MyMemory, World's Largest Translation Memory
Click to expand

Language pair: Click to swap content  Subject   
Ask Google

You searched for: keterampilan    [ Turn off colors ]

Human contributions

From professional translators, enterprises, web pages and freely available translation repositories.

Add a translation

Indonesian

English

Info

keterampilan

ketika hidup itu indah

Last Update: 2013-04-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Keterampilan

Skill

Last Update: 2013-01-11
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Wikipedia

google terjemahan indonesia inggris C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa melalui Real actual experience base agriculture context technique. D. Manfaat Penelitian. Penelitian ini diharapkan berguna untuk meningkatkan kemampuan mengajar keterampilan berbicara siswa. Hal itu berguna untuk siswa dan guru adalah sebagai berikut : 1. Siswa : Untuk memotivasi siswa belajar bahasa Inggris khususnya mengembangkan keterampilan berbicara. 2. Guru : Untuk memberi informasi/ mempermudah mengajar keterampilan berbicara yang menarik. 3. Sekolah : Untuk memberi kontribusi pada sekolah sebagai referensi untuk peneliti lain, khususnya pada proses belajar dan mengajar.

Indonesian translation google english

Last Update: 2013-05-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Mendasari motif dan kompetensi perdagangan atau yang ini dapat ditanamkan oleh manajemen yang baik berkomunikasi practices.The mungkin lebih hemat biaya dalam organisasi kata lain harus memilih untuk motif inti dan kompetensi perdagangan dan mengajarkan keterampilan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan jobs.Or spesifik sebagai salah satu personil direktur menaruhnya Anda dapat guru 32 memanjat pohon, tetapi lebih mudah untuk menyewa tupai.

Incomplex companies competencies are relatively more important in predicting superior performance they're not ask related skills,intelligence,or credentials.this is due to a respected range effect.In high-level technical,marketing,professional ,and managerial jobs almost everyone has an IQ of 120 or about and in an advanced degree from good university.What distinguishes superior performers in these charges are the motivation,interpersonal skills,and political skills,all of which are competencies.It means that the competency studies are the most cost-effective way to staff these positions.

Last Update: 2013-03-18
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional. Dimana setiap peran yang dinyatakan sebagai ciri terpisah demi untuk kejelasan. Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko – sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia. Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal. Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat – kiat itu adalah : 1. Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu : nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. 2. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya. 3. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien. 4. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya. 5. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994) 6. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya 7. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya. 8. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya. 9. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya. 10. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya 11. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien. 13. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau kurangnya kemampuan. Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan praktik keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 : 80).

The role is a set of behavior expected by others against someone based on their position within a system. The role is influenced by social circumstances both from within and from outside and are stable. The role is a form of behavior expected from seesorang in certain social situations. (Kozier Barbara, 1995:21). The role of the nurse in question is a way to express the activity of nurses in the practice, which has completed his formal education that is recognized and authorized by the government to carry out nursing duties and responsibilities in a professional manner in accordance with the code of professional ethics. Where every role is expressed as a separate feature for the sake of clarity. Nursing is a professional service which is an integral part of health care based on nursing science and troubleshooting, service-shaped bio-psycho - social and spiritual comprehensive, targeted at individuals, groups and communities both healthy and sick that covers the entire cycle of human life. Nursing is an applied science that uses intellectual skills, technical skills and interpersonal skills and the use of nursing process in assisting clients to achieve optimal health. Tip of nursing (nursing arts) is more focused on the ability of nurses to provide nursing care in a comprehensive manner with a touch of art in the sense of using the tips - some tips in an effort

Last Update: 2012-09-12
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:

