구글 검색

검색어: don (인도네시아어 - 영어)

인적 기여

전문 번역가, 번역 회사, 웹 페이지 및 자유롭게 사용할 수 있는 번역 저장소 등을 활용합니다.

번역 추가

인도네시아어

영어

정보

인도네시아어

Don Kisot

영어

Don Quixote

마지막 업데이트: 2015-05-19
사용 빈도: 9
품질:

추천인: Wikipedia

인도네시아어

don t stop believve

영어

Don t stop believve

마지막 업데이트: 2017-07-25
사용 빈도: 3
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Don for get mi sobat

영어

Don, get noodles buddy

마지막 업데이트: 2019-10-01
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

don not hurt l herr sad

영어

Don not hurt l herr sad

마지막 업데이트: 2017-05-04
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Don,t touch my man

영어

Don t touch my man

마지막 업데이트: 2016-11-07
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Aku don t berpikir aku bisa, tapi aku akan mencoba

영어

I don t think i can,but i will try

마지막 업데이트: 2017-08-30
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

apa artinya don' forget me in your life please

영어

what it means to don 'forget me in your life please

마지막 업데이트: 2015-11-12
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Am whitd you i don,t have data now to vidio you

영어

Am I want you, don't have data now to video you

마지막 업데이트: 2020-04-24
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Don in pairs of four the dialouge below accroding to the text above !

