Pergunte ao Google

Você procurou por: dewasa (Indonésio - Javanês)

Contribuições humanas

A partir de tradutores profissionais, empresas, páginas da web e repositórios de traduções disponíveis gratuitamente

Adicionar uma tradução

Indonésio

Javanês

Informações

Indonésio

cerita dewasa com

Javanês

crita diwasa com

Última atualização: 2015-03-30
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

cerita dewasa plus gambar gambar

Javanês

crita diwasa plus Gambar Gambar

Última atualização: 2015-07-05
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

gambar dan cerita dewasa/undefined

Javanês

gambar utawa crita diwasa / undefined

Última atualização: 2016-05-02
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

cerita dewasa ngentot anak sd plus gambar

Javanês

SD anak crita diwasa homo plus pictures

Última atualização: 2016-08-13
Frequência de uso: 3
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

Terima Kasih Tuhan Untuk Hari Ini Engkau Tambahkan Usia ku Setahun lagi, Semoga Menjadi Lebih Dewasa dan Menjadi Berkat Bagi Sesama

Javanês

Indonesian translation into Jepang basa

Última atualização: 2014-10-21
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

Sayembara Putri Pancala Kerajaan Pancala terletak disebelah timur Kurusetra. Keduanya dipisahkan oleh hutan Naimisha. Sebuah hutan lebat yang tak terjamah oleh manusia, selain ditumbuhi kayu-kayu besar dan rapat hutan itu juga dihuni oleh binatang buas dan perampok-perampok ganas sakti mandraguna. Selain itu didalam hutan juga terdapat sungai deras berbatu yang dihuni puluhan buaya. Dari keadaan alam saja sudah bisa diterka dua kerajaan bertetangga itu akan sulit berhubungan. Kerajaan Pancala dipimpin seorang raja bijaksana bernama Prabu Drupada. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Drupadi. Kecantikan Putri Drupadi terkenal sampai ke negeri-negeri tetangga. Banyak Pangeran yang datang melamar Putri Drupadi, namun baik Prabu Drupada maupun Putri Drupadi belum juga memutuskan untuk menerima lamaran dari salah satu Pangeran-pangeran yang datang. Hal ini tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi kerajaan. Jika Prabu Dropada ataupun Putri Drupadi menolak lamaran, salah salah bisa menimbulkan peperangan. Oleh karenanya Raja harus membuat sebuah kebijakan. Sore itu Putri Drupadi tengah menikmati aura kuning emas matahari. Pantulan sinar keemasannya membuat hamparan hutan dan istana menguning. Sungai ditengah hutan yang meliuk keemasan. Melihat dan menikmati pemandangan dan suasana seperti itu sungguh menenangkan jiwa. Sejenak semua beban dan masalah akan sirna oleh keindahan Panorama alam perbatasan itu. Putri Drupadi duduk didepan jendela kamarnya yang dihias kain sutra dan bunga-bunga beraneka ragam tepat di sotoh Istana kamarnya. Ia mengenakan gaun putih ringkas yang memperlihatkan kemulusan kulit sang putri. Diterpa sinar keemasan matahari, menambah kecantikannya. Rambutnya yang panjang digulung keatas yang ditahan dengan tusuk konde emas. Sedang kaki jenjangnya yang bagus saling tumpang tindih diatas sebuah bantal yang disulam benang emas. Mata Putri terpejam, napasnya teratur membuat dadanya yang membusung bagus bergerak naik turun perlahan. Sebuah senyum tipis menghias bibir tipisnya. Kecantikannya sungguh pantas disejajarkan dengan para Dewi atau bidadari. Pantaslah jika kecantikannya mengundang para pangeran datang. “Drupadi….”. Suara besar dan penuh wibawa datang dari pintu kamar. “Ayah…”. Sahut Drupadi segera merapikan pakaian dan cepat cepat berlutut didepan Ayahnya. “Berdirilah, anakku”. Kembali suara yang penuh wibawa itu mengiang ditelinga Drupadi. Putri itupun berdiri, menundukkan kepala. Tak sanggup ia menatap wajah Ayah dan rajanya. “Apakah ada yang penting, Ayah. Sehingga Ayah sampai datang ke kamar hamba.” Tutur Drupadi penuh hormat. “Ini soal pangeran pangeran yang datang melamarmu. Sampai sekarang mereka belum kita berikan jawaban.” Sejenak Raja menarik nafas. Sang Putri terdiam menunggu kata-kata Raja selanjutnya. “Jika kita tidak segera menjawab lamaran mereka, Ayah khawatir mereka akan marah dan memerangi kita.” Raja Dropada kembali menarik nafas berat. “Ayah mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widhi, untuk mengatasi masalah ini.” Putri Drupadi mengangkat kepalanya, memandang wajah Ayahnya sejenak. Memastikan kesungguhan Ayahnya. “Kita akan membuat Sayembara kekuatan dan ketangkasan. Para pangeran yang ingin mempersuntingmu harus mengikuti sayembara ini. Siapa yang keluar sebagai pemenang, ia yang berhak menjadi suamimu.” “Sayembara semacam apa yang Ayah ingin rencanakan?” Tanya Drupadi. “Sayembara memanah patung ikan berjalan memutar ditengah kolam dengan menggunakan busur pusaka Kerajaan.” Jawab Prabu Drupada seolah bergumam. “Namun Ayah, kita tahu Pangeran-pangeran itu memiliki Ilmu yang tinggi. Belum lagi jika mereka mengandalkan Panglima perang atau orang andalannya. Bagaimana jika banyak Pangeran mampu mengangkat busur pusaka Kerajaan?” Kata Putri Drupadi. Mimik wajahnya memperlihatkan kekuatiran yang mendalam. Ini bukan saja menyangkut masa depannya. Ini menyangkut keselamatan kerajaan dan rakyatnya. Jika dalam sayembara inipun ada hal yang dirasakan tidak adil bagi salah satu Peserta, tentu ia akan menuntut. Salah-salah akan pecah peperangan. Dan tentu akan mengorbankan rakyatnya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Prabu Drupada terdiam sejenak. Keningnya berkerut dan matanya terpejam. Ia menghela nafas sejenak. Kemudian melangkah ke pagar sotoh Istana kamar Putrinya. Matanya menyapu pemandangan indah nan eksotik jauh di hadapannya. “Anakku, jika begitu peserta sayembara itu harus adu tanding terlebih dahulu. Barang siapa yang tidak sanggup melanjutkan adu tanding, ia kalah. Namun barang siapa yang masih kuat ia berhak untuk menggunakan busur pusaka kerajaan. Itupun jika ia masih memiliki simpanan tenaga. Bagaimana, Putriku?” Raja balik bertanya. Sang putri tampak terdiam. Kemudian tampak senyum tipis dibibirnya yang kemerahan. Ia mengangguk pelan tanda setuju. Sang Rajapun tersenyum melihat Putrinya setuju dengan idenya. Ia melangkah mendekati Putrinya membelai rambutnya. “Kamu cantik sekali Putriku, pantas saja para pangeran negeri-negeri tetangga itu tergila-gila padamu.” Kata Drupada memuji kecantikan Putrinya. “Ayah bisa saja.” Sahut Drupadi pelan dan menundukkan kepala. Mendadak pipinya berwarna kemerahan. Jarang sekali Ayah memuji. Pikirnya dalam hati. Putri Drupadi mendekatkan dirinya ke tubuh Ayahnya. Prabu Drupada pun memeluk erat putrinya. “Satu hal yang perlu kamu ingat Nak. Siapapun nanti yang keluar menjadi pemenang sayembara ini, betapapun digdayanya kemampuannya, ia belum tentu orang yang baik untuk menjadi suami dan pemimpin keluargamu. Berhati-hatilah. Bersemedi, tanyalah pada Sang Hyang Widhi.” Bisik Prabu Drupada di telinga kiri putrinya. Sang Putri hanya mengangguk pelan dan mempererat pelukannya pada tubuh Ayah sekaligus Rajanya. Hari mulai gelap. Sinar keemasan yang tadi merajai rimba belantara dan