Jawaban Essay Unhan KEMAMPUAN NEGOSIASI DALAM KEPEMIMPINAN STRATEGIS 1. Umum. Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Term kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Kajian mengenai kepemimpinan termasuk kajian yang multi dimensi, aneka teori telah dihasilkan dari kajian ini. Teori yang paling tua adalah The Trait Theory atau yang biasa disebut Teori Pembawaan. Teori ini berkembang pada tahun 1940-an dengan memusatkan pada karakteristik pribadi seorang pemimpin, meliputi: bakat-bakat pembawaan, ciri-ciri pemimpin, faktor fisik, kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan berkomunikasi. Tetapi pada akhirnya teori ini ditinggalkan, karena tidak banyak ciri konklusif yang dapat membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin. Dengan surutnya minat pada Teori Pembawaan, muncul lagi Teori Perilaku, yang lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada memperhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dari teori inilah lahirnya konsep tentang Managerial Grid oleh Robert Blake dan Hane Mouton. Dengan Managerial Grid mereka mencoba menjelaskan bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik sebagai hasil kombinasi dua faktor, produksi dan orang, yaitu Manajemen Grid. Manajemen Grid merupakan satu dari empat gaya kepemimpinan yang lain, yaitu : Manajemen Tim, Manajemen Tengah jalan, Manajemen yang kurang, dan Manajemen Tugas. Pada masa berikutnya teori di atas dianggap tidak lagi relevan dengan sikon zaman. Timbullah pendekatan Situational Theory yang dikemukakan oleh Harsey dan Blanchard. Mereka mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini menjadi trend pada tahun 1950-an. Teori yang paling kontemporer adalah teori Jalan Tujuan, Path-Goal Teory. Menurut teori ini nilai strategis dan efektivitas seorang pemimpin didasarkan pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi para anggota dengan penerapan reward and punisment. Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis. Kepemimpinan strategis adalah kepemimpinan yang berprinsip. Prinsip-prinsip tersebut menurut Stephen R. Covey dalam Principle Centered Leadership terdiri dari : a. Belajar terus menerus, mereka membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan. b. Berorientasi pada pelayanan, mereka melihat hidup sebagai suatu misi dan tidak hanya sebagai suatu karir. c. Memancarkan energi positif, mereka optimistis, positif, dan modern. d. Mempercayai orang lain, mereka tidak tidak berekasi berlebihan pada perilaku negatif, kritik dan kelemahan. e. Hidup seimbang, mereka memperhatian keseimbangan jasmani dan rohani, antara yang tradisionil dan yang modern. f. Melihat hidup sebagai petualangan, mereka menghargai hidup di luar kenyamanan. g. Sinergistik, mereka memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan orang lain dan mampu membina energi-energi yang dimiliki organisasi. h. Melaksanakan pembaharuan diri, mereka memiliki karakter yang kuat dan sehat, serta berdisiplin tinggi. Atas dasar prinsip-prinsip itulah maka kepemimpinan strategis menuntut hal-hal sebagai berikut : 1) Kelompok bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang kelompok. 2) Masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif. Pada bagian lain Bernardine R. Wirjana menyatakan, bahwa prinsip-prinsip yang mutlak dalam suatu kepemimpinan strategis adalah : a. Mengerti diri sendiri dan selalu berbuat untuk perbaikan diri sendiri. b. Menguasai keahlian teknis. c. Mempunyai tanggung jawab dan bertanggung jawab. d. Mengambil keputusan yang matang dan tepat waktu. e. Menjadi peran/role model bagi karyawannya. f. Mengenal karyawan dan memperhatiakn kesejahteraannya. g. Membuat anggota selalu mendapat informasi yang mereka perlukan. h. Menumbuhkan rasa tanggung jawab. i. Menjamin bahwa tugas-tugas dapat dimengerti. k. Melatih anggota-anggota sebagai tim l. Menggunakan sepenuhnya kapabilitas organisasi. Setiap permasalahan kepemimpinan selalu meliputi 3 (tiga) unsur yang terdiri dari : pertama, Unsur manusia yaitu Manusia yang melaksanakan kegiatan memimpin atas sejumlah manusia lain atau manusia yang memimpin dan manusia yang dipimpin. Kedua, Unsur sarana yaitu Prinsip dan teknik kepemimpinan yang digunakan dalam pelaksanaan kepemimpinan, termasuk bakat dan pengetahuan serta