’id) dan semua itu wajib diimani dan diamalkan. Sedangkan mutasyabihat adalah suatu lafadz yang artinya samar, maksudnya tidak jelas dan sulit bisa ditangkap karena mengandung penafsiran yang berbeda-beda dan bisa jadi mengandung pengertian arti yang bermacam-macam. Pandangan ulama mengenai ayat-ayat mutasyabihat dan dipahami manusia atau tidak ada dua pendapat. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa arti dan ayat-ayat mutasyabihat dapat diketahui oleh umat manusia, dan ulama yang lain mengatakan bahwa umat manusia tidak dapat mengetahuinya. HIKMAH Salah satu hikmah ayat muhkamat adalah memberi rahmat pada manusia, khususnya orang yang bahasa Arabnya lemah, memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya juga memudahkan mereka menghayati makna maksudnya agar mudah melaksanakan ajaran-ajarannya. Sedangkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat salah satunya adalah menambah pahala usaha umat manusia, dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat sebab semakin sukar pekerjaan seseorang maka akan semakin besar jugalah pahalanya. Konsep dan Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Maka, untuk memahami hukum-hukum yang di kandung nash-nash al-Qur’an diperlukan antara lain pemahaman dalam segi kebahasaan dalam hal ini adalah bahasa Arab. Para ulama’ yang ahli dalam bidang ushul fiqh, telah mengadakan penelitian secara sesama terhadap nash-nash al-Qur’an, lalu hasil penelitian itu dituangkan dalam kaidah-kaidah yang menjadi pegangan umat Islam guna memahami kandungan al-Qur’an dengan benar. Kaidah-kaidah itu membantu umat dalam memahami nash-nash yang nampak samar, menafsirkan yang global, menakwil nash dan lainnya yang bertalian dengan pengambilan hukum dari nashnya. Dalam upaya mengenal kaidah-kaidah yang telah dirumuskan oleh para ulama’ khusus yang berkaitan dengan aspek kebahasaan dalam al-Qur’an disajikan beberapa bahasan antara lain : muhkam dan mutasyabihat, mujmal dan mufasar, ‘amm, khos dan musytarak, mutlaq dan muqoyyad, ‘amr dan nahi. [1] A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat Kata muhkam merupakan pengembangan dari kata “ahkama, yuhkimu, ihkaman” yang secara bahasa adalah atqona wa mana’a yang berarti mengokohkan dan melarang. Dari pengertian itu, maka al-muhkam menurut bahasa adalah berarti yang dikokohkan. Dalam istilah muhkam ialah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri tanpa dita’wilkan karena susunannya tertib dan tepat, serta pengertiannya tidak sulit dan masuk akal.[2] Namun seluruh pengertian ini pada dasarnya berbentuk perintah dan larangan, maupun yang bersifat khobar (penerangan) tentang halal dan haram.[3] Kata mutasyabihat berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti kesamaan atau kesamaran yang mengarah pada keserupaan. Contoh dalam ayat 70 surat al-Baqarah : Artinya : …Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami… Dalam istilah, mutasyabih adalah suatu lafadz al-Qur’an yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia, karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri, maka dari itu cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimengerti ole Allah SWT saja.[4] Secara istilah, para ulama’ berbeda-beda pendapat dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabihat. Dr. Amir Aziz dalam Dirasat fi Ulum al-Qur’an menginventarisasi enam definisi, yaitu : 1. Dari Dr. Amir dinyatakan sebagai pendapat ahlu sunnah, muhkam adalah ayat yang bisa dilihat pesannya dengan gamblang atau jelas, maupun dita’wil. Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh Allah. Misalnya, saat datangnya hari kiamat dan makna huruf tahajji, yakni huruf-huruf yang terdapat pada awal surat, seperti : Qaf, Alif Lam Mim, dan lain-lainnya. 2. Dari Ibnu Abbas, muhkam adalah ayat yang penakwilannya hanya mengandung satu makna, sedang mutasyabihat adalah ayat yang mengandung pengertian bermacam-macam. 3. Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah dapat ditangkap tetapi ayat-ayat mutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan, misalnya: bilangan raka’at di dalam shalat 5 waktu. Demikian juga penentuan puasa yang dijatuhkan pada bulan ramadhan, bukan bulan sya’ban atau muharram. 4. Ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam adalah ayat yang dinasikh dan padanya mengandung pesan pernyataan halal, haram, hudud, faraidl, dan semua yang wajib diimani dan diamalkan. Adapun mutasyabihat adalah ayat yang padanya terdapat mansukh dan qosam serta yang wajib diimani tetapi tidak wajib diamalkan lantaran tidak tertangkap makna yang dimaksud. Definisi ini menurut Dr. Amir Abdul Aziz, juga dinisbatkan pada Ibnu Abbas. 5. Ayat muhkamat yaitu ayat yang mengandung halal dan haram diluar ayat tersebut adalah ayat-ayat mutasyabihat. 6. Ayat muhkam adalah ayat yang tidak ternask, sementara ayat mutasyabihat adalah ayat yang dinask.[5] B. Sebab-sebab Adanya Dalil Muhkam dan Mustasyabihat Secara tegas dapat dikatakan, bahwa sebab adanya ayat muhkam dan mutasyabihat adalah karena Allah SWT menjadikannya demikian itu. Allah memisahkan ayat antara yang muhkam dan mutasyabihat dan menjadikan ayat muhkan sebagai bandingan ayat yang mutasyabih. Allah berfirman : Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. C. Macam-macam Dalil Mutasyabihat Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Maka macam-macam ayat mutasyabihat itu ada tiga macam : 1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali Allah SWT. Contohnya seperti dzatnya Allah, hakikat sifat-sifat-Nya waktu datangnya hari kiamat, dan sebagainya, hal ini termasuk urusan-urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT, seperti isi ayat 34 surat Lukman : Artinya: “Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. 2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang dalam. Contohnya seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarok, mengqoyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib dan sebagainya. 