sungai-sungai dibawah sana mulai sirna. Kegelapan dimana-mana mulai datang dan merajai alam. Seolah tidak ada yang sanggup mencegah pemandangan yang serba gelap itu. Terlihat hanya sungai berwarna putih meliuk-liuk dan hilang dikegelapan hutan. Segera berita tentang Sayembara Kerajaan Pancala tersebar luas ke seluruh negeri. Para Duta-duta kerajaan segera diutus ke Negara-negara tetangga untuk mengantarkan surat resmi dari Prabu Drupada tentang Sayembara itu. Di tempat-tempat keramaian diseluruh negeri, pasar, sekolah, istana kerajaan terpasang pengumuman tentang Sayembara itu. “Sayembara. Karena begitu banyaknya pangeran yang datang hendak mempersunting Putri Kerajaan Pancala Raya, maka Prabu Drupada, Raja Agung Pancala Raya pada hari ke sepuluh bulan kesepuluh tahun ini mengadakan Sayembara. Barang siapa mampu bertarung sampai tidak ada lawan lagi ia boleh mengangkat busur panah pusaka Kerajaan Pancala Raya, lalu tanpa melihat ia harus mampu memanak patung ikan ditengah kolam halaman Istana yang berjalan berputar. Bagi siapa yang mampu melakukannya, ia berhak mempersunting Putri Drupadi. Setiap Pangeran boleh menyertakan wakilnya atau dirinya sendiri namun wakil tersebut haruslah dari golongan Satria” Demikianlah bunyi tulisan-tulisan yang tulis diatas kulit kayu yang sudah diolah sedemikian rupa menyerupai kain dan ditempel ditempat-tempat umum. Setiap orang yang melihat pengumuman itu tampak menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Sebentar lagi di Pancala akan berkumpul orang-orang sakti mandraguna yang akan memperebutkan perempuan tercantik diseluruh negeri. Bagi orang biasa tentulah hal ini tidak terlalu menarik hati mereka. Namun bagi golongan Satria tentu ini merupakan hal istimewa, selain memperebutkan seorang Putri yang cantik merekapun mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuannya. Hal ini pun membuat tantangan tersendiri bagi pangeran-pangeran yang sudah menyampaikan lamarannya pada Prabu Drupada. Sayembara ini merupakan jawaban atas lamaran mereka. Dan merekapun sadar, bahwa mereka harus bersaing untuk mendapatkan wanita itu. Segala cara mereka tempuh. Segala hal mereka lakukan demi untuk memenangkan sayembara. Pagi itu dipinggiran hutan Naimisha tampak seekor kuda hitam besar berlari cepat seperti anak panah yang meluncur dari busurnya. Diatas kuda itu tampak seorang laki-laki gagah yang masih muda. Ia mengenakan ikat kepala berukir keemasan berlambang bintang dibagian depannya. Sementara dadanya yang bidang dan kemerahan dibiarkan terbuka. Seperti logam kulit orang itu saat sinar matahari menerpa keringat-keringat yang keluar dari pori-pori nya. Sementara bagian pinggang kebawah ia mengenakan celana khas orang-orang kerajaan. Dilapisi kain yang terlilit sedemikian rupa menambah kegagahannya. Orang itu terus memacu kudanya tanpa henti. Menjelang tengah hari orang muda itu menghentikan lari kudanya tepat di antara dua pohon besar yang tumbuhnya agak berjauhan. Kedua pohon ini hampir menyerupai pintu gerbang hutan itu. Perlahan orang muda itu mulai memacu kudanya masuk ke dalam hutan. Tak seberapa lama kembali ia menggebrak laju tunggangannya itu. Kuda besar itu kembali melesat ditengah tengah hutan diantara pohon-pohon rindang dan rapat. Namun tampaknya kerapatan pohon dan seluk beluk hutan ini sudah tidak asing bagi orang ini. Terbukti ia terus memacu kudanya tanpa mengurangi kecepatan meskipun melalui tikungan, tanjakan atau turunan. Matahari sudah tepat diatas kepala. Namun didalam hutan lebat seperti ini, hal itu tidak berarti apa-apa. Di dalam hutan masih terasa sejuk dan tidak terlalu terang. Tak terbayang bagaimana jika ini malam. Tentu kegelapannya bisa masuk sampai ke sumsum tulang. Penunggang kuda itu menghentikan lari kudanya tepat sepuluh meter di depan sebuah pohon besar. Pohon itu sepertinya satu-satunya pohon yang paling besar dengan akar-akar gantung sebesar lengan tangan dan bahkan ada yang sebesar paha orang dewasa. Besar pohon itupun luar biasa, butuh kira-kira sepuluh orang yang merentangkan tangan untuk mengelilingi pohon itu. Menjulang tinggi tertutup oleh dedaunan yang rimbun membuat pandangan kita tak bisa mengetahui sampai dimana batas ujung Pohon raksasa ini. Orang muda itu cekatan turun dari punggung kudanya. Kebesaran pohon itu sama sekali tidak membuatnya heran. Perlahan ia mendekat sambil melihat lekat-lekat pada bagian atas pohon yang tertutup rimbunnya dedaunan. Matanya tajam mengawasi keadaan. Perlana kakinya memasang sebuah kuda-kuda. Sepertinya Orang muda itu tahu kedatangannya sudah sejak tadi diketahui penghuni hutan Naimisha. Entah apa yang membuat hati orang muda itu sedemikian berani dan santainya, sejenak tersungging senyum di bibirnya. Sraakk!!! Terdengar suara dedaunan yang diterpa sesuatu. Orang muda itu segera menengadahkan wajahnya melihat apa yang jatuh dari atas. Serangkum angin padat menghempas tepat dikepalanya. Tinggal bebrapa centi lagi akan mengenai kepala, dengan cekatan Orang muda itu melesat mundur kearah pohon besar dibelakangnya tanpa melihat, dan ia berjongkok miring searah dengan tegaknya pohon. Bumm!!! Angin padat itu hanya menimpa tanah kosong dan menimbulkan lubang berdiameter satu meter dan menerbangkan dedaunan dan tanah basah. Orang muda itu tersenyum. Namun belum habis senyumnya tiba-tiba dari antara daun-daun diatas melesat cepat ribuan anak panah berwarna hitam. Tepat menderu ke tubuhnya yang sedang berjongkok dibatang pohon. Melihat serangan yang cepat dan brutal ini sepertinya tidak mungkin baginya untuk menghindar. Maka ia memejamkan mata, bibirnya bergerak-gerak cepat. Dan sedetik lagi ribuan anak panah itu sampai dikulitnya yang polos, ia membuka matanya dan dengan tiba-tiba ribuan anak panah itu berhenti tepat beberapa centi di depan hidungnya. Tidak berhenti disitu saja, perlahan anak-anak panah itu berputar berbalik arah. Dan hanya dengan sebuah kedipan anak panah itu kembali melesat ketempat asalnya secepat kilat. Sraakkk!!! Bum…! Bum…! Terdengar bunyi berdebuman ditanah menandai jatuhnya orang-orang dari atas pohon. Semuanya jatuh tanpa nyawa dengan anak panah yang menancap di dada, di kepala dan dileher. Orang muda itu kembali berkelebat ke arah atas pohon yang tertutup dedaunan lebat. Namun belum sampai Orang muda itu menembus rimbunnya daun, tiba-tiba ia tercekat. Ia merasa tubuhnya terdorong oleh angin yang berhawa panas memapas diwajahnya. Dan benar saja, sebuah anak panah sebesar lengan menghunjam wajahnya. Namun anak panah itu juga tertahan beberapa centi di depan wajahnya. Sambil terus melayang Orang muda itu mencoba melawan arus datangnya anak panah raksasa. Namun sepertinya anak panah itu berhasil menekan Orang muda. Sialan. Maki Orang itu dalam hati. Tubuhnya perlahan-lahan bergerak turun tidak mampu melawan arus tekanan anak panah raksasa. Sementara anak panah itu mengeluarkan getaran hebat yang menimbulkan bunyi mengaung lirih namun memekakkan telinga. Orang muda it uterus terdesak kebawah hingga kakinya menjejakkan tanah. Barangkali jika kakinya menjejakkan tanah, ia