pengalaman pemimpin tersebut dan ketiga adalah Unsur tujuan. Keberhasilan atau kegagalan dari hasil kepemimpinan seseorang dapat diukur atau ditandai oleh empat hal, yaitu : a. Moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi moril adalah kepemimpinan atasan, kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran, penghargaan atas penyelesaian tugas, solidaritas dan kebanggaan organisasi, pendidikan dan latihan, kesejahteraan dan rekreasi, kesempatan untuk mengembangkan bakat, struktur organisasi dan pengaruh dari luar. b. Disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin adalah menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas, menentukan tingkat dan ukuran kemampuan, bersikap loyal, menciptakan kegiatan atas dasar persaingan yang sehat, menyelenggarakan komunikasi secara terbuka, menghilangkan hal-hal yang dapat membuat bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi, menganalisa peraturan dan kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah tidak sesuai lagi dan Melaksanakan reward and punishment. c. Jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi. Ciri jiwa korsa yang baik adalah antusiasme dan rasa kebanggan segenap anggota terhadap organisasiny, reputasi yang baik terhadap organisasi lain, Semangat persaingan secara sehat dan bermutu, adanya kemauan anggota untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan dan kesediaan anggota untuk saling menolong. d. Kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas. Keberhasilan atau kegagalan dari hasil kepemimpinan seseorang dapat diukur dengan melakukan negosiasi. Sayangnya pengetahuan dan pemahaman tentang negosiasi, tujuan maupun karakteristik negosiasi tidak dimiliki oleh semua manager, pimpinan organisasi maupun individu yang terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal tanpa kita sadari, setiap hari sesungguhnya kita telah melakukan negosiasi. Negosiasi adalah sesuatu yang dilakukan setiap saat dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan. Menurut Brian Finch kata negosiasi berasal dari bahasa latin yang berarti bisnis. Kata ini mengandung makna, dimana pembelian atau tawar menawar merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengertian Negosiasi menurut Pierre Casse adalah pertama, Proses komunikasi dua pihak, kedua, Persepsi/asumsi, kebutuhan, motivasi/ harapan berbeda, ketiga, Mencoba bersepakat demi kepentingan bersama. Definisi Negosiasi menurut Robert Heron dan Carolin Vandenabeele adalah suatu proses dimana dua pihak atau lebih yang mempunyai kepentingan yang sama atau bertentangan bertemu dan berbicara dengan maksud untuk mencapai suatu kesepakatan. Menurut Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi negosiasi yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Menurut Fisher dan Ury , negosiasi adalah komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki kepentingan yang berbeda. Menurut Gary Goodpaster, negosiasi adalah proses interaksi dan komnikasi yang dinamis dan beraneka ragam, mengandung seni dan penuh rahasia untuk mencapai suatu tujuan yang dianggap menguntungkan para pihak. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, negosiasi adalah pertama, proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yg lain, kedua, penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa. Sedangkan menurut Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge, negosiasi adalah sebuah proses di mana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran batang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa negosiasi bukan sekedar alat untuk memenangkan kepentingan melalui proses tawar menawar atau konsensi tertentu tetapi sebagai proses merumuskan kepentingan yang mungkin ditawarkan kepada pihak lain tanpa mengurangi posisi dan martabatnya. Negosiasi memiliki sejumlah karakterisik utama, diantaranya adalah : a. Senantiasa melibatkan orang, baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok. b. Memiliki ancaman terjadinya atau didalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi. c. Menggunakan cara-cara pertukaransesuatu, baik berupa tawar menawar (bargain) maupun menukar (barter). d. Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah. e. Negosiasi bisasanya menyangkut hal-hal di masa yang akan dating atau yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi. f. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat. Jenis-jenis kemampuan negosiasi kepemimpinan strategi dilihat dari nilainya diantaranya adalah : a. Value Claimers. Negosiasi adalah proses pertikaian, masing-masing pihak berusaha mendapatkan sebanyak mungkin jatah atau kemenangan dan memberikan sedikit mungkin jatah atau kemenangan bagi lawannya. Cara yang digunakan adalah taktik yang manipulatif, argumen yang memaksakan, konsesi terbatas dan tawar menawar yang alot. b. Value Creators. Mengutamakan proses yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Mencoba untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua belah pihak yang bernegosiasi. Cara yang digunakan adalah dengan mengembangkan hubungan yang kolaboratif, mengutamakan penyesuaian kepentingan kedua belah pihak, bersikap ramah dan kooperatif. Adapun Strategi-Strategi Negosiasi yang harus dimiliki dalam kepemimpinan strategis adalah : a. No Concessions. Strategi ini bisa membahayakan karena umumnya pihak lawan menginginkan adanya kompromi. Strategi ini membuat proses negosiasi bersifat unilateral. Sekali posisi ini ditetapkan, kesepakatan akan tercapai hanya jika pihak lain menyetujui posisi tersebut.Strategi ini dapat digunakan jika Kekuatan tidak seimbang, jauh lebih kuat dari pihak lawan, Berada pada posisi yang sangat lemah, Ada kandidat lain yang menyetujui apa yang ditawarkan dan Waktu mendesak dan nilai moneter terlalu kecil. b. No Further Concessions. Strategi ini dapat diterapkan manakala pihak lawan dapat dipaksa untuk memutuskan kesepakatan akhir. Strategi ini hanya diterapkan setelah adanya kesepakatan-kesepakatan. Strategi dan teknik yang dapat digunakan untuk melawan strategi ini sama dengan yang digunakan untuk melawan strategi no concessions. c. Making only deadlock – breaking concessions. Strategi ini dapat diterapkan jika resiko yang timbul karena ketidakpastian yang diterima. Deadlock adalah kondisi mati yang biasanya tercipta karena oposisi dari pihak yang tidak mau berkompromi memiliki kekuatan seimbang. d. High realistic expectations with small systematic concessions. Strategi ini umumnya merupakan strategi yang paling berguna dalam proses negosiasi. Strategi ini diterapkan dengan jalan menawarkan permintaan yang tinggi dan kemudian sedikit demi sedikit memberikan kesepakatan-kesepakatan kecil secara realistik. e. Concede first. Strategi ini adalah strategi negosiasi yang dijalankan dengan cara memberikan kesepakatan lebih dahulu hingga pada saatnya akan ada waktu untuk meminta imbalan. Strategi ini amat bermanfaat untuk menurunkan ketegangan, menciptakan goodwill dan mendorong suasana kerjasama dan kompromi. f. Problem solving. Strategi ini yang digunakan untuk menciptakan prosedur kesepakatan guna memecahkan masalah yang telah diidentifikasi. g. Goals other than to reach agreement. Persetujuan atau agreement tidak harus merupakan hasil akhir yang ingin dicapai. Pada kondisi tertentu, persetujuan hanyalah merupakan satu tahap untuk mencapai tujuan yang lain. Misalnya persetujuan untuk tidak setuju atau setuju untuk ditunda. h. Moving for close. Strategi ini umumnya digunakan untk menghindari kegagalan persetujuan total. Sebelum segala sesuatunya gagal, ada baiknya pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi melakukan usaha-usaha untuk menjembatani adanya perbedaan. Penyelesaian masalah kecil perlu disepakati agar negosiasi untuk memecahkan permasalahan pokok tidak harus dimulai dari awal lagi. Kepemimpinan sejak dulu selalu dikaji dan diteliti oleh para ahli, mengingat pemimpin mempunyai otoritas sentral untuk menggerakan dinamika kehidupan organisasi dalam mencapai tujuan. Baik organisasi militer maupun organisasi pemerintahan, perilaku dan kemampuan pemimpin tingkat strategis maupun tingkat pemimpin paling bawah (strategic leadership/organizational leadership) berperan, sebagai penggerak segala sumber daya yang ada baik sumber daya manusia maupun sumber daya yang lainnya. Dihadapkan dengan perkembangan dan permasalahan dalam organisasi yang ada, pemimipin dituntut untuk dapat mengambil suatu keputusan yang tepat dan efisien. Kepemimpinan strategis harus mengenali dan memahami komponen yang dapat mempengaruhi dalam setiap keputusan strategis yang diambil, suatu keputusan harus mempertimbangkan pengaruh yang ada seperti politik, diplomasi, ekonomi (bantuan atau embargo), dan kekuatan militer (ancaman aktual/ancaman faktual). Dalam lingkungan keamanan global sampai nasional, para pemimpin strategis harus mempertimbangkan prioritas kepentingan nasional untuk dapat memperhitungkan ancaman dan risiko yang akan dihadapi. Pada sisi lain pemimpin strategis harus memahami dan dapat mengantisipasi dengan permasalahan keamanan Nasional, lingkungan Domestik, lingkungan internasional dan lingkungan Militer. Kepemimpinan Strategis Militer yang telah diterapkan sejak pada masa jaman Perang Dunia 1 s/d Perang Dunia II mulai dari jenderal Mc Arthur, Hitler dan jenderal Napoleon Bonaparte dapat diambil hikmah dari gaya kepemimpinanya. Seperti apa yang telah diutarakan “bahwa kepemimpinan memerlukan perpaduan yang baik antara strategi dan karakter, namun apabila anda harus memilih salah satu maka lupakanlah strategi dan pilihlah karakter” (H. Norman Schwarzkopf) yang artinya bahwa antara strategi dan karakter harus dipadukan. Dalam dunia Militer untuk membawa organisasi mencapai tujuan yang akan dicapai pemimpin harus memiliki karakter yang kuat disamping memiliki strategi dalam pencapaianya. Untuk menjadi kepemimpinan strategis mengalami proses yang begitu panjang dalam perjalanannya banyak faktor yang mempengaruhi, baik internal maupun eksternal, selain itu pengalaman medan tugas dan kapasitas yang dimiliki oleh seorang pemimpin turut memberikan sumbangan yang berarti. Pada akhirnya menjadi pemimpin strategis tidak serta merta didapatkan, harus beberapa tahapan dan hambatan yang dilalui dihadapkan dengan perkembangan dinamika yang menuju ke masa depan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi untuk menjadi pemimpin strategis selain seperti apa yang telah dijelaskan, maka tetap diperhitungkan faktor sifat dari lingkungan strategis yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Selain itu beberapa tantangan yang dihadapi pemimpin startegis kedepan seperti votalitas, ketidak pastian, kompleksitas dan ambiguitas menjadikan pekerjaan yang tidak ringan, oleh karenanya akan di jelaskan dan mencari upaya untuk dapat menyikapi semua tantangan kedepan bagi seorang pemimpin trategis. 2. Kemampuan Negosiasi Dalam Kepemimpinan Strategis . a. Seperti apa yang telah diutarakan bahwa dalam membuat keputusan strategis mengutip kalimat “understand the implication of conflict, peacetime management and waretime leadership” (Marsda (purn) Koesnadi Kardi Dosen mata kuliah strategic decision making) yang menjelaskan bahwa setiap pemimpin mengerti dan memahami dampak yang ditimbulkan dari konflik, dapat menerapkan managemen pada ruang dan waktu dan mengetahui waktu yang tepat untuk memimpin. Ada beberapa elemen strategy (Mayjen syarifudin Tippe S.Spsi Dosen Leaders ship agent of change) yang dapat mendukung untuk menentukan keputusan strategis seperti, Arenas, Vehicle, Staging dan Economic logic. b. Pemimpin strategis harus menyadari bahwa lingkungan domestik dan lingkungan Inetrnasional dapat mempengaruhi setiap mengambil keputusanya, untuk dalam negeri pihak kongres, masyarakat dan media tetap dipertimbangkan dan di adakan pendekatan dan penjelasan akan suatu keputusan yang akan diambil, sedangkan untuk internasional harus terlebih dahulu mengeksplorasi konteks spesifik seperti sejarah, agama, budaya, geografi, politik dan keamanan asing. c. Seperti apa yang telah dijelaskan dalam pengertian umum, bahwa istilah strategis berkaitan dengan konsep sebuah rencana untuk mencapai suatu tujuan baik dalam organisasi pemerintahan maupun organisasi militer. Bahwasanya telah dijelaskan strategis dalam arti sempit yang berhubungan dalam suatu perencananaan dan pelaksanaan operasi militer untuk menghancurkan kekuatan musuh dalam peperangan, sedangkan dalam arti luas merupakan perecanaan dari keputusan kepemimpinan yang konseptual dan kompleks diambil dari perencanaan jangka panjang serta mempertimbangkan beberapa aspek dan telah diperhitungkan secara matang, komprehensif dan holistik. d. Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan strategis sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang berpengalaman dalam menentukan kebijaksanaan, visi dan misi untuk membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang dihadapkan dengan tantangan lingkungan strategis, kelompok volatile, permasalahan kompleks dan ambigu, namun keputusan dapat dibuat dengan tepat. 3. Kepemimpinan lingkungan strategis. Setiap kepemimpinan strategis dapat menggambarkan dan menganalisa kondisi lingkungan strategis yang saling berkaitan, melengkapi dan saling bertentangan dan setiap, kepemimpinan strategis dapat mencermati perkembangan yang ada serta memperhatikan komponnen komponen lingkungan strategis serta dalam kepemimpinan strategis harus mempertimbangkan faktor dalam membuat suatu konsep strategis untuk ranah politik maupun ranah militer. Beberapa komponen lingkungan strategis yang harus dipertimbangkan, karena dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, diantaranya adalah: a. Lingkungan Keamanan Nasional (National Security Environment) Sesuai dengan kepentingan Nasional bahwa tujuan Negara adalah meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara dan menciptakan Ketahanan Nasional yang tidak lepas dari faktor Asta Gatra (Ipoleksos budhankam dan geografi, demografi dan Sumda). Pemimpin Strategis dapat menganalisa dan memperhitungkan dengan kondisi situasi antara lain: 1) Idiologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan pondasi yang harus dipertahankan, karena merupakan komitmen awal dari perjalanan sejarah dan telah diambil untuk kepentingan seluruh bangsa. 2) Perkembangan politik yang ada apakah dapat mempengaruhi proses berbangsa dan bernegara, bahkan sistim politik yang sebaliknya dapat menjadi instabilitas nasional. 3) Ekonomi yang berkembang telah merubah tatanan dalam perekonomian Negara,dengan adanya perdagangan bebas dan organisasi WTO membawa perubahan dalam sisitim perdagangan di suatu Negara bila tidak disikapi akan membawa pertumbuhan ekonomi yang tertinggal. 4) Budaya. Merupakan kekayaan yang dimiliki suatu Negara harus dipertahankan nilai intrinsiknya walaupun adanya budaya yang masuk kenegara dengan adanya globalisasi. 5) Hankam. Merupakan suatu upaya Negara dalam rangka mempertahankan dan menjaga kedaulatannya dari agressor. Stabilitas nasional dapat terjaga, maka dapat menggerakan seluruh bidang lain yang tujuannya dapat mencapain rakyat yang adil dan makmur. 6) Demografi. Jumlah penduduk dalam suatu Negara mer upakan asset sumber daya manusia yang dapat di manfaatkan untuk kepentingan Negara. 7) Geografis. Dengan bentuk Negara archipelagic state yang terdiri dari kepulauan merupaka letak yang adanya alki 1 s/d 3 dan jalur international merupakan posisi startegis untuk jalur international dalam perdaganagan. 8) Sumber Daya Alam merupakan potensi kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu Negara harus dimanfaatkan dan di jaga dari pencurian (Illegal Loging. Illegal fishing dan Sea robbery ) dari pihak luar. b. Lingkungan Domestik (Domestic Enviroment). Perkembangan Domestik dapat mempengaruhi lingkungan strategis suatu Negara yang pada intinya tidak lepas dari pengaruh Asta Gatra,namun lebih fokus pada masalah politik, keamanan dan Ham, diharapkan pemimpin straregis dapat menganalisa dengan perkembangan ini agar dalam mengambil keputusan tidak menimbulkan resistensi yang tinggi. c. Lingkungan Internasional(International Enviroment). Dengan adanya hubungan Bipolar dan multi polar antar Negara ,perlu adanya pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan, karna menyangkut kebijakan untuk kepentingan kawasan itu sendiri. ASEAN, OPEC,KTT ASIA AFRIKA dan G. 20 yang baru saja diadakan di Pittersburgh merupakan langkah langkah konkret menuju mengatasi permasalahan global. d. Lingkungan Militer (Militery Enviroment). Merupakan alat sebagai kampanye dan diplomasi suatu Negara dengan militer yang kuat dan professional dalam suatu Negara dapat menjadikan posisi bargaining dengan Negara tetangga ,oleh karenanya kepemimpinan strategis tidak dapat mengesampingkan kekuatan dan lingkungan militer yang ada. 4. Mengembangkan Kemampuan Negosiasi kepemimpinan Strategis. Menjadi pemimpin strategis memerlukan pengalaman dan penugasan yang bervariatif dan penuh dengan tantangan yang dihadapi, selain itu pada dasarnya seorang pemimpinHarus memiliki kompetensi, kemampuan dan komitmen untuk pembangunan bangsa dan Negara. Beberapa tahapan dalam mengembangkan kepemimpinan strategis antara lain : a. Melibatkan beberapa aspek yang paling penting memiliki standar kode etika moral dan pemimpin strategis bukan untuk dilahirkan, namun secara bertahap membangun kearifan yang diperoleh sebagai pengalaman dari waktu kewaktu yang pada akhirnya memperluas perspektif pemimpin dalam menentukan keputusan. b. Pemimpin strategis walaupun tidak mengambil keputusan strategis,akan tetapi mereka masih bisa memberikan kontribusi dan mempengaruhi dari keputusan strategis yang diambil. c. Pemimpin memiliki kompetensi strategis dapat memahami keputusan dan perspektif kedepan yang lebih baik. 5. Kesimpulan. Kemampuan Negosiasi Kepemimpinan Strategis adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki kepemimpinan Strategis adalah : a. Keterampilan Presentasi. Seorang pemimpin harus kreatif melakukan presentasi kepada pengikutnya. Presentasi ini harus meliputi visi, misi, goal, action plan, dan fokus. Di mana dalam setiap presentasi pemimpin harus secara cerdas mampu mentransformasikan nilai-nilai yang kuat dan positif kepada rencana tindakan yang jelas. Pemimpin harus memanfaatkan keterampilan presentasi ini untuk mengkomunikasikan dan meyakinkan kepada para pengikut, bawahan, tim, atau kelompoknya tentang ide dan visi yang harus diperjuangkan bersama. b. Keterampilan Membangun Tim Yang Kuat. Pemimpin yang sesungguhnya adalah seorang pekerja tim. Jadi, keterampilan membangun tim adalah keterampilan yang sangat strategis untuk mensukseskan kepemimpinan yang sedang diperjuangkan tersebut. Pemimpin harus bersikap bijak dan profesional dalam merakit sebuah tim yang tangguh dan dinamis. Pemimpin harus menciptakan sebuah tim yang kreatif dan strategis untuk membangun kinerja organisasi yang hebat. Pemimpin harus membangun tim yang mampu meningkatkan rasa percaya diri organisasi untuk berprestasi secara maksimal. Ingat! Pemimpin besar meraih hasil-hasil yang luar biasa melalui timnya yang kuat, dan yang bertanggung jawab secara total pada fungsi dan peran kerja masing-masing. c. Keterampilan Negosiasi. Negosiasi adalah bagian dari komunikasi yang terfokus untuk mencari kesepakatan. Jadi, peran seorang pemimpin sebagai seorang negosiator ulung tidaklah boleh diabaikan. Pemimpin harus bijak dan cerdas melihat semua tantangan yang ada, dan cerdas menggunakan keterampilan negosiasi tersebut untuk mentransformasikan semua tantangan menjadi peluang yang menguntungkan organisasi yang di pimpin. Pemimpin adalah seorang negosiator untuk mendapatkan kesepakatan terbaik, bukan seorang negosiator yang ngotot dan tak mau kompromi terhadap tantangan. d. Keterampilan Bersikap Baik. Seorang pemimpin tidak zamannya lagi memanfaatkan kekuasaan dan posisi kepemimpinannya untuk bersikap arogan dan bersikap diktator terhadap pengikut. Sekarang ini zamannya pemimpin harus merangkul semua kekuatan dan potensi sukses pengikutnya untuk dijadikan sebagai kekuatan kepemimpinan yang ia miliki. Oleh karena itu, pemimpin wajib bersikap baik dengan sikap tulus dan jujur kepada setiap orang, di mana pun dan kapan pun. e. Keterampilan Memotivasi. Seorang pemimpin adalah seorang motivator yang harus mampu membangkitkan energi positif dari pengikut dan bawahannya, untuk secara proaktif bergairah dan bersemangat tinggi dalam meraih prestasi yang hebat. Oleh karena itu, pemimpin wajib memiliki keterampilan untuk memotivasi pengikutnya, dan menggerakan para pengikut untuk melakukan hal-hal terpenting buat kesuksesan organisasi. Motivasi bukan berarti sekedar berteriak-teriak dengan semangat tinggi, tapi lebih kepada cara untuk merangkul hati dan pikiran positif para pengikut. Lalu, membangun harapan dan rasa percaya diri mereka untuk menjadi lebih hebat. f. Keterampilan Mengorganisasi. Seorang pemimpin adalah seorang organisator yang ulung. Kemampuan pemimpin dalam mengorganisasi semua kekuatan yang ada akan menjadikan kepemimpinan itu kuat dan solid. Melalui kebersamaan dalam organisasi yang solid dan kuat, pemimpin pasti membawa setiap orang menuju puncak harapan. Bandung, April 2013 Perwira Siswa Isrovi, S.E. Kolonel Laut (T) NRP 9191/P google terjemahan indonesia inggris

Indonesian translation google english

Last Update: 2013-04-15
Subject: General
Usage Frequency: 1
Quality:
Reference: Anonymous

Add a translation