Chiedi a Google

Hai cercato la traduzione di kamu berani melawan aku da Indonesiano a Inglese

Contributi umani

Da traduttori professionisti, imprese, pagine web e archivi di traduzione disponibili gratuitamente al pubblico.

Aggiungi una traduzione

Indonesiano

Inglese

Informazioni

Indonesiano

Apakah kamu berani menentang orang tuamu

Inglese

Do you dare to oppose your parents

Ultimo aggiornamento 2021-03-06
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:

Riferimento: Anonimo

Indonesiano

Sekarang juga, kutantang tentara Israel; pilihlah seorang untuk bertanding melawan aku!

Inglese

And the Philistine said, I defy the armies of Israel this day; give me a man, that we may fight together.

Ultimo aggiornamento 2012-05-06
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:

Riferimento: Anonimo

Indonesiano

Maka dengan tipu daya raja itu akan membujuk orang-orang yang sudah meninggalkan agama mereka, supaya mau membantunya. Tetapi orang-orang yang taat kepada Allah akan berani melawan dia

Inglese

And such as do wickedly against the covenant shall he corrupt by flatteries: but the people that do know their God shall be strong, and do exploits.

Ultimo aggiornamento 2012-05-06
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:

Riferimento: Anonimo

Indonesiano

Cerita(Prolog ) Pada Jaman dahulu, ketika Kerajaan Majapahit diperintah oleh seorang Ratu, di sebuah dusun yang bernama Palu Ombo, hiduplah seorang pemuda yang bernama Damar Wulan, dia tinggal bersama kakeknya yang bernama Kakek Lokoyanti, ditemani abdi pengasuhnya yang bernama Sabdo Palon dan Noyo Genggong, Di sana dia giat berlatih olah kanuragan, suatu hari ketika selesai berlatih, Damau Wulan berkata kepada kakeknya : (mereka duduk di latar rumah mereka, kakek Lokoyanti duduk di kursi sedangkan Damar Wulan dan kedua pengasuhnya duduk di bawah ) Damar Wulan : “ Kakek, dulu kakek pernah berkata bahwa ayahku ada di Majapahit, sekarang saya ingin menyusul beliau, karena saya sangat rindu sekali ingin bertemu dengan Romo” Lokoyanti : “Hmm... baiklah cucuku, mungkin ini saatnya kau menyusul ramandamu ke Majapahit, dan kurasa juga.... ilmu kenuraganmu juga sudah cukup, karena itu... aku ijinkan kau untuk menyusul ramandamu ke Majapahit, pergilah Ger.....! restuku selalu menyertaimu” Damar Wulan : “Terima kasih kek, .. (Damar Wulan lalu menoleh ke 2 orang pengasuhnya) “Paman Sabdo Palon dan Noyo Genggong, mari Paman... kita berangkat!” Sabdo Palon dan Noyo Genggong : “ Mari Gusti... ngestoaken dawuh.... “ (Damar Wulan lalu berangkat ke Majapahit diiringi oleh 2 orang abdi dalem pengasuhnya yaitu Sabdo Palon dan Noyo Genggong). Prolog adegan selanjutnya : Sementara itu di Kerajaaan Majapahit , tepatnya di kediaman Patih Logender nampak sang Patih sedang bercengkerama dengan anak beliau yaitu Anjasmoro, sedangkan di luar nampak para penjaga sedang bediri di pintu gerbang) Penjaga :”Hai ki sanak, siapa dirimu, dan apa maumu?” Damar Wulan :”Namaku Damar Wulan, dan aku sedang mencari ayahku, yaitu Patih Udara, apa tuan tahu di mana kediaman beliau?” Penjaga :”Oh, Patih Udara.... sudah agak lama tidak ada di Majapahit, beliau sedang pergi bertapa, sekarang yang menggantikan sementara adalah Patih Logender, dan ini rumah beliau” (Mendengar hal itu Damar Wulan nampak bingung, Ia menoleh kepada kedua pengasuhnya dan berkata): Damar Wulan :”Paman Sabdo Palon dan Noyo Genggong, bagaimana ini Paman, ternyata ramanda tidak ada di sini, apa yang harus kita lakukan, apa kita kembali ke Palu Ombo?” Sabdo Palon :”Gusti... kita sudah jauh-jauh dari Paluombo datang ke sini, menurut hamba, lebih baik gusti melamar pekerjaan di sini, sambil belajar ilmu kenegaraan, mungkin suatu saat nanti ayah gusti datang” Damar Wulan :” Baiklah Paman” (Maka Damar Wulan kembali menemui penjaga tadi, dan berkata) : Damar Wulan :”Tuan.. sampaikan kepada Patih Logender saya ingin melamar pekerjaan di sini” Penjaga :”Baiklah, tunggu di sini, saya akan melapor” (Maka penjaga itu kemudian melapor kepada Patih Logender, saat itu Patih Logender datang bersama putri beliau Anjasmoro didampingi dua orang emban.) Patih Logender :”Bocah bagus,.... siapa namamu dan apa maumu?” Damar Wulan :”Nama hamba,.... Damar Wulan... Gusti! hamba datang dari Paluombo, hamba ingin mengabdi di istana kepatihan ini” Patih Logender :”tapi... di sini sudah tidak ada lowongan lagi, semua sudah cukup di sini” Anjasmoro :”Tapi Romo,... kasihan dia kalau ditolak,... berilah pekerjaan apa saja” Patih Logender :”Pekerjaan apa lagi putriku,.. semua sudah ada yang mengerjakan di sini” Anjasmoro :”Terimalah dia sebagai penjaga gerbang istana, biar penjaga yang ada bisa bergantian” Patih Logender :”baiklah,.. Damar Wulan,.. kau kuterima jadi penjaga istanaku, setiap orang..... siapa saja tidak boleh masuk rumahku, kecuali setelah mendapat ijin dariku, ingat itu Damar Wulan ! “ Damar Wulan :” Baik Gusti! “ Patih Logender :”Anjasmoro mari kita masuk kembali ke istana” Anjasmoro :” Mari Romo...” (Mereka lalu masuk sementara Pengawal lama memberikan senjata dan tameng kepada Damar Wulan dan berjaga bersama ) Prolog : Saat itu Damar Wulan langsung bekerja sebagai penjaga istana kepatihan. Setelah setengah hari, penjaga yang lama berpamitan untuk suatu keperluan : Penjaga :”Damar Wulan, aku akan pergi sebentar, kau jaga instana ini dengan baik ya, jangan ada yang boleh masuk tanpa ada ijin Tuan Patih!” Damar Wulan :”Baiklah teman,.. silakan” ( Musik... ) Setelah beberapa saat datang dua orang pemuda, keduanya langsung mau masuk ke rumah Patih Logender, maka dicegah oleh Damar Wulan, Damar Wulan :”Maaf tuan, Anda tidak boleh masuk sebelum mendapat ijin Patih Logender” Layang Seto :”Apa?.... siapa kau ini? Berani-beraninya menghalangi aku masuk!” Damar Wulan :”Hamba Damar Wulan, dan hamba diberi pesan bahwa siapa pun yang mau masuk ke istana ini harus mendapat ijin dari Gusti Patih terlebih dahulu” Layang Kumitir :” He.. Damar Wulan, rupanya kau belum tahu siapa kami, lebih baik kau minggir dan biarkan kami masuk sebelum aku marah” Damar Wulan :”Maaf gusti sesuai perintah, siapa pun tidak boleh masuk sebelum ada ijin dari Gusti Patih” Layang Seto :”Rupanya kau butuh dihajar ya? Rasakan ini ! Hiyat .... ( Layang seto memukul Damar Wulan tapi Damar Wulan dengan gesit menghindar, maka terjadilah pertarungan antara Layang Seto dibantu Layang Kumitir dengan Damar Wulan, yang berakhir dengan kalahnya kakak beradik itu, keduanya diringkus oleh Damar Wulan. Tak lama kemudian datang Patih Logender, betapa terkejutnya Patih itu, serta merta dia berkata: Patih Logender :” Damar Wulan, apa-apaan kau ini, kau apakan kedua anakku? Lepaskan mereka!” (Damar Wulan kemudian melepaskan kedua orang itu) Damar Wulan :” Jadi.... kedua orang ini putra paduka? Maafkan saya Gusti, saya tidak tahu” Patih Logender :”Kurang ajar kau Damar Wulan, baru bekerja di sini kau sudah berbuat salah, mulai saat ini kau kupecat!, pergi dari sini!” Damar Wulan :” Maafkan saya Gusti, saya benar-benar tidak tahu” Anjasmoro :”Romo... maafkanlah dia, dia kan tidak tahu,........ jangan dipecat, tolong Romo... kasihanilah dia” Layang Kumitir :” Dinda Anjasmoro... mengapa kau membelanya, dia sudah berani kurang ajar kepada kakakmu!” Patih Logender :”Iya anakku... mengapa kau membelanya? Anjasmoro :” Dia kan tidak tahu kalau kakang Layang Seto dan kakang Layang Kumitir adalah putra Romo, kalau dia tahu, dia tidak akan melakukan itu” Patih Logender :” Hmmmmmm ..... baiklah, tapi Damar Wulan tidak aku tugaskan jadi penjaga lagi, mulai sekarang dia harus bekerja mengurus kuda istana, menyabit rumput dan memandikan kuda” Patih Logender kemudian masuk ke dalam istana diiringi kedua putranya, sementara Anjasmoro mendekati Damar Wulan dan berkata: Anjasmoro :”Sabar ya Damar Wulan, mari ikut aku, akan aku tunjukkan tempat kuda milik istana kepatihan” Damar Wulan :”Baiklah Gusti Ayu” ( mereka kemudian berjalan menuju lokasi ) Prolog adegan selanjutnya : (Maka sejak saat itu Damar Wulan bekerja menjadi pengurus kuda istana kepatihan, didampingi oleh Sabdo Palon dan Noyo Genggong,....... seiring waktu berjalan,.. hubungan antara Dawar Wulan dan Anjasmoro semakin dekat, Anjasmoro sering membawakan makanan untuk diberikan kepada Dawar Wulan ) Suatu hari ketika Dawar Wulan sedang menyabit rumput, Anjasmoro bertanya : Anjasmoro :” Dawar Wulan,.. boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Dawar Wulan :” Silakan tuan putri, tuan putri mau bertanya apa?” Amjasmoro :”Sebenarnya kamu siapa?, keturunan siapa? Mengapa sejak pertama kali aku melhat kamu, aku melihat kamu ini bukan laki-laki biasa, kamu juga punya ilmu kanuragan yang cukup tinggi” Dawar Wulan :”sebenarnya saya adalah putra dari Patih Udara, dari istri selir beliau yang ada di padepokan Paluombo, dan saya datang ke Majapahit sebenarnya ingin bertemu dengan kanjeng Romo, tapi ternyata beliau sedang bertapa dan sudah cukup lama meninggalkan Majapahit” Anjasmoro :”Oh... jadi kamu putra dari Paman Patih Udara!, Patih Udara adalah kakak dari Romo Patih Logender, berarti sebenarnya kamu adalah sepupuku, dan berarti kamu masih berdarah biru, mmmmmmm... kalau begitu mulai saat ini aku akan memanggil ”Kang Mas” saja, dan kamu bisa memanggilku “diajeng” gimana kang mas Dawar Wulan? Setuju?” Dawar Wulan :” Hmmm.... baiklah, tapi bagaimana jika kakakmu marah?” Anjasmoro :”Ah... biarkan saja, biar aku yang menjelaskan pada mereka” Dawar Wulan :” begitu ya.. baiklah, .... oh ya Diajeng... hari sudah sore, ayo kita pulang” Anjasmoro :”Mari Kang Mas....” (Musik Tradsional...........keduanya lalu pulang ke istana kepatihan) Prolog adegan selanjutnya : (Sementara itu di pendopo keraton Majapahit saat itu sedang berlangsung sidang para punggawa kerajaan dipimpin oleh Kanjeng Ratu Kencana Wungu, nampak di sana Patih Logender, dan kedua anaknya yaitu Layang Seto dan Layang Kumitir, serta para pejabat kerajaan. Wajah Ratu Kencana Wungu nampak muram, kesedian rupanya sedang melanda hatinya) Kencana Wungu :” Kakang Patih Logender,.. bagaimana keadaan kerajaan Majapahit Paman? Aku minta laporanmu” Patih Logender :” Ampun Gusti Ratu,.. kerajaan sekarang dalam kedaan bahaya Gusti! “ Kencana Wungu :” Apa masalah pemberontakan Minakjinggo, Adipati Blambangan itu belum tuntas Paman? Patih Logender ;”Benar Gusti, Minakjinggo menuntut agar Gusti mau kawin dengan dia dan menyerahkan kursi kerajaan kepada dia sesuai dengan bunyi sayembara dulu, dan para panglima kerajaan Majapahit yang dikirim ke Blambangan untuk memadamkan pemberontakan semua kalah oleh kesaktian Minakjinggo” Kencana Wungu :” Minakjinggo memang sakti paman, dulu ketika ada pemberontakan oleh Kebo Mercuet, hanya Minakjinggo yang bisa mengalahkan dia” Patih Logender :”Benar Gusti, dulu Gusti pernah mengadakan sayembara bahwa barangsiapa yang bisa mengalahkan Kebo Mercuet, dia akan diangkat sebagai raja dan menjadi suami Kanjeng Ratu Kencana Wungu, Mengapa Gusti tidak memenuhi isi sayembara itu saja” Kencana Wungu :”Bukannya aku mau ingkar janji Paman, tapi aku kasihan rakyat Majapahit, jika punya raja pincang dan rupanya buruk, dulu Minakjinggo ketika bernama Jaka Umbaran, wajahnya sangat tampan, tapi setelah bertarung dengan Kebo Mercuet, wajahnya rusak dan kakinya pincang, .. Jika dia menjadi raja Majapahit maka kerajaan lain akan mentertawakan kita Paman” Patih Logender :”Tapi... Minakjinggo sangat sakti Gusti, tidak ada satria Majapahit yang bisa menandingi kesaktiannya, dia kebal, tidak mempan sanjata, dan pemberontakan itu sudah mencapai wilayah Probolinggo, sebentar lagi akan sampai di Majapahit” Kencana Wungu :”Coba buatkan sayembara lagi Paman, barangsiapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, maka dia akan aku jadikan suami dan raja di Majapahit” Patih Logender :”Baiklah Gusti” Kencana Wungu :” Sementara itu aku akan semedi untuk meminta petunjuk Sang Hyang Widi untuk mengatasi masalah ini Paman” (musik:.. setelah itu Kencana Wungu, berdiri dan pergi meninggalkan pendopo Istana diiringi oleh para punggawa kerajaan) Prolog adegan selanjutnya : (sementara itu di dalam kamar istana, Ratu Kencana Wungu mengadakan semedi, matanya terpejam, hati dan pikirannya terpusat pada satu tujuan, dia meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa untuk mengatasi masalah kerajaannya. Berhari-hari dia bersemedi, berpuasa, tidak keluar kamar, akhirnya pada suatu hari terdengar suara. Suara Ghaib :”Hai Kencana wungu ...... apa yang kau inginkan? Mengapa kau bertapa berhari-hari?” Kencana Wungu :”Duh Gusti ..... hamba ingin meminta petunjuk, bagaimana cara mengatasi kekacauan di kerajaan Majapahit ini?, Minakjinggo sangat sakti, tidak ada punggawa Majapahit yang bisa mengalahkannya, apa yang harus hamba lakukan?” Suara Ghaib :”Yang bisa mengalahkan Minakjinggo adalah seorang laki-laki yang bernama “Damar Sasongko, alias Damar Wulan” carilah dia, dan utuslah dia ke Blambangan” Kencana Wungu :”Trimakasih Gusti” (Kencana Wungu kemudian berdiri dari semedinya dan keluar kamar, sampai di luar kamar para pengawal memberi hormat, kemudian Kencana Wungu berkata Kencana Wungu :”Pengawal panggil semua punggawa kerajaan aku ingin bermusyawarah dengan mereka” Pengawal :”Baik Gusti” (Kencana Wungu kemudian menuju bangsal instana untuk mengadakan sidang kerajaan) (musik .... ) ( Di pendopo kerajaan telah berkumpul semua punggawa, Ratu Kencana Wungu duduk di singgasana ) Patih Logender :”Ampun gusti ratu, ada apakah sehingga Gusti mengumpulkan kami semua di sini?, apa Gusti sudah mendapat petunjuk untuk mengatasi masalah kerajaan ini?” Kencana Wungu :” Benar Patih Logender,... dalam semediku aku mendapat petunjuk bahwa, yang bisa mengalahkan Minakjinggo adalah Damar Sasongko alias Damar Wulan” apa Paman Patih tahu siapa orang ini?” Patih Logender :”Damar Wulan?... (Patih Logender nampak tidak percaya) apa saya tidak salah dengar Gusti? Kencana Wungu :”Tidak Paman Patih, aku jelas sekali mendengar suara ghaib itu, bahwa yang bisa mengalahkan Minakjinggo adalah dia, kenapa Paman? Apa Paman tahu siapa dia?” Patih Logender :”iya Gusti Ratu, dia sekarang ada di rumah hamba bekerja sebagai pengurus kuda istana kepatihan” Kencana Wungu :” Panggil dia Paman Patih! Aku ingin bicara langsung dengan dia” Patih Logender :” Baik Gusti” (Patih Logender kemudian pergi pamit sambil memberikan sembah) (beberapa saat kemudian Patih Logender datang bersama Damar Wulan dan Anjasmoro, mereka memberikan penghormatan kepada Ratu Kencana Wungu ) Damar Wulan :”Ampun Gusti,.. hamba datang menghadap, ada apa gerangan sehingga Gusti Ratu memanggil hamba” Kencana Wungu : (Nampak kagum melihat ketampanan Damar Wulan) “Damar Wulan,... kerajaan Majapahit sekarang sedang membutuhkan tenagamu, ada pemberontak dari Blambangan yang sangat sakti mandraguna, namanya Minak jinggo, sudah banyak utusan Majapahit yang gugur di tangannya, aku mendapat wangsit bahwa yang bisa mengalahkan dia adalah kamu, maukah kau menerima tugas ini?” Damar Wulan :” Sendiko dawuh Gusti,... hamba bersedia mengobankan jiwa raga hamba, jika memang hamba dibutuhkan oleh Mapajahit” Kencana Wungu :”Terima kasih Damar Wulan” (kencana wungu kemudian menoleh kepada Patih Logender) dan berkata lagi: Kencana Wungu :”Paman patih,.. meskipun Damar Wulan sudah resmi diangkat menjadi panglima Mapajahit untuk melawan Minakjinggo, sayembara kerajaan tetap berlaku, bahwa barang siapa yang bisa membunuh Minakjinggo maka dia akan kuangkat menjadi Raja Majapahit, dan kujadikan suamiku” Patih Logender :” Iya Gusti “ Kencana Wungu :” Sekarang siapkan upacara pengangkatan Damar Wulan, untuk menjadi panglima Majapahit” (kemudian Patih Logender memberikan pakaian baru kepada Damar Wulan dan Ratu Kencana Wungu melilitkan ikat kepala kepada Damar Wulan” setelah itu mereka bubar dan kembali ke tempat masing-masing) Prolog adegan selanjutnya : Sementara itu di suatu tempat yang sepi nampak Anjasmoro begitu sedih, ....... setelah pengangkatan Damar Wulan menjadi panglima Majapahit ia sangat terpukul,...ia khawatir memikirkan kekasihnya Damar Wulan,... butir-butir air mata tak terasa mengalir di pipinya) (jeda Musik ....2 menit ) setelah beberapa saat datangah Damar Wulan mendekati Anjasmoro Damar Wulan :”Diajeng Anjasmoro, ada apa, kenapa Diajeng sedih? “ Anjasmoro :” Kang Mas.... aku sedih karena memikirkan tugas yang diberikan oleh Kanjeng Ratu Kencana Wungu, yang aku pikirkan dua hal Kang Mas, dan dua-duanya tidak enak, pertama, jika Kang Mas berhasil menjalankan tugas, maka Kang Mas akan menjadi raja di Majapahit dan menjadi suami Ratu Kenca Wungu, jika begitu bukankah aku akan kehilangan Kang Mas?, yang kedua, jika Kang Mas gagal, dan gugur di tangan Minakjinggo maka aku juga kehilangan Kang Mas,” Damar Wulan :” Diajeng..... kamu harus sabar, aku menerima tugas itu bukan karena aku ingin kerajaan dan ingin menikah dengan Ratu Kencana Wungu, tapi aku terpanggil sebagai rakyat Majapahit, maka kewajiban aku untuk membela negaraku, bukankah kita harus mendahulukan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi?” Anjasmoro :”Benar Kang Mas, tapi.... aku takut kehilangan Kang Mas, jika tekad Kang Mas sudah bulat untuk berangkat ke Blambangan, maka aku ada satu permintaan” Damar Wulan ;” Apa Diajeng? Katakanlah, Kakang akan memenuhi permintaanmu meskipun nyawa taruhannya” Anjasmoro :” Jika Kang Mas memang mencintai aku, maka aku minta sebelum Kang Mas berangkat kita menikah dulu, setelah itu baru aku rela Kang Mas pergi ke Blambangan” Damar Wulan : (menghela nafas, diam sejenak, kemudian berkata) ”Baiklah Diajeng, aku akan melamarmu dan secepatnya kita menikah setelah itu aku akan berangkat ke Blambangan” Mendengar itu Anjasmoro tersenyum, dan memegang tangan Damar Wulan kemudian keduanya pergi menuju istana kepatihan. Damar Wulan :” Sekarang ayo kita pulang diajeng,.... “ Anjasmoro : “ Mari Kang Mas...” Prolog : Singkat cerita kemudian Damar Wulan melamar Anjasmoro, Patih Logender beserta istrinya menerima lamaran itu, dan persiapan pernikahan pun dimulai. (musik gending lelucon... goro-goro: nampak dua orang pengawal sedang memasuki halaman istana kepatihan sambil berjoget... ) Pengawal1 :”Suf... sebentar lagi Gusti Ayu Anjasmoro akan menikah dengan Raden Damar Wulan” dst (dialog lawak ada di bagian lain) ( beberapa saat kemudian persiapan temu manten telah siap, gending kebo giro mulai berkumandang, nampak... Anjasmoro di dampingi oleh Patih Logender dan istrinya, beserta kakaknya yaitu Layang seto dan layang kumitir, berjalan pelan menuju kursi pelaminan, beberapa saat kemudian datang Damar Wulan, di dampingi Sabdo palon dan Noyo Genggong, setelah dekat, Anjasmoro sungkem di depan Damar Wulan, kemudian mereka berdua berjalan pelan menuju ayah bundanya, kemudian sungkem kepada mereka lalu sungkem kepada kakaknya, setelah itu Patih Logender berkata: ) Patih Logender :” Anakku Anjasmoro, dan Damar Wulan, kalian telah resmi menjadi suami istri, ayah harap kalian berbahagia” Anjasmoro+Damar W :”Trimakasih Romo “ Patih Logender :” Damar Wulan,.. sesuai perintah Kangjen Ratu Kencana Wungu, setelah kalian menikah maka tugas negara menunggumu untuk memadamkan pemberontakan Minakjinggo, siapkan dirimu Ger.. “ Damar Wulan :” Sendiko dawuh kanjeng romo,.. hamba siap untuk melanjalankan tugas “ (kemudian mereka semua berjalan menuju rumah masing-masing ) Prolog : (sementara itu di istana kadipaten Blambangan nampak Minakjinggo sedang mengadakanpertemuan dengan para punggawa kadipaten. Dia duduk di kursi Gading Kencana didampingi oleh abdi setianya yaitu Gayun, kemudian kedua istrinya yaitu Dewi Wahito dan Puyengan, diikuti oleh para punggawa kadipaten dan para pengawal dan prajurit ) Minakjinggo :”Gayun,.. bagaimana keadaan kadipaten Blambangan?” Gayun ;”Kadipaten dalam keadaan aman gusti,.. rakyat hidup makmur, tentram” Minakjinggo :”syukurlah.. sebentar lagi kadipaten kita yang kec

Inglese

screenplay damarwulan

Ultimo aggiornamento 2016-08-19
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:

Riferimento: Anonimo

Indonesiano

Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb

Inglese

the origin of the drama texts mountain Tangkuban boat

Ultimo aggiornamento 2015-03-14
Frequenza di utilizzo: 2
Qualità:

Riferimento: Anonimo
Attenzione: contiene formattazione HTML nascosta

Indonesiano

Naskah Drama Asal mula Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahiyangan Jawa Barat ada sebauh kerajaan yang diperintah oleh Prabu Galuga. Ia seorang raja yang gagah perkasa. Umurnya sudah 40 tahun namun ia tidak mempunyai permaisuri, memang dia tidak ingin beristri. Namun iya mempunyai seorang anak bernama Dayang sumbi, anak tersebut ia temukan ketika iya sedang berburu. Dayang sumbi iyalah seorang anak yang diturunkan dari daerah kayangan. Sebab Prabu Galuga telah melanggar perintah ayahnya dahulu yang menyuruh Prabu Galuga untuk menikah, namun Prabu Galuga membantah. Prabu Galuga : “Apakah ini sebuah karma bagiku?” (berkata dalam hati) Dayang Sumbi : “ Ada apa ayah ?” Prabu Galuga : “Kau harus segera menikah Sumbi!” Dayang Sumbi : “Ampun ayahanda. Hamba belum berminat untuk berumah tangga.” Prabu Galuga : “Sumbi, hanya ada dua pilihan bagimu. Mau menikah atau kau kuasingkan di tepi hutan. Hanya ditemani seekor anjing dan jangan pernah kembali ke istana, kecuali aku sendiri yang memerintahmu!” Dayang Sumbi : “Baiklah aku akan memilih tinggal di tepi hutan.” Sesampainya ditepi hutan Tumang : “Sumbi kau tidak usah bersedih saya akan setia menemanimu sampai kau diperintahkan untuk kembali ke kerajaan lagi.” Dayang Sumbi : “(kaget dan heran) benarkah itu suaramu tumang? Apa kau bisa bicara? Oh tumang akhirnya aku punya teman di tengah-tengah kesepian ini.” Tumang : “Benar Sumbi aku bisa bicara. Aku akan menjadi temanmu selama kamu kesepian. Tapi apa kamu mau berteman dengan seekor anjing sepertiku?” Dayang Sumbi : “Aku tak peduli meskipun kau seekor anjing. Yang penting aku punya teman sekarang.” Suatu hari ketika sedang menenun, salah satu tongkatnya jatuh ke Danau. Ia merasa malas menggambil tongkat tersebut. Dayang Sumbi : “Siapa yang mau mengambilkan tongkatku ia akan aku jadikan suami.” Tumang : “Ini tongkatmu Sumbi.” Dayang Sumbi : “Tumang bukan engkau yang kumaksud.” Dewi : “Dayang Sumbi kau adalah bidadari. Bidadari pantang menjilat ludahnya sendiri, lagi pula si Tumang memang jodohmu. Sesunggnya anjing itu adalah jelmaan dewa.” Dayang sumbi pun akhirnya menikah dengan si Tumang. Waktu pun terus berlalu. Dayang sumbi pun di karuniai anak laki-laki yang tampan. ia di berinama Sangkuriang. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar dan pandai berburu. suatu hari sangkuriang hendak berburu Dayang Sumbi : “Nak, bawakan ibu daging Rusa yah?” Sangkuriang : “Ya bu.” Lewatlah seekor Rusa Rusa : “tumang, apakah itu anak mu ?” Tumang : “ Benar bu dia adalah sangkuriang.” Rusa : “Oh tuhan, aku ingin memeluk dan berbicara dengan cucuk tapi apalah daya ini dia tak mungkin percaya terhadap ucapanku.” Sangkuriang : “Tumang! Cepat gigit babi itu!” “Hei Tumang apa kau tidak dengar kataku! Cepat gigit rusa itu!” Tumang hanya terdiam Kako Sangkuriang: " Ayo Tumag serang dia ! Tumang mengapa kau jadi Gebleg begini. Sangkuriang memanah rusa tersebut. Namun anak panah mengarah pada si tumang. Kemudian ia menyembeli situmang. Sesampainya dirumah daging itupun di masak, dan di makan Bareng-bareng. Dayang sumbi: " Sangkuriang, kemana Si tumang ?? Sangkuriang: " (-_-') Bu anjing itu sudah berani melawan perintahku. Tadi aku menyuruh dia menyerang Rusa, namun dia malah terdiam kako. Anak panahku malah mengarah ke arah dia bu (-_-') Dayang sumbi: " Apaaaaa.. si tumang kau bunuh !! 3:) Sangkuriang: " Kenapa bu (-_-') (Terkejutt) PROOOKKK, PRAAAK, PREEEK. Dayang sumbi memukili kepalang situmang dengan Batu. Dayang Sumbi : “Pergi kau dar hadapanku! Dasar anak durhaka!”(bentak dayang sumbi) Sangkuriang : “Baik aku akan pergi bu dan tidak akan kembali lagi !! Ia tak tahu kemana ia akan pergi, perlahan-lahan menyusuri hutan. Tiba-tiba ia pingsan, lalu datanglah seorang petapa yang sakti. Guru : “Siapa namamu nak? Mengapa kau tergeletak ditengah- tengah hutan?”(membangunkan sangkuriang) Sangkuriang : “Emm..aku tak tahu siapa namaku. Dan kau juga tak tahu tentang diriku sendiri.” Guru : “Wah. Sepertinya kau hilang ingatan. Maukah kau menjadi salah satu muridku?” Sangkuriang : “Baik bapak guru.” Guru : “Dan sekarang aku akan memberimu nama Jaka Galih.” 12 tahun berlalu. Guru : “Sudah saatnya kau mengamalkan ilmu kepada masyarakat yang telah ku ajarkan!” Sangkuriang : “Baik bapak. Saya akan berpetualang untuk membantu masyarakat.” Guru : “Pesanku janganlah kau berjalan ke arah selatan.” Sangkuriang : “Kenapa saya tidak boleh berjalan ke arah selatan bapak guru?” Guru : “Sudahlah turuti saja nasihatku. Supaya kau tidak ditimpa nasib yang sial.” Sangkuriang : “Saya akan mengingat pesan bapak guru.” Ia segera meninggalkan gurunya, dan pergi mengembara. Suatu ketika ia berkelahi dengan raja jin dan ia berhasil mengalahkan jin tersebut, sehingga jin tunduk kepadanya. Seperti yang di katakan gurunya, bahwa harus berjalan ke arah utara namun sangkuriang berjalan ke arah selatan. Ia lupa dengan perkataan gurunya. Dan ia melihat seorang Gadis, langsung deh kenalan. Sangkuriang : “Siapa namamu nona?” Dayang Sumbi : “Nama saya dayang sumbi tuan. Dan siapa nama Tuan?” Sangkuriang : “Nama saya Jaka Galih. Bolehkah saya mengantarkan nona pulang?” Dayang Sumbi : “Tentu saja tuan.” Sangkuriang : “Apakah itu rumahmu?” Dayang Sumbi : “Ia tuan. Itu ramah saya.” Sangkuriang : “Kalau begitu saya mohon pamit nona.” Dayang Sumbi : “Tapi hari sudah gelap. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah ku aja?” Sangkuriang : “Baiklah. Jika itu pintamu. Suatu hari mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba... Dayang sumbi : “Aku rasa ada bekas luka di kepalamu ?” Sangkuriang : “Benarkah?” Dayang Sumbi : “Benar. Bisakah kau ceritakan sebab luka mu tu?? Tiba-tiba Sangkuriang sedikit teringat masa lalunya. Dayang Sumbi : “Memangnya apa penyebab luka itu?” Sangkuriang : “Itu bekas dipukul entong oleh ibuku sendiri.” Dayang Sumbi : “Hah? Dipukul entong?” Sangkuriang : “Iya. Ketika aku berusia tujuh tahun, memangnya kenapa?” Dayang Sumbi : “Kalau begitu kau adalah anakku. Kau adalah anakku sangkuriang.” Sangkuriang : “Tidak mungkin! Jangan cari-cari alasan! Meskipun namamu dengan nama ibuku sama, tapi kau tidak mungkin ibuku.” Dayang Sumbi : “Tapi aku ini ibumu nak.” Sangkuriang : “Tidak mungkin kau ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.” Dayang Sumbi : “Aku adalah keturunan bidadari, dan aku tidak akan tua.” Sangkuriang : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu.” Dayang Sumbi : “Oh dewi bagaimana ini? Tolonglah aku. Dia adalah anakku dewi.” Sangkuriang : “Bagaimanapun kau harus menjadi istriku!” Dayang Sumbi : “Tidak mungkin aku menikah dengan kau nak.” Sangkuriang : “Kau bukan ibuku, dan aku bukan anakmu.” (dengan nada tinggi) Dayang Sumbi : “Baiklah aku mau menikah denganmu, tapi kau harus membuatkanku sebuah telaga di pucuk gunung.” Sangkuriang : “Cuma telaga? Jangan kuatir akan kubuatkan.” (jawabnya dengan mantap) Dayang Sumbi : “Bukan hanya itu tapi dengan sebuah perahu besar. Dan semua itu harus kau kerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayam berkokok semua harus sudah selesai.” Sangkuriang : “jangan kuatir. Apapun permintaanmu akan kuturuti.” Sangkuriang segera memanggil raja jin. Raja Jin : “Ada apa tuanku?” Sangkuriang : “Cepat kau bantu aku membuat telaga dan perahu besar.” Raja Jin : “Baik tuan.” Dayang Sumbi : “Oh dewi gagalkanlah kerja jin dan sangkuriang. Tolong cepatkanlah matahari terbit.” Dewi : “Baik Sumbi.” Ayam jantan pun berkokok. Sangkuriang : “Hei raja jin ayo lanjutkan kerjamu!” Raja Jin : “Maaf tuan hamba harus pergi karena hari telah pagi.” Sangkuriang menghampiri dayang sumbi. Sangkuriang : “Kau curang! Pasti kau menggunakan kekuatan dewi untuk menggagalkan ini.”(sambil menendang perahu) Seketika perahu itu berubah menjadi gunung. Yang diberi nama gunung Tangkuban Perahu. Namun dalam sekejap sangkuriang memegang tangan dayang sumbi. “BBLLAARR” tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Tubuh dayang sumbi menghilang.dia diselamatkan oleh dewi kekayangan. Begitulah cerita Asal muasal Dari sebuah Gunung Tangkuban Perahu. Lebih dan kurang mohon di maafkan. Assalamu'alaikum Wr.Wb

Inglese

TEKS drama asal mula gunung Tangkuban Perahu

Ultimo aggiornamento 2014-09-25
Frequenza di utilizzo: 2
Qualità:

Riferimento: Anonimo
Attenzione: contiene formattazione HTML nascosta

Indonesiano

Keikhlasan hamba-hamba-Mu dalam sikap beragama mereka itu adalah jalan yang lurus yang tidak dapat aku lawan. Aku tak mampu menyesatkan mereka."

Inglese

He said, “This is a right way with Me.”

Ultimo aggiornamento 2014-07-03
Frequenza di utilizzo: 2
Qualità:

Riferimento: Anonimo
Attenzione: contiene formattazione HTML nascosta

Indonesiano

Seperti singa muncul dari hutan lebat dekat Sungai Yordan dan mendatangi padang tempat domba merumput, demikianlah Aku akan datang dan membuat orang Edom lari dari negeri mereka dengan tiba-tiba. Lalu Aku akan memilih seorang pemimpin untuk memerintah bangsa itu. Siapakah dapat disamakan dengan Aku? Siapakah berani membuat perkara dengan Aku? Apakah ada pemimpin yang dapat melawan Aku

Inglese

Behold, he shall come up like a lion from the swelling of Jordan against the habitation of the strong: but I will suddenly make him run away from her: and who is a chosen man, that I may appoint over her? for who is like me? and who will appoint me the time? and who is that shepherd that will stand before me?

Ultimo aggiornamento 2012-05-06
Frequenza di utilizzo: 1
Qualità:

Riferimento: Anonimo

Ottieni una traduzione migliore grazie a
4,401,923,520 contributi umani

Ci sono utenti che chiedono aiuto:



I cookie ci aiutano a fornire i nostri servizi. Utilizzando tali servizi, accetti l'utilizzo dei cookie da parte nostra. Maggiori informazioni. OK