3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Seperti keterangan ayat 7 surat Ali Imran : “Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya”[6] Dalam pengertian yang sama, al-Bahiq al-Asfahani memberikan penjelasan yang mirip. Menurut Din Mutasyabih terbagi pada 3 jenis yaitu jenis yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya seperti waktu kiamat, keluarnya dabbah (binatang) dan sebagainya. Jenis yang dapat diketahui manusia, seperti lafadz-lafadz yang ganjil (gharib) dan hukum yang tertutup dan jenis yang hanya diketahui oleh ulama’ tertentu yang sudah dapat ilmu, jenis terakhir inilah yang disyaratkan Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas. اَللَّـهُمَّ فَقِّهْهُ فِىالدِّيْنِ وَعَلَّمَهُ اَلتَّأْوِيْلَ. Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam agama dan ajarkanlah padanya ta’wilnya”.[7] D. Pandangan Para Ulama terhadap Dalil Muhkam Mutasyabihat Apakah arti dan maksud ayat-ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia atau tidak, ada dua pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa arti dan ayat mutasyabihat itu dapat diketahui oleh umat manusia dan sebagian ulama yang lain mengatakan tidak dapat yang menjadi pangkal perselisihan ialah mereka berbeda pendapat dalam memahami ayat 7 surat Ali Imran : Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. Yang mereka perselisihkan ialah apakah kalimat والراسخون فىالعلم itu disambungkan dengan lafadz Allah yang sebelumnya dan lafadz يقول أمنابه itu menjadi hal dari الراسخون? Ataukah kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi subjek (mubtada’), sedang kalimat يقول أمنابه itu menjadi khobar (predikat)nya sedang huruf wawu sebagai tanda isti’naf (tanda permulaan)? 1. Imam Mujahid dan sahabat-sahabatnya serta Imam Nawawi memilih pendapat pertama, yakni bahwa kalimat والراسخون فىالعلم itu di ‘athofkan (disambungkan) kepada lafadz Allah. Pendapat ini berasal dari riwayat Ibnu Abbas berdasarkan dalil sebagai berikut : a) Hadits riwayat Ibnu Mundzir dari Mujahid dari Ibnu Abbas ra mengenai firman Allah : وَمَايَعْلَمْ تَعْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِىالْعِلْمِ. أَنَا مِمَّنْ يَعْلَمُ تَعْوِيْلَهُ. Ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang yang lebih mengetahuai ta’wilnya” b) Hadits riwayat Ibnu Hatim dari ad-Dhahak yang berkata : اَلرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَعْلَمُوْنَ تَأْوِيْلَهُ وَلَوْلَمْ يَعْلَمُوْا تَعْوِيْلَهُ لَمْ يَعْلَمُوْنَا سِحَّهُ مِنْ مَنْسُوْخِهُ وَلاَحَلاَلَهُ مِنْ حَرَامِهِ وَلاَ مُحْكَمَهُ مِنْ مُتَشَابِهِهِ. “Orang-orang yang mendalami ilmunya mengetahui ta’wilnya, sebab jika mereka tidak mengetahui ta’wilnya, tentu mereka tidak mengerti mana yang nasikh dari yang mansukh, dan tidak mengetahui yang halal dan yang haram, serta mana yang muhkam dan yang mutasyabih”. Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang pertama itulah yang lebih shahih sebab impossible (tidak mungkin) Allah itu akan mengkhithob hambanya dengan sesuatu yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. 2. Kebanyakan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in serta orang-orang setelah mereka, memilih pendapat kedua yakni kalimat والراسخون فىالعلم itu menjadi mubtadak (subjek) sedang khobarnya (predikatnya) adalah kalimat يقول أمنابه dan riwayat yang ini lebih sohih dibanding riwayat lainnya. Dalil yang mendasari pendapat kedua ini adalah sebagai berikut : a) Riwayat Abdul Rozzaq dalam tafsirnya dan riwayatnya al-Hakim dalam mustadraknya berasal dari Ibnu Abbas ra bahwa dia membaca : ...والراسخون فىالعلم يقول أمنابه Bacaan itu menunjukkan bahwa huruf wawu tersebut adalah menjadi permulaan, sehingga kalimat والراسخون فىالعلم menjadi mubtadak dan lafadz يقولون menjadi khobarnya. b) Ayat 7 surat Ali Imran mencela orang-orang dan mencari ayat-ayat mutasyabihat yang mensifati mereka dengan kesesatan dan mencari-cari fitrah, dan dalam ayat itu Allah memuji mereka yang menyerahkan urusan-urusan samar itu kepada Allah dengan firman Allah : Artinya : “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." c) Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dan yang lain dari ‘Aisyah, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw setelah membaca ayat 7 surat Ali Imran itu, beliau bersabda : فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهَ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمُّوْا الله فَاحْذَرْهُمْ. Artinya : “Maka kalau kamu melihat yang mencari hal-hal yang samar itu, maka hindarilah mereka itu” KESIMPULAN Dari definisi-definisi tentang muhkam dan mutasyabihat di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa muhkam adalah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri serta mudah dipahami. Juga tercakup di dalamnya tentang halal, haram, amar, nahi, janji (wa’d) dan ancaman (wa’id) dan semua itu wajib diimani dan diamalkan. Sedangkan mutasyabihat adalah suatu lafadz yang artinya samar, maksudnya tidak jelas dan sulit bisa ditangkap karena mengandung penafsiran yang berbeda-beda dan bisa jadi mengandung pengertian arti yang bermacam-macam. Pandangan ulama mengenai ayat-ayat mutasyabihat dan dipahami manusia atau tidak ada dua pendapat. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa arti dan ayat-ayat mutasyabihat dapat diketahui oleh umat manusia, dan ulama yang lain mengatakan bahwa umat manusia tidak dapat mengetahuinya. HIKMAH Salah satu hikmah ayat muhkamat adalah memberi rahmat pada manusia, khususnya orang yang bahasa Arabnya lemah, memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya juga memudahkan mereka menghayati makna maksudnya agar mudah melaksanakan ajaran-ajarannya. Sedangkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat salah satunya adalah menambah pahala usaha umat manusia, dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat sebab semakin sukar pekerjaan seseorang maka akan semakin besar jugalah pahalanya.