영어

terjemahan bhs inggris keindonesia

마지막 업데이트: 2016-11-09
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Isi Singkat Babad Ksatria Taman Bali. Tersebut bahwa Bhatara Subali bersaudara dengan Dalem Bhatara Sekar Angsana, Bhatara Subali berasrama di Tolangkir. Bhatara Sekar Angsana berasrama di Pura Dasar Gelgel, Ada lagi saudaranya, bernama Sang Hyang Aji Rembat (penawing) berasrama di Kentelgumi, Sang Hyang Aji Rembat berputra Ida Mas Kuning berasrama di Guliang, berasrama di bukit Pangelengan. Tersebut seorang pendeta Sang Pandia Wawu Rawuh, bertemu dengan Bhatara Subali di Tolangkir, Sang Pandia Wawu Rawuh hilir mudik menyusur tepi sungai Melangit. Tetapi, tidak menemukan mata air. Lalu beliau menancapkan tongkat pada-batu padas hingga keluar air yang jernih mengalir. Bersama dengan keluarnya air itu, muncul pula seorang wanita. Sang Pandia Wawu Rawuh menanyai wanita itu, dan memberi nama Ni Dewi Njung Asti. Air itu diberi nama Tirta Harum. Ni Dewi Njung Asti disuruh menunggui air itu dan Sang Pandia Wawu Rawuh kembali pulang. Bau harum itu sampai ke udara. Tercium oleh Hyang Wisnu dan segera bercengkrama di Tirta Harum. Di sana di sebuah gua tampak oleh Bhatara Wisnu seorang gadis, tetapi sang gadis tidak melihat. Bhatara Wisnu mandi dan keluar air mani, karena tak tahan melihat gadis itu. Bhatara Wisnu kembali ke Wisnuloka. Ni Dewi Njung Asti keluar dari gua, melihat air mani Bhatara Wisnu di atas batu, lalu diambil dan dimakannya. Dewi Njung Asti, akhirnya hamil . Dalam keadaan hamil Ni Dewi Njung Asti berkunjung pula Hyang Wisnu, serta bertanya asal usul dirinya. Setelah diceriterakan dengan jelas, maka Ni Dewi Njung Asti, diajak ke Wisnu Bhuana. Bhatara Subali memaklumi air suci (Tirta Harum)itu. Disuruhnya Sang Hyang Aji Rembat menjaganya dan membersihkan pancuran setiap hari. Bhatara Subali membuat telaga meniru di Majapahit, maka diberi nama Taman Bali. Lama kelamaan mereka masing- masing mempunyai putra, Sang Hyang Aji Jayarembat berputra Sira Dukuh Suladri. Ida Mas Kuning berputra dua orang, Ida Tapadhana dan Ida Nagapuspa. Bhatara Dalem Sekar Angsana berputra Ni Dewi Ayu Mas. Bhatara Subali memohon kepada Hyang Wisnu. Permohonannya terkabul, yaitu putra yang lahir dari Dewi Njung Asti bernama Sang Gangga Tirta. Anak itu dibawa oleh Bhatara Subali ke Tirta Harum. Bhatara Subali kembali ke Tolangkir . Keesokan harinya, Sang Hyang Aji Jayarembat mendapatkan bayi itu pada pancuran di Tirta Harum. Segera datang Bhatara Subali menegaskan bahwa anak itu adalah putranya yang diperoleh dari Bhatara Wisnu. Berkat Restu Bhatara Subali, anak itu diasuh oleh Sang Aji Rembat, semula bernama Sang Angga Tirta lalu diganti dengan nama Sang Anom, dalam waktu singkat, anak tersebut sangat rupawan dan telah remaja putra, kemudian pindah ke Rewataka Singasara. Tersebut bahwa Ni Dewi Ayu Mas di Gelgel sakit keras, Dipindahkan ke Taman Bali . Diobati oleh Sang Hyang Aji Jayarembat. Dalam waktu singkat telah sembuh. Diajak kembali ke Gelgel, kemudian penyakitnya kambuh lagi. Demikian berulang-ulang akhirnya tinggal di Taman Bali sampai dewasa. Terjalinlah hubungan antara Sang Anom dengan Dewi Ayu Mas hingga hamil, Dalem Sekar Angsana amat marah, dan memerintahkan untuk membunuh Sang Anom, dan Sang Hyang Aji. Rembat agar diantarkan ke Gelgel, Namun Dalem mengirim utusan rahasia untuk menyuruh Sang Anom menyingkir , Maka Sang Anom tiba di Tianyar luput dari serangan musuh. Lama kelamaan Sang Anom melawat ke desanya kembali, sambil memikat burung di tengah hutan Jarak Bang. Sang Anom bertanya dijawab dengan kelakar berkali-kali. Sang Anom marah dan mengutuk tempat itu agar bernama Bangli, orang-orang dusun itu melaporkan ke Gelgel. Dalem memerintahkan untuk menangkap pemuda tersebut dan diantarkan ke istana Gelgel. Sang Anom tertangkap dan diantar ke Gelgel. Mereka yang melihat pada bersedih menyaksikannya. Setelah tiba di Gelgel, Dalem memerintahkan untuk menangkap Sang Hyang Aji Jayarembat, dalam waktu singkat telah berhasil diserahkan kepada Dalem. Bhatara Subali dari Tolangkir menghadap ke Gelgel melarang Dalem untuk membunuhnya serta menceriterakan riwayat kelahiran Sang Anom dan meminta agar Sang Anom bersuami istri dengan Dewi Ayu Mas serta kembali ke Taman Bali. Dalem dapat menyetujui dan kemudian sangat menyayangi sebagai menantu. Restu Bhatara Subali kepada Sang Anom sebagai cikal- bakal Ksatria Taman Bali lahir dari Tirta Harum. Juga upacara dan upakara pembakaran jenasah sesuai dengan seorang Ksatria. Tidak boleh lupa turun- temurun agar nyawi ke Tirta Harum. Sang Anom dan Ni Dewi Ayu Mas sedang hamil berada di Taman Bali, Sang Anom meninggalkan istrinya untuk bertapa, dengan pesan bila lahir anaknya nanti agar diberi nama I Dewa Garba Jata. Dan disediakan sebilah keris yang bernama Ki Lobar untuk senjatanya di kemudian hari, bila Dalem meminta jangan diberikan. Pada saatnya I Dewa Garba Jata pun lahir. Setelah dewasa menanyakan perihal ayahnya. Sang ibu menceriterakan tengah bersemadi di hutan Dawa, serta ciri-cirinya yang khas, Kemudian I Dewa Garba Java menjumpai ayahnya, tetapi tidak berkenan kembali pulang, Putranya disuruh kembali dan menjadi raja di Taman Bali. Dan tetap nyawi ke Tirta Harum serta Ki Lobar. Sang Anom pun wafat, I Dewa Garba Jata -kembali ke Taman Bali dan menceriterakan semuanya kepada ibunya. Dalem amat cinta kepada I Dewa Garba Jata dan menganugrahkan seorang putri beliau untuk menjadi istrinya. Langsung upacara wiwaha menurut tata cara Ksatria. I Dewa Garba Jata memperoleh seorang putra bernama Cokorda Den Bancingah, Setelah dewasa beristri putri Kyayi Jambe Pule. Melahirkan putra bernama Cokorda Pemecutan, Cokorda Pamecutan berputra I Dewa Gde Den Bancingah. I Dewa Gde Den Bancingah berputra I Dewa Kanea Den Bancingah. I Dewa Kanea Den Bancingah berputra I Dewa Gede Tangkeban. I Dewa Gede Tangkeban banyak putranya: 1. I Dewa Pering 2. I Dewa Pindi 3. I Dewa Prasi 4. I Dewa Kaler 5. I Dewa Batan Wani 6. I Dewa Pulesari 7. I Dewa Mundung 8. I Dewi Kliki 9. I Dewa Gde Anom Teka 10. Tak tercatat yang wanita. Perpindahan putra-putra I Dewa Gede Tangkeban 1. I Dewa Pering ke Brasika (Nyalian) 2. I Dewa Prasi ke Gaga 3. I Dewa Pindi ke Telagasura 4. I Dewa Kaler tetap di Taman Bali. Keris pusaka Ki Lobar dimohon oleh I Dewa Gde Pering kepada I Dewa Gde Tangkeban di Taman Bali. Keris dibawa ke Desa Nyalian. Tersebut seorang raja di Bangli bernama Kyayi Anglurah Prawupan (keturunan Arya Batan Jeruk). Raja Taman Bali mengutus dua orang pesakitan untuk membunuh raja Bangli. Namun gagal, Kemudian raja Bangli mengutus kembali dua pesakitan itu untuk membunuh raja Taman Bali dengan janji bila berhasil diberikan hadiah kekuasaan di daerah itu, Pesakitan itu berusaha membunuh I Dewa Taman. Bali, namun pesakitan itu dapat dibunuhnya. I Dewa Taman Bali hanya menderita luka berat dan lama belum pulih. Sedang dalam penderitaan luka parah, istri I Dewa Taman Bali digauli oleh putranya sendiri yang bernama I Dewa Kaler. I Dewa Kaler diusir dari Taman Bali kemudian bernama Pungakan Kedisan karena dalam perjalanannya disambar burung gagak, juga disebut Pungakan Don Yeh karena waktu berangkatnya mengarungi hujan lebat dan banjir. Setelah raja Taman Bali wafat, diganti oleh putranya bernama I Dewa Anom Teka hendak menuntut bela atas wafat ayahnya yang direncanakan oleh Anglurah Paraupan di Bangli. Hal itu didukung oleh sanak keluarga dan pejabat- pejabat bawahannya. Segera mereka menyerang Bangli di bawah pimpinan I Dewa Anom Teka. Terjadi peperangan sengit antara Taman Bali dengan Bangli yang dipimpin oleh Kyayi Paraupan dan putranya Kyayi Anglurah Dawuh Bahingin. Kyayi (Pamamoran) tewas, Kyayi Dawuh Bahingin tewas pula. Kyayi Paraupan tampil sebagai pimpinan perang. Beliau pun gugur pula. Akhirnya Bangli mengalami kekalahan. Setelah Bangli kalah para putra Taman Bali beralih tempat. I Dewa Gede Perasi di Bangli, I Dewa Gede Pindi di Gaga. Di Taman Bali bertahta I Dewa Anom Teka menggantikan ayahnya. Berdiri tiga kerajaan, Bangli, Taman Bali, Nyalian. I Dewa Gde Prasi Raja Bangli, mempunyai seorang putri bernama I Dewa Ayu Den Bancingah. Tanpa keturunan. I Dewa Kanea (ipar Dalem Linggarsapura) amat disayang oleh Dalem, diberi pangkat Kanea, diam di Utara Bancingah bergelar I Dewa Kanea Den Bancingah. Mempunyai seorang putra bernama I Dewa Gede Tangkeban, sebab pada waktu lahirnya tanpa sengaja ditutup kasur tempat duduk raja oleh Ki Arya Jambe Pule. Pada saat terjadi pemberontakan Kyayi Anglurah Agung di Gelgel, Dalem Dimade mengungsi ke Guliang. I Dewa Kanea Den Bancingah kembali ke Brasika membawa keris Ki Lobar. Taman Bali dikalahkan oleh Kyayi Anglurah Made dari Karangasem. Putra-putra raja Taman Bali diungsikan, ke Gianyar oleh I Dewa Manggis, Kemudian I Dewa Agung Gde diam di Taman Bali karena Taman Bali diserahkan oleh Kyayi Anglurah Made Karangasem. I Dewa Agung Gde menyerahkan desa-desa: Cegeng, Tembaga, Tohjiwa, Sangkan Aji, Margayu, Pamubugan, Sukahet, Lebu, kepada Anglurah Made Karangasem, I Dewa Agung Gde berputra dua orang di Taman Bali, pria-wanita. Yang pria bernama, I Dewa Agung Gde Taman Bali. I Dewa Gde Taman Bali menggempur Taman Bali atas bantuan I Dewa Manggis, Taman Bali dikuasai kembali. I Dewa Agung Gde mengungsi ke Puri Kanginan (Klungkung) I Dewa Manggis ingin melihat warna Ki Lobar. Tak diijinkan oleh Dalem. Namun niatnya tak kunjung padam. Lama kelamaan Dalem meminjamkan keris Ki Lobar. I Dewa Gede Tangkeban menjadi salah paham, I Dewa Taman Bali dan I Dewa di Bangli menyarankan ajar dipertahankan meskipun apa terjadi. Didukung oleh sanak keluarga dan rakyatnya. I Dewa Agung Putra mendengar hal itu maka baginda minta bantuan ke Karangasem dan Gianyar untuk menggempur Nyalian. Terjadi perang sengit, I Dewa Gede Tangkeban minta bantuan Taman Bali dan Bangli, namun belum diberikan. Ternyata I dewa Gede Tangkeban tetap mengadakan perlawanan bersama sanak keluarganya. Banyak jatuh korban. I Dewa Gede Tangkeban tampil ke depan dengan menghunus Ki Lobar, hingga musuh- musuhnya lari tunggang-langgang. Kemudian pasukan Dalem maju lagi. I Dewa Gede Tangkeban tertembak, namun tidak gugur. Terpikir olehnya, kekecewaan dirinya, sehingga timbul kemarahannya pada sanak keluarganya di Bangli dan Taman Bali, beliau pun mengutuk agar selalu cekcok sesama keluarganya. Lalu ujung Ki Lobar dipotongnya. I Dewa Gde Tangkeban gugur dalam peperangan, Nyalian dikuasai oleh Klungkung. I Dewa Gede Tangkeban meninggalkan seorang putra dilarikan ke Bangli oleh ibunya. Kemudian diasuh sebaik baiknya oleh I Dewa Ayu Den Bancingah, seperti putra kandung karena I Dewa Ayu Den Bancingah tidak berputra selama bersuami istri dengan I Dewa Anon Rai. I Dewa Anom Rai mempunyai seekor kuda bernama Gandawesi dan mempunyai keahlian dapat melihat apa yang terjadi. I Dewa Anom Rai kawin dengan seorang kasta sudra, sehingga I Dewa Den Bancingah tidak diperhatikan lagi, timbul sakit hatinya dan menyidangkan bawahannya. I Dewa Ayu Den Bancingah berkat bantuan seorang dukun Ida Waneng Pati berhasil membunuh I Dewa Anom Rai di tempat tidurnya. Kemudian I Dewa Ayu Den Bancingah menjadi Ratu. Keamanan pulih kembali. Putra I Dewa Gede Tangkeban yang diasuh di Puri Bangli telah dewasa. Belum beristri. Senang tari- tarian antara lain, gambuh, legong, mencari guru tari ke Sukawati. Kesenangannya itu sama dengan kesenangan raja Taman Bali. Sering saling sabot guru tari, timbul cekcok antara Bangli dan Taman Bali. Taman Bali hendak menyerang Bangli, maka minta bantuan pada Dalem di Klungkung. Dalem tak berkenan karena tak pernah cekcok dengan raja Bangli. I Dewa Taman Bali merasa kecewa. Kemudian I Dewa Gede Raka Taman Bali mengumpulkan sanak saudara antara lain; I Dewa Gede Mundung, I Dewa Pulesari, I Dewa Batan Wani, I Dewa Jelepung, I Dewa Pindi, I Dewa Rendang, I Dewa Guliangan, I Dewa Pasalakan. Semua setuju menggempur Bangli tetapi agar minta bantuan ke Gianyar. Hal itu disetujui oleh I Dewa Taman. Bali, lalu minta bantuan kepada I Dewa Manggis dengan catatan bila Bangli kalah agar dibagi dua. Pasukan Gianyar dipimpin oleh Cokorda Mas. Bangli kalah dikuasai oleh Taman Bali dan Gianyar. Raja Bangli bersembunyi di Kehen. Raja Taman Bali mengepung Kehen, dan raja Gianyar menunggu di Taman Bali. I Dewa Ayu Den Bancingah setelah memperoleh wahyu di Pura Kehen, hendak berhadapan dengan I Dewa Taman Bali. Namun bersimpang jalan, perjalanannya langsung ke selatan hingga ke Taman Bali, maka berhadapan dengan I Dewa Manggis, pasukan I Dewa Manggis kalah, mereka kembali ke Gianyar. I Dewa Taman Bali tiba di Kehen, tidak berjumpa dengan siapa pun juga. Melihat asap mengepul di arah selatan. Disangka raja Gianyar berbuat buruk. Segera beliau hendak menghadapi raja Gianyar. Tiba di Taman Bali, ternyata sunyi-senyap. Dugaannya semula semakin tebal dan kuat I Dewa Taman Bali menerima laporan dari Guliang, bahwasanya ada serangan pasukan Klungkung. Pasukan Klungkung dihadapinya, pasukan Klungkung ketakutan, sebab tujuannya bukan untuk berperang, melainkan Cokorda Dewagung Putra ingin bertemu dengan I Dewa Manggis. Karena serbuan pasukan Taman Bali, maka baginda kembali melalui jembatan darurat. Jembatan itu patah menimbulkan banyak korban, Dewagung Putra wafat di Blahpane. Bhatara Dalem Sakti (ayah Dewata di Blahpane) amat murka dan memerintahkan agar Gianyar dan Bangli menyerang Taman Bali, Terjadi pertempuran sengit sasih ke 5, rah 9, tenggek 3, titi tanggal 13 Isaka 1809. Taman Bali kalah, dibumihanguskan oleh Bangli. Dan kekayaan Taman Bali dibawa ke Bangli, Raja Bangli tetap I Dewa Ayu Den Bancingah.

영어

google translate language bali

마지막 업데이트: 2015-02-01
사용 빈도: 2
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

I Siap Selem Ada katuturan satua I Siap Selem ngelah pianak pepitu. Ane paling cerika tusing ngelah bulu madan I Doglagan. Sawai-wai I Siap Selem ngalih amah nganti ke dauh pangkunge. Sedek dina anu ritatkala I Siap Selem teken panak-panakne ngalih amah dauh pangkunge, lantas langite megerudug nyihnayang lakar ujan. “Me, lan jani mulih. Ento guleme gede gati” keto pianakne kelihan ngomong. “Ao me yang takut nyanan iraga ujanan dini” pianakne lianan milu masaut “Cening jak mekejang, lan jani ditu di umahe ento malu maembon. Yen jani iraga mulih pedas iraga ujanan. Tolih ento adine, I Doglagan. Ia tusing ngelah bulu. Yen ia ujanan pepes bisa mati” keto I Siap Selem maorahan teken pianak-pianakne. Lantas I Siap selem teken pianakne makapitu ngungsi keumahe ane ada di sisin pangkunge ento. “Jero jero sane madue pondok niki, dados ke tiang milu maembon?” keto I Siap Selem metakon. Lantas pesu ane ngelah umahe ento boya ja sios wantah meong lua madan Meng Kuuk. “Ngeong ngeong.. ih cai Siap Selem ngujang cai mai?” “Jero Meong, tiang mriki jagi maembon mawinan tiang madue pianak-pianak kari alit. Tusing melah keneh tiange ngajakin ngrobok ujan”. “Nah lamun buka keto, lan mai macelep ka tengah” ditu lantas Meng Kuuk ngajakin I Siap Selem tekening pianakne mulihan. Sajaan lantas tuun ujan bales pesan ngaenang pangkunge blabar. Meng Kuuk nanjenin I Siap Selem apanga nginep di umahne. I Siap Selem nyak nginep kerana ia pedalem teken pianakne. Petengne I Siap Selem tusing ngidayang pules. Ditu lantas ia ningeh Meng Kuuk mererembug ajaka pianak-pianakne. “Cening ajak mekejang, petenge ene iraga lakar pesta besar. Ne meme ngelah siap pengina ngajak pianak makapitu” keto munyine Meng Kuuk. “Tiang baang kibulne me!” keto pesaut panakne “Tiang baang kampidne me!” pianakne len milu mesaut Ningeh tutur Meng Kuuke teken pianak-pianakne buka keto, lantas I Siap Selem nundunin pianak-pianakne “Ning bangun ning. Ento Meng Kuuk nagih ngamah iraga. Mai jani iraga megedi uling dini. Cening malu mekeber nyanan Meme ngemilunin”. Lantas seka besik pianak I Siap Seleme makeber ngecosin pangkung. Brrr.. Burr.. Suuak… Keto pianakne ane paling keliha makeber. “Apa ento Siap Selem?” metakon Meng Kuuk “Ento don timbule ulung” keto I Siap Selem nyautin Brrr.. Burr.. Suuak… keto pianakne lenan makeber “Apa ento Siap Selem?” Meng Kuuk buin mtakon “Ento don tiinge ulung” pesautne Siap Selem. Lantas seka besik pianakne I Siap Selem mekeber ngentasin pangkung. Jani enu I Siap Selem teken I Doglagan dogen ditu di umahne Meng Kuuk. Mabesen lantas I Siap Selem teken I Doglagan. “Cening Doglagan, jani Meme lakar ngalahin cening dini. Nyanan yen lakar amaha teken I Meng Kuuk, duegang bane madaya. Orahang eben caine nu pait, nu belig, sing pantes daar malu. Tunden Ia ngubuhin cai nganti tumbuh bulu. Yen suba tumbuh bulun caine, ditu lantas cai keberang ibane mulih”. Lantas I Siap Selem makeber ngentasin pangkung. Brrr.. Burr.. Suuak… keto munyin pakeber I Siap Seleme. “Apa ento Siap Selem?” mtakon lantas I Meng Kuuk. Tusing ada ne nyautin. Ditu lantas I Meng Kuuk nelokin pedemane I Siap Selem. Mekesiab lantas ia mare dapetanga tuah ada I Doglagan ditu. “Beh, pasti busan ane orahange don-donan ulung ento boya ja len wantah I Siap Selem teken pianak-pianakne” “Meme kanggoang dogen suba pitike cenik ene daar” keto panakne mamunyi. “Duh jero para meong sinamian, sampunang tiang ajenga mangkin. Tiang konden tumbuh bulu sinah eben tiange pait, belig, miwah ten jaan ajeng. Pinih becik ubuhin dumun tiang nganti tumbuh bulu, drika wawu dados ajeng tityang” I Doglagan mautsaha madaya upaya apang sing amaha teken I Meng Kuuk lan pianak-pianakne. I Meng Kuuk kena baana kabelog-belog baan I Doglagan. Ia nyak ngubuhin I Doglagan. I Doglagan wadahina guungan lan sabilang wai baanga ngamah. Gelising satua jani bulun I Doglagane suba tumbuh. Meng Kuuk lan pianakne pada repot ngae lakar basa anggona ngolah ben Doglagane. “Eh cai Doglagan, jani cai lakar amah kai” “Nggih dados nika jero. Nanging apang eben tiange jaanan, keburang dumun tiang ping telu” Meng Kuuk lantas ngeburang I Doglagan. Prrrr. Prrrr. Prrrr. Pas keburane ping telu mekeber lantas I Doglagan. Joh pakeberne lantas ngenceg duur batune. Meng Kuuk nguber I Doglagan lan tingalina ia ngenceg duur batune. Meng Kuuk nyagrep nanging I Doglagan ngenggalang makeber. Ane sagrepa I Meng Kuuk boya ja len tuah batu ane ngranaang gigine pungak. I Doglagan makeber sambilanga ngendingin I Meng Kuuk. “Ngik ngak ngik nguk gigi pungak nyaplok batu. Ngik ngak ngik nguk gigi pungak nyaplok batu.” Keto suba upah anake ane demen mebikas corah. Iraga mangda setata madaya upaya yening nepukin unduk lan ngelawan sane mabikas jele.

영어

google translate languages ​​bali

마지막 업데이트: 2015-01-09
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인도네시아어

Ada tuturan satua siap selem ngelah panak pitung ukud, olagan ane paling cenika. Ada kone kuuk maumah dadi anatah, masih ngelah panak enu cenik-cenik. Sai-sai I Kuuk ngae daya apang sida ia ngamah I Siap Selem, sabilang peteng ada nagih batisne, “Icang tendas Me, icang basangne Me, icang kibulne Me, icang kampidne Me, icang baongne Me.” Keto pada tetagihan panak-panakne I Kuuk, nagih ngamah I Siap Selem. Dadi mawanan ningeh I Siap Selem teken bakal kaamah, dadiannya ia ngalih upaya mangdene nyidayang matilar uli ditu. Gelising crita panakne ane nemnem suba pada samah bulu kampidne, sakewala ane paling cenika dogen liglig reh tan pabulu. Suba kone inganan tengah lemeng, I Siap Selem matuturan teken panakne, “Nak cai-cai jani ajak makejang makeber abete sakaukud, matinggal uli dini. Yen enu pade nongos dini sinah amaha teken I Kuuk.” Ditu lantas ane paling gedene nyumuin makeber, berber, burbur, suaak. Lantas matakon I Kuuk, “Ih Siap Badeng apa ento ulung?” “Inggih, daun tingkih ipan”. Buin makeber ane lenan, berber, burbur, suaak. “Siap Badeng apa ento ulung?” “Daun tiing ipan.” Makejang panakne suba makeber sakewala enu I Olagan dogen. Dening ia tan pakampid dadi keweh pesan memenne, lantas kapituturin, “Cai dini kutang Meme, tan urungan cai lakar amaha teken I Kuuk. Nah ene pitutur Meme teken cai, yang di kadine cai bakal tagih amaha teken I Kuuk, kene abete masaut, “Inggih Jero Wayan ne mangkin kantun ben tiange belig, yang pungkuran sampun tiang gede makadi tumbuh kampid, irika ja becik ulam tiange daar jerone, keto abete masaut.” Suba kone keto I Siap Selem makeber ninggal I Olagan. Nu kone I Olagan dogen pati sulsul kiak-kiak. Lantas kadingeh teken I Kuuk I Olagan kiak-kiak padidiana.” Kenken dadi I Olagan kauk-kauk padidiana, kija ya memenne? Beh ento jenenga ane ibi sanja orahanga don tiing, tingkih, timbul, ia jenenga makeber uli dini.” Lantas nyagjag panak kuuke makejang nagih ngamah I Olagan, rencananne nagih pakpaka.” Ih Jero Wayan mangkin da tadaha tiang, ben tiange kari belig malih pahit. Pungkuran yan sampun tiang ageng, tumbuh kampid, rah tiange akeh, ri kala irika rarisang sapakayunan!” Dadiannya kaidepang teken I Kuuk, kaingon kamelah-melahang. Critayang suba kone I Olagan, bulunyane samah, janggarne janggar pulas, tlatahne lambih, lantas kema kone kuuke makejang nagih ngamah ia. “Inggih Jero Wayan, mangkin ja nyandang sampun tiang baksa, nanging wenten pisangken tiang ring jerone, keburang dumun tiang ping solas mangda sumbrah getih tiange becik ajengang jerone malih akeh keni. Ri sampune puput ping solas tiang makebur, rarisang sampun baksa titiang!” Dadi tutut I Kuuk lantas kakebur-keburang I Olagan. “Inggih Jero Wayan mangkin malih apisan batekang pisan ngeburang!” Lantas kasangetang ngeberang kanti tegeh, bur I Olagan nambung ngalih meme nyamane di tengah bete. Enggang bungutne I Kuuk, kauk-kauk ngaukin memenne, “Kenken ja baan Meme, cai, nyai demen ngugu munyinne, jani awake payu kado, nah endepang deweke!”

영어

“Hari ini tepat Anniv aku sama meisha yang ke 4 tahun, tapi apa dia ingat ya kurasa tidak, dia sudah sangat berubah, ya sudah lah lupakan”. lalu ray pergi bergegas ke kampusnya untuk kuliah, dan sesampainya di kampus ray disamperi oleh JHON sahabatnya. “woi ray, tumbenan baru datang, mikirin apaan?” “haha, sorry bro gue lagi bingung nih”. “bingung kenapa lagi?” “hari ini bertepatan anniv gue sama meisha, lu tau kan? kami udah 4 tahun kalau gak putus”. “aduh aduh, udah ngapain mikirin dia? udah tenang, tadi gue dapat kabar dari anak anak katanya ada mahasiswi baru di kelas kita”. “serius lu jhon? gimana gimana? cucok kaga?” “katanya sih cucok, b*haay brooo eh udah bel, yuk kita masuk”. DI KELAS “Pagi anak anak”. “Pagi pak!” “hari ini kita kedatangan teman baru, mahasiswi baru namanya meisha, meisha sini masuk” Meisha memasuki kelas, semua mata tertuju padanya “nah ini dia mahasiswi baru kita, meisha kenalkan dirimu pada teman teman”. “Nama saya meisha, saya asli bandung, saya pindahan dari bandung, saya baru disini”. melamun + berbicara dalam hati “meisha? apakah ini meisha yang dulu mengisi hari hari ku? tapi kenapa wajahnya sangat berbeda, sungguh cantik dan menawan” “baik meisha, kamu duduk dimana ya”. “ray! ray!” Tersadar dari lamunan nya “hah? iya pak?” “di sebelah kamu kosong kan?” “iya pak kosong”. “ya sudah meisha duduk disana saja, semoga bisa mengikuti pelajaran dengan cepat ya”. “iya pak, makasih pak”. Lalu meisha duduk di sebelah ray, dan tiba bel istirahat “ehh, nama nya siapa tadi?” “Meisha” “nama yang manis, semanis orangnya hehe, gue Ray ricardo, sering dipanggil ray”. Meisha berbicara dalam hati “ray? apakah kamu ray yang dulu bersama ku? yang selalau aku sakiti? jika IYA, aku sangat merindukan mu ray” “hey! kenapa melamun?” “ehh? tidak tidak kok, maaf maaf”. “haha gak papa, ke kantin yuk”. “boleh boleh”. Lalu mereka ke kantin, dan hingga jam pulang ray menghampiri meisha “hey meisha” “eh iya ray? ada apa?” “pulang sama siapa?” “Jalan kaki nih, soalnya deket kok dari kampus”. “haha gue anterin ya?” “ciee ray, udah main nyosor aja lu kayak kupu kupu ke bunga mawar” “ahh lu ganggu aja” “eh meisha, kalau lu diapa-apain sama dia teriak aja panggil nama gue 3 kali, palingan gue gak datang kwkwkwk”. “haha apaan..” “udah ah gue duluan ya”. “haha memang dia agak aneh tuh sha”. “ya udah yuk kita sambil jalan”. Di sepanjang perjalanan mereka bercerita “eh jadi lu sebelumnya di bandung ya?” “iya gue di bandung, kalau lu nya?” “sama sama, gue juga gue baru disini”. “ohh gitu toh, hehe”. “oh ya, dulu lu alumni SMA mana? SMA atau SMK?” “gue alumni SMK, dari SMK PUNYA OME di bandung”. Dalam hati ray “astaga tuhan, apa dia bener bener meisha” “oh ya, kalau lu sendiri dari mana?” “emm gue juga dari sana sih, ehh kita sudah pernah kenal belum ya sebelumnya?” Meisha dalam hati “kalau gue bilang udah, takutnya kalau dia beneran tau gue meisha yang udah nyakitin dia, dia gak mau deket kayak gini lagi sama gue” “maaf ray, kayak nya belum deh hehe”. “belum ya? oh iya, alesan lu milih kampus ini kenapa?” “ohh gue sama mantan gue dulu udah janji kami bakalan 1 kampus, tapi gue datangnya telat, dan ternyata gue tanyain dosen-dosennya, gak ada nama mantan gue itu di kampus ini”. “ohh gitu toh” dalam hati “kok alesannya sama ya, pasti ini meisha, gue gak salah lagi.” “oh iya nama mantan lu emang siapa ya?” “nama mantan gue? emm, mantan gue namanya Brian”. “ohh brian toh” dalam hati “kok beda ya sama nama gue, hmm apa bukan meisha ya” “haha bagus ya nama dia kalian udah berapa bulan emang?” “hari ini kami anniv yang ke 4 tahun sedih aja kalau gue ingat semua kenangan gue dengan dia”. “oh ya? wah lumayan lama juga tuh, eh ini rumah kamu kan?” “iya, gue duluan ya ray? makasih ya”. “sama sama”. Di sepanjang jalan pulang ray berpikir pikir untuk memastikan apakah dia benar benar meisha atau tidak, dan besok paginya dia ke kampus tapi dia tidak bertemu dengan meisha, dan dia bertanya kesana kemari kabar meisha gimana. “Jhon, lu ada lihat meisha kaga?” “kan dia gak masuk ray”. “kenapa?” “katanya sih dia sakit, dia ke rumah sakit mau check up”. “sakit apaan ya dia?” “mana gue tau, emang gue bokap nya”. “ya sudah, gue mau ke rumah nya aja ya”. Ray menuju ke rumah meisha, dan setibanya disana “permisi, permisi”. “iya siapa ya?” “saya ray bu, temen nya meisha”. “ohh silahkan masuk nak”. “iya makasih bu”. “meisha nya lagi sakit nak, dia ada di atas di kamarnya”. “kalau boleh tau dia sakit apa ya bu?” “dia itu terkena tumor otak nak, jadi kata dokter jika penyakitnya kambuh dia akan pingsan”. “hah? serius bu? ya ampun kasihan meisha saya boleh ke kamar nya bu? temani saya”. “ayo nak, kita ke atas”. Lalu ray melihat meisha terbaring lemah di atas kasur nya “bu saya pamit pulang ya, kalau meisha sudah sadar bilang ke dia saya titip salam dengan dia”. “iya nak, kamu hati hati bawa mobil nya ya”. “iya bu”. Ray menuju ke rumahnya pulang, dan beberapa jam kemudian meisha sadar “sha, tadi temen kamu datang”. “siapa bu?” “ray, dia titip salam buat mu”. “ray? dia sangat mirip dengan ray masa lalu ku bu aku takut jika dia benar benar ray dan dia tau keadaan ku sperti ini dia menjauhi ku”. “dia sudah tau kok nak, dan dia malah mau ngerawat kamu”. Keesokan harinya ray telat bangun, dan ia tidak bisa ke kampus, dan di kampus meisha mencari cari ray namun tidak ada hasil, dan hingga pukul 7 malam ray ingin pergi ke cafe, ia membawa mobil dengan keadaan tidak baik, dan pada saat yang sama meisha baru pulang belajar kelompok dan ketika ia ingin menyebrang ia melamun dan mobil ray melaju kencang, tanpa melihat ada orang di depannya ray menabrak orang tersebut dan ia adalah meisha, lalu meisha terkapar dengan darah yang mengucur dari sekujur tubuh nya, ray tanpa pikir panjang langsung kabur, dan warga sekitar mendatangi meisha dan membawanya ke rumah sakit “SH*T! kok bisa ray lu nabrak orang tadi? kalau mati gimana gawat, mobil ini gak boleh gue pake, gue harus jual mobil ini”. Keesokan harinya, di kampus “jhon lu lihat meisha kaga?” “meisha? loh lu gak tau infonya ya tadi malam? kan temen temen pada buat PM, sama nge BM anak anak kampus buat jenguk dia nanti di rumah sakit”. “loh? meisha sakit apa lagi?” “bukan sakit dodol! dia kecelakaan, dia jadi korban tabrak lari tadi malam pas mau nyebrang sehabis belajar kelompok”. Ray terdiam “jangan jangan! yang gue tabrak itu meisha?” “oi! lu ikut kaga?” “kemana?” “jenguk meisha lah dodol, kemana lagi” “ohh iya gue ikut nanti”. Lalu mereka menuju rumah sakit menjenguk meisha “eh gue ikut masuk ya ke dalam? gue pengen banget lihat dia”. “ya udah ayo bareng sama gue”. dalam hati ray “maafin gue sha gue gatau kalau lu bakalan jadi gini karena gue mudah mudahan lu nya kaga apa apa ya” “kasihan banget ya ray meisha” “kasihan kenapa jhon?” “ternyata dia kena tumor otak, untung saja dia masih dapat bertahan hidup, dan lebih parahnya dia sekarang lumpuh”. Ray batuk “uhuk uhuk”. “lu kenapa ray?” “gak papa jhon, keselek air liur gue sendiri kayaknya” “sudah sudah, ayo kita keluar”. Dan akhirnya mereka pergi keluar, dan ray menjalani hari harinya seperti biasa di kampus dan sampai meisha datang kembali lagi “eh meisha. lu udah masuk lagi?” “eh ray, iya nih udah agak baikan, tapi sayangnya gue sekarang lumpuh” “hmm, sakit gak sha?” “ya iya lah cuma gak terlalu”. “kalau boleh tau kenapa lu bsa jadi gini ya?” “gue pun gak ingat banget, yang pasti di malam itu disaat gue mau nyebrang ada mobil yang melaju kencang dan gue tercampak lalu gue gak ingat apa apa lagi”. “trus sampe sekarang ada yang ngakui gak kesalahan nya udah nabrak lu?” “gak ada ray polisi pun gak bisa nemuin mobilnya yang nabrak itu. oh iya ngomong ngomong mobil lu mana?” “haha, udah gue jual, mesinnya udah agak rusak, mendingan jalan kaki atau naik angkot” “haha bener bener sehat ya kan?” “iya sha, eh jadi lu udah maafin yang nabrak lu itu?” “TUHAN aja mau maafin hambanya, kenapa gue tidak? tapi masalahnya dia itu gak ada datangin gue, atau santunin gue, dia pergi gitu aja, brengsek banget ya kan. kalau orang itu ada di depan gue, gue bakalan tusuk tusuk matanya pake garpu”. “mak? jangan lah sha kasihan dia”. “kasian gue lah haha kaga lah, gue gak akan sekejam itu. eh temenin cari makan yuk, gue lapar”. “yuk yuk sini gue dorongin”. Lalu mereka pergi mencari makan dan sampe si ray mengantar meisha pulang, dan itu ray lakukan terus menerus sampai meisha check up ke rumah sakit juga, dan hingga akhirnya meisha telah dapat berjalan normal lagi “ray, gue sekarang udah normal lagi” “hehe, gue juga ikut seneng sha” “ini semua berkat kamu ray, berkat tuhan juga” “iya sha, ehh lu mau temenin gue gak ke toko buku? cari cerpen terbaru?” “boleh boleh”. Lalu mereka pergi ke mall dan setibanya disana “haha, nyampe juga ya” “iya nih, wah kangen suasana mall gini bareng mantan gue dulu ray, kami berdua paling seneng ke mall, ke toko buku juga, sama kayak kamu ini nih” “iya kah? wahh bagus tuh” “hehe jelas dong” ray batuk batuk “uhuk uhuk uhuk!” mengeluarkan darah dari mulutnya “ray? lu kenapa? kok ada darah?” “gak papa kok sha, udah biasa kayak gini”. “aduh, kita ke rumah sakit aja yuk sekarang, ayo”. “gak usah sha, kita pulang aja lah ya? kapan kapan aja kita ke mall nya”. “ya udah deh, kamu banyak istirahat ya”. “andai meisha tau gue kena kanker paru paru gimana ya, apa dia masih mau kayak gini ke gue?, sudahlah, gue berharap dia masih mau” Keesokan hari nya “ray, sebenarnya lu sakit apa sih?” “gue kaga apa apa kok”. “kita ke rumah sakit yuk, kalau lu hargai gue ikut gue” “ya udah ya udah kita ke rumah sakit” Sesampainya di rumah sakit “sha, gue check up dulu ya” “iya, gue tungguin disini ya”. Beberapa lama kemudian. “anda siapa nya ray?” “saya? saya temen dekat nya dok, bagaimana keadaan ray?” “ray sebenarnya mengidap penyakit kanker paru paru, dan saya rasa umur dia tidak lama lagi, soalnya beliau sudah sampai di stadium 3″. “hah? dokter serius?” “saya serius”. “eh ray, kita pulang ya” “iya sha, terserah kamu nya saja” Lalu mereka pergi pulang “ray, lu kenapa gak mau cerita selama ini ke gue kalau lu terkena kanker paru paru?” “gue takut sha! takut”. “takut kenapa? hah?” “gue takut lu bakal ninggalin gue setelah lu tau gue begini”. “astaga ray, gak akan gue ninggalin lu, berniat gitu pun gak ada!” “ya sudah lupain” “uhuk uhuk” “kan lu batuk lagi, itu darah nya ada lagi” “gue gak papa kok, gue istirahat dulu ya, gue pamit masuk ke dalam, lu hati hati di jalan”. DI DALAM KAMAR Ray mengambil sebuah kertas dan ia menulis kata kata permintaan maaf untuk meisha. Hari semakin hari meisha semakin memperhatikan ray, karena keadaan ray yang semakin memburuk, dan hingga akhirnya ray pun mengalami lumpuh sebelah badan nya Meisha mendatangi rumah ray dan membawa ray pergi ke sebuah tempat yang dimana adalah tempat kenangan mereka dulu di saat pacaran. “ray, lu tau ini tempat apa?” Ray menggelengkan kepalanya “ini tempat kenangan gue sama mantan gue dulu”. Ray tersenyum “ray, gue mau jujur nih sama lu boleh? tapi jangan marah ya” Ray menganggukkan kepalanya “bener ya?” Ray menganggukkan kepalanya “hmm, jadi gini, sebenarnya mantan gue itu namanya Ray, dan orangnya mirip banget sama lu, semua yang kita cerita ini di awal ketemu itu sama dengan masa lalu gue, dan gue sebenarnya udah yakin bahwa ray yang gue cari cari selama ini adalah lu, dan ray bakalan nepatin janji nya yaitu bakalan bersama sampai tuhan memisahkan kami nantinya, tapi aku melakukan kesalahan, aku selingkuhi dia, dan aku menyesal”. Ray tersenyum dan meneteskan air mata “lu kenapa nangis?” Ray menggelengkan kepalanya, menunjuk kantong baju nya “ada apa di kantong baju mu?” Ray mengarahkan tangan meisha ke kantong nya mengambil sebuah kertas “kertas ini? apa? gue baca ya?” Ray menganggukkan kepalanya “Gue disini mau cerita yang sebenarnya, sebenarnya dari awal kita ketemu gue udah ada feeling kalau lu itu adalah meisha yang selama ini ngisi hari hari gue, dan gue selalu berdoa kepada TUHAN agar ia mempertemukan kita lagi, dan hingga kita dipertemukan di kampus PUNYA OME, gue sangat senang, kita bisa dekat lagi, kita bisa bersama lagi, apalagi lu masih ingat semua kenangan kenangan kita, tapi gue sangat takut, takut banget! gue takut kehilangan lu, mungkin apalagi ketika lu udah baca di kata kata berikutnya, nah sekarang coba lu baca di bawah. Sha, gue mau ngaku dan gue mau jujur dan terlebih lagi gue mau MINTA MAAF! minta maaf yang sebesar besarnya, sebenarnya yang buat kaki lu jadi lumpuh itu adalah GUE, gue yang udah nabrak lu, dan waktu itu gue bingung antara nolong lu atau tidak, jadi gue lari saja, dan gue gak tau kalau itu adalah lu, gue tau nya setelah dapat kabar dari jhon keesokan harinya, tapi gue senang lu udah tau yang sebenarnya, sekarang gue udah tenang sha, gue udah ikhlas kalau TUHAN harus misahin kita saat ini juga, di saat lu baca surat ini, gue rasa lu bakalan dapat yang lebih BAIK dari gue, cuman 1 hal yang gue minta, jangan pernah lupain GUE SHA!, RAY! orang yang paling menyayangi lu, sekaligus nyakiti lu, swkali lagi gue minta maaf, gue sangat sangat SAYANG sama lu, LOVE YOU MEISHA!” “Ray!, ini semua mimpi kan? gue lagi mimpi kan ray?” sambil menangis, “yang buat gue lumpuh, yang buat gue cacat, yang buat gue hampir frustasi bukan lu kan ray?” Ray menangis “gue gak butuh air mata lu ray!, gue minta lu jawab! yang lakuin ini semua beneran lu?” Ray menangis dan menganggukkan kepalanya “gue benar benar kecewa dengan lu ray, lu JAHAT! lebih jahat dari gue ternyata” MENDORONG ray dan meninggalkan ray Ray terjatuh dan tersungkur di atas tanah sambil menangis. Ketika meisha ingin meninggalkan ray, meisha teringat kata kata ray “JANGAN PERNAH LUPAIN GUE SHA” dan akhirnya meisha kembali menghampiri ray, mengangkat ray dari tanah, dan memeluk ray, lalu ia berkata… “ray, lu ingat lagu kenangan kita kan? gue bakalan nyanyiin buat lu, gue mau lu tetap hidup ray” Ray menangis “oke gue bakalan nyanyi” dalam keadaan menangis dan tersedu-sedu Heart beats fast Colors and promises How to be brave How can I love when I’m afraid to fall But watching you stand alone All of my doubt suddenly goes away somehow One step closer I have died everyday waiting for you Darling don’t be afraid I have loved you For a thousand years I’ll love you for a thousand more. “ray, itu kan lagu kenangan kita? gue udah nyanyi in buat lu, lu kuat ray, kita bakalan tetap bersama kan?, ray lu jawab, jangan tinggalin gue! gue sayang sama lu ray, ray! gue gak bakalan berhenti sayang dan cintai lu sampe 1000 tahun ray” Namun semua ucapan meisha sia sia, ray telah pergi meninggalkan meisha untuk selamanya, ray pergi di pelukan meisha, ray dan meisha sama sama sangat saling menyayangi, namun tuhan lebih sayang kepada ray, sehingga ray di panggil duluan menghadap nya

마지막 업데이트: 2014-08-28
사용 빈도: 1
품질:

추천인: 익명

인적 기여로
4,401,923,520 더 나은 번역을 얻을 수 있습니다

사용자가 도움을 필요로 합니다:



당사는 사용자 경험을 향상시키기 위해 쿠키를 사용합니다. 귀하께서 본 사이트를 계속 방문하시는 것은 당사의 쿠키 사용에 동의하시는 것으로 간주됩니다. 자세히 보기. 확인