akan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada saat ia melayang. Namun dugaannya salah. Kakinya terus amblas ditanah basah! Keringat dingin mulai mengucur dari lehernya. Ia mencoba menggerakkan tangannya meraih anak panah raksasa itu, namun itupun tak sanggup ia lakukan. Ada sejenis dinding kokoh tak kasat mata yang mengitari anak panah raksasa. Mati aku! Bisiknya dalam hati. Sementara kakinya sudah amblas ke dalam tanah basah sebatas lutut. Tentu ia tidak bisa bergerak leluasa sekarang. Ia tidak punya pilihan. Kedua tangannya dibentangkan kesamping, bibirnya bergerak cepat sementara matanya masih terus melotot menahan laju gerak anak panah raksasa. Sepasang mata Orang muda itu mulai semerah darah! Dari sepasang tangan yang dibentangkan keluar sinar putih yang tipis. Dari sinar tipis itupun keluar asap tipis juga berwarna putih. Tiba-tiba udara sedingin es! Dan membuat dedaunan dan semak belukar disekitar Orang muda itu berubah bersalju! Haaaaaaaaaa…..!!! Dengan berteriak lantang anak muda itu mendorongkan tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebawah. Dua energy bergesekan diudara. Antara energy tangan Orang muda itu dan energy anak panah raksasa. Gesekan itu menimbulkan percikan-percikan kilat yang menyambar-yambar ke sekeliling. Ranting, daun atau pohon yang tersambar percikan kilat itu langsung terlihat gosong dan membeku. Orang muda itu berhasil melepaskan kakinya dari dalam tanah. Dengan kuda-kuda yang kokoh iapun mendorongkan tangan kirinya keatas. Percikan kilat bertambah besar. Haaaaaaaaa….!!!! Dengan teriakan yang keras ia melepaskan energy dalam dirinya melalui kedua tangannya. Dan … BUMMM..!!!! Ledakan dahyat terdengar. Lepasan energy menimbulkan ledakan yang luar biasa diudara. Dekat dengan lengan Orang muda itu. Daun-daun banyak berguguran, radius lima meter tempat itu menjadi berantakan dengan berseraknya daun dan tanah yang tergusur dari tempatnya. Kulit pohon besar itupun tampak menghitam dan beku. Dibawah pohon yang tidak terlalu besar Orang muda itu bersandar. Dari mulut dan hidungnya keluar darah segar membuat dada dan perutnya berwarna merah. Tak jauh dari tempatnya bersandar, tampak anak panah raksasa patah jadi dua! Tak lama kemudian terdengar suara daun-daun tersibak. Dan dalam sekejap, lima orang bertelanjang dada, bercelana hitam dan berikat kepala hitam sudah tegak berdiri mengepung Orang muda. Orang muda itupun menghela nafas dan memejamkan mata. “Sambutan kalian keterlaluan…!” bergumam si Orang muda. Kelima orang itu hanya tersenyum. “Tenaga dalammu bertambah pesar, Rekha!” Sahut salah seorang yang ditengah. “Mana Kakang Rakhsa?” Jawab Orang muda yang dipanggil Rekha itu. “Aku disini, Rekha.” Suara besar berwibawa terdengar dari samping kanan Rekha. Terkejut, cepat-cepat ia membuka mata dan memalingkan mukanya ke arah datangnya suara. Entah kapan hadirnya orang itu. Tiba-tiba seorang yang bertubuh tinggi penuh otot dan tegap dengan raut wajah yang tampan berjongkok disamping Rekha. Kelima orang yang dari tadi berdiri mendadak berlutut didepan orang yang baru datang. “Pimpinan Naimisha. Salam hormat kami!” Serentak kelima orang itu menyembah. Yang disembah hanya menganggukan kepala dan memberi isyarat agar kelima orang itu berdiri. Mereka berdiri dan melangkah mundur, tak berani mendekat. “Kakang, sambutan yang kau bikin keterlaluan!” Kata Rekha sambil mengernyitkan kening tanda tak suka. Yang dipanggil kakang hanya tersenyum manis. “Aku tadi melihat kepesatan ilmu mu. Tenagamu luar biasa. Kamu tahu sendiri, Lima panglimaku itu berilmu tinggi. Tapi kami mampu mengimbangi tenaga mereka. Walau…. Harus terluka parah seperti ini. Hahahaha…!” “Sialan” Rekha memaki. Ia mencoba berdiri dan bersandar pada pohon dibelakangnya. Ia memandang kelima orang yang ternyata merekalah yang menggerakkan anak panah raksasa tadi. Dipandang seperti itu mereka hanya tersenyum cengengesan. “Tapi tetap saja kamu memetik kemenangan adikku, dari pihakku gugur 10 anggotaku.” Kata Rakhsa lagi. “Itu salah mereka menyerangku secara sembunyi-sembunyi.” Jawab Rekha. “Mereka itu orang baru, mereka tidak mengenalmu. Mereka hanya menjalankan tugas.” “Ya sudah kalo begitu beri saja mereka penghargaan karena gugur di medan tugas.” “Ha..ha..ha.. Rekha, rekha. Mereka tanggung jawabmu. Sebagai penghargaan atas gugurnya ke-sepuluh anggotaku, kamu harus menyerahkan sebuah jarimu.” Kata Rakhsa pelan namun tegas. Rekha tidak terkejut. Rupanya ia tahu resiko yang harus ia tanggung. Namun tentu ia tidak akan memberikan jarinya dengan begitu saja. “Boleh.” Jawab Rekha disambut senyuman tipis Rakhsa yang adalah Kakaknya sendiri. “Namun kalau salah satu dari panglimamu itu mampu mengalahkan aku.” Tantang Rekha. Rakhsa hanya mengernyitkan keningnya. Ia tahu saudaranya sendang terluka. Menolak tantangannya juga merupakan perbuatan pengecut. Bagaimanapun posisinya sekarang berada dipihak yang dirugikan. Jika salah satu panglimanya menang, tetap saja itu memalukan. Apalagi sampai kalah. Namun Rakhsa tidak dapat berbuat apa-apa. Ia memandang ke salah satu panglimanya dan menganggukkan kepala. Orang itupun bergerak maju dan bersiap, sementara yang lain mundur sampai ke Pohon raksasa di belakang mereka. “Rekha, aku terima tantangan keras kepalamu. Ingat kamu masih terluka dalam yang cukup parah. Jangan paksakan menggunakan tenaga dalammu. Jika ‘Panglima Tiga’ ini mampu merobek kulitmu sedikit saja, terima kekalahanmu. Bagaimana?” Rakhsa memberikan tantangan yang menurutnya lebih adil. Yang diberi tantangan hanya mengangguk dan menyeringai. Ia segera memasang kuda-kuda. Matanya tajam menatap kearah orang yang disebut Panglima Tiga. Yang ditatap hanya senyum-senyum dan memasang kuda-kuda. Tangannya mengembang, menandakan siap untuk diserang. Maka sedetik kemudian kaki kanan Rekha menjejak ke pohon besar dibelakangnya menimbulkan gemuruh karena getaran pohon. Sekejap kemudian tubuh Rekha melesat bak anak panah kearah Panglima Tiga. Tapak tangannya terbuka kearah muka Panglima Tiga, melihat telapan tangan yang datang sedemikian cepatnya Panglima Tiga segera mengirimkan pukulan untuk menangkis datangnya serangan, namun belum lagi pukulannya dan tapak tangan Rekha bertumbukan, entah bagaimana tahu-tahu Rekha merubah serangannya, kaki kirinya sebentar lagi akan menghantam dadanya, sontak Panglima Tiga menggerakkan siku kanannya untuk menangkis tapak kaki lawan, namun kembali serangan Rekha berubah, kini tinju kirinya yang sebentar lagi akan menghantam pelipisnya. Tak sempat menangkis, Panglima Tiga memiringkan kepalanya ke kanan hingga pukulan Rekha hanya lewat diatas kepalanya. Pukulan dan tendangan Rekha yang tidak tentu dan serangan yang selalu berubah-ubah membuat Panglima Tiga kewalahan. Tak lama ia mulai terdesak. Rupanya anak ini punya jurus yang diandalkannya. Pantas saja ia merani menantang. Berkata dalam hati Panglima Tiga. Pertempuran itu terus berlangsung lama. Tubuh mereka hanya terlihat seperti bayang-bayang saja. Bayangan tubuh Rekha tak beraturan sedangkan tubuh Panglima Tiga melesat kian

Javanês

terjemahan google basa Jawa Indonesia

Última atualização: 2016-01-28
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

drama bahasa jawa maling kundang [ADEGAN 1 – Rumah Ibu Malin] Narator : Di suatu desa hiduplah anak laki-laki bersama dengan ibunya. Hidupnya sengsara dan miskin. Anak itu bernama Malin. Malin sangat disayang ibunya karna sejak kecil, Malin sudah di tinggal mati oleh ayahnya. Ketika Malin sudah tumbuh dewasa, ia mulai berpikir untuk merubah kehidupan ekonomi keluarganya.

Javanês

Basa Jawa drama maling kundang

Última atualização: 2015-08-10
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

google terjemahan indonesPerkenankanlah saya pada kesempatan kali ini menyampaikan uraian pidato yang bertema Pentingnya Pendidikan Moral Sejak Usia Dini. Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Dalam rangka mempersiapkan SDM yang berkualitas untuk masa depan, pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini. Pendidikan merupakan investasi masa depan yang diyakini dapat memperbaiki kehidupan suatu bangsa. Memberikan perhatian yang lebih kepada anak usia dini untuk mendapatkan pendidikan, merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menyiapkan generasi unggul yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Hadirin yang saya hormati dan rekan – rekanku yang berbahagia Usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Masa ini sekaligus merupakan masa yang kritis dalam perkembangan anak. Jika pada masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, perawatan, pengasuhan dan layanan kesehatan serta kebutuhan gizinya dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.Salah satu bagian penting yang harus mendapatkan perhatian terkait dengan pendidikan yang diberikan sejak usia dini adalah penanaman nilai moral melalui pendidikan di Taman Kanak-kanak. Pendidikan nilai dan moral yang dilakukan sejak usia dini, diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi. Pendidikan nilai dan moral sejak usia dini merupakan tanggungjawab bersama semua pihak. Hadirin yang terhormat dan rekan – rekanku tyang berbahagia, Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah investasi yang sangat mahal harganya bagi keluarga dan juga bangsa.Mengingat pentingya pendidikan untuk anak usia dini, maka di negara-negara maju pendidikan anak usia dini sangat mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Taman Kanak-kanak (TK) dipandang sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional sehingga sederajat dengan SD atau jenjang pendidikan lainnya. Rekan – rekanku Untuk itulah pendidikan moral dimulai sejak usia dini perlu untuk mendapatkan perhatian yang lebih khusus. Pendidikan yang diberikan untuk anak usia dini lain dengan pendidikan yang diberikan untuk orang dewasa. Kekhususan yang perlu mendapatkan perhatian, misalnya dalam merapkan metode pembelajaran, termasuk di dalamnya pemilihan metode penanaman nilai moral. ia ke jawa halus

Javanês

google terjemahan Indonesia Ke Jawa Halus

Última atualização: 2015-01-30
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

KelahiranSebuah lukisan dalam kitab Srimad Bhagawatam dari yayasan ISCKON, menggambarkan adegan saat Kunti memanggil Dewa Surya. Atas pemanggilan tersebut, Kunti memperoleh putra yang kemudian dibuangnya ke sungai. Putra tersebut adalah Radheya, alias Karna.Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, yaitu Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa. Pada suatu hari, Kunti mencoba mantra tersebut setelah melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba berkonsentrasi kepada Dewa Surya, dan sebagai akibatny, dewa penguasa matahari tersebut muncul untuk memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun, Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya kembali ke kahyangan setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.Dalam bahasa Sanskerta kata karṇa bermakna "telinga". Hal ini mengakibatkan muncul mitos bahwa Karna lahir melalui telinga Kunti. Namun, Karna juga dapat bermakna "mahir" atau "terampil". Kiranya nama Karna ini baru dipakai setelah Basusena atau Radheya dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna.

Javanês

QUERY LENGTH LIMIT EXCEDEED. MAX ALLOWED QUERY : 500 CHARS

Última atualização: 2015-01-25
Frequência de uso: 3
Qualidade:

Referência: Anônimo
Aviso: contém formatação HTML invisível

Indonésio

Perkenalkan nama saya Hilda Adina Rahmi. Saya lahir pada tanggal 24 mei 1998, di RS AL Surabaya. Saya memiliki satu kakak perempuan, saya tinggal bersama kedua orang tua saya. Saya tinggal di jalan Medokan Ayu kampong gang 3 nomer 11, rungkut, Surabaya. Saya dulu TK di Tunas Mandiri, dan mengalami dua kali TK, karena pada saat usia saya waktu itu, saya masih belum bisa membaca dan berhitung dengan baik dan benar, sehingga orang tua saya mengembalikan saya ke TK lagi. Pada saat saya kembali ke TK lagi saya merasa minder, tapi saya ingat sekali orang tua saya tidak henti-hentinya memberi saya semangat, hingga akhirnya saya bisa melalui masa-masa itu. Kemudian saya masuk ke sebuah SD Negeri yang bernama SD Negeri Medokan Ayu 2 yang disingkat menjadi MA2, pada saat masuk saya tidak lagi merasa minder ataupun canggung dengan temen-teman saya, walaupun ada rasa yang agak aneh yang saya sendiri tidak dapat ungkapkan tetapi saya bisa menghadapinya, saat saya SD saya dari tahun ke tahun prestasi saya terus meningkat, saya selalu dapat masuk peringkat ke lima besar. Hingga saat saya mulai mengenal apa itu rasanya menyukai lawan jenis pada saat SD kelas 6, saya suka dengan kakak kelas saya yang baru lulus, dan pada saat itu juga nilai-nilai saya agak menurun semangat pebalajr sayapun berangsur-angsur mengalami kemunduran, hingga saya merasakan apa itu rasanya sakit hati. Dan itu yang membangkitkan saya dan sadar akan apa saja yang telah saya tinggalkan. Hingga saya mengalami cobaan, yaitu hasil nilai UN saya sangat merosot dan sangat tidak sesui dengan harapan, dan hingga beberapa teman saya mulai memandang saya dengan sebelah mata. Pada saat itu saya masuk ke pemenuhan pagu di SMP Negeri 19 surabaya, ada seseorang yang selama ini saya anggap sebagai sahabat dekat saya, dia tampaknya iri dengan saya, hingga dia melakukan pemfintahan yang tidak – tidak terhadap saya, hingga saat acara perpisahan beberapa banyak teman saya mengucilkan saya dan melihat saya sebelah mata. Pada saat itu saya sangat sedih dan kecewa terhadap sikap seseorang yang selama ini saya anggap sahabat saya sejak kecil, ternyata hanya dengan takdir yang seperti itu dia marah kepada saya hingga seperti itu. Dan karena kejadian itu saya tidak lagi percaya terhadap orang lain, sehingga saya sering bercerita dengan diri saya sendiri ( didepan cermin ) kadang saya, merasa ada yang menanggapi omongan ataupun cerita saya, dan saya terkadang juga ada yang membisikkan sebuah solusi atas masalah-masalah yang saya hadapi. Kejadian itu membuat saya trauma akan kata sahabat maupun persahabatan. Karena menurut saya itu semua hanyalah omong kosong belaka yang tidak berdasar, setiap orang baik saat dia butuh pada saat dia tidak butuh, kita dianggurin gitu aja seperti barang bekas. Menurut saya menjadi seorang sahabat tidak hanya senang saja disisinya, tapi juga harus saat susah. Seorang sahabat adalah seseorang yang dating saat kita susah, maupun sedih, ataupun juga saat kita tertawa bahagia, tanpa kita minta dia selalu ada disisi kita, selalu dukung apapun keinginan kita selama itu dalam batas-batas yang sesui dengan norma. Sahabat nggak akan ngomongin sahabatnya dibelakangnya atau kepada orang lain, seorang sahabat selalu inginkan yang terbaik untuk sahabatnya, dan selalu menomor satukan sebuah persahabatan ketimbang sebuah permusuhan. Hingga tiba saatnya masa-masa SMP saya dimulai, pada saat ini saya mencoba untuk mengunci diri sendir, saya merasakan perubahan yang saya buat sangatlah derastis, dari seseorang yang selalu cerewet, yang banyak ngomong, kadang suka seenaknya sendiri, seseorang yang selalu banyak tingkah dan berisik, menjadi sosok seseorang yang pemalu, pendiam, tidak banyak bicara, dan sangat cuek terhadap seseorang. Tindakan itu saya ambil karena menurut saya pada saat itu semua orang sama saja, semuanya penuh dengan sandiwara dan kemunafikan, dan saya bosan melihat hal-hal seperti itu, saya sangat tidak suka saat teman-teman sebaya saya, berkata “ they are my best friends “, saya merasa sangat rishi mendengar kata-kata seperti itu, bagi saya kata-kata seperti itu hanya bohong belaka, hingga akhirnya saya diolok-olokkan sebagai cewek cupu yang sangat kutu buku. Saya tidak marah ataupun jengkel atas olok-olokkan seperti itu, saya senang malahan. Prestasi saya menurut guru dan orang tua saya selalu meninggkat, hingga saya masuk ke dalam kelas yang istimewa dalam SMP Negeri 19 surabaya, dikelas unggulan. Kelas dimana hanya berisi anak-anak yang kelas 7nya rangking 1-3 saja. Saya senang dan bersyukur saya dapat membuktikan kepada teman-teman SD yang yang dulu memfitnah saya, bahwa saya tidak pantas masuk ke SMP itu gara-gara nilai UN SD saya yang buruk, saya senang karena setidaknya saya sudah membalas rasa kesal saya terhadap mereka walaupun belum sama. Tapi, saya meraskan seperti kembali lagi kemasa lalu saya, saya bertemu teman-teman yang mengaggap saya sebagai sahabat mereka tapi saya sama sekali tidak membalas rasa saying mereka, saya masih truma atas kejadian waktu SD, hingga saya mendengar teman-teman yang mengganggap saya sebagai sahabatnya itu mengata-ngatain saya dibelakang saya tanpa mereka tau saya mendengakan semua pembicaraan mereka yang melihat saya selalu dari kerurangan saya dan itu membuat saya sedih dan kecewa kembali. Saya iri dengan kakak saya yang memiliki sahabat yang setia mulai dari SD hingga kuliah pada saat ini, saya iri. Saya juga ingin mendapatkan teman-teman yang baik luar dan dalam. Yang namya sahabta itu nggak ada yang namanya sahabat masa SD, sahabat masa SMP, sahabat masa SMA. Yang namanya sahabat itu abadi selama-lamanya. Itupun juga berlangsung pada saat saya kelas 9 SMP saya dikecewakan untuk sekali lagi. Hingga saya merasakan kesendirian, yang sering membuat saya menyendiri. Saya tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana atas perasaan ini, salahkah saya atas sakit hati yang saya rasakan hingga saat ini saya memasuki masa-masa SMA, masih sering perasaan kekecewaan itu sering muncul, saya hingga saat ini tidak percaya kepada teman-teman saya untuk bercerita ataupu sekedar menceritakan hal-hal yang mengganggu hidup saya. Sayapun kembali kecewa dengan teman – teman sekelas saya yang berkata ingin kompak tapi tetap saja ada pembuat “gep “ antara satu dengan yang lain dan itu ada. Mereka semua menurut saya hanya sedang melakukan sebuah sendratari drama. Sungguh ironis, jika mereka tau teman-teman yang selama ini mereka bangga-banggakan ternyata yang paling membenci kamu, dan ternyata dia juga yang membikin kamu seperti terus dalam dongeng hingga waktu membangunkan kamu dengan paksa untuk melihat dan mendengar kenyataan pahit yang sebenar-benarnya. Aku masih sering sekali melihat teman-temanku yang sekarang masih hidup dalam sebuah dongeng yang ingin mereka ciptakan sendiri, mereka masih berada dalam awan-awan mimpi. Aku kasihan dengan mereka, jika mereka terbangun saat sebuah kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan mimpi-mimpi mereka. Aku ingin sekali membantu mereka untuk bangun dan melihat sebuah kenyataan bahwa dunia ini tak semudah yang mereka bayangkan, mereka masih lebih memilih untuk bersenang-senang yang menurutku berlebihan. Aku kasihan jika saat mereka dewasa mereka baru tersadar bahwa mereka harus memulai segala sesuatu dari nol. Aku ingin bilang ke mereka bahwa ini bukan saatnya untuk bermimpi lagi, tapi kalian harus sudah mulai membanggun bangunan impian kalian, aku ingin berkata seperti itu, dan pernah aku coba hasilnya sama saja mereka masih berada dalam kabut-kabut awan mimpi. Merunut saya haya ini yang ingin saya ceritakan. Terimakasih.

Javanês

google agensi nganti Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-11-15
Frequência de uso: 3
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

Ada seorang pemuda yang hidup hanya bersama ibunya ( nama tidak disebutkan). Dia pemuda yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang mengenalnya. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager.Gaji-nya pun lumayan. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan wanita-wanita single. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus padanya. Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali.Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang.Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 terlihat menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung dari wanita tersebut. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya tersebut. Namun pemuda tersebut adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, pemuda tersebut selalu menjawab "wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.". Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. pemuda tersebut mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat pemuda tersebut menjadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. -Datangnya hidayah kepada pemuda tersebut Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, pemuda tersebut melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan pemuda tersebut. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, pemuda tersebut sudah cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandungnya sendiri. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata pemuda tersebut menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, pemuda itu langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. sambil berkata "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, pemuda tersebut bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, pemuda tersebut tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik. (sites.google.com) Demikian cerita yang dapat saya bagikan, semoga ini menjadi renungan bagi kita semua, banyak hal yang bisa kita petik dari cerita ini. salah satunya kasih sayang ibu yang tiada menuntut balas. tiada dendam meskipun kita menyakitinya, dan tidak ada perbuatan atau apapun yang bisa membalas kasih sayang seorang ibu. dan "kasih ibu sepanjang masa bagai sang surya menyinari dunia.". Bagi pembaca yang masih punya Ibu di rumah, branjaklah sekarang. peluklah erat-erat dan memohon maaf lah sebesar besarnya. biar bagaimanapun kondisinya, segera meminta ampun. Dan bagi yang ibunya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa tekadkan untuk senantiasa mendoakanNya, agar damai dan tenang di sisi Allah Swt. sayangilah Ibu kalian selama ia masih hidup, jika ia sudah tiada maka satu kerugian besar yang kita rasakan dan tidak akan pernah kita rasakan lagi nikmatnya yaitu. "DOA SEORANG IBU"

Javanês

google agensi nganti Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-11-03
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo
Aviso: contém formatação HTML invisível

Indonésio

Ia dilahirkan dalam kekurangsempurnaan. Dari rahim seorang istri Wicitrawirya, Dewi Ambika, Destarata dilahirkan. Namun sejatinya ia bukan anak biologis Wicitrawirya yang wafat karena sakit paru dan tanpa berketurunan, ia adalah anak pujan dari Begawan Abiyasa. Setelah Wicitrawirya mangkat, Setyawati, ibunda Wicitrawirya, mengutus Dewi Ambika dan Ambalika – yang kedua-duanya adalah istri Wicitrawirya – untuk menemui Begawan Abiyasa di Gunung Sapta Arga dengan maksud memohon keberkahan akan keturunan. Di dalam kamar semedi Begawan Abiyasa, dengan wajah yang teramat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala, Begawan Abiyasa menyelenggarakan upacara pujan untuk memohon keturunan bagi Ambika dan Ambalika. Ambika menutup matanya atas hal tersebut, sehingga lahirlah dari rahim dirinya seorang anak yang buta yang kelak dinamakan Destarata. Sementara Ambalika berupaya untuk tidak menutup matanya atas apa yang ada dihadapannya. Dengan segala dayanya yang walaupun harus dilaluinya dengan kepucatan, Ambalika akhirnya memperoleh keturunan yang di kemudian hari anaknya tersebut dinamakan Pandu, yang berarti kulit yang pucat. Destarata dan Pandu tumbuh dan besar di istana Hastinapura. Sampai ketika mereka telah dewasa, saatnyalah bagi mereka untuk naik ke tampuk singgasana kerajaan yang telah lama vakum. Semestinyalah Destarata yang menggantikan ayahnya untuk memerintah Hastinapura. Namun karena keterbatasan yang ia miliki maka Pandu, adiknya, yang dikukuhkan sebagai raja Hastinapura selanjutnya. Pandu tidak memerintah terlalu lama atas Hastinapura. Pandu gugur dalam perang tanding antara dirinya dengan muridnya sendiri, Tremboko, raja raksasa dari Pringgondani. Keris Kalanadah telah merobek paha Pandu yang berujung pada ajalnya, sementara anak panah yang dilesatkan Pandu memenggal leher Tremboko. Perang tanding yang semestinya tidak terjadi andai saja Tremboko tidak termakan hasutan Sengkuni. Sebelum ajal menjemputnya, pesan terakhir yang sempat disampaikan Pandu bahwa singgasana Hastinapura yang ia tinggalkan untuk dititipkan kepada Destarata sampai anak-anak Pandu tumbuh dewasa dan dapat melanjutkan dinastinya. Suatu pesan terakhir, wasiat adalah suatu pendulum yang tidak dapat ditarik kembali ujungnya. Disampaikan dengan keikhlasan dan penuh harap akan apa-apa yang dikehendakinya. Pesan terakhir, wasiat merupakan suatu kepercayaan bahwa bagi pemangkunya hal tersebut adalah suatu keniscayaan. Keniscayaan untuk dan atas nama seorang patron dan keniscayaan akan keberlangsungan harapannya. Harapan sebagai mana anak panah yang melesat secara pasti pada titik ujungnya sekaligus yang tak mungkin untuk kembali lagi ke gendewanya. Destarata, sang pemangku wasiat tersebut mengemban tidak sepenuh hati apa yang telah dipesankan adiknya. Dalam keterbatasan, Destarata menyadari sepenuhnya bahwa Hastinapura sebagai suatu kerajaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri wangsa Kuru harus tetap dijaga keberlangsungannya. Ia bersinggsana di Hastinapura dengan didampingi para pinesepuh wangsa Kuru, yakni Bisma, Widura, Durna dan Krepa. Namun di sisi lain, bukan demikian halnya akan keberlanjutan singgasana yang telah ia duduki tersebut. Para Pandawa, kelima anak Pandu, telah beranjak dewasa dalam bimbingan Kunti, ibundanya dan para eyangnya. Di istana Hastinapura mereka dibesarkan. Begitupun dengan Kurawa, seratus anak Destarata dari istrinya, Gendari, telah berangkat dewasa dalam pengasuhan yang sama di istana megah pinggir telaga tersebut. Kurawa dan Pandawa, bukan sebagai saudara – walaupun hanya sepupu – mereka tumbuh remaja dan dewasa secara bersama-sama dan dalam pengasuhan yang sama di tempat yang sama pula. Kurawa secara laten menanamkan semangat kebencian dan iri dengki mereka atas Pandawa dalam diri mereka. Singgasana Hastinapura yang sekarang diduduki ayah mereka sebagai pemantiknya. Tampaknya Destarata mulai lupa akan pesan terakhir Pandu kepadanya sebelum Pandu menghembuskan nafas. Destarata yang telah uzur, Gendari dengan sinar matanya yang silau, menjadikan para Kurawa leluasa berdiri tegak dengan kepongahannya atas Pandawa. Destarata semakin tak berdaya ketika Kurawa mengadakan permainan dadu dengan mengundang Pandawa di Bale Sigala-gala. Permainan dadu yang telah menihilkan hak-hak Pandawa sekaligus yang telah meruntuhkan kehormatan Pandawa. Tidak terkecuali Drupadi. Permainan dadu pula yang menjadikan Pandawa harus mengasingkan diri selama tiga belas tahun di hutan Kamiaka. Di taman istana Hastinapura, di tepian kolam dengan air keperakan tersapu cahaya bulan, sebatang ranting cemara jatuh, terapung, beriak air berjalan lambat ke tepi. Destarata duduk terpaku ditemani Gendari yang telah menutup kedua matanya dengan kain hitam. Destarata membayangkan perang yang akan terjadi antara anak-anaknya dengan para Pandawa di Kurusetra esok hari. Perang yang akan menghapus satu garis keturunan dari wangsa Kuru. Perang yang seharusnya tidak terjadi jika saja ia dapat membesarkan anak-anaknya secara baik. Perang yang juga seharusnya tidak terjadi jika saja sinar mata yang silau dari Gendari tidak menggodanya. Kalaupun sekarang Gendari telah menutup kedua matanya, semuanya telah terlambat. Orang tua yang akan memberikan segala warna bagi anak-anaknya. Anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Ketika anak telah berjalan di luar dari hak-hak yang ia punya dan seorang istri yang telah bertindak melebihi batas-batasnya, Destarata tidak berdaya atas semuanya. Destarata, ternyata tidak hanya buta matanya, namun juga buta hatinya. Hingga akhirnya wasiat itu ia langgarnya dengan segala akibat yang harus ia tanggung.

Javanês

google agensi nganti Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-09-23
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

KESULTANAN BANTEN Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Daftar pemimpin Kesultanan Banten  Sunan Gunung Jati  Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570  Maulana Yusuf 1570 - 1580  Maulana Muhammad 1585 - 1590  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640  Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650  Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687  Sultan Yahya 1687 - 1690  Sultan Zainul Abidin 1690 - 1733  Sultan Arifin 1733–1748  Halimin  Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777 Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn. Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi. Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor. Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu. Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

Javanês

google agensi nganti Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-09-04
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

Berlatar belakang Korea Selatan modern fiktif yang berbentuk monarki konstitusional dari Dinasti Joseon , dikisahkan bahwa Lee Jae-ha adalah pangeran muda dan tampan namun materialistik serta tidak peduli pada politik. Tidak hanya itu Jae-ha berusaha mencari cara agar ia kelak tidak perlu naik tahta untuk menggantikan kakaknya, Raja Jae-kang . Kesal melihat Jae-ha masih bersikap belum dewasa, akhirnya Raja Jae-kang menipunya agar mau ikut latihan militer gabungan Korsel dan Korut dengan harapan bisa mendapat pelajaran untuk bertanggung-jawab atas hidupnya. Di sisi lain, Kapten Kim Hang-ah adalah perwira wanita dari pasukan khusus Korut yang juga putri Wakil Menteri dari Kementerian Unifikasi Korut pun ikut latihan gabungan tersebut. Ia adalah wanita muda yang keras dan tangguh, namun di baliknya sebenarnya Hang-ah adalah wanita pemalu yang ingin mendapat pendamping hidup yang bisa memahami dirinya. Walau pertemuan antara Jae-ha dan Hang-ah dimulai dengan awal buruk, namun tak terduga mereka akhirnya bisa menjalin persahabatan. Bahkan Jae-ha kemudian jatuh hati kepada Hang-ah. Melihat kesempatan baik untuk mendekatkan Korsel dan Korut, maka Raja Jae-kang berkeinginan untukmempertunangkan adiknya dengan Hang-ah. Pihak Korut pun menerima baik rencana raja tersebut lantaran melihat peluang besar untuk menjadikan Hang-ah sebagai mata-mata dalam keluarga kerajaan Korsel. Agar bisa diterima dalam keluarga kerajaan Korsel, maka Hang-ah berusaha belajar keras untuk menyesuaikan diri dengan tradisi kerajaan yang asing baginya. Ia berusaha membuat keluarga Jae-ha bisa menerimanya khususnya Ibu Suri. Ketika Jae-ha dan Hang-ah sedang berusaha menjembatani perbedaan mereka, tiba-tiba Raja Jae-kang dan istrinya dibunuh oleh komplotan Club M pimpinan Kim Bong-gu alias John Meyer (Yoon Je-moon) lantaran perdamaian antara Korsel dan Korut bisa mengancam prospekkbisnis perdagangan senjatanya. Namun sebenarnya John Meyer punya motivasi lain untuk membunuh Raja Jae-kang. Lantaran Raja tidak punya anak, maka Jae-ha akhirnya naik tahta sebagai raja berikutnya. Hang-ah pun memutuskan tetap mendampingi Jae-ha. Dan pada akhirnya Kim Hang Ah dan Lee Jae Ha menikah.Dan Kim Bong Goo akhirnya dibawa ke pengadilan. Melihat dan menimbang semua kejahatan yang dilakukannya, hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.

Javanês

google agensi nganti Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-08-26
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Indonésio

Prabu Sumali, raja Alengka, girang bukan kepalang. Putri cantiknya, Dewi Sukesi, istri Resi Wisrawa, telah melahirkan. Empat anak sekaligus. Tiga lelaki dan satu perempuan. Anak kesatu, kedua dan ketiga berujud raksasa, dan yang bungsu berwajah tampan. Anak pertama diberi nama Dasamuka, kedua Kumbakarna, ketiga perempuan Sarpakenaka dan yang bungsu Gunawan Wibisana, tampan. Resi Wisrawa merasakan bahwa kelahiran anak-anaknya, selain anugrah dewata, juga sebagai ‘hukuman’. Sebetulnya Resi Wisrawa sudah mempunya putra yang bernama Prabu Danapati, yang sekarang menjadi raja di Lokapala. Resi Wisrawa madeg pandita dan menyerahkan tampuk keprabon kepada Danapati. Awalnya, Resi Wisrawa hanyalah sebagai duta anaknya untuk melamar Dewi Sukesi. Setelah mengalahkan Patih Jambumangli, yang konon sakti luar biasa, yang nampaknya juga ada hati dengan Dewi Sukesi, bertemulah sang resi dengan sang dewi. Tetapi, Dewi Sukesi ada pemintaan lain, yaitu kepingin dibabarkan rahasia Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah rahasia kadewatan. Tidak boleh sembarang orang tahu. Akan tetapi, sejarah memang harus tertulis, melihat keelokan Dewi Sukesi ternyata Sang Begawan ini bobol juga sifat kapanditannya, lupa anak lupa lupa status. Dan, terjadilah, wejangan wingit itu dibabar dalam suasana malam temaram yang menghanyutkan. Apa boleh buat, dua orang beda umur ini menjadi pasangan suami istri, sementara Danapati di ujung sana hanya bisa mengurut dada, patah hati yang justru disebabkan oleh orangtua sendiri. 13612753211103593857 Lanjut cerita, setelah dewasa, atas petunjuk dewata, Resi Wisrawa memerintahkan kepada keempat anak-anaknya untuk bertapa di Gunung Gohkarno. Gohkarno adalah gunung yang terkenal keliwat angker. Sapa mara sapa mati. Masing-masing mengambil tempat yang terpisah. Tapa mereka ternyata menimbulkan gara-gara, goncangan hebat di kahyangan. Udan deres wor lesus kadi pinusus. Syahdan, Batara Guru lalu mengutus Batara Narada untuk mencari tahu sebab gara-gara ini dan dan dititah untuk menghentikannya. Wee, ternyata ada empat orang manusia sedang tekun bertapa di hutan Gohkarno. Para putra Resi Wisrawa. ‘Wis, wis ngger, aja diterus-teruske tapamu, ulun bakal paring nugraha marang sira kabeh…’ demikian sabda Batara Narada kepada keempat putra Wisrawa. Dan inilah jawaban mereka. Dasamuka: ingin menjadi orang yang sakti mandraguna, tidak ada orang yang bisa mengalahkan sekalipun dewa, dan dapat terwujud semua yang diimpikan. Kumbakarna: ingin selalu dapat makan enak dan kenyang, dan dapat tidur pulas selama ia mau. Sarpakenaka: ingin selalu dapat melampiaska libidonya yang hiperaktif. Nantinya Sarpakenaka akan bersuami banyak. Gunawan Wibisana: ingin selalu dapat berpihak pada kebenaran, dan berani menyatakan kebenaran. Batara Narada mengabulkan semua permohonan mereka, tetapi juga mengingatkan, bahwa segala sesuatu selalu ada batasnya, dan segala sesuatu mesti mengandung risiko, semuanya memerlukan pengorbanan. Setelah itu keempatnya pulang. Selanjutnya Prabu Sumali mengangkat Dasamuka sebagai raja Alengka, karena Begawan Wisrawa menolak menduduki tahta Alengka. Dan, dari saat itulah Prabu Dasamuka atau Prabu Rahwanaraja memulai kehidupannya yang penuh onar dan darah, dan juga cinta…

Javanês

google agensi Jawa Indonesia

Última atualização: 2014-01-27
Frequência de uso: 1
Qualidade:

Referência: Anônimo

Consiga uma tradução melhor através
4,401,923,520 de colaborações humanas

Usuários estão solicitando auxílio neste momento:



Utilizamos cookies para aprimorar sua experiência. Se avançar no acesso a este site, você estará concordando com o uso dos nossos cookies. Saiba mais. OK