قاموس

Last Update: 2014-04-08
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia
Warning: Contains invisible HTML formatting

PENGAJARAN MAKRO Pengajaran Makro merupakan satu sesi pengajaran praktik yang lengkap bermula dari pendahuluan, set induksi, perkembangan, penilaian dan penutup. Biasanya, pengajaran Makro dipraktikkan di dalam bilik darjah sepenuhnya. Sebelum melaksanakan sesuatu sesi pengajaran Makro, anda perlu merancang dan menyediakan langkah-langkah pengajaran dengan baik. Pembelajaran yang berkesan dapat dicapai oleh murid jika guru menyediakan strategi pengajaran yang sesuai dengan mengambil kira kemahiran-kemahiran dan aktiviti-aktiviti yang bermakna. Bahasa Melayu

suraidah

Last Update: 2014-04-01
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

Perlembagaan Republik Islam Pakistan (Bahasa Urdu]]:آئین پاکستان) ialah undang-undang tertinggi Negara Pakistan.[1] Perlembagaan ini merupakan tertinggi Pakistan yang mengenal pasti negara (kewujudan fizikal serta sempadannya), warga dan hak-hak asasi mereka, undang-undang perlembagaan serta peraturan, dan juga struktur-struktur negara mengikut perlembagaan serta penubuhan institusi-institusi negara dan angkatan tentera.[2] Tiga bab pertama menetapkan peraturan, mandat dan pengasingan kuasa ketiga-tiga cabang kerajaan: dewan perundangan, Parlimen dwidewan; eksekutif, cabang diketuai Perdana Menteri sebagai ketua eksekutif; dan badan kehakiman apeks persekutuan diketuai ketua hakim Mahkamah Agung.[2] Perlembagaan meletakkan asas penubuhan jawatan Presiden Pakistan yang merupakan Ketua Negara yang perananannya lebih pada istiadat dan menjadi lambang perpaduan negara Pakistan.[3]

Berudu menterjemahkan

Last Update: 2014-03-22
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Perlembagaan Republik Islam Pakistan (Bahasa Urdu]]:آئین پاکستان) ialah undang-undang tertinggi Negara Pakistan.[1] Perlembagaan ini merupakan tertinggi Pakistan yang mengenal pasti negara (kewujudan fizikal serta sempadannya), warga dan hak-hak asasi mereka, undang-undang perlembagaan serta peraturan, dan juga struktur-struktur negara mengikut perlembagaan serta penubuhan institusi-institusi negara dan angkatan tentera.[2] Tiga bab pertama menetapkan peraturan, mandat dan pengasingan kuasa ketiga-tiga cabang kerajaan: dewan perundangan, Parlimen dwidewan; eksekutif, cabang diketuai Perdana Menteri sebagai ketua eksekutif; dan badan kehakiman apeks persekutuan diketuai ketua hakim Mahkamah Agung.[2] Perlembagaan meletakkan asas penubuhan jawatan Presiden Pakistan yang merupakan Ketua Negara yang perananannya lebih pada istiadat dan menjadi lambang perpaduan negara Pakistan.[3]

indi miatun

Last Update: 2014-01-30
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation